cover
Contact Name
Arif Mustofa
Contact Email
disprotek@unisnu.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
disprotek@unisnu.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. jepara,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal DISPROTEK
ISSN : 25484168     EISSN : 25484168     DOI : -
Jurnal DISPROTEK e-ISSN 2548-4168 p-ISSN 2088-6500 Jurnal di publikasikan oleh Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Nahdlatul Ulama Cakupan isi jurnal DISPROTEK dalam bidang teknik adalah : teknik elektro, teknik sipil, teknik industri; dalam bidang ilmu komputer adalah : teknik informatika dan sistem informasi serta dalam bidang perikanan adalah : budidaya perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 239 Documents
SCHEDULING OPTIMIZATION OF FURNACE MAINTENANCE USING PERT AND CRASH PROGRAM TO IMPROVE ETHYLENE PRODUCTION PROFITABILITY Muchamad Sugarindra; Imam Djati Widodo; Aninda Sagita Nurlaila; Erlangga Fauza
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.8913

Abstract

Maintenance projects on critical equipment in the petrochemical industry have a direct impact on production performance and company profitability. This study focuses on optimizing the maintenance scheduling of Furnace petrochemical industries in the olefins plant using the Program Evaluation and Review Technique (PERT) and the Crash Program method. The primary objective is to minimize shutdown duration to reduce economic losses arising from decreased ethylene production and potential delay penalties. Project activity durations were analyzed using the probabilistic PERT approach to determine the expected duration and identify the project’s critical path. Subsequently, activity compression on the critical path was performed through the Crash Program based on time–cost trade-off analysis. An economic evaluation was conducted by calculating changes in ethylene production revenue during the shutdown period. The results indicate that the initial project duration of 80 shifts can be shortened to 74 shifts through critical path compression. Although project costs increased, the accelerated completion enabled faster recovery of production capacity, resulting in an estimated net profit increase of approximately IDR 168,600,000 compared to the initial schedule. Therefore, the application of the PERT–Crash Program method proves effective in optimizing furnace maintenance scheduling and has a positive impact on cost efficiency and overall production profitability.OPTIMASI PENJADWALAN MAINTENANCE FURNACE MENGGUNAKAN PERT DAN CRASH PROGRAM UNTUK MENINGKATKAN KEUNTUNGAN PRODUKSI ETHYLENE Proyek maintenance pada peralatan kritis di industri petrokimia memiliki implikasi langsung terhadap performansi produksi dan profitabilitas perusahaan. Pada penelitian ini, dilakukan optimasi penjadwalan maintenance furnace di industri petrokimia di fasilitas olefins plant menggunakan metode Program Evaluation and Review Technique (PERT) dan Crash Program. Tujuan utama penelitian adalah meminimalkan durasi shutdown untuk mengurangi kerugian ekonomi akibat penurunan produksi ethylene dan potensi penalti keterlambatan. Data durasi aktivitas proyek dianalisis melalui pendekatan probabilistik PERT untuk menentukan durasi ekspektasi serta jalur kritis proyek. Selanjutnya, dilakukan pemadatan aktivitas pada jalur kritis menggunakan Crash Program berdasarkan analisis time–cost trade-off. Analisis ekonomi dilakukan dengan menghitung perubahan pendapatan produksi ethylene selama masa shutdown. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi proyek awal sebesar 80 shift dapat dipersingkat menjadi 74 shift melalui pemadatan aktivitas pada jalur kritis. Meskipun terdapat peningkatan biaya proyek, percepatan penyelesaian memungkinkan pemulihan kapasitas produksi lebih cepat, sehingga diperoleh peningkatan keuntungan bersih sebesar ±Rp168.600.000 dibandingkan jadwal awal. Dengan demikian, penerapan metode PERT–Crash Program efektif dalam mengoptimalkan penjadwalan proyek maintenance furnace dan memberikan dampak positif terhadap efisiensi biaya serta profitabilitas produksi perusahaan.
MARKOV CHAIN ANALYSIS: UNDERSTANDING CHANGES IN CONSUMER INTEREST IN PURCHASING FOOD TYPES AS AN INITIAL STEP IN CULINARY BUSINESS DECISIONS Bekti Nugrahadi; Anita Oktaviana Trisna Devi; Agung Widiyanto Fajar Sutrisno; Yunita Primasanti; Nasyita Vivi Amalia
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.8941

