cover
Contact Name
Gurid Pramintarto Eko mulyo
Contact Email
gurid@staff.poltekkesbandung.ac.id
Phone
+6281321079005
Journal Mail Official
juriskes@poltekkesbandung.ac.id
Editorial Address
Jl. Pajajaran 56 Cicendo Bandung
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
ISSN : 25798103     EISSN : 19798253     DOI : 10.34011
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung menerima publikasi dalam makalah penelitian artikel asli, makalah tinjauan, laporan kasus di Indonesia atau negara lain untuk memberikan pemahaman mengenai aspek kesehatan. Ruang lingkup Artikel yang diterbitkan dalam jurnal ini adalah bidang : - Analis Kesehatan/ Tehnik Laboratorium Medik - Gizi - Farmasi - Keperawatan Gigi - Keperawatan - Kebidanan - Kesehatan Lingkungan - Promosi Kesehatan
Arjuna Subject : -
Articles 541 Documents
OPTIMASI VOLUME TEMPLAT DNA DAN JUMLAH SIKLUS AMPLIFIKASI UNTUK DETEKSI Wuchereria bancrofti METODE REAL-TIME PCR Anisa Safanah; Ai Djuminar; Fusvita Merdekawati; Entuy Kurniawan; Ernawati Ernawati
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.883 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.741

Abstract

Filariasis yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pemeriksaan mikroskopis darah sebagai gold standard memiliki beberapa kelemahan, sehingga diagnosis klinis berbasis Biologi Molekuler mulai dikembangkan, khususnya metode Real-Time PCR. Pada penelitian ini untuk mencapai hasil terbaik dilakukan optimasi terhadap volume templat DNA dan jumlah siklus amplifikasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui berapa volume templat DNA dan jumlah siklus amplifikasi yang optimum untuk deteksi Wuchereria bancrofti dengan menggunakan metode Real-Time PCR. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Desain penelitian yang dilakukan yaitu dibuat matriks terhadap volume templat DNA dan jumlah siklus amplifikasi yaitu 2;30, 3;30, 4;30, 2;35, 3;35, 4;35, 2;40, 3;40, 4;40, kemudian dilakukan pemeriksaan dari produk templat DNA Wuchereria bancrofti. Analisis data menggunakan grafik hasil amplifikasi berupa nilai Ct (cycle threshold). Dari hasil penelitian menunjukkan kondisi optimal untuk volume templat DNA adalah 2µL, sedangkan untuk jumlah siklus amplifikasi adalah 35 siklus.
PERBANDINGAN FIKSASI MENGGUNAKAN GULA PASIR TEBU DAN NEUTRAL BUFFER FORMALIN TERHADAP KEUTUHAN SEL Nita Yulia Pratiwi; Adang Durachim; Dani Mahmud; Agus Gusnandjar
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1112.655 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.742

Abstract

Formalin adalah zat fiksatif yang paling umum digunakan dalam diagnostik patologi. Ia mampu menampilkan morfologi, limfosit, detail inti, dan pewarnaan yang sangat baik. Namun, penggunaan formalin sebagai zat fiksasi rutin memberikan dampak buruk bagi penggunanya. Standar pengaturan OSHA (Occupational Safety and Health Administration) menyatakan bahwa formalin adalah zat yang berbahaya, Paparan secara akut dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Selain itu ia juga dapat menimbulkan reaksi alergi dan karsinogenik pada pengguna. Oleh karenanya, dalam upaya untuk meminimalisir penggunaan formalin tersebut, beberapa penelitian menyebutkan bahwa pemanis alami seperti gula pasir dapat digunakan sebagai alternatif fiksasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan larutan gula pasir sebagai alternatif fiksasi dalam memfiksasi jaringan hati dilihat dari keutuhan sel berupa morfologi dan jumlah sel serta mencari konsentrasi optimum dari larutan tersebut dengan membandingkannya pada NBF 10%. Metode yang digunakan adalah Static Group Comparison. Penelitian ini menggunakan subjek hewan uji (kelinci) sebanyak 1 ekor. Data diperoleh dari hasil skoring pada saat pengamatan. Pengolahan data menggunakan Kruskal Wallis Mann Whithney pada konsentrasi glukosa 15% dan glukosa 5% menunjukan tidak ada perbedaan bermakna pada parameter jumlah vena sentral jika dibandingkan dengan NBF 10%. Sedangkan pada konsentrasi glukosa 10% jika dibandingkan dengan NBF 10% menunjukan tidak ada perbedaan bermakna pada parameter jumlah vena sentral dan triad portal, serta keutuhan vena sentral, triad portal, hapatosit, dan sinusoid. Dari analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa gula pasir dengan konsentrasi glukosa 10% dapat dijadikan sebagai alternatif fiksasi untuk mengamati keutuhan sel.
WAKTU SIMPAN DARAH ANTIKOAGULAN K2EDTA DAN K3EDTA TERHADAP PARAMETER ERITROSIT Ayu Putri Utami; Betty Nurhayati; Ganjar Noviar; Adang Durachim
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.406 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.743

