Kajian Jurnalisme
Jurnal Kajian Jurnalisme (JKJ), ISSN 2549-0559 (cetak), ISSN 2549-1946 (online), diterbitkan oleh Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran Indonesia pertama kali pada bulan Juli 2017. Pada edisi pertama Jurnal Kajian Jurnalisme terbit dalam format online dan cetak. Sesuai dengan ketentuan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mengharuskan setiap jurnal yang diterbikan oleh lembaga pendidikan tinggi harus disajikan dalam bentuk elektronik journal, pada edisi kedua dan seterusnya, jurnal ini terbit sepenuhnya dalam format jurnal elektronik atau format online menggunakan Open Journal System (OJS). Jurnal Kajian Jurnalisme bergabung dengan Asosiasi Penerbit Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia (APJIKI), terbit dua kali setahun pada bulan Januari dan Juli.
Articles
119 Documents
Sensitivitas Gender Media Online Detik.com
Rachma Mutia Bakhtiar;
Nuryah Asri Sjafirah;
Maimon Herawati
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 1 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (351.657 KB)
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i1.22852
Detik.com merupakan salah satu media online yang masih bias gender. Padahal detik.com merupakan media online yang paling sering diakses di Indonesia. Di sisi lain, kini detik.comdipimpin oleh seorang perempuan. Untuk itu perlu dikaji lebih jauh bagaimana sensitivitas gender dalam redaksinya. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus intrinsik lalu digunakan untuk memahami secara lebih baik dan mendalam tentang sensitivitas gender di tingkat redaksional detik.com. Hasil penelitian menunjukkan para penentu kebijakan di tingkat redaksional detik.com masih kurang menerapkan sensitivitas gender dalam pelaksanaan kerja jurnalistiknya. Selain karena belum seragamnya pemahaman terkait pemberitaan yang sensitif gender, para penentu kebijakan ini terkadang belum mempraktikkan sensitivitas gender karena terhalang pola kerja dan pola bisnis media online. Detik.com juga masih belum berkomitmen secara penuh untuk menerapkan sensitivitas gender di dalam kebijakan lembaganya.
Penggunaan Twitter Sebagai Medium Distribusi Berita dan News Gathering Oleh Tirto.Id
Nadia Araditya Paramastri;
Gumgum Gumilar
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 1 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (587.296 KB)
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i1.22450
Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana penggunaanTwitterolehTirto.idsebagai medium distribusi berita dan newsgathering, ditinjau dari landasan Tirto.id dalam memilih medium, proses alur kerja dan strategi Tirto.id dalam menggunakan Twitter sebagai alat penggerak perubahan sosial, penggunaan Twitter oleh Tirto.id dalam kegiatan newsgathering, dan proses penggunaan Twitter oleh Tirto.id sebagai saluran komunikasi dua arah dengan audiens. Untuk menguraikannya, peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus intrinsik dari Robert E. Stake.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Tirto.id menggunakan Twitter karena kesesuaiannya dengan latar belakang Tirto.id sebagai media online yang membutuhkan alat penggerak perubahan sosial bagi generasi muda. Dalam proses kerjanya, tim redaksi dan tim media sosial bekerja terpisah, namun saling bekerja sama. Tim redaksi membutuhkan interaktivitas dan respons audiens yang cepat melalui Twitter untuk mengumpulkan bahan berita dan memilih narasumber, sementara Tim Redaksi menggunakan Twitter untuk distribusi berita, sekaligus melihat feedback audiens terhadap berita tersebut.Feedback yang didapatkan tim media sosial melalui Twitter akan menjadi masukan bagi tim redaksi.
