cover
Contact Name
Endang Sriyati
Contact Email
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jppi.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia
ISSN : 08535884     EISSN : 25026542     DOI : -
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia accepts articles in the field of fisheries, both sea and inland public waters. The journal presents results of research resources, arrest, oceanography, environmental, environmental remediation and enrichment of fish stocks.
Arjuna Subject : -
Articles 1,074 Documents
KERAGAAN PERIKANAN CUCUT DAN PARI DI LAUT JAWA Dharmadi Dharmadi; Kamaluddin Kasim
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 16, No 3 (2010): (September 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.621 KB) | DOI: 10.15578/jppi.16.3.2010.205-216

Abstract

Penelitian cucut dan pari di Laut Jawa bertujuan untuk mengetahui keragaan tipe dan spesifikasi alat tangkap, komposisi hasil tangkapan dari beberapa alat tangkap termasuk komposisi jenis cucut dan pari yang tertangkap, musim, dan daerah penangkapan sebagai bahan alternatif kebijakan pengelolaan sumber daya perikanannya. Penelitian ini dilakukan di empat lokasi pendaratan ikan utama yaitu di Tempat Pendaratan Ikan Muara Angke (Jakarta), Tempat Pendaratan Ikan Kejawanan - Cirebon (Jawa Barat), Tempat Pendaratan Ikan Juwana Pati (Jawa Tengah), dan Tempat Pendaratan Ikan Brondong (Jawa Timur). Data dan informasi perikanan cucut dan pari diperoleh dengan menggunakan metode pencatatan langsung hasil tangkapan cucut dan pari dari kapal dan data hasil tangkapan harian kapal yang menangkap cucut dan pari dari enumerator serta wawancara dengan nelayan atau nahkoda kapal untuk mengetahui alat tangkap yang digunakan dan daerah penangkapannya. Hasil penelitian menunjukan terdapat sembilan jenis alat tangkap cucut dan pari yang beroperasi di Laut Jawa yaitu jaring liongbun, jaring insang dasar mata kecil, jaring tiga lapis, jaring arad, jaring hanyut tuna, pancing senggol, rawai dasar, rawai tuna dan bubu. Komposisi jenis ikan cucut dan pari yang tertangkap bervariasi berdasarkan atas jenis alat tangkap yang digunakan. Jenis cucut yang tertangkap rawai dasar berturut-turut didominansi oleh Carcharhinus sorrah (35%), Carcharhinus falciformis (30%), Sphyrna lewini (15%), Isurus oxyrhynchus dan Chylocylliumpunctatum masing-masing adalah 10%. Sedangkan pancing rawai dasar terdiri dari atas Rhynchobatus djiddensis (30%), Himantura gerrardi dan Himantura undulata masing-masing (25%), dan Gymnura zonura (20%). Komposisi jenis pari dari hasil tangkapan cantrang didominansi oleh Himantura undulata (30%), Neotrygon kuhlii (20%), dan secara berturut-turut diikuti oleh Himantura gerrardi (15%), Pastinachus sephen, Himantura uarnacoides dan Dasyatis microps masing-masing (10%), dan Himantura jenskinsii (5%). Di Laut Jawa puncak musim penangkapan cucut terjadi bulan September sedangkan puncak musim penangkapan ikan pari terjadi pada bulan Maret, Juni dan September. Research on performance shark and ray fishery in the Java Sea aims to obtain data and information as alternative fishery resource management policies. The study was conducted in four major fish landing sites namely, Muara Angke (Jakarta), Cirebon (West Java), Juwana-Pati (Central Java) and Brondong (East Java). Source of data was based on daily catch that recorded by enumerators and interviews with fishermen as well. The results showed that there were nine types of shark and ray fishing gear in the Java Sea, i.e. large demersal bottom gillnet, small demersal bottom gillnet, trammel net, danish seine, tuna drift gillnet, rays bottom long line fisheries bottom long line, tuna long line and portable traps. Fish species composition of shark and ray were caught varies by type of fishing gear used. Type of shark caught by bottom long line was dominated by Carcharhinus sorrah (35%), Carcharhinus falciformis (30%), Sphyrna lewini (15%), Isurus oxyrhynchus, and Chiloscyllium punctatum was 10%, respectively. Whilst demersal longlines consisted of Rhynchobatus djiddensis (30%), Himantura undulate, Himantura gerrardi was 25%, respectively and Gymnura zonura (20%). Stingray species composition of the catch was dominated by Himantura undulata (30%), Neotrygon kuhlii (20%), and followed by Himantura gerrardi (15%), Pastinachus sephen, Himantura uarnacoides, and Dasyatis microps each (10%), and Himantura jenskinsii (5%). The peak fishing season of shark occured in September while the ray occured in March, June and September in the Java Sea.
PENGGUNAAN BAKTERI PROBIOTIK SEBAGAI KONTROL BIOLOGI DALAM PRODUKSI MASSAL BENIH RAJUNGAN (Portunus pelagicus) Bambang Susanto; Irwan Setyadi; Dewi Syahidah; Muhammad Marzuqi; Ibnu Rusdi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3589.49 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.1.2005.15-23

