cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2025)" : 11 Documents clear
ANALISIS PERSAMAAN PERSEPSI REMAJA TENTANG KEBUTUHAN PERAWATAN ORTHODONTI TERHADAP KONDISI SEBENARNYA (Tinjauan pada Pelajar SMA/Sederajat di Banjarmasin Kawasan Non Perkotaan) Najma Nor Shalehah; Diana Wibowo; Rahmad Arifin; Aulia Azizah; Alexander Sitepu
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16561

Abstract

Background: In dental and oral health, malocclusion is an occlusal disorder that affects appearance and psychological well-being, especially among adolescents. There are two categories of contributing factors to malocclusion: general and local factors. Local factors directly impact the condition of the teeth, while general factors do not have a direct effect. Objective: Analyzing the congruence between adolescents' perceptions of orthodontic treatment needs using IKPO and their actual dental conditions measured by ICON. Methods: In this study, 175 randomly selected high school (or equivalent) students from non-urban areas of Banjarmasin were observed using a cross-sectional methodology. Results: The findings of this study indicate that the majority of participants fell into the category of requiring orthodontic treatment based on both IKPO and ICON. Cohen’s Kappa analysis showed a fair level of agreement between IKPO and ICON, with a value of 0.238. Conclusion: The conclusion of this study is that there is a fair level of agreement between adolescents’ perceptions of the need for orthodontic treatment and their actual dental conditions. ABSTRAKLatar Belakang: Pada kondisi kesehatan gigi dan mulut, maloklusi merupakan kelainan oklusi yang mempengaruhi penampilan dan kesejahteraan psikologis, terutama pada remaja. Terdapat dua kategori penyebab yang berkontribusi terhadap maloklusi, yaitu faktor umum dan faktor lokal. Faktor lokal berdampak langsung pada kondisi gigi, sedangkan faktor umum tidak berdampak langsung. Tujuan: Menganalisis persamaan persepsi remaja tentang kebutuhan perawatan orthodonti menggunakan IKPO terhadap kondisi sebenarnya menggunakan ICON. Metode: Dalam penelitian ini, 175 siswa SMA/sederajat yang dipilih secara acak di Banjarmasin kawasan non-perkotaan, diobservasi menggunakan metodologi cross-sectional. Hasil: Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta masuk dalam kategori membutuhkan perawatan orthodonti berdasarkan IKPO maupun ICON. Uji analisis Cohen’s Kappa menunjukkan adanya nilai persamaan yang masuk dalam kategori cukup antara IKPO dan ICON dengan nilai 0.238. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat tingkat persamaan yang cukup antara persepsi remaja tentang kebutuhan perawatan orthodonti terhadap kondisi gigi geligi yang sebenarnya.Kata Kunci: Maloklusi, Perawatan Orthodonti, Indeks Kebutuhan Perawatan Orthodonti, Index of Complexity, Outcome, and Need
PREVALENSI TRAUMA MAKSILOFASIAL PADA SEPERTIGA TENGAH DAN SEPERTIGA BAWAH WAJAH DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE 2019-2023 Ervina Nurrahmah; Tri Nurrahman; Renie Kumala Dewi; Irham Taufiqurrahman; Agung Satria Wardhana
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16556

