cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
Ilham.fishaholic@gmail.com
Phone
+6221-64700928
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
Gedung Balibang KP II, Lantai 2 Jl. Pasir Putih II, Ancol Timur, Jakarta Utara 14430
Location
Kab. jembrana,
Bali
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : http://doi.org/10.15578/JRA
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)" : 15 Documents clear
KELAYAKAN LAHAN PERTAMBAKAN DI TANAH SULFAT MASAM, KABUPATEN LUWU TIMUR, SULAWESI SELATAN Brata Pantjara; Aliman Aliman; Abdul Mansyur; Utojo Utojo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.661 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.281-290

Abstract

Salah satu lahan yang bisa dikembangkan untuk budi daya tambak adalah tanah sulfat masam. Di Indonesia potensinya cukup luas dan umumnya lahan semacam ini berada di kawasan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kelayakan lahan tanah sulfat masam untuk pertambakan dan optimalisasi pemanfaatannya berdasarkan tingkat kesesuaian lahan dan daya dukung lingkungan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Metode penelitian dengan melakukan survai untuk mendapatkan data primer. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait dan peta yang diperlukan untuk proses analisis dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Analisis data melalui tumpang susun dari beberapa peta dan data primer pada setiap pengamatan dengan mempertimbangkan pembobotan dan skala penilaian untuk mendapatkan nilai skoring dalam menentukan kesesuaian lahan budi daya tambak. Hasil analisis kelayakan lahan untuk tambak didapatkan nilai potensi dan kelayakan seluas 5.617,9 ha yang terdiri atas 709,4 ha kelayakan tinggi; 3.947,7 ha kelayakan sedang; dan 960,7 ha kelayakan rendah.One of land that can be developed for brackish water aquaculture is acid sulfate soil. The potency of acid sulfate soil in Indonesia is relatively large and generally found in coastal area. The objectives of this research to know the potency and land suitability of acid sulfate soil for brackish water aquaculture and optimal utilization based on land suitability level and its carrying capacity. This research was conducted at Malili Sub District; East Luwu Regency, South Sulawesi. Surveys have been done collected primary data. while secondary data was obtained from related Institution and needed maps for Geographic Information System (GIS) analysis, with overlying maps and primary data in each station observation with considering and assessment scale value of determining land suitability for brackish water pond. The result of maps analysis had been obtained the potency and land suitability at Malili Sub district were 5,617.9 ha consisted of 709.4 ha (high suitability); 3,947.7 ha (moderate suitability); and 960.7 ha (low suitability).
VARIASI MORFOMETRIK DAN ALLOZYME CALON INDUK RAJUNGAN, Portunus pelagicus DARI BEBERAPA PERAIRAN DI INDONESIA Gusti Ngurah Permana; Sari Budi Moria; Haryanti Haryanti; Bambang Susanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.771 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.235-244