Abstract

Penelitian dilakukan untuk dapat mengontrol lingkungan secara biologis dalam produksi massal melalui penggunaan bakteri probiotik serta meningtkatkan keragaan pertumbuhan larva rajungan (Portunus pellagicus)
IMPLIKASI PERSEPSI HAK KEPEMILIKAN TERHADAP TINDAKAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN LAUT (STUDI KASUS DI DESATELUK, KABUPATEN PANDEGLANG, PROPINSI BANTEN) Fatriyandi Nur Priyatna; Tjahjo Tri Hartono; Zahri Nasution
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9493.57 KB) | DOI: 10.15578/jppi.11.9.2005.15-26

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi hak kepemilikan, dasar pengambilan keputusan dalam bertindak dan implikasinya terhadap model pengelolaan sumberdaya perikanan (SDP). Metode penelilian yang dipilih adalah metode triangulasi, yaitu gabungan dari studi kasus, observasi dan studi pustiaka. Penelitian dilakukan di Desa Teluk, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten selama Bulan April-Juni 2004.
BEBERAPA ASPEK PEMASARAN IKAN AIR TAWAR DI KABUPATEN MUARA ENIM, SUMATERA SELATAN Zahri Nasution; Mas Tri Djoko Sunarno
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6183.928 KB) | DOI: 10.15578/jppi.8.7.2002.57-66

Abstract

Riset tentang pemasaran ikan air tawar di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatantelah dilakukan menggunakan pendekatan Rapid Appraisal. Penetapan wilayah kecamatan contoh dilakukan secara sengaja menggunakan kriteria mewakili daerah bagian hulu, tengah dan hilir wilayah kabupaten.
PREVALENSI, INTENSITAS, DAN TRANSMISI WHITE SPOT SYNDROME VIRUS (WSSV) PADA BUDI DAYA UDANG WINDU, Penaeus monodon Muliani Muliani; Andi Parenrengi; Sulaeman Sulaeman; Muharijadi Atmomarsono
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6537.323 KB) | DOI: 10.15578/jppi.10.5.2004.103-110

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat prevalensi, intensitas, dan transmisi White Spot Syndrome Virus (WSSV) pada budi daya udang windu, Penaeus monodon. Berbagai jenissampel dikoleksi dari tahapan budi daya yang berbeda yakni dari perbenihan meliputi: induk, telur, pakan induk, artemia, larva, dan air pemeliharaan sedangkan dari pembesaran di tambak meliputi: yuwana udang windu, air, sedimen, pakan alami, pakan buatan, udang-udang liar, jembret, trisipan, kepiting liar, moluska liar, lumut, dan ikan-ikan liar yang hidup di dalam tambak.
PENENTUAN TOKSISITAS LETAL DAN AMBANG KONSENTRASI AMAN HERBISIDA 2,4.D DIMETIL AMINA, ISOPROPIL GLIFOSAT DAN BUTAKLOR, PADA BENIH IKAN NILA (Oreocltromis niloticus) Santosa Koesoemadinata; Sutrisno Sutrisno
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5653.817 KB) | DOI: 10.15578/jppi.3.2.1997.18-26

