cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Reformasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
ISSN : 20887469     EISSN : 24076864     DOI : -
Core Subject : Social,
Reformasi adalah jurnal peer-review yang menerbitkan artikel tentang praktik, teori, dan penelitian di semua bidang komunikasi politik, komunikasi massa, media & gender, komunikasi pemasaran, pelayanan publik, manajemen publik, pelayanan publik, kebijakan publik, dan otonomi daerah. Scope jurnal terdiri dari sosial, politik, komunikasi. Setiap naskah yang diserahkan akan ditinjau oleh satu peer-reviewer menggunakan metode double blind review. Reformasi : Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Politik diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Jurnal ini diterbitkan setiap enambulan sekali (Januari-Juni dan Juli-Desember).
Arjuna Subject : -
Articles 353 Documents
Membangun Ketahanan Pemuda berbasis Modal Sosial dalam Mencegah Penyalahgunaan Narkotika: Studi Tiga SMA di Jakarta Selatan Pamungkas, Ghufron Irfandi; Puspitasari, Maria
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.6798

Abstract

This research is based on the high rate of drug abuse among young people. The high rate of abuse has an impact on the vulnerability of the community in terms of social, economic and health. This research aims to identify the forms of social capital that contribute to young people's resilience, by focusing on several youth communities in the South Jakarta area. Using the social capital theory proposed by Robert D. Putnam, this research explores the role of norms, social networks and trust in creating a supportive environment for drug abuse prevention through a qualitative approach with descriptive analysis techniques. Data collection techniques used interviews and document studies. Interviews were conducted with teacher and student from three senior high schools in South Jakarta. The results showed that the anti-narcotics norms socialized by schools through cooperation with BNN can help build students' collective awareness. To form social capital that contributes to young people's resilience is not easy. It requires a process through the social network support that BNN builds with schools through extracurricular activities and student council involvement and the group communication built through it. This is a form of emotional support that can prevent young people from getting involved with drugs. Positive meanings through communication between teachers and students, students and other students, both interpersonal communication and routine and intensive group communication in social networks contribute to the formation of social capital that can build young people's resilience to drugs.Penelitian ini didasari oleh tingginya angka penyalahgunaan narkotika di kalangan orang muda. Tingginya angka penyalahgunaan berdampak pada kerentanan masyarakat dari segi sosial, ekonomi dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk modal sosial yang berkontribusi pada ketahanan orang muda, dengan memusatkan perhatian pada beberapa komunitas remaja di kawasan Jakarta Selatan. Dengan menggunakan teori modal sosial yang dikemukakan oleh Robert Putnam, penelitian ini mengeksplorasi peran norma, jaringan sosial dan kepercayaan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan penyalahgunaan narkotika melalui pendekatan kualitatif dengan teknik analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan studi dokumen. Wawancara dilakukan kepada guru dan siswa dari tiga SMA di Jakarta Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa norma antinarkotika yang disosialisasikan sekolah melalui kerja sama dengan BNN dapat membantu membangun kesadaran kolektif siswa. Untuk membentuk modal sosial yang berkontribusi pada ketahanan orang muda, tidak mudah. Membutuhkan proses melalui dukungan jaringan sosial yang dibangun BNN dengan sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler dan keterlibatan OSIS serta komunikasi kelompok yang dibangun melaluinya. Hal tersebut menjadi bentuk dukungan emosional yang dapat mencegah orang muda untuk terlibat dengan narkotika. Pemaknaan yang positif melalui komunikasi guru dengan siswa, siswa dengan siswa lainnya baik komunikasi interpersonal maupun komunikasi kelompok yang rutin dan intensif dalam jaringan sosial berkontribusi kepada terbentuknya modal sosial yang dapat membangun ketahanan orang muda terhadap narkotika.
Membaca Kebijakan Pendidikan di Indonesia dan Malaysia Terkait Tes PISA Abdillah, Muhammad Torieq; Syifa, Siti Nur
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.6459

