cover
Contact Name
I Komang Badra
Contact Email
-
Phone
+6285238148283
Journal Mail Official
pdpt.stkipamlapura@gmail.com
Editorial Address
Jalan Ngurah Rai Nomor 35 Amlapura
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Lampuhyang
ISSN : 20870760     EISSN : 27455661     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal LAMPUHYANG Jurnal Ilmiah Pendidikan, Agama dan Kebudayaan merupakan jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura. Jurnal LAMPUHYANG terbit dua kali dalam setahun yaitu bulan Januari dan Juli.
Articles 238 Documents
Model Penanggulangan Pemanasan Global Melalui Reaktualisasi I Wayan Gama; I Ketut Seken; I Gede Bandem; Ida Komang Wirnata
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.156

Abstract

Tujuan dari Penelitian ini adalah 1)menemukan persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan Tumpek Wariga dalam rangka penanggulangan pemanasan global. 2) menemukan cara masyarakat dalam mereaktualisasikan pelaksanaan TumpekWariga. 3) Menemukan Model Penangulangan Pemanasan Global melalui reaktualisasi Tumpek Wariga. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Kubu dengan informan sebanyak 125 orang. Informan ditentukan secara purposisf. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi dan wawancara. Metode wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi masyarakat terkait perayaan Tumpek Wariga. Selanjutnya data tentang cara masyarakat mereaktualisasi pelaksanaan Tumpek Wariga dalam menanggulangi pemanasan global (global warming) dikumpulkan dengan cara obsevasi. Datahasil penelitian dipaparkan secara deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis data didapatkan bahwa masyarakat Kubu memiliki persepsi perayaan Tumpek Warigabukan hanya sebatas ritual melainkan menanam pohon juga merupaka wujud perayaan Tumpek Warigawalau keduanya memiliki perbedaan terkait sarana yang digunakan. Semua informan merayakan Tumpek Warigadengan mempersembahkan sesajen ditujuakan kehadapan Bhatara Sangkara sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan. Tujuan dari pelaksanan upacara tersebut adalah untuk memohon agar tumbuhan tersebut dapat hidup subur dan berbuah lebat. Dan masyarakat desa di Kecamatan Kubu memiliki pandangan perayaan Tumpek Warigadapat digunakan sebagai model penangulangan pemanasan global. Model penanggulangan pemanasan global melaui reaktualisasi Tumpek Wariga meliputi kegiatan reboisasi yang dilakukan secara kontinu. Sehingga tercipta keseimbangan secara horisontal dan vertikal sesuai dengan konsep Tri Hita Karana.
Model Penanggulangan Pemanasan Global Melalui Reaktualisasi Gama, I Wayan; Seken, I Ketut; Bandem, I Gede; Wirnata, Ida Komang
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.156

Abstract

Tujuan dari Penelitian ini adalah 1)menemukan persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan Tumpek Wariga dalam rangka penanggulangan pemanasan global. 2) menemukan cara masyarakat dalam mereaktualisasikan pelaksanaan TumpekWariga. 3) Menemukan Model Penangulangan Pemanasan Global melalui reaktualisasi Tumpek Wariga. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Kubu dengan informan sebanyak 125 orang. Informan ditentukan secara purposisf. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi dan wawancara. Metode wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi masyarakat terkait perayaan Tumpek Wariga. Selanjutnya data tentang cara masyarakat mereaktualisasi pelaksanaan Tumpek Wariga dalam menanggulangi pemanasan global (global warming) dikumpulkan dengan cara obsevasi. Datahasil penelitian dipaparkan secara deskriptif kualitatif. Dari hasil analisis data didapatkan bahwa masyarakat Kubu memiliki persepsi perayaan Tumpek Warigabukan hanya sebatas ritual melainkan menanam pohon juga merupaka wujud perayaan Tumpek Warigawalau keduanya memiliki perbedaan terkait sarana yang digunakan. Semua informan merayakan Tumpek Warigadengan mempersembahkan sesajen ditujuakan kehadapan Bhatara Sangkara sebagai dewanya tumbuh-tumbuhan. Tujuan dari pelaksanan upacara tersebut adalah untuk memohon agar tumbuhan tersebut dapat hidup subur dan berbuah lebat. Dan masyarakat desa di Kecamatan Kubu memiliki pandangan perayaan Tumpek Warigadapat digunakan sebagai model penangulangan pemanasan global. Model penanggulangan pemanasan global melaui reaktualisasi Tumpek Wariga meliputi kegiatan reboisasi yang dilakukan secara kontinu. Sehingga tercipta keseimbangan secara horisontal dan vertikal sesuai dengan konsep Tri Hita Karana.
Kearifan Lokal dalam Tutur Tabu Masyarakat Hindu di Karangasem I Wayan Dwija; I Nyoman Subadra
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.157

