cover
Contact Name
Andes Safarandes Asmara
Contact Email
-
Phone
+6282137900774
Journal Mail Official
j.sekolahdasar@ubpkarawang.ac.id
Editorial Address
Kampus Universitas Buana Perjuangan, Jalan Ronggo Waluyo Sirnabaya, Puseurjaya, Kec. Telukjambe Tim., Kabupaten Karawang, Jawa Barat 41361
Location
Kab. karawang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sekolah Dasar (JSD)
ISSN : 25282883     EISSN : 25805509     DOI : https://doi.org/10.36805
Core Subject : Education,
Jurnal Sekolah Dasar (JSD) : merupakan jurnal pendidikan dasar yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UBP Karawang, JSD merupakan media untuk mempublikasikan hasil penelitian yang berkaitan dengan topik pendidikan dasar seperti pengajaran, pembelajaran, pengembangan kurikulum, lingkungan belajar, pendidikan guru, teknologi pendidikan, dan pengembangan pendidikan dasar.
Articles 112 Documents
Application of the Question and Answer Learning Method Through Reasoning Techniques to Improve Learning Activities of Class 6 Students at SDN Sukaharja 1 Telukjambe Timur District, Karawang Regency Yayat Suryati; Tarpan Suparman
Jurnal Sekolah Dasar Vol 6 No 2 (2021): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v6i2.1913

Abstract

The purpose of this study was to determine the increase in student learning activities by using the question and answer method through talaran techniques carried out on grade 6 students of Sukaharja 1 Elementary School, Telukjambe Timur District, Karawang Regency. The research method used is classroom action with observational research techniques, interviews, and tests and documentation. The researcher evaluates the learning process according to the success indicators that have been determined according to the competency standards and basic competencies and compares them with the Minimum Completeness Criteria (KKM), which is 65. The results of the analysis in the first cycle at the fourth meeting show that the value of students is still below the KKM as many as three participants students, with the lowest score of 51, and the class average was 86.16. In the second cycle, it shows an increase in the value of students at the fourth meeting with the lowest score of 70, and none of the students get a score below the KKM. The class average score has increased to 88.25. The learning activities of students had increased, which occurred in the first cycle obtaining an average of 58.10% to 76.51%. Meanwhile, the interviews conducted in the first cycle compared to the second cycle have different activities. In the first cycle, students still acted indifferently when the teacher explained and asked questions. In the second cycle, all students can respond well. The results showed that the application of the learning method through the memorization technique could increase the activity of grade 6 students in participating in learning at the Sukaharja 1 Elementary School, Telukjambe Timur District, Karawang Regency.
Banyol in Panakawan Wayang Golek Style Karawang Asep Wadi; Anggy Giri Prawiyogi
Jurnal Sekolah Dasar Vol 6 No 2 (2021): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v6i2.1914

Abstract

Banyol panakawan is a form of sempal kapiguyon, because in essence the meaning of sempal kapiguyon is to entertain the figures of the knights or ponggawa among them. Because a panakawan figure is a character that describes a person who always accompanies and entertains his employer. However, in this day and age, the function of gagging has become very significant because it is so coveted and becomes a dish that is so intriguing for the audience. This is very much in line with the function of panakawan in general, namely as a medium for educators, lighters, and entertainers. Panakawan figures are also often used as a medium for expressing the soul of the puppeteers who play them, because jokes will continue to develop and in different ways in each place or region. As for the theory used in writing this time, namely the theory of humor from Thornos and Powell (1993) using a qualitative approach, literacy sources used include interviews, literature study, and observation. The case study carried out is the Karawang gagrak which has its own characteristics from time to time, including in the days of R.H Tjetjep Supriadi, Ujang Mukhtar, and Apep As Hudaya, which have a distinction and packaging in their own humor.
Merdeka Belajar dengan Pendidikan Resolusi Konflik di Sekolah Dasar Heronimus Delu Pingge
Jurnal Sekolah Dasar Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v7i1.1900

