cover
Contact Name
Agus Mailana
Contact Email
agus.mailana@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
agus.mailana@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
ISSN : 24069582     EISSN : 25812564     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir: is a peer review of a national journal published by the Tarbiyah Department of Al Hidayah Islamic High School in Bogor in an Islamic Education study program. This journal focuses on issues of Qur'anic science and interpretation.
Arjuna Subject : -
Articles 188 Documents
Diskursus Perbedaan Penafsiran Al-Qur’an Pada Masa Sahabat Hanna Salsabila; Hilma Nurlaila Azhari; Solehudin Solehudin
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4474

Abstract

Penelitian ini bertujuan membahas perbedaan penafsiran zAl-Qur’an di kalangan para sahabat. Metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif melalui styudi kepustakaan. Hadil dan pembahasan penelitian ini terdiri dari bahasa Al-Qur’an dan metodenya, penafsiran Al-Qur’an di masa sahabat, munculnya perbedaan penafsiran dikalangan sahabat dan penyebabnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perbedaan penafsiran dikalangan sahabat di dorong oleh dua sebab. Pertama sebab dzatiyyah yaitu sebab yang berkaitan dengan kepribadian mufasir. Seperti kadar ilmu dan pemahaman yang dimiliki sahabat, ketelitiannya, kemampuannya dalam mendengarkan sebuah riwayat dengan sempurna atau tidak, salah dalam pengambilan hukum. Sebab kedua adalah sebab maudzu’iyyat yaitu sebab yang berkaitan dengan nash atau dilalah. Seperti perbedaan dari sisi qiraat, dari sisi irab, polemik ahli bahasa dalam memaknai sebuah kalimat, lafaz isytirak, am dan khas, muthlaq dan muqayyad, hakiki dan majazi, idlmar dan istiqlal, pertambahan kalimat, urutan awal dan akhir, muhkam dan mansukh, perbedaan riwayat penafsiran.
Pemikiran Tafsir Historis Aksin Wijaya Tentang Nikah Beda Agama Amran Nasution; Faisal Haitomi
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4034

Abstract

Tulisan ini dilatar belakangi oleh fakta literatur terkait aturan yang timpang dalam nikah beda agama. Secara sederhana, laki-laki muslim dilegalkan menikah dengan perempuan yang ahli kitab tetapi tidak berlaku sebaliknya. Di sisi lain penyempitan dan perluasan makna di saat yang sama juga menjadi pertanyaan besar. Mengapa kata “musyrikah” dibatasi pemaknaannya pada perempuan ahli kitab, sedangkan dalam saat yang sama kata “musyrikin” tidak dibatasi sama sekali. Riset ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historis melalui perspektif Aksin Wijaya sebagai pisau analisis. Secara sederhana pendekatan ini hendak melihat bagaimana kondisi sosial, budaya yang berkembang, serta hal lain yang dianggap perlu dan terjadi pada masyarakat di saat suatu ayat diturunkan. Karena hal ini menyumbang andil yang besar dalam menghasilkan kesimpulan yang komprehensif terhadap suatu ayat.  Riset ini menemukan bahwa aturan yang difatwa terkait nikah beda agama bukanlah karena alasan teologis normatif, melainkan karrena alasan budaya patriarkhi yang mengambil peran agama dan menjadikannya sebagai kambing hitam.
Implikasi Konsep Al-Wujuh Wa Al-Nadzair Dalam Penafsiran Alquran Nur Azizah
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4017

Abstract

Al-wujuh wa al-nadzair merupakan salah satu bahasan yang berkaitan dengan konteks makna kosa kata yang terdapat di dalam Alquran. Al-wujuh adalah kata yang memiliki kesamaan lafadz namun berbeda makna. Sedangkan al-nadzair kata-kata yang lafadznya berbeda, namun maknanya sama, walaupun mengandung pesan atau penekanan yang berbeda. Tujuan dari tulisan ini ialah untuk mengetahui bagaimana implikasi dari al-wujuh wa al-nadzair terhadap proses pemaknaan Alquran melalui contoh analisis dari penafsiran Alquran Bintu Syati’. Metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah deskriptif-analitis. Hasil kesimpulannya menyatakan bahwa karakter al-wujuh wa al-nadzair dalam penafsiran Bintu Syati’ dengan menggunakan teorinya anti-sinonimitas hanya berlaku untuk nadzair, bukan al-wujuh. Artinya, di dalam setiap pemaknaan kata meskipun akar katanya sama tidak akan menghasilkan makna yang sama, namun tidak sampai pada al-wujuh (satu kata banyak makna).
Makna Ayat-Ayat Fauzan Adzima dalam Al Quran Menurut Sayyid Qutb (Studi Tafsir Fi Zhilal Quran) Fauzan Adzima; Endang Saeful Anwar
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4456