Abstract

Background: Maxillofacial trauma is an injury to the soft or hard tissues of the upper, middle and lower face, commonly caused by traffic accidents, falls, sports and violence. Immediate treatment is required to reduce morbidity and mortality. RSUD Ulin Banjarmasin receives many patients with maxillofacial trauma, but no studies have focused on the prevalence of maxillofacial trauma to the middle and lower third of the face. Objective: To determine the prevalence of maxillofacial trauma in the middle and lower thirds of the face at Ulin Hospital Banjarmasin during 2019-2023. Methods: This study is a descriptive observational study with a cross sectional approach, using secondary data from medical records of maxillofacial trauma patients and using a total sampling technique. Results: The results showed that cases of maxillofacial trauma at Ulin Banjarmasin Hospital in the 2019-2023 period amounted to 70 cases, with the most cases in 2022 (32.9%) caused by traffic accidents (70%). The highest prevalence occurred in the adult age group of 26-45 years (41.4%) and occurred in men (65.7%). The most common trauma to the facial hard tissues (65.7%) was mandibular fracture (45.7%) with the most commonly used management being Open Reduction Internal Fixation (40%). Conclusion: The most common incidence of maxillofacial trauma in 2022 was caused by traffic accidents. This trauma is most common in adults aged 26-45 years, especially in males. Maxillofacial trauma often occurs in the hard tissues of the face, namely mandibular fractures, which are treated with Open Reduction Internal Fixation (ORIF). ABSTRAKLatar Belakang: Trauma maksilofasial adalah cedera pada jaringan lunak ataupun keras wajah pada bagian atas, tengah dan bawah, umumnya diesebabkan karena kecelakaan lalu lintas, terjatuh, olahraga, dan kekerasan. Penanganan segera diperlukan untuk menekan morbiditas dan mortalitas. RSUD Ulin Banjarmasin menangani sejumlah besar pasien dengan trauma maksilofasial; namun, belum ada penelitian yang berfokus pada prevalensi trauma maksilofasial pada sepertiga tengah dan bawah wajah. Tujuan: Mengetahui prevalensi trauma maksilofasial pada sepertiga tengah dan bawah wajah di RSUD Ulin Banjarmasin periode 2019-2023. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan data sekunder dari rekam medis pasien trauma maksilofasial dan menggunakan teknik total sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus trauma maksilofasial di RSUD Ulin Banjarmasin periode 2019-2023 berjumlah 70 kasus, dengan jumlah kasus tertinggi terjadi pada tahun 2022 (32,9%) yang disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (70%). Prevalensi tertinggi terjadi pada kelompok usia dewasa yaitu 26-45 tahun (41,4%) dan terjadi pada laki-laki (65,7%). Trauma paling banyak terjadi pada jaringan keras wajah (65,7%) yaitu fraktur mandibula (45,7%) dengan tatalaksana terbanyak adalah Open Reduction Internal Fixation (40%). Kesimpulan: Kejadian trauma maksilofasial paling banyak terjadi pada tahun 2022 yang disebabkan karena kecelakaan lalu lintas. Trauma ini sebagian besar terjadi pada usia dewasa yaitu 26-45 tahun, khususnya pada laki-laki. Trauma maksilofasial sering terjadi pada jaringan keras wajah yaitu fraktur mandibula, ditangani dengan tatalaksana Open Reduction Internal Fixation (ORIF).Kata Kunci: Prevalensi, Rekam medis, RSUD Ulin Banjarmasin, Trauma maksilofasial
Cover & list of contents Dentin Jurnal Kedokteran Gigi
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16565

Abstract

EFEKTIVITAS VIDEO ANIMASI DALAM PENURUNAN NILAI INDEKS PLAK Raket Rizki Rahmaningtyas; Widodo Widodo; Galuh Dwinta Sari; Diana Wibowo; Didit Aspriyanto
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16560

Abstract

Background: Dental plaque, as a microbial biofilm, is the main causative factor for caries. The 2018 Riskesdas survey showed that the proportion of dental and oral problems reached 57.6%, with damaged, cavitated, or painful teeth accounting for 45.3%. Only 2.8% of the population practiced correct tooth-brushing behavior, resulting in poor oral hygiene and plaque accumulation. Educational methods using animated videos are needed to improve tooth-brushing techniques in a more effective and easily understandable manner. Purpose: To analyze the effectiveness of animated videos in reducing plaque index values among students aged 7–9 years at SDN Marabahan 2. Methods: This study employed a quasi-experimental method with a pretest-posttest group design. The population consisted of students at SDN Marabahan 2, and 50 respondents were selected through simple random sampling. Results: The paired t-test revealed a significant decrease in plaque index values following the animated video education intervention, with a p-value of <0,001 (p<0,05). Conclusion: Animated videos are an effective and efficient health education medium for oral health promotion programs, demonstrating significant reduction in plaque index values. Keywords:  Dental health education, animated videos, plaque index
GAMBARAN PROFIL JARINGAN LUNAK BIBIR DAN WAJAH TERHADAP GARIS ESTETIK MENURUT RICKETSS MELALUI RADIOGRAFI SEFALOMETRI Widya Elisabeth Silalahi; Irnamanda D.H; Norlaila Sarifah; Ika Kusuma Wardani; Isnur Hatta
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16555

