cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum
ISSN : 2085384X     EISSN : 25793578     DOI : -
Core Subject : Economy,
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum adalah jurnal ilmiah tentang inovasi kebijakan dan penerapan teknologi dalam perencanaan infrastruktur, pengembangan, dan manajemen. Ruang lingkup terbatas pada ruang, sosial, ekonomi, dan perspektif lingkungan transportasi jalan, sektor air, limbah, dan perumahan. Jurnal ini dikelola oleh Pusat Litbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Jurnal ini diterbitkan pada tahun 2009, dengan nama "Komunitas”. Dengan adanya perubahan organisasi, nama jurnal berubah menjadi Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum dan diterbitkan secara berkala 2 (dua kali) edisi di setiap volume yaitu bulan April dan November.
Arjuna Subject : -
Articles 148 Documents
Tinjauan Kebijakan Lingkungan Hidup terhadap Standar Baku Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah Lumongga, Retta Ida
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 6, No 2 (2014)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.548 KB)

Abstract

One of the environmental problem is related to the waste, and to the place where the waste is collected. There are standards that govern the procedures for the selection of landfill site. However, with the advent of new restrictions due to developments in environmental policy , it is necessary to conduct a review of the standards on the basis of policy development, at international level, national level and regional level . The method used is to follow the framework undertakes a review of the results of data collection in the form of various policy documents , standards , evaluation of the results of environmental studies and literature . The results: with the development of the environmental policy of the additional word ‘ protection ‘ to the new law has the potential to influence the standards and their application ; absence of authority over the abundance of local government so that the selection of the location of landfills need to understand the local waste management policies; development of understanding landfills than a landfill ( the standard) into a waste processing and direct open - dumping into the sanitary landfill;aesthetic standards of the processing can reduce landfill trash.
Adaptasi Masyarakat Menghadapi Perubahan Iklim dalam Ketersediaan Air Minum Heston, Yudha Pracastino; Febrianty, Dessy
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.585 KB)

Abstract

The climate change also increases water crisis caused by the length of dry season, especially on regions with lesser amount of water. The impact on water area consequently affects social aspects. City as center of activities becomes a vulnerable place to the impacts of climate change. The research question is regarding strategy of community adaptation to the climate change impact on drinking water, focusing on finding community readiness strategy. The study is conducted with qualitative–quantitative approach. Data analysis uses thematic analysis method, by which inductive data is analyzed based on a bunch of data collected, and processed using the principles of inductive reasoning. Resulting theory is composed from hypothetical assumptions and checked with the data. Quantitative analysis is followed by a descriptive statistical analysis, inferential and adaptation valuation. The analysis shows that communities have adapted autonomously to the drinking water availability according to its context, content, attributes and adaptation process. Areas with water scarcity (such as Kupang and Gunung Kidul) have better institutional and community preparedness than areas with abundance of water. However, they require more adaptation efforts. Adaptation can be measured with quantitative data, such as infrastructure, commercial businesses, health settlement and general population, as well with qualitative data: the readiness of individuals, communities and institutions.
MODEL PENILAIAN KESIAPAN TEKNOLOGI UNTUK DIMANFAATKAN MASYARAKAT SECARA BERKELANJUTAN Panggabean, Elias Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 3, No 3 (2011)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.687 KB)

Abstract

Rendahnya pemanfaatan produk hasil litbang dalam pembangunan infrastruktur PU mengindikasikan belum siapnya teknologi untuk dimanfaatkan masyarakat. Dalam siklus litbang, fase ujicoba skala penuh merupakan fase paling krusial karena pada fase ini seringkali muncul permasalahan yang berakibat tidak optimalnya keberberlanjutan pemanfaatan teknologi. Hal ini mengindikasikan bahwa teknologi yang dirancang belum siap untuk diterapkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kesiapan teknologi adalah dengan menyusun instrumen penilaian kesiapan teknologi yang dapat memandu periset mematangkan teknologi sebelum dimanfaatkan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan datanya dikumpulkan melalui wawancara dan studi literatur. Instrumen tersebut dikembangkan dari model BPPT yang dikombinasikan dengan teori konsepsi-adopsi teknologi. Penilaian terdiri dari sembilan tingkatan dan terbagi dalam tiga tahapan riset yaitu riset dasar, riset terapan dan riset pengembangan. Hasil uji coba instrumen pada hasil penelitian dan pengembangan PU tahun anggaran 2011 menyimpulkan bahwa kesiapan teknologi pada setiap tahapan riset belum maksimal, karena ada beberapa parameter yang belum dicapai secara optimal, khususnya parameter sosial, ekonomi dan lingkungan.
Tinjauan Sosial-Ekonomi Sinergi Pembangunan Jalan Tol dan Jalan Kereta Api di Pulau Jawa Wiryawan, Bangkit Aditya; Sudjatmiko, Bambang
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2108.899 KB)

