cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20890117     EISSN : 25805932     DOI : -
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA diterbitkan sejak 1 April 2011 oleh Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM) dengan Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Cabang Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin dan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Daerah Banjarmasin.
Arjuna Subject : -
Articles 295 Documents
FENOMENA SOSIAL BUDAYA DALAM KAJIAN TIGA CERITA RAKYAT KALIMANTAN SELATAN (SOCIO-CULTURAL PHENOMENA IN THE STUDY OF THREE FOLK STORIES SOUTH KALIMANTAN) Kalsum, Ummi; Rafiek, Muhammad; Cahaya, Noor
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i1.18774

Abstract

AbstractSocio-Cultural Phenomena in The Study of Three Folk Stories South Kalimantan. Folklore in South Kalimantan is a form of literature that is passed down from generation to generation by word of mouth. This research aims to describe the socio-cultural reality of South Kalimantan folklore with a sociological study of three folktales, namely: Rajang Waki in Batu Tunggal, Asal Mula Tajau Pecah and Beramban, and Andaru. The research method used is descriptive qualitative. The findings reveal that the folk tales packaged in books published by the South Kalimantan Provincial Language Center, Banjarbaru are entitled, Rajang Waki in Batu Tunggal, The Origin of Tajau Pecah and Beramban, and Andaru, each of which has a storyline depicted in each the title of the folk tale. The folklore of Rajang Waki in Batu Tunggal, a social and cultural phenomenon is summarized in the name Rajang Waki in Batu Tunggal. The second folk tale of the origin of Tajau Pecah and Beramban, the social phenomenon lies in the brothers who took part in a competition and the characters who stand out. The cultural phenomenon is related to the origin of the name "Tajau Pecah". Andaru's third story, the social phenomenon lies in a natural disaster that resulted in gold nuggets falling to Datu Langkat and his grandson who then used it as a means of payment to Martapura traders. The cultural phenomenon is related to the origins of the names Taluk Pinyangat, Taluk Basar, Taluk Bintang, Taluk Nyiur, Taluk Manggarukut, and Taluk Tajan.Keywords: culture, folklore, phenomena, socialAbstrakFenomena Sosial Budaya dalam Kajian Tiga Cerita Rakyat Kalimantan Selatan. Cerita rakyat di Kalimantan Selatan termasuk dalam bentuk sastra dengan dituturkannya lewat turun temurun melalui perbincangan orang-orang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan fenomena sosial budaya pada cerita rakyat Kalimantan Selatan dengan kajian sosiologi sastra pada tiga cerita rakyat yaitu: Rajang Waki di Batu Tunggal, Asal Mula Tajau Pecah dan Beramban, dan Andaru. Metode penelitian yang digunakan berupa kualitatif deskriptif. Hasil temuan memaparkan bahwa cerita rakyat yang dikemas di dalam buku diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarbaru yang berjudul, Rajang Waki di Batu Tunggal, Asal Mula Tajau Pecah dan Beramban, dan Andaru memiliki alur cerita yang tergambar dari masing-masing judul cerita rakyat tersebut. Cerita rakyat Rajang Waki di Batu Tunggal, fenomena sosial dan budayanya terangkum pada penamaan Rajang Waki di Batu Tunggal. Cerita rakyat kedua Asal Mula Tajau Pecah dan Beramban, fenomena sosialnya terletak pada kakak beradik yang mengikuti sayembara dan karakter tokoh yang menonjol. Fenomena budaya berkaitan dengan asal-usul nama “Tajau Pecah”. Cerita ketiga Andaru, fenomena sosialnya terletak pada adanya bencana alam yang berakibat pada jatuhnya bongkahan emas kepada datu lungkat dan cucunya yang kemudian dijadikan alat pembayaran kepada pedagang Martapura. Fenomena budaya berkaitan dengan asal-usul nama Taluk Pinyangat, Taluk Basar, Taluk Bintang, Taluk Nyiur, Taluk Manggarukut, dan Taluk Tajan.Kata kunci: budaya, cerita rakyat, fenomena, sosial
KISAH LAKI-LAKI YANG MENIADA: TELAAH AKAR KATA DAN MAKNA MADAM DALAM TRADISI MIGRASI URANG BANJAR (THE TALE OF THE MAN WHO DISAPPEARED: STUDY OF ROOT WORD AND MEANING OF MADAM IN BANJARESE MIGRATION TRADITION) Hakim, Arif Rahman
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA Vol 14, No 1 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i1.17044

