cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Universitas Papua Jalan Gunung Salju, Amban, Manokwari, Papua Barat - 98314
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Sciences)
Published by Universitas Papua
ISSN : 2620939X     EISSN : 26209403     DOI : -
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis diterbitkan oleh Fakultas Peternakan Universitas Papua. Jurnal ini merupakan media komunikasi ilmiah dibidang peternakan dan veteriner yang berupa hasil penelitian atau telaah pustaka (review) yang meliputi produksi ternak, nutrisi dan makanan ternak, sosial ekonomi peternakan, dan budidaya ternak/satwa harapan, kesehatan ternak dan hewan kesayangan, serta veteriner. Jurnal ini diterbitkan dengan frekuensi dua kali setahun pada bulan Maret dan September. Redaksi menerima sumbangan artikel dengan ketentuan penulisan seperti tercantum pada halaman akhir pada isi jurnal ini.
Arjuna Subject : -
Articles 343 Documents
Teknologi Marinasi Daging Ayam Broiler Dengan Ekstrak Buah Nenas (Ananas comosus (L). Merr) Terhadap Kualitas Mikrobiologi Windyasmara, Ludfia; Sariri, Ahimsa Kandi
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.190

Abstract

Abstract This study aims to determine the effect of the microbiological quality of broiler chicken meat that is marinated using pineapple extracts with different storage times at refrigerator temperature (180C). The stages of this research consisted of 2 stages, namely the first stage of making pineapple extract from fresh pineapples and the second stage was the marination process in which the broiler chicken meat samples were marinated using pineapple extract with a concentration of 30%. The experimental design used in this study was a completely randomized design (CRD) with one treatment factor (0 days, 3 days, 6 days, 9 days and 12 days) with each treatment repeated 4 times, in order to obtain 5 x experimental units. 4 = 20 experimental units. The microbiological analysis observed was the inhibition zone analysis and Total Plate Count (TPC). Giving marination with pineapple extract to the storage time of chicken meat has a significant effect on the inhibition zone. The highest zone of inhibition was 3.23 mm (for 6 days) while the lowest zone of inhibition was 2.21 mm (for 0 days). Provision of pineapple extract marination on the storage time of broiler chicken has a significant effect on the TPC. The highest TPC was 2.29 (for 12 days) while the lowest TPC was 0.30 (for 0 days). Keywords: Broiler chicken; Marination; Microbiological quality; Pineapple extract. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kualitas mikrobiologi daging ayam broiler yang dimarinasi menggunakan ekstrak buah nenas dengan lama penyimpanan yang berbeda pada suhu refrigerator (180C). Tahapan penelitian ini terdiri dari 2 tahapan yaitu tahap pertama pembuatan ekstrak buah nenas yang berasal dari buah nenas segar dan tahap kedua adalah proses marinasi dimana sampel daging ayam broiler dimarinasi dengan menggunakan ekstrak buah nenas dengan konsentrasi 30%. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan (0 hari, 3 hari, 6 hari, 9 hari dan 12 hari) dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali, sehingga diperoleh unit percobaan 5 x 4 = 20 unit percobaan. Analisis mikrobiologi yang diamati adalah analisis zona hambat dan Total Plate Count (TPC). Pemberian marinasi dengan ektrak buah nenas terhadap lama penyimpanan daging ayam berpengaruh nyata terhadap zona hambat. Zona hambat tertinggi 3,23 mm (selama 6 hari) sedangkan zona hambat terendah 2,21 mm (selama 0 hari). Pemberian marinasi ekstrak buah nenas terhadap lama penyimpanan daging ayam broiler berpengaruh nyata terhadap TPC. TPC tertinggi 2,29 (selama 12 hari) sedangkan TPC terendah 0,30 (selama 0 hari). Kata Kunci: Daging broiler; Ekstrak nanas; Kualitas mikrobiologi; Marinasi.
Analisis Pendapatan dan Prospek Pemasaran pada Wirausahawan Fried Chicken di Kota Kendari Munadi, Laode Muh; Nuraini, Nuraini; Munadi, La Ode Muh; Lumanto, Githaria
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.176