Abstract

Background: Malocclusion is a condition where the occlusion deviates from the normal shape and risks disrupting the function of swallowing, mastication, facial harmony and speech. The profile of the face can be determined through analysis of facial hard tissue and soft tissue. The Ricketts method is a cephalometric analysis that is often used compared to other analyses. Objective: To describe the soft tissue profile of the lips and face regarding the aesthetic lines according to Ricketts in Banjar tribe students at SMAN 12 Banjarmasin using cephalometric radiography. Methods: The method used is descriptive with a cross-sectional approach. Samples were taken using simple random sampling technique. The population in this study were all Banjar ethnic students at SMAN 12 Banjarmasin, totaling 307 people. The minimum sample size in this study was calculated using a categorical descriptive formula with a total of 45 people. Results: The results of descriptive statistical analysis from the Ricketts Analysis show that the average distance of the soft tissue profile to the position of the upper lip is 1.02mm in front of the E-line with a standard deviation of 2.40mm. The average distance of the soft tissue profile to the position of the lower lip is 1.53mm in front of the E-line with a standard deviation of 2.52mm. Conclusion: Based on the research results, it shows that the Banjar tribe at SMAN 12 Banjarmasin mostly has a convex facial profile.Keywords : Banjar people, Cephalometry, Facial soft tissue profile, Ricketts AnalysisLatar belakang: Maloklusi merupakan suatu kondisi dimana oklusi menyimpang dari bentuk normal berisiko pengganggu fungsi menelan, mastikasi, keserasian wajah, dan bicara. Wajah dapat ditentukan profilnya melalui analisis jaringan keras wajah dan jaringan lunak. Metode Ricketts adalah analisis sefalometri yang sering digunakan dibanding analisis lain. Tujuan: Menggambarkan profil jaringan lunak bibir dan wajah terhadap garis estetik menurut Ricketts pada pelajar Suku Banjar di SMAN 12 Banjarmasin melalui radiografi sefalometri. Metode: Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Sampel diambil menggunakan teknik simple random sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pelajar Suku Banjar di SMAN 12 Banjarmasin yang berjumlah 307 orang. Besar sampel minimal pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus deskriptif kategorik dengan jumlah 45 orang. Hasil: Hasil analisis statistik deskriptif dari Analisis Ricketts menunjukkan rata-rata jarak profil jaringan lunak terhadap posisi bibir atas adalah 1,02mm di depan garis E-line dengan standar deviasi 2,40mm. Rata-rata jarak profil jaringan lunak terhadap posisi bibir bawah adalah 1,53mm didepan garis E-line dengan standar deviasi 2,52mm. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Suku Banjar di SMAN 12 Banjarmasin sebagian besar memiliki profil wajah cembung.Kata kunci : Analisis Rickett, Profil jaringan lunak wajah, Suku Banjar, Sefalometri
EFEKTIVITAS DENTAL HEALTH EDUCATION MENGGUNAKAN PERMAINAN TRADISIONAL BADAMPRAK TERHADAP PENGETAHUAN DAN SKOR OHI-S (Tinjauan Pada Siswa Umur 10-14 Tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin) Yudha Fatahillah Syahari; Aulia Azizah; Sherli Diana; Rosihan Adhani; Rahmad Arifin
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16564

