cover
Contact Name
Surya Farid Sathotho
Contact Email
suryafarid@isi.ac.id
Phone
+62818462800
Journal Mail Official
tonil@isi.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Tonil, Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema
ISSN : 14116464     EISSN : 26858274     DOI : DOI: https://doi.org/10.24821/tnl.v19i2
Core Subject : Humanities, Art,
Tonil: Journal of Literature, Theatre, and Cinema Studies, issn: 1411-6464 (print) and issn: 2685-8274 (online), is a scientific journal in the fields of Theatre/Arts creations & studies under the publication banner of Theatre Department, Faculty of Performing Arts in Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta (ISI Yogyakarta). TONIL publication emphasizes its role as a medium for communication, discussion, advocation and literary refinement. TONIL serves as a vessel to accommodate the ideas and criticism from the artists, scientists, practitioners, and also all positions involved in the field of Theatre and Performing Arts
Articles 117 Documents
SATIR DALAM PERTUNJUKAN PARA PENSIUNAN:2049 Sari, Hesti Kartika; Makaf, Akhyar
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 20, No 2: September 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v20i2.10951

Abstract

Satir merupakan metode penyampaian pemikiran melalui sindiran secara kasar ataupun halus. Objek yang menjadi sasaran satir adalah politik, ras, ideologi, dan agama. Bentuk satir yang cenderung diterima semua orang adalah parodi. Konsep yang ditawarkan parodi adalah meniru suatu peristiwa yang tidak sesuai dengan realita untuk dijadikan objek lelucon. Studi ini ditujukan untuk mengetahui fungsi kehadiran satir dalam pertunjukan Para Pensiunan:2049. Objek dipilih karena memiliki konsep pemanggungan yang terbilang unik dan baru. Teater Gandrik mencoba membawa penonton masuk pada ruang futuristik untuk menyaksikan ilustrasi kondisi sosial Indonesia di masa depan . Pertunjukan yang ditampilkan mengemukakan suatu premis bahwa “meggunakan kebenaran untuk melawan korupsi yang sudah menjadi tabiat masyarakat Indonesia adalah tindakan sia-sia”. Keselarasan antara peristiwa dalam pertunjukan dengan realita masyarakat menjadi poin tambah untuk dibahas secara runtut. Penelitian ini memakai pendekatan dengan teori dramaturgi Harymawan dan satir Gilbert Highet untuk menganalisis kontruksi dramatik, kontruksi artistik, dan satir parodi. Pelaksanaan penelitian menggunakan metode kualitatif untuk  menganalisis proses kreatif Teater Gandrik dalam berkarya. Hasil akhir penelitian ini mengungkap unsur satir parodi sebagai instrumen pembangun ruang futuristik.
POTRET KAUM MINORITAS MUSLIM DI KOTA WINA, AUSTRIA DALAM NOVEL 99CAHAYA DI LANGIT EROPA Sari, Nikken
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 20, No 2: September 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v20i2.10078

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi kaum muslim minoritas yang berada di kota Wina, Austria dan juga tantangan-tantangan yang mereka hadapi karena hidup di tengah masyarakat non muslim dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan Kisah Lainnya dengan menggunakan perspektif New Historicism. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel jurnal ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik analisis data interaktif, yakni pembacaan secara intensif dari karya sastra (novel), pencatatan secara aktif dengan menggunakan desain content analysis. Dalam bagian yang terdapat di dalam novel 99 Cahaya di Langit Eropa dan Kisah Lainnya ini diceritakan tentang bagaimana kaum muslim menghadapi berbagai tantangan di sana, seperti sulitnya mencari pekerjaan bagi wanita muslim yang menggunakan jilbab, sulitnya mendengar adzan sebagai penanda waktunya sholat karena masjid yang ada di sana cukup jauh untuk ditemukan keberadaannya, serta tempat ibadah yang paling banyak ditemukan di kota Wina, Austria adalah gereja karena memang mayoritas masyarakat di sana adalah pemeluk agama Kristen (non muslim).Kata kunci: Tantangan, Muslim, Minoritas, Wina, Austria
TRANSMISI BUDAYA MASYARAKAT ADAT BATAK TOBA DALAM PERGELARAN BUDAYA ULAON UNJUK DI TAPANULI UTARA Tama, Krisna; Sathotho, Surya Farid; Sahid, Nur
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13759