Persepsi Khalayak Terhadap Radio Komunitas Kampus 107.8 Mandalla FM
Shabrina Pramudita Pavitasari;
Efi Fadilah;
Ika Merdekawati
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 1 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (204.898 KB)
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i1.22451
Radio komunitas hadir sebagai bagian dari pemerataan kebutuhan informasi sejalan dengan demokrasi yang semakin tumbuh. Radio Mandalla 107.8 FM, adalah radio komunitas kampus yang dikelola oleh kampus untuk memenuhi kebutuhan kampus dalam penyebaran informasi. Uniknya radio komunitas ini mengklaim sebagai radio dakwah, yaitu menyebarkan informasi yang bertemakan Islam. Penilitian ini ingin mengetahui persepsi khalayak terhadap Radio Mandalla, dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan khalayaknya. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data primer penelitian ini diperoleh dari hasil kuesioner kepada responden berjumlah 41 orang dengan menggunakan teknik berdasarkan tujuan. Hasil penelitian ini menunjukkan lebih dari 50% khalayak memberi nilai cukup tinggi kepada Radio Mandalla karena kebutuhan dan kepuasan mereka terhadapat informasi yang diberikan media tersebut terpenuhi. Khalayak menggunakan Radio Mandalla sebagai media untuk mencari informasi, sebagai media interaksi, dan penguatan eksistensi kelompok minoritas dalam masyarakat. Selain itu, Radio Mandalla merupakan salah satu media komunitas yang masih menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, yakni dari, oleh, untuk komunitas.
Menyoroti Jurnalisme Warga: Lintasan Sejarah, Konflik Kepentingan, dan Keterkaitannya dengan Jurnalisme Profesional
Aryo Subarkah Eddyono;
Faruk HT;
Budi Irawanto
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 1 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (262.888 KB)
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i1.21762
Jurnalisme warga, yang praktiknya masih bisa ditemui, adalah proses produksi informasi yang dilakukan warga biasa atas peristiwa yang terjadi di sekitarnya di berbagai media. Meskipun terlihat egaliter dan inklusif, pada kenyataannya praktik jurnalisme warga timpang dan diskriminatif. Artikel ini menunjukkan awal mula perjalanan jurnalisme warga dan hal apa saja yang melatarinya. Tujuannya adalah memberikan alternatif pandangan awal mula kehadiran jurnalisme warga, baik di dunia maupun di Indonesia. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumen, serta kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik jurnalisme warga sudah sejak lama ada, bahkan lebih tua dari jurnalisme itu sendiri. Jurnalisme warga muncul karena kritik atas jurnalisme profesional yang partisan dan terlalu berorientasi pada pasar; perkembangan teknologi internet; situasi di mana jurnalisme profesional sejak awal keberadaanya tidak bisa dilepaskan dari warga; dan keinginan mendapatkan keuntungan. Di balik itu semua, kepentingan-kepentingan besar yang membayanginya adalah jurnalisme itu sendiri (jurnalisme profesional), demokrasi (kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat), serta pasar. Ketiganya saling terkait dalam memotivasi kehadiran jurnalisme warga.
Wacana Keislaman dalam Antropologi Kuliner Indonesia
Ilman Alanton Sudarwan;
Aceng Abdullah;
Nunik Maharani
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 1 (2019): Kajian Jurnalisme
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (225.642 KB)
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i1.22445
Makanan merupakan bagian dari kebudayaan yang erat kaitannya dengan identitas, sehinggakisah mengenai makanan khas Indonesia di media massa mencerminkan kebudayaan dan karakter bangsa Indonesia. Di sisi lain, Islam tidak hanya menjadi agama mayoritas di Indonesia, tapi juga menjadi sistem nilai dan kebudayaan yang hegemonik. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi wacana keislaman dalam teks berita kuliner MBM Tempo Edisi Khusus Antropologi Kuliner Indonesia, 1-7 Desember 2014. Meski objek yang diteliti telah agak lama, penelitian ini tetap relevan hingga saat ini, karena isu mengenai kehalalan dan jurnalisme wisata saat ini telah semakin berkembang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fariclough untuk mengkaji wacana pada dimensi teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana keislaman mendominasi ketiga level dimensi wacana. Pada level teks, penggunaan bahasa dalam teks berita mereproduksi wacana kuliner yang berorientasi konsumen Muslim serta wacana-wacana sejarah yang berkaitan dengan sejarah kekuasaan Islam di Indonesia. Pada level praktik, wacana keislaman bekerja sama dengan wacana konsumerisme dan promosi dalam membentuk hegemoni dalam praktik jurnalisme wisata MBM Tempo. Sedangkan pada level praktik sosial, kecenderungan komodifikasi wacana dalam persaingan media membuat wacana keislaman terlibat dalam perjuangan hegemonik dalam kerangka pasar di Indonesia yang lebih luas.