Abstract

Background: Based on the Indonesian Health Survey (SKI 2023) South Kalimantan Province has a proportion of oral and dental problems (57.7%), the largest (59.56%) of which is in children aged 10-14 years, this indicates a lack of dental health education (DHE) in this age group. According to Bloom, behavior influenced by knowledge is an important factor in oral health status. One method to improve this knowledge is through the traditional game Badamprak. Objective: The effectiveness of DHE using Badamprak games in increasing knowledge and reducing OHI-S scores in students aged 10-14 years at Dhammasoka Buddhist School in Banjarmasin City. Purpose: Proving that DHE using traditional badamprak games increases knowledge and reduces OHI-S scores in students aged 10-14 years at Dhammasoka Buddhist School in Banjarmasin City. Methods: This study used quasi experimental with pre and posttest group design with non probability sampling on 58 students. Results: Wilcoxon test showed that there was a difference in tooth brushing knowledge before and after DHE using Badamprak traditional games in 58 samples (p = 0.001). Conclusion: DHE using the traditional game Badamprak is effective in increasing knowledge and reducing OHIS scores.Keywords: Badamprak, Dental Health Education, Knowledge, Oral Hygiene Index Simplified, Tooth Brushing ABSTRAKLatar Belakang: Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023) Provinsi Kalimantan Selatan memiliki proporsi masalah gigi dan mulut (57,7%), yang terbesar (59,56%) yaitu pada anak usia 10-14 tahun, Hal ini menunjukkan kurangnya edukasi kesehatan gigi dan mulut (Dental Health Education/DHE) pada kelompok usia tersebut. Menurut Bloom, perilaku yang dipengaruhi oleh pengetahuan merupakan faktor penting dalam status kesehatan gigi dan mulut. Salah satu metode untuk meningkatkan pengetahuan ini adalah melalui permainan tradisional Badamprak. Tujuan: Efektivitas DHE menggunakan permainan Badamprak dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHI-S pada siswa usia 10-14 tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin. Tujuan: Membuktikan bahwa DHE menggunakan permainan tradisional badamprak meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHI-S pada siswa umur 10-14 tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin. Metode: Penelitian ini menerapkan pendekatan kuasi eksperimen melalui rancangan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi (pretest-posttest group design). Pemilihan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan jumlah responden sebanyak 58 siswa. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan menyikat gigi sebelum dan setelah DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak pada 58 sampel (p=<0,001). Kesimpulan: DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHIS. Kata Kunci: : Badamprak, Dental Health Education, Menyikat Gigi, Oral Hygiene Index Simplified, Pengetahuan > <0,001). Kesimpulan: DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHIS.Kata Kunci: : Badamprak, Dental Health Education, Menyikat Gigi, Oral Hygiene Index Simplified,Pengetahuan
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KECAPI (Sandoricum koetjape Merr) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Studi in Vitro) Dini Maulani; Yusrinie Wasiaturrahmah; Bayu Indra Sukmana; I Wayan Arya Krisnawan Firdaus; Irham Taufiqurrahman
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16559

Abstract

Background: Aggressive periodontitis is a disease that rapidly destroys the periodontal tissue caused by the dominance of Aggregatibacter actinomycetemcomitans bacteria by 90%. Aggressive periodontitis treatment can be in the form of antibiotics. One of the antibiotics that can be used is metronidazole gel 25%, but this drug can have side effects if used in the long term. There are herbal plants, namely kecapi leaves (Sandoricum koetjape Merr) which contain compounds that can be used as antibacterials including saponins, alkaloids, flavonoids, and triterpenoids. Objective: To determine the antibacterial effectiveness of kecapi leaves extract (Sandoricum koetjape Merr) concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70% on the growth of Aggregatibacter actinomycetemcomitans bacteria. Methods: True experimental design with post test only with control group and there were 9 treatment groups with 3 repetitions. The treatment in this study was kecapi leaves extract concentration of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70%, the positive control was metronidazole gel 25% and the negative control was aquadest. The antibacterial test used the liquid dilution method to determine the value of Minimum Inhibitory Content (MIC) and solid dilution to determine the value of Minimum Bactericidal Content (MBC). Results: Based on the results and data analysis, it was found that kecapi leaf extract had a Minimum Inhibitory Content (MIC) at a concentration of 10% and a Minimum Inhibitory Content (KBM) at a concentration of 30%. Conclusion: Kecapi leaves extract (Sandoricum koetjape Merr) concentration of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70% has antibacterial effectiveness against the growth of Aggregatibacter actinomycetemcomitans.Keywords: Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Aggressive Periodontitis, Kecapi leaves ABSTRAKLatar belakang: Periodontitis agresif merupakan penyakit yang merusak jaringan periodontal dengan cepat yang disebabkan oleh dominasi bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans sebesar 90%. Perawatan periodontitis agresif dapat berupa antibiotik. Salah satu antibiotik yang dapat dipakai yaitu metronidazol gel 25%, namun obat ini dapat memberikan efek samping apabila digunakan dalam jangka panjang. Terdapat tumbuhan herbal yaitu daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) yang mengandung senyawa yang dapat digunakan sebagai antibakteri diantaranya saponin, alkaloid, flavonoid, dan triterpenoid. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70% terhadap pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Metode: True experimental dengan desain post test only with control group dan terdapat 9 kelompok perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Perlakuan pada penelitian ini yaitu ekstrak daun kecapi konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70%, kontrol positif berupa metronidazol gel 25% dan kontrol negatif berupa akuades. Uji antibakteri menggunakan metode dilusi cair untuk mengetahui nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) dan dilusi padat untuk mengetahui nilai Kadar Bunuh Minimum (KBM). Hasil: Berdasarkan hasil dan analisis data didapatkan bahwa ekstrak daun kecapi memiliki Kadar Hambat Minimum (KHM) pada konsentrasi 10% dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) pada konsentrasi 30%. Kesimpulan: Ekstrak daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70% memiliki efektivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans.Kata Kunci : Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Daun kecapi, Periodontitis Agresif
PERBEDAAN RELIABILITAS POLA SIDIK BIBIR DAN BENTUK PAPILLA INSISIF DALAM MENGIDENTIFIKASI JENIS KELAMIN PADA SUKU BANJAR Timothy Jogy Sotarduga Parhusip; Didit Aspriyanto; Isyana Erlita; Amy Nindia Carabelly; Rima Permata Sari
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16563

