cover
Contact Name
muhammad ikhsan
Contact Email
ichsan@uwgm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmm.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jalan KH. Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan, Kota Mataram - NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri)
ISSN : 25988158     EISSN : 26145758     DOI : 10.31764/jmm.v4i2.1962
Core Subject : Education,
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) is a journal published by the Mathematics Education Departement of Education Faculty of Muhammadiyah University of Mataram. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) aims to disseminate the results of conceptual thinking and ideas, especially the results of educational research and technology to be realized in the community, including (1) Fields of science, applied, social, economic, cultural, health, ICT development, and administrative services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and religious technology (3) Teaching and empowering communities and communities of students, youth, youth and community organizations on an ongoing basis
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,932 Documents
PEMANFAATAN AMPAS SAGU SEBAGAI CAMPURAN MEDIA JAMUR TIRAM (PLEOROTUS OSTREATUS L.) Iman Suswanto; Kukuh Hernowo
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.22231

Abstract

Abstrak: Ketersediaan serbuk gergajian kayu sebagai bahan baglog jamur tiram semakin terbatas disebabkan oleh kompetisi pemanfaatan serbuk kayu untuk beragam keperluan. Diperlukan upaya mencari bahan lain yang dapat digunakan sebagai alternatif susbtrat jamur. Kegiatan ini bertujuan memberi bekal pengetahuan budidaya dan ketrampilan pembuatan baglog dengan ampas sagu sebagai substitusi serbuk gergajian kayu. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan metoda ceramah dan demonstrasi budidaya jamur tiram. Peserta terdiri atas 2 mitra yaitu Mitra I sebanyak 20 warga masyarakat dan Mitra II sebagai pemilik rumah jamur bertempat di Kelurahan Siantan Hulu, Pontianak Utara, Kalimantan Barat. Hasil praktik penggunaan ampas sagu menunjukkan peningkatan produksi jamur tiram melalui perbaikan nilai efisiensi biologi baglog dari 25% menjadi 40%. Peningkatan produksi jamur disebabkan oleh penambahan masa tubuh buah, peningkatan keberhasilan pembentukan miselium baglog dan peningkatan bobot tubuh buah jamur. Peserta kegiatan mengikuti sesi diskusi budidaya jamur tiram maupun demonstrasi pembuatan baglog dengan baik ditunjukkan dengan penguasaan materi mencapai skor memuaskan (penguasaan materi lebih dari 75%). Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mempraktikan budidaya jamur mengingat permintaan jamur tiram cukup baik, membuka peluang kerja, sekaligus mengurangi limbah yang dihasilkan oleh industri sagu yang selama ini masih menjadi masalah lingkungan.Abstract: Availability of sawdust as a material for oyster mushroom baglogs is increasingly limited due to competition for the use of sawdust for other purposes. Efforts are needed to search for other materials that can be used as mushroom substrates. This activity aims to provide knowledge and skills for oyster mushroom cultivation and to obtain baglog formulas by utilizing sago waste as a substitute medium for sawdust. The community service activity is carried out through lectures and practical oyster mushroom cultivation. Preparation of sago waste as a mushroom media component includes collecting sago waste from the community's sago processing site, drying, and mixing sago waste with other mushroom media constituents commonly used such as sawdust, lime, and bran. The mushroom media formulation in this activity only replaces 50% of the sawdust with sago waste. The results of adding sago waste show an increase in oyster mushroom production through the improvement of baglog biological efficiency from 25% to 40%. This increase is due to the extension of the fruiting body harvest period, increased success in mycelium formation in the baglogs, and increased mushroom body weight. Participants in the activity can follow each process of oyster mushroom cultivation well. This activity is expected to encourage communities to practice mushroom cultivation considering the decent demand for oyster mushrooms, opening job opportunities, while also reducing waste produced by the sago industry, which has long been an environmental problem.
PENGENALAN DAN PELATIHAN BUDIDAYA ANGGREK DALAM RANGKA PEMANFAATAN LAHAN WANA DESA Yohana Theresia Maria Astuti; Retni Mardu Hartati; Suparman Suparman
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20212

