cover
Contact Name
Iriyanto Widisuseno
Contact Email
humanika@undip.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humanika@undip.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
HUMANIKA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14129418     EISSN : 25025783     DOI : -
Humanika ISSN 2502-5783 (online), ISSN 1412-9418 (print) is an open access and peer-reviewed journal published by Faculty of Humanities, Diponegoro University, Indonesia. This Journal published twice a year (January-June and July-December).The scope of journal is: Literature, Linguistics, History, Art, Religion, and Philosophy.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
Peta Pikiran dalam Ungkapan Metaforis tentang Pandemi Covid-19 di Teks Berita: Kajian Linguistik Kognitif Nadira Rahmasari; Agus Subiyanto
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.46451

Abstract

Pandemi Covid-19 merupakan pengalaman menubuh bagi manusia yang membentuk peta pikiran baru dalam pikiran manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peta pikiran yang terungkap dalam metafora pandemi Covid-19 yang dapat dikonstruksi dari ungkapan metaforis yang terdapat dalam teks berita. Ungkapan metaforis yang terdapat dalam teks berita di media online merupakan data yang dikumpulkan dan dipilih secara purposif. Peta pikiran tentang pandemi Covid-19 ini merupakan bagian dalam studi linguistik kognitif. Peta pikiran digunakan untuk memvisualisasikan makna yang dikonstruksi manusia ke ungkapan metaforis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ungkapan metaforis dapat ditemukan lima metafora dalam pandemi Covid-19, yaitu: metafora kasus, metafora pandemi, metafora perbuatan manusia, metafora fenomena, dan metafora dampak. Peta pikiran tentang Covid-19 dapat digambarkan sebagai berikut. Covid-19 merupakan fenomena yang berdampak pada tatanan kehidupan manusia di seluruh dunia. Covid-19 dirasakan sebagai kasus yang berkembang sangat cepat yang menuntut tindakan yang cepat pula untuk menanggulanginya sehingga kasus Covid-19 bisa lenyap dari muka bumi ini.
Indonesian in Andrea Hirata’s Edensor Sukarni Suryaningsih
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.48440

Abstract

Culture is one of the uniqueness of humans that makes it have a way of surviving in the world. If animals grow anatomical organs to adapt and survive, then humans grow culture. Culture is our adaptive organ, it is our survival mechanism. This cultural world is an order of existence like no other because it is not shared by any other species. Culture adapts more quickly to new situations than changes in anatomy. That is why humans can move from one environment to another, whereas animals cannot. Culture is a collective product that includes general behavior, perception, emotion, self, and motivation, which then synthesizes individual behavior in a new form. The behavior of all individuals involved in a particular context is not always uniform or identical, but sociocultural contexts can shape people in various ways. Indonesian society has a cultural mentality that refers to a number of distinctive characteristics, both individuals and community groups which then can be a distinguishing feature from other nations. A friendly, helpful, and mutually cooperative character is some of the most often attributed to the nature of the Indonesian people. Literature as a cultural product can be a means to see the mental identity of the culture. The Edensor, a novel by Andrea Hirata, shows how the representation of Indonesian students and their mental and cultural identity in the midst of international relations, with Sorbonne University students. Through qualitative descriptive research with a constructionist approach from Stuart Hall's representation theory, this study's results indicate that Indonesian students' representation is tenacious, easily fascinated especially by Western society and culture, and tend to believe in superstition.
Maleficent As an Affectionate Fey in Disney’s 2019 Maleficent: Mistress of Evil Ni Komang Arie Suwastini; Ni Putu Diah Setyadewi; I Nyoman Pasek Hadi Saputra; Ni Nyoman Artini; I Gusti Ngurah Agung Wijaya Mahardika
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.48104

