cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,086 Documents
Peningkatan literasi terapi komplementer hipertensi melalui siaran radio Vivi Sofia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40037

Abstract

AbstrakHipertensi merupakan kondisi medis mendunia yang memerlukan penanganan menyeluruh, meliputi penggunaan terapi tambahan nabati. Peningkatan popularitas penggunaan tanaman obat di kalangan masyarakat acapkali tidak disertai dengan pemahaman yang cukup terkait aspek keamanan dan rasionalitasnya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kesehatan masyarakat mengenai penggunaan tanaman herbal sebagai terapi adjuvan untuk hipertensi yang aman, logis, dan didukung oleh bukti ilmiah. Pelaksanaan program melibatkan penyuluhan kesehatan interaktif dalam acara "Jurus Sehat Alami" yang disiarkan secara daring melalui Zoom dan disiarkan juga oleh Radio MQFM Jogja. Konten penyuluhan berfokus pada pemanfaatan empat jenis tumbuhan: rosela, bawang putih, seledri, dan daun kelor, dengan penekanan pada aspek keamanan serta interaksi obat. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan respons positif dari publik tercermin dari banyaknya pertanyaan substantif terkait lama konsumsi, interval pemberian herbal dengan obat konvensional, serta kesesuaian penggunaan herbal pada populasi lansia. Penilaian program mengindikasikan adanya peningkatan pemahaman kesehatan audiens, yang terlihat dari sikap cermat dalam mengerti bahwa herbal berfungsi sebagai terapi pendukung, bukan pengganti pengobatan medis utama. Kata Kunci: hipertensi; terapi komplementer; edukasi kesehatan; MQFM Jogja. AbstractHypertension represents a significant worldwide health issue necessitating thorough management strategies, which may incorporate complementary herbal treatments. Nevertheless, the increasing adoption of medicinal plants within communities often lacks sufficient public understanding concerning their safety and appropriate clinical application. This community outreach initiative was designed to augment public health knowledge and consciousness regarding the use of herbal remedies as secure, logical, and empirically supported adjunct therapies for hypertension. This initiative was conducted via interactive health education sessions during the "Jurus Sehat Alami" (Natural Healthy Moves) program, which was concurrently broadcasted virtually through Zoom and made available on MQFM Jogja Radio. The educational content primarily concentrated on four specific medicinal plants: roselle, garlic, celery, and moringa leaves, with a specific focus placed on their safety parameters and potential interactions with pharmaceutical drugs. The initiative elicited a highly favorable response from the public, as reflected in the numerous pertinent inquiries concerning the recommended duration of use, the timing of consumption relative to conventional medications, and the suitability of herbal remedies for geriatric individuals. An assessment of the program's impact revealed a notable enhancement in the participants' health literacy. This was evidenced by their discerning comprehension that herbal remedies serve exclusively as supplementary treatments and are not intended to substitute established medical protocols. Keywords: hypertension; complementary therapy; health education; MQFM Jogja.
Peningkatan pembelajaran IPAS berbasis augmented reality untuk siswa tunarungu jenjang SMPLB di SLB Negeri 7 Jakarta Rohmah Ageng Mursita; Anita Dwi Muslimah; Sanny Ezra Yulianti; Fitri Nurkania; Rizka Khoirun Nisak; Erika Fera Wantini
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41165