Abstract

Abstrak: Wana Desa adalah suatu ekosistem hutan buatan yang memuat berbagai jenis tanaman hutan di Sendangadi, Sleman. Di tepi lahan Wana Desa terdapat sebidang lahan yang dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman. Kalurahan Sendangadi mempunyai rencana pemanfaatan lahan Wana Desa tersebut dengan kegiatan budidaya anggrek. Permasalahan yang timbul adalah warga sekitar Wana Desa belum mempunyai pengetahuan mengenai anggrek dan budidayanya. Oleh karena itu, PkM di Sendangadi dilaksanakan dengan tujuan untuk memperkenalkan anggrek dan budidayanyameningkatkan hardskill Mitra dalam hal budidaya anggrek. . Dalam pelaksanaannya, Tim PkM bekerjasama dengan Kalurahan Sendangadi sebagai Mitra. Metode yang digunakan dengan penyuluhan dan pelatihan budidaya anggrek pada anggrek Dendrobium dan Phalaenopsis. Hasil yang diperoleh adalah anggota Evaluai outcome dan impact pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan dengan teknik questioner. Kelompok Wanita Tani Dusun Jongke Lor Sendangadi setelah pelatihan berturut-turut 100% dan 95% peserta mengenal beberapa jenis anggrek dan pengetahuan budidaya anggrek. Pemahaman teknik menanam anggrek, setelah pelatihan meningkat menjadi 95%. Setelah pelatihan, 100% peserta mempunyai keinginan untuk memperkenalkan budidaya anggrek kepada anggota/ warga lain. 100% peserta termotivasi untuk mengembangkan budidaya anggrek. Abstract: Wana Desa is an artificial forest ecosystem that contains various types of forest plants. At the edge of the Wana Desa land there is a plot of land that can be used for cultivating plants. Sendangadi Subdistrict has a plan to use the Wana Village land for orchid cultivation activities. The problem that arises is that residents around Wana Village do not yet have knowledge about orchids and their cultivation. In its implementation, the Team collaborates with the Sendangadi Village as a Partner. The method used is orchid cultivation training on Dendrobium and Phalaenopsis orchid. The results obtained are members. Evaluation of the outcome and impact of community service is carried out using a questionnaire technique. The results obtained were that after consecutive training 100% of the members of the Jongke Lor Sendangadi Hamlet Women's Farmers Group were familiar with several types of orchids and knowledge of orchid cultivation. Understanding of orchid planting techniques, after training increased to 95%. After training. After the training, 100% of participants had the desire to introduce orchid cultivation and drip irrigation to other members.
PEMBENTUKAN PEER EDUCATOR PENCEGAHAN STUNTING REMAJA Kusuma Estu Werdani; Ayu Khoirotul Umaroh; Sudrajah Warajaty Kisnawaty; Windi Wulandari; Mesya Ade Karuniawati; Adinda Dwi Septyasari Pratama; Novyanti Setiyo Rini; Fadillah Zuhroh Choirunnisa; Nadila Anti Nur Khoiriyah; Anggi Putri Aria Gita
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.22267