Abstract

Sampel diambil dari empat populasi rajungan yang berbeda yaitu Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variasi morfometrik dan allozyme dari calon induk rajungan. Hasil yang diperoleh yaitu variasi genetik rata-rata keempat populasi sangat rendah (0,0025). Rajungan dari Jawa Tengah dan Bali mempunyai nilai heterosigositas tertinggi yaitu 0,004 sedangkan populasi Sulawesi Selatan dan Jawa Timur (0,001). Jarak genetik populasi Jawa Timur dan Bali (0,0013), kemudian Jawa Tengah (0,0016), dan Sulawesi Selatan (0,002). Uji analisis komponen utama (Principal component analysis, PCA), menunjukkan bahwa secara morfometrik rajungan jantan dan betina yang berasal dari populasi Cilacap-Jawa Tengah dan P. Saugi-Sulawesi Selatan dapat membentuk satu sub populasi yang sama, sebaliknya populasi asal Negara-Bali membentuk sub populasi tersendiri. Korelasi yang erat antara nisbah panjang dan lebar karapas terhadap bobot tubuh ditemukan pada populasi P. Saugi-Sulawesi Selatan dan Cilacap-Jawa Tengah sebaliknya pada populasi Negara-Bali mempunyai korelasi yang rendah.Samples were collected from South Sulawesi, Central Java, East Java, and Bali. Genetic variation from allozyme was consistently low in all populations (0.0025) This research aimed to know morphometric and allozyme variation of Swimming Blue Crab, Portunus pelagicus from Indonesian waters. Population from Central Java and Bali had the highest heterozigosity value (0.004) compare to those from South Sulawesi and East Java (0.001). Sample cluster according to the pair’s genetic distance showe that East Java and Bali population has the smallest value (0.0013). By contrast, the largest value was observed in Central Java (0.0016) and South Sulawesi population (0.002). Principal Component Analysis showed that morphometrically male and female swimming blue crabs from Saugi and Cilacap population can build one identical subpopulation On the other hand population originated from Negara made a separate subpopulation There high correlation between carapace length and width ratio on population of P. Saugi-South Sulawesi and Cilacap-Central Java, on the other hand, Negara-Bali population had a low correlation.
PEMETAAN KELAYAKAN LAHAN BUDI DAYA IKAN LAUT DI KECATAMAN MORO, KEPULAUAN RIAU: DENGAN PENDEKATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS I Nyoman Radiarta; Adang Saputra; Ofri Johan; Tri Heru Prihadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.759 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.291-302

Abstract

Sistem informasi geografis telah digunakan untuk menganalisis kelayakan lahan budi daya ikan laut di perairan Kecamatan Moro, Kepulauan Riau. Pengumpulan data lapangan telah dilakukan pada bulan Agustus dan Oktober 2004 dengan menggunakan metode acak sederhana. Parameter penting penentuan kelayakan lahan budi daya ikan laut sesuai dengan data yang dikumpulkan digolongkan atas dua kriteria yaitu faktor lingkungan (meliputi: kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, dan tinggi gelombang) dan faktor kualitas perairan (meliputi: suhu, salinitas, kandungan oksigen, dan pH). Pembobotan faktor dan parameter kelayakan lahan dilakukan dengan menggunakan teknik multi kriteria analisis. Hasil analisis spasial dengan menggabungkan faktor lingkungan dan kualitas air, secara umum menunjukkan bahwa perairan Kecamatan Moro tergolong layak, cukup layak, atau sangat layak, dan tidak ditemukan daerah yang tidak layak untuk budi daya ikan laut.This study used geographic information system to analysis site suitability of marine fish culture in adjacent water of Moro Sub District, Riau Archipelago. Simple random sampling was used for collecting data on August and October 2004. Important parameters for marine fish culture from field measurement were categorized into two criteria, namely environmental factor (include: bathymetry, transparency, water current, and wave height) and water quality factor (include: temperature, salinity, dissolve oxygen, and pH). Multi criteria analysis (MCA) technique was used to weight of factors and parameters. Based on overlay of environmental factors and water quality factors using spatial analysis showed that most of areas of Moro sub district (Riau Archipelago) were identified as being suitable, moderately suitable or highly suitable, and none was identified as totally unsuitable for marine fish culture.
PENGARUH Implantasi HCG PADA PERKEMBANGAN TELUR, Pematangan Akhir Gonad, dan Pemijahan Ikan Tor soro Jojo Subagja; Rudhy Gustiano
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1015.502 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.219-225