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tutur tabu nilai-nilai kearifan lokal, dan (3) alasan masyarakat Hindu secara turun-temurun menyampaikan tutur tabu yang mengandung kearifan lokal tersebut oleh masyarakat Hindu di Karangasem. Penelitian ini difokuskan pada delapan kecamatan di Kabupaten Karangasem.Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara mendalam. Data yang telah terkumpul nantinya dianalisis dengan menggunakan model alir Miles dan Haberman. Hasilnya menunjukkan bahwa (1) bentuk atau struktur tutur tabu masyarakat Hindu di Karangasem ada 31 bentuk yang ditandai oleh pemakaian pemarkah direktif, seperti sing dadi, ten dadi, nenten dados, da, dan sampunang.Bagaimana pun struktur atau bentuk tutur tabu tersebut, pada dasarnya tutur tabu tersebut berbentuk larangan atau pantangan yang tidak boleh dilanggar yang disampaikan oleh masyarakat Hindu melalui tutur berbentuk perintah. Oleh karena itu, tutur tabu tersebut berbentuk tuturan direktif (perintah). (2) Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tutur tabu masyarakat Hindu di Karangasem adalah nilai-nilai kearifan lokal yang terkait dengan tiga kerangka dasar ajaran agama Hindu, yakni tatwa/filsafat, etika/susila, dan upacara. (3) Alasan masyarakat Hindu menyampaikan tutur tabu yang mengandung kearifan lokal tersebut adalah (a) Masyarakat Hindu dipengaruhi oleh unsur-unsur gaib atau magis. (b) Masyarakat Hindu mengutamakan aspek kesopanan dan kehaluasan dalam berbahasa. (c) Masyarakat Hindu ingin membentuk karakter generasi muda Hindu yang beretika dan beradab.
Kearifan Lokal dalam Tutur Tabu Masyarakat Hindu di Karangasem Dwija, I Wayan; Subadra, I Nyoman
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.157

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tutur tabu nilai-nilai kearifan lokal, dan (3) alasan masyarakat Hindu secara turun-temurun menyampaikan tutur tabu yang mengandung kearifan lokal tersebut oleh masyarakat Hindu di Karangasem. Penelitian ini difokuskan pada delapan kecamatan di Kabupaten Karangasem.Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara observasi dan wawancara mendalam. Data yang telah terkumpul nantinya dianalisis dengan menggunakan model alir Miles dan Haberman. Hasilnya menunjukkan bahwa (1) bentuk atau struktur tutur tabu masyarakat Hindu di Karangasem ada 31 bentuk yang ditandai oleh pemakaian pemarkah direktif, seperti sing dadi, ten dadi, nenten dados, da, dan sampunang.Bagaimana pun struktur atau bentuk tutur tabu tersebut, pada dasarnya tutur tabu tersebut berbentuk larangan atau pantangan yang tidak boleh dilanggar yang disampaikan oleh masyarakat Hindu melalui tutur berbentuk perintah. Oleh karena itu, tutur tabu tersebut berbentuk tuturan direktif (perintah). (2) Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam tutur tabu masyarakat Hindu di Karangasem adalah nilai-nilai kearifan lokal yang terkait dengan tiga kerangka dasar ajaran agama Hindu, yakni tatwa/filsafat, etika/susila, dan upacara. (3) Alasan masyarakat Hindu menyampaikan tutur tabu yang mengandung kearifan lokal tersebut adalah (a) Masyarakat Hindu dipengaruhi oleh unsur-unsur gaib atau magis. (b) Masyarakat Hindu mengutamakan aspek kesopanan dan kehaluasan dalam berbahasa. (c) Masyarakat Hindu ingin membentuk karakter generasi muda Hindu yang beretika dan beradab.
Eksistensi Folklor di Bali I Wayan Jatiyasa
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.158

