cover
Contact Name
Harry Noviardi
Contact Email
harry.noviardi@gmail.com
Phone
+622518323819
Journal Mail Official
lppm@sttif.ac.id
Editorial Address
Jl. Kumbang No.23, Bogor, Jawa Barat, 16151
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
ISSN : 25026011     EISSN : 26864487     DOI : https://doi.org/10.47219/ath
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Farmamedika dikelola oleh Lembag Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor. Frekuensi penerbitan jurnal sebanyak 2 kali dalam satu tahun pada bulan Juni dan Desember. Kategori tulisan berupa hasil penelitian dari peneliti maupun akademisi dalam bidang Kimia Bahan Alam, Analisis Farmasi, Farmakologi dan Toksikologi, Kimia Medicinal, Biologi Molekular dan Bioteknologi, Farmakoterapi, Farmasi Klinis, Farmasetika dan Teknologi Farmasi, Biologi Farmasi, Manajemen Farmasi, Farmakoekonomi.
Articles 202 Documents
PENGARUH WAKTU ULTRASONIC ASSISTED EXTRACTION DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) TERHADAP AKTIVITAS ANTIPIRETIK silvi nurafni; Siti Mariam; Imam Maulana
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.638

Abstract

Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan sebagai antipiretik yaitu daun kelor. Daun kelor mengandung golongan alkaloid, saponin, fenol, flavonoid, dan steroid yang berkhasiat sebagai antipiretik. Penelitian ini bertujuan mengetahui golongan senyawa yang terdapat pada ekstrak daun kelor serta menentukan dosis ekstrak terbaik yang mempunyai efek antipiretik terhadap mencit putih jantan yang diinduksi dengan pepton 5%. Mencit yang digunakan pada uji ini sebanyak 32 ekor yang dibagi menjadi 8 kelompok perlakuan uji. Penurunan suhu pada mencit digunakan termometer digital untuk mengukur suhu rektal. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ekstrak mengandung golongan alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan triterpenoid. Hasil ekstrak etanol daun kelor yang diekstraksi selama 20 menit dengan dosis (100 mg/KgBB, 200 mg/KgBB, dan 400 mg/KgBB) memiliki penurunan suhu tubuh berturu-turut sebesar 0,3°C; 1,7°C; 0,6°C setelah 150 menit. Ekstrak daun kelor yang diekstraksi selama 40 menit dengan dosis 100 mg/KgBB, 200 mg/KgBB, dan 400 mg/KgBB memiliki penurunan suhu tubuh berturu-turut sebesar 0,1°C; 1,0°C; 1,0°C setelah 150 menit. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kelor (EDK) memiliki aktivitas antipiretik yang ditunjukkan oleh kemampuannya menurunkan suhu tubuh mencit yang mengalami demam. Dari seluruh kelompok perlakuan, kelompok EDK dengan waktu ekstraksi 20 menit dengan dosis 200 mg/kgBB memberikan efek antipiretik terbaik dengan rata-rata penurunan suhu sebesar 1,7°C, mendekati efektivitas kontrol positif (parasetamol) yang menghasilkan penurunan suhu sebesar 2,1°C. Namun Hasil dari uji perbedaan Kruskal-Wallis menunjukkan sig < 0,05 maka tidak ada perbedaan yang signifikan waktu ekstraksi dengan metode (UAE) daun kelor terhadap aktivitas penurunan suhu pada mencit putih jantan.
FORMULASI DAN EVALUASI KRIM JERAWAT YANG MENGANDUNG ENZIM BROMELAIN KASAR DARI KULIT NANAS TERHADAP Propionibacterium Acnes Nur Aisyah; Muhammad Arwani; Hidhyah Nur Cahyaningtyas; Nurmiyati; Laila Mu’arifatus Sa’adah; Yogi Pratama; Ririn Fatma Nanda; Syifa Rabbani
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.643