Abstract

Abstract The best known broiler chicken meat product in urban communities is Kentucky Fried Chicken (KFC). Seeing the business opportunity, entrepreneurs in Kendari City tried to make fried chicken similar to KFC products by labeling Kendari Fried Chicken (Kendari-FC) at a relatively affordable price of Rp 8.000 per piece compared to the KFC price of Rp 15.000 per piece. This study aims to analyze the marketing prospects of Kendari-FC entrepreneurs in Kendari City. The location of the research was determined purposively with the respondents of the study being kendari-FC entrepreneurs in kendari city who were determined by census. The results showed that the income of Kendari-FC entrepreneurs in Kendari City averaged Rp 5.066.458 per month or Rp 168.882 per day with an average income of Rp 36.276 per head. Kendari-FC's marketing prospects have the potential to be developed especially in West Kendari District because the average revenue from sales of each tail is Rp 48.105.40 per head. Keywords: Income; Kendari-FC; Marketing Abstrak Produk hasil olahan daging ayam broiler yang paling dikenal masyarakat perkotaan adalah Kentucky Fried Chicken (KFC). Melihat peluang bisnis tersebut wirausahawan di Kota Kendari berupaya membuat ayam goreng yang mirip produk KFC dengan memberi label Kendari Fried Chicken (Kendari-FC) dengan harga relatif terjangkau yaitu Rp 8.000 per potong dibandingkan harga KFC Rp 15.000 per potong. Penelitian ini bertujuan menganalisis prospek pemasaran wirausaha Kendari-FC di Kota Kendari. Lokasi penelitian ditentukan secara purposif dengan responden penelitian adalah wirausahawan Kendari-FC di Kota Kendari yang ditentukan secara sensus. Hasil penelitian menunjukan bahwa pendapatan wirausahawan Kendari-FC di Kota Kendari rata-rata Rp 5.066.458 per bulan atau Rp 168.882 per hari dengan pendapatan rata-rata Rp 36.276 per ekor. Prospek pemasaran Kendari-FC berpotensi dikembangkan terutama di Kecamatan Kendari Barat karena rata-rata pendapatan dari hasil penjualan setiap ekor sebesar Rp 48.105.40. Kata kunci: Kendari-FC; Pemasaran; Pendapatan
Karakteristik Peternak Sapi di Sentra Produksi Ternak Potong Di Kabupaten Sorong Indey, Seblum; Saragih, Evi Warintan; Santoso, Budi
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.257

Abstract

Abstract The development of beef cattle needs to be supported by regional potential which includes natural resources and human resources. Sorong Regency is one of the areas for beef cattle development in West Papua Province. This research was conducted for three months, from February to April 2021. The study was conducted in four districts that have a high population of beef cattle in Sorong Regency, West Papua Province. namely Salawati District, Segun District, Mayamuk District, and Moisegen. This research was conducted using a survey method with interview techniques and field observations. Breeding experience, education, age have a relationship with the number of livestock kept. The result showed that farmers were in the productive age and had low education. The traditional rearing with extensive system was a common management practice with less than six cows per household. The experience of rearing cattle, age and education had a correlation with number of cows per household (r<0.05). However, there was not very strong relationship with the variable number of beef cattle. The land area factor does not affect the number of livestock and education was not influence management system. It concluded that livestock activity purposed was not up to business level but it was only for saving purposes. Keywords: Beef cattle; Development; Potential; Production; Sorong Abstrak Pengembangan ternak potong perlu didukung oleh potensi wilayah yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Kabupaten Sorong merupakan salah satu wilayah pengembangan ternak potong di Provinsi Papua Barat. Penelitian dilakukan di empat distrik yang memiliki populasi ternak sapi potong yang cukup tinggi di Kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat. yaitu Distrik Salawati, Distrik Segun, Distrik Mayamuk, dan Moisegen, pada bulan Februari sampai dengan April 2021. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei dengan teknik wawancara dan observasi lapangan. Kriteria responden pada penelitian ini adalah memiliki sapi > 3 ekor dan memiliki pengalaman beternak lebih dari 3 tahun. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik peternak antara lain: berada pada usia produktif, memiliki pendidikan yang cukup rendah, pengalaman beternak yang cukup lama dan tingkat kepemilikan ternak yang rendah. Sistem pemeliharaan ternak bersifat tradisional dengan pemberian pakan dan pengobatan seminimal mungkin. Pengalaman beternak, pendidikan, umur memiliki hubungan dengan jumlah ternak yang dipelihara. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefiesien korelasi r= (r <0.05). Pengalaman beternak dan pendidikan memiliki keeratan hubungan yang tidak terlalu kuat terhadap variabel jumlah ternak sapi potong. Faktor luas lahan tidak mempengaruhi jumlah ternak yang dipelihara. Hal ini dikarenakan sistem pemeliharaan yang dilakukan peternak dominan dengan sistem umbar terbatas dan pemberian pakan ditambah dari sumber lain seperti pinggir jalan dan sumber lain. Faktor luas lahan tidak mempengaruhi jumlah ternak yang dipelihara. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa peternak di sentra peternakan sapi Kabupaten Sorong masih bersifat tradisional yang bertujuan untuk tabungan keluarga dan secara umum belum berorientasi bisnis. Kata kunci: Pengembangan; Potensi; Produksi; Sapi potong; Sorong.
Resistansi Antibiotik Secara Fenotip Dan Deteksi Gen TetA pada Sampel Hati Ayam di Pasar Dukuh Kupang Surabaya Rahmaniar, Reina Puspita; Widhowati, Dyah; Hidayah, Nurul
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.244