Abstract

Abstrak: Remaja merupakan kelompok berisiko terhadap kejadian stunting. Remaja perempuan sebagai calon ibu yang akan melahirkan anak membutuhkan pengetahuan dan persiapan yang matang sejak dini. Akan tetapi, minimnya edukasi tentang stunting bagi remaja menjadi permasalahan yang perlu diatasi. Terdapat 12 balita di Desa Waru, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo yang berisiko mengalami stunting dan satu balita yang masuk dalam kategori stunting berdasarkan perhitungan Z-score TB/U. Remaja di wilayah ini belum pernah dilibatkan dalam kegiatan pencegahan stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang faktor risiko stunting dan upaya pencegahannya, serta memotivasi remaja untuk menjadi peer-educator. Mitra kegiatan ini adalah MTs Muhammadiyah Waru, Baki, Sukoharjo, dengan melibatkan 45 siswa. Tahapan pelaksanaan kegiatan utama ada dua, yaitu 1) pemberian penyuluhan kesehatan kepada remaja dengan media aplikasi berbasis android yang dibuat oleh tim pengusul dan 2) pendampingan peer educator untuk mengampanyekan upaya pencegahan stunting kepada remaja lainnya. Hasil pengukuran pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikan edukasi tentang stunting menunjukkan hasil yang signifikan (nilai-p= <0,0001) dengan rerata nilai meningkat dari 6,67 menjadi 8,58. Kegiatan pendampingan peer educator cukup berhasil, meskipun remaja yang mau bergabung menjadi peer educator hanya dua orang.Abstract: Teenagers are a group at risk of stunting. Adolescent girls, as prospective mothers who will give birth to children, need thorough knowledge and preparation from an early age. However, the lack of education about teenage stunting is a problem that needs to be addressed. Twelve toddlers in Waru Village, Baki District, and Sukoharjo Regency are at risk of stunting, and one toddler is included in the stunting category based on the TB/U Z-score calculation. Adolescents in this area have never been involved in stunting prevention activities. This community service activity aims to form peer educators from youth groups for other teenagers in Waru Village, Baki District, Sukoharjo Regency. There are two stages in implementing the main activities, namely 1) providing health education to teenagers using an Android-based application created by the proposing team and 2) assisting peer educators in campaigning for stunting prevention efforts for other teenagers. The results of measuring respondents' knowledge before and after being given education about stunting showed significant results (p-value = <0.0001), with the mean value increasing from 6.67 to 8.58. The peer educator mentoring activities were quite successful, although only two teenagers wanted to join as peer educators.
EDUKASI LITERASI KEUANGAN DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENIPUAN PINJAMAN ONLINE Edi Jusriadi; Erniyati Caronge; Asniwati Asniwati; Yusra Nginang
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.21326

Abstract

Abstrak: Pinjaman Online (Pinjol) merupakan trend baru dalam transaksi keuangan digital dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Sehingga untuk menghindari terjadinya penipuan pinjol maka masyarakat perlu diberi edukasi literasi keuangan agar memiliki kemampuan dalam melakukan proteksi data pribadi. Adapun tujuan kegiatan PKM ini untuk meningkatkan hardskill dan softskill masyarakat agar memiliki pengetahuan dan skill dalam memanfaatkan berbagai fasilitas pinjol dan mampu membedakan pinjol legal dan pinjol ilegal secara hukum. Berdasarkan data Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), pada tahun 2023 terdapat 173 pinjol, 129 konten terkait pinjaman pribadi (pinpri), 1.196 entitas investasi, 6.055 entitas pinjaman online atau pinpri, dan 251 entitas gadai yang dinyatakan illegal dan sudah diblokir. Sehingga untuk melakukan proteksi terhadap praktek pinjol maka dalam PKM ini dilakukan edukasi kepada masyarakat pengenalan situs/platform digital yang berpotensi pinjol illegal. Kegiatan PKM ini melibatkan 3 mitra, yaitu unsur Pemerintah Kelurahan Mallewang, PKK, dan Karangtaruna Kabupaten Takalar. Metode untuk mengukur tingkat keberhasilan edukasi literasi keuangan, menggunakan pendekatan pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada saat dilakukan pre-test dari 63 peserta hanya 20% masyarakat memahami literasi keuangan dan praktek Pinjol, kemudian diakhir kegiatan dilakukan post-test terjadi peningkatan yang signifikan 94,44% masyarakat sudah mengenal dan memahami praktek pinjol illegal dengan modus yang digunakan serta memahami proteksi data pribadi.Abstract: Fintech Lending are a new trend in digital financial transactions with numerous conveniences offered. Hence, people need to be given financial literacy education to protect their data and to avoid the Fintech Lending Scam. The aim of this Community Service (PKM) is to improve the hard and soft skills of the society in order to utilize various facilities of Fintech Lending and are able to distinguish it legally. Based on the data from the Task Force for Eradicating Illegal Financial Activities (Satgas PASTI), in 2023 there was about 173 of Fintech Lending, 129 content related to personal loan (pinpri), approximately 1,196 investments of equity, 6,055 was for entities or personal loan. 251 of them were illegal pawn entities and have been blocked by pertinent authority. Therefore, to against that scam practice, this research conducted the introduction of digital sites or platforms illegally for society. This PKM activity involves 3 partners namely Mallewang Subdistrict Government, Family Welfare and Empowerment Organization (PKK), and Karangtaruna in Takalar district. Pre-test and post-test approach were used to measure the level of success of financial literacy education. The evaluation result showed that when the pre-test was carried out of 63 participants, only 20% of them understood about financial literacy and the online loans parties. Ath the end of post-test, there was about 94,4% of society significantly increase on recognize and comprehend the illegal category and the methods used as well as figured out of how to protect their personal data.
TRAINING ON THE USE OF THE ELECTRICAL PHYSICS KIT TO IMPROVE THE COMPETENCY OF SCIENCE TEACHERS Erwinsyah Satria; Gusmaweti Gusmaweti; Erman Har; M. Nursi; Darwianis Darwianis
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.20069

