cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,077 Documents
Edukasi Proteksi dini kebakaran dengan APAR melalui program K3 Intan Goes to School pada siswa SMK di Martapura Eko Oktariyanto Rizali; Kusnindyah Praedevy Reviagana; Lothfia Rahmi; Isna Maulidia; Nanda Rahmatullah; Adelia Adelia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40552

Abstract

Abstrak Kebakaran merupakan salah satu keadaan darurat yang bersumber dari laboratorium dan instalasi listrik di sekolah, yang dapat menimbulkan kerugian materiil, psikologis, maupun korban jiwa apabila tidak ditangani dengan tepat. Berdasarkan hasil identifikasi awal di SMK yang bermitra dalam kegiatan pengabdian ini yaitu SMK PGRI 1 Martapura dan SMK Negeri 1 Martapura, didapatkan bahwa sebagian besar siswa belum pernah mendapatkan edukasi dan pelatihan terkait penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Menanggapi hal tersebut, tim dosen dan mahasiswa Program Studi Sarjana K3 Stikes Intan Martapura melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yaitu "K3 Intan Goes to School". Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai fungsi, jenis, dan tata cara penggunaan APAR melalui metode penyuluhan, diskusi interaktif, simulasi, serta pembagian poster edukasi berslogan “LAKAS”. Efektivitas kegiatan diukur melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman yang cukup besar di kedua sekolah. Di SMK PGRI 1 Martapura, pemahaman mengenai jenis APAR meningkat dari 64,8% menjadi 89,6%, dan cara penggunaan naik dari 34,1% menjadi 61,5%. Sementara di SMK Negeri 1 Martapura, pemahaman jenis APAR meningkat dari 68,3% menjadi 94,2%, dan teknik penggunaan naik dari 37,0% menjadi 64,7%. Secara keseluruhan, program K3 Intan Goes to School sebagai sarana edukasi ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa sebagai upaya pencegahan serta penanggulangan kebakaran di lingkungan sekolah. Kata kunci:  APAR; edukasi kebakaran; K3 Intan goes to school; siswa; sekolah menengah kejuruan Abstract Fire is an emergency situation that originates from laboratories and electrical installations in schools, which can cause material, psychological, and even fatal losses if not handled properly. Based on the results of initial identification at the vocational schools that partnered in this community service activity, namely SMK PGRI 1 Martapura and SMK Negeri 1 Martapura, it was found that most students had never received education and training related to the use of Light Fire Extinguishers (APAR). In response to this, a team of lecturers and students from the Occupational Safety and Health Undergraduate Program at Stikes Intan Martapura carried out a community service activity called "K3 Intan Goes to School". This program aims to increase students' knowledge about the functions, types, and procedures for using APAR through counseling methods, interactive discussions, simulations, and distribution of educational posters with the slogan "LAKAS". The effectiveness of the activity was measured through pre-tests and post-tests. The evaluation results showed a significant increase in understanding in both schools. At SMK PGRI 1 Martapura, understanding of the types of APAR increased from 64.8% to 89.6%, and how to use it increased from 34.1% to 61.5%. Meanwhile, at SMK Negeri 1 Martapura, understanding of fire extinguisher types increased from 68.3% to 94.2%, and usage techniques increased from 37.0% to 64.7%. Overall, the Intan Goes to School K3 educational program has proven effective in increasing students' knowledge and preparedness for fire prevention and response in the school environment. Keywords: portable fire extinguisher; fire education; K3 Intan goes to school; students; vocational high school
Peningkatan kapasitas pemerintah Desa Kenteng Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang dalam mewujudkan desa lengkap pendaftaran tanah melalui literasi hukum pertanahan kolaboratif Suhadi Suhadi; Dani Muhtada; Asmarani Ramli; Imam Baehaqie; Dina Riatanti; Anom Suryo Nindito; Mochamad Rizqi Zia Ul’haq; Kezia Resiocta Sejati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.39813

