cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Agrikultura
ISSN : 08532885     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agrikultura terbit tiga kali setahun (April, Agustus dan Desember), memuat artikel hasil penelitian dan kupasan (review) orisinal hasil dari penelitian yang sebagian telah dilakukan penulis, dan komunikasi singkat.
Arjuna Subject : -
Articles 413 Documents
Ketahanan Padi Transgenik DB1 terhadap Penggerek Batang Padi Kuning Scirpophaga incertulas Walker (Lepidoptera: Pyralidae) Nono Carsono; Irma Mangatur; Fitri Utami Hasan; Santika Sari; Nenet Susniahti; Hersanti Hersanti; Baehaki S.E. Baehaki S.E.
Agrikultura Vol 28, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.053 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i2.14954

Abstract

ABSTRACTResistance of DB1 transgenic rice to the yellow rice stem borer (Scirpophaga incertulas Walker) (Lepidoptera: Pyralidae)Decrease in rice production in Indonesia can be fulfilled by improving quality and quantity of rice. Rice stem borer (Scirpophaga incertulas) is an important pest that considered being detrimental to rice. The aim of this study was to determine resistance level of DB1 transgenic rice which compared to cv. Taichung-65 (wild-type), Ciherang and IR64 to the pest. Experiments were arranged in Completely Randomized Design and Randomized Block Design. The result showed that DB1 transgenic rice, Taichung-65, IR64 and Ciherang were susceptible with scale 9. The mortality of DB1 transgenic rice was not significantly different with Taichung-65, IR64 and Ciherang. The low levels of resistance in DB1 transgenic rice, Taichung-65, IR64 and Ciherang were also seen in development and growth time of S. incertulas. There was no disruption on development and growth of S. incertulas. DB1 genes were still not enough to provide maximum resistance to S. incertulas and still need to discover information of other genes that can be inserted and increase the resistance of rice to S. incertulas.Keywords: Transgenic rice, DB1 transgene, Yellow rice stem borerABSTRAKSerangan hama telah menurunkan produksi beras, salah satu hama utama di Indonesia adalah penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan padi transgenik DB1 dibanding dengan padi Taichung-65 (padi originnya), Ciherang dan IR64 terhadap penggerek ini. Pada penelitian ini dilakukan pengujian tingkat ketahanan terhadap S. incertulas pada padi yang diuji. Percobaan ditata dengan Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padi transgenik DB1, Taichung-65, IR64 dan Ciherang tergolong padi berketahanan rentan dengan skala 9. Mortalitas padi transgenik DB1 tidak berbeda nyata dengan padi Taichung-65, IR64 dan Ciherang. Rendahnya tingkat ketahanan pada padi transgenik DB1, Taichung-65, IR64 dan Ciherang juga terlihat pada lama perkembangan dan pertumbuhan S. incertulas yang relatif sama, tidak tampak gangguan perkembangan dan pertumbuhan S. incertulas. Gen DB1 masih belum cukup untuk memberikan ketahanan maksimal terhadap S. incertulas. Perlu dicari sumber gen lain guna meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap S. incertulas.Kata Kunci: Padi transgenik, Gen DB1, Penggerek batang padi kuning
Bioaktivitas Formulasi Minyak Biji Azadirachta indica (A. Juss) terhadap Spodoptera litura F. Raden Arif Malik Ramadhan; Lindung Tri Puspasari; Rika Meliansyah; Rani Maharani; Yusup Hidayat; Danar Dono
Agrikultura Vol 27, No 1 (2016): April, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.974 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i1.8470