Abstract

Abstrak Pemahaman siswa tunarungu di Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa jenjang SMPLB terhadap konsep IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) yang bersifat abstrak masih perlu ditingkatkan karena karakteristik pembelajaran siswa tunarungu membutuhkan dukungan media visual yang sesuai. SLB Negeri 7 Jakarta sebagai mitra kegiatan telah melaksanakan pembelajaran IPAS menggunakan buku teks dan ilustrasi dua dimensi, sehingga diperlukan penguatan media yang mampu menyajikan objek dan proses yang kompleks secara lebih konkret. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep IPAS pada siswa tunarungu jenjang SMPLB melalui perancangan dan penerapan media pembelajaran berbasis augmented reality (AR) yang memadukan visualisasi tiga dimensi dengan teks pendamping dan ilustrasi bahasa isyarat. Sasaran kegiatan meliputi 18 siswa kelas VII–IX SMPLB dan 4 guru pengampu mata pelajaran IPAS di SLB Negeri 7 Jakarta. Pelaksanaan kegiatan mencakup analisis kebutuhan, perancangan dan pengembangan media AR, penerapan dalam pembelajaran, serta evaluasi melalui pre-test, post-test, angket respons, dan validasi ahli media, materi IPAS, serta pendidikan khusus/bahasa isyarat. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa media AR dinilai sangat layak dengan rata-rata skor validasi sebesar 88,5%. Pemahaman konsep siswa meningkat dari rata-rata 52,3 pada pre-test menjadi 78,6 pada post-test, dengan nilai N-Gain sebesar 0,62 yang termasuk kategori sedang. Angket respons guru dan siswa memperoleh skor rata-rata 4,4 dari skala 5 dan termasuk kategori sangat baik. Temuan ini menunjukkan bahwa media AR yang memadukan visualisasi tiga dimensi, teks, dan ilustrasi bahasa isyarat berpotensi mendukung pembelajaran IPAS yang lebih konkret dan sesuai dengan karakteristik belajar siswa tunarungu. Kata kunci: augmented reality; IPAS; tunarungu; media pembelajaran; SLB. Abstract Deaf students in Special Junior High Schools (SMPLB) may require additional visual support to understand abstract concepts in Natural and Social Sciences (IPAS). At SLB Negeri 7 Jakarta, the partner school, IPAS instruction has been supported by textbooks and two-dimensional illustrations, creating an opportunity to strengthen learning media that can present complex objects and processes more concretely. This community service activity aimed to improve deaf students’ understanding of IPAS concepts through the design and implementation of augmented reality (AR)-based learning media integrating three-dimensional visualization with supporting text and sign-language illustrations. The participants consisted of 18 students from grades VII–IX and four IPAS teachers at SLB Negeri 7 Jakarta. The activity comprised needs analysis, AR media design and development, classroom implementation, and evaluation through pre-test, post-test, response questionnaires, and validation by media, IPAS content, and special education/sign-language experts. The results showed that the AR media was rated highly feasible, with an average validation score of 88.5%. Students’ conceptual understanding increased from a mean pre-test score of 52.3 to 78.6 on the post-test, with an average N-Gain of 0.62, categorized as moderate. The teacher and student response questionnaire yielded an average score of 4.4 out of 5, categorized as very good. These findings indicate that AR media integrating three-dimensional visualization, text, and sign-language illustrations has the potential to support more concrete IPAS learning experiences that are responsive to the learning characteristics of deaf students. Keywords: augmented reality; deaf students; IPAS; learning media; special school.
Edukasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai pilar efektivitas proses nazien dan namitten pada industri tembakau Parawita Dewanti; Adin Novitasari; Agiska Nadya Septyawati; Cindy Auliya Putri
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40304