Abstract

Abstrak      Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, memiliki luas 357 Ha dengan 5.460 bidang tanah, namun sebanyak 1.127 bidang (20,64%) belum bersertipikat, sehingga menghambat perolehan predikat Desa Lengkap Pendaftaran Tanah sesuai Permen ATR/BPN Nomor 6 Tahun 2018. Permasalahan yang dihadapi mencakup tiga aspek: (1) budaya hukum, yakni kurangnya kepercayaan dan kesadaran masyarakat akibat kegagalan pensertipikatan massal sebelumnya; (2) administratif, berupa ketidaklengkapan dokumen dan keterbatasan SDM; serta (3) yuridis, meliputi sengketa penguasaan tanah dan kekhawatiran dampak sertipikat terhadap jual beli dan waris. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas Pemerintah Desa Kenteng dalam menyelesaikan permasalahan bidang tanah yang belum terdaftar melalui penerapan ipteks hukum pertanahan secara kolaboratif. Mitra sasaran kegiatan ini adalah Pemerintah Desa Kenteng beserta perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga pemilik tanah yang belum bersertipikat. Metode pelaksanaan yang digunakan meliputi edukasi, workshop, dan pendampingan. Edukasi dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan budaya hukum melalui sosialisasi pentingnya sertipikat tanah. Workshop digunakan untuk mengatasi permasalahan administratif dengan melatih pengelolaan berkas pendaftaran tanah. Pendampingan dilakukan untuk mengatasi permasalahan yuridis dan administratif secara langsung di lapangan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pendaftaran tanah, tersusunnya dokumen kelengkapan administratif untuk sejumlah bidang tanah, serta terfasilitasinya penyelesaian sengketa penguasaan tanah, sehingga Desa Kenteng selangkah lebih maju menuju status Desa Lengkap Pendaftaran Tanah. Kata kunci: peningkatan kapasitas; desa lengkap pendaftaran tanah; literasi hukum pertanahan; pendaftaran tanah; kolaboratif Abstract      Kenteng Village, Bandungan Subdistrict, Semarang Regency, covers an area of 357 hectares with 5,460 land parcels; however, 1,127 parcels (20.64%) have not yet been certified, thereby hindering the village’s attainment of the “Village with Complete Land Registration” designation in accordance with Minister of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency Regulation No. 6 of 2018. The challenges faced encompass three aspects: (1) legal culture, specifically a lack of public trust and awareness resulting from the failure of previous mass certification programs; (2) administrative issues, such as incomplete documentation and limited human resources; and (3) legal matters, including land ownership disputes and concerns regarding the impact of certification on land sales and inheritance. This community service activity aims to enhance the capacity of the Kenteng Village Government to resolve issues related to unregistered land by applying science and technology (IPTeks) collaboratively to land law. The target partners for this activity are the Kenteng Village Government, along with village officials, community leaders, and residents who own uncertified land. The implementation methods used include education, workshops, and on-site assistance. Educational sessions were conducted to address legal and cultural issues by raising awareness of the importance of land certificates. Workshops were used to address administrative issues by providing training on managing land registration documents. Mentoring is provided to directly address legal and administrative issues in the field. The results of the activity demonstrate increased public understanding of the importance of land registration, the preparation of complete administrative documents for a number of land parcels, and the facilitation of the resolution of land tenure disputes, bringing Kenteng Village one step closer to achieving Village with Complete Land Registration status. Keywords: capacity building; fully registered village; land law literacy; land registration; collaborative
Orientasi studi lapangan sebagai media pembelajaran HSSE bagi Taruna Stimaryo di PT Krakatau International Port Emil Padila; Ardystia Maha Sari; Ayu Rizka Anggraini; Fadyanti Naura Assila; Aina Wulan Romadhona; Mochammad Zidky Kavaleri Naorantiko
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.39993

