cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA
ISSN : -     EISSN : 25494899     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 197 Documents
Geogebra: Media Visualisasi Grafis untuk Penyusunan Bahan Ajar Atmini Dhoruri; Dwi Lestari; Eminugroho Ratna Sari
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 4, No 2 (2020): Vol 4, no 2 (2020)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.797 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v4i2.37496

Abstract

Menurut beberapa studi dan penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa SMP di Indonesia dilihat dari kemampuan kognitif maupun afektif masih tergolong rendah. Kemampuan siswa berusia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains, hasil yang dicapai siswa Indonesia jauh dari memuaskan. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa diperlukan langkah-langkah penyempurnaan secara mendasar dan konsisten serta sistematik dalam pembelajaran. Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika adalah dengan memanfaatkan Geogebra untuk pembelajaran Matematika. Dua wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Kabupaten Sleman dan Bantul masing-masing memiliki kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP. Kedua MGMP memiliki permasalahan yang hampir sama atau beririsan yaitu sebagian besar guru belum terampil dalam menyusun bahan ajar matematika dengan bantuan Geogebra. Selain itu kedua MGMP juga belum mengintegrasikan teknologi komputer dalam pembelajaran Matematika. Dalam prakteknya, guru menemui kesulitan untuk memvisualisasikan konsep materi persamaan garis (berupa grafik), kesebangunan, serta bangun datar dan bangun ruang. Pelatihan Geogebra sebagai solusi masalah tersebut, diberikan kepada guru matematika se MGMP Sleman dan Bantul. Pelatihan dilakukan sebanyak 3 pertemuan untuk masing-masing MGMP. Pada awal setiap pertemuan diberikan materi sementara peserta praktek, disetiap akhir pertemuan peserta diberi tugas untuk menyusun bahan ajar. Sebagai evaluasi pelaksanaan kegiatan diberikan angket evaluasi di akhir pertemuan. Berdasarkan angket, sebanyak 100% peserta sangat antusias mengikuti kegiatan workshop Geogebra  ini. Di samping itu, sebesar 37.14% setuju dan 62.86% sangat setuju diadakan pelatihan Geogebra lanjutan. Sementara itu sebanyak 45.71% setuju dan 54.29 % sangat setuju materi workshop sesuai yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Keberadaan asisten dirasa sangat membantu, hal ini tampak dari seluruh peserta menyatakan setuju atau sangat setuju. Dari hasil tugas peserta yang dikumpulkan tercatat nilai rata-rata lebih dari 85. Hal ini menunjukkan kemampuan guru menggunakan Geogebra dalam menyiapkan bahan ajar sangat baik.Kata Kunci : Geogebra, visualisasi, matematika
MIKROTIK SOHO (Small Office Home Office) NETWORK WORKSHOP wawan nurmansyah; Achmad Alfian; Meylinda Mulyati; Klaudius Jevanda
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 5, No 1 (2021): Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.987 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v5i1.35505

Abstract

Schools are generally used as places for formal community education, schools continue to evolve in terms of infrastructure development, human resources, especially teachers, and a curriculum system to keep up with the evolving times. Vocational High School prepares students who are ready to work, especially industries that need human resources who already have the required hard skills.Especially for the TKJ (computer network) concentration, students are given a workshop from the continuation of the socialization that had been previously held. The workshops are conducted online using video conferencing with the google meet application, applications such as power points and other application simulators are displayed by sharing the desktop view with workshop participants (students of SMK Xaverius 1 Palembang)Indicators for the assessment of workshop activities using a questionnaire and the results of several question points responded to by 22 students of SMK Xaverius Palembang. The highest percentage of questions "is the topic of activity interesting?" is at the 4th rate with a performance of 22.7%, the question "Material / material activity fading?" found at rate 5 with an achievement of 54.5%, the question "The delivery of the material / material is clear?" found at the 4th rate with a gain of 50%, the question "Is this activity generally interesting?" is at the 4th rate with a achievement of 54.5% and the question "Is this activity very useful?" there is the 5th rate with an achievement of 59.1%, with these results many of them have a positive attitude in this PkM activity.
Pelatihan Pengelolaan Laboratorium Dan Penggunaan Alat Peraga IPA Bagi Guru-Guru IPA Di SMP/MTS Se-Kota Bandar Lampung Undang Rosidin; Dina Maulina; Wayan Suane
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 4, No 1 (2020): Vol 4, no 1 (2020)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.498 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v4i1.34075

