cover
Contact Name
Dr. Rosihan Asmara
Contact Email
jepa@ub.ac.id
Phone
+62341-580054
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Jl. Veteran, Malang. Indonesia, 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JEPA (Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis)
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 26144670     EISSN : 25988174     DOI : 10.21776/ub.jepa
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA) adalah jurnal yang diterbitkan oleh Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian secara reguler setiap tiga bulan sekali untuk tujuan mendeseminasikan hasil penelitian dan pengabdian yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen, peneliti dan pengabdi. Topik keilmuan yang melingkupi JEPA adalah bidang ekonomi pertanian dan agribisnis secara luas. Semua makalah yang diterbitkan secara online oleh JEPA terbuka untuk pembaca dan siapapun dapat mendownload atau membaca jurnal tanpa melanggan maupun membayar.
Arjuna Subject : -
Articles 841 Documents
Persepsi Petani Terhadap Sistem Sambung (Grafting) Dan Produksi Usahatani Kopi Robusta Di Kecamatan Dempo Utara Kota Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan Mirna Nanda Novita; Tubagus Hasanuddin; Dame Trully
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.3

Abstract

Grafting coffee is one of the rejuvenation activities on unproductive plants to become productive with the aim of increasing production. This study aims to determine: 1) coffee farmers' perceptions of the grafting system in coffee cultivation, 2) coffee production produced before and after the grafting system in coffee cultivation, 3) factors related to farmers' perceptions on the Grafting system in coffee cultivation, 4) the relationship between coffee farmers' perceptions of the Grafting system and coffee production, 5) the relationship between coffee farmers' perceptions of the Grafting system and coffee farming income. This research was conducted in North Dempo District, Pagar Alam City, South Sumatra Province. This study is a quantitative study with a sample of 64 coffee farmers determined by the formula for determining the sample (Sugiarto, 2003). The research data collection was carried out from March to April 2022. The method used was a survey method. Research data were analyzed descriptively, parametric statistics, and non-parametric statistics. The results of this study stated that: 1) coffee farmers' perceptions of the grafting system in coffee cultivation were classified as quite good, 2) there was a significant difference in production from before applying the grafting system, which was 886.16 kg and after applying the grafting system, which was 1.753 kg. . 3) the factors that are significantly related to the perception of coffee farmers on the grafting system in coffee cultivation are the length of farming and the availability of entres, while age, education level, farmer knowledge, farmer social interaction and ownership status are not significantly related, 4) coffee farmers perception on the grafting system is not significantly related to the production of coffee farming 5) Coffee farmers' perception of the grafting system is not significantly related to coffee farming income. Keywords: Perception, Production, Coffee Grafting System
Kemitraan Perajin Singkong Dengan Rumah Mocaf Indonesia Di Kabupaten Banjarnegara Berbasis Sosiopreneurship Lulu Un Nisa; Ulfah Nurdiani
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.27

Abstract

Banjarnegara adalah salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki potensi alam yang besar, salah satunya untuk pengembangan pertanian singkong. Permasalahan petani seperti proses distribusi panjang, serta penjualan singkong yang murah dan terbentuklah Rumah Mocaf Indonesia. Tujuan penelitian dapat mengetahui pola kemitraan dan keterlibatan yang terjalin, menganalisis penerimaan dan pendapatan, mengetahui kontribusi usaha Rumah Mocaf terhadap perajin singkong yang bermitra, serta kendala perajin singkong dalam bermitra. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Banjarnegara. Proses pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Sampel diperoleh 71 perajin mitra terdiri dari 34 perajin wilayah Bawang dan 37 perajin wilayah Purwonegoro. Teknik pengambilan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi pustaka. Alat analisis data menggunakan Analisis Deskriptif Kualitatif dan Analisis Desktiptif Kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pola kemitraan yang terjalin antara Rumah Mocaf Indonesia dengan perajin adalah pola inti plasma dan pola perdagangan umum. Penerimaan perajin terdiri penerimaan tetap dan bonus. Penerimaan tetap wilayah Bawang Rp1.300.000,00, bonus Rp440.000,00 dan wilayah Purwonegoro Rp1.200.000,00, bonus Rp350.000,00. Kontribusi kemitraan terhadap pendapatan perajin sebesar 66-70% bagi 8 perajin, 61-65% bagi 47 perajin serta 16 perajin lainnya dibawah 60%. Kendala yang dihadapi oleh perajin yaitu mengenai iklim dan cuaca.
Analisis Strategi dan Faktor Keberhasilan Branding Kopi Desa (Studi Kasus Desa Balerante, Klaten) Arif Purbantara; Taufan Daniarta Sukarno; Emma Rahmawati; Varenna Faubiany
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.17