Abstract

Jerawat merupakan salah satu permasalahan kulit yang banyak disebabkan oleh infeksi bakteri Propionibacterium acnes, sehingga diperlukan pengembangan bahan antibakteri alami yang aman dan berkelanjutan. Salah satu alternatif yang potensial adalah bromelain kasar dari limbah kulit nanas yang memiliki aktivitas proteolitik dan berpotensi sebagai agen antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan bromelain kasar yang diperoleh dari limbah kulit nanas sebagai komponen bioaktif dalam sediaan krim jerawat dengan menitikberatkan pada mutu formulasi dan aktivitas antibakterinya. Bromelain diperoleh melalui proses ekstraksi, kemudian diformulasikan ke dalam sediaan krim jerawat pada konsentrasi 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%. Evaluasi sediaan meliputi aktivitas antibakteri terhadap Propionibacterium acnes dengan kontrol positif berupa klindamisin, serta pengujian sifat fisik yang mencakup homogenitas, daya sebar, pH, uji iritasi, dan uji hedonik. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa bromelain kasar memiliki kadar protein sebesar 24,98 ± 0,41 ?g/mL dan aktivitas enzim sebesar 73,08 ± 2,21 U/mg. Uji antibakteri menunjukkan bahwa formulasi dengan kandungan bromelain 15% dan 20% menghasilkan zona hambat masing-masing sebesar 1,18 ± 0,11 mm dan 2,10 ± 0,07 mm yang termasuk dalam kategori penghambatan lemah, dengan nilai yang masih lebih rendah dibandingkan kontrol positif klindamisin. Seluruh formulasi menunjukkan homogenitas yang baik, daya sebar berkisar antara 76,33–85,67 cm², dan pH antara 5,4–6,5 yang sesuai dengan pH kulit. Tidak ditemukan respons iritasi, sedangkan hasil uji hedonik menunjukkan peningkatan tingkat kesukaan panelis seiring bertambahnya konsentrasi bromelain. Secara keseluruhan, bromelain kasar dari limbah kulit nanas berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan alami dalam formulasi krim jerawat, meskipun optimasi lebih lanjut masih diperlukan untuk meningkatkan efektivitas antibakterinya.
PENGARUH PEMBERIAN INFORMASI OBAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN TUBERKULOSIS RAWAT JALAN DI PUSKESMAS DUREN SAWIT Rahmat Widiyanto; Fachdiana Fidia; Silvi Nuraeni
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.644

Abstract

Terdapat kebutuhan mendesak untuk mengatasi tuberkulosis (TB) sebagai masalah kesehatan masyarakat global karena angka kematian dan morbiditas yang tinggi. Edukasi pengobatan yang menyeluruh dapat mengoptimalkan efektivitas rejimen pengobatan jangka panjang, yang sangat penting bagi upaya pengendalian penyakit tersebut. Layanan kefarmasian, termasuk penyediaan pemberian informasi obat, berpotensi meningkatkan kepuasan pasien melalui penguatan pemahaman mengenai terapi yang dijalani. Pada kondisi kronis seperti TB, tingkat kepuasan pasien terhadap pemberian informasi obat merupakan indikator penting dalam mengukur kualitas terapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien rawat jalan TB setelah menerima pemberian informasi obat di Puskesmas Duren Sawit pada periode Februari hingga Maret 2025. Metode yang digunakan adalah desain potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan kuantitatif observasional prospektif. Pengumpulan data dilakukan secara langsung menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel dilakukan dengan pendekatan total sampling yang melibatkan 56 pasien TB yang sedang menjalani terapi Obat Anti-Tuberkulosis (OAT). Analisis data univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik pasien, sementara analisis bivariat dengan uji Chi-square diterapkan untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 85,7% pasien menyatakan telah menerima pemberian informasi obat dengan kategori baik, dan 55,4% pasien merasa puas dengan layanan yang diberikan oleh petugas kesehatan. Analisis uji Chi-square menghasilkan nilai p sebesar 0,036. Dapat disimpulkan bahwa kepuasan pasien rawat jalan TB di Puskesmas Duren Sawit dipengaruhi oleh pemberian informasi obat.
FORMULASI DAN PENENTUAN KADAR VITAMIN C PADA SEDIAAN GEL FACIAL WASH EKSTRAK KULIT BUAH KOPI Mega Karina Putri; Evrita Andhien Shaputri; Beta Ria Erika Marita Dellima
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.645

