cover
Contact Name
Dr. Purnama Budi Santosa
Contact Email
-
Phone
+62274520226
Journal Mail Official
jgise.ft@ugm.ac.id
Editorial Address
Jl. Grafika No.2 Kampus UGM, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JGISE-Journal of Geospatial Information Science and Engineering
ISSN : 26231182     EISSN : 26231182     DOI : https://doi.org/10.22146/jgise.51131
Core Subject : Engineering,
JGISE also accepts articles in any geospatial-related subjects using any research methodology that meet the standards established for publication in the journal. The primary, but not exclusive, audiences are academicians, graduate students, practitioners, and others interested in geospatial research.
Articles 136 Documents
Analisis Spasial Rencana Tata Ruang Wilayah Berbasis Kerentanan Gempa Bumi (Studi Kasus: Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat) Pamungkas, Totok Doyo; Firdaus, Rival Akbar; Rohmah, Nurul Aniyyatur; Rizki, Recky; Affriani, Asri Ria
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.101944

Abstract

Kecamatan Cisarua merupakan salah satu wilayah yang dilewati oleh jalur Sesar Lembang sehingga rawan terhadap bencana gempabumi. Sesar Lembang terletak di utara Kota Bandung yang tergambar jelas dalam peta topografi sebagai gawir memanjang berorientasi barat-timur. Dalam sejarahnya, Sesar Lembang pernah menyebabkan gempabumi, salah satunya terjadi pada tanggal 28 Agustus 2011 yang menyebabkan sebanyak 268 rumah rusak. Saat ini Indonesia telah memiliki UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Pada tingkat kementerian  terdapat Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2007 tentang Pedoman Penataan Ruang di Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi. Berdasarkan hal tersebut, dibutuhkan sebuah evaluasi rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang berlandaskan kerentanan terhadap bencana gempabumi. Penelitian ini menggunakan analisis overlay untuk mengetahui kesesuaian antara RTRW tahun 2009-2029 dan tutupan lahan eksisting tahun 2024 dengan zonasi tingkat kerentanan gempabumi berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2007 sehingga dapat diketahui kekurangan dan kelemahan pola ruang masa kini dan mendatang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian antara tutupan lahan eksisting tahun 2024 dengan zonasi tingkat kerentanan terhadap bencana gempabumi memiliki kesesuaian sebesar 92%, artinya lebih dari 3/4 atau 4909 Ha wilayah Kecamatan Cisarua sesuai dengan peruntukannya berdasarkan zonasi tingkat kerentanan terhadap bencana gempabumi. Hal yang sama juga ditunjukkan pada tingkat kesesuaian antara RTRW 2009 – 2029 dengan zonasi tingkat kerentanan terhadap bencana gempabumi yang memiliki kesesuaian sebesar 92%, sementara 8% atau seluas 454 Ha tidak sesuai dengan peruntukannya.
Survei dan Pembuatan Sistem Informasi Geografis Alamat Berkode Lokasi (Geocoded Address) untuk Wilayah Kalurahan Mantrijeron, Kota Yogyakarta Aprinia, Putri Rut Monica; Sutanta, Heri
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102071