Abstract

AbstractThe Tale of The Man Who Disappeared: Study of Root Word and Meaning of Madam in Banjarese Migration Tradition. This article examines the tradition of Banjarese migration called madam. The background of the article starts from the problem that there is no study on the Banjarese migration that focuses on discussing the etymology and meaning of madam. This issue indicates that the fundamentals in understanding the madam tradition have not been well developed. Based on this background, the purpose of this article is to conduct a comprehensive research on the study of the etimological root and the meaning of madam. The methodology in this study uses library research with a linguistic approach. The results of this study indicate that the word of madam has been written in the Hikayat Banjar with the word "maadam" and has the origin "adam", a word taken from Arabic with two meanings: male, and absence. Through a sociosemantic approach, the meaning of ‘male’ in a madam tradition is built through socio-cultural construction which distinguishes between the lives of Banjarese men and women. Difference in roles, work patterns, as well as limited space for movement between men and women shows that men have bigger opportuniy to migrate than women. Furthermore, due to leaving home and going to faraway places, the Banjarese men lose its existence at his hometown and even family. As a result, it makes madam carry a meaning of ‘gone’ or ‘absence’. Eventually, the meaning of madam is not only seen as the journey of men who disappeared but also to describe the Banjarese people who left the origin and their community.Keywords: madam, migration, community, banjarese, men’s migrationAbstrakKisah Laki-Laki yang Meniada: Telaah Akar Kata dan Makna Madam dalam Tradisi Migrasi Urang Banjar. Tulisan ini mengkaji tradisi migrasi Urang Banjar yang disebut dengan istilah madam. Latar belakang tulisan berangkat dari persoalan bahwa kajian tentang migrasi Urang Banjar belum ada yang fokus mendiskusikan tentang etimologi dan makna madam. Hal ini mengisyaratkan bahwa fundamental dalam memahami tradisi madam belum terbangun dengan baik. Berangkat dari latar belakang tersebut, tujuan dari tulisan ini adalah membuat kajian secara komprehensif mengenai telaah akar kata dan makna madam. Metodologi pada kajian ini menggunakan studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan linguistik. Hasil telaah pada penelitian ini menunjukkan bahwa kata madam sudah termuat dalam Hikayat Banjar dengan kata “maadam” dan memiliki akar kata “adam”. Melalui asal usul katanya, kata “adam” merupakan serapan dari Bahasa Arab dan memiliki dua makna: laki-laki dan tiada. Melalui pendekatan sosiosemantik, makna laki-laki dalam tradisi madam tersebut terbangun melalui konstruksi sosio-kultural Urang Banjar yang membedakan antara kehidupan laki-laki dan perempuan. Melalui perbedaan peran, pola kerja, maupun terbatasnya ruang gerak antara laki-laki dan perempuan, menghasilkan perbedaan-perbedaan yang membuat kesempatan migrasi lebih banyak dilakukan oleh laki-laki Banjar. Sementara itu, dengan cara meninggalkan kampung halaman dan pergi ke tempat yang jauh, keberadaan laki-laki Banjar tersebut lantas dirasakan menghilang dari keluarga dan orang-orang di kampung halamannya. Hal ini kemudian menjadikan madam bermakna tiada atau meniada. Adapun dalam perkembangan memahami tradisi madam, makna madam tidak hanya dilihat sebagai perjalanan kaum laki-laki yang meniada saja tetapi sebagai perjalanan secara luas untuk menggambarkan urang Banjar yang meninggalkan daerah asal dan komunitasnya.Kata-kata kunci: madam, migrasi, komunitas, urang banjar, migrasi laki-laki
AMBIGUITAS DALAM ANTOLOGI PUISI STADIUM TANAH IBU KARYA ALI SYAMSUDIN ARSI (AMBIGUITY IN THE POETRY ANTHOLOGY STADIUM TANAH IBU BY ALI SYAMSUDIN ARSI) Abdan, Abdan
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.16737