Abstract

Indonesia features a diverse culinary landscape characterized by regional variations in ingredients, processing methods, and flavors. The culinary industry is expanding rapidly, with the creative economy making a substantial contribution to national GDP. Effective planning is essential for continued industry success. This study analyzed shifts in consumer interest in food selection as an initial step in culinary business decision-making. Markov analysis was employed to predict customer preferences, forecast future market trends, and calculate transition probability matrices and steady-state distributions. Analysis of data from 40 respondents indicated a significant shift in consumer preferences. Interest in heavy food menus, including chicken, duck, and seafood, declined substantially, approaching 0%. In contrast, cold drinks demonstrated continued growth and remained the dominant category at steady-state, accounting for 32.22%. These findings suggest that long-term consumption trends are likely to favor cold drinks, providing valuable insights for culinary entrepreneurs. ANALISIS RANTAI MARKOV UNTUK MENGETAHUI PERUBAHAN MINAT KONSUMEN DALAM PEMILIHAN JENIS MAKANAN SEBAGAI LANGKAH AWAL KEPUTUSAN BISNIS KULINERIndonesia memiliki kuliner yang beragam, terdapat banyak perbedaan dari setiap daerah dari segi bahan, cara pengolahan dan cita rasa. Industri kuliner saat ini berkembang sangat pesat dan merupakan sektor ekonomi kreatif yang berkontribusi signifikan terhadap PDB. Kesuksesan suatu usaha industri kuliner sangat bergantung pada perencanaan yang baik. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis perubahan minat konsumen dalam pemilihan jenis makanan sebagai langkah awal pengambilan keputusan bisnis kuliner, Menggunakan pendekatan analisis Markov untuk memprediksi preferensi pelanggan dan tren pasar di masa yang akan datang. Serta menghitung matriks probabilitas transisis dan distribusi steady-state. Berdasarkan 40 orang responden, perhitungan menunjukkan pola perpindahan minat konsumen signifikan. Menu makanan berat seperti ayam dan bebek serta seafood cenderung mengalami penuruan minat mendekati 0%. Di sisi lain, minuman dingin menunjukkan persentase yang terus meningkat dan bertahan sebagai kategori dominan pada kondisi steady-state yaitu sebesar 32,22%. Hasil perhitungan tersebut memberikan pandangan bagi pelaku usaha kuliner bahwa tren konsumsi jangka panjang cenderung mengarah pada produk minuman dingin.
CALCULATION OF POWER LOSS DURING THE CALIBRATION PROCESS OF AGED PREPAID APP METERS Saddam Saddam; Ida Widihastuti
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.9000