Abstract

Alamat merupakan informasi penting sebagai penunjuk lokasi dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pengiriman dokumen dan barang, laporan kondisi kedaruratan, layanan kesehatan hingga layanan terhadap fasilitas air, listrik dan telekomunikasi. Pembangunan yang pesat di wilayah perkotaan menyebabkan data alamat menjadi semakin penting. Namun demikian, selain kondisi alamat yang tidak teratur, data referensi poligon (bidang tanah dan bangunan) juga belum tersedia. Oleh sebab itu, upaya survei, standardisasi, dan geocoding perlu dilakukan supaya terdapat keteraturan dan efisiensi.  Penelitian ini berlokasi di wilayah Kalurahan Mantrijeron, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Data referensi yang digunakan dalam proses geocoding adalah data bangunan yang diperoleh melalui survei lapangan. Survei dilakukan melalui pemetaan partisipatif bersama masyarakat dengan mengisi peta kerja dengan nomor bangunan eksisting. Standardisasi dilakukan mengacu pada ketentuan SNI 9037:2021 tentang Pengalamatan di Wilayah Perkotaan dan Perdesaan. Proses geocoding dilakukan pada data alamat sebelum dan sesudah standardisasi. Hasil geocoding selanjutnya divisualisasikan dalam WebGIS dengan platfom ArcGIS Online. WebGIS yang telah dibuat dilakukan evaluasi melalui uji usabilitas dan kompatibilitas. Hasil standardisasi menunjukkan jumlah objek alamat yang sesuai dengan ketentuan SNI 9037:2021 hanya berjumlah 70 bangunan dari total 2.222 bangunan. Hasil geocoding menunjukkan tingkat kecocokan (match rate) pada alamat yang telah terstandardisasi adalah sebesar 100%. Berdasarkan hasil uji kompatibilitas, WebGIS Geocoded Address Kalurahan Mantrijeron dapat mempertanahankan tampilan dan fungsionalitas fitur dengan baik pada berbagai perangkat dan browser. Uji usabilitas dilakukan terhadap aspek 5E menggunakan metode kuisioner dengan jumlah responden sebanyak 30 orang. Berdasarkan hasil uji usabilitas, WebGIS memiliki nilai rerata kelima aspek sebesar 4,55. Hal ini menunjukkan bahwa WebGIS Geocoded Address Kalurahan Mantrijeron memiliki usabilitas yang baik.
Bathymetric Mapping of Shallow Water Using Aerial Images With Structure-From-Motion Approach: A Case Study Of Kepulauan Seribu Water, Dki Jakarta Sulistian, Teguh; Gularso, Herjuno; Arum, Dewi Sekar; Aditya, Sandi; Mugiarto, Fajar Triady
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102075

Abstract

Bathymetric mapping is crucial for marine spatial planning and coastal infrastructure development. However, shallow waters with depths ranging from 0 to 5 meters are considered critical areas that pose dangers to conventional survey vessels. This research examines a bathymetric mapping method for the shallow waters of Kepulauan Seribu, Jakarta, using aerial images captured by an unmanned aerial vehicle (UAV) with a structure-from-motion (SfM) approach. Furthermore, the point cloud must be corrected for the refractive index since light passes through both air and water. The seawater refractive index is derived from salinity and seawater temperature data. The validation process uses several independent control points (ICPs) obtained from GNSS real-time kinematic (RTK) measurements and soundings conducted with an unmanned surface vessel (USV). The accuracy assessment shows that the SfM point cloud data has a horizontal RMSE of 0.103 m and a vertical RMSE of 0.191 m. The aerial image approach significantly speeds up the acquisition process compared to conventional sounding methods and produces a higher density of point clouds, integrating the coastal digital elevation model (DEM) of both land and sea areas. However, the use of this method is limited to clear waters where the seabed is visible in the images.
Direct Position Estimation (DPE): A Potential Application in Geodetic Networks Mudita, Imam
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102078

Abstract

Direct Position Estimation (DPE) is a relatively new technique in the Global Navigation Satellite System (GNSS) that is used to estimate the user’s position, velocity, and time directly from the correlation values of the received GNSS signal with the internal replica signals of the receiver. Unlike the conventional two-step approach, DPE infers the position directly from the sampled data without intermediate steps by joining signal tracking, and the navigation technique directly compares the expected signal reception of multiple potential navigation candidates against the actual received signal. The theoretical results indicate that DPE-based GNSS receivers can achieve more robust localization than conventional two-step receivers. DPE localization algorithms that compute the navigation solution directly in the navigation domain have been proposed, providing ways to address the challenges of conventional two-step receivers at the expense of additional computational load. Despite its high computational load, DPE is a more robust positioning algorithm than conventional two-step receivers in terms of multipath mitigation. The resilience of DPE against multipath and non-line-of-sight can even potentially offer applications in geodetic networks, where robust estimators are traditionally employed to counteract outliers.
Pengaruh Densitas Topografi Terhadap Ketelitian Model Geoid: Studi kasus Pulau Sulawesi Heliani, Leni Sophia; Noviantara, Hendra
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102122