Abstract

Abstrak: Guru IPA SMP perlu menguasai pengetahuan dan keterampilan menggunakan alat peraga berupa KIT Fisika untuk percobaan atau praktek tentang konsep Fisika yang diajarkan agar siswa dapat semakin paham akan ilmu dan konsep Fisika yang mereka pelajari. Kebanyakan alat-alat KIT Fisika yang ada di sekolah jarang digunakan guru IPA karena waktu guru terpakai lebih banyak dalam menyampaikan materi teori yang cukup banyak. Tujuan pengabdian adalah untuk memberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan di laboratorium untuk para guru, agar mereka dapat mengenali dan menggunakan KIT Listrik SMP untuk melakukan percobaan Fisika sehingga KIT listrik yang ada di sekolah mereka dapat termanfaatkan. Metode pengabdian berupa pelatihan penggunaan KIT Listrik. Lokasi pelatihan dilakukan di laboratorium SMP Negeri 1 Painan Pesisir Selatan yang dihadiri oleh 17 orang guru IPA. Evaluasi pelatihan dengan menggunakan lembar kuesioner. Pelatihan mendapat penilaian yang sangat baik oleh guru pada aspek materi (80,88%) dan sangat baik untuk aspek penyelenggaraan (83,53%) pelatihan serta nilai baik untuk aspek kemampuan pemateri (79,41%).Abstract: Middle school science teachers need to master the knowledge and skills of using teaching aids in the form of physics KIT for experiments or practice on the physics concepts being taught so that students can better understand the physics science and concepts they are studying. Most of the Physics KIT tools in schools are rarely used by science teachers because the teacher's time is used to convey quite a lot of theoretical material. The aim of the service is to provide knowledge and skills through laboratory training for teachers, so that they can recognize and use SMP Electrical KITs to carry out physics experiments so that the electrical KITs in their schools can be utilized. The service method is training in the use of Electrical KIT. The training location was held in the laboratory of SMP Negeri 1 Painan Pesisir Selatan which was attended by 17 science teachers. Evaluation of training using a questionnaire sheet. The training received a very good assessment in the material aspect (80.88%) for the teachers and very good in the implementation aspect (83.53%) of the training as well as good marks for the aspect speaker's ability (79.41%).
RUMAH SATU ATAP CEGAH STUNTING PROVINSI BANTEN Shanty Kartika Dewi; Wahyu Kartiko Utami
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 5 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i5.26383