Konstruksi Makna Aksi Massa 212 Bagi Wartawan Detik.com
Mohammad Fariansyah;
Dadang Rahmat Hidayat;
Achmad Abdul Basith
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 2 (2020): KAJIAN JURNALISME
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i2.25487
Aksi mobilisasi massa Islam atau aksi massa 212 memiliki nilai berita tinggi untuk diberitakan media massa. Detik.com merupakan media yang menaruh porsi besar dalam pemberitaan aksi massa 212. Dalam praktik lapangan, wartawan Detik.com mendapatkan sentimen dan intimidasi dari peserta aksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan wartawan Detik.com peliputan aksi massa 212. Pengalaman wartawan yang terlibat sebagai subjek penelitian, mengungkapkan tantangan dan pemaknaan wartawan Detik.com. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mengetahui peristiwa dari sudut pandang pelaku. Analisis juga ditunjang dengan pengamatan langsung pada Aksi Bawaslu dan Aksi Kawal MK. Hasil penelitian menunjukan adanya tantangan teknis, sentimen dan intimidasi dalam peliputan; dan wartawan Detik.com memaknai aksi massa 212 sebagai peliputan aksi massa dengan identitas Islam, peliputan gerakan politik dan peliputan aksi damai. Simpulan dari penelitian ini adalah para informan memaknai aksi massa 212 berdasarkan kesengajaan dan kesadaran tindakan yang direfleksikan dari pengalaman liputan yang mereka lalui.
Motif Pelanggan Dalam Menggunakan Kompas.id Sebagai Layanan Media Digital Berbayar
Hikma Dirgantara;
Dandi Supriadi;
Abie Bisman
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 2 (2020): KAJIAN JURNALISME
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i2.23837
Media digital berbayar hadir sebagai salah satu upaya media mendapatkan pemasukan di luar dari iklan, yakni melalui biaya iuran pelanggan. Perkembangan media digital berbayar turut didorong jengahnya masyarakat dengan kebanyakan media daring saat ini, mulai dari keberadaan iklan digital yang mengganggu hingga kualitas konten yang ada. Kompas.id merupakan salah satu media yang menerapkan konsep media digital berbayar di Indonesia. Kompas.id tidak menampilkan iklan digital dan mengklaim memiliki konten yang lebih berkualitas. Penelitian ini mencoba untuk mengetahui motif para pengguna yang rela membayar dalam menggunakan Kompas.id sementara informasi serupa sebenarnya bisa didapat secara gratis. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Data primer penelitian ini didapatkan dari hasil keusioner yang disebarkan ke 348 responden dengan teknik sampling acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 65.80% responden memiliki motif berlangganan Kompas.id yang tinggi. Motif utama pelanggan berbayar berlangganan Kompas.id didorong kuat oleh motif navigability. Motif modality kemudian menjadi motif kedua yang mendorong pelanggan berlangganan. Sementara motif interactivity dan agency tidak cukup kuat mendorong pengguna untuk berlangganan Kompas.id.