Abstract

AbstrakSektor kepelabuhanan merupakan lingkungan kerja berisiko sangat tinggi (high-risk operational environment) yang menuntut calon profesional maritim memiliki literasi dan budaya     Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) yang unggul. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk menganalisis dan mengukur efektivitas program Orientasi Studi Lapangan (OSL) berbasis experiential learning dalam meningkatkan kompetensi serta kesadaran keselamatan kerja Taruna Program Studi S1 Transportasi STIMARYO. Kegiatan ini melibatkan 47 Taruna/i sebagai peserta dan manajemen HSSE PT Krakatau International Port (KIP) sebagai mitra sasaran.. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan siklus    Experiential Learning  Kolb yang terintegrasi dengan empat tahapan: Pre-assessment, Safety Induction & Observasi Lapangan Terstruktur (dermaga, fasilitas bongkar muat, sistem PTW, dan ISPS Code), Diskusi Praktisi, serta   Post-assessment. Evaluasi kuantitatif dilakukan melalui uji beda dan analisis nilai Normalized Gain (N-Gain).. Hasil PkM menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor rerata pemahaman HSSE Taruna dari 62,40 (kategori Cukup) menjadi 88,75 (kategori Sangat Baik) dengan nilai N-Gain rata-rata sebesar 0,70 (kategori Efektivitas Tinggi). Taruna secara nyata mampu melakukan identifikasi bahaya (HIRARC sederhana), memahami prosedur Permit to Work  (PTW), pengawasan APD, hingga prosedur tanggap darurat tumpahan (spill control). Kegiatan PkM ini terbukti efektif menjembatani  kesenjangan antara teori akademik dan realitas K3 di industri kepelabuhanan modern. Kata kunci: keselamatan pelabuhan; HSSE; budaya kerja aman. Abstract Field Study Orientation (OSL) is an academic activity designed to enhance cadets’ practical understanding of the operational dynamics of the maritime sector, which is characterized by high-risk environments, particularly within port operations. This activity aims to analyze the implementation of Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) practices as part of efforts to improve occupational safety. The OSL was conducted at PT Krakatau International Port (KIP), involving 47 cadets from the Bachelor’s Degree Program in Transportation at STIMARYO, with the target partners being the company’s HSSE management and staff. The implementation methods included field observations, structured interviews with management and HSSE personnel, and documentation review related to safety policies and their implementation. This approach enabled participants to gain a comprehensive understanding of safety policies, safe working procedures, the use of personal protective equipment (PPE), equipment inspection, and risk control systems applied in the port environment. The results indicate that PT Krakatau International Port demonstrates a strong commitment to occupational safety through the implementation of SMK3, the ISPS Code, continuous training programs, safety induction, permit-to-work systems, heavy equipment inspections, spill control measures, and incident reporting systems. Participants showed an increased understanding of the importance of safety culture and the key components of HSSE systems. However, several challenges remain, including extreme weather conditions, operational coordination in the field, worker compliance, and the potential for human error. This activity makes a significant contribution to preparing participants for professional careers with strong competencies and high safety awareness. Keywords: port safety; HSSE; safety work culture.
Peningkatan kompetensi guru dan terapis dalam penanganan kejang pada anak berkebutuhan khusus Pagan Pambudi; Steven Steven; Meilda Sartika Dewi; Wendy Amelia Sihombing; Muna Muna; Intan Kusuma Dewi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40664

Abstract

AbstrakAnak berkebutuhan khusus (ABK) memiliki risiko mengalami serangan kejang sehingga guru dan terapis perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama yang tepat. Identifikasi awal terhadap 72 peserta menunjukkan bahwa 43 orang (59,7%) belum pernah mengikuti pelatihan khusus penanganan kejang pada ABK dan 38 orang (52,8%) belum mengetahui secara lengkap langkah pertolongan pertama saat terjadi kejang. Kondisi ini menunjukkan adanya keterbatasan pengetahuan yang mendasari perlunya pelatihan. Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi, pelatihan, simulasi, pendampingan, dan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) penanganan kejang. Evaluasi deskriptif menunjukkan 65 peserta (90,3%) mampu menyebutkan langkah utama pertolongan pertama, 63 peserta (87,5%) mampu melakukan simulasi posisi aman, dan 67 peserta (93,1%) mampu mengidentifikasi tindakan yang tidak boleh dilakukan saat kejang. Seluruh peserta (100%) menyatakan SOP penanganan kejang diperlukan di lingkungan layanan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan penanganan kejang diperlukan untuk mendukung kesiapsiagaan guru dan terapis dalam memberikan pertolongan pertama yang aman dan tepat pada ABK. Kata kunci: anak berkebutuhan khusus; epilepsi; penanganan kejang; terapis.                          AbstractChildren with special needs are at increased risk of seizures, requiring teachers and therapists to have adequate knowledge and skills in providing appropriate first aid. Initial identification among 72 participants showed that 43 participants (59.7%) had never attended specific seizure management training for children with special needs, while 38 participants (52.8%) did not fully understand appropriate first-aid measures during seizures. These findings indicate limited knowledge and support the need for structured training. The activity was conducted through education, training, simulation, mentoring, and development of a standard operating procedure (SOP) for seizure management. Descriptive evaluation showed that 65 participants (90.3%) were able to identify the main first-aid steps, 63 participants (87.5%) correctly demonstrated the recovery position, and 67 participants (93.1%) identified inappropriate actions during seizures. All participants (100%) stated that a seizure management SOP was needed in the service setting. These findings indicate that seizure management training is necessary to support teachers' and therapists' preparedness in providing safe and appropriate first aid to children with special needs. Keywords: children with special needs; epilepsy; seizure management; therapists.
Edukasi pemanfaatan kelor (moringa oleifera) sebagai bahan aktif masker wajah alami bagi remaja di SMK Muhammadiyah 1 Palu Nur Asita; Faikah Dyah Utami; Suci Safitri; Ayuandini Ayuandini
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.39998