Abstract

Penentuan model geoid teliti penting untuk mendapatkan tinggi ortometrik dari tinggi Global Navigation Satellite System (GNSS).   Salah satu faktor yang mempengaruhi ketelitian model geoid adalah densitas topografi. Umumnya, penentuan model geoid pada formula Stokes menggunakan densitas massa standar sebesar 2670 kg/m3. Namun, densitas topografi sesungguhnya  bervariasi. Saat ini, tersedia model densitas global, salah satunya yang dibuat University of New Brunswick (UNB) dengan resolusi 30”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan densitas topografi dari densitas standar dan model global UNB terhadap ketelitian model geoid yang dihasilkan. Pemodelan geoid  menggunakan metode Kungliga Tekniska Högskolan (KTH), dengan studi kasus Pulau Sulawesi, salah satu pulau yang memiliki variasi topografi yang sangat tinggi. Hasil validasi menggunakan data co-site GNSS-levelling menunjukan perubahan ketelitian yang tidak signifikan pada level milimeter, untuk geoid menggunakan densitas standar (NStandar) dan model global UNB (NUNB). Nilai standar deviasi dan RMS dari model NStandar sebesar 12,65 cm. Sedangkan nilai standar deviasi dan RMS dari model NUNB sebesar 12,58 cm dan 12,59 cm. Hal ini dikarenakan titik-titik validasi terletak pada lokasi dengan topografi yang tidak terlalu bervariasi. Selanjutnya, dilakukan pendetailan hitung perbedaan nilai geoid NStandar dan NUNB, diperoleh selisih antara -20 s.d. 30 cm di wilayah pegunungan. Perbedaan dalam level desimeter ini menunjukan efek yang signifikan dari densitas topografi terhadap ketelitian geoid, sehingga tidak bisa diabaikan, terutama untuk wilayah dengan variasi topografi yang tinggi.
Perbandingan Survei LiDAR Menggunakan Wahana Drone dan Handheld-SLAM Untuk Analisa Tree Trunk dan Tree Crown Rahmadani, Putri
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 7, No 2 (2024): December
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.102190