Abstract

Penggunaan herbisida untuk menanggulangi gulma dalam budidaya tanaman padi meningkat tahun demi tahun, khususnya dengan diterapkannya sistem TOT (Tanpa Olah Tanah) dan TABELA (Tebar Benih Langsung). Peningkatan pemakaian bahan agrokimia ini di agroekosistem pertanian dapat berdampak negatif bagi ikan dan perikanan.
KARAKTERISTIK POPULASI UDANG JERBUNG (Penaeus merguiensis de Man, 1888) DI PERAIRAN CILACAP DAN SEKITARNYA Ali Suman; Budi Iskandar Prisantoso
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.46 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.1.2017.11-18

Abstract

Tingginya permintaan pasar terhadap udang jerbung mengakibatkan aktivitas penangkapannya berlangsung secara terus-menerus sepanjang tahun sehingga mengancam kelestariannya. Penelitian karakteristik populasi merupakan salah satu dasar utama dalam merumuskan pengelolaan menuju pemanfaatannya secara lestari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik populasi udang jerbung di perairan Cilacap dan sekitarnya. Penelitian dilakukan dari bulan Januari sampai dengan Nopember 2013 dengan metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata ukuran panjang pertama kali matang kelamin (Lm) udang jerbung di perairan Cilacap dan sekitarnya adalah pada panjang karapas 38,3 mm dan musim pemijahan berlangsung sepanjang tahun dengan puncaknya pada bulan Januari. Laju pertumbuhan udang jerbung jantan adalah 1,00 per tahun dan panjang karapas maksimum (L ) adalah 40,7 mm serta untuk udang betina didapatkan nilai K adalah 1,10 per tahun dan nilai Loo adalah 54,2 mm. Laju kematian total (Z) udang jerbung jantan adalah 2,46 per tahun, laju kematian karena penangkapan (F) dan laju kematian alami (M) masing-masing 1,37 per tahun dan 1,09 per tahun. Untuk udang betina didapatkan nilai Z adalah 1,69 per tahun, nilai F dan nilai M masing-masing 0,61 dan 1,08 per tahun. Laju pengusahaan (E) udang jerbung jantan adalah 0,56 per tahun dan nilai E udang betina adalah 0,36 per tahun. Pola penambahan baru udang jerbung di perairan Cilacap berlansung sepanjang tahun dengan puncaknya pada bulan Maret dan April. Tingkat pemanfaatan udang jerbung jantan sudah berada dalam tahapan overfishing dan perlu dilakukan pengurangan jumlah upaya.High market demand of banana prawn have consequence in fishingactivities which is carried out continuously throughout the year, so that could be threaten of resources sustainability. Scientific advices on the population characteristic are required as an input to support fisheries management. The purpose of the study was to identify population characteristic of the banana prawn with survey method. Study on the population characteristic of banana prawn (P. merguiensis de Man) was conducted in Cilacap and the surrounding waters based on data collected during, January 2013 to November 2013. Result showed that the size at first maturity (Lm) of banana prawn was 38.3 mm in carapace length. The spawning season of banana prawn in Cilacap and the surrounding waters occures throughout the year with the peak in January. The growth parameters of male (K) was 1.0/year with maximum carapace length (L ) of 40.7 mm and K for female was 1.10/year with maximum carapace length of 54,2 mm. Instantaneous total mortality rate (Z) and natural mortality rate (M) of male were 2.46/year and 1.09/year, respectively. While fishing mortality (F) and exploitation rate (E) respectively were 1.37/year and 0.56/year. The total mortality (Z) and natural mortality (M) of female  respectively were 1.69/year and 1.08/year. Fishing mortality (F) and exploitation rate (E) were 0.61/ year and 0.36/year. The recruitment pattern of banana prawn in Cilacap and surrounding waters occures throughout the year with two peaks in March and April. The exploitation rate of male of banana prawn fisheries in Cilacap waters was high. It was, therefore, recommended that fishing effort of the banana prawn in that waters should be reduced in the next year.
KEPADATAN DAN DISTRIBUSI UKURAN IKAN NAPOLEON (Cheilinus undulatus) DI PERAIRAN KARANG BUTON DAN WAKATOBI, SULAWESI TENGGARA Isa Nagib Edrus; Kris Handoko
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9417.487 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.2.2017.131-139

