cover
Contact Name
L.M. Zainul
Contact Email
zainul@uniba-bpn.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
identifikasi@uniba-bpn.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota balikpapan,
Kalimantan timur
INDONESIA
IDENTIFIKASI: Jurnal Ilmiah Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lindungan Lingkungan
Published by Universitas Balikpapan
ISSN : 2460187X     EISSN : 26561891     DOI : -
Jurnal Identifikasi adalah Jurnal Karya Ilmiah terbuka untuk umum dan dapat diakses secara terbuka. Jurnal yang diterbitkan telah melalui proses editing. Penggunan informasi dalam tulisan ini bebas dengan menyertakan link sumbernya. Jurnal Identifikasi memiliki bidang kajian keselamatan dan kesehatan kerja di berbagai bidang pekerjaan melipuri industri perminyakan dan gas bumi, tambang, transportasi,rumah sakit, dan bidang pekerjaan lainnya serta kajian di bidang lingkungan
Arjuna Subject : -
Articles 520 Documents
ANALISIS EFEKTIFITAS PANEL AKUSTIK BERBASIS LIMBAH SERAT ALAM SEBAGAI BARRIER KEBISINGAN PADA INDUSTRI: LITERATUR REVIEW Baran, Yohames Noel Poli
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1361

Abstract

Kebisingan merupakan salah satu permasalahan lingkungan kerja di sektor industri yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan, seperti penurunan fungsi pendengaran, stres kerja, dan gangguan konsentrasi. Salah satu metode pengendalian kebisingan yang dapat diterapkan adalah penggunaan panel akustik atau noise barrier. Namun, material sintetis yang umum digunakan memiliki biaya tinggi serta kurang ramah terhadap lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas panel akustik berbasis limbah serat alam sebagai alternatif barrier kebisingan pada industri. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui pengumpulan dan analisis berbagai jurnal nasional maupun internasional yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa limbah serat alam seperti ampas tebu, kulit jagung, sabut kelapa, eceng gondok, kulit pisang, dan serbuk kayu memiliki potensi yang baik sebagai material panel akustik karena memiliki struktur berpori yang mampu menyerap gelombang suara. Kemampuan penyerapan bunyi dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti porositas, densitas, ketebalan material, ukuran partikel, dan jenis serat yang digunakan. Selain memiliki performa akustik yang cukup baik, material berbasis limbah serat alam juga lebih ekonomis, mudah diperoleh, ringan, dan ramah lingkungan dibandingkan material sintetis. Meskipun demikian, masih diperlukan penelitian lanjutan terkait ketahanan material dan penerapannya secara langsung pada lingkungan industri. Secara umum, panel akustik berbasis limbah serat alam berpotensi menjadi alternatif noise barrier yang efektif dan berkelanjutan dalam mendukung pengendalian kebisingan di industri.
ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN KERJA FISIK KEBISINGAN DAN PENCAHAYAAN TERHADAP KINERJA KESELAMATAN: LITERATUR RIVIEW Al Fatwah, Muhammad Hafiz
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1362

Abstract

Lingkungan kerja fisik merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi keselamatan dan kinerja pekerja di tempat kerja. Kebisingan dan pencahayaan menjadi faktor lingkungan kerja fisik yang sering dijumpai pada lingkungan industri dan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap keselamatan kerja apabila tidak sesuai dengan standar yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor lingkungan kerja fisik berupa kebisingan dan pencahayaan terhadap kinerja keselamatan kerja berdasarkan hasil penelitian terdahulu. Metode penelitian yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari berbagai jurnal dan penelitian ilmiah yang relevan mengenai kebisingan, pencahayaan, dan keselamatan kerja. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan cara membandingkan, mengevaluasi, dan mensintesis hasil penelitian untuk memperoleh kesimpulan yang komprehensif. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, stres kerja, kelelahan, serta meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Selain itu, pencahayaan yang tidak sesuai standar juga dapat menimbulkan kelelahan mata, ketidaknyamanan visual, dan menurunkan ketelitian pekerja saat bekerja. Kondisi lingkungan kerja fisik yang kurang optimal diketahui berpengaruh terhadap menurunnya kinerja keselamatan pekerja. Sebaliknya, lingkungan kerja yang aman dan nyaman dapat meningkatkan konsentrasi, produktivitas, dan perilaku keselamatan kerja pekerja. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan faktor lingkungan kerja fisik, khususnya kebisingan dan pencahayaan, sangat penting dalam mendukung keselamatan dan kesehatan kerja. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian melalui pengawasan lingkungan kerja, pengendalian teknis, penggunaan alat pelindung diri, serta evaluasi secara berkala untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan produktif.
ANALISIS TINGKAT KEBISINGAN DAN PENGENDALIAN RISIKO TERHADAP KESELAMATAN KERJA PADA PEKERJA GROUND HANDLING: LITERATUR REVIEW Rempas, Pingkan Dwinova
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1363