Abstract

AbstractAmbiguity in the poetry anthology Stadium Tanah Ibu by Ali Syamsudin Arsi. The research method used is descriptive qualitative, namely by analyzing qualitative data of poetry to describe the phenomenon of ambiguity. The purpose of the study is to (1) identify the ambiguity of meaning and interpretation (2) identify the outline of the content of poetry. This study employs a qualitative descriptive approach, aiming to understand phenomena or events in depth through detailed description. The data source is in the form of lines contained in six poetry from the book of poetry Anthology Stadium Tanah Ibu by Ali Syamsudin Arsi. The data analysis technique used is describing the lexical, grammatical, and interpretative meanings that emerge from the lines of the poetry, as well as drawing an outline of the content of poetry. The result of the study in the six poetry shows that there is ambiguity of lexical meaning, grammatical ambiguity, interpretation ambiguity, and outline ambiguity of the content of poetry.Keywords: Lexical ambiguity, grammatical, interpretation, outline of the content of poetryAbstrakAmbiguitas dalam antologi puisi Stadium Tanah Ibu karya Ali Syamsudin Arsi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengurai data kualitatif puisi untuk menggambarkan fenomena ambiguitas yang terkandung di dalamnya. Tujuan penelitian untuk (1) mengidentifikasi ambiguitas makna dan penafsiran (2) mengidentifikasi garis besar isi puisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk memahami fenomena atau peristiwa secara mendalam melalui penggambaran yang terperinci. Sumber data berupa larik-larik yang terdapat dalam 6 buah puisi dari buku Antologi Puisi Stadium Tanah Ibu karya Ali Syamsudin Arsi. Teknik analisis data dilakukan dengan mendeskripsikan makna-makna leksikal, gramatikal, dan penafsiran yang muncul dari larik-larik puisi, serta menarik garis besar isi puisi. Hasil penelitian pada keenam puisi membuktikan terdapat ambiguitas makna leksikal, ambiguitas gramatikal, ambiguitas penafsiran yang muncul, dan ambiguitas garis besar isi puisi.Kata-kata kunci: Ambiguitas leksikal, gramatikal, penafsiran, garis besar isi puisi
PEMBELAJARAN ESTETIKA RESEPSI SASTRA LAHAN BASAH SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI (TEACHING AND LEARNING THE RECEPTION AESTHETIC OF WETLAND LITERATURE AS A DIFFERENTIATED LEARNING MODEL) Hermawan, Sainul; Effendi, Rustam; Yasin, Moh Fatah; Sabhan, Sabhan; Alfianti, Dewi; Syaifullah, Syaifullah; Fitriani, Fitriani; Aryadi, Aryadi
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.20200