Abstract

Kajian tentang ukuran populasi ikan napoleon (Cheilinus undulatus) merupakan bagian dari upaya pengelolaan sumberdaya ikan rawan punah. Penelitian ikan napoleon dilaksanakan di perairan karang Kabupaten Buton (2014) dan Wakatobi (2016). Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi kepadatan populasi napoleon dan distribusi frekuensi panjang ikan napoleon. Metode pengambilan data yang digunakan adalah Underwater Visual Census (UVC) dengan alat bantu GPS-ploating Kit sebagai penentu luas area sensus. Jumlah individu ikan napoleon yang ditemukan dalam satuan luas area sensus dihitung sebagai kepadatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan ikan napoleon di Buton dan Wakatobi masing-masing 0,76 dan 0,93 individu /ha. Nilai kepadatan ikan napoleon masuk kategori kritis dengan tingkat kepadatan sedang. Ukuran ikan anakan napoleon cukup banyak di Buton (26 %) dan ukuran dewasa terbanyak (100 %) dijumpai di Wakatobi, yaitu antara 30 – 50 cm. Ukuran ini termasuk dalam ukuran terlarang panen.  Assessing the population sizes of humphead warasse (Cheilinus undulatus) is vital to manage an endangered fish resource. This research aims to examine the population density and length distribution. This study was carried out at reef waters of Buton (2014) and Wakatobi (2016). A method used in data colection is underwater vicual census (UVC). The GPS-ploating Kid used as additional tool to record sensus areas. Results show that densities of humphead warasse in Buton and Wakatobi were 0.76 and 093 individual per hectar, respectively.  The status was critical and a fair density level. In Buton domined by juvenile (15) valued about 26 %. While, in Wakatobi domined by larger size (30 to 50 cm). However, both size was forbidden for exploiding.
STRUKTUR KOMUNITAS DAN BIOMASSA STOK IKAN DI DANAU SEMBULUH DAN PAPUDAK, KALIMANTAN TENGAH Endi Setiadi Kartamihardja; Kunto Purnomo; Zulkarnaen Fahmi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.877 KB) | DOI: 10.15578/jppi.17.4.2011.285-291