Abstract

The decreasing accuracy of prepaid APP meters that have been in operation for more than ten years causes energy measurement deviations, resulting in power losses that impact the electricity provider’s revenue. This study aims to analyze the magnitude of power losses caused by calibration inconsistencies in old prepaid APP meters in the PLN ULP Tanjung Redeb area. The research method includes technical observation of APP meters, accuracy testing using portable test equipment and the Hioki CM 3286 clamp meter, and analysis of customer energy consumption data four months before and after meter replacement. The results show that old prepaid APP meters exhibit energy measurement deviations exceeding the ±1% tolerance limit for Class 1 accuracy meters, with error values reaching more than 10%, leading to under-registration. Comparison of energy consumption data indicates a significant increase in recorded energy after meter replacement, implying substantial power losses in old meters. These findings confirm that old prepaid APP meters no longer meet measurement accuracy standards and may cause economic losses to the electricity provider. Therefore, periodic calibration and systematic replacement of aging meters are essential to reduce non-technical losses.PERHITUNGAN RUGI DAYA PADA PROSES KALIBRASI APP METER PRABAYAR GENERASI LAMAPenurunan akurasi pada APP (Alat Pembatas dan Pengukur) meter prabayar yang telah beroperasi lebih dari 10 tahun menyebabkan deviasi pengukuran energi dan memunculkan rugi daya (losses) yang berdampak pada kerugian penyedia listrik. Penelitian ini bertujuan menganalisis besarnya rugi daya yang ditimbulkan akibat ketidaksesuaian kalibrasi pada APP meter prabayar generasi lama di wilayah PLN ULP Tanjung Redeb. Metode penelitian meliputi observasi teknis APP, pengujian akurasi menggunakan alat portable test equipment dan tang ampere Hioki CM 3286, serta analisis data konsumsi energi pelanggan empat bulan sebelum dan sesudah penggantian meter. Hasil penelitian menunjukkan adanya deviasi pengukuran energi pada APP prabayar generasi lama yang melampaui batas toleransi standar ±1% kelas akurasi 1, dengan nilai error mencapai 7,18% dimana nilai ini jauh melampaui batas toleransi error SPLN (±5%) sehingga menyebabkan pencatatan energi lebih kecil dari aktual (under register). Perbandingan data konsumsi energi menunjukkan peningkatan energi tercatat setelah penggantian meter, yang mengindikasikan adanya rugi daya signifikan pada meter generasi lama. Setelah dilakukan program penggantian APP meter prabayar generasi lama, pendapatan PLN meningkat sebesar Rp 323.237,16/tahun. Hasil ini membuktikan bahwa program penggantian meter prabayar generasi lama layak dan efisien secara ekonomi. Oleh karena itu, kalibrasi berkala dan program penggantian meter generasi lama menjadi langkah strategis untuk mengurangi losses non teknis
STRUCTURAL DESIGN OF A FIVE-STORY STEEL PARKING BUILDING AT ISLAMIC UNIVERSITY OF NAHDLATUL ULAMA Mahendra Hamid Arrafi; Muhammad Ilham Amiluddin; Muhammad Adi Sukma; Rizky Maulana; Nor Hidayati
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.9117

Abstract

The increasing number of students at Nahdlatul Ulama Islamic University each year has created an urgent demand for adequate parking facilities. As a result, the construction of a steel-based parking structure becomes an ideal solution to address the limitations of available land. Steel is selected as the primary structural material due to its high shear strength, ease of installation, and efficient connection between structural components. The proposed parking building consists of five floors, with a length of 29.4 meters, a width of 10.95 meters, and a total height of 15 meters. The structural design of this five-story steel parking facility involves a series of analyses and calculations to ensure safety, stability, and compliance with applicable standards. The process includes soil investigation, load determination, structural modeling, and the design of each structural element such as slabs, beams, columns, and foundations. The structural analysis of this building was carried out using SAP2000, which resulted in the selection of IWF 250.250 profiles for beams, IWF 400.400 profiles for the primary columns, and IWF 300.300 profiles for secondary columns. The foundation system is designed using driven pile foundations with a depth of 11 meters. PERENCANAAN STRUKTUR BAJA GEDUNG PARKIR 5 LANTAI UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA Pertumbuhan jumlah mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama yang meningkat setiap tahunnya menyebabkan kebutuhan lahan parkir yang memadai semakin mendesak. Dengan demikian, pembangunan struktur parkir berbahan baja adalah jawaban yang ideal untuk mengatasi masalah keterbatasan lahan. Baja digunakan sebagai bahan kontruksi karena memiliki kekuatan geser yang lebih besar, serta lebih mudah dalam pemasangan dan penghubung antara bagian. Gedung parkir ini memiliki tinggi 5 lantai, dengan panjang 29,4 meter, lebar bangunan 10,95 meter, dan ketinggian 15 meter. Perencanaan struktur baja gedung parkir lima lantai meliputi serangkaian analisis dan desain untuk memastikan bangunan aman, stabil, dan memenuhi standar yang berlaku. Proses ini meliputi analisa tanah, penentuan beban, pembuatan model struktur, serta perhitungan ukuran dan penulangan bagian – bagian struktur seperti lantai, balok, kolom, dan pondasi. Analisa pada gedung parkir ini dilakukan dengan menggunakan SAP2000 yang menghasilkan balok menggunakan profil IWF 250.250, kolom 1 menggunakan profil IWF 400.400, serta kolom 2 menggunakan profil IWF 300.300. Perencanaan pondasi menggunakan pondasi tiang pancang kedalaman 11 m.
DESIGN OF A 5-STOREY OFFICE BUILDING USING REINFORCED CONCRETE STRUCTURE Yordania Agusti; Muhammad Febrian Ardiyansah; Atha Fauziah; Galang Nur Muhammad; Nor Hidayati
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.9129