Abstract

AbstractTeaching and Learning the Reception Aesthetic of Wetland Literature as A Differentiated  Learning Model. This study aims to examine the aesthetics of students' reception of short stories set in wetlands. Achieving this goal is important to show that learning aesthetics of reception can be used as one of the differentiated learning models that is in line with one of the missions of the national curriculum. Wetland literary texts by South Kalimantan authors and students are the main data sources for this study. The data for this study are students' aesthetic responses to literary texts. These responses are studied phenomenologically to reveal students' understanding of wetland environmental issues in the text. This study will examine the aesthetic responses of 25-30 students at SMA Negeri 1 Batu Ampar in Tanah Laut Regency, South Kalimantan. The location of this study was chosen because this school has implemented the Merdeka Curriculum and research related to this national curriculum is still rarely conducted in that place. The responses of the data sources were analyzed to answer the following research problems: How do students respond to various types of wetland literary works presented to them? How does the learning model involve students in learning and how does this involvement impact their understanding of intrinsic elements in relation to understanding social and cultural backgrounds? What are the advantages and disadvantages of this learning model? The study found that contextual learning in the sense of learning that uses teaching materials that are close to the students' culture has the potential to increase student involvement in learning. This learning model succeeded in creating an in-depth discussion about the intrinsic elements of short stories. The elements of the short story were not only identified in terms of their types but also critically thought about the process of their creation. Second, this learning model made students aware of the differences in interpretation when the short story was read by different readers. In other words, this learning model not only fosters critical thinking but also teaches about the importance of democracy and empathy.Keywords: reception aesthetics, wetland literature, differentiated learning AbstrakPembelajaran Estetika Resepsi Sastra Lahan Basah sebagai Model Pembelajaran Berdiferensiasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji estetika resepsi siswa terhadap cerita pendek berlatar lahan basah. Pencapaian tujuan tersebut penting untuk menunjukkan bahwa pembelajaran estetika resepsi dapat dijadikan salah satu model pembelajaran berdiferensiasi yang selaras dengan salah satu misi kurikulum nasional. Teks sastra lahan basah karya penulis Kalimantan Selatan dan siswa menjadi sumber data utama penelitian ini. Data penelitian ini berupa respons estetik siswa terhadap teks sastra. Respons tersebut dikaji secara fenomenologis untuk mengungkap pemahaman siswa terkait dengan isu lingkungan lahan basah yang ada dalam teks. Penelitian ini akan mengkaji respons estetik 25-30 siswa di SMA Negeri 1 Batu Ampar di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Lokasi penelitian ini dipilih karena sekolah ini telah menerapkan Kurikulum Merdeka dan penelitian yang terkait dengan kurikulum nasional ini masih jarang dilakukan di tempat tersebut. Respons sumber data dianalisis untuk menjawab masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana siswa merespons berbagai jenis karya sastra lahan basah yang dipresentasikan kepada mereka? Bagaimana model pembelajaran melibatkan siswa dalam pembelajaran dan bagaimana dampak pelibatan tersebut bagi pemahaman mereka tentang unsur intrinsik dalam kaitannya dengan pemahaman latar sosial dan budaya?  Bagaimana kelebihan dan kekurangan model pembelajaran ini? Penelitian menemukan bahwa pembelajaran yang kontekstual dalam arti pembelajaran yang menggunakan bahan ajar yang dekat dengan budaya siswa berpotensi meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Model pembelajaran ini  berhasil membuat diskusi mendalam mengenai unsur intrinsik cerpen. Unsur-unsur cerpen bukan hanya diidentifikasi jenis-jenisnya tetapi juga dipikirkan secara kritis proses penciptaannya. Kedua, model pembelajaran ini menyadarkan siswa tentang perbedaan tafsir ketika cerpen dibaca oleh pembaca yang berbeda. Dengan kata lain, model pembelajaran ini bukan hanya menumbuhkan pemikiran kritis tetapi juga mengajarkan tentang pentingnya demokrasi dan empati.Kata-kata kunci: estetika resepsi, sastra lahan basah, pembelajaran berdiferensiasi
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA MTS SWASTA DI KABUPATEN KAPUAS (PROBLEMATICS OF LEARNING INDONESIAN LANGUAGE AT PRIVATE MTS IN KAPUAS DISTRICT) Jarkani, Jarkani
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.16684