Abstract

This research is based on the results of the 2022 PISA test, which revealed that Indonesia's scores are still lower than Malaysia's, despite both countries emphasizing literacy in reading, mathematics, and science in their education policies, as outlined in their respective constitutions and laws. This study employs a descriptive- qualitative method with a comparative approach through literature review. The results of the study show that indicate a significant gap in the abilities of Indonesian and Malaysian students in reading literacy, mathematics, and science, as shown by the 2022 PISA results. Malaysian students excel due to a more stable curriculum, a progressive mindset, and strong socio-cultural support. In contrast, Indonesian students face challenges such as a fixed mindset, math anxiety, low scientific literacy, and ineffective teaching methods. However, Indonesia's new education policies bring hope for future improvements. Changes are needed, including fostering a positive mindset, stabilizing the curriculum, implementing innovative teaching methods, and enhancing teacher quality.Collaboration among the government, schools, and families is crucial to creating a supportive learning environment, enabling Indonesian students to compete on an international level.Penelitian ini dilatar belakangi hasil tes PISA 2022 yang mana hasil skor Indonesia masih kalah unggul dari Malaysia yang saat bersamaan memiliki semangat pendidikan melalui kebijakan pendidikan yang sama dengan mengutamakan literasi membaca, matematika, dan sains yang dituangkan di konstitusi dan peraturan perundang-undangan masing-masing negara. Penelitian ini menggunakan teknik komparatif untuk mengkaji literatur dan bersifat deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa melalui hasil tes PISA 2022 terdapat kesenjangan signifikan antara kemampuan siswa Indonesia dan Malaysia dalam literasi membaca, matematika, dan sains. Siswa Malaysia unggul karena kurikulum yang lebih stabil, mindset yang progresif, serta dukungan sosial-budaya yang kuat. Sebaliknya, siswa Indonesia menghadapi tantangan seperti fixed mindset, kecemasan terhadap matematika, rendahnya literasi sains, dan metode pembelajaran yang kurang efektif. Namun, kebijakan pendidikan baru di Indonesia membawa harapan untuk perbaikan pada masa depan. Perubahan diperlukan, termasuk pengembangan mindset positif, stabilisasi kurikulum, metode pembelajaran inovatif, dan peningkatan kualitas guru. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung agar siswa Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional.
Persepsi Masyarakat terhadap Perubahan Lahan Permukiman Menuju Desa Wisata di Kelurahan Kuin Utara Kota Banjarmasin Muzdalifah, Safa; Purnamawati, Nike; Nofiard, Farid; Qubayla, Farah; Bhakti, Sandra; Halisa, Novia Nur; Oktaviani, Tiara Nisfu; Fauzi, Akhmad
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.6292

Abstract

This study aims to examine community attitudes towards the policy of converting residential land into a tourist village in Kuin Utara Village, Banjarmasin City. Good governance thrives through community involvement in policy implementation; in this situation, understanding the perceptions of local communities is very important, considering that the community is the direct beneficiary of the development of tourist villages. This study examines community perceptions of the transformation of residential land into a tourist village in Kuin Utara Village, Banjarmasin City. With a focus on social change, economic impacts, infrastructure development, environmental concerns, and cultural preservation, this study uses a quantitative approach through questionnaires and field observations used to collect 100 research samples. The results of the study indicate complex dynamics in community views, reflecting their hopes and concerns about the changes that occur so that findings in the field indicate that the Kuin Utara Village community has a supportive attitude towards converting residential land into a tourist destination. This is indicated by the active involvement of the community in the management of tourist attractions, as well as local community projects that aim to utilize tourism potential to improve welfare.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi masyarakat terhadap kebijakan alih fungsi lahan permukiman menjadi desa wisata di Kelurahan Kuin Utara, Kota Banjarmasin. Tata kelola pemerintahan yang baik tumbuh subur melalui keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan kebijakan; dalam situasi ini, pemahaman terhadap persepsi masyarakat setempat menjadi sangat penting, mengingat masyarakat merupakan penerima manfaat langsung dari pembangunan desa wisata. Penelitian ini mengkaji persepsi masyarakat terhadap transformasi lahan permukiman menjadi desa wisata di Kelurahan Kuin Utara, Kota Banjarmasin. Dengan fokus pada perubahan sosial, dampak sosial budaya, pengembangan infrastruktur, kekhawatiran lingkungan, dan pelestarian budaya, studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif  melalui kuisioner dan observasi lapangan yang digunakan untuk mengumpulkan 100 sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan adanya dinamika kompleks dalam pandangan masyarakat, mencerminkan harapan dan kekhawatiran mereka terhadap perubahan yang terjadi sehingga temuan di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat Kelurahan Kuin Utara memiliki sikap mendukung alih fungsi lahan permukiman menjadi destinasi wisata. Hal ini ditunjukkan dengan keterlibatan aktif masyarakat dalam pengelolaan objek wisata, serta proyek-proyek masyarakat setempat yang bertujuan untuk memanfaatkan potensi pariwisata guna meningkatkan kesejahteraan.
Kualitas Penyelenggaraan Pelayanan dalam Penerbitan Sertifikat Tanah di Kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Malang ., Firman; Trihardiyanto, Willy; Rifa’i, Muhamad
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.6403