Abstract

Abstrak Terdapat tiga hal yang menjadi pembahasan utama dari tulisan ini yakni 1) konflik dan kehidupan manusia, 2) pandangan tentang pendidikan resolusi konflik, 3) pendidikan resolusi konflik dalam kurikulum sekolah. Kajian tulisan didasarkan pengalaman selama mengampuh matakuliah Manajemen Konflik pada Prodi PGSD di STKIP Weetebula dan juga penelusuran kajian literatur terkait. Manusia akan selalu dekat dengan konflik, baik sebagai pemicu konflik maupun korban dari konflik. Selain itu konflik tidak selamanya buruk, dengan konflik manusia bisa menciptakan kedamaian dan juga menghindari supaya tidak terjadi konflik. Konflik sebagai bahan refleksi manusia, bahwa manusia membutuhkan pola pamahaman, komunikasi, dan interaksi yang berbeda-beda. Kita tidak dapat memaksakan kehendak sendiri. Saat ini pendidikan Indonesia dengan program Merdeka Belajar menjadi tiket bagi pendidikan resolusi konflik di sekolah untuk mendapatkan perhatian khusus. Merdeka belajar dapat mendesain kurikulum dengan memuat pendidikan resolusi konflik atau pendidikan kedamaian didalamnya. Sehingga kualitas lulusan merupakan generasi yang membawa kedamaian bukan konflik. Maka oleh karena itu guru atau tenaga pengajar perlu memahami posisi pendidikan resolusi konflik di sekolah. Abstract There are three things that become the main discussion of this paper, namely 1) conflict and human life, 2) views on conflict resolution education, 3) conflict resolution education in the school curriculum. The written study was based on experience during the Conflict Management course for prospective elementary school teachers at STKIP Weetebula and also a search for related literature studies. Humans will always be close to conflict, both as triggers of conflict and victims of conflict. In addition, conflict is not always bad, with human conflict it can create peace and also avoid conflict. Conflict is a material for human reflection, that humans need different patterns of understanding, communication, and interaction. We cannot impose our own will. Currently, Indonesian education with the independent learning program is the ticket for conflict resolution education in schools to get special attention. Freedom to learn can design a curriculum that includes conflict resolution education or peace education in it. So that the quality of graduates is a generation that brings peace, not conflict. Therefore, teachers or teaching staff need to understand the position of conflict resolution education in schools.
Gaya Kepemimpinan Guru di Dalam Kelas Terhadap Keaktifan Siswa SD/MI Hanny Maharani
Jurnal Sekolah Dasar Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v7i1.2041

Abstract

Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang gaya kepemimpinan guru yang ada di dalam kelas dan juga diharapkan guru dapat memimpin siswa sesuai dengan fungsi kepemimpinan yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Gaya kepemimpinan guru di dalam kelas mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Guru harus mampu memilah beberapa aspek kepemimpinan yang menunjang proses pembelajarannya karena kepemimpinan guru di kelas berafiliasi dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Gaya kepemimpinan guru berkesinambungan dengan keaktifan siswa karena siswa akan aktif apabila kepemimpinan guru di kelas itu menyenangkan mampu membimbing, berkepribadian, serta abadi sepanjang masa. Abstract This article aims to find out more about the teacher's leadership style in the classroom and it is also hoped that the teacher can lead students according to the leadership function related to the learning objectives to be achieved. The teacher's leadership style in the classroom has different characteristics. Teachers must be able to sort out several aspects of leadership that support the learning process because teacher leadership in the classroom is affiliated with the expected learning objectives. The teacher's leadership style is continuous with the activeness of students because students will be active if the teacher's leadership in the classroom is fun, able to guide, have personality, and is eternal throughout time.
Pengaruh Problem Solving Berbantuan Tabel Keywords Terhadap Kemampuan Pemecahan Soal Cerita Matematika Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Bawakaraeng I Kecamatan Barana Kota Makassar Megawati; Agustan Syamsuddin; Sulfasyah
Jurnal Sekolah Dasar Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v7i1.2054