Abstract

AbstractProblematics of Learning Indonesian Language At Private MTs In Kapuas District. This research is about the problems of learning Indonesian. The research aims is to find out the problems in preparing learning tools and the problems in implementing Indonesian language learning at the Kapuas Regency Private MTS. Qualitative descriptive research approach. Research locations: MTS Miftahul Ulum, MTS Jamiyatul Wasliyah and MTS Ta'limul Aulad. Research results: (1) teachers have internal problems: (a) pedagogical competence, (b) professional competence, namely lack of mastery of the material, (2) the solution to overcome the problem is by empowering human resources and existing facilities to support quality improvement. education, this requires the attention of the head of the madrasah and the head of the madrasah section regarding the problems of learning Indonesian at private MTS, especially in Kapuas Regency.Keywords: Problematic, Learning, Indonesian Abstrak Problematika Pembelajaran Bahasa Indonesia pada MTs Swasta Di Kabupaten Kapuas. Penelitian ini tentang problematik pembelajaran Bahasa Indonesia. Tujuan penelitian untuk mengetahui problematika penyusunan perangkat pembelajaran dan problematik pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di MTS Swasta Kabupaten Kapuas. Pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian: MTS Miftahul Ulum, MTS Jamiyatul Wasliyah dan MTS Ta’limul Aulad. Hasil penelitian: (1) problematika guru adanya problem internal : (a) kompetensi pedagogis, (b) kompetensi profesional, yaitu kurang menguasai materi, (2) solusi mengatasi problematik yaitu dengan memberdayakan Sumber Daya Manusia dan fasilitas yang dimiliki guna menunjang peningkatan kualitas/mutu pendidikan, hal ini perlu perhatian kepala madrasah dan kasie penmad terkait problematik pembelajaran Bahasa Indonesia di MTS Swasta khususnya di Kabupaten Kapuas.Kata-Kata Kunci: Problematika, Pembelajaran, Bahasa Indonesia
PERAN TOKOH PEREMPUAN PADA FILM HATI SUHITA (THE ROLE OF FEMALE CHARACTERS IN THE MOVIE HATI SUHITA) Wardany, Imelda Eka; Nisak, Rizki Zahratun; Khoiriyah, S. Azimatul; Lestari, Erawati Dwi
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.19369

Abstract

AbstractThe Role of Female Characters in The Movie Hati Suhita. This research aims to describe the roles of women depicted in the film Hati Suhita using feminist analysis. The method used in this study is qualitative descriptive with a feminist approach. The analysis results indicate that in the study The Role of Women in the Film Hati Suhita, there are two roles assigned to the female character, namely domestic roles and public roles. In the domestic sphere, the character Suhita fulfills her roles as a daughter, daughter-in-law, and wife who adheres to rules and a culture that tends to be patriarchal. On the other hand, Suhita also holds a role in the public sphere as an educator and leader of a pesantren (Islamic boarding school). However, this public role can only be performed by Suhita as a result of her interactions with male characters. This indirectly leads to the conclusion that male dominance in the research of the role of female characters in the movie Hati Suhita remains quite strong as a result of patriarchal culture.Keywords: Role of women, female characters, patriarchal culture, feminism, film analysisAbstrakPeran Tokoh Perempuan pada Film Hati Suhita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran perempuan yang digambarkan dalam film Hati Suhita menggunakan kajian feminisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan feminis. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam penelitian Peran Tokoh Perempuan pada Film Hati Suhita, terdapat dua peran yang diarahkan pada tokoh perempuan, yaitu peran domestik dan peran publik. Dalam ranah domestik, tokoh Suhita menjalani peran sebagai anak, menantu, dan istri yang patuh terhadap aturan dan budaya yang cenderung patriarkis. Di sisi lain, tokoh Suhita juga memiliki peran di ranah publik sebagai pendidik dan pemimpin sebuah pondok pesantren. Meski demikian, peran publik ini dapat dijalankan oleh Suhita sebagai hasil dari interaksinya dengan tokoh laki-laki. Hal ini secara tidak langsung mengarahkan pada kesimpulan bahwa dominasi laki-laki di dalam penelitian peran tokoh perempuan pada film Hati Suhita masih terbilang kuat sebagai hasil dari budaya patriarki.Kata Kunci: Peran perempuan, tokoh perempuan, budaya patriarki, feminisme, analisis film
PRAANGGAPAN DALAM MEME BERBAHASA BANJAR DI MEDIA SOSIAL (PRESUPPOSITIONS IN BANJARESE MEMES ON SOCIAL MEDIA) Ulpah, Mariani
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.12817