Abstract

Penelitian tentang implantasi hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dengan tujuan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap perkembangan pematangan akhir gonad dan pemijahan ikan Tor soro telah dilakukan di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Budidaya Air Tawar, Cijeruk-Bogor. Perlakuan dosis hormon yang diimplantasikan adalah: 300; 400; 500 IU.Kg-1 bobot tubuh dan kontrol (tanpa hormon). Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan nyata antara perlakuan pada pengamatan ke 25 dan 50 hari setelah implantasi, yaitu pemberian pelet hormon dengan kadar 500 IU.kg-1 bobot tubuh, menghasilkan perkembangan diameter oosit paling besar dengan rataan diameter oosit 3,07 ± 0,31 mm dibandingkan dengan perlakuan lainnya, diikuti perlakuan  kontrol, 300 IU.kg-1 bobot tubuh dan 400 IU.kg-1 bobot tubuh, dengan nilai rataan berturut-turut 2,11 ± 0,53 mm; 1,97 ± 0,55 mm; dan 0,87 ± 0,50 mm. Keberhasilan pemijahan pada dosis implan 500 IU. kg-1 bobot tubuh mencapai 100% dengan kisaran waktu laten antara 25 dan 27 jam dengan suhu inkubasi 22°C—24°C, serta larva normal berkembang mencapai 90,19%.Study aimed to identify the effect of Human Chorionic Gonadotropin hormone implantation on gonadal development, final maturation, and spawning of Tor soro was conducted at Research Instalation of Germ Plasm Cijeruk-Bogor. Experimental dosage of hormone treated were 300, 400, 500 IU kg-1 body weight and control (without hormonal treatment). The result showed a significant difference between each treatment observed at the 25th and 50 th day after implantation. Hormon pellet at dosage 500 IU kg-1 body weight produced the biggest oocytes with average diameter 3.07 ± 0.31 mm, and followed by control, 300 IU treatment and 400 IU treatment with average diameter were 2.11 ± 0.53 mm, 1.97 ± 0.55 mm and 0.87 ± 0.50 mm, respectively. Succesful spawning rate of Tor soro treated hormone pellet of 500 IU kg-1 body weight reached of 100% at latentcy time of 25—27 hour (incubation temperature of 22°C—24°C) and larvae developed normally of 90.19%.
EVALUASI PEMANFAATAN PAKAN DENGAN SUMBER KARBOHIDRAT BERBEDA UNTUK PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN JAMBAL (Pangasius djambal) Ningrum Suhenda; Zafril Imran Azwar; M. Sulhi; Y. Moreau
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.904 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.171-179

