cover
Contact Name
Putu Indra Christiawan
Contact Email
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
indra.christiawan@undiksha.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
ISSN : 24074551     EISSN : 24074551     DOI : -
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, 6 bulanan dan jurnal ilmiah ini berisikan tulisan, artikel dan hasil penelitian yang menyangkut bidang ilmu sosial.
Arjuna Subject : -
Articles 286 Documents
Mapping Social Hierarchies among Indonesian Provinces: An Unsupervised Possibility Fuzzy C-Means Approach on Welfare Indicators Okta Alpindo; Casiavera Casiavera; Muhammad Rizki
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.111132

Abstract

Population welfare plays a fundamental role in shaping political, economic, and social systems, as it reflects the achievement of national development goals. Welfare indicators generally encompass social, economic, and governance dimensions. This study aims to classify Indonesian provinces based on People’s Welfare Indicators using a machine learning approach, namely the Unsupervised Possibilistic Fuzzy C-Means (UPFC) method, which integrates Fuzzy C-Means and the Possibilistic Cluster Algorithm to manage uncertainty and overlapping cluster boundaries in socioeconomic data. The results identify two distinct clusters: pre-prosperous and prosperous provinces. A total of 55.88% (19 provinces) are categorized as pre-prosperous, while 15 provinces are classified as prosperous. Beyond statistical classification, the clustering pattern reveals a clear socio-regional structure. Prosperous provinces are largely concentrated in western Indonesia, particularly on Java, characterized by stronger infrastructure, economic productivity, and access to public services. In contrast, many provinces in eastern Indonesia fall into the pre-prosperous cluster, indicating persistent structural disparities. Theoretically, the findings support the uneven development perspective, demonstrating that welfare inequality in Indonesia is spatially structured rather than randomly distributed. Practically, the results provide an evidence-based foundation for targeted fiscal allocation and prioritization of basic service provision to promote more balanced and inclusive national development.
Suronan Sedekah Gunung Merapi: Ekspresi Simbolik Rasa Syukur dan Strategi Kultural Mitigasi Risiko Bencana Kunti Dewi Masyithoh; Didi Pramono
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.111781

Abstract

Desa Lencoh terletak di antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu menjadikan wilayah ini dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Selain itu, masyarakat juga bergantung kepada alam sebagai sumber penghidupan. Tujuan penelitian untuk menganalisis tradisi Suronan Sedekah Gunung Merapi sebagai wujud ekspresi simbolik rasa syukur dan strategi kultural mitigasi risiko bencana. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, serta wawancara mendalam terhadap tokoh adat sebagai pemimpin ritual serta masyarakat yang terlibat langsung dalam pelaksanaan Suronan dengan teknik purposive sampling. Uji kredibilitas data melalui triangulasi. Analisis data mengacu pada model analisis Miles, Huberman, dan Saldana dengan landasan teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Suronan Sedekah Gunung Merapi merepresentasikan makna kolektif yang memposisikan manusia dalam relasi harmoni dengan Tuhan, alam, dan makhluk spiritual Gunung Merapi. Simbol budaya berupa gunungan rasul, gunungan nasi tumpeng, dan gunungan panggangbuto dimaknai sebagai simbol ungkapan syukur masyarakat. Sedangkan sesaji sirah maeso (kepala kerbau) dan sesaji Merapi merepresentasikan strategi kultural mitigasi risiko bencana melalui ujub, kidung, dan doa. Adapun bentuk adaptasi prosesi ritual pasca erupsi Gunung Merapi menunjukkan bahwa tradisi ini bersifat dinamis tanpa menghilangkan esensi makna simboliknya. Temuan ini mengimplikasikan pentingnya integrasi pengetahuan lokal dalam merumuskan regulasi mitigasi bencana.
Tradisi Slametan Masyarakat Jawa dalam Perspektif Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer Panji Perdana Putra Priyanto; Ahmad Fatkhur Rohman; Dini Rahmawati
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.112080