Abstract

Abstract The purpose of this study was to determine the resistance of several antibiotics phenotypically and genotypically to detect the tetA gene from broiler chicken liver samples at Dukuh Kupang market, Surabaya. A total of 30 samples were taken and then prepared aseptically and sterile. Isolation on Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) media, then microscopic examination using gram staining and biochemical tests of Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Sulfide Indole Motility (SIM), Methyl Red (MR), Voges Prouskauers (VP) and Simons Citrate Agar (SCA). The identified Escherichia coli colonies were tested for antibiotic sensitivity using the Kirby Bauer method, then isolates that were proven to be resistant to tetracycline antibiotics were followed by genetic testing using the Polymerase Chain Reaction (PCR) method. The results showed that 20 of the 30 samples were positive for Escherichia coli. Escherichia coli isolates from chicken liver samples showed resistance to 30 µg tetracycline antibiotics by 85% (17 of 20 samples) Researchers also compared with other antibiotics, the highest resistance to ampicillin 10 µg was 90% (18 out of 20 samples), gentamicin resistance was 10 µg by 50% (10 of 20 samples) and 30 µg chloramphenicol antibiotic resistance by 30% (6 of 20 samples). The isolates that were resistant to tetracycline were confirmed by Polymerase Chain Reaction to detect the tetA gene with the final product in the form of a band with a length of 210 bp. Bacterial isolates resistant to Tetracycline antibiotics did not always show TetA gene expression in the PCR test. Keywords: Antibiotic Resistance; Escherichia coli; Market; TetA gene Abstrak Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui resistansi beberapa antibiotik secara fenotip dan secara genotip mendeteksi gen tetA dari sampel hati ayam broiler di pasar Dukuh Kupang Surabaya. Sebanyak 30 sampel diambil kemudian dipreparasi secara aseptis dan steril. Isolasi pada media Eosin Methilen Blue Agar (EMBA), selanjutnya dilakukan pemeriksaan mikroskopis menggunakan pewarnaan gram dan uji biokimiawi Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Sulfide Indol Motility (SIM), Methyl Red (MR), Voges Prouskauers (VP), dan Simons Citrat Agar (SCA). Koloni Escherichia coli yang teridentifikasi dilakukan uji sensitifitas antibiotik dengan metode Kirby bauer, selanjutnya isolat yang terbukti resistan terhadap antibiotik tetrasiklin dilanjutkan pemeriksaan genetik dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 20 dari 30 sampel positif Escherichia coli. Isolat Escherichia coli asal sampel hati ayam menunjukkan resistansi terhadap antibiotik Tetrasiklin 30 µg sebesar 85 % (17 dari 20 sampel) Peneliti juga melakukan perbandingan dengan antibiotik lainnya, resistensi tertinggi pada antibiotik ampisilin 10 µg sebesar 90 % (18 dari 20 sampel), resistensi gentamisin 10 µg sebesar 50 % (10 dari 20 sampel) dan resistensi antibiotik kloramfenikol 30 µg sebesar 30 % (6 dari 20 sampel). Isolat yang resisten terhadap tetrasiklin dikonfirmasi dengan Polymerase Chain Reaction untuk mendeteksi gen tetA dengan produk akhir berupa band dengan panjang 210 bp. Isolat bakteri yang resistan terhadap antibiotik Tetrasiklin tidak selalu menunjukkan ekspresi gen tetA pada uji PCR. Kata kunci: Escherichia coli; Gen TetA; Pasar; Resistansi Antibiotik.
Studi Kasus: Diagnosis dan Pengobatan Stomatitis pada Kucing Domestik Andarini, Zahrah Prawita; Indarjulianto, Soedarmanto; Nururrozi, Alfarisa; Yanuartono, Yanuartono; Raharjo, Slamet
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.157