Abstract

Abstract Presuppositions in Banjarese memes on social media. This study aims to describe the types of presuppositions in Banjar language memes on social media, including existential, lexical, active, non-active, structural, and counterfactual presuppositions. In addition, this study also examines the relationship between memes and the social and cultural aspects reflected in them. The research method used is descriptive qualitative with documentation techniques and pragmatic analysis. Of the 47 memes analyzed, 6 existential presuppositions were found (4 existential existence and 2 existential ownership), 11 lexical presuppositions, 7 active presuppositions, 5 non-active presuppositions, 14 structural presuppositions, and 4 counterfactual presuppositions. Structural presuppositions are the most dominant, while non-active presuppositions are the least found. The results of the study show that memes often reflect people's habits, are used to satirize someone or discuss hot issues.Keywords: presupposition, meme, Banjarese, social media, pragmatic. AbstrakPraanggapan dalam meme berbahasa Banjar di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis praanggapan dalam meme berbahasa Banjar di media sosial, meliputi praanggapan eksistensial, leksikal, aktif, non-aktif, struktural, dan kontrafaktual. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji hubungan antara meme dengan aspek sosial dan budaya yang tercermin di dalamnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi dan analisis pragmatik. Dari 47 meme yang dianalisis, ditemukan 6 praanggapan eksistensial (4 eksistensial eksistensi dan 2 eksistensial kepemilikan), 11 praanggapan leksikal, 7 praanggapan aktif, 5 praanggapan non-aktif, 14 praanggapan struktural, dan 4 praanggapan kontrafaktual. Praanggapan struktural merupakan yang paling dominan, sedangkan praanggapan non-aktif paling sedikit ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meme sering mencerminkan kebiasaan masyarakat, digunakan untuk menyindir seseorang atau membahas isu yang sedang hangat.Kata-kata kunci: praanggapan, meme, bahasa Banjar, media sosial, pragmatis
NILAI PROFETIK PADA SYAIR-SYAIR KARANGAN GURU K.H. ABDUL HAKIM (PROPHETIC VALUE IN POEMS BY GURU K.H. ABDUL HAKIM) Zakiyah, Zakiyah
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.16509

Abstract

AbstractProphetic Value in Poems by Guru K.H Abdul Hakim. The purpose of this study is to describe the manifestation of the prophetic value of humanization, liberation and transcendence in the poems by guru K.H. Abdul Hakim. The method used in this study is a qualitative descriptive method with a hermeneutic approach. The hermeneutical approach used by the author is to interpret the meaning contained in the poems written by guru K.H. Abdul Hakim. The data collection technique used in this study was a literature study. Data analysis techniques used are library techniques, see, and record. The data sources in this study were poems written by guru K.H. Abdul Hakim, totaling 9 poems. The data of this research are words and sentences in the poetry written by teacher K.H. Abdul Hakim. The results of the research show the manifestation of prophetic values in 9 poems including; First, the value of humanization, invites to goodness, namely compassion and generosity. Second, the value of liberation, contains the value of liberation in ignorance, and forgiveness. Third, the value of transcendence, namely increasing faith and piety to Allah SWT.Keywords: prophetic value, poem, humanization, liberation, transcendenceAbstrakNilai Profetik pada Syair-Syair Karangan Guru K.H Abdul Hakim. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan wujud nilai profetik humanisasi, liberasi dan transendensi pada syair-syair karangan guru K.H. Abdul Hakim. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermenutika. Pendekatan hermenutika digunakan penulis adalah untuk menginterpretasikan makna yang terkandung dalam syair-syair karangan guru K.H. Abdul Hakim. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik pustaka, simak, dan catat. Sumber data dalam penelitian ini adalah syair-syair karangan guru K.H. Abdul Hakim yang berjumlah 9 syair. Data penelitian ini ialah kata dan kalimat dalam syair karangan guru K.H. Abdul Hakim. Hasil penelitian menunjukkan wujud nilai profetik pada 9 syair meliputi; Pertama, nilai humanisasi, mengajak pada kebaikan yaitu kasih sayang dan sifat dermawan. Kedua, nilai liberasi, mengandung nilai pembebasan dalam kebodohan, dan pemaaf. Ketiga, nilai transendensi yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.Kata-kata kunci: nilai profetik, syair, humanisasi, liberasi, transendensi
REPRESENTASI KEKUASAAN DALAM NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER (REPRESENTATION OF POWER IN THE NOVEL BUMI MANUSIA BY PRAMOEDYA ANANTA TOER) Oktavia, Tesa
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.16997

