cover
Contact Name
Hisan Mursalin
Contact Email
hisanmursalin@arraayah.ac.id
Phone
+6285884149993
Journal Mail Official
jurnalinfo@arraayah.ac.id
Editorial Address
Jl. Printis Kemerdekaan km.6, 01/05 Sukamulya, Cimenteng, Cikembar 43157
Location
Kab. sukabumi,
Jawa barat
INDONESIA
Rayah Al Islam : Jurnal Ilmu Islam
ISSN : 25033816     EISSN : 26862018     DOI : https://doi.org/10.37274/rais
Rayah Al-Islam (p-ISSN: 2503-3816, e-ISSN: 2686-2018) is a Journal of Islamic studies published twice a year, this scientific publication is managed by the Institute for Research and Community Service (LP2M) Ar-Raayah Arabic Language College (STIBA) Sukabumi. This journal focuses on the study of Islam, in the form of Research Results, Ideas, Theories, Methods and other Actual Problems Related to Islamic studies.This journal openly accepts contributions from experts to publish the results of his research.
Articles 539 Documents
Istikhdâm Barnâmij Busuu ka Wasîlah At-Ta’lîm Al-Lughah Al ‘Arabiyyah fî Al-Fashli Al-Sâbi' bil Madrasah Al- Mutawassithah ( At-Takhassus Al-Qur’ân ) Sadamiyyah Bangsri Jepara ‘Am Dirâsî 2022- 2023 Fajrur Rahman Hamid; Muh. Fajar Shodiq
Rayah Al-Islam Vol 7 No 1 (2023): Rayah Al Islam April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i1.689