Abstract

Danau Sembuluh (luas 9.612 ha) dan Papudak (luas 247 ha) adalah danau banjiran (flood lake) yang terletak di bagian tengah DAS Seruyan, Kalimantan Tengah merupakan sentra penangkapan ikan. Penelitian ini ditujukan untuk mendeskripsikan struktur komunitas dan besaran stok ikan serta karakteristik perikanan tangkap di ke dua danau tersebut. Penelitian dilakukan dengan metode survey, pengambilan sampel ikan dengan menggunakan gill net percobaan dan pencatatan data hasil tangkapan ikan harian oleh enumerator. Besaran stok ikan dianalisis menggunakan metode akustik dengan alat Echo sounder portable EY-60, transducer model ES120-7 dengan frekuensi 120 Khz dan alat dioperasikan pada pulsa durasi 0,512 ms. Komposisi jenis ikan yang tertangkap di Danau Sembuluh dan Papudak terdiri dari 29 jenis yang didominasi oleh jenis ikan dari famili Cyprinidae. Beberapa jenis ikan yang populasinya menurun dan jarang tertangkap adalah ikan jelawat (Leptobarbus hoevenii), patin (Pangasius spp), bakut (Oxyeleotris marmorata) dan pipih (Notopterus spp). Biomassa stok ikan berkisar antara 64-1.628 kg/ha dengan rata-rata 461,8 kg/ha atau total biomasa stok ikan 4.552,4 ton. Hasil tangkapan ikan berkisar antara 10.212– 9.649 kg/bl dengan rata-rata 39.608 kg/bl, sedangkan rata-rata hasil tangkapan udang galah 1.046 kg/bl. Hasil tangkapan ikan dan udang galah berfluktuasi menurut musim dan fluktuasi permukaan air danau. Produksi ikan di Danau Sembuluh masih dapat ditingkatkan melalui penebaran ikan asli (restocking) yang populasinya sudah menurun sedangkan Danau Papudak sangat potensial untuk dijadikan kawasan suaka produksi ikan. Sembuluh (9,612 ha) and Papudak (247 ha) lakes, a type of flood lake located at central part of Seruyan river basin, is a main fishing area at Central Kalimantan. A study to investigate structure of fish community, fish biomass and characteristics of fisheries of the both lakes has been conducted. A survey method, sampling by using experimental gillnet and daily data of fish catches collected by enumerators were carried out. Fish biomass was analyzed by using hydroaccoustics method with a portable Echo sounder EY-60, transducer model ES120-7 with the frequency of 120 KHz and its operated at pulse duration of 0,512 ms. The results showed that structure of fish community of the Sembuluh and Papudak lakes composed of 29 species which is dominated by species of the cyprinids. Some degraded and rare species are carp (Leptobarbus hoevenii), catfish (Pangasius spp), sand goby (Oxyeleotris marmorata) and feather back (Notopterus spp). Fish stock kibiomass ranged between 64-1,628 kg/ha with an average of 461.8 kg/ha or the total biomass 4,552.4 tones. The actual fish yield was between 10,212– 79,649 kg/month with an average of 39,608 kg/month, while the actual giant prawn yield was 1,046 kg/ month. The fish and giant prawn yield fluctuated by monsoon and water surface fluctuation. The fish production of the Sembuluh lake can be increased through restocking of degraded fish population while the Papudak lake was highly potential and suitable for conservation area.
PERKEMBANGAN HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI SEKITAR LAUT JAWA Achmad Zamroni; Suwarso Suwarso
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2579.065 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.4.2009.307-312

Abstract

Pukat cincin merupakan alat tangkap utama untuk perikanan pelagis kecil serta mempunyil peranan penting di dalam pengusahaan sumber daya perikanan di Laui iawa Armada pukat cincin berkembang pesat sejak tahun 1976 dan daerah penangkapan tersebar luas di perairan paparan Sunda, di antaranya Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Cina Selaian, Selat Karimata, dan saat ini telah mencaoai perairan Sulawesi. Tahun 1994 diindikasikan perkembangan daerah penangkapan ini telah mencapai maksimum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengemukakan perkernbangan hasil tangkapan dan upaya ikan pelagis di Laut Jawa berdasarkan pada data berbasis hasil tangkapan pukat cincin yang mendarat di Pekalongan tahun 2002 2007. Hasil perrelitian menunjukkan bahwa ikan layang (DecapterLts spp.) tetap merupakan jenis utama atau dominan hampir di semua daefah penangkapan, yailu 52% dari seluruh hasil tangkapan. Hasil tersebut tidak berbeda ciengan hasil pada tahun 1985-1992. Jumlah trip mengalami penurunan yang cukup signifikan pada bulan Nopember 2005 karena adanya kenaikan harga bahan bakar minyak Penurunan jumlah trip ini diikuti dengan menrngkatnya jumlah hari di laut menjadi sekitar 2 buian. LaJu tangkap ieius mengalaml penurunan dari 1.OOO,7 kg per hari pada tahun 2004, menjadi 409 kg per hari pada tahun 2007. Ratarata laju tangkap tefsebut jauh lebih kecil iika dibandingkan pada tahtrn '1992-1996 yang mencapai 2,387 kg per hari. Di antara 7 daerah penangkapan di perairan Laut Jawa dan Selat Makassar, laju tangkap lebih tinggi dijumpai di perairan sekitar Kepulauan Kangean, yaitu sekilar 950 kg per hari. Purse serne is the main fishing gear of small pelagic fisheries and lhe most impoftant Eeat for flsheries resoufces exploitation in Java sea. since 1976, purse selre has spread out quickly and thc selners were able to extend their exploitation area outsicle the Java sea. ln 1994, it itldicated lhat fishing area has .eached the naxinium point. The purpose of this study is lo explain catch develapment of petagic fish in the Java sea based on catch data of purse sei}e that landed in Pekalongan fror', 2002-2007- Ihe rest//fs show that sca.rs (Decapterus sppJ species still provided the main target of the exploitation and reprcsents 52% of the total catclt. Thts condition was found similafly ilt 1985' 1992. The fishing trip of yesse/ decrease d significantly iti Navember 2005due ta tlte increase of fuel price. The day at sea increased up to 2 monlhs. Calch per unit of eflotl tllso decreasecl from 1,000.7 kg per day in 2OO4 becoming 4Og kg per day in 2OO7. This catch per unit ol effoft was significanUy stnaller than lhe resutts in 1992-1996 that reached 2,387 kg per day. From lhe seven fishing areas of waters around lhe Kangean archipelago provided the highest catch per unit af effott, of ahout 9 50 kg per day.