Abstract

Abstract Stomatitis is an inflammation that occurs in the oral mucosal tissue, characterized by ulcers. This case study aims to diagnose and treat stomatitis in a cat. A 7-month-old female domestic cat weighing 2.7 kg with lethargy, lost of appetite, decreased thirst, and was having sores for 2 days was examined. The cat was examined physically include anamnesis, an inspection of body condition and eating behavior, palpation of the skin, hair, and parts of the body that can be palpated, and auscultation of the thorax and abdomen. The blood sample that was examined includes the erythrocyte count, hemoglobin value, leukocytes count, and their differentials. Physical examination results showed hyperemic gingival, swollen submandibular and retropharyngeal lymphoglandula, and there were multiple ulcers on the lips and tongue. Hematological examination showed thrombocytopenia and monocytosis. The stomatitis was diagnosed to the cat with a good prognosis. Therapy was given for 5 consecutive days in the form of intramuscular injection of Amoxycillin 10 mg/kg BW twice daily, intramuscular injection of diphenhydramine HCl 1 mg/kg BW once daily, subcutaneous injection of 0.5 ml vitamin C once daily, oral administration of 0.5 ml multivitamin twice daily, and povidone-iodine for gargle twice a day applied lightly to the lesion area. Stomatitis in this case study was cured within 5 days by treating with amoxicillin, diphenhydramine HCl, vitamin C, multivitamins, and topical povidone-iodine. Keywords: Amoxicillin; Cat; Stomatitis; Vitamin C. Abstrak Stomatitis merupakan radang yang terjadi pada jaringan mukosa mulut yang ditandai adanya ulser. Studi kasus ini bertujuan melakukan diagnosis dan pengobatan stomatitis pada kucing. Studi kasus ini melaporkan seekor kucing domestik betina umur 7 bulan dengan berat badan 2,7 kg dengan keluhan lesu, tidak ada nafsu makan dan minum, serta menderita sariawan sejak 2 hari sebelum diperiksa. Kucing diperiksa secara fisik meliputi anamnesa, inspeksi terhadap kondisi tubuh dan perilaku makan, palpasi terhadap kulit, rambut, dan permukaan tubuh lainnya, serta auskultasi pada daerah thorax dan abdomen. Sampel darah kucing diperiksa terhadap jumlah eritrosit kadar hemoglobin, jumlah leukosit dan diferensialnya. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan limfoglandula submandibula dan retropharingeal bengkak, gingiva hiperemi serta adanya ulser multiple pada bibir dan lidah. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan trombositopenia dan monositosis. Berdasarkan hasil pemeriksaan kucing didiagnosis stomatitis dengan prognosis fausta. Kucing diberi terapi selama 5 hari berupa amoxicilin dosis 10 mg/kg BB dua kali sehari secara intramuskuler, dyphenhidramin HCl 1 mg/kg BB satu kali sehari secara intramuskuler, vitamin C sebanyak 0,5 ml satu kali sehari secara subkutan, multivitamin sebanyak 0,5 ml dua kali sehari secara per oral, dan povidone iodine dua kali sehari dioleskan pada lesi stomatitis. Stomatitis pada kasus ini dapat disembuhkan dalam waktu 5 hari dengan pemberian amoxicilin, dipenhidramin HCl, vitamin C, multivitamin secara sistemik dan povidone iodine secara topikal. Kata kunci: Amoksisilin; Kucing; Stomatitis; Vitamin c
Deskripsi Daging Rana Arfaki (Anura; Ranidae) yang Dikonsumsi Masyarakat Moiley di Pegunungan Arfak Pattiselanno, Freddy; Athabu, Anita Oce; Seseray, Daniel Yohanes
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.199