Abstract

Rekonstruksi tiga dimensi pohon memiliki peran penting dalam berbagai bidang, seperti studi pengelolaan hutan, ekologi, perhitungan emisi karbon, serta aplikasi perencanaan perkotaan. Namun, metode tradisional yang telah digunakan selama bertahun-tahun umumnya membutuhkan tenaga kerja intensif, memakan waktu lama, dan rentan terhadap kesalahan pengukuran. Untuk mengatasi kendala ini, metode berbasis point cloud mulai digunakan sebagai solusi yang lebih efektif. Point cloud tersebut dapat dihasilkan melalui teknologi LiDAR maupun fotogrametri. Teknologi LiDAR biasanya diintegrasikan dengan drone sebagai wahana untuk pengambilan data. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan LiDAR berbasis handheld-SLAM (Simultaneous Localization and Mapping) telah menjadi alternatif metode survei modern. Handheld-SLAM LiDAR adalah perangkat LiDAR yang dilengkapi dengan teknologi SLAM, memungkinkan pemindaian tiga dimensi secara real-time. Penelitian ini akan membandingkan dua metode akuisisi data, yaitu menggunakan drone LiDAR dan handheld-SLAM LiDAR, yang akan diaplikasikan untuk analisis karakteristik pohon, seperti bentuk tajuk (tree crown) dan batang pohon (tree trunk). Hipotesis awal penelitian ini adalah bahwa sensor LiDAR pada drone memiliki keterbatasan dalam merekonstruksi bentuk tiga dimensi pohon, khususnya pada bagian batang, karena akuisisi data yang dilakukan dari atas. Dengan adanya teknologi handheld-SLAM LiDAR, diharapkan keterbatasan tersebut dapat diatasi, sehingga menghasilkan pemodelan pohon yang lebih akurat. Lokasi survei penelitian ini adalah sebagian kecil area Taman Hutan Raya di Bandung, dengan tutupan lahan yang terdiri dari pepohonan. Akuisisi data dilakukan menggunakan dua perangkat LiDAR: handheld LiDAR SATLAB Lixel X1 dan DJI Zenmuse L1 yang diterbangkan menggunakan DJI Matrice 300RTK. Data yang diperoleh dari kedua alat ini kemudian diolah menggunakan perangkat lunak pengolah point cloud untuk menghasilkan data bebas noise. Hasil pengolahan ini digunakan untuk menganalisis karakteristik pohon, termasuk tree crown  dan tree trunk. Penelitian ini diharapkan dapat menyimpulkan perbandingan efektivitas kedua metode akuisisi LiDAR dalam merekonstruksi bentuk nyata pohon, serta menunjukkan sejauh mana data dari kedua metode tersebut dapat diintegrasikan untuk menghasilkan model pohon yang lebih akurat dan komprehensif.
Performance Assessment of Maximum Likelihood, Random Forest and Support Vector Machines Classifier for Urban Land Use Classification: A Case Study of Dhaka Metropolitan City, Bangladesh Alam, Ha-mim Ebne; Uddin, Md. Nizam; Ahmed, Kazi Tawkir; Hasan, Md. Jahidul; Arafat, Md. Yeasir; Hoque, Md. Enamul
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 8, No 1 (2025): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.73283

Abstract

Segmentation of remotely sensed satellite images is obligatory for multifarious earth observation studies, including land use and land cover (LULC) analysis. It is also inherent in environment, ecosystem, and urban development in analytical perspectives and complex inputs for modeling urban planning and disaster management. Assessment of LULC pattern uses different segmentation methods for assigning specific given classes to pixels of bands containing an image of natural color composite to define land use land cover classes such as water body, vegetation, bare soil, and built-up areas. The process of assigning classes to pixels varies from one to another, and thus, different accuracy levels are obtained. The accuracy of frequently used methods for LULC classification was assessed in this study, where the Dhaka metropolitan area has been taken as a sample to observe the LULC. The classification was conducted by using three methods where the Support vector machines classification (SVMC) produced the best accuracy results of 83.2% overall accuracy and overall kappa coefficient value of 0.74 than both random forest classification (RFC) and maximum likelihood classification (MLC) methods with 86.34% and 83% spatial similarity rate respectively. Besides, RFC and MLC are roughly equivalent in kappa and overall accuracy values, though MLC revealed less capability at classifying vegetation. However, MLC showed a high spatial similarity with RFC and dissimilarity with SVMC. This study on segmentation methods in classifying LULC will help users make an informed choice in selecting the best method for relevant studies.
Penentuan Batas Wilayah Pengelolaan Laut Pada Berbagai Bentuk dan Kondisi Wilayah (Studi Kasus: Wilayah Berbentuk Pulau, Wilayah Saling Berhadapan, dan Wilayah Saling Berdampingan) Zakariyah, Mahmud; Silvia, Novi; Masitoh, Ferryati; Yuniarti, Khoirun Nisa’ Ari
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 8, No 1 (2025): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.96765