Abstract

This study aims to assess the quality of service in the issuance of land certificates at the Land Office of Malang Regency. It employs a descriptive qualitative method. Data for this study were collected using interview techniques, observation techniques, and documentation techniques. Based on the research findings, it can be concluded that the quality of land certificate issuance services, as viewed from the dimensions of tangible (physical evidence such as office facilities), reliability (employees' ability to perform tasks according to SOP), responsiveness (employees' attitudes and methods of response), and empathy (concern and understanding of the difficulties faced by the public), has been running well. However, the quality of service in terms of assurance (timeliness and costs of service) has not been satisfactory. Although the costs are in accordance with SOP, the time required for issuing land certificates remains excessively long.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan dalam penerbitan sertifikat tanah di kantor pertanahan Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini diperoleh menggunakan teknik wawancara, teknik observasi dan teknik dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Kualitas pelayanan pembuatan sertifikat tanah yang dilihat dari dimensi tangible (bukti fisik seperti fasilitas kantor), reliability (kehandalan pegawai menjalankan tugas sesuai SOP), responsiveness (sikap dan cara pegawai merespon), empathy (kepedulian dan ikut merasa kesulitan yang dialami masyarakat), telah berjalan dengan baik. Namun kualitas pelayanan pada dimensi assurance (waktu dan biaya dalam pelayanan) masih belum berjalan dengan baik, meskipun dalam pelayanan biaya sudah sesuai dengan SOP, namun waktu penerbitan sertifikat tanah yang masih terlampau lama.
Menjaga Asa Ekonomi Desa: Studi Keberlanjutan Kelembagaan BUM DESA Larasati Rosa, Nabila Septia
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.6662

Abstract

BUM Desa is a legal entity established by the village and/or together with the village, which is used to manage the company, use assets, develop investment and productivity, provide services, and provide other types of activities. One of the BUM Desa that is growing rapidly in Tulungagung is BUM Desa Larasati. Even though institutional sustainability has developed, it must still be considered. This study aims to determine and analyze the institutional sustainability of BUM Desa Larasati. The type of research used is qualitative with a case study approach. The data collection technique used is by conducting observations, interviews, documentation, and literature studies. Determination of research subjects was carried out using purposive sampling technique. The analysis in this study is based on the concept of institutional sustainability by Uphoff (1986) in Rydin (2010)   that sustainability can be seen from 3 components, namely adequate resources, organization and having rules of the game (norm). The results of the study indicate that the sustainability of the BUM Desa Larasati has good Resources, Organization, and Norms and can support institutional sustainability.BUM Desa adalah badan hukum yang didirikan oleh desa dan/atau bersama desa, yang digunakan untuk mengelola perusahaan, menggunakan aset, mengembangkan investasi dan produktivitas, memberikan pelayanan, dan menyediakan jenis kegiatan lainnya. Salah satu BUM Desa yang berkembang pesat di Tulungagung adalah BUM Desa Larasati. Walaupun sudah berkembang keberlanjutan kelembagaan tetap harus diperhatikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa keberlanjutan kelembagaan dari BUM Desa Larasati. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, serta studi literatur. Penentuan subjek penelitian dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis dalam penelitian ini didasarkan pada konsep keberlanjutan kelembagaan oleh Uphoff (1986) dalam Rydin (2010)  bahwa keberlanjutan dapat dilihat dari 3 komponen yaitu Sumberdaya (Resources) yang memadai, organisasi (Organization) dan memiliki aturan main (Norm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlanjutan BUM Desa Larasati mempunyai Resource, Organization, dan Norm yang baik dan dapat mendukung keberlanjutan kelembagaan.
Inovasi Pokja Bunda PAUD dalam Menyelenggarakan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) dan BKB Emas (Bina Keluarga Balita Eliminasi Masalah Stunting) Larasati, Dewi Citra; Lestari, Asih Widi; Bella, Natalia Priska
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.6440