Abstract

This research examines the Ulaon Unjuk ritual in Sigotom Julu on December 2, 2022, with the aim of analyzing the performance elements and the cultural values transmitted through its execution. Ulaon Unjuk is a traditional marriage ritual of the Batak Toba community, which plays a crucial role in fulfilling the existential goals of hagabeon (prosperity in descendants), hamoraon (wealth), and hasangapon (honor). To this day, the Ulaon Unjuk ritual remains a mandatory practice to ensure that the bride and groom receive social validation as members of the Batak Toba indigenous community. As a marriage ritual, Ulaon Unjuk constitutes a cultural performance that encompasses elements of a staged event and facilitates the transmission of cultural values. This study employs a qualitative ethnographic approach for data collection, with the data subsequently analyzed narratively and inductively using a cultural performance framework. The findings are documented through ethnographic writing techniques. The results reveal that the Ulaon Unjuk ritual is carried out according to specific sequences and rules, is non-productive in nature, utilizes symbolic objects, and involves a designated performance space. These findings imply that Ulaon Unjuk includes performative aspects akin to theater. The ritual also incorporates the concept of Dalihan Na Tolu, which is central to the cultural values of the Batak Toba community, encompassing aspects such as patrilineality, clan (marga), marhobas (mutual assistance), tudu-tudu sipanganon (sharing of food), jambar (division of ritual objects), marsisisean (mutual respect), ulos (traditional cloth), tortor (traditional dance), tandok (ritual container), and others. In conclusion, the Ulaon Unjuk ritual represents a cultural performance that embodies theatrical elements and transmits the cultural values of the Batak Toba indigenous community through its enactment.Keywords: Batak Toba, Cultural Transmission, Dalihan Na Tolu, Ulaon Unjuk
ANALISIS NARATIF DALAM FILM SINGSOT Thaheer, Nazhif Dzaky; Adiprabowo, Vani Dias
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.11588

Abstract

Abstrak: Film Singsot memiliki latar budaya Jawa, yang mana masyarakat Jawa memiliki kepercayaan dilarang bersiul pada malam hari karena diyakini dapat mendatangkan musibah. Melalui narasi penyampaian pesan kepada penonton dapat digunakan dalam film. Hal ini dikarenakan narasi memiliki kaitan dengan cara bercerita yang disajikan kepada penonton melalui film. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui larangan yang diyakini oleh masyarakat Jawa dalam narasi cerita Film Singsot. Penelitian ini menggunakan analisis narasi Tzvetan Todorov yang mengatakan bahwa narasi memiliki 3 struktur bagian yaitu bagian awal, tengah, dan akhir. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa narasi dalam film Singsot digambarkan sesuai dengan narasi dari Todorov yang kemudian dimodifikasi oleh Nick Lacey dan Gillespie. Selain itu, unsur mise en scene juga turut menambah suasana dalam film. Mitos dalam film ini memiliki simbol yaitu film ini dapat dikatakan film yang berisi pesan moral tentang norma, etika, dan acuan moral dalam kehidupan. Larangan tentang bersiul dapat dimaksudkan agar tidak mengganggu orang yang sedang beristirahat di malam hari.Kata kunci: Mitos, Naratif, Film Singsot Abstract: Film Singsot has a Javanese cultural background, where Javanese people believe that it is forbidden to whistle at night because it is believed to bring disaster. Through narration, conveying messages to the audience can be used in films. This is because narrative is related to the way stories are presented to the audience through films. This research aims to find out the prohibitions believed by the Javanese people in the narrative of the film Singsot. This research uses Tzvetan Todorov's narrative analysis, which says that narratives have 3 part structures, namely the beginning, middle and end. The results of this research show that the narrative in the film Singsot is depicted in accordance with Todorov's narrative which was then modified by Nick Lacey and Gillespie. Apart from that, the mise en scene element also adds to the atmosphere of the film. The myth in this film has a symbol, namely this film can be said to be a film that contains a moral message about norms, ethics and moral references in life. The prohibition on whistling may be intended to not disturb people who are resting at night.Keyword: Myth, Narrative, Film Singsot
PERANCANGAN SKENARIO FILM PULANG TERINSPIRASI DARI KEKERASAN JALANAN: STUDI KASUS FENOMENA KLITIH DI YOGYAKARTA Wibowo, Philipus Nugroho Hari
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.11027