Abstract

Abstrak Permasalahan kulit pada remaja cukup sering terjadi, sementara pemanfaatan bahan alam lokal seperti kelor (Moringa oleifera) sebagai bahan aktif skincare belum banyak dipahami secara ilmiah oleh siswa. Padahal, kelor memiliki kandungan antioksidan dan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan kulit. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa SMK Muhammadiyah 1 Palu tentang pemanfaatan kelor sebagai bahan aktif masker wajah alami. Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan interaktif berbasis leaflet, diskusi, dan tanya jawab kepada 39 siswa. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test dengan 10 pertanyaan benar-salah untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rata-rata nilai dari 7,03 pada pre-test menjadi 8,95 pada post-test. Jumlah siswa dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 18 menjadi 33 orang setelah edukasi, dengan hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,001). Edukasi pemanfaatan kelor sebagai bahan aktif masker wajah alami efektif meningkatkan pengetahuan siswa mengenai perawatan kulit remaja dan pemanfaatan bahan alam lokal secara ilmiah. Program ini berpotensi dikembangkan sebagai kegiatan berkelanjutan di sekolah mitra. Kata kunci: jerawat; remaja; edukasi; moringa oleifera; masker. Abstract Skin problems among adolescents are quite common, yet the use of local natural ingredients such as moringa (Moringa oleifera) as an active ingredient in skincare products is not yet well understood scientifically by students. In fact, moringa contains antioxidants and nutrients that are beneficial for skin health. This Community Service activity aims to enhance the knowledge of students at SMK Muhammadiyah 1 Palu regarding the use of moringa as an active ingredient in natural face masks. The activity was conducted through interactive outreach sessions using leaflets, discussions, and Q&A sessions with 39 students. Evaluation was performed using pre-test and post-test questionnaires consisting of 10 true-false questions to measure knowledge improvement. The results showed an increase in the average score from 7.03 on the pre-test to 8.95 on the post-test. The number of students in the “good knowledge” category increased from 18 to 33 after the education session, with the Wilcoxon test indicating a significant difference (p<0.001). Education on the use of moringa as an active ingredient in natural face masks effectively improves students’ knowledge regarding adolescent skin care and the scientific use of local natural ingredients. This program has the potential to be developed as a sustainable activity at partner schools. Keywords: acne; adolescents; education; moringa oleifera; face masks.
Pendampingan transformasi proses menenun tenun ikat sebagai atraksi wisata pada kelompok tenun ikat binaan PT Misi Kasih Toserba Rima Nindia Selan; Ariency K.A. Manu; Dodi Darmakusuma; Napsiyana Asti Weo; Grace Martiani Maku; Fathurrahmaniah Fathurrahmaniah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.39581