Abstract

AbstrakPembelajaran IPA dan laboratorium tidak dapat dipisahkan keberadaannya secara fungsional. Guru sebagai komponen penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan menjadi protokol dalam kegiatan pembelajaran IPA berbasis laboratorium dan pengelolaannya. Tujuan kegiatan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengoperasikan alat peraga laboratorium, serta meningkatkan kemampuan guru terhadap teknik pengelalolaan laboratorium dan keterampilan menggunakan alat laboratorium guru. Kegiatan pelatihan ini menerapkan strategi kontekstual, yaitu mengaitkan antara teori dengan praktik yang disampaikan  dengan metoda praktik terbimbing yaitu sistem pengajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah yang dihadapi mengenai pengelolaan laboratorium. Pelaksanaan kegiatan pelatihan ini bertempat di SMP Negeri 2 Bandar Lampung, dengan subjek kegiatan pelatihan ini adalah 75 orang guru mata pelajaran IPA SMP/MTs se-Kota Bandar Lampung. Hasil kegiatan pelatihan ini menunjukan bahwa ada peningkatan pengetahuan managerial laboratorium, dimana seluruh kemampuan peseta meningkat kecuali bagi para peserta yang tidak mengikuti kegiatan pelatihan hingga akhir. Kemampuan guru dalam menggunakan alat peraga (kit) IPA sudah baik. Hasil penilaian 100% guru telah mencapai standar ketuntasan yaitu 70. Dengan demikian, kegiatan pelatihan dikatagorikan berhasil dalam meningatkan kemampuan guru IPA MTs se-Kota Bandar Lampung tata kelola laboratorium dan penggunaan perangkat/kit IPA serta mampu mengenal fungsi dan kegunaan alat dan bahan praktikum dalam menunjang pembelajaran IPA. Kata kunci: alat peraga IPA, pembelajaran IPA, pengelolaan laboratorium. Training of Laboratory Management And use of Natural Science Teaching AidsFor Junior High School Science Teachers in Bandar LampungAbstractScience and laboratory learning is not be separated as functionally tools. The teacher as an important component in determining the success of education becomes a protocol in laboratory-based science learning activities and its management. The purpose of this training activity was to improve the ability of teachers to operate laboratory teaching aids, and to manage laboratory techniques. The method used in this activity was to applying the contextual strategy to linked theory with practice delivered with the guided practice method. There was teaching system oriented towards solving problems encountered regarding laboratory management. The implementation of the training activities took place at SMP Negeri 2 Bandar Lampung, which was held for 4 days (32 hours). The subjects in this training activity were 75 Junior High School Science Teachers in Bandar Lampung. The results of this training activity showed that there was an increase in laboratory managerial knowledge, where all trainees' abilities increased except for participants who did not attend the training activities until the end. The ability of teachers to use science teaching aids (kits) is good. The results of the 100% assessment of teachers have reached the completeness standard of 70. Therefores, the training activities are categorized as successful in reminding the ability of science teachers throughout Bandar Lampung in laboratory management and the use of science devices and being able to recognize the functions and usefulness of practical tools and materials in supporting science learning.Key words: science teaching aids, science learning, laboratory management.
PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN AUTOGRAPH MENGGUNAKAN PENDEKATAN PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN METAKOGNISI SISWA SMA Fitrah Sari Wahyuni
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 5, No 1 (2021): Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.391 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v5i1.30477