Abstract

Terkadang makna kata dalam Al-Quran memiliki penafsiran yang berbeda. Dengan mufassir yang memiliki latar belakang tersendiri. Tulisan ini mengkaji penafsiran Sayyid Qutb dalam kata fauzan adzima. Untuk mendapatkan hasil yang komprehensif dan relevan, sehingga menjadi makna penting dalam Al-Quran. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dengan model penelitian kajian library research. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran Fauzan Adzima terhadap makna ayat-ayat tersebut memiliki variasi yang berbeda. Dalam Q.S AnNisaa, Fauzan Adzima memberikan dua makna yang berbeda. Pertama, kemenangan dalam perspektif orang munafik, yang mencakup kemenangan dalam peperangan dan memperoleh harta rampasan yang besar. Kedua, kemenangan dalam perspektif orang Muslim, yang melibatkan mencari ridha Allah dengan ikhlas melaksanakan perintah untuk berperang, bahkan ketika mengalami syahid, yang juga dianggap sebagai kemenangan yang besar. Dalam Q.S Al Ahzab, Fauzan Adzima menginterpretasikan kemenangan sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan mematuhi segala perintah dan larangan yang diturunkan-Nya. Dia menegaskan pentingnya tidak menyimpang seperti orang-orang munafik yang mencela Islam dengan budaya mereka. Sementara dalam Q.S Al Fath, Fauzan Adzima memberikan penafsiran bahwa kemenangan adalah hadiah dari Allah berupa surga. Selain itu, ia juga menyebutkan bahwa keuntungan lainnya yang dimaksud adalah keuntungan yang diperoleh melalui perjanjian Hudaibiyah.
Makna Rih dan al-Riyah dalam Alquran lailatul wardah
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4116

Abstract

Kata rih dan al-riyah terlihat hanya berupa sebutan mufrad dan jamak dari suatu kata. Allah menyebutkan term rih dan al-riyah dengan berbagai bentuk yang mempunyai makna tersirat atau tersembunyi. Jika dilihat pada maknanya, setiap lafal tersebut digunakan dalam konotasi makna yang berbeda. Kata al-riyah digunakan untuk menyebutkan sesuatu yang baik dan menyenangkan. Sedangkan kata rih digunakan untuk menyebutkan gambaran azab yang membinasakan atau kepada hal-hal yang sifatnya merusak (negatif). Kata rih disebutkan sebanyak 29 kali dalam 28 ayat yang tersebar di 26 surat. Dengan dua bentuk, yaitu bentuk mufrad (rih) dan jamak (al-riyah). Bentuk mufrad disebutkan sebanyak 19 kali, sedangkan dalam bentuk jamak sebanyak 10 kali. Di antaranya, 21 surat termasuk dalam kategori ayat-ayat Makkiyah, dan 5 surat tergolong ayat-ayat Madaniyah. Kata rih dan al-riyah dalam Al-Qur’an merupakan satu ungkapan kata yang memiliki beragam makna. Setiap perbedaan dan pengulangan kata tersebut masing-masing memberikan penekanan pada konotasi makna yang berbeda pula sesuai relasi kalimat dengan konteks ayat yang ingin disampaikan Al-Qur’an. Kata rih dan al-riyah tidak hanya memiliki makna angin, tetapi juga mengalami pergeseran atau perubahan makna menjadi kekuatan atau kejayaan, pertolongan dan bau atau aroma. Pada umumnya, jika Al-Qur’an mencantumkan bentuk jamak al-riyah, maka yang dimaksud lebih kepada hal positif yakni seperti nikmat dan rahmat. Sedangkan, apabila digunakan dalam bentuk mufrad yakni rih, makna yang diisyaratkan adalah hal negatif seperti bencana atau azab Allah. 
Arah Penelitian Tafsir Studi di Prodi IAT STAI Al-Hidayah Bogor Aceng Zakaria; Syaeful Rokim; Rumba Triana; Herman Herman
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4657