Abstract

Abstrak: Berdasarkan Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, Provinsi Banten masuk ke dalam lima besar angka prevalensi stunting tertinggi di Indonesia dan masuk ke dalam 12 Provinsi Prioritas Percepatan Penurunan Stunting (PPS). Salah satu daerah yang rawan stunting di Provinsi Banten adalah Desa Panimbang Jaya. Angka prevalensi stunting Desa Panimbang Jaya, mencapai 13,41% atau 22 balita terdeteksi mengalamai stunting. Dari 315 keluarga yang terverifikasi di tahun 2022, 138 diantaranya merupakan keluarga dengan resiko stunting. Oleh karena itu, Desa Panimbang Jaya masuk ke dalam desa prioritas PPS di Kabupaten Pandeglang. Pengabdian ini bertujuan agar desa Panimbang Jaya menjadi contoh baik dalam penanganan Stunting di Provinsi Banten. Dengan konsep Collaboration Governance dan FGD, tim pengabdian melaksanakan pengabdian ke masyarakat untuk menciptakan inovasi dalam rangka penguatan PPS di Desa Panimbang Jaya. kolaborasi bersama antar aktor pelaksana pencegahan stunting, yakni seluruh stakeholder Penangan stunting di Panimbang jaya seperti pemerintahan Desa Panimbang, Puskesmas Panimbang, Kader BKKBN, Kader Posyandu dan Untirta. Sistem evaluasi yang digunakan yakni dengan wawancara dan survey. Tim pengabdian membuat program "Rumah Satu Atap Cegah Stunting" dengan konsep pelayanan satu atap yang akan menanungi kegiatan pencegahan dan penanganan Stunting di Desa Panimbang Jaya mulai dari pendataan, penyuluhan, penyediaan makanan bergizi, pemantauan dan penanganan masyarakat. Seluruh stakeholder sepakat membentuk kolaborasi antar aktor pencegahan stunting dan penguatan sumberdaya manusia yaitu penguatan kader-kader pencegahan stunting sehingga tercipta kebijakan PPS yang terintegrasi di Desa Panimbang Jaya. Terdapat peningkatan kebutuhan setelah dilakukan Program Pendampingan pendirian Rumah Satu Atap Cegah Stunting dari 52,6 % menjadi 100% berdasarkan skor post-evaluation test.Abstract: Based on the 2021 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI), Banten Province is among Indonesia's top five highest stunting prevalence rates and is included in the 12 Priority Provinces for Accelerating Stunting Reduction (PPS). One of the areas prone to stunting in Banten Province is Panimbang Jaya Village. The prevalence rate in Panimbang Jaya Village reached 13.41%, or 22 toddlers were detected with stunting. Of the 315 families verified in 2022, 138 were at risk of stunting. Therefore, Panimbang Jaya Village is included in the PPS priority villages in Pandeglang Regency. This community service aims to make Panimbang Jaya Village a good example of handling Stunting in Banten Province. With Collaboration Governance and FGD, the community service team carried out community service to create innovations to strengthen PPS in Panimbang Jaya Village. Collaboration among stunting prevention stakeholders, including the Panimbang Village administration, Panimbang Health Center, BKKBN cadres, Posyandu cadres, and Untirta, is essential for addressing stunting in Panimbang Jaya. The evaluation system used is an interview and survey. The community service team created a "One Roof House to Prevent Stunting" program with a one-stop service concept that will accommodate stunting prevention and handling activities in Panimbang Jaya Village, starting from data collection, counseling, provision of nutritious food, monitoring, and handling the community. All stakeholders agreed to form a collaboration between stunting prevention actors and strengthening human resources, namely strengthening stunting prevention cadres so that an integrated PPS policy is created in Panimbang Jaya Village. There was an increase in need after the Mentoring Program for establishing One Roof Houses to Prevent Stunting, which was carried out from 52.6% to 100% based on the post-evaluation test score.
PEMBERDAYAAN KADER KESEHATAN DENGAN PENDAMPINGAN KELUARGA DALAM PENANGANAN HIPERTENSI DAN DETEKSI DINI KOMPLIKASI KEHAMILAN Eka Rati Astuti; Hasnawatty Surya Porouw; Rina Sulisthia Arbie
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26710