Abstract

Pekerja ground handling di bandar udara terpapar risiko bahaya fisik yang signifikan, terutama kebisingan ekstrem yang berasal dari mesin pesawat (turbin) dan aktivitas operasional di area apron. Paparan kebisingan yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) dalam jangka panjang tidak hanya berisiko menyebabkan gangguan pendengaran (Noise Induced Hearing Loss), tetapi juga mengancam keselamatan kerja akibat penurunan konsentrasi dan gangguan komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan di area kerja ground handling serta mengevaluasi upaya pengendalian risiko yang telah diterapkan berdasarkan literatur yang tersedia. Penelitian ini menggunakan metode Literature Review. Data dikumpulkan dari berbagai jurnal ilmiah dan dokumen regulasi terkait kebisingan di bandar udara. Analisis dilakukan dengan membandingkan temuan dari berbagai studi kasus mengenai intensitas kebisingan dan efektivitas penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Hasil tinjauan menunjukkan bahwa intensitas kebisingan di area apron seringkali melebihi standar 85 dB untuk 8 jam kerja, bahkan mencapai lebih dari 100 dB saat pesawat melakukan start engine atau taxiing. Upaya pengendalian yang dilakukan umumnya meliputi pengendalian administratif (pengaturan rotasi kerja) dan penggunaan APD seperti earplug atau earmuff. Namun, efektivitasnya masih sangat bergantung pada kepatuhan pekerja dan kualitas alat yang digunakan.
IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RISIKO PADA PANEL LISTRIK BERDASARKAN STANDAR K3 LISTRIK DI TEMPAT KERJA: LITERATUR RIVIEW Antonio, Marco
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1365

Abstract

Pekerjaan instalasi dan pemeliharaan panel listrik merupakan salah satu aktivitas kerja yang memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi karena berkaitan langsung dengan sistem kelistrikan bertegangan. Potensi bahaya yang dapat terjadi pada pekerjaan panel listrik meliputi sengatan listrik, korsleting, kebakaran, ledakan, luka bakar, jatuh dari ketinggian, serta cedera akibat penggunaan peralatan kerja yang tidak aman. Risiko tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tindakan kerja yang tidak aman (unsafe action), kondisi kerja yang tidak aman (unsafe condition), penggunaan peralatan yang tidak sesuai standar, lemahnya pengawasan kerja, serta rendahnya kepatuhan pekerja dalam menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, mengetahui faktor penyebab kecelakaan kerja, serta menganalisis langkah pengendalian risiko pada pekerjaan panel listrik berdasarkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) listrik di tempat kerja. Metode penelitian yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan mengkaji berbagai jurnal, artikel ilmiah, dan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan instalasi panel listrik, identifikasi bahaya, dan pengendalian risiko kelistrikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan panel listrik memiliki tingkat risiko kategori rendah hingga tinggi yang dipengaruhi oleh faktor manusia, metode kerja, lingkungan kerja, serta kondisi peralatan. Pengendalian risiko dapat dilakukan melalui penerapan Job Safety Analysis (JSA), HIRARC, penggunaan APD sesuai standar SNI 07-0252-2005, pelaksanaan SOP, safety talk, inspeksi berkala, serta peningkatan pelatihan dan pengawasan kerja. Penerapan pengendalian risiko yang optimal diharapkan mampu mengurangi potensi kecelakaan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang aman pada pekerjaan panel listrik.
ANALISIS PERILAKU TIDAK AMAN DAN KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) DALAM MENINGKATKAN KESELAMATAN MARITIM TERHADAP RISIKO KECELAKAAN KERJA DI ATAS KAPAL DENGAN PENDEKATAAN JOB SAFETY ANALYSIS (JSA): LITERATUR REVIEW Odang, Maria Kalista Dua
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1366