Abstract

يهدف هذا البحث إلى: (1) معرفة خصائص من برناممج بوسو (2) معرفة الفرق بين استخدام وسيلة المستخدمة في المدرسة و استخدام برنامج بوسو في تعليم اللغة العربية (3) كشف الآثار من استخدام بوسو كوسيلة التعليم اللغة العربية في الفصل السابع بالمدرسة المتوسطة (التخصص القرآن) سدمية باغسري جبارا.نوع البحث في هذ البحث هو البحث المختلط يعني البحث يستخدم منهجين في البحث بين البحث النوعي و البحث الكمي للحصول على أحسن النتائج، أما المدخل الذي يستخدمه الباحث من منهج المختلط هو نوع التثليث من البحث المختلط يعني استخدام منهجين في نفس الوقت غير أنّ في كل منهج البحث يستخدم لجمع البيانت و تحليل البيانات وبعد تناول على حصول النتيجة من كل منهج البحث يجمعهما الباحث و يأخذ الخلاصة منهما.حصل الباحث على نتائج البحث منها: (1) خصائص برنامج بوسو يستحق بوسو جودة النظام في تصميم الصورة حتى تسهل مستخدمه في استخدامه مع ذالك يستحق بوسو المواد التعليمية المتوافرة الملائمة لمتعلمي اللغة العربية من أنواع المراحل (2) نقطة الاختلاف الجوهري بين استخدام الوسيلة الموجودة و استخدام بوسو كوسيلة التعليم اللغة العربية في الفصل السابع بالمدرسة المتوسطة التخصص القرآن سدمية جبارا هي بالوسيلة الموجودة أى الكتاب كانت عملية التعلم و التعليم توحد المدرس كواحد من منبع المعلومات أما بمساعدة برنامج بوسو يساعد بعض أعمال المدرس في الفصل و يؤثر إلى حالة الطلاب يشتغلون و يتحمسون في التعلم حتى يجعل المدرس الطلاب يتعلمون ليس إلا كمصيل المعلومات إلى الطلاب (3) برنامج هو برنامج مطلوب كوسيلة التعليم اللغة العربية في الفصل السابع بالمدرسة المتوسطة التخصص القرآن سدمية جبارا استنادا إلى الإحصائية القائل 73،1% من الطلاب يتحمسون بعد معرفتهم عن برنامج بوسو وكذالك 88،5% من الطلاب يزداد نشاطهم في التعلم باستخدام برنامج بوسو. ثم وجود تنمية إنجاز الطلاب بعد استخدام بوسو استنادا إلى نتيجة Normalized Gain تدل على 0،53 فهذه من صنف المتوسط حيث تدل أن برنامج بوسو فعال للاستخدام This research aims to: (1) Know the characteristics of the Busuu program (2) Know the difference between the use of the medium used in school and the use of the Busuu program in teaching Arabic (3) Detecting the effects of using Busuu as a means of teaching the Arabic language in the seventh semester in middle school ( The specialization is the Qur’an) Sadmia Bagsri Jabara. The type of research in this research is mixed research, meaning the research uses two approaches in the research between qualitative research and quantitative research to get the best results. At the same time, however, in each research methodology it is used to collect data and analyze data, and after dealing with obtaining the result from each research methodology, the researcher collects them and takes the conclusion from them. The researcher obtained the results of the research, including: (1) Characteristics of the Bosuo program. Bosuo deserves the quality of the system in designing the image In order to facilitate its use in its use, however, Busuu deserves the educational materials available that are suitable for learners of the Arabic language of all types of stages (2) The point of fundamental difference between the use of the existing method and the use of Busuu as a means of teaching the Arabic language in Chapter VII B For middle school specializing in the Qur’an, the Qur’an is a huge dam. It is by the existing means, i.e. the book. The process of learning and teaching unites the teacher as one of the sources of information. With the help of the Bosu program, it helps some of the teacher’s work in the classroom and affects the condition of the students. Information to students (3) The program is a required program as a means of teaching the Arabic language in the seventh semester of the intermediate school, specializing in the Qur’an, Sadimiya Jabara. According to the statistics, 73.1% of the students are enthusiastic after learning about the Bosu program, and 88.5% of the students increase their activity in learning. using Bosu software. Then there is the development of students’ achievement after using Bosuo based on the result of Normalized Gain indicating 0.53. This is from the average class, as it indicates that the Bosuo program is effective for use. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui karakteristik program Busuu (2) Mengetahui perbedaan penggunaan media yang digunakan di sekolah dengan penggunaan program Busuu dalam pembelajaran bahasa Arab (3) Mendeteksi dampak penggunaan Busuu sebagai Sarana Pengajaran Bahasa Arab Semester 7 SMP ( Peminatan Al-Qur'an) Sadmia Bagsri Jabara. Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian campuran, artinya penelitian ini menggunakan dua pendekatan dalam penelitiannya antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Namun pada saat yang sama, dalam setiap metodologi penelitian digunakan untuk mengumpulkan data dan menganalisis data, dan setelah berurusan dengan mendapatkan hasil dari setiap metodologi penelitian, peneliti mengumpulkannya dan mengambil kesimpulan darinya. Peneliti mendapatkan hasil penelitian antara lain: (1) Karakteristik program Bosuo. Bosuo layak mendapatkan kualitas sistem dalam mendesain gambar Untuk memudahkan penggunaannya, bagaimanapun, Busuu layak mendapatkan materi pendidikan yang tersedia yang cocok untuk pembelajar bahasa Arab dari semua jenis tahapan (2) Titik fundamental perbedaan antara penggunaan metode yang ada dan penggunaan Busuu sebagai sarana pengajaran bahasa Arab di Bab VII B Untuk sekolah menengah yang mengkhususkan diri pada Al-Qur'an, Al-Qur'an adalah sebuah bendungan besar. Itu dengan sarana yang ada, yaitu buku. Proses belajar mengajar menyatukan guru sebagai salah satu sumber informasi. Dengan bantuan program Bosu, membantu sebagian pekerjaan guru di kelas dan mempengaruhi kondisi siswa. Informasi kepada siswa (3) Program tersebut merupakan program wajib sebagai sarana pengajaran bahasa Arab semester tujuh di sekolah menengah peminatan Alquran Sadimiya Jabara. Menurut statistik, 73,1% siswa antusias setelah mempelajari program Bosu, dan 88,5% siswa meningkatkan aktivitasnya dalam belajar. menggunakan perangkat lunak Bosu. Kemudian terdapat perkembangan prestasi belajar siswa setelah menggunakan Bosuo berdasarkan hasil Normalized Gain sebesar 0,53. Ini dari kelas rata-rata, karena menunjukkan bahwa program Bosuo efektif untuk digunakan.
Moderasi Beragama Guru Pendidikan Agama Islam terhadap Negara dan Pemerintahan zulfadli; Munawar Rahmat; Aceng Kosasih
Rayah Al-Islam Vol 7 No 1 (2023): Rayah Al Islam April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i1.699