Abstract

Penelitian telah dilakukan untuk mengevaluasi pemanfaatan beberapa sumber karbohidrat sebagai upaya penghematan penggunaan protein pada benih ikan patin jambal.  Benih ikan patin jambal dengan bobot awal rata-rata 4,95 gram ditebar dalam akuarium volume 100 liter dengan padat penebaran 50 ekor/akuarium.  Akuarium dilengkapi dengan sistem resirkulasi dan water heater dengan debit air 4 liter/menit.  Ikan uji diberi pakan selama 4 minggu.  Sebagai pakan uji yaitu pakan tanpa penambahan sumber karbohidrat, dan dengan penambahan tepung jagung, tapioka, dedak padi, dan terigu sebagai sumber karbohidrat. Ransum harian diatur agar tiap pakan ikan uji dapat memasok 17 g protein/kg ikan/hari; 9,0 g lemak/kg ikan/hari dan 24 g pati/kg ikan /hari kecuali untuk pakan tanpa penambahan karbohidrat 15 g protein/kg ikan/hari, 7 g lemak/kg ikan/hari dan 8 g pati/kg ikan/hari.  Pakan diberikan dalam bentuk remah, 3 kali per hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pakan tanpa sumber karbohidrat dan dengan sumber karbohidrat berbeda memberikan hasil yang berbeda nyata (P<0,05) untuk semua parameter yang diuji kecuali untuk nilai retensi protein.  Nilai retensi protein untuk semua perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05).  Nilai konversi pakan terbaik (0,8) diperoleh pada pakan tanpa penambahan karbohidrat dan selanjutnya diikuti oleh tepung jagung (1,1), tapioka (1,2), terigu (1,2), dan dedak  padi (1,3).  Retensi lemak terendah (28,3%) diperoleh untuk tepung jagung dan nilainya tidak berbeda nyata dengan dedak padi (30,6%) serta tertinggi (42%) untuk terigu.  Bobot rata-rata pada akhir penelitian yang tertinggi diperoleh pada pakan dengan penambahan tepung jagung yaitu 15,7 g tetapi tidak berbeda dengan dedak padi (15,3 g). Demikian pula dengan nilai laju pertumbuhan spesifik tubuh diperoleh pada pakan dengan tepung jagung (4,1%).  Nilai laju pertumbuhan spesifik protein yang terendah (4,7%) diperoleh pada pakan tanpa penambahan sumber karbohidrat, untuk tepung jagung (4,9%), dedak padi (5,2%) sedangkan untuk tapioka dan terigu sama nilainya yaitu 5%.  Berdasarkan data yang diperoleh ternyata benih patin jambal dapat memanfaatkan karbohidrat dengan baik untuk mendukung pertumbuhan dan sintasannya. ABSTRACT:     Evaluation of feed utilization by different carbohydrate sources on the growth of Asian catfish (Pangasius djambal), By: Ningrum Suhenda, Zafril Imran Azwar, M. Sulhi, and Y.MoreauCarbohydrates are least expensive nutrient of dietary energy both for human and domestic animals but their utilization by fish varies by species.  The study was conducted to evaluate the utilization of some sources of carbohydrate in Pangasius djambal.  Fifty fingerling average 4.95 g individual body weight were stocked in each of 15 aquaria filled with 100 liters of water.  Water was recycled using a closed system and each aquaria was equipped with water heater.  The fish were fed daily for four weeks with diets containing different carbohydrate sources such as corn meal, cassava meal, rice bran, and wheat flour. The daily nutrients allowance were the same for all diets.  7 g protein kg-1. day-1, 9.0 g fat kg-1.day-1, and 24 g NFE kg-1.day-1 except for non carbohydrate source diet the NFE allowance was 8 g  kg-1.day-1. The feed was given in crumble form three times a day at 8.00; 12.00; and 16.00 hours. There were significant differences (P < 0.05) among treatments for all parameters except for protein retention. The protein retention were not significant different (P > 0.05) among treatments.  Pangasius djambal fed with non carbohydrate source diet reach the best feed conversion ratio (0.8) and are followed by corn meal  (1.1), cassava meal (1.2), wheat flour (1.2), and rice bran (1.3).  The average final body weight for corn meal diet (15.7 g) and rice bran (15.3 g) and  these values were higher than those for another diets. The lowest fat retention (28.3%) was found for corn meal diet and the highest (42%) was reach by wheat flour diet.  Body specific growth rate for corn meal diet (4.1%) and for rice bran diet (4.0%).  These values were higher than another diets.  Based on the observed data, carbohydrates were well utilized by P. djambal fingerlings for their growth and survival rates.
KANIBALISME PADA YUWANA IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) DALAM KONDISI PEMELIHARAAN SECARA TERKONTROL Eri Setiadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (841.672 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.245-254

Abstract

Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomi penting sebagai komoditas ekspor dan telah berhasil dibudidayakan di Indonesia. Kendala yang dihadapi dalam budi daya ikan tersebut yaitu masih tingginya tingkat kanibalisme pada pemeliharaan secara intensif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi gigitan, menelan, dan mortalitas pada pemeliharaan yuwana ikan kerapu macan dan upaya pengendaliannya. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu penelitian variasi ukuran yang dipuasakan (Penelitian I) dan variasi ukuran dengan kepadatan jembret yang berbeda (Penelitian II) terhadap terjadinya kanibalisme, seperti frekuensi gigitan, menelan, dan mortalitas telah dilakukan. Ukuran yuwana kerapu macan yang digunakan sebagai hewan uji terdiri atas tiga ukuran, yaitu ukuran kecil, sedang, dan besar. Hasil penelitian I menunjukkan bahwa ada perbedaan (P<0,0001) di antara perlakuan terhadap frekuensi gigitan, menelan, dan mortalitas. Penelitian II menunjukkan juga adanya perbedaan (P<0,0006) di antara perlakuan terhadap frekuensi gigitan, menelan dan mortalitas. Kepadatan jembret 1.000 individu/L dapat mengurangi kanibalisme.Tiger grouper, E. fusoguttatus is one of the marine finfish species have a high economic value as an export commodity in Indonesia. Mass production of this species has largely been successful in Indonesia. However, cannibalism is a main problem can be reduced mass production during in an intensive culture system. The aim of this experiment is to examine frequency of bitting and swallowing, mortality, and its control. This experiment was focused on size variation and mysid density that affect on frequency of bitting, frequency of swallowing, and mortality. The fry of tiger grouper used in this experiment was consisted of three sizes (small, medium, and big). Two kinds of experiments were set up namely size variation and starvation (experiment I) and size variation and mysid density (experiment II). The result showed that size variation indicated that significantly different (P<0.0001) in frequency of bitting and swallowing, and mortality and also mysid density could affect the frequency of biting and swallowing, and mortality (P<0.0006) among the treatments. Mysid density (1,000 individu/L) could be reduced the cannibalism.
SUBTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG KEONG MAS (Pomacea sp.) DALAM PAKAN PEMBESARAN IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) Usman Usman; Rachman Syah; Kamaruddin Kamaruddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.685 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.161-170