Abstract

 Currently, Indonesia is faced with a Double Burden of Nutrition or often called Double Burden, which means that at this time we are still working hard to overcome malnutrition problems such as underweight, stunting, and anemia, but at the same time also have to face the problem of overnutrition or obesity. Handling stunting due to lack of acute nutrition intake is said to be a national priority program that must be supported and also succeeded in the regions. As a partner of the government, TP PKK must be involved in handling stunting cases. PKK collaborates with related cross-sectors to tackle in Pandanwangi Village. This study aims to determine  the Innovation of the PAUD Bunda Working Group and the factors that influence the Innovation of the PAUD Bunda Working Group in organizing great parent schools (SOTH). This research method uses qualitative methods. The data collection techniques used are interviews, observation, and documentation. The informant determination technique is purposive sampling, namely Bunda PAUD Pandanwangi Village, Head of POKJA Bunda PAUD Pandanwangi Village and SOTH school principal. The results of the researcher's research show that the Innovation of the PAUD Bunda Working Group in Organizing an Independent Great Parent School (SOTH) in Pandanwangi Village has launched several innovations, namely curriculum surgery, socialization laucing, making APE mandir, coordination with cross-sectors, independent costs with self-help community affairs, collaborating with universities related to the Great Parents School (SOTH). As for the supporting factors, namely the enthusiasm of the principal and support from SOTH participants, community service (ABDIMAS) by UNITRI lecturers and inhibiting factors, namely the absence of funds from Social Services, and obstacles from mothers so that they do not attend SOTH meetings. Saat ini Indonesia dihadapkan pada Beban Gizi Ganda atau sering disebut Double Burden, yang artinya pada saat ini kita masih terus bekerja keras mengatasi masalah Kekurangan Gizi seperti kurus, stunting, dan anemia, namun pada saat yang sama juga harus menghadapi masalah kelebihan gizi atau obesitas. Penanganan stunting karena kurangnya asupan gizi akut disebut merupakan program prioritas nasional  yang harus didukung dan turut disukseskan didaerah. Sebagai mitra pemerintah, TP PKK harus terlibat dalam penanganan kasus stunting. PKK bekerjasama dengan lintas sektor terkait untuk menanggulangi di Kelurahan Pandanwangi. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui Inovasi Pokja Bunda PAUD dan faktor-faktor yang mepengaruhi Inovasi Pokja Bunda PAUD dalam menyelenggarkan sekolah orang tua hebat (SOTH). Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik penentuan informan adalah purposive sampling yaitu Bunda PAUD Kelurahan Pandanwangi, ketua POKJA Bunda PAUD kelurahan Pandanwangi dan Kepala sekolah SOTH. Hasil penelitian peneliti menunjukan bahwa Inovasi Pokja Bunda PAUD Dalam Menyelenggarakan Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) dan BKB Emas di Kelurahan Pandanwangi telah meluncurkan  beberapa inovasi  yaitu adanya  bedah kurikulum, launcing  sosialisasi , membuat APE secara mandir, koordinasi dengan lintas sektor, biaya mandiri dengan urunan panguyuban swadaya, berkerjasama dengan perguruan tinggi terkait Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH). Sedangkan untuk faktor pendukung yaitu adanya semangat dari kepala sekolah dan dukungan dari perserta  SOTH, pengabdian masyarakat (ABDIMAS) oleh dosen-dosen UNITRI dan faktor penghambat yaitu tidak adanya dana dari Dinas Sosial, dan adanya kendala dari ibu ibu sehingga tidak hadir dalam pertemuan SOTH. 
The Dynamics Of Collaboration In Addressing Stunting: An Analysis Of Stakeholder Roles In Sidenreng Rappang District Ramlan, Pratiwi; Sukri, Phil; Abdullah, Muh. Tang; Akmal Ibrahim, Muhammad
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.6946