Abstract

Background: Indonesia is frequently affected by natural disasters, with incidents increasing from 2,574 in 2018 to 5,400 in 2023. Victim identification is a vital component of disaster response efforts. In forensic odontology, anatomical structures such as the incisive papilla and lip print patterns (cheiloscopy) serve as potential tools for identification. The incisive papilla offers advantages due to its morphological stability and protected position within the oral cavity, while lip prints are considered reliable due to their uniqueness and resistance to minor trauma. However, comparative studies assessing the accuracy of both methods in sex determination remain scarce and warrant further scientific investigation. Purpose: To analyze the difference in reliability between lip print patterns and incisive papilla in identifying sex among the Banjar ethnic group. Methods: This study employed a simple random sampling technique and utilized a non-paired categorical comparative analytic design. A cross-sectional approach was applied, involving observation and data collection conducted at a single point in time. Results: Based on Cohen’s Kappa coefficient, lip print pattern analysis demonstrated strong reliability (K = 0.839), whereas incisive papilla shape showed moderate reliability (K = 0.653). The Mann Whitney test identified statistically significant sex-based differences in lip print patterns within the Upper Right and Lower Middle quadrants, as well as notable morphological differences in incisive papilla shape between male and female subjects. Conclusion: Lip print patterns demonstrate higher reliability compared to the shape of the incisive papilla in determining sex among the Banjar ethnic population.Keywords: Forensic Odontology, Incisive Papilla, Lip Prints ABSTRAKLatar Belakang: Indonesia sering dilanda bencana alam, dengan 2.574 kejadian pada 2018 dan meningkat menjadi 5.400 pada 2023. Identifikasi korban menjadi langkah krusial, di mana metode identifikasi menggunakan papilla insisif dan pola sidik bibir dari rongga mulut dapat dimanfaatkan. Papilla insisif dinilai digunakan karena memiliki ciri stabil, terlindungi dalam rongga mulut, serta bentuk yang bervariasi berdasarkan jenis kelamin. Pola sidik bibir (cheiloscopy) juga unik dan tahan terhadap trauma minor, sehingga sering digunakan dalam odontologi forensik. Namun, studi mengenai perbandingan reliabilitas keduanya dalam penentuan jenis kelamin masih terbatas dan perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan: Untuk menganalisis perbedaan reliabilitas antara pola sidik bibir dan papilla insisif dalam mengidentifikasi jenis kelamin pada suku Banjar. Metode: Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dan bersifat analitik komparatif kategorik tidak berpasangan. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan cross-sectional dengan mengamati, observasi, maupun pengumpulan data pada satu waktu yang sama. Hasil: Berdasarkan uji Cohen’s Kappa, reliabilitas pola sidik bibir menunjukkan kategori kuat dengan nilai K = 0,839, sedangkan bentuk papila insisif memiliki reliabilitas sedang dengan nilai K = 0,653. Uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin terhadap pola sidik bibir pada kuadran UR dan LM, serta terhadap bentuk papila insisif. Kesimpulan: Pola sidik bibir lebih reliabel dibandingkan bentuk papilla insisif dalam mengidentifikasi jenis kelamin pada suku Banjar.Kata Kunci: Odontologi Forensik, Papilla Insisif, Sidik Bibir
HUBUNGAN ANTARA GOLONGAN DARAH ABO DENGAN POLASIDIK BIBIR SEBAGAI IDENTIFIKASI FORENSIK PADA ETNIS BANJAR (Tinjauan Mahasiswa/i FKG ULM) Bulqis Az Zahra; Bayu Indra Sukmana; Norlaila Sarifah; Irnamanda D.H; Huldani Huldani
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16558