Abstract

ABSTRACTBioactivity Formulation of Seed Neem Oil Azadirachta indica (A.Juss) against Spodoptera litura (F)The purpose of this research was to know the influence of neem seed extract formulation (Azadin 50 EC) on the mortality, larvae development, larvae weight, and food consumption of Armyworm (Spodoptera litura). This research used randomized complete design with 6 treatments and 5 replications, i.e. control, formula at concentration of 0.2%, 0.4%; 0.8%; 1.6%; and 3.2%. Correlation of concentration neem seed oil formulation and mortality of test insect was analysed using probit analysis, weight of test larvae presented in mean and standard deviation, and development time and food consumption of test larvae analysed with analysis of varians. Formula Azadin 50 EC had LC50 value of 0.659% (0.550-0.781%) at 12 days after treatment. The mortality increased significantly in pupae stage that caused LC50 value become 0.152%. The formula prolonged development time, decrease the weight of test insect and decrease food consumption by the larvae.Keywords: Lethal concentration, Mortality, Growth derangement, ExtractABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari perlakuan formulasi minyak biji mimba Azadin 50 EC terhadap mortalitas, perkembangan larva, bobot larva dan konsumsi pakan ulat grayak (Spodoptera litura F.). Metode Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dengan 5 kali ulangan. Perlakuan tersebut yaitu : Kontrol, konsentrasi formula minyak mimba Azadin 50 EC 0,2%; 0,4%; 0,8%; 1,6% dan 3,2%. Hubungan mortalitas dengan konsentrasi formula dianalisis menggunakan analisis probit, sedangkan data bobot larva, konsumsi pakan dan waktu perkembangan larva dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula minyak biji A. Indica memiliki nilai LC50 sebesar 0,659% (0,550-0,781%) terhadap larva instar 2 hingga instar 4. Pada fase pupa kematian kembali meningkat tajam sehingga nilai LC50 menjadi 0,152%. Perlakuan formula tersebut mengakibatkan perpanjangan waktu perkembangan, menurunkan bobot, dan menurunkan konsumsi pakan larva uji.Kata Kunci: Konsentrasi letal, Mortalitas, Gangguan perkembangan, Ekstrak
Potensi antagonisme senyawa metabolit sekunder asal bakteri endofit dengan pelarut metanol terhadap jamur G. boninense Pat. Fitri Widiantini; Endah Yulia; Ceppy Nasahi
Agrikultura Vol 29, No 1 (2018): April, 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.661 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v29i1.17870

Abstract

ABSTRACTAntagonism potency of secondary metabolites produced by endophytic bacteria in methanol against pathogenic fungi Ganoderma boninense Pat.The research aimed to determine the antifungal effect of secondary metabolites produced by endophytic bacteria of healthy root oil palm tree against the growth of Ganoderma boninense, the causal agent of basal stem rot disease on oil palm tree. Endophytic bacteria isolates (BEK5, BEK6, BEK7, BEK8, BEK9, BEK10 dan BEK11) were grown on ISP2 agar media for 14 days and extracted using methanol. Following extraction, the methanol was evaporated using rotary evaporator and the filtrat was sterilized using membrane filter 0.2 μm. The effect of the secondary metabolites against G. boninense was tested using agar well diffusion method. The observation on the colony growth and morphologicy of G. boninense mycelia were done at 7 days after treatment. The result demonstrated that all of the endophytic bacteria were able to produce seconday metablites that has antifungal effect on the growth of G. boninense. The highest growth inhibition was shown by secondary metabolites produced by BEK6 with inhibition of 22.89%. Furthermore, the secondary metabolites produced by all of the endophytic bacteria were caused morphological changes on the mycelia of G. boninense.Keywords; Antifungal, Inhibition, MalformationABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antijamur metabolit sekunder yang dihasilkan oleh bakteri endofit asal akar tanaman kelapa sawit untuk menghambat pertumbuhan jamur patogen Ganoderma boninense, penyebab penyakit busuk pangkal batang pada tanaman kelapa sawit. Isolat-isolat bakteri endofit (BEK5, BEK6, BEK7, BEK8, BEK9, BEK10 dan BEK11) ditumbuhkan pada media ISP2 agar selama 14 hari dan kemudain diekstraksi dengan pelarut metanol. Metanol diuapkan menggunakan rotary evaporator dan filtrat yang dihasilkan disterilkan menggunakan membran filter berukuran 0,2 μm. Pengujian pengaruh senyawa metabolit sekunder terhadap pertumbuhan jamur G. boninense dilakukan dengan metode agar well diffusion. Pengamatan terhadap pertumbuhan koloni jamur G. boninense dan morfologi miselia G. boninense dilakukan pada 7 hari setelah perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan semua isolat bakteri endofit mengeluarkan senyawa metabolit sekunder yang dapat menghambat pertumbuhan jamur G. boninense. Penghambatan pertumbuhan koloni jamur G. boninense tertinggi sebesar 22,89% ditemukan pada perlakuan metabolit sekunder asal bakteri BEK6. Pengamatan terhadap morfologi jamur G. boninense menunjukkan bahwa senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh isolat-isolat bakteri endofit tersebut dapat menyebabkan perubahan morfologi miselia G. boninense.Kata kunci: Antifungal, Penghambatan, Malformasi
Variabilitas Genotipe-Genotipe Mutan Krisan (Dendranthema grandiflora Tzvelv.) Generasi MV5 Hasil Irradiasi Sinar Gamma Dedeh Kurniasih; Dedi Ruswandi; Murdaningsih Haeruman Karmana; Warid Ali Qosim
Agrikultura Vol 27, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.382 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i3.10881