Abstract

Stunting is a complex public health problem that has a long-term impact on the quality of human resources. Despite the existence of various national regulations such as Presidential Regulation No. 72 of 2021, the reduction of stunting rates in several regions, including Sidenreng Rappang District, is still slow. This study aims to analyze the dynamics of collaboration between stakeholders in handling stunting in Sidenreng Rappang District, with a focus on principled engagement, shared motivation, and joint capacity. A qualitative approach with a case study method was used to explore the context of cross-sector collaboration, with data collected through in-depth interviews, documentation studies and participatory observation. Data analysis was conducted thematically using NVivo 12 software to categorize codes and themes. The results showed that the formal structure of collaboration had been established through the formation of the Stunting Reduction Acceleration Team (TPPS), but the internal dynamics had not developed optimally. Sectoral egos, capacity imbalances between DPOs, and low participation of the private sector and the community are the main obstacles. In addition, the lack of data integration across sectors and the dominance of top-down coordination also hinder the effectiveness of collaboration. Nevertheless, there are driving factors such as the leadership of Bappeda and the active role of PKK cadres that can be optimized. This research makes a theoretical contribution to the development of locally-based collaborative governance models and offers practical recommendations, such as the establishment of a community communication forum, activation of local CSR, cross-sector training, and development of a shared data system. The implication of this research confirms that the success of handling stunting is not only determined by the policy structure, but also depends heavily on the quality of the collaboration dynamics between actors at the local level.Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang kompleks dan berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Meskipun telah terdapat berbagai regulasi nasional seperti Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, penurunan angka stunting di beberapa daerah, termasuk Kabupaten Sidenreng Rappang, masih berjalan lambat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam penanganan stunting di Kabupaten Sidenreng Rappang, dengan fokus pada keterlibatan yang terarah (principled engagement), motivasi bersama (shared motivation), dan kapasitas kolektif (joint capacity). Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk mengeksplorasi konteks kolaborasi lintas sektor, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan observasi partisipatif. Analisis data dilakukan secara tematik menggunakan bantuan perangkat lunak NVivo 12 untuk mengelompokkan kode dan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur formal kolaborasi telah terbentuk melalui pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), namun dinamika internal belum berkembang secara optimal. Ego sektoral, ketidakseimbangan kapasitas antar OPD, dan rendahnya partisipasi sektor swasta serta masyarakat menjadi hambatan utama. Selain itu, kurangnya integrasi data lintas sektor dan dominasi koordinasi top-down turut menghambat efektivitas kolaborasi. Meskipun demikian, terdapat faktor pendorong seperti kepemimpinan Bappeda dan peran aktif kader PKK yang dapat dioptimalkan. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan model collaborative governance berbasis lokal serta menawarkan rekomendasi praktis, seperti pembentukan forum komunikasi komunitas, aktivasi CSR lokal, pelatihan lintas sektor, dan pengembangan sistem data bersama. Implikasi dari penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penanganan stunting tidak hanya ditentukan oleh struktur kebijakan, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas dinamika kolaborasi antar aktor di tingkat lokal.
Analisis Eksternalitas Pembangunan Pada Pembangunan Jalan Tol Kediri-Tulungagung (Studi pada Masyarakat Kabupaten Tulungagung) Kurniawan, Ardhi; Firdausi, Firman; Putu Shandra Dewi, Dewa Ayu; Pigo, Kristian
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.7122