Abstract

Abstrak Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang bertujuan untuk: (1)untuk mengetahui hasil pemecahan masalah soal cerita matematika siswa dalam pembelajaran (2)untuk Mengetahui Aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran matematika. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Bawakaraeng I dan sampel terdiri dari dua kelas yakni kelas eksperimen diajarkan menggunakan pendekatan Problem Solving berbantuan tabel Keywords dan kelas kontrol diajarkan menggunakan model pembelajaran langsung. Sampel yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling dengan pertimbangan bahwa kemampuan siswa diasumsikan homogen. Data yang dikumpulkan terdiri data atas hasil kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika, data aktivitas siswa dalam pembelajaran, dan data keterlaksanaan pembelajaran. Data aktivitas siswa dan data keterlaksanaan pembelajaran siswa dianalisis menggunakan analisis deskriptif sedangkan data kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan pendekatan Problem Solving berbantuan tabel Keywords dalam materi FPB dan KPK terlaksana dengan baik sekali,(2) penerapan pendekatan Problem Solving berbantuan tabel Keywords dalam materi FPB dan KPK pada siswa kelas IV SDN Bawakaraeng I berpengaruh ditinjau dari aspek: (a) hasil kemampuan pemecahan masalah matematika dengan rata-rata skor posttes lebih besar dari rata-rata skor pretes, rata-rata skor posttes adalah 86,33≥KKM, rata-rata gain adalah 0,7, dan siswa yang tuntas sebanyak 100% ≥ 75%; (b) aktivitas belajar siswa dengan rata-rata keterlaksanaan aktivitas 83,86. Hasil uji hipotesis pada taraf siginifikan ???? = 0,05 dengan uji-t menunjukan bahwa pendekatan Problem Solving berbantuan tabel Keywords berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah soal cerita matematika siswa kelas IV SDN Bawakaraeng I Abstract This type of research is an experimental research that aims to: (1) to find out the results of students' problem solving math story problems in learning (2) to find out the activities of students in participating in mathematics lessons. The population in this study were all fourth grade students of SDN Bawakaraeng I and the sample consisted of two classes, namely the experimental class taught using the Problem Solving table Keywords and the control class taught using the direct learning model. The sample selected using simple random sampling technique with the consideration that students' abilities are assumed to be homogeneous. The data collected consisted of data on the results of problem solving abilities in math story problems, data on student activities in learning, and data on the implementation of learning. Student activity data and student learning implementation data were analyzed using descriptive analysis, while data on students' problem-solving abilities in mathematics story problems were analyzed using descriptive analysis and inferential analysis. The results showed that: (1) the implementation of the Problem Solving table Keywords in the FPB and KPK materials was very well carried out, (2) the implementation of the Problem Solving assisted by the Keywords in the FPB and KPK material in the fourth grade students of SDN Bawakaraeng I was influential in terms of aspects: (a) the results of mathematical problem solving abilities with an average posttest greater than the average pretest, the average posttest score is 86.33≥KKM, the average gain is 0.7, and students who complete as much as 100% 75%; (b) student learning activities with an average activity implementation of 83.86. The results of the hypothesis test at a significant level = 0.05 with at showed that the Problem Solving table Keywords effect on the problem solving ability of fourth grade students of SDN Bawakaraeng I math story problems.
Implementasi Peranan Bahasa Indonesia sebagai Penghela Ilmu Pengetahuan Pada Kurikulum 2013 Sri Wulan Anggraeni; Yayan Alpian; Depi Prihamdani
Jurnal Sekolah Dasar Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v7i1.2083