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan beban kerja, shift kerja, dan stres kerja terhadap kelelahan serta implikasinya terhadap perilaku keselamatan pekerja pada lingkungan kerja berisiko tinggi. Permasalahan ini menjadi krusial karena kelelahan kerja merupakan salah satu faktor dominan yang memicu kesalahan manusia (human error) dalam kecelakaan kerja . Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan observasional. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan pendekatan Job Safety Analysis (JSA) dan Hazard and Operability Study (HAZOP). Informan dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan langsung dalam aktivitas operasional kerja, dan validitas data diuji melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja tinggi dan sistem shift yang tidak teratur meningkatkan tingkat stres kerja, yang secara langsung berdampak pada kelelahan fisik dan mental pekerja. Kelelahan ini menurunkan konsentrasi, kewaspadaan, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, sehingga meningkatkan potensi terjadinya unsafe acts. Selain itu, ditemukan bahwa pekerja dengan tingkat kelelahan tinggi cenderung mengabaikan penggunaan alat pelindung diri dan prosedur kerja standar. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja, penataan sistem shift yang ergonomis, serta pengendalian stres kerja untuk meningkatkan perilaku keselamatan dan meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
PERLINDUNGAN HUKUM DAN IMPLEMENTASI SMKP DALAM MENEKAN KECELAKAAN KERJA DI SEKTOR PERTAMBANGAN: LITERATURE REVIEW Fernandi, Rafli
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1368

Abstract

Sektor pertambangan merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi, sehingga memerlukan penerapan sistem manajemen keselamatan yang komprehensif serta perlindungan hukum yang memadai bagi pekerja. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) dan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) terhadap penurunan angka kecelakaan kerja serta bentuk perlindungan hukum bagi pekerja yang mengalami kecelakaan kerja. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap 15 jurnal ilmiah nasional terindeks yang relevan dengan topik penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa implementasi SMKP dan SMK3 secara konsisten mampu menurunkan tingkat kecelakaan kerja melalui peningkatan budaya keselamatan, pelatihan, serta pengendalian risiko. Selain itu, perlindungan hukum terhadap pekerja telah diatur melalui regulasi ketenagakerjaan dan keselamatan kerja, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala di lapangan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara sistem manajemen keselamatan dan penegakan hukum yang kuat sangat diperlukan untuk meningkatkan keselamatan kerja di sektor pertambangan.
IDENTIFIKASI DAN EVALUASI RISIKO K3 MENGGUNAKAN METODE HIRARC PADA AREA PRODUKSI: LITERATURE REVIEW Deanova, Stevano Trie Alfedro
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1369

Abstract

Pesatnya perkembangan industri menyebabkan meningkatnya potensi risiko kecelakaan kerja, terutama pada area produksi yang melibatkan penggunaan mesin, alat berat, dan proses kerja yang kompleks. Kondisi ini menuntut penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai upaya penting dalam mengurangi risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, serta mengkaji efektivitas metode Hazard identification, Risk assessment, and Risk control (HIRARC) dalam pengendalian risiko K3 di area produksi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan literature review terhadap berbagai jurnal ilmiah yang relevan pada periode 2019–2026. Analisis data dilakukan menggunakan matriks risiko berdasarkan parameter kemungkinan (likelihood ) dan tingkat keparahan (severity). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas di area produksi berada pada kategori risiko tinggi, dengan tingkat risiko tertinggi pada operasional mesin produksi (nilai 25) yang berpotensi menimbulkan cedera serius hingga fatal akibat tidak adanya pengaman mesin (safety guard). Selain itu, aktivitas pengelasan, penggerindaan, dan pemotongan material juga tergolong berisiko tinggi. Upaya pengendalian yang efektif meliputi penerapan rekayasa teknik, pengendalian administratif, serta penggunaan alat pelindung diri. Dengan demikian, metode HIRARC terbukti efektif dalam mengidentifikasi, menilai, dan mengendalikan risiko K3 secara sistematis guna mendukung peningkatan keselamatan kerja dan implementasi SMK3 di area produksi.
IMPLEMENTASI SISTEM PROTEKSI INSTALASI LISTRIK UNTUK MENGURANGI RISIKO KEBAKARAN DI PEMUKIMAN PADAT PENDUDUK: LITERATUR REVIEW Saputra, Musvin Wandy Aditya
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1370