Abstract

Pemeriksaan sampel darah yang baik harus dilakukan segera setelah pengambilan spesimen darah. Semakin lama penyimpanan maka jumlah sel-sel terhitung makin berkurang karena sel-sel rusak (hemolisis). Bahan pemeriksaan yang diteliti adalah whole blood dengan variasi lama penyimpanan dengan segera, disimpan selama 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 8 jam, setiap sampel dilakukan pemeriksaan parameter eritrosit.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA dengan variasi penyimpanan terhadap parameter eritrosit. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu. Data dianalisis menggunakan uji General Linear Model untuk distribusi data normal, uji Friedman dan Wilcoxon untuk distribusi data tidak normal. Hasil pemeriksaan pada beberapa parameter dalam darah K2EDTA dan K3EDTA didapatkan hasil pemeriksaan K3EDTA lebih rendah dibandingkan K2EDTA. Secara statistik untuk parameter hemoglobin, hematokrit dan eritrosit didapatkan nilai sig > 0.05 sehingga dapat dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan dengan menggunakan antikoagulan K2EDTA atau K3EDTA dengan variasi lama penyimpanan. Nilai MCH didapatkan sig < 0,05 dengan penyimpanan 4 jam sehingga terlihat ada. Nilai MCV didapatkan sig < 0,05 dengan penyimpanan 8 jam sehingga terlihat ada perbedaan dalam tabung K2EDTA dan K3EDTA. Nilai MCHC tabung K2EDTA didapatkan sig < 0.05 dengan penyimpanan 8 jam terlihat perbedaan dan tabung K3EDTA dengan penyimpanan 6 jam didapatkan sig < 0.05 sudah muncul perbedaan yang signifikan secara statistik. Sedangkan hasil pemeriksaan darah lengkap pada jenis spesimen darah dengan antikoagulan K2EDTA dan K3EDTA dalam tabung vacutainer diperoleh nilai Sig > 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada jenis spesimen darah K2EDTA dan K3EDTA dalam tabung vacutainer terhadap pemeriksaan darah lengkap.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK KULIT PISANG AMBON (MUSA ACUMINATA COLLA) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS SECARA IN-VITRO Rika Fitriani Nur Fajrina; Ira Gustira Rahayu; Yeni Wahyuni; Mamat Rahmat
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 1 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.959 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i1.744