Abstract

AbstractRepresentation of Power in The Novel Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer. This research describes Norman Fairclough's critical discourse analysis. Descriptive-qualitative is the method utilized in this research. Data analysis uses critical discourse analysis based on text, discourse practice, and sociocultural practice to describe and interpret hidden meanings. This research utilizes note-taking and reading techniques. The data in this study are words in a collection of novels. The results of the research show that there are: 1) In the text part, researchers can find three basic elements, namely, elements of representation, relations and identity. 2) In the discourse practice section, it examines the process of production and consumption of novel texts that are biased by Pramoedya Ananta Toer's profession and life context as an author. 3) The sociocultural practice is divided into three parts, namely situational, institutional, and social.Keywords: Representation, power, novelAbstrakRepresentasi Kekuasaan dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ini mendeskripsikan analisis wacana kritis Norman Fairclough. Deskriptif-kualitatif merupakan metode yang dimanfaatkan pada penelitian ini. Penganalisisan data menggunakan analisis wacana kritis berdasarkan teks, discourse practice, dan sociocultural practice untuk menguraikan dan menginterpretasikan makna yang tersembunyi. Penelitian ini memanfaatkan teknik catat dan baca. Data pada penelitian ini berupa kata dalam kumpulan novel. Hasil penelitian menunjukkan adanya: 1) Pada bagian teks peneliti dapat menemukan tiga elemen dasar yaitu, unsur representasi, relasi dan identitas. 2) Pada bagian discourse practice meneliti proses produksi dan konsumsi teks novel yang terbias dari profesi dan konteks kehidupan Pramoedya Ananta Toer sebagai pengarang. 3) pada bagian sociocultural practice terbagi menjadi tiga bagian, yaitu situasional, institusional, dan sosial.Kata-kata kunci: representasi, kekuasaan, novel
KAJIAN PRAGMATIK TERHADAP KRITIK SOSIAL MELALUI HUMOR DARK JOKES TRETAN COKI PADA AKUN “TIKTOK” KOMEDI.GELAPP (PRAGMATIC STUDY OF SOCIAL CRITICISM THROUGH HUMOR DARK JOKES TRETAN COKI ON THE KOMEDI.GELAPP “TIKTOK” ACCOUNT) Akbari, Achmad; Noortyani, Rusma; Rafiek, Muhammad
JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbsp.v14i2.20485