Abstract

Abstrak Industri pengolahan tembakau merupakan salah satu sektor agribisnis yang memiliki karakteristik padat karya serta melibatkan proses kerja yang kompleks dan berisiko tinggi. Selain dituntut menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten, industri ini juga dihadapkan pada berbagai potensi bahaya kerja seperti paparan debu organik, kelelahan akibat pekerjaan berulang, serta risiko kebakaran yang tinggi akibat sifat bahan baku tembakau kering yang mudah terbakar. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat adalah untuk meningkatkan pemahaman dan penguatan implementasi budaya K3 guna mendukung efektivitas dan produktivitas proses Nazien dan Namitten. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan pada 22 Februari 2026 di PTPN 1 Regional 5 Kebun Tembakau. Mitra sasaran kegiatan ini adalah kelompok buruh sortir dan kemas di gudang pengolahan PTPN 1 Regional 5 Kebun Tembakau dengan total peserta yang terlibat aktif sebanyak 20 orang. Metode pelaksanaan yang diterapkan meliputi tiga tahapan utama, yaitu penyuluhan interaktif mengenai prinsip ergonomi dan K3, pelatihan praktis (coaching) postur kerja yang aman, serta pendampingan langsung pada saat proses produksi berlangsung. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan capaian yang sangat signifikan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.  Secara kuantitatif, sesi penyuluhan ini terbukti efektif dalam membangun kesadaran K3 pekerja, yang ditandai dengan lonjakan nilai post-test menjadi 88,5 (mengalami kenaikan signifikan sebesar +36,0 poin atau setara dengan +68,6%). Secara kualitatif, kesadaran pekerja terhadap pentingnya alat pelindung diri (APD) dan postur kerja yang benar meningkat tajam, serta tercipta lingkungan kerja yang jauh lebih rapi, sehat, dan aman. Dengan adanya edukasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai pilar efektivitas proses Nazien dan Namitten, diharapkan dapat menjadi sarana penunjang untuk meningkatkan kualitas tembakau. Kata kunci: keselamatan dan kesehatan kerja; nazien; namitten; tembakau; industri. Abstract The tobacco processing industry is a labor-intensive agribusiness sector that involves complex and high-risk work processes. In addition to being required to produce products with consistent quality, this industry faces various potential occupational hazards, such as exposure to organic dust, fatigue from repetitive work, and a high risk of fire due to the flammable nature of dried tobacco raw materials. The purpose of this community service activity is to increase understanding and strengthen the implementation of OHS culture to support the effectiveness and productivity of the Nazien and Namitten processes. The target partners for this activity are the sorting and packaging workers at the PTPN 1 Regional 5 Kebun Tembakau processing warehouse, with a total of 20 actively involved participants. The implementation method used includes three main stages: interactive counseling on ergonomics and OHS principles, practical training (coaching) on safe work postures, and direct assistance during the production process. The results of the community service activity show very significant achievements both qualitatively and quantitatively. Quantitatively, this counseling session proved effective in building workers' OSH awareness, as indicated by a surge in the post-test score to 88.5 (a significant increase of +36.0 points or equivalent to +68.6%). Qualitatively, worker awareness of the importance of personal protective equipment (PPE) and correct work posture has increased sharply,and a much tidier, healthier, and safer work environment has been created. With occupational safety and health (OHS) education as a pillar of the effectiveness of the Nazien and Namitten process, it is hoped that it will serve as a supporting tool for improving tobacco quality. Keywords: occupational safety and health; nazien; namitten; tobacco; industry.
Upaya pencegahan penurunan fungsi kognitif pada lansia melalui senam otak Febrina Secsaria Handini; Ifa Pannya Sakti; Anastasia Sri Sulartri
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40623