Abstract

Pisang mengandung antioksidan yang tinggi. Selain itu, kulit pisang juga memiliki kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, saponin, fenol, juga terpenoid yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri kulit pisang ambon, mengetahui variasi konsentrasi dari rentang 0%; 0,2%; 0,4%; 0,6%; 0,8%; dan 1% , juga mengetahui waktu kontak (waktu inkubasi) yang paling efektif. Waktu yang dipakai disesuaikan dengan kurva pertumbuhan bakteri yaitu 0 jam, 5 jam, 15 jam, 30 jam, dan 45 jam dengan 3 kali pengulangan sehingga terdapat 75 unit eksperimen termasuk kontrol positif dan negatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Metode yang digunakan adalah makrodilusi dengan pembuatan seri pengenceran pada tabung reaksi yang berisi media cair Mueller Hinton Broth (MHB) sebagai media yang dapat menumbuhkan bakteri Staphylococcus aureus dan sejumlah tertentu suspensi Staphylococcus aureus. Seri tabung diinkubasi pada suhu 37°C selama waktu tertentu dan diukur absorbannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 620 nm. Ekstrak kulit pisang ambon dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 0,4% dengan waktu kontak 30 jam.
PERBANDINGAN EKSTRAKSI DNA Salmonella typhi DARI KULTUR DARAH METODE SPIN COLUMN DAN ALCOHOL BASED Fauziyah Fadllan; Ai Djuminar; Acep Tantan; Asep Dermawan; Ernawati Ernawati
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.143 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.745

Abstract

Penggunaan metode biologi molekular seperti PCR dapat mempercepat diagnosis demam tifoid serta memiliki tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, namun sampel yang berasal dari kultur darah mengandung Sodium polyanethole sulfonate (SPS) yang merupakan inhibitor bagi proses PCR. Proses eliminasi SPS terdapat pada tahap ekstraksi DNA sehingga perlu dipilih metode yang tepat untuk mengekstraksi sampel kultur darah agar proses PCR berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil ekstraksi DNA Salmonella typhi dari kultur darah menggunakan metode Spin column dan Alcohol based. Metode penelitian yang digunakan bersifat eksperimental, dengan membandingkan ekstraksi DNA dari dua metode tersebut ditambah dengan pengenceran sampel 10-1, 10-2, 10-3 dan 10-4 untuk meminimalkan potensi SPS. Hasil ekstraksi kemudian di PCR dan divisualisasikan dengan elektroforesis gel agarose serta didukung dengan pemeriksaan bakteriologis isolat s.typhi pada kultur MCA, uji API 20E dan uji serologi. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa metode Alcohol based berhasil dalam mengekstraksi sampel kultur darah dan menghasilkan band elektroforesis yang jelas hingga pengenceran 10-4 namun metode Spin column gagal karena tidak menghasilkan band elektroforesis bahkan hingga pengenceran 10-4, dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa metode Alcohol based lebih cocok digunakan untuk mengekstraksi sampel kultur darah dibandingkan metode Spin column.
ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN QUALITY CONTROL DI LABORATORIUM Muhammad Satrio Wicaksono; Entuy Kurniawan; Sonny Feisal Rinaldi; Nani Kurnaeni
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.445 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.746

Abstract

Salah satu upaya yang harus dilakukan laboratorium untuk menghasilkan hasil pemeriksaan yang dapat dipercaya adalah dengan melakukan quality control (QC) yang dalam arti luas adalah suatu tindakan atau proses yang dilakukan untuk menjamin hasil pemeriksaan yang baik dan dapat dipercaya. Penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang memiliki hubungan dengan pelaksanaan QC di laboratorium. Peneliti telah melakukan survei dengan kuesioner dengan jumlah populasi sebesar 30 laboratorium yang berada di wilayah Kota Bandung. Data yang didapat diolah menggunakan analisis univariat untuk menggambarkan pelaksanaan QC dan bivariat (chi-square) untuk mencari hubungan antara faktor-faktor dengan pelaksanaan QC di laboratorium. Kesimpulan yang didapat dari survey tersebut adalah sebagian besar laboratorium belum menerapkan QC atau sebesar 72% (21). Selain itu, dari survei ini didapatkan faktor yang paling berhubungan dengan implementasi QC di laboratorium, yaitu faktor kebijakan manajemen (sig 0,024), sedangkan faktor sarana dan prasarana (sig 0,642) serta pengetahuan ATLM terhadap QC (sig 0,561) tidak berpengaruh signifikan terhadap terlaksananya QC di laboratorium.
PENGARUH INDIKATOR BROMOTHYMOL BLUE DENGAN BROMOCRESOL PURPLE TERHADAP PIGMENTASI Trichophyton mentagrophytes PADA MEDIA SEREAL AGAR Widad Fauziyyah Nuraini; Yuliansyah Sundara Mulia; Entuy Kurniawan; Jangkung Samidjo OW
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.494 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.747