Abstract

Autograph Software is a special program used in learning mathematics. Autograph has the ability to make 2D and 3D graphics for material transformation, cone sections, vectors, slope, and derivatives. By using this software, users can observe how functions, graphs, equations, and calculations. Community service activities carried out at Al Fattah Private High School, especially for class XI, are expected students to understand the concept of integral applications, namely the volume of rotating objects and students' responses to mathematics learning through autograph learning media on the material of rotating objects. In this community service activity, it is hoped that class IX students can find an integral application problem solving for the volume of rotating objects. Autograph software is used to make it easier for students to understand the concept of the volume of a rotating object through two-dimensional and three-dimensional images with their metachogical abilities.
Produksi Inulin Berbasis Umbi-Umbian Lokal Sebagai Bahan Dasar Obat Isana Supiah Yosephine Louise
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 4, No 1 (2020): Vol 4, no 1 (2020)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.138 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v4i1.34070

Abstract

AbstrakInulin merupakan bahan dasar obat yang banyak terkandung dalam umbi-umbian lokal, seperti ubi kayu/singkong (Manihot esculenta), uwi (Dioscorea spp.), ubi jalar (Ipomoea batatas), dan gembili (Dioscorea esculenta L.), yang secara luas belum diupayakan untuk diproduksi secara besar-besaran. Umbi-umbian lokal umumnya hanya dijual sebagai bahan mentah yang harganya relatif murah dan tidak dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama. Umumnya dikonsumsi dengan cara direbus, digoreng atau diolah menjadi makanan tradisional, belum diproses menjadi produk yang lebih bermanfaat, memiliki nilai jual relatif tinggi, dan waktu penyimpanan yang relatif lebih lama. Pada kegiatan pemberdayaan masyarakat pedesaan ini telah dilakukan penyuluhan, pemberian keterampilan, dan pendampingan masyarakat dusun Krajan Wedomartani Ngemplak Sleman untuk secara mandiri mampu mengolah umbi-umbian lokal menjadi produk tepung fermentasi, tepung non fermentasi, dan ekstrak inulin. Pada kegiatan ini bahan baku yang digunakan adalah umbi singkong, uwi ungu, dan ubi jalar ungu. Proses fermentasi umbi dilakukan menggunakan jamur monascus angka atau monascus purpureus. Ekstrak inulin dilakukan dengan menggunakan pelarut alkohol. Produk tepung fermentasi dengan bahan baku umbi singkong, uwi ungu, dan ubi jalar ungu masing-masing memiliki randemen sebesar 52%, 43%, dan 40%; sedangkan ekstrak inulin memiliki randemen sesesar 7,47%, hanya saja produk inulin belum optimum bila ditinjau dari sisi warna senyawa, masih perlu dilakukan proses lanjutan untuk memperoleh produk inulin yang sesuai standar pasar. Hasi angket menunjukkan bahwa sebagian besar peserta menyatakan kegiatan seperti ini sangat bermanfaat, dan secara umum penyajian materi oleh tim pengabdi dapat diterima dengan mudah dan jelas oleh peserta. Sebagian besar peserta menyatakan bahwa metoda penyampaian materi sesuai, artinya, secara umum metoda penyampaian materi dalam kegiatan ini dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat sasaran. Sebagian besar peserta menyatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat membantu membuka wawasan masyarakat desa untuk dapat mengolah umbi-umbian lokal, yang semula hanya dikonsumsi dengan direbus atau digoreng atau dijual mentah dengan harga realtif murah menjadi produk yang lebih bermanfaat, memiliki nilai jual relatif tinggi, dan memiliki daya simpan relatif lebih lama. Kata kunci: inulin, monascus angka, umbi-umbian lokal, membuka wawasan, masyarakat desa The Production of Tubers-Based Inulin as The Basic Ingredients of Medicine AbstractInulin is a raw material of medicine which is contained in local tubers, such as cassava (Manihotes culenta), Dioscorea spp., sweet potato (Ipomoea batatas L.), and Dioscorea esculenta L., which is not widely strived in mass production. Local tubers commonly sold as food raw material which is relatively cheap and cannot be stored for a long time. Generally, the tubers consumed by boiling, fried or processed to traditional food. It has not processed to be more valuable product, has relatively high price, and has relatively longer the storage time. In the empowerment activity of rural community, it has been conducted counseling, providing soft skill, and community assistance in Krajan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman to independently be able producing local tubers became fermented flour, unfermented flour, and inulin extract product. In this activity, the raw material were cassava, Dioscorea alata L. syn. D. atropurpurea Roxb., and purple sweet potato (Ipomoea batatas var Ayumurasaki). Tubers fermentation process was conducted using monascus angka or monascus purpureus mold. Inulin extract was produced using alcohol solvent. Fermented flour product from cassava, Dioscorea alata L. syn. D. atropurpurea Roxb., and purple sweet potato have yield as respectively 52%, 43%, and 40%; meanwhile inulin extract has yield as 7.47%, although inulin product had not reach optimum point regarding on the color of compound. It still needs further process to gain standardized commercially inulin product. Questioners showed that mostly of the attendances stated the activity very useful, and generally the presentation from empowerment team can be delivered easily and clearly to the communities.  Mostly of the attendances stated that the method of presentation is suitable, which means generally the presentation method in this activity can be accepted easily by the communities. Mostly of the attendances stated that the activity is very helpful for them to gain the knowledge of local tubers processing, which was originally consumed only with boiled or fried or sold uncooked with the relatively cheap price to be more valuable product, has relatively high price, and has relatively longer the storage time  Key words: inulin, monascus angka, local tubers, empowerment, rural community
PKM Pengolahan Air Gambut di Desa Kasamukal dan Desa Rawa Makmur, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Riau Yeza Febriani; Eti Meirina; Brahmana Brahmana; Aprizal Aprizal; Arif Rahman Saleh
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 4, No 2 (2020): Vol 4, no 2 (2020)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.612 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v4i2.37503