Abstract

Abstrak Industri kecil tenun ikat memiliki peran strategis dalam perekonomian masyarakat, khususnya dalam mempertahankan keberagaman budaya dan warisan lokal. Salah satu tantangan yang dihadapi industri kecil tenun ikat adalah masih lemahnya posisi kelompok tenun sebagai elemen sumber daya pariwisata, yang berdampak pada rendahnya eksposur dan pendapatan produk tenun ikat. PT Misi Kasih Toserba, sebagai mitra yang membina kelompok pengrajin kecil tenun ikat, menghadapi tiga permasalahan utama, yaitu: (i) kurangnya pemahaman mengenai potensi ekonomi, budaya, dan sosial dari transformasi proses menenun sebagai atraksi wisata; (ii) belum tersedianya model aktivitas menenun yang bernilai edukasi dan ekonomi; dan (iii) belum memadainya sumber daya untuk membekali kelompok tenun ikat binaan menghadapi tantangan tersebut. Untuk menjawab permasalahan ini, Tim Pengabdian Masyarakat Program Studi Teknik Pembuatan Tenun Ikat, Universitas Nusa Cendana, bekerja sama dengan PT Misi Kasih Toserba melaksanakan pendampingan transformasi proses menenun menjadi atraksi wisata pada bulan April–Oktober 2025 di Kelompok Tenun Ikat binaan mitra, Desa Noinbila, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Metode pelaksanaan terdiri atas empat tahap, yaitu sosialisasi kegiatan, workshop desain atraksi wisata, pengembangan-promosi-pemasaran atraksi wisata menenun, serta monitoring dan evaluasi, dengan melibatkan 20 orang pengrajin tenun ikat sebagai peserta utama. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam merancang atraksi wisata menenun, yang ditandai dengan tersusunnya paket wisata “Menenun untuk Wisatawan”, tersedianya materi promosi digital, dan terwujudnya satu unit demo booth portabel untuk mendukung atraksi wisata tenun. Sebagai puncak kegiatan, dilaksanakan simulasi atraksi wisata tenun yang melibatkan 5 orang penenun mitra di Wisma Alak Resort Kupang dan mendapat respons positif dari tamu resort yang hadir. Secara keseluruhan, kegiatan pendampingan ini berkontribusi terhadap pelestarian budaya lokal, penguatan posisi kelompok tenun ikat sebagai elemen sumber daya pariwisata, serta peningkatan keterampilan pengrajin dalam bidang pariwisata dan manajemen bisnis kreatif. Kata kunci: tenun ikat; atraksi wisata; budaya local. Abstract The small-scale ikat weaving industry plays a strategic role in the community’s economy, particularly in preserving cultural diversity and local heritage. One challenge faced by this industry is the weak position of weaving groups as a tourism resource element, which results in low exposure and income from ikat weaving products. PT Misi Kasih Toserba, as the partner that fosters small-scale ikat weaving artisan groups, faced three main problems: (i) a lack of understanding of the economic, cultural, and social potential of transforming the weaving process into a tourist attraction; (ii) the absence of a weaving activity model with educational and economic value; and (iii) inadequate resources to prepare its guided weaving groups to face these challenges. To address these issues, the Community Service Team from the Ikat Weaving Engineering Study Program, Universitas Nusa Cendana, collaborated with PT Misi Kasih Toserba to carry out a mentoring program from April to October 2025 at the partner’s guided ikat weaving group in Noinbila Village, Mollo Selatan Subdistrict, South Central Timor Regency. The program was implemented in four stages: socialization, a tourist attraction design workshop, the development, promotion, and marketing of the weaving attraction, and monitoring and evaluation, involving 20 ikat weaving artisans as the main participants. The results showed an improvement in participants’ understanding and skills in designing a weaving tourist attraction, marked by the development of the “Weaving for Tourists” tour package, the availability of digital promotional materials, and the completion of one portable demo booth to support the weaving attraction. As the culmination of the program, a simulation of the weaving tourist attraction was carried out involving 5 partner weavers at Wisma Alak Resort Kupang, which received a positive response from the resort’s guests. Overall, this mentoring program contributed to the preservation of local culture, strengthened the position of the weaving group as a tourism resource element, and enhanced artisans’ skills in tourism and creative business management. Keywords: ikat weaving; tourist attraction; local culture.
Interactive digital literacy: penguatan konsep 2P (Pelopor dan Pelapor) sebagai strategi terpadu keamanan ruang digital dan pencegahan pernikahan dini di KOTA BATU Susilo Wati; Chintya Aninda Triksania Ika Bella; Amida Yusiana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41953