Pemaknaan Etika Jurnalisme Warga oleh Jurnalis Warga NETCJ di Wilayah Solo
Cindy Mutia Annur;
Pandan Yudhapramesti
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 2 (2020): KAJIAN JURNALISME
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i2.22167
Sifat jurnalisme warga yang terbuka dan bebas dilakukan oleh siapa saja, menjadikannya tantangan tersendiri bagi pelakunya. Meski belum ada kumpulan prinsip atau aturan tertulis secara resmi mengenai etika jurnalisme warga, setidaknya jurnalis warga dapat memaknai etika jurnalisme yang berlaku saat ini sebagai pedomannya. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pemaknaan etika jurnalisme warga oleh jurnalis warga NETCJ di wilayah Solo, karena wilayah Solo merupakan wilayah paling banyak dan aktif mengirimkan liputan jurnalisme warga. Melalui metode penelitian kualitatif, pendekatan fenomenologi, serta teori interaksi simbolik, penelitian ini bertujuan untuk menggali motif, pengalaman, dan kesepakatan mereka dalam menerapkan etika jurnalisme warga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etika jurnalisme warga dimaknai sebagai aspek moralitas dan kualitas. Aspek moralitas berkaitan dengan sopan santun dan etika, sedangkan aspek kualitas berkaitan dengan mutu konten yang dinilai berdasarkan aturan dalam jurnalistik.
Daya Tahan Parahyangan TV Sumedang Sebagai TV Lokal Di Tengah Perkembangan Digital
Ade Nasihudin Al Ansori;
Andika Vinianto
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 2 (2020): KAJIAN JURNALISME
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i2.23793
Menjamurnya lembaga penyiaran di daerah tentunya harus disertai kemampuan media dalam mempertahankan keberadaannya. Mengingat persaingan yang tinggi tidak hanya antar media lokal tapi juga media swasta nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi manajemen PAR TV dalam mempertahankan eksistensinya sehingga mereka menjadi salah satu media lokal yang tetap aktif hingga kini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik deskriptif. Objek penelitian adalah stasiun TV lokal di Sumedang, Parahyangan TV (PAR TV). Hasil penelitian ini adalah, strategi bisnis yang digunakan PAR TV adalah (1) fokus terhadap konten kearifan lokal, (2) melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah, (3) meningkatkan kualitas siaran dengan melakukan pelatihan rutin terhadap karyawan, (4) menjalin komunikasi yang baik dengan pusat, dan (5) menentukan target-target yang harus dicapai. Kesimpulan dari penelitian ini adalah strategi utama yang dilakukan PAR TV berupa pemfokusan pada program dengan konten bermuatan seni, budaya, dan kearifan lokal.
Konvergensi Media Surat Kabar Harian Lokal Jateng Pos
Ahsani Taqwim Aminuddin;
Nurul Hasfi
Jurnal Kajian Jurnalisme Vol 3, No 2 (2020): KAJIAN JURNALISME
Publisher : School of Journalism, Faculty of Communication Sciences, Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jkj.v3i2.25070
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan media massa mulai mengikuti perkembangan teknologi terkait adanya pergeseran pola konsumsi media ke media digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya konvergensi media pada surat kabar harian lokal Jateng Pos di Semarang, Jawa Tengah. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus instrumental tunggal, dimana peneliti mengidentifikasi dan menganalisis satu isu spesifik. Data diperoleh dari hasil wawancara dengan narasumber, buku, artikel, serta literatur terkait lainnya. Dengan menggunakan konsep konvergensi media dari Siapera dan Veglis, penelitian ini menunjukkan bahwa Jateng Pos mengadopsi empat tipe konvergensi media yang berkaitan satu sama lain: a) konvergensi teknologi dengan mengelola media online (jatengpos.co.id) dan hadir di media sosial seperti Instagram, Twitter dan Facebook; b) konvergensi konten yang mengombinasikan bentuk tulisan, foto dan video; c) konvergensi bisnis, dimana keterhubungan tanpa batas di Internet menambah mitra bisnis (pengiklan) bukan hanya dari Jawa Tengah, tapi seluruh Indonesia; serta d) konvergensi profesional dengan cara mempersiapkan SDM yang mampu memproduksi dan mendistribusikan berbagai macam konten yang dibutuhkan berdasarkan platformnya.