Abstract

Branding menjadi salah satu cara yang digunakan produsen untuk mengenalkan produknya agar diketahui dan dibeli oleh konsumen. Komoditas kopi sebagai salah satu komoditas unggulan di Indonesia yang memiliki berbagai macam produk barang turunan dengan berbagai merk. Dalam skala lokal, pengembangan bisnis komoditas kopi ini juga dilakukan oleh salah satu desa di Jawa Tengah, yaitu Desa Balerante, untuk melakukan budidaya, pengolahan, dan pemasaran produk kopi lokal mereka sendiri yang dikemas dalam suatu strategi branding sehingga dapat dikenal dan sampai kepada konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi dan faktor keberhasilan Branding yang dilakukan oleh Desa dalam mengembangkan produk kopi sebagai komoditas unggulan mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan FGD, wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa Balerante melakukan dua macam branding, yaitu geographical branding dan retail branding. Sedangkan faktor keberhasilan dari branding kopi desa yang dilakukan antara lain adanya petani kopi milenial di desa, dukungan fasilitasi pemerintah desa, serta pendampingan dan pelatihan dari pihak luar.
Analisis Preferensi Risiko Petani Pada Usahatani Gambir Di Kabupaten Pesisir Selatan Mizi Sasrido; Faidil Tanjung; Vonny Indah Mutiara
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.8

Abstract

Gambir merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Pesisir Selatan dengan tingkat produksi yang bervariasi setiap waktu. Fluktuasi yang terjadi pada usahatani gambir mengindikasikan bahwa pengelolaan usahatani gambir sangat dipengaruhi oleh keberadaan risiko produksi. Hal ini akan berdampak pada preferensi petani terhadap risiko tersebut, dalam hal ini dikategorikan sebagai risk averse, risk neutral dan risk taker. Penelitian ini bertujuan menganalisis preferensi risiko petani pada usahatani gambir di Kabupaten Pesisir Selatan. Survey dilakukan pada 63 sampel petani yang melakukan kegiatan panen dan pengolahan getah gambir pada periode Januari-Desember 2021 dan sampel dipilih secara random sampling. Metode analisa yang digunakan adalah model fungsi produktivitas frontier, fungsi risiko produksi dan fungsi inefisiensi teknis yang dikembangkan oleh Kumbhakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata preferensi risiko petani gambir di Kabupaten Pesisir Selatan adalah risk averse. Pada keseluruhan input produksi diketahui luas lahan, tenaga kerja, umur tanaman, dummy teknologi dan pestisida memiliki kecenderungan risiko yang risk Averse. Hanya input jumlah pohon yang memiliki preferensi risk taker.
Efisiensi Teknis Usahatani Padi Organik Di Provinsi Lampung Sri Puji Lestari; Sri Handayani; Eka Aryani; Maria Kristina
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.22

Abstract

A healthy lifestyle is related to food consumption patterns, namely consuming organic food. One of the most commonly consumed organic food commodities is organic rice. Organic food products are cultivated without the use of chemicals. Changes in people's consumption patterns have led to an increase in demand for organic rice. However, at present, the productivity of organic rice farming is still low when compared to the productivity of conventional rice farming. The low productivity is thought to be caused by the inefficient allocation of production factors. This study aims to analyze the factors that affect organic rice production, examine whether organic rice farming in Lampung Province has been technically efficient, and find out what factors cause technical inefficiency in organic rice farming in Lampung Province. The location of this research is Beringin Kencana Village, Candipuro District, South Lampung Regency, and Purwokencono Village, Sekampung Udik District, East Lampung Regency in July-August 2022. Sampling was carried out by census. The research method used is the Stochastic Frontier Cobb-Douglas production function. The results showed that the factors that affect the production of organic rice are land area, the number of seeds, and the use of organic pesticides. The average level of technical efficiency is 0.91. Factors that affect technical inefficiency are the age of the farmer, farming experience, and participation in extension.
Analisis Kelayakan Dan Resiko Usaha Olahan Salak (Salacca Zalacca) Pada Paguyuban Manunggal Agawe Santosa Di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman Syafira Kusnul Khotimah; Dheny Arina Hartawaty
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.13