Abstract

Although Maleficent’s characterizations as wicked witch by the first Disney’s adaptation into Maleficent in 2014, the beginning of the 2019 sequel Maleficent: Mistress of Evil started with a prologue that Maleficent was narratively still considered evil, from which the plot evolves to reveal how the marginalizing characterization prevailed. Amidst this entanglement between the film’s plot and Maleficent’s character revelation, the present study aimed at elaborating Maleficent’s characterizations as an affectionate fey. The present study employed McKee’s (2003) textual analysis to observe Maleficent’s characterizations along the plot development, to reveal how the film portray Maleficent’s affectionate dispositions despite her formidable strength and appearance. The study concludes that Maleficent affections are highlighted through her actions toward the moors and the marginalized, as well as her blessings for Prince Phillip, underlining her willingness to admit her misjudgment and to repent because of her love for Aurora. This finding implies that the film’s plot development strongly relies on Maleficent’s character development facilitated by her strong affection as a surrogate mother.Although Maleficent’s character as a wicked witch has been deconstructed by the first Disney's adaptation of Maleficent in 2014, the beginning of the 2019 sequel Maleficent: Mistress of Evil started with a prologue that Maleficent was narratively still considered evil, from which the plot evolves to reveal how her marginalizing traits prevailed. Amidst this entanglement between the film's plot and Maleficent's character revelation, the present study aimed at elaborating on Maleficent's personality as an affectionate fey. The present study employed McKee’s (2003) textual analysis to observe Maleficent’s character development along the plot development to reveal how the film portrays Maleficent's growing affectionate dispositions despite her formidable strength and appearance. The study concludes that Maleficent's affections are highlighted through her loving, nurturing, and protective traits toward Aurora, the creatures of the Moors, other feys, and humans. With the depiction of these traits, Maleficent emerged as an affectionate Fey in human's eyes. They eliminate the prejudice against Maleficent, the feys, and the fairies, fostering a harmonious life between humans, the feys, and the fairies.
Studi Awal “Wkwk”: Ekspresi Tulisan Tawa Daring Masyarakat Indonesia Yuliana Hanami; Aulia Hanafitri; Muhammad Fathoni; Adzra Fathiya Hasna
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.47390

Abstract

“Wkwk” dikenal sebagai ekspresi tulisan tawa yang biasa digunakan pengguna internet di Indonesia. Kemunculan “wkwk” difasilitasi oleh interaksi daring antar pengguna internet melalui berbagai macam wadah, seperti game online, media sosial, blog, dan forum komunitas. Meskipun hingga kini penggunaannya sangat umum, pembahasan ilmiah berbasis data tentang “wkwk” masih sulit ditemukan. Penelitian ini bertujuan sebagai eksplorasi atas pemahaman tulisan tawa “wkwk” yang kaitannya tidak dapat terpisahkan dari perilaku interaksi pengguna media daring di Indonesia. Eksplorasi dilakukan dengan berfokus pada tiga hal mendasar: siapa saja pengguna “wkwk”, awal mula penyebaran “wkwk” berdasarkan pengalaman para penggunanya, dan variasi penulisan ekspresi teks “wkwk”. Data penelitian diperoleh melalui survei dengan penyebaran kuesioner secara daring melalui media sosial para peneliti menggunakan teknik convenience sampling dengan perolehan partisipan sebanyak 743 orang yang tersebar pada beberapa lokasi di Indonesia dan luar negeri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu perempuan dan laki yang tersebar pada rentang umur anak-anak hingga lansia menggunakan “wkwk” dalam berkomunikasi secara tertulis melalui berbagai macam media daring. WhatsApp menjadi media penyebaran yang paling banyak digunakan dalam penggunaan “wkwk”. Selain itu, ekspresi “wkwk” juga ditemukan lebih banyak terjadi dalam interaksi antar teman yang melibatkan percakapan sehari-hari. Tak hanya itu, variasi yang beragam dalam mengungkapkan tawa “wkwk” juga ditemukan terkait modifikasi kandungan huruf dan jenis huruf yang dituliskan. Temuan penelitian ini memperlihatkan gambaran umum tentang bagaimana tulisan tawa “wkwk” digunakan dalam komunikasi daring masyarakat Indonesia secara tertulis. Studi lanjutan mengenai aspek lain dari “wkwk” disarankan untuk dilakukan demi memperkaya salah satu khazanah bahasa daring di Indonesia.
Looking at Illocutionary Speech Acts between Lecturer and Students in Simultaneous Use of Different Online Learning Platforms Riski Amrina Sari; Sistia dinita
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.50215