Abstract

Produksi kopi yang melimpah menghasilkan limbah kulit buah kopi mencapai 40-45%. Salah satu kandungan dari limbah tersebut adalah vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan, sehingga berpotensi untuk diformulasikan menjadi sediaan kosmetik, seperti gel facial wash. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan ekstrak kulit buah kopi sebagai bahan aktif alami dalam formulasi gel facial wash dan mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak kulit buah kopi terhadap sifat fisik serta kadar vitamin C. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Ekstrak diformulasikan dengan berbagai konsentrasi yaitu 2% (F1), 3% (F2) dan 4% (F3). Evaluasi fisik meliputi organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, tinggi busa, dan stabilitas busa. pH, daya sebar, tinggi busa dan stabilitas busa di analisis statistik uji One way ANOVA. Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa pH, tinggi busa, dan stabilitas busa sediaan facial wash dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi ekstrak. Analisis kandungan vitamin C dalam sediaan dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis menyatakan ketiga formula mengandung vitamin C dengan kadar masing masing sebesar 1,592%(F1), 4,037%(F2) dan 5,983%(F3). Analisis statistik uji One Way ANOVA menunjukkan nilai sig p < 0,001 (terdapat perbedaan kadar vitamin C yang signifikan antara ketiga formula). Berdasarkan hasil penelitian diketahui sediaan yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan sifat fisik dan variasi konsentrasi ekstrak kulit buah kopi berpengaruh terhadap pH, tinggi busa, stabilitas busa, dan kadar vitamin C sediaan facial wash.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHISTAMIN PADA ANAK DI WILAYAH UPTD PUSKESMAS CIPUTAT Debi Susanti; Rifkah; M. Widya Pratama
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.647

Abstract

Alergi merupakan gangguan kesehatan yang muncul akibat respons imun terhadap alergen tertentu, dengan gejala seperti bersin, hidung tersumbat, rinore, dan pruritus nasal. Secara global, prevalensi alergi mencapai 20–30%, sementara sensitisasi pada anak berkisar 40–50%. Di Indonesia, prevalensi alergi anak berkisar 0,5–7,5%, dengan Provinsi Banten melaporkan angka hingga 20%. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua dan penggunaan obat antihistamin pada anak di wilayah UPTD Puskesmas Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Penelitian ini memakai desain kuantitatif dengan cross-sectional. Sebanyak 180 responden direkrut dengan purposive sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner terstruktur, kemudian dianalisa dengan univariat serta bivariat memakai korelasi Spearman Rank. Dengan analisa univariat memperlihatkan mayoritas responden yang mempunyai tingkat pengetahuan baik, dan analisa bivariat mengindikasikan terdapat keterkaitan signifikan antara tingkat pengetahuan orang tua dan pemakaian antihistamin (p < 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan pengetahuan orang tua berkontribusi pada penggunaan obat antihistamin yang lebih rasional pada anak.
AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK KOMBINASI DAUN KEMANGI (Ocimum basilicum L.) DAN KERSEN (Muntingia calabura L.) SECARA IN VIVO Deden Winda Suwandi; Hesti Renggana; Tiara Nurjanah; Anas Subarnas; Lina Asmala
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.648