Abstract

The design of a five-storey office building using a reinforced concrete structural system aims to produce a strong, stable, and earthquake-resistant building in accordance with national standards. This study was carried out through primary data collection from soil cone penetration tests and secondary data from relevant literature and design codes. Structural analysis was conducted using SAP2000 software to determine internal forces, moments, and deflections of structural components. The applied loads included dead, live, rain, and seismic loads, referring to SNI 1726:2019, SNI 2847:2019, and SNI 1727:2020. The results indicate that the optimal floor and roof slab thicknesses are 120 mm and 100 mm, respectively; main beams are sized 25×45 cm with 3D22–2D22 reinforcement; columns are 50×50 cm with 6D22 bars; and the bore pile foundation has a 0.35 m diameter and 9 m depth. All structural components meet the strength and safety requirements specified by SNI standards. This design serves as a reference for efficient, safe, and earthquake-resistant office building planning in Indonesia. PERENCANAAN GEDUNG KANTOR 5 LANTAI MENGGUNAKAN STRUKTUR BETON BERTULANGPerencanaan struktur gedung kantor lima lantai menggunakan sistem beton bertulang bertujuan untuk menghasilkan rancangan bangunan yang kuat, stabil, dan aman terhadap beban gempa sesuai standar nasional. Penelitian ini dilakukan melalui tahapan pengumpulan data primer berupa hasil uji sondir tanah serta data sekunder dari literatur dan peraturan teknis. Analisis struktur dilakukan dengan perangkat lunak SAP2000 untuk menghitung gaya dalam, momen, serta lendutan pada setiap elemen struktur. Beban yang diperhitungkan meliputi beban mati, beban hidup, beban hujan, serta beban gempa berdasarkan SNI 1726:2019, SNI 2847:2019, dan SNI 1727:2020. Hasil perencanaan menunjukkan bahwa pelat lantai dan atap memiliki tebal optimal 120 mm dan 100 mm, balok induk berukuran 25×45 cm dengan tulangan 3D22–2D22, kolom 50×50 cm dengan tulangan 6D22, serta pondasi bore pile berdiameter 0,35 m dan panjang 9 m. Berdasarkan hasil analisis, seluruh elemen struktur memenuhi kriteria kekuatan dan keamanan sesuai ketentuan SNI. Perencanaan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam merancang gedung kantor bertingkat yang efisien, aman, dan tahan gempa di Indonesia.
ANALYSIS OF WATER QUALITY IN SUPPORTING MANGROVE ECOSYSTEM REHABILITATION ON THE BULAKBARU COAST, JEPARA Desti Setiyowati; Arif Mustofa; Nurcahyo Kursistiyanto
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.9163