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui kelayakan dan resiko usaha yang akan ditanggung oleh Paguyuban Manunggal Agawe Santosa dalam menjalankan usaha olahan salak menjadi minuman sari salak dan manisan salak dengan mengetahui terlebih dahulu besarnya biaya yang digunakan, penerimaan dan keuntungan yang didapat. Penggunaan metode dalam penelitian ini berupa deskriptif analisis kualitatif dan kuantitatif dengan data primer yang diperoleh dari pengelola usaha di paguyuban Manunggal Agawe Santosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paguyuban Manunggal Agawe Santosa dalam menjalankan usahanya mengeluarkan biaya produksi sebesar Rp. 15.877.400,- per bulan dengan penerimaan sebesar Rp. 18.112.284,- per bulan dan keuntungan sebesar Rp. 2.234.884,- per bulan. Sedangkan untuk hasil analisis kelayakan dengan 100% modal sendiri menghasilkan nilai NPV positif pada DF 10% sebesar Rp. 5.749.427,-, nilai Net B/C yang lebih dari satu, nilai IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku (10%) yaitu 14%, payback period selama 41 bulan atau 3 tahun 4 bulan untuk mengembalikan nilai reinvestasi yang digunakan sebesar Rp. 53.335.000,-. Break Event Point (BEP) yang ditentukan berdasarkan penerimaan  penjualan sama besarnya dengan jumlah biaya yang dikeluarkan menghasilkan nilai BEP harga jual minuman sari salak dan manisan masing-masing adalah Rp. 4.410,- per cup dan Rp. 3.308,- per cup. BEP produksi minuman sari salak dan manisan salak masing-masing adalah 130.649 cup per tahun dann 65.324 cup per tahun. Nilai ROI usaha paguyuban Manunggal Agawe Santosa dengan 100% modal sendiri adalah 0,18. Hasil analisis risiko usaha dan batas bawah keuntungan usaha paguyuban Manunggal Agawe Santosa menghasilkan nilai keuntungan rata-rata sebesar Rp. 101.106.900,- per tahun, nilai simpangan baku sebesar Rp. 251.389.154,- per tahun, koefisien variasi (CV) yang lebih besar dari 0,5 yaitu 2,49 yang artinya usaha yang dijalankan paguyuban Manunggal Agawe Santosa memiliki risiko besar. Kemudian untuk nilai batas bawah keuntungan (L) sebesar minus 401.671.408 dimana angka tersebut menunjukkan bahwa paguyuban Manunggal Agawe Santosa harus berani menangung kerugian sebesar Rp. 401.671.408,- setiap tahunnya.Kata kunci: Kelayakan usaha, Resiko Usaha, Salak, Wonokerto.
Analysis of affecting factors export volume and competitiveness of Indonesian palm oil (Crude Palm Oil) Vini Anzani; Wiludjeng Roessali; Migie Handayani
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.4

Abstract

Production of palm oil, especially crude palm oil (CPO) is increasing along with the increase in the number of oil palm plantations. The global market demand for this product has also increased its exports and competitiveness. This study aims (I) to analyze the development of Indonesia's CPO export volume in the period 2000 to 2020 (II) to analyze the factors that affect Indonesia's CPO export volume and (III) to analyze the competitiveness of Indonesia's CPO with Malaysia. The research was conducted in December 2021-February 2022. The research method used was descriptive quantitative method. The type of data used is secondary data in the form of time series for the period 2000-2020. The data used consists of CPO export volume, CPO production volume, international CPO price, sunflower seed oil price, CPO export value and Indonesian export value, CPO export value and Malaysian export value as well as CPO export value and world export value. Data sources were obtained from BPS, World Bank, International Monetary Fund, and FAO. The results showed that the percentage growth of Indonesia's CPO export volume in 2000-2020 was 7% with a percentage growth of 12% export value, simultaneously Indonesia's CPO export volume was influenced by factors of CPO production volume, international CPO prices and sunflower seed oil prices which had an effect real and significant. The volume of CPO production and international CPO prices partially have a real and significant effect on the volume of CPO exports, while the price of sunflower seed oil has no partial effect on the volume of CPO exports. The average RCA index for Malaysia was 2.17 and Indonesia was 2.12, which shows that Malaysia has a competitive advantage and higher CPO export competitiveness than Indonesia.
Analisis Efisiensi Teknis Usahatani Cabai Rawit (Capsicum Frustescens) Di Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang Riska Melati Agustina; Rini Mutisari; Tri Wahyu Nugroho; Deny Meitasari
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.29

Abstract

The aims of this research on technical efficiency analysis of chili pepper farming in Ngantru Village are to analyze the production factors that affect the production of chili pepper, the level of technical efficiency, and the factors that cause the technical inefficiency. This research uses Stochastic Frontier Analysis (SFA). The sample calculation uses the Parel formula, obtained as many as 40 respondents. The results showed that there were 5 production factors that had a significant effect on the production of chili pepper, land area and manure with coefficients of 0.230 and 0.386 with α = 5%, labor with coefficients of 0.192 with α = 10%, seeds and chemical fertilizers with coefficient of 0.193 and 0.159 with α = 15%. On average, chili pepper farmers in Ngantru Village are not technically efficient with the average of technical efficiency value at 0.67, with a maximum value of 0.995 and a minimum value of 0.34. Socio-economic factors that affect technical inefficiency are the level of education, experience, age, and agricultural extention. Education and experience have a significant effect on α = 5% with a negative coefficient. Agricultural extension has a significant effect on α = 10% with a negative coefficient sign, which means that education, experience and counseling can increase the level of technical efficiency. While the age factor has a significant effect on α = 5% with a positive coefficient, which means that the age factor of farmers can increase technical inefficiency.
Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Lada Di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau RUMAH TANGGA PETANI LADA DI KECAMATAN SEKAYAM KABUPATEN SANGGAU Sisilia Paulina; Erlinda Yurisinthae; Josua Parulian
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.18