Abstract

ABSTRACTVariability of mutant genotypes chrysanthemum (Dendranthema grandiflora Tzvelv.) fifth generationsthrough gamma iIrradiationDendranthema grandiflorum Tzvelv. is a major floriculture in Indonesia, and it is one of the five most popular flowers in Indonesia. Chrysanthemum varieties in Indonesia is largely the introduced varieties. Chrysanthemum hybridization especially for decorative flower type in order to obtain superior varieties is relatively difficult, so the mutation breeding is one approach that can be taken to get the chrysanthemum varieties with different phenotypic performances with the that parent.The purpose of this study was to obtain information genetic and phenotypic variability characters observed on chrysanthemum irradiated with gamma ray. The experiment was conducted by an experimental method using a randomized block design (RBD). The treatments consisted of 37 mutants genotypes and 11 genotypes chrysanthemums parent as controls with two replications. The results of this study indicated that the genotypes tested had broad genetic and phenotipic variation for the plant height, flower diameter, number of flower and neck lengths.Key words: Chrysanthemum mutants, Variability, Gamma ray irradiation.ABSTRAKKrisan merupakan komoditas tanaman hias utama di Indonesia dan paling banyak diminati masyarakat. Varietas-varietas krisan yang beredar di Indonesia sebagian besar merupakan varietas introduksi. Persilangan krisan khususnya untuk tipe bunga dekoratif dalam rangka memperoleh varietas unggul relatif sulit dilakukan, sehingga pemuliaan mutasi merupakan salah satu pendekatan yang dapat ditempuh untuk mendapatkan varietas krisan dengan penampilan fenotipik yang berbeda dengan induknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi variabilitas genetik dan fenotipik karakter-karakter yang diamati pada tanaman krisan yangd iradiasi dengan sinar gamma. Percobaan dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Perlakuan terdiri atas 37 genotipe mutan krisan dan 11 genotipe tetua krisan sebagai kontrol dengan dua ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe-genotipe yang diuji memiliki variabilitas yang luas untuk karakter tinggi tanaman, diameter bunga, jumlah kuntum dan panjang tangkai bunga.Kata kunci: Mutan krisan, Variabilitas, Sinar gamma
Peningkatan Nutrisi Tanaman Serealia Menggunakan Actinobacteria Endofit Kartika Sari
Agrikultura Vol 26, No 1 (2015): April, 2015
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.243 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v26i1.8461