Abstract

Mangrove ecosystems play an essential role in maintaining the stability of coastal environments; however, mangrove conditions along the Bulakbaru coast, Jepara, have been increasingly pressured by coastal abrasion and human activities. The success of mangrove rehabilitation efforts is strongly influenced by surrounding water quality conditions. This study aimed to evaluate water quality as a supporting basis for mangrove ecosystem rehabilitation in the Bulakbaru coastal area, Jepara. The research was conducted in August 2024 by establishing three observation stations selected using a purposive sampling method. Water quality parameters analyzed included temperature, salinity, pH, dissolved oxygen (DO), ammonia (NH₃), nitrate (NO₃⁻), phosphate (PO₄³⁻), and total suspended solids (TSS). Physicochemical parameters were measured in situ and through laboratory analysis, and the results were subsequently compared with marine water quality standards for biota based on the Decree of the Minister of Environment No. 51 of 2004. The results indicated that temperature, salinity, pH, phosphate, and ammonia generally remained within the established quality standards. Dissolved oxygen concentrations exhibited spatial variation, with low values observed at Station II, indicating environmental stress associated with high organic loads and limited water circulation. Furthermore, nitrate concentrations at all observation stations exceeded the permissible threshold, while relatively high TSS values reflected strong influences from terrestrial activities. Overall, the water quality conditions of the Bulakbaru coastal waters still have the potential to support mangrove rehabilitation; however, sustainable management of nutrient and organic matter inputs from land is required.   ANALISIS KUALITAS AIR DALAM MENDUKUNG REHABILITASI EKOSISTEM MANGROVE DI PESISIR BULAKBARU, JEPARA Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, namun keberadaannya di pesisir Bulakbaru, Jepara, mengalami tekanan akibat abrasi dan aktivitas antropogenik. Keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat dipengaruhi oleh kondisi kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air sebagai dasar pendukung rehabilitasi ekosistem mangrove di pesisir Bulakbaru, Jepara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2024 dengan menetapkan tiga stasiun pengamatan menggunakan metode purposive sampling. Parameter kualitas air yang dianalisis meliputi suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut (DO), amonia (NH₃), nitrat (NO₃⁻), fosfat (PO₄³⁻), dan total padatan tersuspensi (TSS). Pengukuran parameter fisika-kimia dilakukan secara in situ dan analisis laboratorium, kemudian dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk biota berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu, salinitas, pH, fosfat, dan amonia umumnya masih berada dalam kisaran baku mutu. Nilai DO menunjukkan variasi antar stasiun, dengan kondisi rendah pada Stasiun II yang mengindikasikan adanya tekanan lingkungan akibat beban organik dan sirkulasi air yang kurang optimal. Konsentrasi nitrat di seluruh stasiun telah melampaui baku mutu, sedangkan nilai TSS relatif tinggi yang mencerminkan kuatnya pengaruh aktivitas daratan. Secara keseluruhan, kualitas perairan pesisir Bulakbaru masih berpotensi mendukung rehabilitasi mangrove, namun diperlukan pengelolaan input nutrien dan bahan organik dari daratan secara berkelanjutan.
STRATEGIES TO REDUCE KILN OPERATIONAL DOWNTIME CAUSED BY AIR PRESSURE DROPS AT PT SEMEN GRESIK, REMBANG PLANT Yunita Primasanti; Cahya Widya Pratama; Agung Widiyanto Fajar Sutrisno
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.9187