Abstract

AbstrakPeningkatan angka harapan hidup di Indonesia berkontribusi terhadap bertambahnya jumlah lansia dan meningkatnya risiko penyakit degeneratif, termasuk penurunan fungsi kognitif. World Health Organization menyebutkan bahwa gangguan kognitif dan demensia merupakan salah satu penyebab utama disabilitas dan ketergantungan pada lansia secara global. Penurunan fungsi kognitif tidak hanya memengaruhi kualitas hidup individu, tetapi juga meningkatkan beban keluarga dan sistem kesehatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan lansia tentang pencegahan penurunan fungsi kognitif dan kemampuan dalam mempraktikkan senam otak (Brain Gym). Dalam jangka panjang, kegiatan ini diharapkan dapat menginisiasi stimulasi kognitif berkelanjutan untuk mendukung kemandirian dan kualitas hidup lansia. Kegiatan dilaksanakan di RW 04 Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang, dengan melibatkan 20 lansia. Berdasarkan analisis situasi, permasalahan mitra meliputi keterbatasan pengetahuan tentang pencegahan penurunan fungsi kognitif, belum tersedianya program stimulasi kognitif, serta risiko meningkatnya ketergantungan lansia di masa mendatang. Intervensi meliputi penyuluhan kesehatan tentang pemeliharaan fungsi kognitif, pelatihan Brain Gym, pendampingan, dan pemberdayaan komunitas. Kegiatan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test pengetahuan, observasi kemampuan praktik, serta umpan balik peserta. Hasil menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 68,00 menjadi 90,50. Kemampuan mempraktikkan Brain Gym juga meningkat dari 47,50 menjadi 81,25, dengan 85% lansia mampu mempraktikkannya secara mandiri. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi dan pelatihan Brain Gym dapat meningkatkan pengetahuan serta keterampilan lansia dalam mendukung pemeliharaan fungsi kognitif. Kata kunci: fungsi kognitif; lansia; senam otak. Abstract Increasing life expectancy in Indonesia has contributed to a growing older adult population and a higher risk of degenerative diseases, including cognitive decline. The World Health Organization identifies cognitive impairment and dementia as major causes of disability and dependency among older adults worldwide. Cognitive decline not only affects individual quality of life but also increases the burden on families and healthcare systems. This community service program aimed to improve older adults’ knowledge regarding the prevention of cognitive decline and their ability to perform Brain Gym exercises. In the long term, the program was expected to initiate sustainable cognitive stimulation activities to support independence and quality of life among older adults. The program was conducted in RW 04, Kasin Urban Village, Klojen District, Malang City, Indonesia, involving 20 older adults. Based on a situational analysis, the identified community needs included limited knowledge regarding the prevention of cognitive decline, the absence of cognitive stimulation programs, and the potential for increased dependency among older adults in the future. The interventions included health education on maintaining cognitive function, Brain Gym training, mentoring, and community empowerment. The program was implemented through three sessions. Evaluation was conducted using pre-test and post-test assessments of knowledge, observation of practical performance, and participant feedback. The results showed an increase in the mean knowledge score from 68.00 to 90.50. Participants’ ability to perform Brain Gym exercises also improved, with the mean performance score increasing from 47.50 to 81.25. Furthermore, 85% of participants were able to perform the exercises independently. These findings indicate that health education combined with Brain Gym training can improve older adults’ knowledge and practical skills in supporting the maintenance of cognitive function. Keywords: cognitive function; elderly; brain exercise.
Penerapan gaya hidup sehat islami untuk anak pengahafal Al-Quran di taman pendidikan Al-Quran Al-Lukman Amelyadi Amelyadi; Fathul Khair; Galih Dwiki Ramanda
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41505

Abstract

AbstrakKegiatan pengabdian kepada masyarakat berjudul Penerapan Gaya Hidup Sehat Islami untuk Anak Penghafal Al-Qur'an dilaksanakan di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Al-Lukman, Perumnas 4, Kelurahan Ampera Raya, Kabupaten Kubu Raya. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan penerapan gaya hidup sehat Islami pada anak penghafal Al-Qur'an sebagai upaya mendukung kesehatan fisik dan mental yang berperan penting dalam proses menghafal. Permasalahan yang dihadapi mitra adalah masih terbatasnya pemahaman mengenai pola hidup sehat yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui penyuluhan, workshop, demonstrasi, dan pendampingan yang melibatkan ahli gizi, praktisi olahraga, pengajar, serta orang tua. Materi yang diberikan meliputi pola makan sehat, kebersihan diri, aktivitas fisik, dan pembiasaan hidup sehat berdasarkan ajaran Islam. Evaluasi kegiatan dilakukan secara deskriptif melalui observasi terhadap perilaku dan kebiasaan peserta selama pelaksanaan dan setelah kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya perubahan positif dalam perilaku hidup bersih dan sehat pada santri, yang terlihat dari mulai terbentuknya kebiasaan menjaga kebersihan diri, mencuci tangan dengan benar, memilih makanan yang lebih sehat, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur. Santri juga menunjukkan peningkatan kesadaran mengenai pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Luaran kegiatan berupa buku panduan Gaya Hidup Sehat Islami untuk Penghafal Al-Qur'an, materi edukasi digital, serta terbentuknya kolaborasi antara pengajar dan orang tua dalam mendukung penerapan gaya hidup sehat secara berkelanjutan. Program ini diharapkan menjadi model pengabdian yang dapat direplikasi pada lembaga pendidikan Al-Qur'an lainnya guna mendukung terbentuknya generasi penghafal Al-Qur'an yang sehat, berkarakter, dan berprestasi. Kata kunci: anak penghafal al-qur'an; gaya hidup sehat; islami; kesehatan; TPA. AbstractCommunity service activity entitled “Implementation of an Islamic Healthy Lifestyle for Qur'an- Memorizing Children” was conducted at Al-Lukman Qur'anic Education Center (TPA), Perumnas 4, Ampera Raya Village, Kubu Raya Regency. The program aimed to improve the knowledge, awareness, and implementation of an Islamic healthy lifestyle among Qur'an-memorizing children as an effort to support their physical and mental health, which plays an important role in the memorization process. The main issue faced by the partner was the limited understanding of healthy lifestyle practices in accordance with Islamic values. The program employed a participatory approach through educational sessions, workshops, demonstrations, and mentoring involving nutritionists, sports practitioners, teachers, and parents. The materials covered healthy eating patterns, personal hygiene, physical activity, and the development of healthy habits based on Islamic teachings. The program was evaluated descriptively through observations of participants' behaviors and habits during and after the activities. The results showed positive changes in the students' clean and healthy living behaviors, as reflected in the development of habits such as maintaining personal hygiene, washing hands properly, choosing healthier foods, and engaging in regular physical activity. The students also demonstrated increased awareness of the importance of maintaining health as part of the application of Islamic values in daily life. The program outputs included a guidebook entitled Islamic Healthy Lifestyle for Qur'an Memorizers, digital educational materials, and strengthened collaboration between teachers and parents in supporting the sustainable implementation of healthy lifestyle practices. This program is expected to serve as a community service model that can be replicated in other Qur'anic educational institutions to support the development of healthy, well-characterized, and high-achieving generations of Qur'an memorizers. Keywords: health; islamic; healthy lifestyle; qur'an memorizers; Qur'anic Learning Center (TPQ).
Penguatan branding berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan daya saing UMKM Teh Kampung Nuansa Gembira di Desa Deles, Batang Jawa Tengah Lely Afiati; Liesta Verawati; Muhamad Syaeful Anwar; Dyah Purwaningrum; Supriyanto Supriyanto
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40775