Abstract

Abstrak Rendahnya literasi keamanan digital dan tingginya risiko pernikahan dini pada remaja di Indonesia merupakan dua persoalan yang saling berkelindan, salah satunya melalui fenomena cybergrooming. Di Kota Batu, peran pengurus Forum Anak Mahasatu sebagai agen Pelopor dan Pelapor (2P) masih perlu terus diperkuat, sejalan dengan pentingnya model edukasi yang memadukan isu keamanan digital dengan pencegahan pernikahan dini. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memperkuat kapasitas Forum Anak Mahasatu sebagai agen 2P melalui model Interactive Digital Literacy, yang menempatkan remaja sebagai subjek aktif, bukan sekadar objek sosialisasi. Kegiatan ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) melalui tiga tahapan: Planning, Acting, dan Reflecting yang melibatkan mitra DP3AP2KB Kota Batu dan mahasiswa KKN-T Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya. Sosialisasi interaktif dilaksanakan pada 9 Juli 2026 di Balai Kota Among Tani melalui presentasi, ice breaking, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Hasil evaluasi post-test Quizizz menunjukkan rata-rata ketepatan jawaban peserta sebesar 78%, diiringi partisipasi aktif dan tumbuhnya komitmen peserta untuk menjalankan peran 2P, sehingga program dinyatakan tercapai dengan tingkat ketercapaian 100%, meski sempat menghadapi kendala teknis berupa penyesuaian jumlah peserta pada hari pelaksanaan. Pendekatan partisipatif ini terbukti efektif meningkatkan pemahaman dan kesiapan Forum Anak sebagai agen perubahan, sehingga perlu direplikasi secara berkelanjutan disertai pendampingan pascakegiatan. Kata kunci: forum anak; pelopor dan pelapor; keamanan digital; pernikahan dini Abstract Low digital security literacy and the high risk of early marriage among adolescents in Indonesia are two closely intertwined problems, one of which manifests through the phenomenon of cybergrooming. In Batu City, the role of the Mahasatu Children's Forum administrators as Pioneer and Reporter (2P) agents still needs continuous strengthening, in line with the importance of an educational model that integrates digital security issues with the prevention of early marriage. This community service activity aims to strengthen the capacity of the Mahasatu Children's Forum as 2P agents through an Interactive Digital Literacy model that positions adolescents as active subjects rather than mere objects of socialization. The activity employed a Participatory Action Research (PAR) method through three stages: Planning, Acting, and Reflecting, involving the DP3AP2KB Batu City partner and KKN-T students from the Faculty of Administrative Science, Universitas Brawijaya. An interactive outreach session was held on 9 July 2026 at the Among Tani City Hall, featuring presentations, ice breaking, group discussions, and a question-and-answer session. The Quizizz-based post-test evaluation (16 items) showed an average participant accuracy rate of 78%, accompanied by active participation and the emergence of participants' commitment to carrying out the 2P role, so that the program was deemed to have achieved a 100% success rate, despite encountering a minor technical constraint involving an adjustment to the number of participants on the day of implementation. This participatory approach proved effective in enhancing the Children's Forum's understanding and readiness as an agent of change, indicating the need for sustained, ongoing replication accompanied by post-activity mentoring. Keywords: children's forum; pioneer and reporter; digital security; early marriage.
Pendampingan klasifikasi transaksi keuangan sebagai dasar penyusunan Chart of Accounts (COA) pada BUMDes Tanjung Karya Mendana, Kabupaten Lombok Utara Intan Syahaliza Aryani; Revina Noventari; Nur Maskanah; Siti Atikah; Indrawan Noviansyah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40165

Abstract

Abstrak BUMDes memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian desa melalui pengelolaan berbagai unit usaha yang berbasis potensi lokal. Namun, pengelolaan keuangan pada banyak BUMDes masih menghadapi kendala, terutama dalam pengelompokan transaksi dan penyusunan sistem akuntansi yang terstruktur. Permasalahan serupa ditemukan pada BUMDes Tanjung Karya Mendana, Kabupaten Lombok Utara, yang mengelola unit usaha budidaya ayam petelur. Pencatatan transaksi masih dilakukan secara sederhana tanpa adanya klasifikasi akun yang baku sehingga berpotensi menyulitkan penyusunan laporan keuangan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mendampingi pengurus BUMDes dalam mengklasifikasikan transaksi keuangan sebagai dasar penyusunan Chart of Accounts (COA). Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 16 April 2026 di Aula Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat, dan Desa (DP2KBPMD) Kabupaten Lombok Utara dengan melibatkan 20 BUMDes yang terdiri atas direktur, sekretaris, bendahara, dan operator. Metode yang digunakan meliputi pelatihan, pendampingan, wawancara, dan analisis dokumen pencatatan keuangan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa berbagai transaksi yang berkaitan dengan pembangunan kandang, pengadaan bibit ayam petelur, pembelian pakan, vitamin, obat-obatan ternak, serta biaya operasional berhasil diidentifikasi dan diklasifikasikan ke dalam kelompok akun yang sesuai. Berdasarkan hasil tersebut, berhasil disusun struktur Chart of Accounts (COA) yang terdiri atas akun aset, ekuitas, dan beban yang disesuaikan dengan karakteristik usaha budidaya ayam petelur. Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada pengurus BUMDes mengenai pentingnya klasifikasi transaksi serta mendukung terciptanya sistem pencatatan keuangan yang lebih sistematis dan akuntabel. Kata kunci: BUMDes; Chart of Accounts; klasifikasi transaksi; pendampingan; sistem akuntansi Abstract Village-Owned Enterprises (BUMDes) play an important role in improving rural economies through the management of business units based on local potential. However, many BUMDes still face challenges in financial management, particularly in transaction classification and the development of a structured accounting system. A similar issue was identified at BUMDes Tanjung Karya Mendana, North Lombok Regency, which operates a laying hen farming business unit. Financial transactions were recorded in a simple manner without a standardized account classification system, making the preparation of financial reports more difficult. This community service activity aimed to assist BUMDes managers in classifying financial transactions as the basis for developing a Chart of Accounts (COA). The activity was conducted on April 16, 2026, at the Hall of the Office of Population Control, Family Planning, Community and Village Empowerment (DP2KBPMD) of North Lombok Regency and involved representatives from 20 BUMDes, including directors, secretaries, treasurers, and operators. The methods employed included training, mentoring, interviews, and document analysis of financial records. The results showed that transactions related to poultry house construction, procurement of laying hen chicks, feed purchases, vitamins, livestock medicines, and other operational expenses were successfully identified and classified into appropriate account groups. Based on this process, a Chart of Accounts (COA) structure consisting of asset, equity, and expense accounts was successfully developed according to the characteristics of the laying hen farming business. This activity improved the participants’ understanding of transaction classification and supported the establishment of a more systematic and accountable financial recording system. Keywords: BUMDes; Chart of Accounts; transaction classification; mentoring; accounting system
Peningkatan keterampilan caregiver formal dalam pelaporan catatan keperawatan lansia SIMPANGESTI di Lembaga Kesejahteraan Lanjut Usia Pangesti Wisoedhanie Widi Anugrahanti; Bhre Diansyah Dinda K
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.40402