Abstract

Lecturers, in the post-Covid-19 era, often used more than just one online platform to carry out the learning process. However, existing speech acts studies tend to focus on a dataset sourced from one online learning tool. There is a research gap on the illocutionary speech acts occurring in-class sessions where the lecturer and students used different learning tools at the same time for their lessons. Thus, this study aims to identify the most dominant illocutionary acts in a novel dataset comprised of lecturer-student interactions across (pre-activities) Zoom, (during and post-activities) Google Classroom, and WhatsApp throughout an entire semester (6 months) of first, third and fifth semesters EFL students of STBA Pontianak. This descriptive qualitative study tried to identify the five illocutionary speech acts according to Searle’s (1979) theory in the interactions between the lecturer and students across the three online learning platforms. Data on the participants’ utterances were collected via observation, recording, note-taking, and transcription. The data from 523 utterances were transcribed and carefully reduced to the required data based on the research question. Results showed four types of illocutionary speech acts occurred in different frequencies: assertive (114 utterances), directive (143 utterances), expressive (250 utterances), and commissive (16 utterances). The declarative type was not found, a pattern that was often present in previous studies, thus this study’s findings are in contrast to the majority of literature’s assertion that declarative is the type most dominant speech act used in the teaching-learning process. This research contributes a unique set of data and new considerations on the study of speech acts in online EFL classrooms.
Analisis Wacana Kritis: Pesan Belasungkawa sebagai Wacana Politik Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe Hadi Hidayat; Kasmawati Kasmawati
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.47118

Abstract

Penelitian ini menganalisis skematik wacana dan diksi pada pesan belasungkawa Perdana Menteri Jepang yang ditujukan kepada Presiden Republik Kenya, Perancis dan Republik Indonesia. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan skematik wacana dan diksi pada pesan belasungkawa Perdana Menteri Jepang yang ditujukan kepada Presiden Republik Kenya, Perancis, dan Republik Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan analisis wacana kritis model Teun van Dijk yang mencakup struktur mikro khususnya skematik dan diksi. Temuan penelitian ini adalah pertama, penghasil teks melalui skematik wacana, menunjukkan bahwa pesan belasungkawa yang ditujukan kepada Presiden Republik Kenya memiliki isi pesan yang lebih banyak berkenaan dengan aksi teror yang terjadi, dibanding pesan yang ditujukan kepada Presiden Perancis dan Presiden Republik Indonesia, dan kedua, diksi yang dipilih oleh penghasil teks memiliki perbedaan yang signifikan. Perbedaan ini sangat berkaitan dengan konteks situasi dan hubungan sosial-politik penghasil teks dengan ketiga negara tersebut.
Sistem Fonologi dan Dinamikanya dalam Bahasa Jawa di Kecamatan Ambal Kabupaten Kebumen M Malihatun; Siti Junawaroh; Erwita Nurdiyanto
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.48780