Abstract

Abstrak: Kejadian kasus kebidanan di Kota Timur merupakan kasus yang memerlukan perhatian khusus dalam penyelenggaraan pelayanan kebidanan. Kasus kebidanan yang mengancam jiwa memerlukan perhatian dari banyak pihak. Tujuan pengabmas yaitu meningkatkan keterampilan kader kesehatan dengan mendampingi keluarga dalam mendeteksi dan mengelola hipertensi dengan langkah CERDAS. Metode pengabmas yaitu demonstrasi dan praktik. Mitra yaitu kader posyandu sebanyak 5 orang dan sasaran seabanyak 15 orang keluarga ibu hamil. Evaluasi dilakukan dengan hasil selisih pretest dan posttest serta evaluasi keterampilan kader dalam pendampingan keluarga dalam penanganan hipertensi dan deteksi dini komplikasi kehamilan. Hasil yang telah dicapai adalah kader mampu mendampingi keluarga dalam penanganan hipertensi dan deteksi dini komplikasi kehamilan. Sebelum mengikuti demonstrasi, kader memiliki keterampilan kategori cukup (100%) pada pendampingan keluarga dalam mendeteksi dini komplikasi kehamilan. Setelah mengikuti demonstrasi, kader memiliki keterampilan kategori baik (60%) dan sangat baik (40%) pada pendampingan keluarga dalam mendeteksi dini komplikasi kehamilan.Abstract: The occurrence of obstetric cases at the Kota Timur is a case that requires special attention in the implementation of obstetric services. Life-threatening obstetric cases require attention from many parties. The purpose of community service is to improve the skills of health cadres by assisting families in detecting and managing hypertension with CERDAS steps. The community service method is demonstration and practice. Partners are 5 Posyandu cadres and targets of 15 families of pregnant women. Evaluation is carried out with the results of the difference between pretest and posttest and evaluation of cadre skills in assisting families in handling hypertension and early detection of pregnancy complications. The results that have been achieved are that cadres are able to assist families in handling hypertension and early detection of pregnancy complications. Before participating in the demonstration, cadres had sufficient category skills (100%) in assisting families in early detection of pregnancy complications. After participating in the demonstration, cadres had good category skills (60%) and very good (40%) in assisting families in early detection of pregnancy complications.
PARTISIPASI PETANI DALAM PELATIHAN TEKNIK BUDIDAYA JAMUR MERANG DI KABUPATEN KARAWANG Ani Lestari; Siti Mariyani; Tia Setiawati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.27539