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang dosis optimum subtitusi tepung ikan dengan tepung keong mas dalam pakan pembesaran ikan kerapu macan. Ikan uji yang digunakan berupa gelondongan ikan kerapu macan berukuran bobot rata-rata 27,1 ± 1,38 g ditebar dalam keramba jaring apung ukuran 1 x 1 x 2 m3 dengan kepadatan 16 ekor/keramba. Perlakuan yang dicobakan adalah dosis tepung keong mas (GSM) dalam pakan yaitu: 0% (GSM0), 10% (GSM10), 20% (GSM20), 30% (GSM30), dan 40% (GSM40) dengan menurunkan kadar tepung ikan pakan. Unit penelitian diset dengan rancangan acak lengkap. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan uji secara satiasi selama 140 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang diberi pakan dengan kandungan tepung keong mas 0%—30% memiliki nilai laju pertumbuhan spesifik, pertambahan bobot, efisiensi pakan, efisiensi protein, dan retensi protein yang relatif sama (P>0,05), namun ikan yang diberi pakan dengan kandungan tepung keong mas sebanyak 40% memiliki nilai peubah tersebut yang berbeda nyata (P<0,05) lebih rendah dibandingkan yang diberi pakan dengan kandungan tepung keong mas 0%—10%. Konsumsi pakan dan sintasan ikan relatif sama di antara perlakuan (P>0,05). Berdasarkan hasil penelitian ini, maka tepung keong mas dapat digunakan hingga 30% dalam formulasi pakan ikan kerapu macan.This research was conducted to examine the effects of partially substitution of fish meal (FM) in the diets with golden snail meal (GSM) on growth performance of tiger grouper, Epinephelus fuscoguttatus. Fifteen net cages of 1 x 1 x 2 m3, each containing 16 tiger groupers with average initial weight of 27.1 ± 1.38 g, were set up randomly in seawater. Five isoprotein and isocaloric diets were formulated to contain 43.5% FM without GSM as control diet (GSM0); 10% GSM + 34.2% FM (GSM10); 20% GSM + 24.9% FM (GSM20), 30% GSM + 15.6% FM (GSM30); and 40% GSM + 6.3% FM (GSM40). The fish were fed twice daily to satiation for 140 days. The fish fed the diet containing 0%—30% GSM had not significantly different (P>0.05) specific growth rate, weight gain, feed efficiency, protein efficiency, and protein retention. However the fish fed the diet containing 40%GSM had significantly lower (P>0.05) value of the variables compared to the fish feed the diet containing 0%—10% GSM. Total feed intake and survival rate did not differ significantly (P>0.05) among treatments. This result suggests that GSM could be only used up to 30% to replace fish meal in the tiger grouper diets.
PENDUGAAN NUTRIENT BUDGET TAMBAK INTENSIF UDANG, Litopenaeus vannamei Rachmansyah Rachmansyah; Hidayat Suryanto Suwoyo; Muh. Chaidir Undu; Makmur Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2359.081 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.181-202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nutrient budget tambak intensif udang Litopenaeus vannamei sebagai acuan alokasi input produksi pada tingkat kapasitas asimilasi lingkungan perairan. Pendugaan nutrient budget tambak udang intensif menggunakan pendekatan mass balance, dihitung berdasarkan input nutrien nitrogen - N dan fosfor – P yang berasal dari pakan, benih, pupuk, media probiotik, inflow, dan output nutrien yang ada pada produksi udang, outflow, dan endapan lumpur di dasar tambak. Sampel air, tanah, sedimen, plankton diambil sebelum penebaran dan setiap dua minggu selama pemeliharaan dari tiga petak tambak, masing-masing 