Abstract

The construction of highway and railroad as modes of transportation in Java Island has social economic implications. Each of them has different characteristic taht must be suited with local-regional needs. Nonetheless, Indonesia has been experiencing imbalance development of public transportation for the last 30 years. Since 1970's the emphasis of transportation development were mainly on highway road, leaving railroad development behind until 2007 when the government issued Law 23/2007. This underlines the research problem in this paper which uses quantitative methodology in data analyzing. The main goal of this paper is to look the benefit of each transportation modes, and furthermore in finding the posibility of highway road and railroad synergism as the effecient strategy in supporting the development of Java Island. 
Penguatan Manajemen Mendorong Kemandirian Kelembagaan Pengelolaan Irigasi Pasang Surut di Kalimantan Selatan Rina D, Yanti; Panggabean, Elias Wijaya
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 6, No 3 (2014)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.353 KB)

Abstract

Tidal irrigation management at the tertiary level is facing constraints such as low participation of farmers and institutional role of Water Users Asociation (WUA) which is considered not optimal. WUA empowerment through strengthening of management is one of the efforts to promote self-governance of WUA. This study aims to measure the level of self-governance of the WUA groups through strengthening program management in tidal wetlands. Research was conducted from January to December 2012 using a qualitative approach by survey, in-depth interviews and participatory observation techniques to collect data. The sample group is WUA of Sri Rezeki at Karang Buah Village and WUA of Bina Usaha at Karang Dukuh (as a comparison), in Barito Kuala. Strengthening the management was conducted by applying management functions such as planning, organizing, implementing and controlling the organization of WUA. The results showed that strengthening the group management of WUA of Sri Rezeki generated: self-governance group with medium category, leadership with high category, management of group dynamics with high category, group effectiveness with high category and profitable farming for farmers.
Faktor Determinan Kesiapan Masyarakat terkait Kapasitas Adaptasi Perubahan Iklim Sektor Air Minum Heston, Yudha Pracastino; Wati DP, Nur Alvira Pasa
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 5, No 3 (2013)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1019.572 KB)

Abstract

The construction of sprinkler irrigation indryland farming operation could be delayed due to the absence of the formal institution of farmer group, who participate to perform maintenance operation. What is the right institutional forms of irrigation in conformity with the local conditions and local wisdom in dryland farming is a problem addressed by this study. The application on trial of the institutional of participation of the communities in the maintenance operations carried out on two selected provinces that both have a dry climate criteria and big gun sprinkler has not been operated, namely Desa Linelean, Districts Modoinding, North Sulawesi Province, and Desa Manusak and Desa Oesao, Districts East Kupang, East Nusa Tenggara Province. Qualitative approach is used. As a result, the organizational structure is possible to be made simpler, where jurupungut can be optionally adjusted to conditions at the application site. Conclusion, the application of institutional outline can be implemented according to the stages that have been there, however its application is not absolute, but rather, it takes an adjustment to the characteristics and local wisdom.
KESIAPAN MASYARAKAT TAMBAKLOROK DALAM MENERIMA RENCANA REVITALISASI KAWASAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI APUNG Nugraha, Dimas Hastama
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.102 KB)

Abstract

Wilayah pesisir yang berkembang tanpa arah mengakibatkan masalah diberbagai aspek, baik sosial, ekonomi, maupun lingkungam. Hunian menjadi salah satu bagian yang terkena dampak dari hal tersebut. Salah satu solusi dari masalah ini adalah dengan menggunakan teknologi hunian apung. Hal ini akan diterapkan di Tambaklorok Semarang yaitu dengan pilot project pembangunan Balai Apung sebagai salah satu upaya revitalisasi kawasan. Kawasan Tambaklorok dipilih karena memiliki land subsidence yang cukup tinggi (berkisar 12-14 cm/tahun) dan permasalahan banjir rob. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan masyarakat di Tambaklorok dalam menerima rencana revitalisasi kawasan menggunakan teknologi apung. Unit analisis kajian ini adalah penduduk di lokasi penerapan teknologi, yaitu di Tambaklorok Semarang. Sedangkan unit observasi dalam pelaksanaan kajian ini adalah kawasan yang ada di lokasi penerapan teknologi hunian apung. Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis yang dipergunakan adalah content analisis. Hasil dari studi ini adalah kesiapan masyarakat menerima revitalisasi kawasan menggunakan teknologi apung menunjukkan adanya perubahan kearah yang positif. Tingkat kesiapan masyarakat mulai bergerak naik di anak tangga kesiapan, dari yang sebelumnya berada pada tingkat preplanning, dimana sudah ada pemahaman bahwa terdapat masalah yang harus dipecahkan bersama-sama, telah ada figur pemimpin komunitas namun belum ada perencanaan yang konkrit; bergerak naik menuju tingkat initiation, dimana komunitas sudah mulai terlibat secara aktif dan sudah tidak ada resistensi. 
HUBUNGAN LINGKUNGAN DENGAN SISTEM KEBUDAYAAN DALAM PEMANFAATAN AIR (Studi Komparatif Etnis Dayak Kapuas dan Sasak Lombok) Suriadi, Andi; Angguniko, Bastin Yungga
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.126 KB)