Abstract

One of the development processes that must be carried out by a country physically is infrastructure development. Infrastructure development has an important role in fostering social interaction and ensuring the stability of the economic system. This study aims to examine the externalities and impacts of toll road development in the Kediri-Tulungagung area. In this aspect, several theoretical frameworks are used, namely impact analysis and SWOT analysis. The research method uses two types, namely qualitative to describe data and documentation and quantitative to analyze the precision of the impact on the community around the toll road development. The results have a positive impact on the distribution channels of goods and services, especially for large business actors in the Kediri-Tulungagung area, but there are some negative impacts on the environment and small economy around the development. Researchers recommend that they can cooperate with small and medium economic actors to be able to collaborate either through toll road business entities or in other forms such as BUMD and the government can provide facilities in the form of support facilities that are indeed provided for investors, both small and large scale.Salah satu proses pembangunan yang harus dilakukan suatu negara secara fisik adalah pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur memiliki peran penting dalam membina interaksi sosial dan menjamin stabilitas sistem perekonomian. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti eksternalitas beserta dampak dari pembangunan jalan tol di wilayah Kediri-Tulungagung. Pada aspek ini menggunakan beberapa kerangka teoritis yaitu analisa dampak dan analisa SWOT. Metode penelitian menggunakan dua jenis yaitu kualitatif untuk dapat mendeskripsikan data dan dokumentasi dan kuantitatif untuk menganalisa kepresisian dari dampak pada masyarakat di sekitar pembangunan jalan tol. Hasilnya memiliki dampak positif pada jalur distribusi barang dan jasa terutama bagi para pelaku usaha besar yang berada pada wilayah Kediri-Tulungagung, namun terdapat sebagian dampak negatif pada lingkungan dan ekonomi kecil di sekitar pembangunan. Peneliti merekomendasikan untuk bisa bekerjasama dengan para pelaku usaha ekonomi kecil menengah untuk dapat berkolaborasi baik melalui badan usaha jalan tol maupun dalam bentuk yang lain seperti BUMD dan pemerintah dapat memberikan sarana berupa dukungan fasilitas yang memang disediakan bagi investor baik skala kecil maupun besar.
Challenges of Local Government in Formation of New Autonomous Regions Radjak, Darwin Abd.; Ibrahim Tjan, Abdul Halil Hi.; Suhu, Bakri La
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.7048

Abstract

The formation of new regions does not merely mean reducing the administrative area so that government functions can be carried out more optimally, it also reduces the level of their political alienation so that people rediscover their role in the dynamics of government politics in their region. The concurrent creation of autonomous areas is the emergence of an independent status based on the goals and actual circumstances of the local population in a specific region or area as a component of the Indonesian nation and national territory. The objective of this study is to undertake a research and understanding process based on a technique that examines human problems and societal phenomena using a qualitative approach.  Using a spiral data analysis paradigm, information was gathered via observations, interviews, and documentation.. The results of the study are that the formation of new autonomous regions is a process carried out so that autonomous regions can have a strong autonomous status as provincial capitals, so that the process of forming this autonomous region is very important and must be considered, but the approach of community proposals or community participation is important, this stage must go through from below (grass roots). Third, it cannot be denied that economic factors are one of the main triggers for the desire to form autonomous regions, because every new region is entitled to an allocation of funds. Pembentukan daerah otonom baru tidak hanya berarti pengurangan wilayah administratif agar fungsi pemerintahan dapat dijalankan secara lebih optimal, tetapi juga mengurangi tingkat keterasingan politiknya sehingga masyarakat dapat menemukan kembali perannya dalam dinamika politik pemerintahan di daerahnya. Pembentukan daerah otonom secara bersamaan adalah munculnya status kemandirian berdasarkan tujuan dan keadaan nyata penduduk setempat di suatu daerah atau wilayah tertentu sebagai komponen bangsa dan wilayah nasional Indonesia.  Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan proses penelitian dan pemahaman berdasarkan teknik yang mengkaji permasalahan manusia dan fenomena kemasyarakatan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan paradigma analisis data spiral, informasi dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan daerah otonom baru merupakan proses yang dilakukan agar daerah otonom dapat memiliki status otonomi yang kuat sebagai ibu kota provinsi, sehingga proses pembentukan daerah otonom ini sangat penting dan harus diperhatikan, namun pendekatan usulan masyarakat atau partisipasi masyarakat menjadi penting, tahapan ini harus melalui dari bawah (akar rumput). Ketiga, tidak dapat dipungkiri bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu utama keinginan untuk membentuk daerah otonom, karena setiap daerah baru berhak mendapatkan alokasi dana. 
Dari Kultural ke Elektoral: Peran Modal Sosial Etnis dan Agama dalam Strategi Politik Pasangan H.Priyanto Pamungkas-Hj.Umi Laila pada Pilkada Kabupaten Pringsewu Tahun 2024 Nugroho, Grace Purwo; Cahyadi, Roby Kurniawan
REFORMASI Vol 15, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v15i1.6852