5 titik sampel per petak tambak contoh. Analisis nitrogen dan fosfor dilakukan untuk sampel pakan, karkas udang awal dan akhir. Data managemen budi daya meliputi padat penebaran benur 50 ekor m-2, produksi 1.188—1.489 kg/0,25 ha, dan FCR 1,69—2,14; maka total input nutrien tambak udang Litopenaeus vannamei antara 171,9155—179,3778 (176 ± 3,9586) kgN dan 95,2533—99,4180(97,8340 ± 2,3348) kg P. Pakan mendominasi input N sebesar 61,96% ± 0,66%; disusul inflow 30,93% ± 0,70%; pupuk 6,52% ± 0,15%, serta media probiotik dan benur masing-masing <1%. Pola yang sama terjadi pada input phosphorous dengan komposisi 87,75% ± 0,24% dari pakan; 7,73% ± 0,19% pupuk; 4,05% ± 0,25% inflow dan media probiotik < 1%. Total output nitrogen tambak udang vannamei antara 107,1279-110,1438 (108,4957 ± 1,5274) kg N dan 51,6362—63,6576 (56,1292 ± 6,5604) kg P. Komposisi output nitrogen adalah outflow sebanyak 29,82% ± 3,20%; kemudian udang yang dipanen 21,32% ± 1,33%, lumpur atau sludge 10,40% ± 0,81%. Sedangkan komposisi output phosphorous didominasi oleh lumpur 39,03% ± 6,59%; kemudian udang yang dipanen 15,22% ± 0,85% dan outflow 3,09% ± 0,26%. Efisiensi pakan dan air melalui managemen budi daya yang benar menjadi peubah dominan penentu beban limbah tambak udang.This research was aimed to find out nutrient budget on L. vannamei intensive ponds as input allocation reference produce at environmental assimilation capacity level. Nutrient budget assessment was used mass balance approach, calculate based on nutrient input of nitrogen (N) and phosphor (P) from feed, seed, fertilizer, probiotic media, and inflow and nutrient output within pond yield, outflow, and sludge sedimentation at pond bottom. Sampling for water quality, sediment, and plankton was carried out at three ponds and five stations within each pond before stocking and continued fortnightly as long as culture periods. Nitrogen and phosphor analyzed for feed, and shrimp carcass of both of initial stocking and harvest. The data of culture management consist of shrimp yield reached 1,188—1,489 kg/0.25 ha with stocking density of 50 ind/m2 and FCR 1.69—2.14. Total input nutrients within L. vannamei ponds are 171.9155—179.3778 (176 ± 3.9586) kg N and 95.2533—99.4180 (97.8340 ± 2.3348) kg P. Food given domination on N input N with 61.96% ± 0.66% followed by inflow by 30.93% ± 0.70%, fertilizer 6.52% ± 0.15%, and both of probiotic media and seed supply less than1% respectively. There are the same pattern with phosphorous input with following composition 87.75% ± 0.24% from food, 7.73% ± 0.19% fertilizer, 4.05% ± 0.25% inflow and probiotic media less than 1%. Total output nitrogen from L vannamei ponds between 107.1279—110.1438 (108.4957 ± 1.5274) kg N and 51.6362—63.6576 (56.1292 ± 6.5604) kg P. Composition of nitrogen output is dominated by outflow 29.82% ± 3.20%, followed by shrimp harvest 21.32% ±1.33%, and sludge 10.40 ± 0.81%. Meanwhile, composition of phosphorous output dominated by sludge 39.03% ± 6.59%, shrimp harvest 15.22% ± 0.85% and outflow 3.09% ± 0.26%. Both food and water efficiency under good culture management are the mainfactors of waste load from shrimp culture ponds.
KEBUTUHAN ASAM AMINO LISIN UNTUK BENIH IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) Nyoman Adiasmara Giri; Ketut Suwirya; Muhammad Marzuqi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.693 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.143-150