Abstract

Air gambut merupakan jenis air yang banyak tersedia di sekitar kawasan hutan lahan rawa gambut. Air ini perlu pengolahan terlebih dahulu sebelum siap untuk dikonsumsi dikarenakan tidak memenuhi persyaratan standar kualitas air bersih layak konsumsi. Beberapa desa yang terletak di Kecamatan Bonai Darussalam  Kabupaten Rokan Hulu masih menemukan kesulitan dalam memperoleh air bersih dikarenakan daerah ini merupakan daerah air gambut. Untuk mengolah air gambut dibutuhkan beberapa tahapan mulai dari netralisasi, aerasi, koogulasi-flokulasi, dan filtrasi. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini telah dibangun sebuah produk berupa sistem penyaringan air gambut menggunakan teknologi sederhana dengan kapasitas penyaringan 500 liter/jam yang terdiri dari beberapa bagian yaitu Tangki Air Baku, Sistem Aerasi, Sistem Pemipaan dan Sistem Penyaring (filter). Media yang digunakan adalah zeolit, pasir silika dan karbon aktif. Seluruh media penyaringan ditempatkan pada 3 buah tabung FRV. Hasil pengujian sampel air hasil penyaringan menunjukkan bahwa teknologi sederhana penyaringan air gambut menjadi air bersih telah bekerja dengan baik dan sesuai dengan PERMENKES No :416/Menkes/PER/IX/1990. Kata kunci: air gambut, teknologi sederhana, penyaringan
Vertical Garden Sebagai Solusi Degradasi Ruang Terbuka Hijau dan Edukasi Santri Wahid Hasyim Yogyakarta Hesti Indriani; Aulia Nisa Rafida; Miftakhul Khasanah; Rio Christy Handziko
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 4, No 2 (2020): Vol 4, no 2 (2020)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.586 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v4i2.37498