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) variasi folklor yang berkembang di Bali, (2) eksistensi folklor di Bali, dan (3) faktor yang mempengaruhi eksistensi folklor di Bali. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi, observasi (pengamatan di lapangan), dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif ditambah dengan teknik interpretasi dan argumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa folklor di Bali berkembang dalam tiga klasifikasi dengan berbagai variasi, yaitu folklor lisan (bahasa rakyat, paribasa Bali, pertanyaan tradisional, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, saa, sesapan, japa mantra, nyanyian rakyat, dan pembicaraan adat); folklor sebagian lisan (kepercayaan rakyat, permainan rakyat, teater rakyat, tarian rakyat, adat-istiadat, upacara keagamaan, dan pesta rakyat); dan folklor tidak lisan, terdiri atas material (arsitektur Bali, kerajinan tangan, pakaian adat Bali, makanan khas Bali, minuman khas Bali, obat-obatan tradisional, alat musik rakyat tradisional, dan mainan tradisional) dan bukan material (bunyi kentongan/kulkul dan musik rakyat). Folklor Bali masih eksis, tetapi beberapa variasi mengalami degredasi karena tergeser perkembangan zaman. Faktor yang mempengaruhi eksistensi folklor Bali, yaitu faktor internal dan eksternal.
Eksistensi Folklor di Bali Jatiyasa, I Wayan
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.158

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: (1) variasi folklor yang berkembang di Bali, (2) eksistensi folklor di Bali, dan (3) faktor yang mempengaruhi eksistensi folklor di Bali. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dokumentasi, observasi (pengamatan di lapangan), dan wawancara. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif ditambah dengan teknik interpretasi dan argumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa folklor di Bali berkembang dalam tiga klasifikasi dengan berbagai variasi, yaitu folklor lisan (bahasa rakyat, paribasa Bali, pertanyaan tradisional, puisi rakyat, cerita prosa rakyat, saa, sesapan, japa mantra, nyanyian rakyat, dan pembicaraan adat); folklor sebagian lisan (kepercayaan rakyat, permainan rakyat, teater rakyat, tarian rakyat, adat-istiadat, upacara keagamaan, dan pesta rakyat); dan folklor tidak lisan, terdiri atas material (arsitektur Bali, kerajinan tangan, pakaian adat Bali, makanan khas Bali, minuman khas Bali, obat-obatan tradisional, alat musik rakyat tradisional, dan mainan tradisional) dan bukan material (bunyi kentongan/kulkul dan musik rakyat). Folklor Bali masih eksis, tetapi beberapa variasi mengalami degredasi karena tergeser perkembangan zaman. Faktor yang mempengaruhi eksistensi folklor Bali, yaitu faktor internal dan eksternal.
Kesenian Cekepung sebagai Media Penanaman Rasa Kebersamaan dan Persatuan di Desa Budakeling, Karangasem Wayan Yanik Yasmini
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.159

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menggali kearifan lokal dalam kesenian cekepung. Untuk menjawab permasalahan yang diajukan digunakan sejumlah teori diantaranya teori struktural fungsional, teori interaksi simbolik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di Desa Budakeling. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan analilis kualitatif model interaktif dari hiberman. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa keseian cekepung merupakan kesenian lokal di Karangasem. Keberadaan kesenian cekepung tidak terlepas dari sejarang kerajaan Karangasem. Kesenian cekepung merupakan hasil modifikasi dari kesenian sasakan dari lombok. Kesenian cekepung memiliki fungsi yang sangat strategis sebagai media penanaman rasa kebersamaan dan persatuan pada masyarakat Karangasem. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam melestarikan kesenian cekepung salah satunya adalah mengembalikan fungsi cekepung dalam hidup bermasyarakat seperti menunjukkan kesenian cekepung di setiap kegiatan keagamaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesenian cekepung merupakan kesenian Lokal Masyarakat Karangasem dan keberadaanya perlu untuk direvitalisasi untuk kelestariannya.
Kesenian Cekepung sebagai Media Penanaman Rasa Kebersamaan dan Persatuan di Desa Budakeling, Karangasem Yasmini, Wayan Yanik
LAMPUHYANG Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i1.159