Abstract

AbstractPragmatic Study of Social Criticism Through Humor Dark Jokes Tretan Coki on The Komedi.Gelapp “Tiktok” Account. This study aims to analyze the use of Tretan Coki's dark jokes humor on the TikTok account @komedi.gelapp. The @komedi.gelapp account was chosen as the object because it contains and many uploads about dark jokes by Tretan Coki. The research method used is descriptive with a qualitative approach. The research data is in the form of Tretan Coki's dark jokes videos on the @komedi.gelapp account. The findings of this study indicate that Tretan Coki's dark jokes humor has several functions, namely a) Satirizing social reality: Tretan Coki uses dark jokes comedy to satirize various social problems that occur in Indonesia, such as injustice and discrimination. b) Make people laugh: Tretan Coki's witty and intelligent dark jokes comedy is able to entertain and make people laugh. c) Provoke critical thinking: Tretan Coki's dark jokes can provoke critical thinking in the audience by addressing government policies or political issues. This humor influences the way audiences view social criticism. Many respond with deeper reflection on the issues presented, while some see it as mere entertainment without delving further into the meaning. The impact of this humor is not only entertainment but also triggers audience engagement in deeper discussions about social issues presented through dark jokes. This research makes an important contribution in understanding Tretan Coki's dark jokes humor on the TikTok account @komedi.gelapp. The findings of this study can be used to understand how dark jokes are used to criticize social reality, make people laugh, and provoke critical thinking. Tretan Coki's dark jokes humor is an interesting phenomenon that deserves to be studied. His dark jokes are not only entertaining, but also have important social and intellectual functions.Keywords: dark jokes, humor, pragmatics, tiktok AbstrakKajian Pragmatik Terhadap Kritik Sosial Melalui Humor Dark Jokes Tretan Coki pada Akun “Tiktok” Komedi.Gelapp. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan dari humor dark jokes Tretan Coki pada akun TikTok @komedi.gelapp. Akun @komedi.gelapp dipilih sebagai objek karena memuat dan banyak unggahan mengenai dark jokes oleh Tretan Coki. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian berupa video-video dark jokes Tretan Coki pada akun @komedi.gelapp. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa humor dark jokes Tretan Coki memiliki beberapa fungsi, yaitu a) Menyindir realitas sosial: Tretan Coki menggunakan komedi dark jokes untuk menyindir berbagai permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia, seperti ketidakadilan, dan diskriminasi. b) Membuat orang tertawa: Komedi dark jokes Tretan Coki yang jenaka dan cerdas mampu menghibur dan membuat orang tertawa. c) Memprovokasi pemikiran kritis: Komedi dark jokes Tretan Coki dapat memicu pemikiran kritis penontonnya dengan cara menyinggung kebijakan pemerintah atau permasalahan politik. Humor ini memengaruhi cara audiens melihat kritik sosial. Banyak yang merespon dengan refleksi lebih dalam tentang masalah yang disampaikan, sementara sebagian melihatnya sebagai hiburan semata tanpa menggali makna lebih jauh. Dampak humor ini tidak hanya bersifat hiburan tetapi juga memicu keterlibatan audiens dalam diskusi yang lebih mendalam tentang isu-isu sosial yang dihadirkan melalui dark jokes. Penelitian ini memberikan kontribusi yang penting dalam memahami humor dark jokes Tretan Coki pada akun TikTok @komedi.gelapp. Temuan penelitian ini dapat digunakan untuk memahami bagaimana dark jokes digunakan untuk mengkritik realitas sosial, membuat orang tertawa, dan memprovokasi pemikiran kritis. Humor dark jokes Tretan Coki merupakan fenomena menarik yang patut untuk dikaji. Dark jokes-nya tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan intelektual yang penting.Kata Kunci: dark jokes, humor, pragmatik, tiktok

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 2 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 14, No 1 (2024): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 2 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 13, No 1 (2023): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 2 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 12, No 1 (2022): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 2 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 11, No 1 (2021): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 2 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 10, No 1 (2020): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 2 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 9, No 1 (2019): JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 2 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 8, No 1 (2018): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 2 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 7, No 1 (2017): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 2 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 6, No 1 (2016): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 2 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 5, No 1 (2015): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 2 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 4, No 1 (2014): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 2 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) Vol 3, No 1 (2013): JURNAL BAHASA, SASTRA DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) More Issue