Page 69 of 108 | Total Record : 1074


Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2026): (Maret 2026) Vol 31, No 4 (2025): (Desember 2025) Vol 31, No 3 (2025): (September 2025) Vol 31, No 2 (2025): (Juni 2025) Vol 31, No 1 (2025): (Maret 2025) Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024) Vol 30, No 3 (2024): (September) 2024 Vol 30, No 2 (2024): (Juni) 2024 Vol 30, No 1 (2024): (Maret) 2024 Vol 29, No 4 (2023): (Desember) 2023 Vol 29, No 3 (2023): (September) 2023 Vol 29, No 1 (2023): (Maret) 2023 Vol 28, No 4 (2022): (Desember) 2022 Vol 28, No 3 (2022): (September) 2022 Vol 28, No 2 (2022): (Juni) 2022 Vol 28, No 1 (2022): (Maret) 2022 Vol 27, No 4 (2021): (Desember) 2021 Vol 27, No 3 (2021): (September) 2021 Vol 27, No 2 (2021): (Juni) 2021 Vol 27, No 1 (2021): (Maret) 2021 Vol 26, No 4 (2020): (Desember) 2020 Vol 26, No 3 (2020): (September) 2020 Vol 26, No 2 (2020): (Juni) 2020 Vol 26, No 1 (2020): (Maret) 2020 Vol 25, No 4 (2019): (Desember) 2019 Vol 25, No 3 (2019): (September) 2019 Vol 25, No 2 (2019): (Juni) 2019 Vol 25, No 1 (2019): (Maret) 2019 Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018 Vol 24, No 3 (2018): (September) 2018 Vol 24, No 2 (2018): (Juni 2018) Vol 24, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 23, No 3 (2017): (September 2017) Vol 23, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 23, No 1 (2017): (Maret, 2017) Vol 22, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 22, No 3 (2016): (September) 2016 Vol 22, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 22, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 21, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 21, No 3 (2015): (September 2015) Vol 21, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 21, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 20, No 4 (2014): (Desember 2014) Vol 20, No 3 (2014): (September 2014) Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014) Vol 20, No 1 (2014): (Maret 2014) Vol 19, No 4 (2013): (Desember 2013) Vol 19, No 3 (2013): (September 2013) Vol 19, No 2 (2013): (Juni 2013) Vol 19, No 1 (2013): (Maret 2013) Vol 18, No 4 (2012): (Desember 2012) Vol 18, No 3 (2012): (September 2012) Vol 18, No 2 (2012): (Juni) 2012 Vol 18, No 1 (2012): (Maret 2012) Vol 17, No 4 (2011): (Desember 2011) Vol 17, No 3 (2011): (September 2011) Vol 17, No 2 (2011): (Juni 2011) Vol 17, No 1 (2011): (Maret 2011) Vol 16, No 4 (2010): (Desember 2010) Vol 16, No 3 (2010): (September 2010) Vol 16, No 2 (2010): (Juni 2010) Vol 16, No 1 (2010): (Maret 2010) Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009) Vol 15, No 3 (2009): (September 