Abstract

Kadar asam urat dalam darah dapat meningkat dan melampaui batas normal, kondisi ini disebut hiperurisemia. Studi terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan daun kemangi maupun daun kersen secara terpisah telah terbukti efektif mampu menurunkan asam urat darah mencit. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi aktivitas serta efek sinergis dari kombinasi ekstrak daun kemangi dan daun kersen sebagai agen antihiperurisemia, yang dianalisis menggunakan metode POCT (Point of Care Testing) dengan alat Easy Touch GCU. Mencit diinduksi hiperurisemia melalui pemberian jus hati ayam secara peroral dengan dosis 1 mL/100 g bobot badan serta kalium oksonat sebesar 250 mg/kg bobot badan secara intraperitoneal. Dosis perlakuan yang digunakan meliputi ekstrak daun kemangi 100 mg/kg BB, ekstrak daun kersen 500 mg/kg BB, serta kombinasi kedua ekstrak berdasarkan dosis efektif masing-masing tanaman dengan variasi perbandingan 0,5 : 0,5; 0,5 : 0,25; 0,25 : 0,5; dan 0,25 : 0,25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh dosis perlakuan memiliki aktivitas antihiperurisemia pada mencit jantan putih, kecuali kombinasi dosis 0,25 : 0,5. Kombinasi dosis 0,5 : 0,25 yaitu dosis kombinasi 50 mg/kg BB : 125 mg/kg BB, terbukti sebagai dosis paling efektif dengan rata-rata penurunan kadar asam urat sebesar 56,29% dan tingkat efektivitas antihiperurisemia mencapai 95,00%.
EVALUASI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN, NILAI SPF DAN KARAKTERISTIK MUTU SEDIAAN BEDAK TABUR EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH NAGA MERAH (Selenicereus costaricensis) Nadia Helena Nurizky; Triyani Sumiati; Antonius Padua Ratu
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.650

Abstract

Buah naga merupakan tanaman kaktus yang populer karena memiliki khasiat melimpah karena kandungan bioaktifnya yang tinggi seperti seperti antosianin, flavonoid, dan fenol. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan mengevaluasi sediaan bedak tabur tabir surya berbasis ekstrak kulit buah naga merah serta menilai aktivitas antioksidan dan nilai SPF. Ekstraksi kulit buah naga merah dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% yang diasamkan dengan HCl 1%, kemudian ekstrak diformulasi dalam sediaan bedak tabur dengan variasi konsentrasi ekstrak (0,50 %; 1% dan 1,5% b/b). Evaluasi fisik sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH serta penentuan SPF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah naga merah dapat digunakan sebagai zat aktif dalam formulasi bedak tabur, dengan nilai SPF 10,05 termasuk kategori perlindungan maksimal pada konsentrasi ekstrak tertinggi. Formula dengan konsentrasi ekstrak tertinggi memiliki nilai SPF sebesar 10,0456 yang termasuk kategori perlindungan maksimal, serta aktivitas antioksidan terbaik dengan nilai IC50 sebesar 68,28 mg/L yang termasuk kategori sangat kuat.
FORMULASI SEDIAAN SALEP EKSTRAK ETANOL 96% DAUN BIDARA ARAB (Zizipus mauritiana L) DENGAN VARIASI BASIS ana maria ulfa
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.653

Abstract

Tanaman bidara arab merupakan jenis tanaman herbal yang tersebar luas didaerah tropis. Daun bidara memiliki banyak manfaat salah diantaranya adalah antijamur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi yang baik dengan variasi konsentrasi dari masing - masing basis salep. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu ekstrak etanol daun bidara arab dengan mengunakan metode maserasi selama 3-4 hari. Basis yang akan dibuat dalam pembuatan salep yaitu menggunakan dasar salep hidrokarbon dan dasar salep larut air. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental kandungan senyawa dari daun bidara arab yaitu alkaloid, saponin, terpenoid, flavonoid, antrakinon, fenol, dan tanin. Evaluasi dari masing masing salep dilakukan uji organoleptis, daya sebar dan daya lekat. Hasil uji organoleptis sediaan salep menunjukkan karakteristik yang baik dan memenuhi standar kualitas warna, bau, tekstur dan homogeitas. Uji homogenitas hasil dari kedua salep homogen dan tidak memiliki tekstur kasar. Nilai pH yang dihasilkan pada dasar salep hidrokarbon 6,3 dan 5,2. Daya sebar dengan dasar salep hidrokarbon dengan nilai sebesar 5,7 pada dasar salep larut dengan air dengan nilai 6,7 Selanjutnya pada uji daya lekat salep hidrokarbon memiliki nilai sebesar 5,5 dan pada dasar salep larut dengan air memiliki nilai sebesar 4,7. Daya sebar salep memiliki batas rentang yang ideal yaitu 5-7 cm. dan daya lekat salep memiliki rentang yang ideal yaitu kurang dari 4 detik. Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan formulasi sediaan dengan berbagai variasi basis salep masuk batas rentang salep yang telah ditetapkan.    
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT JERUK SAMBAL (Citrus Microcarpa Bunge) TERHADAP Staphylococcus Aureus Anggi Sagita Siti Qomariah; Syarifah Nurul Yanti Rizki Syahab Asseggaf; Mistika Zakiah; Ari Widiyantoro; Delima Fajar Liana
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.655