Abstract

Latar Belakang: Metode dalam penanganan tindak kriminalitas perlu di tingkatkan untuk memudahkanidentifikasi terhadap pelaku maupun korban. Noda-noda seperti noda darah dan bekas lipstik di TKPdapat digunakan sebagai barang bukti yang akurat. Pemeriksaan pola sidik bibir berdasarkan golongan darah dapat menjadi suatu media untuk menentukan identitas seseorang secara akurat. Tujuan: Menganalisis hubunganantara golongan darah ABO dengan pola sidik bibir sebagai identifikasi forensik pada etnis Banjar. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sidik bibir diklasifikasi berdasarkan Suzuki dan Tsuchihashi kemudian dikelompokkan sesuai golongan darahsampel. Hasil: Hasil dari analisa data uji korelasi koefisien kontingensi menunjukkan p value 0.033 <0.05yangberarti antar variabel memiliki hubungan signifikan. Nilai korelasi 0.499 bermakna kekuatan antar variabel cukup kuat. Kesimpulan: Golongan darah ABO dan pola sidik bibir pada etnis Banjar memiliki hubunganyangcukup kuat.Kata kunci : golongan darah ABO, pola sidik bibir, identifikasi forensik, etnis Banjar
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KESEHATAN GIGI DENGAN TINGKAT KEPARAHAN KARIES ANAK (TINJAUAN PADA ANAK KELAS 4, 5 DAN 6 SDN SUNGAI LULUT 2 BANJARMASIN) Lovelita Kurnia Panjaitan; Isnur Hatta; Didit Aspiryanto; Melisa Budipramana; Debby Saputera
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16562

Abstract

Background: Children's dental health is the responsibility and concern of the mother as the person closest to the child, meaning that the child still depends on the mother to maintain and care for their dental health. The level of mother's knowledge affects the behavior of maintaining dental health in children. If not maintained, oral and dental hygiene will have an impact on dental caries. Dental caries can inhibit tooth growth. Objective: to determine the relationship between maternal knowledge about dental health and the severity of caries in children in grades 4, 5 and 6 of SDN Sungai Lulut 2 Banjarmasin. Method: The method used is observational analysis with a cross-sectional design. The sample was 94 students of SDN Sungai Lulut 2 Banjarmasin who were selected using a simple random sampling technique. Data were taken using a questionnaire and analyzed using the Spearman test. Results: From the results of the analysis, a p value <0.05 and a correlation coefficient value (-0.275) were obtained. Conclusion: There is a negative relationship with a weak correlation between the level of maternal knowledge about dental health and the severity of caries in children in grades 4, 5, and 6 with an age range of 10-13 years at SDN Sungai Lulut 2 Banjarmasin.Keywords: Maternal Knowledge, Childhood Dental Caries, DMF-T ABSTRAKLatar Belakang: Kesehatan gigi anak merupakan tanggung jawab dan perhatian ibu sebagai orang yang terdekat anak, artinya anak masih bergantung kepada ibu dalam menjaga dan merawat kesehatan giginya. tingkat pengetahuan ibu memengaruhi perilaku pemeliharaan kesehatan gigi pada anak. Jika tidak dirawat kebersihan gigi dan mulut akan berdampak pada karies gigi. Karies gigi dapat menghambat pertumbuhan gigi. Tujuan: untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi dengan tingkat keparahan karies anak kelas 4, 5 dan 6 SDN Sungai Lulut 2 Banjarmasin. Metode: Metode yang digunakan adalah analisis observasional dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 94 siswa SDN Sungai Lulut 2 Banjarmasin yang dipilih dengan teknik simple random sampling. Data diambil menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan uji spearman. Hasil: Dari hasil analisis didapatkan nilai p<0,05 dan nilai koefisien korelasi (-0,275). Kesimpulan: Terdapat hubungan negatif dengan korelasi lemah antara tingkat pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi dengan tingkat keparahan karies pada anak kelas 4, 5, dan 6 dengan renggang usia 10-13 tahun di SDN Sungai Lulut 2 Banjarmasin.Kata kunci: Pengetahuan Ibu, Karies gigi Anak, DMF-T

Page 1 of 2 | Total Record : 11