Abstract

AbstrakPengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Lembaga Kesejahteraan Sosial-Lanjut Usia (LKS-LU) Pangesti Desa Ketindan Kecamatan Lawang Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur merupakan tidaklanjut dari pengabdian masyarakat periode sebelumnya tentang pembuatan aplikasi SIMPANGESTI sebuah sistem informasi catatan keperawatan berbasis website. Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan caregiver formal belum maksimal dalam mendokumentasikan hasil perawatan lansia pada SIMPANGESTI yang tersedia, meskipun sebelumnya telah mendapatkan pelatihan. Pengabdian masyarakat bertujuan meningkatkan keterampilan caregiver formal dalam menginputkan data hasil perawatan sebagai dasar data pelaporan keperawatan lansia. Kegiatan diawali melalui ceramah tanya jawab untuk merecall kembali pengetahuan caregiver formal tentang konsep pengoperasian SIMPANGESTI, dilanjutkan praktik secara langsung penginputan data hasil perawatan pada SIMPANGESTI menggunakan telepon seluler masing-masing caregiver formal untuk mengupgrade keterampilan caregiver formal dalam input data pelaporan catatan keperawatan. Pengabdian masyarakat dilaksanakan pada tanggal 25, 26 Mei dan 12 Juni 2026 melibatkan 16 caregiver formal. Evaluasi kegiatan dilakukan melalui pretest posttest menggunakan kuesioner dan checklist keterampilan. Evaluasi dianalisis menggunakan N-Gain dengan capaian skor N-Gain pengetahuan 0,79 dan keterampilan 0,77 menunjukkan secara keseluruhan peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada kategori tinggi. Capaian persentase N-Gain untuk keseluruhan implementasi penyuluhan dan praktik sebesar 77,83% bermakna implementasi penyuluhan dan praktik dalam kategori efektif. Hasil skore N-Gain tersebut menunjukkan pengabdian masyarakat berimplikasi terhadap peningkatan kapasitas caregiver formal dalam melakukan pengelolaan data keperawatan lansia berbasis website bagi tersedianya data pelaporan kesehatan lansia untuk kebutuhan data internal eksternal LKS-LU Pangesti Lawang. Disarankan pihak manajemen dapat meningkatkan keterampilan caregiver formal secara berkala dan mengembangkan keberlanjutan SIMPANGESTI. Kata kunci: caregiver formal; keterampilan; pelaporan; SIMPANGESTI. Abstract This community service program conducted at Pangesti Elderly Social Welfare Institution (LKS-LU Pangesti), Ketindan Village, Lawang District, Malang Regency, East Java Province, was a continuation of the previous community service project concerning the development of SIMPANGESTI, a web-based nursing record information system. Monitoring and evaluation results indicated that formal caregivers had not optimally documented elderly care records using the available SIMPANGESTI application, despite having previously received training. This community service aimed to improve the skills of formal caregivers in entering nursing care data as the basis for elderly nursing reports. The activities began with interactive lectures and discussions to recall caregivers’ knowledge regarding the operation of SIMPANGESTI, followed by hands-on practice in entering nursing care data into the system using their own mobile phones to enhance their reporting skills. The community service activities were conducted on May 25, May 26, and June 12, 2026, involving 16 formal caregivers. Program evaluation was carried out using pretest-posttest questionnaires and skill checklists. Data were analyzed using the N-Gain method, resulting in N-Gain scores of 0.79 for knowledge and 0.77 for skills, indicating high levels of improvement in both aspects. The overall N-Gain percentage for the implementation of educational sessions and practical training was 77.83%, demonstrating that the intervention was effective. These findings indicate that the community service program contributed to improving the capacity of formal caregivers in managing web-based elderly nursing data, thereby supporting the availability of elderly health reporting data for both internal and external purposes at LKS-LU Pangesti Lawang. It is recommended that the institution's management provide periodic training to further enhance caregivers’ competencies and ensure the sustainability of the SIMPANGESTI system. Keywords: formal caregivers; nursing reporting; SIMPANGESTI.
Peningkatan kompetensi guru fisika melalui pelatihan pemanfaatan spreadsheet untuk visualisasi konsep gelombang di Kabupaten Kulon Progo Laifa Rahmawati; Kuncoro Asih Nugroho; Feby Permata Sari; Heru Kuswanto; Anggi Datiatur Rahmat; Muhammad Najih Hamdi; Hafiz Almahfuz Agusti; Yulia Soteria Simatupang; Kharisma Sulistya Akhmadi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41799