Abstract

Staphylococcus aureus (S. aureus) menjadi penyebab tingginya morbiditas dan mortalitas pada kasus infeksi. Perkembangan kasus resistensi antibiotik menyebabkan sulitnya proses pengobatan infeksi. Alternatif antibakteri dapat berasal dari tanaman berupa kulit buah jeruk sambal (Citrus microcarpa Bunge). Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit buah jeruk sambal terhadap pertumbuhan bakteri S. aureus. Pada penelitian ini dilakukan skrining fitokimia secara kualitatif dan uji aktivitas antibakteri pada kelompok perlakuan konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80%, kontrol negatif dan kontrol positif. Melalui skrining fitokimia, senyawa metabolit ditemukan pada ekstrak etanol kulit buah jeruk sambal sekunder yang meliputi flavonoid, fenolik, alkaloid, tanin, dan saponin. Aktivitas antibakteri ditemukan pada konsentrasi 40%, 60%, dan 80% dengan diameter zona hambat yang terbentuk sebesar 6,93 mm, 8,88 mm, dan 10,25 mm. Zona hambat yang terbentuk dapat dikategorikan sedang. Konsentrasi efektif ekstrak etanol kulit buah jeruk sambal dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus adalah 60%.
GAMBARAN KESESUAIAN PENYIMPANAN OBAT BERDASARKAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK X KABUPATEN PROBOLINGGO indah tripujiati; Shella Pradina
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Vol. 11 No. 1 (2026): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v11i1.657

Abstract

Penyimpanan obat yang tidak dikelola sesuai standar berpotensi menurunkan stabilitas dan mutu sediaan farmasi serta menghambat pengendalian persediaan di apotek. Standar penyimpanan obat telah diatur dalam Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek sebagai pedoman praktik kefarmasian. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kesesuaian sistem penyimpanan obat di Apotek X Kabupaten Probolinggo berdasarkan ketentuan dalam peraturan tersebut. Sistem penyimpanan yang dimaksud meliputi pengaturan tata letak obat, pengelompokan sediaan, pengendalian suhu, penerapan prinsip FEFO, pemisahan obat dari barang non-obat, serta pencatatan stok. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan observasional terhadap seluruh 1.275 item obat yang tersedia. Data diperoleh melalui pengamatan langsung menggunakan instrumen penilaian yang mengacu pada indikator standar, kemudian dianalisis dalam bentuk persentase kesesuaian. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar aspek penyimpanan telah sesuai dengan ketentuan, meliputi penggunaan kemasan asli, pengelompokan berdasarkan bentuk sediaan dan kelas terapi, serta penyusunan alfabetis dengan tingkat kesesuaian 100%. Pengendalian suhu mencapai 99,82%, pemisahan dari barang non-obat 99,29%, dan penerapan prinsip FEFO sebesar 97,60%. Namun, pencatatan melalui kartu stok masih rendah, yaitu 44%. Secara umum, sistem penyimpanan obat di Apotek X tergolong baik, meskipun diperlukan peningkatan pada aspek administrasi dan konsistensi pengelolaan stok untuk mendukung mutu pelayanan kefarmasian yang optimal.