Abstract

Abstrak: Jamur merang merupakan hasil produksi pertanian yang mengalami peningkatan permintaan untuk dikonsumsi langsung maupun dalam bentuk olahan. Meningkatnya permintaan jamur merang belum terpenuhi ketersediannya dari hasil budidaya petani. Jerami padi sebagai salah satu bahan baku budidaya jamur merang semakin terbatas karena kesadaran petani untuk memanfaatkan jerami masih rendah dan banyak jerami yang dibakar. Salah satu upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan jerami untuk budidaya jamur merang adalah dengan memberikan pelatihan teknik budidaya jamur merang. Tujuan kegiatan pengabdian adalah untuk meningkatkan pengetahuan petani melalui partisipasi petani dalam pelatihan teknik budidaya jamur merang. Metode pengabdian kepada masyarakat yang digunakan adalah metode partisipasi melalui penyuluhan kepada petani yang terintegrasi dengan kegiatan KKN mahasiswa. Mitra kegiatan adalah petani di Desa Kiara yaitu 30 petani. Evaluasi dilakukan dengan mengukur tingkat partisipasi petani dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan teknis budidaya jamur merang menggunakan skala likert Hasil kegiatan menunjukkan bahwa partisipasi petani dalam mengikuti pelatihan teknis budidaya jamur merang termasuk kategori tinggi yaitu 69.78 %. Hal ini dilihat dari kehadiran, keikutsertaan petani dan keaktifan petani yang terlibat dalam kegiatan diskusi. Abstract: Straw mushrooms are an agricultural product that is experiencing increasing demand for direct consumption and in processed form. The availability of farmers' cultivation has not met the increasing demand for straw mushrooms. Rice straw as a raw material for mushroom cultivation is increasingly limited because farmers' awareness of using straw is still low, and much of the straw is burned. One effort to optimize the use of straw for cultivating straw mushrooms is to provide training on cultivation techniques. The service activity aims to increase farmers' knowledge through farmer participation in training on straw mushroom cultivation techniques. Community service is the participation method through farmer outreach, integrated with student KKN activities. The activity partners are farmers in Kiara Village, namely 30 farmers. The evaluation measured farmer participation in implementing technical training activities for straw mushroom cultivation using a Likert scale. The activity results showed that farmer participation in technical training for straw mushroom cultivation was in the high category, namely 69.78%. This can be seen from the presence and participation of farmers and the activeness of farmers involved in discussion activities.
PEMANFAATAN TEPUNG KELOR DAN TEPUNG HATI AYAM MELALUI DIVERSIFIKASI PRODUK KAMBAMBANG SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING Yessy Tamu Ina; Iven Patu Sirappa; Elsa Cristin Saragih
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.27116

Abstract

Abstrak: Meningkatnya angka stunting di Desa Pulupanjang yaitu berjumlah 51 orang yang mana di dominasi oleh anak-anak. Tindakan pencegahan stunting yang dilakukan selama ini yaitu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang mana pelayanannya 90 hari pemberian atau pemberian makanan tambahan ini dari hari senin sampai dengan sabtu. Bentuk makanan yang diberikan pada anak- anak yang terkena stunting yaitu diberikan kolak, susu, daging dan telur. Tujuan pengabdian yaitu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang aspek produksi dengan prinsip Good Manufacturing Praktik dan aspek pemasaran kambambang sehingga kambambang dapat memiliki nilai jual di masyarakat dan dapat berguna sebagai camilan sehat dalam rangka mengurangi angka stunting. Metode yang digunakan adalah Edukasi dan penyuluhan pada kelompok Dasawisma tentang bahaya stunting dan upaya pencegahan stunting melalui pengolahan produk kambambang dan pentingnya subsitusi tepung kelor dan tepung hati. Melakukan pelatihan dan praktikum pengolahan kambambang dengan subsitusi tepung kelor dan tepung hati ayam. Mitra PKM adalah Kelompok Dasawiswa Desa Pulupanjang dengan jumlah mitra yaitu 20 orang. Hasil Evaluasi yang dilakukan adalah dengan membagikan kuisioner kepada peserta dan total hasil pencapaian kegiatan yaitu 88,19% mitra merasa puas terhadap kegiatan PKM. Kepuasan tersebut meliputi: Peserta dapat secara mandiri melakukan produksi kambambang secara mandiri dengan prinsip penerapan GMP dan memiliki kemampuan dalam menerapkan standar pemasaran produk dengan baik. Kegiatan PKM berhasil meningkatkan kesejahteraan, dan kecerdasan mitra serta Impact (Kebermanfaatan dan Produktifitas ) kegiatan ini yaitu masyarakat menjadi paham pemanfaatan kelor, hati ayam serta pengolahan kambambang dengan pertimbangan nilai gizi yang baik.Abstract: The increasing number of stunting in Pulupanjang Village is 51 people, which is dominated by children. The action to prevent stunting that has been carried out so far is the provision of additional food (PMT), which provides a 90-day service or provision of additional food from Monday to Saturday. The form of food given to children affected by stunting is compote, milk, meat and eggs. The aim of the service is to increase public understanding of production aspects with the principles of Good Manufacturing Practices and marketing aspects of kambambang so that kambambang can have selling value in the community and can be useful as a healthy snack in order to reduce stunting rates. The method used is education and counseling for the Dasawisma group about the dangers of stunting and efforts to prevent stunting through processing kambaambang products and the importance of substituting moringa flour and liver flour. Carrying out training and practical work on processing kambaambang by substituting moringa flour and chicken liver flour. PKM partners are the Pulupanjang Village Dasawiswa Group with a total of 20 partners. The results of the evaluation carried out were by distributing questionnaires to participants and the total results of the activity achievement were 88.19% of partners who were satisfied with the PKM activities. This satisfaction includes: Participants can independently carry out kambambang production independently with the principles of implementing GMP and have the ability to properly implement product marketing standards. PKM activities succeeded in increasing the welfare and intelligence of partners as well as the Impact (Usefulness and Productivity) of this activity, namely that the community became aware of the use of moringa, chicken liver and the processing of kambambang with consideration of good nutritional value.
PELATIHAN PEMBUATAN MIE KAYA SERAT-PROTEIN DARI UBI JALAR DAN IKAN SELUANG SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING Yuliana Yuliana; Hanasia Hanasia; Ysrafil Ysrafil; Muh. Supwatul Hakim; Dwi Hermayantiningsih
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 1 (2025): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i1.27789