Abstract

Penelitian ini mengangkat hubungan perbedaan kondisi lingkungan sumber daya air (wilayah rawa danpegunungan) dengan sistem kebudayaan pemanfaatan air pada etnis Dayak Kapuas dan etnis Sasak Lombok.Dengan menggunakan metode kualitatif, terungkap bahwa terdapat beberapa perbedaan pada wujudkebudayaan yakni sistem budaya, perilaku, dan karya budaya dalam pemanfaatan air, baik untuk kebutuhandomestik maupun untuk kebutuhan pertanian. Perubahan lingkungan sumber daya air di daerah hulu ternyatamenyebabkan pula perubahan pada sistem kebudayaan kedua etnis tersebut. Untuk itu, perlu mendorongupaya konservasi di bagian hulu untuk menjamin ketersediaan sumber daya air (di Lombok) dan keperluanteknologi pengolahan air serta mobilitas moda transportasi sungai (di Kapuas).
EFEKTIFITAS DEREGULASI IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DALAM MENDUKUNG PENYEDIAAN PERUMAHAN BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KOTA MEDAN DAN MAKASSAR Setyoadi, Nino Heri
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 10, No 2 (2018)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1061.233 KB)

Abstract

Penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui program sejuta rumah terkendala oleh perizinan di daerah. Untuk mengatasi kendala tersebut, pemerintah melakukan deregulasi perizinan melalui Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 05/PRT/M/2016 tentang Izin Mendirikan Bangunan Gedung (IMB). Kondisi dilapangan menunjukkan deregulasi tersebut tidak dapat berjalan optimal. Tulisan ini bertujuan mengevaluasi efektifitas deregulasi perizinan IMB dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas deregulasi perizinan IMB di kota Medan dan Makassar. Metode yang digunakan dekriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara dengan pengambil kebijakan daerah, instansi penyelenggara IMB, dan asosiasi pengembang perumahan, pengamatan lapangan proses IMB dan dokumentasi data sekunder. Hasil analisis menunjukkan implementasi deregulasi perizinan IMB dikedua kota belum efektif. Faktor pertama yang mempengaruhi berupa regulasi di daerah yang belum sesuai dengan ketentuan Permen PUPR No. 05/PRT/M/2016 baik dalam aspek persyaratan IMB, mekanisme, dan prosedur didalamnya. Faktor kedua berupa ketiadaan tahapan peninjauan lapangan dalam Permen PUPR No. 05/PRT/M/2016 yang belum ada mitigasi resikonya. Faktor ketiga, penyelenggara perizinan IMB masih dibebani dengan kepentigan diluar urusan keandalan bangunan dan kesesuaian tata ruang. Untuk meningkatkan efektifitas deregulasi IMB maka harus dilakukan penghapusan syarat bukti pajak bumi bangunan (PBB) terakhir dan target retribusi daerah. Selain itu perlu di keluarkan regulasi setingkat Peraturan Pemerintah untuk melindungi pejabat daerah sebagai mitigasi resiko dihilangkannya tahapan peninjauan lapangan.
Kepemilikan Saham Sebagai Salah Satu Bentuk Ganti Kerugian dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Jalan Sukma, Andrio Firstiana
Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum Vol 6, No 1 (2014)
Publisher : Puslitbang Kebijakan dan Penerapan Teknologi (PKPT), Kementerian PUPR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (814.644 KB)

Abstract

Land procurement for public purposes which regulated in Law No. 2/2012 aims to provide land for the implementation of development in order to improve the welfare and prosperity of the nation, state, and people with ensuring legal certainty of the rightful owner. A decent and fair compensation should be given in the land procurement. Compensation can be given in cash, land replacement, resettlement, stock or combination of 2 or more compensation forms. Nowadays, usually compensation is given by cash because of it is easy, fast, practical and cheap. However, compensation in stock considered as a promising one because it ensures income for rightful owners. Unfortunately regulation about it is not comprehensive and needs to be completed so it won’t cause a problem in the future. Through qualitative and content analysis there are some things to be clarified, namely state-owned enterprises function in land procurement, minimaum compensation for buying 1 lot of state-owned enterprises stock and the importance of involving fund manager since the beginning.