Abstract

Jumlah penduduk perkotaan yang terus meningkat memberikan dampak tingginya tekanan terhadap pemanfaatan ruangkota, terutama ruang terbuka hijau sebagai ruang terbuka publik yang berpotensi menjadi ruang permukiman. Meningkatnya pembangunan akan mengurangi ruang terbuka hijau yang ada. Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta merupakan salah satu pondok pesantren yang ada di pusat kota Yogyakarta yang memiliki lembaga pendidikan dari TK, MTs, MA, dan SMA. Pembangunan disanaterus meningkat seiring dengan meningkatnya siswa yang ada. Oleh karena itu, ruang terbuka hijau menjadi semakin berkurang.Vertical Garden adalah sebuah solusi permasalahan degradasi ruang terbuka hijau di Pondok Pesantren Wahid Hasyim yang menggunakan pendekatan keruangan dengan memaksimalkan lahan kota yang sempit. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi penelitian lapangan dan analisis data sekunder.Verical Garden merupakan konsep taman tegak yang menjadikan ruang tanam lebih besar dibanding taman konvensional, sehingga dapat menambah ruang terbuka hijau di Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta. Kata Kunci :Vertical Garden, Ruang Terbuka Hijau, Lahan Sempit, Yogyakarta.
Pelatihan pembuatan sabun cuci tangan dari ekstrak daun jambu air dan nanopartikel perak bagi masyarakat Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman Ariswan Ariswan; Rita Prasetyowati; Warsono Warsono; Suparno Suparno; Fika Fauzi; Wipsar Sunu Brams Dwandaru
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 5, No 1 (2021): Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.42 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v5i1.39911

Abstract

AbstrakKegiatan pengabdian kepada masyarakat (PPM) ini bertujuan untuk melatih masyarakat Widodomartani, Ngemplak, Sleman untuk membuat sabun cuci tangan dengan bahan ekstrak daun jambu air dan nanopartikel perak. Kegiatan PPM ini juga memberikan pendampingan pemberdayaan masyarakat desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman agar dapat meningkatkan keterampilan membuat sabun cuci tangan. Tim PPM melaksanakan pelatihan yang meliputi dua kegiatan yaitu, 1) pemaparan materi tentang manfaat membuat sabun cuci tangan dan teknologi pembuatan sabun cuci tangan; pelatihan membuat sabun cuci tangan dari ekstrak daun jambu air dan nanopartikel perak; dan 2) pendampingan pembuatan sabun cuci tangan kepada masyarakat desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman. Hasil yang dicapai dari kegiatan PPM ini adalah peserta PPM dari masyarakat desa Widodomartani, Sleman memperoleh bekal tentang langkah-langkah konkret pembuatan sabun cuci tangan dari ekstrak daun jambu air dan nanopartikel perak dan pendampingan dalam praktek pembuatan sabun cuci tangan tersebut. Sehingga masyarakat tersebut dapat memaksimalkan pemanfaatan daun jambu air dan nanopartikel perak guna memproduksi sabun cuci tangan. Kata Kunci: sabun cuci tangan, ekstrak daun jambu air, nanopartikel perak
Pembuatan Kumbung sebagai Persiapan Budidaya Jamur dalam Upaya Perwujudan Ikon Jamur Tiram Putih di Desa Pagarawan, Bangka Sari, Eka; Ropalia, Ropalia
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 4, No 1 (2020): Vol 4, no 1 (2020)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.213 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v4i1.34076