Abstract

Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui implementasi peranan bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan pada kurikulum 2013 di SDN Walahar 01. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan subjek penelitiannya adalah siswa sekolah dasar kelas rendah (kelas II) dan kelas tinggi (kelas V). Teknik pengumpulan data diperoleh melalui observasi dan wawancara. Analisis data menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa implementasi peranan Bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan di SDN Walahar 01 sudah dapat dikategorikan baik. Guru menggunakan bahasa Indonesia baik di dalam maupun di luar kelas. Bahkan, selama proses pembelajaran berlangsung, guru berusaha mengarahkan peserta didik untuk selalu berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia, meskipun masih ada beberapa guru yang terpaksa mengulang dan mengulas kembali materi menggunakan bahasa daerah saat peserta didik tidak memahami materi yang disampaikan. Peranan Bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan pada kurikulum 2013 juga diimplementasikan oleh guru dengan mengintegrasikan antar KD, tema, maupun mata pelajaran pada saat proses pembelajaran. Upaya yang dilakukan adalah membaca bahan ajar yang akan disampaikan, menelaah RPP, menyiapkan media pembelajaran, dan mengikuti langkah-langkah yang ada pada buku guru. Selain itu, peranan Bahasa Indonesia sebagai penghela ilmu pengetahuan juga dimaksimalkan oleh guru dengan membangun tahapan demi tahapan pembelajaran berbasis teks. Baik itu tahap membangun konteks, pemodelan teks, membangun teks bersama, atau pun tahap membangun teks mandiri. Sehingga, peserta didik di SDN Walahar 01 sudah menunjukkan kemampuan dalam pembelajaran berbasis teks. Abstract The purpose of this study was to determine the implementation of the role of Indonesian as a carrier of knowledge in the 2013 curriculum at SDN Walahar 01. This research is a descriptive study with the research subjects being elementary school students in low grade (grade II) and high grade (grade V). Data collection techniques were obtained through observation and interviews. Data analysis uses data reduction techniques, data presentation, and verification. The results showed that the implementation of the role of Indonesian as a carrier of knowledge at SDN Walahar 01 was categorized as good. The teacher uses Indonesian both inside and outside the classroom. In fact, during the learning process, teachers try to direct students to always communicate using Indonesian, although there are still some teachers who are forced to repeat and review material using local languages ​​when students do not understand the material presented. The role of Indonesian as a carrier of knowledge in the 2013 curriculum is also implemented by teachers by integrating Basic Competencies, themes, and subjects during the learning process. The efforts made are reading the teaching materials that will be delivered, reviewing the lesson plan, preparing learning media, and following the steps in the teacher's book. In addition, the role of Indonesian as a carrier of knowledge is also maximized by the teacher by building step by step text-based learning. Whether it's the stage of building context, text modeling, building a shared text, or even the stage of building a standalone text. Thus, students at SDN Walahar 01 have demonstrated ability in text-based learning.
Program Sekolah Penggerak Sebagai Dasar Kurikulum Prototipe Berdasar Keputusan Mendikbudristek Nomor 317/M/2021 Pada Jenjang Sekolah Dasar Susilo Surahman; Ainur Alam Budi Utomo
Jurnal Sekolah Dasar Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v7i1.2097