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang gambaran umum arah penelitian tafsir yang dilakukan oleh mashasiswa pada prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Pembatasan pada penelitian ini pada skripsi mahasiswa di prodi ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hidayah Bogor. Dari penelitian ini ditemukan bahwa arah penelitian tafsir mahasiswa IAT di STAI Al-Hidayah Bogor pada pemahaman ahlus sunnah wa jamaah ditinjau dari segi akidah, sedangkan dari segi penulisan tafsir, metode maudhui lebih banyak digunakan dari pada metode muqaran dan lainnya. Jenis metode maudhui yang lebih banyak digunakan oleh mahasiswa adalah jenis tema pembahasan pilihan dan tidak terbatas pada tema pembahasan akidah saja. Tetapi pembahasan mencakup tema akhlak, ibadah, jual beli dan tema lainnya yang menjadi isu di masyarakat. Sedangkan metode tafsir muqoron juga menjadi perhatian oleh sebagian mahasiswa dengan menawarkan penjelasan perbandingan pemahaman tafsir ahlus sunnah wa jamaah dengan pemahaman dari golongan lainnya. Hal ini merupakan bagian untuk memperkuat mahasiswa tentang pemahaman ahlus sunnah wa jamaah.
Model Sosiologi Ekonomi dalam Perspektif Al-Qur’an Musthofa Zahir; Arizqi Ihsan Pratama; Nailil Muna Shalihah
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4495

Abstract

Diskursus sosiologi ekonomi konvensional belum berhasil mewujudkan cita-cita kesejahteraan sosial. Terbukti dari masih banyak terjadinya kesenjangan sosial dan kemiskinan di berbagai belahan bumi. Situasi ini mengakibatkan konflik sosiologi ekonomi yang memakan banyak korban. Perdamaian dunia dan kemajuan peradaban masih sulit diwujudkan karena terbebani tanggung jawab penyelesaian konflik. Dibutuhkan solusi yang komprehensif, menyelesaikan akar permasalahan serta mengobati semua dampak yang ditimbulkannya. Berdasarkan fakta tersebut maka permasalahan penelitian ini adalah bahwa belum adanya model sosiologi ekonomi yang menyeluruh yang mampu mengatasi masalah kesenjangan sosial dan kemiskinan sebagai sumber terjadinya konflik. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk menemukan suatu model sosiologi ekonomi yang bisa menjadi solusi praktis bagi semua aspek permasalahan sosiologi ekonomi di masa ini dan masa mendatang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, berbasis riset kepustakaan, ayat-ayat Al-Qur'an, publikasi penelitian, jurnal, seminar, dan artikel. Metode penafsiran yang digunakan adalah metode tafsir tematik (tafsir maudhû’i) karena dipandang bisa menghasilkan penafsiran yang komprehensif, sistematis, dan mudah dipahami. Penelitian ini nememukan bahwa model sosiologi ekonomi dalam perspektif Al-Qur’an memfokuskan pada pemenuhan 5 prinsip sebagai pedoman utama bagi seluruh pemahaman sosiologi ekonomi, yaitu prinsip ketuhanan, prinsip kesejahteraan, prinsip keadilan, prinsip distribusi kekayaan, dan prinsip antisipasi krisis.
Metodologi Tafsir Maudhu’i Perspektif Al-Sa’di dalam Taisir Al-Lathif Al-Mannan Fi Khulashah Tafsir Al-Qur’an (Karya Tafsir Kedua ‘Abd Al-Rahman Ibn Nashir Al-Sa’di) Rahendra Maya; Syaeful Rokim; Muhammad Naji Bulloh; Muhammad Fadilah Alfarisi
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4658