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami tradisi slametan dalam perspektif teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer, dengan fokus pada bagaimana individu berinteraksi dan memberi makna pada simbol-simbol yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kerangka teori ini, simbol-simbol seperti doa, makanan, dan rangkaian ritual yang terdapat dalam tradisi slametan bukan hanya dipandang sebagai media komunikasi, tetapi juga sebagai representasi dari keyakinan, identitas, dan realitas sosial masyarakat Jawa. Melalui pendekatan ini, tradisi slametan dapat dilihat sebagai proses interaksi simbolik yang menghasilkan pemahaman kolektif yang terus berkembang dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi slametan menjadi ruang interaksi di mana makna sosial dibentuk melalui proses dialog antar individu dan kelompok secara sadar dan berulang. Pemahaman kolektif yang terbentuk dalam tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Jawa menjaga dan mengembangkan nilai-nilai sosial serta budaya mereka secara dinamis. Tradisi slametan juga berfungsi sebagai mekanisme untuk memperkuat kohesi sosial, mempererat hubungan antar individu, serta menjadi sarana untuk menyampaikan harapan dan doa bersama. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman tentang bagaimana ritual-ritual tradisional dapat mempertahankan keberlanjutan nilai-nilai budaya dalam konteks sosial yang terus berubah, serta menunjukkan relevansi tradisi dalam membentuk identitas sosial masyarakat Jawa yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Distortion of Reproductive Justice: Decriminalization of Abortion as a Condition for the Elimination of Social Patriarchy Fatih Afrisal Bagus Septiano; Satryo Sasono
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.112879

Abstract

Under Indonesian law, abortion is still classified as an act that is, in principle, prohibited, although exceptions are granted in cases of medical emergencies and pregnancies resulting from rape or other acts of sexual violence. This article employs doctrinal legal research with a critical approach to examine the relationship between criminal norms, health law, service structures, and women’s experiences. The doctrinal approach is used to analyze the construction of abortion prohibitions and exceptions in legislation, while the critical approach is used to assess how these norms operate within a social structure shaped by patriarchy, stigma, and inequalities in access. Using feminist legal theory and a reproductive justice framework, this article demonstrates that the issue of abortion lies not only in the boundaries of legality and illegality but also in women’s ability to access safe, timely, and non-discriminatory services. Poor women, adolescents, survivors of sexual violence, women in underserved areas, and women in vulnerable social positions face distinct challenges in utilizing legal exceptions. The novelty of this article lies in interpreting the decriminalization of abortion as a legal transformation strategy—shifting from a punitive model toward reproductive health protection grounded in bodily autonomy, equitable access, and the state’s tangible, just, and dignified responsibility toward women.
Kekuasaan Adat dan Partisipasi Politik Lokal dalam Pilkades Semerap Masa Orba 1980an-1991 Indra Muhammad Gandi; Gusti Asnan; Zulqayyim Zulqayyim; Kiki Saputra
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.113379

Abstract

Pemilihan kepala desa di Desa Semerap, Kabupaten Kerinci, menunjukkan ketegangan antara penyeragaman sistem pemerintahan nasional melalui UU. No. 5 Tahun 1979 dan praktik adat lokal. Sejak 1980 hingga 1991 sistem pemilihan calon kepala Desa Semerap selalu memadukan ketentuan adat eksklusif dengan regulasi formal, sehingga membatasi akses politik dan menimbulkan ketidakadilan prinsip kesetaraan demokrasi. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi sejarah dan dinamika sistem pemilihan calon kepala desa di Desa Semerap melalui pendekatan sejarah, guna mengungkap interaksi antara adat lokal dan demokrasi formal. Penelitian menggunakan metode sejarah dengan empat tahap, heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi untuk merekonstruksi peristiwa secara objektif. Sistem pemilihan kepala Desa Semerap sejak 1980 hingga 1991 didominasi lembaga adat melalui musyawarah seleksi calon dari ninik mamak dan depati sebelum pemilihan langsung, dengan legitimasi ganda formal-adat. Meskipun menimbulkan dinamika ketidakpuasan pada masyarakat akibat pembatasan akses non-adat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan studi politik lokal dan pemerintahan berbasis adat dengan menunjukkan bagaimana hibridisasi antara institusi adat dan demokrasi formal dapat menghasilkan model demokrasi yang bersifat eksklusif. Temuan ini memperkaya kajian tentang relasi antara tradisi dan modernitas dalam politik lokal, sekaligus menegaskan bahwa pengakuan terhadap adat tanpa mekanisme inklusivitas berpotensi mereproduksi ketimpangan dalam praktik demokrasi di tingkat desa.
Transformasi Teritorialitas Adat Mentawai di tengah Intervensi Negara Edi Indrizal; Ade Irwandi
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.113845