Abstract

Abstract In Papua, especially in the Arfak Mountains, one of wild animals that commonly used as a non-animal protein source is frogs. Although it has been consumed by local people for generations, there is no representative information on the characteristics of Arfak frog meat. This study aims to determine the body weight and weight of carcass of Arfak frogs (Rana arfaki) comsumed by the Moiley communtiies in the Arfak Mountains. In addition, this study also attempts to reveal the physical quality and processing techniques of consumed Arfak forg meat. We used descriptive method with observation techniques in the field. The results show that an average body weight of Arfak frogs consumed in Mbenti is 2.53 ± 0.81gr, with an average of carcass percentage 46.77% and non-carcass percentage 53.23%. The physical quality of the meat is, fresh and looks intact, the color of flesh and muscles is white to yellowish white, has a distinctive aroma, and elastic texture as well as strong muscles. The pH value of fresh meat is an average of 7.03. Various meat processing techniques are practiced including fried, stir-fry, grilled and smoked, and pickling/smoked is more preffered bacuse it is easy and the meat can keep longer as a source of food for household animal protein. Keywords: Arfak; Cosnsumption; Meat; Quality; Rana arfaki Abstrak Di Papua khususnya di Pegunungan Arfak, salah satu jenis satwa yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber protein hewani non-ternak adalah katak. Meskipun telah dikonsumsi oleh masyarakat lokal secara turun temurun, sampai saat ini belum tersedia informasi yang representatif tentang karakteristik daging katak Arfak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bobot badan dan berat karkas katak Arfak (Rana arfaki) yang dikonsumsi masyarakar Moiley di Pegunungan Arfak. Selain itu juga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisik dan teknik pengolahan daging katak Arfak yang dikonsumsi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi atau pengamatan langsung di lapangan. Rataan bobot badan katak Arfak (Rana arfaki) yang dikonsumsi oleh masyarakat di Mbenti yaitu 2,53 ± 0,81gr dengan rataan persentase karkas yaitu 46,77% dan persentase non-karkasnya sebesar 53,23%. Kualitas fisik daging katak Arfak yaitu memiliki karakteristik segar dan tampak utuh, warna daging dan otot putih hingga putih kekuningan, memiliki aroma khas, dengan tekstur elastis serta memiliki otot kuat. Sedangkan nilai pH daging katak Arfak segar yang dikonsumsi oleh masyarakat yaitu rata-rata adalah 7,03. Teknik pengolahan daging yang dilakukan oleh masyarakat beragam antara lain goreng, tumis, bakar dan asap. Cara asar/asap lebih disenangi karena mudah dilakukan dan dapat memperpanjang masa simpan daging sebagai cadangan sumber pangan protein hewani rumah tangga. Kata kunci: Arfak; Daging; Konsumsi; Kualitas; Rana arfaki
Penyebaran Kutikula Pada Kerabang Telur Pada Usaha Peternakan Ayam Dengan Sistem Free Range Suawa, Elfira Kariane; Roberts, J R
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.227