Abstract

Trichophyton mentagrophytes menghasilkan metabolit alkali, sehingga ketika dikultur pada media yang mengandung indikator akan memberikan pigmentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan penambahan indikator bromothymol blue dengan bromocresol purple pada media sereal agar dengan melakukan studi pigmentasi Trichophyton mentagrophytes. Penelitian ini dilakukan dengan cara menambahkan indikator bromothymol blue dan bromocresol purple dengan variasi konsentrasi 2,2%, 1,6% dan 1% pada media sereal agar. Kemudian dilakukan isolasi Trichophyton mentagrophytes dengan metode single dot dan diinkubasi pada suhu 25-28°C serta dilakukan pengamatan pigmentasi selama 7 hari. Setelah melakukan penelitian, data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis, menunjukan adanya perbedaan signifikan pada penambahan bromothymol blue dengan variasi konsentrasi 2,2%, 1,6% dan 1% serta tidak adanya perbedaan signifikan pada penambahan bromocresol purple. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa bromocresol purple lebih cepat memberikan pigmentasi dibandingkan dengan bromothymol blue, hal ini dikarenakan bromocresol purple memiliki range pH yang lebih pendek yaitu 5,2 – 6,8 dibandingkan dengan bromothymol blue yaitu 6,0 – 7,6.
PERBANDINGAN FIKSASI MENGGUNAKAN NBF 10% DAN MADU TERHADAP KEUTUHAN KOMPONEN JARINGAN HATI DENGAN PEWARNAAN HE Sita Jumatin Arapahni; Dani Mahmud; Agus Gusnandjar; Adang Durachim
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.829 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.748

Abstract

ABSTRAK Formaldehida bersifat karsinogen dalam bentuk 10% Neutral Buffered Formaline (NBF) adalah larutan yang paling banyak digunakan pada proses fiksasi untuk diagnosis Patologi. Madu memiliki sifat antioksidan, antimikroba, antiautolitik dan dapat mengeraskan jaringan .Madu mudah didapatkan dan tanpa toksisitas telah dieksplorasi sebagai alternatif untuk formalin. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan fiksasi rutin dengan menggunakan NBF 10% dan madu terhadap keutuhan komponen jaringan hati dengan pewarnaan HE. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen Static Group Comparison. Data primer diperoleh dari tahap skoring dan dianalisis menggunakan uji statistik Non Parametrik Kruskal Wallis, hasilnya terdapat perbedaan fiksasi rutin yang dinilai dari keutuhan komponen jaringan hati antar berbagai kelompok (p < 0.05) . Kemudian data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney, menunjukkan pada kelompok perlakuan madu 15% tidak ada perbedaan fiksasi rutin yang dinilai dari keutuhan komponen jaringan hati dengan nilai signifikansi 0.065 (p>0.05). Dari hasil tersebut disimpulkan bahwa terdapat perbedaan fiksasi rutin antara NBF 10% dan madu. Dan kelompok madu konsentrasi 15% dapat digunakan sebagai alternatif larutan fiksasi.
PERBANDINGAN PREVALENSI INFEKSI MALARIA TERHADAP PEKERJA DALAM DAN LUAR RUANGAN Ilham Tri santika; Jangkung samidjo onggowaluyo; Suleman Suleman; Entuy Kurniawan
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 1 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.336 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i1.749