Abstract

Percobaan penentuan kebutuhan asam amino lisin untuk benih ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) telah dilakukan dengan metode pemeliharaan ikan menggunakan pakan yang mempunyai kandungan lisin berbeda. Ikan dengan bobot rata-rata 4,4 ± 0,3 gram dipelihara dalam bak polikarbonat volume 100 L dengan kepadatan 12 ekor ikan per bak. Setiap bak dilengkapi dengan sistem air mengalir dan aerasi. Pakan percobaan dibuat dalam bentuk pelet kering dengan kandungan protein 49% yang bersumber dari kasein dan tepung ikan serta campuran asam amino murni sehingga menyerupai komposisi asam amino tubuh ikan kerapu bebek, kecuali untuk lisin. Pakan percobaan mempunyai kandungan lisin berbeda, yaitu 1,77%; 2,27%; 2,77%; 3,27%; 3,77%; dan 4,27%. Ikan diberi pakan percobaan 2 kali sehari pada level satiasi selama 63 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa bobot ikan akhir, persen pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, efisiensi pakan, retensi protein, dan kandungan protein tubuh ikan dipengaruhi oleh kandungan lisin pakan. Kadar optimum lisin dalam pakan untuk benih ikan kerapu bebek dihitung dengan regresi broken line berdasarkan data persen pertambahan bobot. Dari perhitungan ini diperoleh bahwa kebutuhan lisin untuk benih ikan kerapu bebek mencapai 2,77% dalam pakan atau setara dengan 5,63% dari protein pakan.The experiment to find out an amino acid lysine requirement for growth of  humpback grouper  juvenile has been conducted in 18 polycarbonate tanks, 100 liters volume. Each tank is equipped with flow-through water system. Twelve juveniles of humpback grouper (4.4 ± 0.3 gram in body weight), which were produced in hatchery, were randomly selected, and stock in each tank. Fish fed with experimental diets twice everyday at satiation level for 63 days. Experimental diets were prepared as dry pellet with casein and fish meal as the intact protein sources, and the mixture of crystalline amino acids to reach protein level of 49% and the composition of amino acid similar to the amino acid composition of whole body protein of humpback grouper, except for lysine content. Basal diet (diet-1) contains 1.77% lysine that was supplied from casein and fish meal. Graded level (0.5%) of crystalline lysine was added to the basal diet to get the final lysine level in each diet of 1.77%, 2.27%, 2.77%, 3.27%, 3.77%, and 4.27%. The experiment was designed according to completely random design (CRD) with 6 treatments (lysine levels) and three replicates for each treatment. Result of the experiment showed that dietary lysine content influenced final weight, weight gain, specific growth rate, feed efficiency, protein retention, and body protein content of  humpback grouper juvenile. Optimum dietary lysine for  humpback grouper juvenile was calculated using broken line regression analysis. Optimum dietary lysine requirement for growth of juvenile humpback grouper is 2.77% or equal to 5.63% of dietary protein.
ANALISIS KEJADIAN SERANGAN WHITE SPOT SYNDROME VIRUS (WSSV) DENGAN BEBERAPA PARAMETER KUALITAS AIR PADA BUDI DAYA UDANG WINDU MENGGUNAKAN SISTEM TANDON DAN PROBIOTIK Gunarto Gunarto; Muslimin Muslimin; Muliani Muliani; Sahabuddin Sahabuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1572.781 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.2.2006.255-270