Abstract

ABSTRACTNutrient Enhancement In Cereal Crops Using Actinobacterial EndophytesWheat high demand without sufficient production and Actinobacterial endophytes usage limitation inIndonesia motivated this research. The aim was to determine Actinobacterial endophytes effect on nutrientenhancement in wheat (Triticum aestivum L.). It was hypothesized that they can enhance wheat nutrient.The experiment stages were: 1) Pot-Trial I, confirming nutrient enhancement using Actinobacteria in 6 soiltypes; 2) Pot-Trial II, screening Actinobacteria strains; and 3) Field-Trial. The results showed thatActinobacteria effects varied for different nutrients and site based differences. In Pot-Trial I, different soiltypes significantly affected the manganese and zinc content (P=0.00 and P=0.01), but not inoculation ofActinobacteria nor the combination of them. Field Trials showed the same trends. Combination betweenthose treatments significantly affected manganese content (P=0.045). Nutrient analysis on xylem sap in PotTrials 2 only showed the value differences since there was insufficient collected volume to be statisticallyanalyzed. Zinc and iron contents were the highest in Actinobacteria EUM165 treatment and the highestmanganese content in Actinobacteria EN16. In conclusion, wheat nutrient content is affected byActinobacteria and different soil types but there was insufficient evidence to generally conclude that it canbe enhanced. They have their own effects and affected each other in enhancing nutrient content.Keywords: Nutreint, wheat, endophytic ActinobacteriaABSTRAKTingginya permintaan gandum tidak disertai produksi yang cukup, serta terbatasnya pemanfaatanActinobacteria endofit di Indonesia, melatarbelakangi penelitian ini. Tujuannya untuk mengetahuipengaruh penambahan Actinobacteria endofit terhadap nutrisi gandum (Triticum aestivum L.). Diduga,penambahan Actinobacteria endofit dapat meningkatkan kandungan nutrisinya. Tahapan penelitianmeliputi: 1) Uji-Pot I, mengonfirmasi peningkatan nutrisi gandum menggunakan Actinobacteria pada 6 jenistanah; 2) Uji-Pot II, menguji berbagai strain Actinobacteria terhadap peningkatan nutrisi gandum; serta 3)Uji Lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa Actinobacteria meningkatkan nutrisi gandum secara berbedatergantung nutrisi yang diuji serta jenis tanah yang digunakan. Pada Uji-Pot I, jenis tanah berpengaruhnyata terhadap kandungan mangan dan seng (P=0.00 dan P=0.01), tapi pemberian Actinobacteria maupunkombinasi keduanya tidak. Uji Lapangan menunjukkan hasil yang sama. Kombinasi kedua perlakuanmeningkatkan kandungan mangan secara signifikan (P=0.045). Analisis cairan xilem dari Uji-Pot IImenunjukkan perbedaan hasil tanpa uji statistik karena terbatasnya cairan yang dikumpulkan. Kandungantertinggi seng dan zat besi ditunjukkan oleh perlakuan Actinobacteria EUM165 dan mangan yang lebihtinggi oleh Actinobacteria EN16. Disimpulkan bahwa kandungan nutrisi tanaman gandum dapatdipengaruhi oleh pemberian Actinobacteria endofit serta perbedaan jenis tanah, namun tidak cukup buktiuntuk menyimpulkannya secara umum. Baik jenis tanah maupun Actinobacteria endofit memiliki pengaruhsendiri serta saling mempengaruhi terhadap kandungan nutrisi tanaman gandum.Kata kunci: Nutrisi, gandum, actinobacteria endofit
Konsentrasi Kadmium dan Timbal di Tanaman Mendong yang ditanam di Tanah Sawah dengan Aplikasi Azotobacter dan Arang Aktif Triyani Dewi; Reginawanti Hindersah
Agrikultura Vol 20, No 3 (2009): Desember, 2009
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.466 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v20i3.953

Abstract

Dampak kegiatan industri adalah pencemaran air dan tanah pertanian yang mengurangi daya dukung lahan untuk produksi tanaman. Pertumbuhan industri yang meningkat dengan pesat di wilayah Daerah Aliran Sungai  memungkinkan terjadinya pencemaran berbagai jenis logam berat di lahan sawah. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kemampuan tanaman mendong (Fimbristylis globulosa) yang ditanam dengan inokulasi bakteri penghasil eksopolisakarida Azotobacter maupun arang aktif dalam menurunkan kandungan  kadmium (Cd) dan timbal (Pb) dari tanah serta meningkatkan serapannya di tanaman mendong.  Penelitian rumah kaca ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat perlakuan yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  saat mendong berumur 4 minggu,  inokulasi Azotobacter dengan dan tanpa arang aktif menurunkan kandungan Pb tanah, tetapi baik Azotobacter maupun arang aktif tidak mempengaruhi kadar Cd dan Pb di tajuk dan akar mendong. Namun, empat minggu kemudian, Azotobacter maupun arang aktif meningkatkan Kandungan Pb di akar mendong.
Potensi Air Sulingan Beberapa Bagian Tanaman Kopi sebagai Atraktan terhadap Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampeii Ferr.) di Laboratorium SIska Rasiska; Deni Ariyono; Fitri Widiantini
Agrikultura Vol 27, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.988 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v27i2.11203