Abstract

Pringsewu Regency has so far held 3 (three) regional head elections, namely the 2011, 2017 and most recently the 2024 elections, which will coincide with the simultaneous regional head elections on November 27, 2024. In this regional election, there were four candidate pairs, and the pair of H. Riyanto Pamungkas as Regent and Hj. Umi Laila as Deputy Regent were elected for the 2025-2030 period. The couple H. Riyanto Pamungkas and Hj. Umi Laila is a couple that is an alliance of modernist Islam and traditional Islam. The regent was supported by the Prosperous Justice Party, and the deputy regent was an elite NU administrator and also the chairman of the Gerindra Party of Pringsewu Regency. With this combination, the pair has strong social capital with the majority of Muslims in Pringsewu Regency reaching 95%. The couple is also ethnically Javanese, and this is relevant because almost 80% of Pringsewu's population is Javanese, thus the theory of social capital as theorized by Putnam and Bourdeu can be used to analyze social capital in regional elections.The results of this study found that all the social capital possessed by the couple H. Riyanto Pamungkas and Hj. Umi Laila has the potential to be transformed into political strength and support, in the form of social networks, values and identities, friends and neighbors, as well as the support of the central figure of Pringsewu Regency, KH. Sujadi Saddat. The relationship between social capital or modality in the politics of winning elections is confirmed in this study. Kabupaten Pringsewu hingga saat ini telah melakukan  3 (tiga) kali pemilihan kepala daerah, yakni pilkada tahun 2011, 2017 dan terakhir tahun 2024 karena berbarengan dengan pilkada serentak tanggal 27 November  2024.  Dalam pilkada kali ini terdapat 4 (empat) pasangan calon, dan yang kemudian terpilih pasangan calon H. Riyanto Pamungkas sebagai Bupati dan Hj. Umi Laila sebagai wakil Bupati untuk periode 2025-2030. Pasangan H. Riyanto  Pamungkas dan Hj. Umi Laila adalah pasangan yang merupakan aliansi islam modernis dan islam tradisional. Pihak bupati diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera, dan wakil bupati merupakan elit pengurus NU dan juga ketua Partai Gerindra Kabupten Pringsewu. Dengan kombinasi tersebut maka pasangan ini memiliki modal sosial yang kuat dengan mayoritas penganut islam di Kabupaten Pringsewu mencapai 95 % .  Pasangan ini juga  secara etnisitas adalah Jawa, dan ini relevan karena hampir 80 % penduduk Pringsewu adalah Jawa, dengan demikian teori modalitas/modal sosial seperti yang di teorikan oleh Putnam dan Bourdeu dapat dipakai untuk melakukan analisis modal sosial dalam pilkada.Hasil dari penelitian ini menemukan semua modal sosial yang dipunyai pasangan H. Riyanto Pamungkas dan Hj. Umi Laila memiliki potensi  untuk diubah menjadi kekuatan politik dan dukungan, baik berupa jaringan sosial, nilai dan identitas, teman dan tetangga dan juga dukungan tokoh sentral kabupaten Pringsewu KH. Sujadi Saddat. Hubungan modal sosial atau modalitas dalam politik pemenangan pilkada terkonfirmasi dalam penelitian ini.