Abstract

Kebakaran akibat gangguan instalasi listrik masih menjadi salah satu permasalahan serius di kawasan permukiman padat penduduk. Kondisi instalasi listrik yang tidak memenuhi standar keselamatan, penggunaan material yang tidak sesuai, serta rendahnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya listrik menjadi faktor utama meningkatnya risiko kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi sistem proteksi instalasi listrik dalam upaya mengurangi risiko kebakaran pada permukiman padat penduduk melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber literatur berupa jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional, prosiding ilmiah, dan dokumen standar ketenagalistrikan yang dipublikasikan pada tahun 2015–2026. Proses analisis dilakukan secara kualitatif deskriptif melalui identifikasi, seleksi, pengelompokan tema, serta sintesis hasil penelitian terdahulu. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebakaran listrik umumnya disebabkan oleh hubungan arus pendek, beban listrik berlebih (overload), instalasi yang tidak sesuai standar PUIL, serta tidak optimalnya penggunaan perangkat proteksi seperti Miniature Circuit Breaker (MCB), Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB), dan grounding. Implementasi sistem proteksi yang sesuai standar terbukti efektif dalam mengurangi risiko korsleting dan kebakaran listrik. Selain faktor teknis, perilaku dan tingkat kesadaran masyarakat juga berpengaruh terhadap keselamatan instalasi listrik. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi, pengawasan instalasi listrik secara berkala, serta penerapan standar keselamatan ketenagalistrikan secara konsisten guna menciptakan lingkungan permukiman yang lebih aman dan berkelanjutan.
EVALUASI PROSEDUR KESELAMATAN PADA PEKERJAAN PANAS DI CONFINED SPACE DAN BAGAIMANA PERAN SAFETY MENECEGAH KECELAKAAN KERJA: LITERATUR RIVIEW Dani, Sukarno Hasma
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1371

Abstract

Pekerjaan panas (hot work) di dalam ruang terbatas (confined space) pada industri berat seperti kilang minyak memiliki profil risiko kecelakaan kerja yang sangat ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi mendalam terhadap implementasi prosedur keselamatan pada pekerjaan panas di ruang terbatas serta menganalisis peran fungsi keselamatan dalam menutup celah risiko di lapangan. Metode yang digunakan adalah literature review dengan mengkaji, membandingkan, dan menganalisis 15 jurnal ilmiah terdahulu yang relevan mengenai keselamatan kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitigasi risiko pada lingkungan kerja ekstrem ini tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus membentuk satu kesatuan sistem pertahanan berlapis. Keberhasilan pencegahan kecelakaan kerja sangat ditentukan oleh tiga variabel utama, yaitu tingkat kepatuhan prosedur individu yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap kerja positif, keandalan pengujian gas atmosfer (gas testing) secara presisi, serta efektivitas pengawasan melekat oleh personel safety standby yang memegang Stop Work Authority. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa kesenjangan antara regulasi administratif (seperti JSA dan Permit to Work) dengan kondisi riil di lapangan merupakan celah human error utama yang harus dieliminasi melalui pengawasan disiplin, edukasi berkelanjutan, serta dukungan integrasi teknologi sensor array panas modern sebagai early warning system.
STRATEGI PENGENDALIAN KEBISINGAN TERHADAP RISIKO GANGGUAN PENDENGARAN PADA PEKERJA DI LINGKUNGAN INDUSTRI: LITERATUR REVIEW Hikmah, Nur Faisatul
IDENTIFIKASI Vol 12 No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v12i2.1372

Abstract

Kebisingan merupakan salah satu bahaya fisik utama di lingkungan industri yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius, baik secara auditori maupun non-auditori. Secara auditori, paparan bising yang melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) 85 dB dalam jangka panjang dapat memicu Noise Induced Hearing Loss (NIHL) atau penurunan fungsi pendengaran permanen. Selain itu, kebisingan juga berdampak pada kondisi psikologis dan fisiologis pekerja, seperti timbulnya stres kerja, kelelahan fisik yang cepat, serta penurunan konsentrasi yang berisiko pada kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan di berbagai sektor industri serta mengevaluasi strategi pengendalian yang telah diterapkan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji berbagai hasil penelitian terkait paparan bising dan dampaknya terhadap pekerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa mayoritas lingkungan industri, mulai dari sektor manufaktur hingga pembangkit listrik, memiliki intensitas kebisingan di atas NAB. Ditemukan bahwa strategi pengendalian di lapangan saat ini masih didominasi oleh penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan pengaturan administratif, sementara pengendalian teknis pada sumber suara belum dilakukan secara optimal. Hambatan utama efektivitas pengendalian adalah rendahnya kepatuhan pekerja dalam menggunakan APD dan keterbatasan biaya untuk modifikasi mesin. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan pendekatan pengendalian yang lebih komprehensif dengan memprioritaskan rekayasa teknis dan pemantauan kesehatan berkala melalui uji audiometri untuk melindungi tenaga kerja secara berkelanjutan.