Abstract

Penyakit malaria disebabkan oleh infeksi protozoa dan genus dari Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam jaringan hati dan sel darah merah manusia yang terinfeksi. Banyaknya kasus endemik dan keadaan luar biasa (KLB) penyakit mlaria yang berkecambuk di suatu daerah menyebabkan korban yang tidak sedikit. Berdasarkan permasalahan tersebut,diatas peneliti tertarik untuk melakukan pengkajian melalui penelitian melihat prevalensi perbandingan infeksi malaria terhadap lingkungan pekerjaan luar ruangan dan pekerja dalam ruangan.dari data jenis pekerjaan yang paling banyak terinfeksi penyakit malaria terbanyak yaitu Buruh tani yang persentasenya 28 orang ,urutan kedua yaitu nelayan yang mendapat presentase 21 orang, urutan ke tiga yaitu pegawai negri sipil (PNS) yang mendapat presentase 13 orang, pada urutan yang keempat yaitu pada ibu rumah tangga 9 orang, selanjutnya di urutan kelima yaitu pekerja tambang senilai 8 orang, dan yang terakhir yaitu pegawai swasta 5 orang (6%), dengan total 84 orang. Untuk klasifikasi pekerjaan dalam dan luar ruangan di dapatkan dari data pekerjaan yaitu yang paling banyak terinfeksi malaria yaitu pada pekerja luar ruangan 55 orang, dibandingkan pada pekerja dalam ruangan 29 orang. Untuk prevalensi untuk pekerja dalam dan luar ruangan. Didapatkan hasil 65.47% untuk pekerja dalam ruangan 34%. Adanya perbedaan yang signifikan antara pekerja dalam dan luar ruangan di Kecamatan Simpenan Kabupaten Sukabumi. Untuk penelitain selanjutnya dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui hubungan antar pekerja luar ruangan terhadap infeksi malaria di Kabupaten Sukabumi.
PENGARUH SUHU DAN WAKTU PENYIMPANAN URINE TERHADAP TITER STATUS SEKRETOR Ralla Catur Nantika; Ganjar Noviar; Nina Marliana; Betty Nurhayati
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.337 KB) | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v11i2.750

Abstract

Urine seorang sekretor terdapat substansi antigen zat terlarut yang disekresikan berupa glikoprotein sehingga urine dapat digunakan sebagai salah satu sampel pemeriksaan status sekretor. Pada penelitian ini pemeriksaan titer status sekretor dilakukan segera dan 2 jam pada suhu kamar 25-26°C dan suhu refrigerator 2-8°C dengan tujuan untuk melihat ada atau tidaknya pengaruh suhu dan waktu penyimpanan terhadap titer status sekretor dalam urine. Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu One Group Pre and Post-test Design yaitu memberikan perlakuan untuk melihat perbedaan titer hemaglutinasi inhibisi status sekretor yang terjadi antara urine yang diperiksa secara langsung dengan urine yang telah diberikan perlakuan berupa variasi waktu penyimpanan segera dan 2 jam pada suhu 25-26°C dan suhu 2-8°C. Hasil penelitian dari 8 sampel sekretor yang diperiksa segera di suhu 25-26°C dan suhu 2-8°C sebanyak 7 orang ( 87,5%) mengalami perubahan titer status sekretor pada suhu 25-26°C dan 6 orang ( 75%) mengalami perubahan titer status sekretor pada suhu 2-8°C setelah disimpan 2 jam. Sedangkan hasil uji statistik McNemar didapatkan hasil dari suhu 25-26°C dan suhu 2-8°C memiliki nilai p (sig) 0.016 dan 0.031 (< 0.05) sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh suhu da waktu penyimpanan urine terhadap titer status sekretor.

Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 17 No 2 (2025): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 17 No 1 (2025): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 16 No 2 (2024): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 16 No 1 (2024): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 15 No 2 (2023): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 15 No 2 (2023): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung (In Progress) Vol 15 No 1 (2023): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 14 No 2 (2022): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 13 No 2 (2021): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 13 No 1 (2021): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 12 No 2 (2020): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 12 No 1 (2020): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes DepKes Bandung Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 11 No 1 (2019): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 10 No 2 (2018): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 10 No 1 (2018): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 9 No 2 (2017): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 9 No 1 (2017): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 7 No 1 (2014): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 6 No 4 (2013): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 6 No 3 (2013): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 6 No 2 (2013): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 6 No 1 (2013): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 5 No 4 (2012): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 5 No 2 (2012): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 5 No 1 (2012): JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG Vol 4 No 1 (2011): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung Vol 2 No 2 (2009): Jurnal Riset Kesehatan Vol 1 No 1 (2008): Jurnal Riset Kesehatan More Issue