Abstract

AbstrakPagarawan merupakan salah satu desa di Kabupaten Bangka dengan ikon jamur tiram putih, sehingga berpotensi mengembangkan usaha budidaya jamur tiram skala rumah tangga. Disamping itu, desa ini selalu membeli baglog jamur dari luar dan belum berani memproduksi sendiri dikarenakan belum mempunyai pengetahuan dan keterampilan mengenai budidaya jamur tiram skala rumah tangga. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu rumah warga Pagarawan sebagai mitra produksi yang bersedia menyediakan tempat budidaya. Tahap awal yang dilakukan sebelum melakukan budidaya adalah persiapan sarana, prasarana dan kegiatan sosialisasi. Persiapan yang telah dilakukan adalah pembuatan kumbung pembibibitan, kumbung inkubasi, kumbung budidaya, dan kumbung pengomposan. Kegiatan sosialisasi budidaya jamur juga sudah dilaksanakan termasuk sosialisasi penggunaan sarana prasarana kepada masyarakat Pagarawan. Hal tersebut menunjukkan antusiasme dari masyarakat desa sehingga siap melangkah ke tahapan berikutnya, yaitu pelatihan budidaya jamur tiram putih skala rumah tangga agar dapat melaksanakan kegiatan budidaya jamur tiram secara mandiri di Pagarawan Kata kunci: Bangka, Jamur Tiram Putih, Pagarawan Making Kumbung as a Preparation for Mushroom Cultivation in an Effort to Realize the White Oyster Mushroom Icon in Pagarawan Village, BangkaAbstractPagarawan is one of the villages in Bangka Regency with an white oyster mushroom icon, thus increasing the dvevelopment of the household scale oyster mushroom busines. In besides, this village always buys baglog mushrooms from outside the village and has not succeeded in producing it by themselves because they have not the knowledge and skills about household-scale oyster mushrooms. This activity was carried out in one of the houses of the citizens of Pagarawan as a production partner that provided a cultivation place. The initial stage carried out before conducting cultivation is the preparation of facilities, infrastructure and socialization activities. Preparations that have been made are making kumbung of nursery, incubation, cultivation and composting. Mushroom cultivation socialization activities have also been carries out including the socialization of the use of infrastucture for the poeple of Pagarawan. This Shows the enthusiasm of the village community so that they are ready to go to the next stage, namely training on the cultivation of white oyster mushrooms at a household scale can be carried out oyster mushroom cultivation activities independently in Pagarawan Key words: Bangka, white oyster mushroom, Pagarawan
Workshop Analisis Faktor untuk Data Penelitian Ilmu Sosial dan Kependidikan Dhoriva Urwatul Wutsqa; Kismiantini Kismiantini; Muhammad Fauzan; Rosita Kusumawati; Sahid Sahid; Syarifah Inayati
Jurnal Pengabdian Masyarakat MIPA dan Pendidikan MIPA Vol 5, No 1 (2021): Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.665 KB) | DOI: 10.21831/jpmmp.v5i1.35218

Abstract

Kegiatan PPM ini bertujuan memberikan pelatihan penggunaan program R dan SPSS dalam penelitian data ilmu sosial dan kependidikan kepada para praktisi lulusan S1, mahasiswa pasca sarjana, dan dosen di lingkungan universitas di Yogyakarta. Penelitian dalam ilmu sosial dan kependidikan seringkali melibatkan banyak variabel yang saling berkorelasi maupun mempunyai korelasi yang tinggi, misalnya dalam pengembangan suatu instrument penelitian. Penghapusan variabel yang mempunyai korelasi tinggi bisa mengakibatkan hilangnya informasi, untuk mengatasi hal tersebut dapat digunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA). Sedangkan dalam hal menentukan konstruk yang sesuai dari butir-butir soal yang terbentuk dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu analisis faktor eksplorasi (Exploratory Factor Analysis/EFA) dan analisis faktor konfirmasi (Confirmatory Factor Analysis/CFA). Permasalahan yang terkait dengan reduksi variabel dan pembentukan konstruk pada pengembangan instrument ini merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian ilmu sosial dan kependidikan.  Sehingga suatu metode analisis PCA, EFA, dan CFA dengan menggunakan program R dan SPSS mutlak diperlukan. Workshop yang diikuti oleh 26 peserta peserta ini dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan pelaksanaan dan evaluasi kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa tujuan dapat tercapai dengan baik.

Page 8 of 20 | Total Record : 197