Abstract

Munculnya serangan White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada udang yang dibudidayakan kemungkinan sebagai akibat menurunnya kualitas lingkungan tambak.  Data diperoleh dari penelitian budi daya udang windu yang dilakukan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros menggunakan 8 unit tambak ukuran 500 m2. Tokolan udang windu PL-25 dengan padat tebar 10 dan 20 ekor/m2 ditebar dalam petak tambak tersebut serta penambahan probiotik setiap minggu sebanyak 1 mg/L  berlangsung selama pemeliharaan udang dan tanpa pemberian probiotik sebagai kontrol merupakan perlakuan yang diuji. Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Setelah penebaran, beberapa petak terserang WSSV dan menyebabkan kematian total yaitu pada hari ke-27, 30, 41, dan 47. Serangan WSSV terus berlanjut selama pemeliharaan udang di tambak berlangsung. Pada petak menggunakan probiotik mempunyai  kecenderungan terserang WSSV lebih lambat daripada yang tidak menggunakan probiotik. Semakin tinggi padat tebar udang windu di tambak, maka semakin rentan terhadap serangan WSSV. Padat tebar 10 ekor/m2 menggunakan probiotik produksinya cenderung lebih baik daripada padat tebar 20 ekor/m2. Peningkatan populasi Vibrio sp., peningkatan konsentrasi nitrit dan tingginya populasi awal Vibrio sp. di air melebihi 103 cfu/mL dan di sedimen 104 cfu/g diduga erat kaitan dengan munculnya serangan WSSV pada udang yang dipelihara di tambak pada penelitian ini.The outbreak of WSSV infection on tiger shrimp culture was thought to be an impact of its pond environmental depletion. The data was obtained from the study of tiger shrimp culture conducted in ponds Research Station of RICA Maros using 8 unit of  brackishwater ponds compartment of 500 m2 each size. The PL-25 were stocked in the ponds at the density of 10 pieces and 20 pieces/m2 and on  the otherhand, ponds also were treated with 1 mg/L commercial probiotics applicated in every week during culture period and no probiotics application as control. Each treatment in two replications. WSSV was infected to the shrimp in the different ponds compartment beginning at 27, 30, 41, and 47 days after stocking and affected total mortality of the shrimp. The WSSV infection was continue distributed to the other ponds compartments consecutively. The shrimp in ponds were applied with probiotics tend to delay infected, in contrary more early infected to the shrimp in pond without probiotics application. The shrimp with higher stocking density likely was easier infected by WSSV. The shrimp production tends to be higher in the shrimp stocking density of 10 pieces/m2 with probiotics application as compared to 20 pieces/m2 without probiotics applications. Increase Vibrio sp. population, enhance nitrite concentration and commenced with high Vibrio sp. population in the water and sediment pond excessive of 103 cfu/mL and 104 cfu/g respectively were presumed as the stimulate of WSSV outbreak in tiger shrimp culture in this research.

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2006 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 4 (2025): Desember (2025) Vol 20, No 3 (2025): September (2025) Vol 20, No 2 (2025): Juni (2025) Vol 20, No 1 (2025): Maret (2025) Vol 19, No 4 (2024): Desember (2024) Vol 19, No 3 (2024): September (2024) Vol 19, No 2 (2024): Juni (2024) Vol 19, No 1 (2024): (Maret 2024) Vol 18, No 4 (2023): (Desember, 2023) Vol 18, No 3 (2023): (September, 2023) Vol 18, No 2 (2023): (Juni, 2023) Vol 18, No 1 (2023): (Maret 2023) Vol 17, No 4 (2022): (Desember 2022) Vol 17, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 17, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 17, No 1 (2022): (Maret, 2022) Vol 16, No 4 (2021): (Desember, 2021) Vol 16, No 3 (2021): (September, 2021) Vol 16, No 2 (2021): (Juni, 2021) Vol 16, No 1 (2021): (Maret, 2021) Vol 15, No 4 (2020): (Desember, 2020) Vol 15, No 3 (2020): (September, 2020) Vol 15, No 2 (2020): (Juni, 2020) Vol 15, No 1 (2020): (Maret, 2020) Vol 14, No 4 (2019): (Desember, 2019) Vol 14, No 3 (2019): (September, 2019) Vol 14, No 2 (2019): (Juni, 2019) Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) More Issue