Abstract

Abstract The cuticle is the outermost layer of the egg which deposited on to the surface of the egg during the final 1-1.5 hours prior to oviposition. It is a protective coating which prevents bacterial penetration through the gas exchange pores in the eggshell. The aim of this research is analysing the cuticle cover and ultrastructural features of the mammillary layer cover during production cycle in the free-range system. Data were collected from age 26, 37, 50 and 60 weeks of age to observe the eggshell colour (%), cuticle cover following the MST blue dye which analysed by spectrophotometry based on L*a*b system and scanning electron microscopy (SEM). Data were analysed using Statview Software (SAS Institute Inc., Version 5.0.1.0). A two way analysis of variance was conducted taking flock age and shed/flock as the independent variables and body weight, egg quality measurements, spectrophotometry (L*a*b) measurements, single score measurements for cuticle cover, and ultrastructural features as dependent variables. Level of significance was indicated by probability of less than 5%. The Fishers PLSD test was used to differentiate between mean values. The result of this research showed that the cuticle cover is vary from age to age. The greater value of cuticle cover in at 37 weeks of age which the same result also showed by single scrore and SEM. The cuticle cover of the shell is mostly affected by age and also strain. Keyword: Cuticle; Eggshell quality; Laying hens. Abstrak Kutikula pada telur merupakan lapisan terluar telur yang dideposisikan pada lapisan palisade kurang lebih 1,5 – 2 jam di akhir pembentukan kerabang di dalam uterus. Kutikula berfungsi sebagai benteng pertahanan pertama untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam telur. Penelitian ini dilakukan pada usaha peternakan ayam petelur yang dipelihara dengan system free range. Telur diambil untuk dianalisa penyebaran kutikula telur pada umur 26, 37, 50, dan 60 minggu. Variable yang diamati meliputi reflektifitas warna kerabang (%), penyebaran kutikula diukur menggunakan MST blue dye dan selanjutnya diukur melalui sistim spectrophotometry, yang difokuskan pada sistim pewarnaan berdasarkan sistim L*a*b* dan single score, dan dilanjutkan dengan pengamatan menggunakan scanning electron microscopy (SEM).Selanjutnya data dianalisis menggunakan Staview software (SAS Institute Inc. version 5.0.1.0) dengan analisis anova dua arah, dimana umur ayam sebagai variable independent dan nilai SCI a* sesudah perendaman dan nilai single score (ΔE*ab) sebagai variable dependent, pada level of significance 5%. Pengaruh yang nyata diuji lanjut menggunakan Fisher PLSD. Pada penelitian ini didapatkan bahwa penyebaran kutikula pada kerabang telur bervariasi selama pengamatan. Penyebaran kutikula terbanyak ditemukan pada saat ayam berumur 37 minggu. Hal ini juga diperkuat dengan hasil yang diperoleh dengan single score (ΔE*ab) yang memperlihatkan nilai ΔE*ab yang tinggi pada umur 37 minggu. Penyebaran kutikula pada kerabang telur sangat dipengaruhi oleh umur dan juga strain ayam. Kata kunci: Ayam petelur; Kualitas telur; Kutikula.
Defining and Valuing the Relationship Pattern of Actors’ Involvement on Cattle Farming Systems using Stakeholder Network Analysis in West New Guinea, Indonesia Iyai, Deny Anjelus; Mulyadi, Mulyadi; Wajo, Muhammad Jen; Naibey, Rosdiana; Hayati, Dwi Nur; Noviyanti, Noviyanti; Bajari, Makarius; Koibur, Johan; Syufi, Yafed; Pakage, Stepanus; Inriani, Noveling; Nuhuyanan, Lamberthus E.; Purba, Jublyana; Rahayu, Bernadetha W.I.; Fatem, Hendrik; Widayati, Isti
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.112