Abstract

Kekerasan Jalanan berupa klitih menjadi fenomena yang meresahkan, dan memprihatinkan mengingat pelaku klitih adalah pelajar yang masih mencari jati diri. Permasalahan klitih sampai saat ini belum bisa di temukan secara pasti penyebabnya. Klitih merupakan tindakan kekerasan. Pendekatan perancangan skenario ini menggunakan pemahaman  Sizek tentang kekerasan. Sizek membagi kekerasan menjadi dua bentuk kekerasan subjektif dan kekerasan objektif. Kekerasan subjektif adalah kekerasan yang paling dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari seperti: pembunuhan, pencurian, perampokan dan lain sebagainya sedangkan  kekerasan subjektif adalah bentuk imaginer (tak kasat mata) dari kekerasan objektif.Perancangan ini merujuk pada tahapan-tahapan penciptaan kreatif yang dikemukakan oleh Graham Wallas yaitu, (a) Preparation, (b) Incubation, (c) Ilumination, (d) Verification. Perancangan skenario film ini diharapkan menjadi media penyadaran masyarakat tentang bahaya klitih, khususnya lingkup pendidikan yang paling kecil yaitu keluarga.Kata kunci: Kekerasan Jalanan, Klitih, Skenario Film Pulang, Sizek, Graham Wallas 
PENCIPTAAN PERTUNJUKAN SHADOW PUPPET DALAM UPAYA PELESTARIAN GUMUK DI KABUPATEN JEMBER Sutrisna, Natalius Yudha
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.12647

Abstract

Pembangunan merupakan suatu upaya pemerintah dan masyarakat dalam melakukan pengembangan di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Proses pembangunan sering kali melibatkan penggunaan sumber daya alam sebagai bahan dasar material yang berdampak pada masalah kerusakan lingkungan. Pertambangan gumuk yang terjadi di Kabupaten Jember merupakan contoh nyata kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang menghadirkan konflik pembangunan dan pelestarian lingkungan. Dalam fenomena ini, peneliti mencoba untuk memproyeksikan gagasan mengenai kesadaran pelestarian lingkungan melalui sebuah penciptaan teater shadow puppet dengan judul “Misteri Gumuk Keramat”. Pertunjukan shadow puppet menggunakan pendekatan eko-dramaturgi sebagai acuan dalam menciptakan karya pertunjukannya. Eko-dramaturgi adalah praktik teater yang menyoroti hubungan antara ekologi, sosial dan budaya. Dalam konsep ini, eko-dramaturgi menganggap teater sebagai medium yang efektif dalam mendekati isu-isu lingkungan dan menerapkannya dalam sebuah karya pertunjukan. Research methods for the art adalah pendekatan metodologis yang digunakan peneliti dalam menyusun proses penciptaan karya. Tahapan dalam Research methods for the art berfokus pada proses pengumpulan data (observasi), proses eksperimentasi dan presentasi karya. Kata Kunci : Eko-dramaturgi, Pertambangan gumuk, Penciptaan Teater, Shadow puppet. 
PEMERTAHANAN TRAVESTY PADA KELOMPOK LUDRUK KARYA BUDAYA DI DESA CANGGU, KECAMATAN JETIS, KABUPATEN MOJOKERTO Firmansyah, Andrian Fistyohana; Hidajad, Arif -
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.12477

Abstract

Ludruk Karya Budaya merupakan kelompok kesenian tradisional yang lahir di Kabupaten Mojokerto desa Canggu Kecamatan Jetis Jawa Timur. Salah satu dari beberapa kelompok Ludruk yang sampai saat ini masih mempertahankan tradisi lama yakni dengan adanya tokoh pemain Travesty dalam sajianya. Kelompok ini tidak ada pemain perempuan, seluruh tokoh Perempuan dimainkan oleh laki – laki atau yang lebih dikenal dengan Travesty. Pada kelompok lain sudah jarang menggunakan Travesty. Kelompok Ludruk Karya Budaya masih mempertahankan Travesty dalam setiap sajianya, sebagai Upaya mempertahankan karakteristik kesenian tradisional ludruk, bahwa Travesty masih dipertahankan hingga zaman modern sekarang ini, sehingga menjadi kajian yang menarik. Tujuan penelitian ini diantaranya: 1) Untuk mendeskripsikan pemertahanan Travesty di kelompok Ludruk Karya Budaya. 2) Untuk mendeskripsikan fungsi Travesty di kelompok Ludruk Karya Budaya.Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, pengambilan kesimpulan. Untuk mengecek  validasi data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan Travesty dianggap sebagai elemen penting yang menarik bagi penonton, sehingga dapat meningkatkan permintaan pertunjukan Ludruk Karya Budaya, dan mendorong pemeran untuk melestarikan kesenian tradisional ludruk yang dimiliki Jawa Timur. Ini mencerminkan kelompok tersebut dalam mempertahankan kesenian tradisional dengan cara regenerasi, pemertahanan identitas dan pemilihan lakon, berbeda dengan kelompok ludruk lain yang lebih terbuka terhadap perkembangan zaman. Kata kunci: Pemertahanan, Travesty, Ludruk Karya Budaya
REPRESENTASI PELECEHAN SEKSUAL DALAM FILM PENYALIN CAHAYA KARYA WREGAS BHANUTEJA Firdaus, Sajidah Al-Lathifah; Harini, Yostiani Noor Asmi; Durachman, Memen
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13547