2009) Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009) Vol 15, No 1 (2009): (Maret 2009) Vol 14, No 4 (2008): (Desember 2008) Vol 14, No 3 (2008): (September 2008) Vol 14, No 2 (2008): (Juni 2008) Vol 14, No 1 (2008): (Maret 2008) Vol 13, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 13, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 13, No 1 (2007): (April 2007) Vol 12, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 12, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 12, No 1 (2006): (April 2006) Vol 11, No 9 (2005): (Vol. 11 No. 9 2005) Vol 11, No 8 (2005): (Vol. 11 No. 8 2005) Vol 11, No 7 (2005): (Vol. 11 No. 7 2005) Vol 11, No 6 (2005): (Vol. 11 No. 6 2005) Vol 11, No 5 (2005): (Vol. 11 No. 5 2005) Vol 11, No 4 (2005): (Vol. 11 No. 4 2005) Vol 11, No 3 (2005): (Vol. 11 No. 3 2005) Vol 11, No 2 (2005): (Vol. 11 No. 2 2005) Vol 11, No 1 (2005): (Vol. 11 No. 1 2005) Vol 10, No 7 (2004): (Vol. 10 No. 7 2004) Vol 10, No 6 (2004): (Vol. 10 No. 6 2004) Vol 10, No 5 (2004): (Vol. 10 No. 5 2004) Vol 10, No 4 (2004): (Vol. 10 No. 4 2004) Vol 10, No 3 (2004): (Vol. 10 No. 3 2004) Vol 10, No 2 (2004): (Vol. 10 No. 2 2004) Vol 10, No 1 (2004): (Vol. 10 No. 1 2004) Vol 9, No 7 (2003): (Vol.9 No.7 2003) Vol 9, No 6 (2003): (Vol.9 No.6 2003) Vol 9, No 5 (2003): Vol. 9 No. 5 2003) Vol 9, No 4 (2003): Vol. 9 No. 4 2003) Vol 9, No 3 (2003): (Vol.9 No.3 2003) Vol 9, No 2 (2003): (Vol, 9 No. 2 2003) Vol 9, No 1 (2003): (Vol.9 No.1 2003) Vol 8, No 7 (2002): (Vol.8 No.7 2002) Vol 8, No 6 (2002): (Vol.8 No.6 2002) Vol 8, No 5 (2002): (Vol.8 No.5 2002) Vol 8, No 4 (2002): (Vol.8 No.4 2002) Vol 8, No 3 (2002): (Vol.8 No.3 2002) Vol 8, No 2 (2002): (Vol. 8 No. 2 2002) Vol 8, No 1 (2002): (Vol.8 No.1 2002) Vol 7, No 4 (2001): (Vol. 7 No. 4 2001) Vol 7, No 2 (2001): (Vol.7 No. 2 2001) Vol 6, No 3-4 (2000): (Vol.6 No.3-4 2000) Vol 6, No 2 (2000): (Vol.6 No.2 2000) Vol 6, No 1 (2000): (Vol.6 No.1 2000) Vol 5, No 2 (1999): (Vol.5 No.2 1999) Vol 5, No 1 (1999): (Vol.5 No. 1 1999) Vol 4, No 4 (1998): (Vol.4 No.4 1998) Vol 4, No 3 (1998): (Vol.4 No.3 1998) Vol 4, No 2 (1998): (Vol.4 No.2 1998) Vol 4, No 1 (1998): (Vol.4 No.1 1998) Vol 3, No 4 (1997): (Vol.3 No.4 1997) Vol 3, No 3 (1997): (Vol.3 No.3 1997) Vol 3, No 2 (1997): (Vol.3 No.2 1997) Vol 3, No 1 (1997): (Vol.3 No.1 1997) Vol 2, No 4 (1996): (Vol.2 No.4 1996) Vol 2, No 3 (1996): (Vol.2 No.3 1996) Vol 2, No 2 (1996): (Vol.2 No.2 1996) Vol 2, No 1 (1996): (Vol.2 No.1 1996) Vol 1, No 4 (1995): (Vol.1 No.4 1995) Vol 1, No 3 (1995): (Vol.1 No.3 1995) Vol 1, No 2 (1995): (Vol.1 No.2 1995) Vol 1, No 1 (1995): (Vol.1 No.1 1995) More Issue