Abstract

Al-Sa’dî dan berbagai karyanya banyak menarik minat para peneliti untuk melakukan penelitian terhadapnya. Di antara karya Al-Sa’dî yang patut diapresiasi dan mendapatkan atensi penelitian adalah karya tafsir keduanya yang berjudul Taisîr Al-Lathîf Al-Mannân fî Khulâshah Tafsîr Al-Qur’ân. Namun dalam realitasnya, tafsir tersebut belum banyak dijadikan sebagai objek penelitian, dibandingkan kitab tafsir primer dan populer karya Al-Sa’dî, yaitu Taisîr Al-Karîm Al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm Al-Mannân. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif studi pustaka dengan teknik pengumpulan data menggunakan sumber-sumber literatur dan dokumentasi, sedangkan teknik analisisnya mengunakan analisis isi secara deskriptif dan kualitatif-interpretatif. Tujuan dari artikel ini adalah mengintroduksi Taisîr Al-Lathîf Al-Mannân fî Khulâshah Tafsîr Al-Qur’ân sebagai karya tafsir Al-Sa’dî lainnya yang layak untuk dijadikan objek penelitian dan dengan menganalisis isi kandungannya secara deskriptif-interpretatif.
Relevansi Dekadensi Moral Terhadap Degradasi Lingkungan Herman Herman; Hery Saparjan Mursi; Ahmad Khoirul Anam; Ahmad Hasan; Ade Naelul Huda
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4329

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bentuk kerusakan lingkungan dan faktor penyebab terjadinya kerusakan lingkungan di Indonesia. Dan mendeskripsikan fungsi manusia terhadap lingkungan sebagai khalifah fil Ardh.  Tulisan ini disusun menggunakan teknik kepustakaan (Library research), dengan mengumpulkan berbagai referensi yang relevan dengan permasalahan yang dikaji. Hasil penelitian di antaranya: Pertama, Dekadensi moral melahirkan kejahatan sosial ; kedua, Faktor utama terjadinya dekadensi moral adalah iman yang lemah dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pengamalan tentang hakikat iman; ketiga Ketamakan dan keserakahan merupakan salah satu wujud dekadensi moral yang menjadikan manusia mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampak kerusakannya. Penelitian literer ini akan menjawab dampak kerusakan lingkungan bagi manusia yang secara tersurat sudah dijelaskan oleh Allah melalui firman-firmannya yang terhimpun dalam Al-Qur’an. Untuk itu metode analisis digunakan adalah interpretatif komparatif antar kitab tafsir. Temuan dari penelitian ini bahwa kerusakan lingkungan karena perbuatan manusia memiliki dampak negatif secara multidimensional yang dirasakan tidak hanya pelaku kerusakan, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat pada umumnya
IBNU KATSIR INTERPRETATION METHOD Tafsir Al-Qur'an Al-Azim Nabila Fajriyanti Muhyin; Muhammad Ridlwan Nasir
Al - Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8, No 01 (2023): Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/at.v8i01.4482

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk membahas metode yang digunakan oleh para ahli tafsir dalam menafsirkan Al-Qur’an, salah satunya Ibnu Katsir yang tergolong sebagai mufassir era pertengahan (8 H), namun ia resmi berada pada posisi klasik karena menggunakan bentuk penafsiran bi al-Ma’tsur dalam menulis karya tafsirnya yaitu Tafsir al-Qur’an al-Adzim.  Secara khusus penulis akan mengkaji lebih dalam mengenai metode dan aliran yang digunakan oleh Ibnu Katsir dalam melakukan penafsirannya tersebut. Penelitian ini bersifat dekriptif-analitis dengan menggunakan pendekatan kualitatif pustaka, yakni dengan cara menelusuri informasi dari beberapa sumber data tertulis yang berkaitan dengan tema pokok penelitian. Dari penelitian ini penulis berhasil menyimpulkan bahwa tafsir Ibnu Katsir menggunakan metode tafsili (analitis), sedangkan dalam segi penyusunan kitab tafsirnya menggunakan tartib mushafi/tahlili. Adapun corak penafsirannya Ibnu Katsir lebih cenderung pada corak fiqih. Disisi lain dalam penafsirannya ia juga mencantumkan beberapa riwayat qiraah sab’ah, dan beberapa kisah israilliyat tetapi juga menunjukkan kejanggalan dari kisah tersebut. 

Page 11 of 19 | Total Record : 188