Abstract

Abstrak Munculnya wacana perubahan kurikulum 2013 sebagai dampak dari pandemi Covid-19 telah melahirkan sebuah konsep baru berupa kurikulum prototipe yang oleh Kemendikbudristek telah diujicobakan ke beberapa sekolah di Indonesia. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan konsep program sekolah penggerak dan kurikulum prototipe pada jenjang sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif atau kepustakaan, dengan sumber data primer berupa dokumen yang terkait dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program sekolah penggerak merupakan pilot project implementasi dari kurikulum prototipe. Kurikulum ini sendiri merupakan opsi atau pilihan yang dapat diambil oleh lembaga pendidikan dalam proses pembelajaran. Kurikulum prototipe dilaksanakan secara terbatas dan bertahap di tahun 2022. Struktur kurikulum jenjang Sekolah Dasar terbagi menjadi 3 (tiga) fase, yaitu: Fase A (Kelas I-II); Fase B (Kelas III-IV); dan Fase C (Kelas V-VI). Sekolah penggerak sendiri merupakan sebuah model pengembangan hasil belajar yang difokuskan pada pembelajaran holistik hingga pada akhirnya menghasilkan profil pelajar pancasila. Model ini dimulai dari kesiapan sumber daya manusia, dalam hal ini para pendidik serta kepemimpinan di lembaga pendidikan. Sementara itu kurikulum prototipe adalah sebuah opsi kurikulum yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di masa pandemi atau kondisi khusus. Kurikulum prototipe menekankan pada aspek keluasan lembaga pendidikan dalam mengatur kegiatan pembelajaran serta pengembangan lanjutan dari kurikulum 2013. Kurikulum prototipe yang sedang dikembangkan merupakan sebuah pembelajaran paradigma baru yang berpusat pada peserta didik. Abstract The emergence of the 2013 curriculum change discourse due to the Covid-19 pandemic has given birth to a new concept in the form of a prototype curriculum that the Ministry of Education has piloted to several schools in Indonesia. This paper aims to explain the idea of driving school programs and prototype curriculum at the elementary school level. This research uses a normative or library approach, with primary data sources in the form of documents related to the focus of the study. The results showed that the driving school program is a pilot project implementation of the prototype curriculum. This curriculum itself is an option that educational institutions in the learning process can take. The prototype curriculum will be implemented in a limited and gradual manner in 2022. The structure of the elementary school curriculum level is divided into 3 (three) phases, namely: Phase A (Class I-II), Phase B (Class III-IV); And Phase C (Class V-VI). The school itself is a model of learning outcome development focused on holistic learning to produce a student profile of Pancasila ultimately. This model starts from the readiness of human resources, in this case, educators and leadership in educational institutions. Meanwhile, the prototype curriculum is a curriculum option that can be applied in learning in times of pandemics or special conditions. The curriculum emphasizes the broad aspects of educational institutions in regulating learning activities and the continued development of the 2013 curriculum. The curriculum prototype being developed is a new paradigm of learning centered on learners.
Lingkungan Keluarga Mempengaruhi Hasil Belajar Anggy Giri Prawiyogi; Tia Latifatu Sa’diah; Andes Safarandes Asmara; Widya ainesta
Jurnal Sekolah Dasar Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v7i1.2244

Abstract

Abstrak Penelitian ini Bertujuan untuk mengetahui hasil Belajar siswa melalui lingkungan yang berbeda-beda pada setiap siswa. Lingkungan keluarga yang Bereda dalam mendidik anak dirumah mempengaruhi hasil Belajar, Lingkungan Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama selain pendidikan sekolah dasar. Lingkungan keluarga mengenai aspek fisik maupun non fisik. Faktor-faktor baik dan buruk dari lingkungan keluarga bisa menentukan hasil belajar. Lingkungan keluarga yang mendukung belajar siswa adalah lingkungan yang terkondisi pada saat siswa belajar. Pada lingkungan keluarga yang kurang mendukung belajar siswa, suasana rumah gaduh pada saat siswa belajar, siswa kurang mendapatkan bimbingan belajar dari keluarga dan orang tuanya. Presentase sumbangan kontriusi variabel lingkungan keluarga dengan hasil belajar siswa tersebut sebesar 60% sedangkan sisanya 40% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa terdapat hubugan antara lingkungan keluarga denga hasil belajar siswa oleh karna itu, dengan tingginya hasil belajar diharapkan SDN Sertajaya I dapat meningkatkan kualitas pendidikan dengan lebih baik. Abstract This study aims to determine student learning outcomes through different environments for each student. Different family environment in educating children at home affects learning outcomes, family environment is the first educational environment besides elementary school education. Family environment regarding physical and non-physical aspects. Good and bad factors from the family environment can determine learning outcomes. A family environment that supports student learning is an environment that is conditioned when students learn. In a family environment that does not support student learning, the atmosphere in the house is noisy when students study, students do not get tutoring from their families and parents. The percentage contribution of the family environment variable contribution to the student's learning outcomes is 60% while the remaining 40% is influenced by other factors not discussed in this study. The results of this study prove that there is a relationship between the family environment and student learning outcomes. Therefore, with high learning outcomes, it is hoped that SDNsertajaya I can improve the quality of education better.
Tes Numerasi Guru (TUGU) untuk Mengukur Kemampuan Numerasi Guru SD I Gede Suprawata; Putu Nanci Riastini; Ni Wayan Rati
Jurnal Sekolah Dasar Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Sekolah Dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v7i1.2323