Abstract

Abstrak Sapi merupakan salah satu peternakan prioritas utama di Indonesia. Ternak sapi telah memainkan peran penting dalam aspek ekonomi dari total pendapatan. Sebagai peternakan prioritas karena berbagai keterlibatan dan peran pemangku kepentingan. Studi dilakukan di Manokwari pada bulan April-Juni 2019 dengan menggunakan focus group discussion terhadap dua puluh individu, kelompok dan lembaga massa yang diwakili. Pertanyaan yang dibahas mengenai latar belakang, pengiriman sumber daya, interkonektivitas antar aktor, intervensi dan inovasi. Temuan utama adalah bahwa aktor yang dikelompokkan mendominasi, diikuti oleh aktor hukum, lembaga swasta, peran pemangku kepentingan dan memiliki efek positif karena kepentingan. Namun, ancaman eksis baik secara langsung tetapi tanpa efek balik. Tiga sumber daya bersama teratas adalah akses, kepuasan, dan waktu yang dihabiskan. Aktor dapat memiliki program jangka panjang dengan keberlanjutan menggunakan sumber daya netral hingga kuat. Hubungan aktor ditemukan dalam tiga kelompok, yaitu positif, negatif dan tidak ada hubungan. Intervensi sangat dibutuhkan, yaitu waktu yang dihabiskan, kepuasan, kebijakan, pengetahuan dan akses. Prioritas inovasi akan keterampilan, kebijakan, dan pengetahuan. Kata kunci: Analisis jaringan pemangku kepentingan; Intervensi dan inovasi; Pelaku; Sumber daya bersama; Usaha peternakan sapi. . Abstract Cattle is one of the top priority animal agriculture in Indonesia. It has played significant roles in economical aspect of Total revenues. Those are due to stakeholders’ involvement. Study was done in Manokwari from April to June 2019 by using focus group discussion towards twenty various represented individuals, groups and mass institutions. The queries discussed concerning background, resources delivery, interconnectivity amongst actors, intervention and innovation. The primarily finding is that grouped actors dominated, followed by laws actors, private types institutions, stakeholder role and having positive effect due to importance. However, threat existed directly without turn-back effect. The three top shared resources were access, satisfaction, and time spent. Actors can have long term period program with sustainability using neutral to strong power resource. Relationship of actors found in three groups, i.e. positive, negative and no relationship. Intervention was urgently needed, i.e. time spent, satisfaction, policy, knowledge and access. Priority of innovation will be skills, policy, and knowledge. Keywords: Actors; Cattle farming business; Intervention and innovation; Shared resources; Stakeholder network analysis.
Keragaman Fenotipe Kualitatif dan Kuantitatif Itik Sikumbang Jonti sebagai Plasma Nutfah di Sumatera Barat Arlina, Firda; Husmaini, Sabrina; Rhoudha, R.; Sardi, W. R.; Rafian, T.
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.173

Abstract

Abstract This research was aimed to identifiaty qualitative and quantitative phenotypic polymorphism of Sikumbang Jonti Duck in Kecamatan Payakumbuh Timur Kota Payakumbuh Sumatera Barat. This research used 206 Sikumbang Jonti duck that were sexual maturity (22-48 weeks), divided of 50 males and 156 females. The qualitative traits observeted were head color, neck color, breaks color, back color, primary wings color, tail color, thigh color, bill color, and shank color. The quantitative traits observed were body weight (kg), beak width (cm), beak length (cm), neck length (cm), wing length (cm), femur length (cm), tibia length (cm), shank length (cm), back length (cm), number of primary wing feathers (strands), number of secondary wing feathers (strands), pelvic width (cm), and chest circumference (cm). The result showed that color of Sikumbang Jonti duck was dominated by white. Male Sikumbang Jonti duck had color head was white-black, and female had color head was white. In addition, the Sikumbang Jonti duck had green primary wing feathers like a beetle. The coefficient of diversity of the Sikumbang Jonti duck was low for beak width, tibia length (female), number of primary wing feathers, and number of secondary wing feathers, moderate value for body weight, beak length, neck length, wing length, femur length (female), length tibia (male), shank length, back length, perlvis width (females), and chest circumference (males), and high value for femur length (males). Keywords: Duck morphometric; Germplasm; Pattern color; Payakumbuh; Sumatera barat Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi keragaman fenotipe kualitatif dan kuantitatif itik Sikumbang Jonti di Kecamatan Payakumbuh Timur Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan 206 ekor itik Sikumbang Jonti yang sudah dewasa kelamin (22 – 48 minggu), terdiri dari 50 ekor jantan dan 156 ekor betina. Sifat kualitatif yang diamati adalah warna bulu head, warna bulu neck, warna bulu breaks, warna back, warna primary wings, warna tail, warna thigh, warna bill, dan warna shank. Sifat kuantitatif yang diamati adalah bobot badan (kg), lebar paruh (cm), panjang paruh (cm), panjang leher (cm), panjang sayap (cm), panjang femur (cm), panjang tibia (cm), panjang shank (cm), panjang punggung (cm), jumlah bulu sayap primer (helai), jumlah bulu sayap sekunder(helai), lebar pelvis (cm), dan lingkar dada (cm). Hasil menunjukkan warna bulu itik Sikumbang Jonti didominasi dengan warna bulu putih. Warna bulu kepala itik Sikumbang Jonti jantan berwarna putih-hitam, sedangkan itik Sikumbang Jonti betina berwarna putih. Selain itu, itik Sikumbang Jonti memiliki warna bulu sayap primer berwarna hijau seperti kumbang. Koefisien keragaman itik Sikumbang Jonti bernilai rendah untuk lebar paruh, panjang tibia (betina), jumlah bulu sayap primer, dan jumlah bulu sayap sekunder, bernilai sedang untuk bobot badan, panjang paruh, panjang leher, panjang sayap, panajng femur (betina), panjang tibia (jantan), panjang shank, panjang punggung, lebar perlvis (betina), dan lingkar dada (jantan), dan bernilai tinggi untuk panjang femur (jantan). Keragaman fenotipe kualitatif dan kuantitatif pada itik Sikumbang Jonti relatif seragam, kecuali pada fenotipe kuantitatif panjang femur pada itik Sikumbang Jonti jantan memiliki keragaman tinggi. Kata kunci: Morfometrik itik; Payakumbuh; Plasma nutfah; Sumatera barat; Warna bulu
Penggunaan Cairan Ekstrak Isi Gizzard dan Duodenum Ayam pada Pengukuran Kecernaan In Vitro Daun Turi (Sesbania grandiflora) Mulyono, Ali Mursyid Wahyu; Yani, Sri Sukar; Awanis, Jizan Fahmia Al
Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veterinary Science) Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46549/jipvet.v11i3.262