Abstract

Bahasa Jawa Ambal atau selanjutnya disebut BJA dikelompokkan ke dalam bahasa Jawa dialek Ngapak dan Bandek. Secara administrative, Kecamatan Ambal terdiri atas 32 desa. Berdasarkan jumlah desa tersebut, ditemukan adanya perbedaan dari masing-masing tempat. Perbedaan tersebut meliputi unsur fonologi dan unsur leksikon. Penelitian ini mengkaji fonologi yang ada di BJA. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan sistem fonologi BJA dan (2) memaparkan perubahan bunyi serta variasi bunyi yang ada dalam BJA. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan ini dapat memberikan deskripsi yang rinci dan detail terkait fonologi BJA. Sumber data diambil dari sampel desa berjumlah empat desa yaitu Desa Sidomukti, Desa Kaibon Petangkuran, Desa Banjarsari, dan Desa Peneket. Dari empat desa tersebut, diambil masing-masing satu informan penutur BJA yang memenuhi beberapa kriteria untuk dijadikan sumber data primer. Data dikumpulkan menggunakan teknik cakap bertemu muka berteknik dasar pancing. Pertanyaan yang diajukan mengacu pada 800 kosakata Budaya Dasar yang telah dimodifikasi kembali. Berdasarkan hasil analisis ditemukan bahwa fonem yang digunakan BJA sejumlah 32 fonem yang terdiri atas 10 fonem vokal dan 22 fonem konsonan. Semua fonem tersebut dapat berdistribusi dengan baik di semua posisi, kecuali beberapa fonem. Ditemukan pula adanya perubahan bunyi serta variasi bunyi dalam BJA. Variasi bunyi yang ditemukan berupa variasi bunyi vokal. Variasi bunyi vokal yang ditunjukkan di Desa Sidomukti dan Desa Banjarsari menggunakan fonem vokal /a/ seperti bahasa Jawa dialek Ngapak. Sementara itu, fonem vokal /i/ dan /I/ berubah menjadi fonem vokal /e/ dan /ɛ/, serta fonem vokal /u/ dan /U/ berubah menjadi fonem vokal /o/ dan /ͻ/ di Desa Kaibon Petangkuran. Terakhir, di Desa Peneket fonem vokal /a/ berubah menjadi fonem vokal /ͻ/. Namun, fonem konsonan /k/ masih digunakan seperti bahasa Jawa dialek Ngapak.
Menegosiasikan Kekerabatan dengan Rasa Peduli: Analisis Wacana Kerabat dalam Film Shoplifters Bonna Nur Ischaq Darmadji
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.48316

Abstract

Artikel ini fokus dalam mengkaji bagaimana sebenarnya hubungan kekerabatan dapat dinegosiasikan dengan rasa peduli. Dengan demikian artikel ini tidak melihat kekerabatan sebagai hasil dari pertalian darah dan pernikahan. Inilah yang penulis coba perdebatkan, rasa peduli tentu akan menjadi isu kunci jika kita melihat kekerabatan bukan sebagai struktur sosial yang langgeng, melainkan sebagai sebuah proses. Untuk itu, penulis menggunakan metode penelitian wacana kritis dari perspektif Norman Fairclough melalui tiga dimensi yaitu text, discourse practice, dan sociocultural practice, sehingga film Shoplifters karya Hirokazu Koreeda ini penulis posisikan sebagai sebuah teks dari praktik wacana yang menunjukan praktik sosiokultural dalam realitas masyarakat. Data dalam penelitian ini berupa adegan, khususnya pada penggunaan bahasa, baik di dalam dialog antar tokoh maupun dalam teks-teks yang beredar di sepanjang film ini. Kemudian data tersebut diolah dalam bentuk argumen teoritis untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya manusia memaknai sebuah kekerabatan. Shoplifters menceritakan upaya orang-orang terbuang yang berusaha menambal kekurangan satu sama lain dengan menciptakan suatu lingkungan pengasuhan dalam ikatan bernama “keluarga”. Keluarga Shibata dalam film Shoplifters dengan segala identitas yang dilekatkan padanya berusaha mendobrak konstruksi normatif sistem kekerabatan. Kita kemudian akan dapat mengartikulasikan ulang arti hubungan kekerabatan dengan melihat bagaimana rasa peduli memberi manusia keleluasaan dalam menegosiasikan siapa yang bisa dianggap sebagai kerabat.
Formulasi Profil Karakter Lulusan Universitas Diponegoro di Era Revolusi Industri 4.0 ( Hasil Survei Jajak Pendapat Mahasiswa Universitas Diponegoro ) Iriyanto Widisuseno
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December (IN PROGRESS)
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.50690