Abstract

ABSTRACT Potency of Distilled Water of Several Parts of Coffee Plant as Attractant of Coffee Berry Borer (Hypothenemus hampeii Ferr.) in Laboratory Coffee berry borer (Hypothenemus hampeii Ferr.) is one of coffee plant pests, causing fruit damage up to 50 percent. One of control technicques to eliminate the adult female is the use of attractants obtained from parts of coffee plant. The aim of this research was to know the potency of distilled water of parts of coffee plant as attractant to control coffee berry borer. Research was done in the Laboratory of Entomology, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, from February to July 2015. Experiment was conducted in a Randomized Block Design. The treatments were control without distilled water (P0), coffee exocarp distilled water (P1), coffee berry distilled water (P2), coffee leaves distilled water (P3), and coffee branch distilled water (P4). Each treatment was replicated five times. The result showed that distilled water of coffee plant had a potency as attractant of coffee berry borer. Distilled water of coffee bean at the concentration of 4% had the strongest effect, attracting coffee berry borer of 8.8 female adult. The effectiveness of coffee plant distilled water in attracting coffee berry borer lasted three days. Keyword: Distilled water, Attractant, Coffee berry borer ABSTRAK Penggerek buah kopi (PBKo, Hypothenemus hampei Ferr.) merupakan hama utama tanaman kopi yang dapat menyebabkan kerusakan hingga 50%. Salah satu teknik pengendalian imago betina PBKo yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan senyawa atraktan yang terkandung di dalam bagian tanaman kopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi air sulingan bagian tanaman kopi sebagai atraktan terhadap hama PBKo. Percobaan dilakukan di Laboratorium Entomologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran pada bulan Februari 2015 sampai dengan Juli 2015. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan yaitu tanpa pemberian air sulingan (P0); air sulingan kulit buah kopi (P1), biji kopi (P2), daun kopi (P3), dan ranting kopi (P4) dengan konsentrasi masing-masing sebesar 2%, 4% dan 6%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali. Hasil penelitian menunjukkan air sulingan bagian tanaman kopi berpotensi sebagai atraktan terhadap hama PBKo. Rata-rata jumlah imago betina PBKo terbanyak yang tertarik yaitu pada air sulingan biji kopi pada konsentrasi 4% sebanyak 8,8 ekor betina. Masa aktif dari semua air sulingan yang berperan sebagai atraktan dalam menarik imago betina PBKo yaitu selama 3 hari. Kata kunci: Air sulingan, Aatraktan, Penggerek buah kopi
Hubungan antara Kepadatan Populasi Kutu Daun Persik (Myzus persicae Sulz.) dan Tingkat Kerusakan Daun dengan Kehilangan Hasil Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Sudarjat Sudarjat
Agrikultura Vol 19, No 3 (2008): Desember, 2008
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.45 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v19i3.1013

Abstract

Penelitian rumah plastik ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepadatan populasi hama kutu daun persik (Myzus persicae Sulz.), tingkat kerusakan daun dan kehilangan hasil cabai merah (Capsicum annuum). Delapan taraf kepadatan populasi M. persicae (0, 2, 4, 8, 16, 32, 64, dan 128 ekor / tanaman) masing-masing diinfestasikan pada tanaman cabai pada fase pertumbuhan awal dan fase pembungaan awal.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa  populasi M. persicae dan tingkat kerusakan daun oleh hama tersebut berhubungan erat dengan kehilangan hasil cabai merah. Pada tanaman yang diinfestasi M. persicae saat fase pertumbuhan awal, hubungan antara kepadatan populasi (X) dengan kehilangan hasil (Y) mengikuti persamaan garis regresi Y = 19,1865 + 0,3568 X dengan keefektifan menduga sebesar 73,85% dan koefisien kerusakan sebesar 0,8724 g/ekor. Persamaan garis untuk tanaman yang diinfestasi M. persicae saat fase pembungaan awal adalah Y = 19,8504 + 0,3181X dengan keefektifan menduga  62,18 % dan koefisien kerusakan 0,7179 g/ekor. Hubungan antara tingkat kerusakan daun dengan kehilangan hasil pada tanaman cabai yang diinfestasi M. persicae saat fase pertumbuhan awal mengikuti persamaan garis regresi Y = 25,93 + 64,51 X1 + 0,26  X2 – 2,27 X3 {(Y = kehilangan hasil (%); X1 = tingkat kerusakan daun oleh M. persicae (%); X2 = populasi awal M. persicae (ekor/tanaman) dan X3 = waktu pengamatan (minggu setelah infestasi)} dengan  keefektifan menduga 78,75 % dan koefisien kerusakan 1,577 g/% kerusakan daun. Persamaan garis untuk tanaman cabai yang diinfestasi M. persicae saat fase pembungaan awal adalah Y = 25,59 + 1164,87 X1 + 0,08 X2 – 4,60 X3, dengan keefektifan menduga 79,18% dan koefisien kerusakan 3,72  g/% kerusakan daun.
Inventarisasi Penyakit pada Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Pada Tiga Daerah di Jawa Barat Krisna Dwi Laksono; Ceppy Nasahi; Nenet Susniahti
Agrikultura Vol 21, No 1 (2010): April, 2010
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2341.589 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v21i1.975