Abstract

Abstract The aim of this study was to examine the use of Gizzard Contents Extracts (GCE) and Duodenum Contents Extracts (DCE) of Chicken on In Vitro digestibility measurements of Turi Leaves (Sesbania grandiflora). The study was designed using a One-way Classification of Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments. Each treatment was repeated three times. Types of treatment in the form of using GCE and DCE, including: (1) control treatments (without GCE or DCE), (2) GCE, (3) DCE, and (4) a mixture of GCE and DCE. The observed variables were Coefficient of Dry Matter Digestibility (CDMD), Coefficient of Organic Matter Digestibility (COMD), and Coefficient of Soluble Protein Digestibility (CSPD). The results showed that the addition of GCE, DCE, and a mixture of GCE and DCE could not increase the CDMD, COMD, and CSPD of Turi Leaves compared to the control treatment. Keywords: Duodenal contents extract; Gizzard content extract; In vitro digestibility; Turi leaves. Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengkaji penggunaan cairan ekstrak isi gizzard (CEIZ) dan duodenum (CEID) ayam pada pengukuran kecernaan in vitro daun turi. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan 4 perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Macam perlakuan berupa penggunaan penggunaan CEIZ dan CEID ayam, meliputi perlakuan kontrol (tanpa CEIZ maupun CEID), CEIZ, CEID, dan campuran CEIZ dan CEID. Variabel pengamatan berupa koefisien cerna bahan kering (KCBK), koefisien cerna bahan organic (KCBO), dan koefisien cerna protein terlarut (KCPT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan cairan ekstrak isi gizzard, duodenum dan campuran keduanya tidak dapat meningkatkan KCBK, KCBO, dan KCPT daun turi dibandingkan dengan perlakuan control. Kata kunci: Cairan ekstrak isi duodenum; Cairan ekstrak isi gizzard; Daun turi; Kecernaan in vitro.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 4 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 15 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 4 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 3 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 14 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 13 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 13 No. 1 (2023): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol. 12 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 2 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 11 No 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 11 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 10 No 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 10 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 10 No 1 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vete Vol. 10 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Ve Vol 9 No 2 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol. 9 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol 9 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol. 9 No. 1 (2019): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol 8 No 2 (2018): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Veter Vol. 8 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal and Vet Vol. 8 No. 1 (2018): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 8 No 1 (2018): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 7 No. 1 (2012): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 7 No 1 (2012): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 5 No. 2 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 5 No 2 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 5 No 1 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 5 No. 1 (2010): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 4 No. `1 (2009): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 4 No `1 (2009): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 3 No. 1 (2008): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 2 No. 1 (2007): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 2 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 1 No. 2 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol. 1 No. 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN Vol 1 No 1 (2006): JURNAL ILMU PETERNAKAN More Issue