Abstract

Artikel ini mengkaji secara mendalam transformasi teritorialitas adat Mentawai di Pulau Siberut dalam konteks intervensi pembangunan negara, rezim konservasi, dan ekspansi komoditas. Empat ranah ruang adat Orang Mentawai yaitu pulaggaijat, leleu, pumonean, dan onaja merupakan basis ekologis, genealogis, dan kepercayaan yang mendefinisikan tata ruang dan hubungan manusia–lingkungan. Sejak 1950-an, program PKMT/KAT, pembentukan desa administratif, serta proses konservasi dan ekstraktivisme negara telah menggeser sibakkat laggai dari ruang adat menjadi kawasan industri dan konservasi, sehingga membatasi akses dan melemahkan otoritas sikabukat uma. Penelitian ini menggunakan metode etnografi pada wilayah di Pulau Siberut, dengan pengumpulan data melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan analisis tematik dengan kerangka ekologi politik, teritorialitas masyarakat adat, dan dekolonialitas. Temuan menunjukkan bahwa pengambilalihan hutan ke dalam zona konsesi dan taman nasional memicu disposesi ekologis, fragmentasi ruang adat, dan transformasi sistem pangan serta perladangan campuran menuju komoditas pasar. Perubahan ini menciptakan dualisme tata kelola antara negara dan lembaga adat, namun masyarakat Mentawai tetap melakukan negosiasi melalui revitalisasi ruang adat dan upaya pengakuan sibakkat laggai sebagai hutan adat.
Adaptasi untuk Akses Distribusi Air Bersih dan Sanitasi di Kelurahan Tambakrejo Kota Semarang Destina Marta Fiani; Zerlinda Nova Ardelia; Muchammad Mugiono; Dewi Liesnoor Setyowati; Puji Hardati
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.113926

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dan akses air bersih, kondisi sanitasi, serta strategi adaptasi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi di Kelurahan Tambakrejo, Kota Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 17 informan yang terdiri atas warga masyarakat, pengurus RT/RW, dan perangkat kelurahan, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akses air bersih di Tambakrejo masih didominasi oleh kombinasi penggunaan PDAM dan sumur, dengan berbagai kendala seperti ketidakstabilan pasokan, kualitas air yang menurun, serta keterbatasan ekonomi masyarakat. Kondisi sanitasi juga belum merata, ditandai dengan masih adanya penggunaan sungai dan MCK umum akibat keterbatasan lahan dan biaya. Temuan utama penelitian ini mengungkap pola struktural ketimpangan adaptasi yang ditentukan oleh kapasitas ekonomi rumah tangga yakni kelompok mampu melakukan adaptasi fisik jangka panjang, sedangkan kelompok ekonomi menengah kebawah bertumpu pada modal sosial sebagai strategi survival. Pola ini menunjukkan bahwa ketahanan komunitas pesisir bersifat berlapis dan tidak merata, sehingga intervensi kebijakan perlu bersifat diferensial sesuai kapasitas kelompok sasaran. Oleh karena itu, diperlukan dukungan kebijakan dan penguatan infrastruktur untuk meningkatkan akses air bersih dan sanitasi yang layak dan berkelanjutan.
Genjek Art: A Gender Ideological Battle Arena (A Perspective from Pierre Bourdieu's Capital Theory) Luh Putu Sendratari; I Ketut Margi; Lola Utama Sitompul; Fitri Noviani; Santana Sembiring
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.118714