Abstract

Kesejahteraan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Tingkat kesejahteraan mencerminkan kualitas hidup dari sebuah rumah tangga. Rumah tangga dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi berarti memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sehingga pada akhirnya rumah tangga tersebut mampu untuk menciptakan kondisi yang lebih baik untuk bisa meningkatkan kesejahteraan. Namun dalam kehidupan petani sekarang, masih banyak rumah tangga petani yang belum terpenuhi kesejahteraannya karena pendapatan yang masih rendah serta masih belum terpenuhinya kebutuhan akan hak–hak dasarnya seperti, kebutuhan akan pangan, kurangnya pendidikan, kemudian masih minimnya pemenuhan kesehatan, dan fasilitas perumahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana pendapatan rumah tangga petani lada di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau dan bagaimana tingkat kesejahteraan rumah tangga petani lada di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau. Lokasi penelitian ini terletak di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau, Penentuan lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (Purposive). Sampel dalam penelitian ini sebanyak 43 petani responden dari 896 populasi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi dilokasi penelitian, wawancara dengan para informan menggunakan kuisioner dan studi kepustakaan. Analisis penelitian ini menggunakan analisis pendapatan dan analisis kesejahteraan rumah tangga petani lada diukur dengan menggunakan indikator tingkat kesejahteraan setara beras (Sajogyo, 1997). Hasil penelitian menunjukan pendapatan rumah tangga petani lada terendah yaitu sebesar Rp 14.230.000/tahun dan pendapatan rumah tangga tertinggi adalah Rp. 108.480.655/tahun, dengan rata-rata pendapatan rumah tangga sebesar Rp 40.291.754/tahun. Tingkat kesejahteraan rumah tangga petani lada dengan kriteria sajogyo (1997) menunjukan jumlah rumah tangga petani yang berada pada kriteria miskin sebanyak 1 kepala keluarga (KK) dengan presentase sebesar 2,33%. Rumah tangga petani yang berada pada kriteria nyaris miskin sebanyak 11 kepala keluarga (KK) dengan presentase sebesar 25,58%, jumlah kepala keluarga pada kriteria cukup sebanyak 18 kepala keluarga (KK) dengan persentase sebesar 41,86% dan pada kriteria hidup layak sebanyak 13 KK dengan persentase sebesar 30,23%. Dengan rata-rata pengeluaran rumah tangga petani per kapita yang dikonversikan kedalam ukuran setara beras sebesar 761 Kg/tahun atau dengan kriteria cukup, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa rumah tangga petani lada di Kecamatan Sekayam Kabupaten Sanggau dapat dikatakan sejahtera.
Analisis Sektor Unggulan Di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah Nadia Yusuf Maghfironi; Dwi Aulia Puspitaningrum; Siti Hamidah
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.03.9

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis sektor basis, sektor dengan daya saing tinggi, dan sektor unggulan di Kabupaten Kotawaringin Barat. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan metode pelaksanaan penelitian yaitu studi kasus. Data yang digunakan yaitu data sekunder berupa PDRB atas dasar harga konstan Kabupaten Kotawaringin Barat dan Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2010-2020. Sumber data yang digunakan diperoleh dari BPS Kabupaten Kotawaringin Barat dan BPS Provinsi Kalimantan Tengah. Metode pengumpulan data menggunakan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis Location Quotient (LQ), analisis Dinamic Location Quetient (DLQ), analisis Shift Share (SS), tipologi klassen, dan overlay. Hasil penelitian (1) Sektor basis yaitu sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; sektor Industri Pengolahan; sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang; sektor Konstruksi; sektor Perdagangan Besar dan Eceran Reparasi Mobil dan Sepeda Motor; sektor Transportasi dan Pergudangan; sektor Jasa Keuangan dan Asuransi; sektor Jasa Perusahaan. (2) Sektor ekonomi yang memiliki daya saing tinggi yaitu sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; sektor Industri Pengolahan; sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang; sektor Konstruksi; sektor Transportasi dan Pergudangan; sektor Jasa Keuangan dan Asuransi; sektor Real Estate; sektor Jasa Perusahaan; sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial. (3) Sektor unggulan di Kabupaten Kotawaringin Barat yaitu sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; sektor Konstruksi; sektor Transportasi dan Pergudangan; dan sektor Jasa Keuangan dan Asuransi.Kata kunci: Sektor Basis, Daya Saing, Sektor Unggulan