Abstract

AbstrakKegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru fisika dalam memanfaatkan spreadsheet sebagai media visualisasi konsep gelombang. Kegiatan dilaksanakan bekerja sama dengan MGMP Fisika Kabupaten Kulon Progo dan diikuti oleh 15 guru fisika. Pelatihan berlangsung dalam tiga kali pertemuan, yaitu pada 18 Juni, 25 Juni, dan 2 Juli 2026. Metode yang digunakan meliputi analisis kebutuhan, penyampaian materi, demonstrasi, praktik terbimbing, penugasan, evaluasi, dan pendampingan. Selama pelatihan, peserta belajar membuat berbagai visualisasi gelombang menggunakan spreadsheet, mulai dari grafik sinus dan cosinus, superposisi gelombang, pola layangan, kurva Lissajous, hingga gelombang gigi gergaji dan gelombang kotak. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu mengembangkan media visualisasi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran fisika. Berdasarkan evaluasi penugasan, 9 peserta (60%) berhasil menyelesaikan seluruh tugas, 2 peserta (13,3%) menyelesaikan 83,33% penugasan, 3 peserta (20%) menyelesaikan 66,67% penugasan, dan 1 peserta (6,7%) belum memenuhi penugasan karena tidak mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil meningkatkan keterampilan guru dalam mengubah persamaan matematis menjadi representasi grafis yang lebih mudah dipahami, sehingga spreadsheet menjadi alternatif media pembelajaran yang sederhana, mudah diakses, dan efektif untuk membantu menjelaskan konsep gelombang. Kata kunci: guru fisika; konsep gelombang; spreadsheet; Kabupaten Kulon Progo Abstract This training activity aims to improve physics teachers’ proficiency in using spreadsheets as a tool for visualizing wave concepts. The activity was carried out in collaboration with the Kulon Progo Regency Physics Teachers’ Working Group (MGMP) and was attended by 15 physics teachers. The training took place over three sessions: June 18, June 25, and July 2, 2026. The methods used included needs analysis, presentation of material, demonstrations, guided practice, assignments, evaluation, and mentoring. During the training, participants learned to create various wave visualizations using spreadsheets, ranging from sine and cosine graphs, wave superposition, kite patterns, Lissajous curves, to sawtooth waves and square waves. The results of the activity showed that participants were able to develop visualization tools that can be utilized in physics instruction. Based on the assignment evaluation, 9 participants (60%) successfully completed all assignments, 2 participants (13.3%) completed 83.33% of the assignments, 3 participants (20%) completed 66.67% of the assignments, and 1 participant (6.7%) did not meet the assignment requirements because they did not attend the entire training series. Overall, this training successfully improved teachers’ skills in converting mathematical equations into more easily understood graphical representations, making spreadsheets a simple, accessible, and effective alternative learning tool to help explain wave concepts. Keywords: physics teacher; wave concepts; spreadsheet; Kulon Progo Regency