Abstract

Artikel ini menunjukkan bentuk representasi pelecehan seksual dalam film “Penyalin Cahaya” yang disutradarai Wregas Bhanuteja melalui konotasi, denotasi, dan mitos.  Peneliti menonton, mengidentifikasi, dan memaknai bentuk representasi pelecehal seksual. Terdapat 10 gambar yang representasi pelecehan seksual pada film “Penyalin Cahaya” yaitu konotasi kisah Medusa berambut ular yang memiliki makna khusus pada bahasa Inggris seperti “snake in the grass” yang mengacu pada penipuan dan pengkhianatan juga dilambangkan sebagai makhluk jahat. Selanjutnya denotasi yang lebih sering digunakan yaitu pengambilan gambar dengan medium-shot dengan sudut pandang normal menunjukkan ekspresi dari para pemerannya. Mitos yang dominan adalah sang pelaku dapat melakukan pelecehan seksual kepada siapapun tanpa memandang jenis kelamin, pakaian korban, ataupun perilaku korban.Kata kunci: representasi, pelecehan seksual, film Penyalin Cahaya.
PROSES PENYUTRADARAAN PETANG DI TAMAN KARYA IWAN SIMATUPANG Asyari, Luqman Hakim; Arisona, Nanang; Nurcahyono, Wahid
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.12424

Abstract

Petang di Taman menceritakan tentang keterasingan dan kehampaan manusia dalam menghadapi realitas kehidupannya, dibawakan oleh empat orang tokoh yang bertemu secara tidak sengaja di sebuah taman di waktu petang. Naskah Petang di taman dipilih sutradara sebab mengandung tema besar yang ingin diangkat sutradara yakni kesenjangan generasi yang diakibatkan dari problem eksistensialis dari masing-masing tokoh yang mewakili setiap generasi. Tujuan dari penulisan ini adalah menemukan metode penyutradaraan naskah Petang di taman karya Iwan Simatupang. Metode penyutradaraan yang digunakan oleh sutradara adalah metode penyutradaraan yang dikemukakan oleh Lloyd Anton Frerer yang terbagi menjadi 5 tahapan yakni : script analysis, auditions and casting, rehearsals, performances dan evaluation. Gaya pertunjukan realis dengan pendekatan representasi dipilih sebagai cara ungkap pertunjukan. Sutradara berhasil menemukan metode penyutradaraan dan mementaskan pertunjukan Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Kata kunci: Metode Petang di Taman, Iwan Simatupang, kesenjangan generasi, eksistensialis, Lloyd Anton Frerer
MINANGKABAU DI PERSIMPANGAN: ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP FILM SURGA DI TELAPAK KAKI IBU Hidayat, Herry Nur
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 2: September 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i2.13072

Abstract

Artikel ini membahas film berjudul Surga di Telapak Kaki Ibu (2016, Sony Gaokasak). Secara umum, film ini bercerita tentang perubahan perilaku sosial di Minangkabau. Perubahan tersebut diduga terjadi oleh karena pertentangan dunia tradisi dengan modernisasi. Dalam penelitian ini, film Surga di Telapak Kaki Ibu dipandang sebagai perilaku berbahasa. Teknik analisis mendasarkan pada tangkapan layar terhadap adegan film (shot) yang dibagi dalam kategori adegan (scene) yang berurutan (sequence) yang membangun cerita (story). Di samping itu, kajian juga mempertimbangkan aspek naratif dalam kerangka mise en scene yang meliputi tokoh dan penokohan, latar dan pelataran, dan fokalisasi (point of view). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh dalam film ini merepresentasikan perubahan perilaku sosial di Minangkabau. Terdapat perubahan persepsi atas sistem kekerabatan matrilineal yang dianggap rumit dan kompleks. Di samping itu, perubahan persepsi tersebut akhirnya membawa pada perubahan persepsi atas sistem perkawinan, sistem pewarisan harta, dan kedudukan perempuan di Minangkabau.Kata kunci: Minangkabau, sosial, wacana kritis, film

Page 10 of 12 | Total Record : 117