Abstract

The cement industry is a strategic sector in supporting national infrastructure development. PT Semen Gresik's Rembang factory faces high kiln operational downtime due to reduced air pressure. This impacts production efficiency, increases operational costs, and accelerates equipment lifespan. This study aims to identify the main factors causing reduced air pressure in the kiln operating system and formulate a strategy to minimize downtime using the New Seven Tools approach. The results show that the reducing air pressure is the most significant cause of downtime with a frequency of 82.2% and a duration of 80.2%. The dominant factors are signals from the MCC and compressor are not being sent to the Central Control Room (CCR), frequent trips on the MCC due to surge loads when starting the compressor, overheating of the compressor contactor and power cable, and the lack of an auto-restart feature for the compressor control panel after trips and start-stops from the CCR. Recommended improvement strategies include modifying the MCC to send signals to the Central Control Room (CCR), evaluating the breaker and feeder capacity, replacing power cables in accordance with the KHA, and increasing preventive maintenance on the compressor. The study concludes that implementing a New Seven Tools-based repair strategy is effective in reducing the risk of kiln downtime due to reduced air pressure, while simultaneously increasing the efficiency and reliability of kiln operations at PT Semen Gresik's Rembang Factory. STRATEGI PENURUNAN DOWNTIME OPERASIONAL AKIBAT PENURUNAN TEKANAN UDARA DI PT. SEMEN GRESIK PABRIK REMBANGIndustri semen merupakan sektor strategis yang berperan penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur nasional. PT Semen Gresik Pabrik Rembang menghadapi permasalahan tingginya downtime operasional kiln akibat penurunan tekanan udara, yang berdampak pada efisiensi produksi, peningkatan biaya operasional, serta percepatan penurunan usia pakai peralatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor utama penyebab penurunan tekanan udara pada sistem operasional kiln dan merumuskan strategi penurunan downtime dengan pendekatan New Seven Tools. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan tekanan udara menjadi penyebab downtime terbesar dengan persentase frekuensi 82,2% dan durasi 80,2%. Faktor dominan yang memengaruhi permasalahan adalah sinyal dari MCC dan kompresor tidak dikirim ke Central Control Room (CCR),Sering terjadi trip pada MCC karena beban lonjakan saat starting kompresor, Kontaktor dan kabel power kompresor overheat, Panel kontrol kompresor tidak memiliki fitur auto restart setelah trip dan start-stop dari CCR. Strategi perbaikan yang direkomendasikan antara lain: Modifikasi MCC agar dapat mengirimkan sinyal ke Central Control Room (CCR), evaluasi kapasitas breaker dan feeder, penggantian kabel power sesuai KHA, serta peningkatan pemeliharaan preventif pada kompresor. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penerapan strategi perbaikan berbasis New Seven Tools efektif dalam mengurangi risiko downtime kiln akibat penurunan tekanan udara, sekaligus meningkatkan efisiensi dan keandalan operasional kiln di PT Semen Gresik Pabrik Rembang
OVERALL LABOR EFFECTIVENESS (OLE) ANALYSIS FOR PRODUCTIVITY IMPROVEMENT IN THE ASSEMBLY PROCESS OF THE MUSICAL INSTRUMENT MANUFACTURING INDUSTRY Rheidika Aryaduta; Ali Parkhan
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.9433

Abstract

Manual-based piano assembly industries rely heavily on workforce effectiveness; however, productivity performance often fails to meet company targets. In the Disklavier Assembly Grand Piano section, labor productivity did not achieve the expected 15% increase, from 0.193 to 0.222 units/person/hour, indicating the need for a systematic evaluation of workforce performance to identify underlying problems. This study aims to evaluate labor effectiveness using the Overall Labor Effectiveness (OLE) approach, which consists of three key dimensions: Availability, Performance, and Quality. The research employed direct observation and daily operational data collection from March to May 2025, resulting in 59 observation data points. The analysis involved calculating OLE values and identifying the main causes of performance gaps as the basis for improvement proposals. The results show an average OLE of 58%, which is below the international benchmark of 85%. The Availability Ratio reached 91%, while the Performance Ratio was only 65% and the Quality Ratio was 92%. Low performance was mainly caused by time waste, limited work aids, workload imbalance, and the absence of visual control systems, whereas quality issues were primarily driven by manual assembly errors and insufficient precision tools. The implementation of improvement proposals, including visual control systems, additional work aids, and process standardization, increased productivity by 12.3%, from 0.193 to 0.217 units/person/hour. These findings confirm that the OLE approach is effective for improving productivity in manual labor-based piano assembly operations. ANALISIS OVERALL LABOR EFFECTIVENESS (OLE) UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADA PROSES PERAKITAN PADA INDUSTRI MUSIKIndustri perakitan piano yang masih didominasi proses manual sangat bergantung pada efektivitas tenaga kerja, namun pada praktiknya sering menghadapi permasalahan produktivitas yang belum mencapai target perusahaan. Pada section Disklavier Assembly Grand Piano, produktivitas kelompok kerja belum mampu memenuhi target peningkatan sebesar 15%, yaitu dari 0,193 unit/orang/jam menjadi 0,222 unit/orang/jam. Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi sistematis terhadap kinerja tenaga kerja untuk mengidentifikasi faktor penyebab rendahnya produktivitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas tenaga kerja menggunakan pendekatan Overall Labor Effectiveness (OLE), yang mencakup tiga dimensi utama: Availability, Performance, dan Quality. Metode penelitian dilakukan melalui observasi langsung dan pengumpulan data operasional harian selama periode Maret–Mei 2025 dengan total 59 data pengamatan. Analisis dilakukan dengan menghitung nilai OLE serta mengidentifikasi penyebab utama rendahnya kinerja sebagai dasar penyusunan usulan perbaikan. Hasil pengukuran menunjukkan nilai rata-rata OLE sebesar 58%, masih di bawah standar internasional sebesar 85%. Availability Ratio mencapai 91%, namun Performance Ratio hanya 65% dan Quality Ratio sebesar 92%. Rendahnya performance disebabkan oleh pemborosan waktu kerja, keterbatasan alat bantu, ketidakseimbangan beban kerja, serta ketiadaan sistem visual, sedangkan permasalahan kualitas dipicu oleh kesalahan perakitan manual dan kurangnya alat bantu presisi. Implementasi usulan perbaikan berbasis visual control, penambahan alat bantu, serta standarisasi proses terbukti meningkatkan produktivitas sebesar 12,3%, dari 0,193 menjadi 0,217 unit/orang/jam. Hasil ini menunjukkan bahwa analisis OLE efektif dalam meningkatkan produktivitas pada industri perakitan piano berbasis kerja manual.
USE OF THE SIX SIGMA METHOD TO REDUCE BAD CONE DEFECTS AND IMPROVE QUALITY IN THE SPINNING UNIT OF PT. DAN LIRIS Diah Ayu Purwitasari; Yunita Primasanti; Erna Indriastiningsih
Jurnal Disprotek Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdpt.v17i1.9508