Abstract

Penelitian ini betujuan; (1) mengungkap pendapat mahasiswa tentang penilaian seberapa penting nilai-nilai kejuangan Pangeran Diponegoro (berani, jujur, adil, dan peduli) dan nilai-nilai kompetensi dalam jargon COMPLETE (communicator, professional, leader, entrepreneur, thinker, educator) yang telah ditanamkan di kalangan mahasiswa sebagai unsur pembentuk karakter lulusan, atau ada nilai-nilai baru yang masih diperlukan bagi lulusan di era tantangan revolusi industri 4.0. (2) Memperoleh profil karakter lulusan Universitas Diponegoro yang diinginkan mahasiswa di era industry 4.0. Objek penelitiannya yaitu  mahasiswa yang pernah mengikuti pendidikan karakter, mulai angkatan tahun 2018, 2019, 2020, 2021. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan kuesioner, studi dokumen dan sumber referensi. Hasil olah data menunjukkan, mayoritas mahasiswa responden menilai keseluruhan nilai-nilai kejuangan Pangeran Diponegoro (79,2), dan nilai-nilai kompetensi dalam Complete (77,95) dinilai masih sangat penting, namun masih sangat diperlukan nilai-nilai baru lainnya, yaitu; beretika, cerdas, adaptif, kreatif, integritas, tangguh, inovatif, progresif dan kolaboratif. Dari sebaran skala persentase penilaian menampakkan, nilai kejuangan yang diunggulkan yaitu peduli (80,6), dan nilai kompetensi yang diunggulkan yaitu professional (81,2), sedangkan nilai baru yang diunggulkan yaitu beretika (82,4). Hasil survei tersebut mengarahkan pada kesimpulan bahwa sebagian besar mahasiswa Undip berpandangan bahwa profil karakter lulusan Universitas Diponegoro yang diperlukan di era industri 4.0 yaitu memiliki nilai kejuangan: peduli, jujur, adil, berani, dan nilai kompentensi sebagai thinker, communicator, leader, educator, entrepreneur, serta beretika, cerdas, adaptif, kreatif, integritas, tangguh, inovatif, progresif, kolaboratif. Nilai-nilai karakter yang diunggulkan adalah peduli, professional dan beretika.
Homo Religiosus dalam Perspektif Filsafat Pendidikan Sri Rahayu Wilujeng; M. Mukhtasar Syamsuddin; RR Siti Murtiningsih
HUMANIKA Vol 29, No 2 (2022): December
Publisher : Faculty of Humanities, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/humanika.v29i2.50625

Abstract

Ada banyak tesis tentang manusia, tetapi ada dua tesis yang sangat mendasar yaitu manusia sebagai homo religiosus dan manusia sebagai animal educandum. Dua tesis ini menyentuh aspek penting dalam hidup manusia. Objek material penelitian ini adalah homo religiosus, dan objek formal yang dipergunakan adalah filsafat pendidikan. Landasan terori yang digunakan adalah teori Mircea Eliade. Penelitian ini bertujuan: 1. Mendapatkan gambaran makna dari homo religiosus, 2. Menemukan pemahaman apa peran homo religiosus dalam pendidikan. Penelitian ini adalah penilitian filsafat dengan model studi pustaka. Metode yang digunakan adalah metode hermeneutika dengan unsur-unsur metodis: interpretasi, analisa, idealisasi, dan diskripsi. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah adanya hubungan manusia sebagai homo religiosus dan animal educandum. Homo religiosus merukapan landasan bagi suatu filsafat pendidikan teistik. Homo religious sebagai ontologi, orientasi dan tujuan dari pendidikan. Homo religiosus membuat pendidikan menjadi bermakna.