Abstract

Art observers note that there is still insufficient research into the turmoil and ideological clashes within the arts. This article aims to emphasize that the realm of art is open to analysis from various perspectives, including genjek. This art form falls under the category of folk art and historically emerged from the encouragement of farmers to express their artistic passions in their spare time. Buleleng has a strong tradition of genjek art in its rural areas, which has since evolved alongside the development of tourism in the region. Genjek serves as a form of cultural capital, evident in the artistic performances, pronunciation, and linguistic style of the songs produced. Through these artistic expressions and the widespread promotion of genjek art, cultural reproduction occurs, which can shape power dynamics and potentially lead to violence from a gender perspective. Additionally, the conflict between gender ideology and feminist ideology is apparent through the use of hidden transcripts in genjek performances. In this sense, genjek art not only serves entertainment purposes but also needs to be developed as an educational tool. Furthermore, genjek art contains economic potential that can serve as a foundation for entrepreneurship in the performing arts sector.
Environmental Quality Index Analysis in the Ancient Buyan-Beratan-Batur I Gede Budiarta
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.119998

Abstract

This study aims to analyze the Water Quality Index in the Buyan-Beratan Ancient Caldera area; analyze the Land Quality Index in the Buyan-Beratan Ancient Caldera area; and map the distribution of the Environmental Quality Index in the Buyan-Beratan Ancient Caldera area. The method used includes a spatial approach with water quality data processing based on the Calculation of Water Quality Status using the Pollutant Index method with reference to class II water quality standards according to Attachment VI of Government Regulation Number 22 of 2021 concerning the Implementation of Environmental Protection and Management; Land quality was analyzed using a geological and geomorphological approach. The results of the study show that the distribution of water quality both horizontally and vertically in the study area is classified as moderate (class 2), because several parameters are above drinking water quality standards, including: turbidity, pH, NH3, F, Fe, DO, BOD, COD and Coliform Bacteria. Land quality in the study area is suitable for cultivating seasonal crops, such as vegetables and fruits.
Extreme Wave and Abrasion Disaster Risk Mapping on the Coast of Jembrana Regency, Bali I Wayan Krisna Eka Putra; Si Ngurah Ardhya; Gusti Ngurah Putu Pungky Subawa; I Putu Juli Wirawan; Ni Putu Ega Kemalayanti
Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jiis.v12i1.119999

Abstract

This study aims to map the risk level of extreme waves and abrasion disasters in the coastal areas of Jembrana Regency, Bali. The method used includes hazard, vulnerability, and capacity mapping using a GIS-based spatial approach. The analysis was conducted using an overlay technique of three main components: the hazard index, the vulnerability index, and the capacity index to generate a disaster risk index. Data were obtained from secondary sources such as the National Disaster Management Agency (BNPB) and previous studies, and processed using weighting. The results show that most of the coastal areas of Jembrana, especially Pekutatan, Mendoyo, and Jembrana Districts, are categorized as high risk, while Negara and Melaya are categorized as medium. The area with high hazard reaches 7.16 km². This condition indicates the need to strengthen coastal spatial planning-based mitigation and adaptation strategies to reduce the impact of future disasters as part of the disaster management process.

Filter by Year

2015 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 11 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 10 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 9 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 8 No. 2 (2022): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 7 No. 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 7, No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 6 No. 2 (2020): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 6, No 2 (2020): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 6 No. 1 (2020): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 6, No 1 (2020): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 5, No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 5 No. 2 (2019): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 5 No. 1 (2019): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 5, No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2018): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 4, No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2018): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 3 No. 2 (2017): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 3, No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 3 No. 1 (2017): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 2, No 2 (2016): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 2 No. 2 (2016): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 2, No 1 (2016): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 1 No. 2 (2015): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Vol. 1 No. 1 (2015): Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial More Issue