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menggali kearifan lokal dalam kesenian cekepung. Untuk menjawab permasalahan yang diajukan digunakan sejumlah teori diantaranya teori struktural fungsional, teori interaksi simbolik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di Desa Budakeling. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan analilis kualitatif model interaktif dari hiberman. Dari hasil analisis data ditemukan bahwa keseian cekepung merupakan kesenian lokal di Karangasem. Keberadaan kesenian cekepung tidak terlepas dari sejarang kerajaan Karangasem. Kesenian cekepung merupakan hasil modifikasi dari kesenian sasakan dari lombok. Kesenian cekepung memiliki fungsi yang sangat strategis sebagai media penanaman rasa kebersamaan dan persatuan pada masyarakat Karangasem. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh dalam melestarikan kesenian cekepung salah satunya adalah mengembalikan fungsi cekepung dalam hidup bermasyarakat seperti menunjukkan kesenian cekepung di setiap kegiatan keagamaan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kesenian cekepung merupakan kesenian Lokal Masyarakat Karangasem dan keberadaanya perlu untuk direvitalisasi untuk kelestariannya.
Perkawinan Endogami di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem I Wayan Lali Yogantara; Putu Agung Aryadhi Mahayoga
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.160

Abstract

Salah satu tradisi yang masih terlaksana di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan adalah perkawinan endogami desa. Berkaitan dengan itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui proses,tujuan, danfaktor-faktor yang mendukung pelestarian sistem perkawinan endogamitersebut.Pengumpulan data menggunakan metode interviewdan pencatatan dokumen. Analisa data dengan menggunakan metode deskriptif yaitu data diolah dengan jalan menyusun secara sistematis sehingga diperoleh simpulan umum. Hasil penelitian : (1)Proses perkawinan endogami desa di Desa Pakraman Pegringsingan dilaksanakan dengan dua tahapanyakni pajati kepada aparat adat dan dinas, serta orang tua/wali perempuan. Tahapan berikutnya menghaturkan upakara/banten pada sanggahkeluarga pengantin dan kahyangan desa,(2)Perkawinan endogami desa bertujuanmewujudkan perkawinan ideal dan memberikan proteksiterhadap sistem sosial kekerabatan di dalam Desa Pakraman tenganan Pegringsingan,(3) Faktor pendukung dilestarikannya sistem perkawinan endogami desadi Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan adalah adanya komitmenpelestarian budaya leluhur, pengakuan sebagai krama desa inti (status sosial tinggi), berhak menempati tanah karang desa, berhak atas kekayaan desa serta bebas dari sanksi adat.
Perkawinan Endogami di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan Kecamatan Manggis Kabupaten Karangasem Yogantara, I Wayan Lali; Mahayoga, Putu Agung Aryadhi
LAMPUHYANG Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v5i2.160

Abstract

Salah satu tradisi yang masih terlaksana di Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan adalah perkawinan endogami desa. Berkaitan dengan itu, dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui proses,tujuan, danfaktor-faktor yang mendukung pelestarian sistem perkawinan endogamitersebut.Pengumpulan data menggunakan metode interviewdan pencatatan dokumen. Analisa data dengan menggunakan metode deskriptif yaitu data diolah dengan jalan menyusun secara sistematis sehingga diperoleh simpulan umum. Hasil penelitian : (1)Proses perkawinan endogami desa di Desa Pakraman Pegringsingan dilaksanakan dengan dua tahapanyakni pajati kepada aparat adat dan dinas, serta orang tua/wali perempuan. Tahapan berikutnya menghaturkan upakara/banten pada sanggahkeluarga pengantin dan kahyangan desa,(2)Perkawinan endogami desa bertujuanmewujudkan perkawinan ideal dan memberikan proteksiterhadap sistem sosial kekerabatan di dalam Desa Pakraman tenganan Pegringsingan,(3) Faktor pendukung dilestarikannya sistem perkawinan endogami desadi Desa Pakraman Tenganan Pegringsingan adalah adanya komitmenpelestarian budaya leluhur, pengakuan sebagai krama desa inti (status sosial tinggi), berhak menempati tanah karang desa, berhak atas kekayaan desa serta bebas dari sanksi adat.

Page 7 of 24 | Total Record : 238