Abstract

Abstrak: Desa Jabiren menjadi lokus stunting tertinggi di Kabupaten Pulang Pisau mencapai angka 31,6%, lebih tinggi dari rata-rata prevalensi stunting di Kota Palangka Raya (27,8%) dan Provinsi Kalimantan Tengah (26,9%). Kurangnya pemahaman orang tua terhadap asupan gizi balita dan faktor-faktor mencetus stunting berkontribusi atas kejadian 26 balita mengalami stunting dari total 80 balita di Desa Jabiren. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan pengolahan pangan lokal yaitu ubi jalar dan ikan seluang menjadi inovasi pangan berupa Mie Kaya Serat-Protein (KASEIN). Peserta kegiatan berjumlah 40 orang dari kader PKK dan kader posyandu. Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari persiapan, sosialisasi stunting, pelatihan membuat mie, dan evaluasi. Evaluasi menggunakan kuesioner menunjukkan bahwa peserta sangat setuju (68,33%) dan setuju (31,67%) kegiatan ini dilakukan. Pengetahuan peserta terkait stunting juga meningkat hingga 93,60% dan pelatihan mengolah pangan lokal menjadi Mie KASEIN berhasil dilakukan. Nilai uji organoleptik mie memperoleh 51,7% (sangat suka) dan 48,3% (suka). Peserta diharapkan terus berinovasi mengolah pangan lokal sebagai upaya pencegahan stunting.Abstract: Jabiren Village has the highest stunting prevalence in Pulang Pisau District at 31.6%, higher than the average stunting prevalence in Palangka Raya City (27.8%) and Central Kalimantan Province (26.9%). Parents' lack of understanding of toddler nutrition and the factors that trigger stunting contributed to the incidence of 26 stunted toddlers out of a total of 80 toddlers. This project aims to provide training in processing local food, namely sweet potato and seluang fish into food innovations in the form of Fiber-Protein Rich Noodles. There were 40 participants from PKK and Posyandu cadres. The activity begins with preparation, socialization of stunting, training in making noodles, and evaluation. Questionnaire evaluation showed that participants strongly agreed (68.33%) and agreed (31.67%) with project implementation. Participants' knowledge of stunting also increased to 93.60% and the training was successfully. The organoleptic test value of the noodles was 51.7% (very like) and 48.3% (like). Participants are expected to keep innovating in processing local food to prevent stunting.