Abstract

Pada abad 21, kemampuan numerasi sangat penting untuk dikuasai semua kalangan masyarakat. Kemampuan numerasi masyarakat tidak lepas dari kemampuan numerasi guru sebagai tenaga pendidik. Pengetahuan numerasi guru perlu diketahui, sebagai upaya memaksimalkan peran guru dalam pembelajaran numerasi. Alat ukur yang dapat digunakan adalah instrumen tes. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen Tes Numerasi Guru (TUGU). Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D. Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Data dikumpulkan melalui angket, rating scale, dan tes. Hasil penelitian ini adalah instrumen TUGU untuk mengukur kemampuan numerasi guru SD. Instrumen TUGU dinyatakan layak sebagai instrumen tes karena sudah melalui pengujian konten dan uji empiris. Hasil uji validitas isi menunjukkan indeks Aiken melebihi 0,8, termasuk kategori tinggi. Respon guru menunjukkan skor 4,58, termasuk kategori sangat baik. Uji validitas menunjukkan rata-rata 0,536, termasuk kategori valid. Uji reliabilitas menunjukkan koefisien 0,70, sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Uji daya beda menunjukkan skor rata-rata 0,438, yang termasuk kategori sangat baik. Uji tingkat kesukaran menunjukkan skor rata-rata 0,596, termasuk kategori sedang.
Penerapan Media Augmented Reality Pada Materi Ilmu Pengetahuan Alam Siswa Sekolah Dasar Nur Fauziah; Nafiah; Sri Hartatik; Sunanto
Jurnal Sekolah Dasar Vol 7 No 2 (2022): Jurnal Sekolah dasar
Publisher : LPPM Universitas Buana Perjungan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/jurnalsekolahdasar.v7i2.2116

Abstract

Media pembelajaran merupakan sebuah inovasi dalam menghadapi revolusi pendidkan. Media pembelajaran yang terus berkembang berdampak pada peningkatan minat dan hasil belajar. Penerapan media Augmented Reality materi ilmu penegtahuan alam diharapkan dapat meningkatkan literasi sains khususnya di sekolah dasar, karena pemanfaatan media 3 dimensi menjadi lebih flexible, interaktif dan inofatif dengan memanfaatkan benda apapun untuk dijadikan target marker. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menafsirkan penerapan media Augmented Reality materi ilmu pengetahuan alam di sekolah dasar. Hasil review menunjukkan bahwa banyak peneliti yang mengembangkan dan memanfaatkan media Augmented Reality pada berbagai materi ilmu pengetahuan alam, sehingga banyak pengaruh positif meningkatkatnya minat dan hasil belajar belajar dari penerapan media ini seperti pembelajaran pengenalan hewan sesuai jenis makanannya, ekosistem, planrt, hewan bermetafosis sempurna dll. Sehingga, siswa dapat menghasilkan sifat kreatif, kecerdasan emosinya menjadi terukur, dan siswa lebih kompetitif serta kolaboratif dengan teman sebaya nya.

Page 8 of 12 | Total Record : 112