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Desa Deles, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Mitra adalah Teh Kampung Nuansa Gembira. Kegiatan ini berfokus pada penguatan branding dan storytelling di media sosial, terutama di Facebook. Selama ini belum ada branding yang kuat sehingga produk Teh Kampung Nuansa Gembira belum terlalu dikenal terutama di Jawa Tengah. Produk Teh Kampung ini diolah dari bahan alami dan mempresentasikan kekhasan desa, namun hingga saat ini masih menghadapi keterbatasan dalam hal identitas merek, desain logo, dan kemasan produk. Akibatnya, potensi produk belum sepenuhnya memberikan nilai tambah ekonomi bagi pelaku usaha. Solusi yang ditawarkan 1). Workshop dan sosialisasi terkait dengan penguatan branding dan penerapan storytelling , 2). Pendampingan praktis yang meliputi pembuatan logo Nuansa Gembira, implikasi logo dalam kemasan Teh Kampung Nuansa Gembira dan implikasi storytelling di Facebook. Hasil kegiatan pengabdian semua berjalan dengan lancar dan pihak Teh Kampung Nuansa Gembira mempunya logo dan kemasan yang bisa memperkuat brandingnya. Kata kunci: penguatan; branding; logo; kemasan; facebook Abstract This community service activity was carried out in Deles Village, Bawang District, Batang Regency, Central Java. The partner is Nuansa Gembira village tea. This activity focuses on strengthening branding and storytelling on social media, especially on Facebook. So far, there has been no strong branding so that Nuansa Gembira Village tea products are not yet well known, especially in Central Java. This Village Tea product is processed from natural ingredients and represents the uniqueness of the village, but until now it still faces limitations in terms of brand identity, logo design, and product packaging. As a result, the product's potential has not fully provided economic added value for business actors. The solutions offered are 1). Workshops and socialization related to strengthening branding and the application of storytelling, 2). Practical assistance including the creation of the Nuansa Gembira logo, the implications of the logo on the Nuansa Gembira Village Tea packaging and the implications of storytelling on Facebook. The results of the community service activities all ran smoothly and Nuansa Gembira Village Tea has a logo and packaging that can strengthen its branding. Keywords: strengthening; branding; logo; packaging; facebook