Abstract

Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah salah satu tanaman alternatif penghasil minyak nabati yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia. Oleh karena itu, faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan jarak pagar perlu diperhatikan termasuk penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi penyakit tanaman yang terdapat di beberapa perkebunan jarak pagar di daerah Jawa Barat yaitu, PT. Genting Oils di Cirata Kabupaten Bandung, PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) di Jatitujuh Kabupaten Majalengka, dan PT. RNI di  Purwadadi Kabupaten Subang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan pengamatan keberadaan penyakit secara langsung pada tanaman sampel. Hasil pengamatan menunjukan bahwa penyakit embun tepung yang disebabkan oleh Oidium sp. dengan intensitas penyakit mencapai 38 %  ditemukan di  kebun Cirata B. Penyakit antraknosa yang disebabkan oleh colletotrichum sp. dengan intesitas penyakit mencapai 37 % ditemukan di kebun Cirata A. Penyakit embun jelaga yang disebabkan oleh Capnodium sp. terdapat di kebun Purwadadi dan Jatitujuh dengan intensitas penyakit mencapai masing-masing 36 % dan 22,5 %.  Selain itu, ditemukan juga penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas sp., penyakit hawar daun kelabu yang disebabkan oleh Pestalotiopsis sp., serta ditemukan juga keberadaan nematode Rotylenchulus sp. di seluruh area penelitian.
Efek Tiga Jenis Pohon Penaung terhadap Keragaman Serangga pada Pertanaman Kopi di Perkebunan Rakyat Manglayang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung Siska Rasiska; Abdirrassyiddin Khairullah
Agrikultura Vol 28, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.152 KB) | DOI: 10.24198/agrikultura.v28i3.15750

Abstract

ABSTRACTThe Effects of Three Types of Shade Trees on the Diversity of Insects in Coffee PlantationArabican coffee (Coffea arabica) is one of the plantation commodities that has economic, social, and ecological value in Indonesia. Commonly, coffee is grown in a shaded condition that will affect the diversity of insects. This research was aimed to study the effects of three types of shade trees on the diversity of insects in coffee plants. This research was conducted at Manglayang Peasant Coffee Plantation, Cipulus Village, Cilengkrang Subdistrict, Bandung Regency and the Entomology Laboratory, Department of Plant Pests and Diseases, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The method used was descriptive survey through observation with systematic diagonal method in selected locations based on three types of shade trees, namely suren (Toona sureni Merr), white teak (Gmelina arborea Roxb), and pine (Pinus merkusii Jungh). The results showed that diversity index of the insects of coffee plants in suren shade trees was low to medium, and the highest percentage of abundance was Empoasca sp. Coffee plant diversity index of the insects with white teak shade trees were medium with highest percentage abundance in the Agromyzidae family and Emposca sp. Coffee plant diversity index of the insect with pine shading trees was low to moderate with the highest abundance of Empoasca sp. and Agromyzidae family.Keywords: Shade tree, Diversity, Insect, Coffee plantABSTRAKKopi arabika (Coffea arabica) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan ekologis bagi masyarakat Indonesia. Pada umumnya, kopi ditanam pada kondisi ternaungi sehingga akan berpengaruh terhadap keragaman serangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efek dari tiga jenis pohon penaung terhadap keragaman serangga pada pertanaman kopi. Penelitian dilakukan di Perkebunan Kopi Rakyat Manglayang, Desa Cipulus, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung dan Laboratorium Entomologi, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Metode yang digunakan adalah survei deskriptif dengan cara observasi dengan metode diagonal sistematis pada beberapa lokasi yang dipilih berdasarkan tiga jenis pohon penaung, yaitu suren (Toona sureni Merr), jati putih (Gmelina arborea Roxb), dan pinus (Pinus merkusii Jungh). Hasil penelitian menunjukkan bahwa serangga tanaman kopi pada tanaman penaung suren indeks keragamannya rendah sampai sedang, dan persentase kelimpahan tertingginya adalah Empoasca sp. Serangga tanaman kopi dengan pohon penaung jati putih indeks keragamannya sedang dengan persentase kelimpahan tertinggi pada family Agromyzidae dan Emposca sp. Serangga tanaman kopi dengan pohon penaung pinus indeks keragamannya rendah hingga sedang dengan kelimpahan tertinggi Empoasca sp. dan famili Agromyzidae.Kata Kunci: Pohon penaung, Keragaman, Serangga, Tanaman kopi

Page 11 of 42 | Total Record : 413