Abstract

Sebagai negara kepulauan, negara indonesia memiliki wilayah daratan yang lebih sedikit dibandingkan wilayah lautan. Sehingga, penentuan batas pengelolaan wilayah laut penting diketahui sebab berkaitan dengan berbagai aspek sumber daya perairan dan kewenangan dalam menjaga keberlangsungan lingkungan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan hasil visualisasi peta batas administrasi pada wilayah perairan secara kartometrik, yang telah didasarkan atas Permendagri No. 141 Tahun 2017 dan dibuat dengan kelengkapan data-data administrasi Kabupaten Simeulue untuk pengaplikasian metode buffer, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Purworejo untuk melakukan metode equidistant line serta data administrasi Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat untuk digunakan metode median line. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa Penentuan batas wilayah laut memiliki cara yang berbeda tergantung kondisi wilayahnya. Wilayah kabupaten atau kota dengan bentuk pulau dianalisis dengan metode buffer, kemudian wilayah dengan pantai yang berdampingan dianalisis menggunakan equidistant line dan menunjukkan hasil bahwa Kabupaten Kebumen memiliki wilayah pengelolaan laut lebih luas dibandingkan Kabupaten Purworejo. Selain itu, untuk wilayah kabupaten atau kota dengan pantai yang berhadapan dianalisis menggunakan median line, sehingga diketahui Kabupaten Lombok Timur memiliki wilayah pengelolaan laut lebih luas dibandingkan Kabupaten Sumbawa Barat.
Heritage Building Information Modelling (HBIM) and Selogriyo Temple Conservation Area Mapping in WebGIS Experience Design Rahman, Arif; Prasetyo, Yudo; Wahyuddin, Yasser
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 8, No 1 (2025): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.98562

Abstract

Indonesia has many temples scattered throughout the archipelago, becoming important assets that need to be preserved. In accordance with Law No. 11/2010 on Cultural Heritage, preservation of cultural heritage requires documentation. The importance of documenting temples to anticipate damage is reflected in Selogriyo Temple which was affected by landslides in 1998. This research designed Heritage Building Information Modeling (HBIM) and conservation mapping of Selogriyo Temple based on WebGIS. Methods include Remote Sensing, Photogrammetry, and Geographic Information System (GIS). Secondary data in the form of 3D model of Selogriyo Temple from TLS acquisition was processed with segmentation for HBIM. HBIM WebGIS was designed using the waterfall method. HBIM WebGIS test was conducted through Validity Test, Reliability Test, and Feasibility Test of ISO 9126 standard. The results showed that segmentation using several software for divided the point cloud data into nine main parts of the temple. ArcGIS Online's CityEngine and SceneViewer software merged the sections and attributed information. Feasibility testing showed the 3D HBIM and WebGIS models were valid and reliable, with good consistency according to ISO 9126 standards. The score of each variable exceeded 70%, indicating a sufficient level of feasibility. The HBIM and WebGIS design provides information on temple construction, a reference for reconstruction, and supports the management of the Selogriyo Temple tourism area. This research product is expected to be used to anticipate future developments and advance the management of cultural heritage sites through smart heritage.
Semi-Automatic 3D Modeling of Rooftop Types from Aerial Photos Nursyahrial, Arsa Fa'iz; Ilmawan, Hanif
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 8, No 1 (2025): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.98778

Abstract

Urban planning has dynamic problem as time goes by. 3D City Model is one of solutions to help planners in decision making, because it can represent real objects in high detail, including the rooftop type. In this research, case study of 3D City Model located in the office area of Wonogiri Regency Government, which was processed from aerial photos using semi-automatic method with LoD 2 standart. This semi-automatic method used Computer Generated Architecture (CGA) rules that contained commands to create objects based on their input. The result was a 3D model of the building along with road and landscape. The roof shape of 3D building model was compared to aerial photos in order to evaluate the visual accuracy, specifically aiming for completeness, correctness, and accuracy values above 85%. The result showed that the flat and shed have the highest accuracy, while the gable roof has low accuracy, though they were all above 85% accuracy. This means that the semi-automatic method has potential for 3D modeling purpose in any kind of standart roof types.