Abstract

The textile industry must produce high-quality products with low defect rates to improve competitiveness and customer satisfaction. This research was conducted at the spinning unit of PT. Dan Liris, which still faces problems with bad cone defects in the winding process, such as wrinkles, crossing, ring cones, dirty yarn, and weights that do not meet standards. This study aims to analyse the level of bad cone defects, identify the main causal factors, and provide improvement suggestions to improve yarn product quality. The method used Six Sigma with the DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control) approach. Data were obtained from the production results of winding machines from July 2024 to March 2025. The analytical tools used include Pareto diagrams, P control charts, fishbone diagrams, and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) to determine improvement priorities based on the Risk Priority Number (RPN) value. The results show that the dominant defects are wrinkles and crossing, with DPMO values and initial sigma levels indicating that the process still needs improvement. The factors causing defects come from aspects of machines, work methods, materials, and people. Kaizen-based improvement proposals reduced the number of bad cone defects, decreased the DPMO value, and increased the process sigma level. Thus, the implementation of the Six Sigma method has proven effective in improving yarn product quality and supporting zero-defect efforts at the spinning unit of PT. Dan Liris.PENGGUNAAN METODE SIX SIGMA UNTUK MENGURANGI CACAT BAD CONE DAN MENINGKATKAN KUALITAS PADA UNIT SPINNING PT. DAN LIRISIndustri tekstil dituntut untuk menghasilkan produk dengan kualitas tinggi dan tingkat kecacatan yang rendah guna meningkatkan daya saing dan kepuasan pelanggan. Penelitian ini dilakukan pada unit spinning PT. Dan Liris yang masih menghadapi permasalahan cacat bad cone pada proses winding, seperti wrinkle, crossing, ring cone, benang kotor, serta berat tidak sesuai standar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecacatan bad cone, mengidentifikasi faktor penyebab utama, serta memberikan usulan perbaikan guna meningkatkan kualitas produk benang. Metode yang digunakan adalah Six Sigma dengan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control). Data diperoleh dari hasil produksi mesin winding periode Juli 2024 hingga Maret 2025. Alat analisis yang digunakan meliputi diagram Pareto, peta kendali P, diagram fishbone, serta Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk menentukan prioritas perbaikan berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cacat dominan adalah wrinkle dan crossing, dengan nilai DPMO dan level sigma awal yang menunjukkan proses masih perlu ditingkatkan. Faktor penyebab cacat berasal dari aspek mesin, metode kerja, material, dan manusia. Usulan perbaikan berbasis Kaizen mampu menurunkan jumlah cacat bad cone, menurunkan nilai DPMO, serta meningkatkan level sigma proses. Dengan demikian, penerapan metode Six Sigma terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas produk benang dan mendukung upaya zero defect di unit spinning PT. Dan Liris.