Abstract

Guru Pendidikan Agama Islam adalah golongan yang paling rentan disusupi sikap intoleransi. Untuk mencegah hal itu nilai moderasi beragama perlu diinternalisasikan pada diri seorang guru. Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan mengetahui moderasi beragama guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Kota Pekanbaru terhadap negara dan pemerintahan. Metode penelitian deskriptif kuantitatif, dan teknik pengumpulan data kuesioner. Populasi penelitian guru-guru PAI SMA di Kota Pekanbaru, sementara sampelnya 78 orang. Penelitian dilakukan bulan November 2022. Hasil penelitian sebagian besar responden cenderung moderat. Ini dapat dibuktikan dengan mayoritas guru PAI SMA Kota Pekanbaru sudah memahami moderasi beragama terhadap negara dan pemerintahan, hal ini dibuktikan dengan mayoritas guru PAI kota Pekanbaru taat kepada pemimpin yang sah meski bukan pilihannya, memiliki sikap cinta tanah air, bersedia untuk ikut serta dalam pesta demokrasi, mengakui ideologi negara Indonesia adalah Pancasila, tidak adanya jurang pemisah antara agama dan pemerintahan. Di sisi lain guru PAI SMA Kota Pekanbaru menolak untuk memilih pemimpin kredibel, karena pemimpin tersebut tidak seagama dengannya. Lebih parahnya lagi guru PAI lebih menerima pemimpin yang seagama dengannya, meski pemimpin tersebut tidak mampu untuk menjadi seorang pemimpin. Tampaknya responden kurang memahami konsep negara dan pemerintahan serta kriteria memilih pemimpin dali referensi yang kredibel Islamic Religious Education teachers are the group most vulnerable to being infiltrated by intolerance. To prevent this, the value of religious moderation needs to be internalized in a teacher. In this regard, this study aims to determine the religious moderation of Islamic Religious Education (PAI) teachers in Pekanbaru City High School towards the state and government. Quantitative descriptive research method, and questionnaire data collection techniques. The study population was high school PAI teachers in Pekanbaru City, while the sample was 78 people. The research was conducted in November 2022. The results of the research for the majority of respondents tended to be moderate. This can be proven by the fact that the majority of Pekanbaru City High School PAI teachers understand religious moderation towards the state and government. Admitting that the ideology of the Indonesian state is Pancasila, there is no gap between religion and government. On the other hand, the Pekanbaru City High School PAI teacher refused to choose a credible leader, because the leader did not share the same religion as him. Even worse, PAI teachers accept leaders who share the same religion as them, even though these leaders are unable to become leaders. It seems that respondents do not understand the concept of state and government as well as the criteria for selecting leaders from credible references
Al-Taubah wa Atsaruhâ fî Al-Intifâ’i bi Al-Mâl Al-Harâm fî Al-Fiqh Al-Islâmî Hatta Ahmad Syarif; Muthoifin; Imron Rosyadi
Rayah Al-Islam Vol 7 No 1 (2023): Rayah Al Islam April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i1.700

Abstract

إن تطور المعاملات بسائر أنواعها المختلفة في مجال الأعمال والتجارات مع وجود الاحتياجات البشرية المتزايدة في العصر الحالي يجعل الكثير من الناس يتنافسون في جمع أكبر قدر ممكن من الأموال والممتلكات. ومن المؤسف ألا يكون الدافع إلى جمع تلك الأموال مصحوبا بالخوف والحذر، مما يتسبب في وقوع كثير من الناس في تعاطي المال الحرام في أنشطتهم الاقتصادية. مع أن المسلمات عند المسلم أنه سوف يكون مسؤولا عنها أمام الله يوم القيامة: "من أين اكتسب ماله وفيما أنفقه؟!". ولكن لما جاءته موعظة من ربه ثم اهتدى يأتي السؤال بعد ذلك؛ كيف يتخلص من ماله المكتسب عن طريق الحرام؟ وما موقف الشرعية من ماله الذي نشأ وأصله من حرام؟ وهل يجوز له الانتفاع به بعد توبته؟ فلهذه التساؤلات يرى الباحث أهمية هذا الموضوع كي يحصل على حل للمسلمين نحو مشاكلهم المالية التي يواجهونها بعد التوبة. وانتهج الباحث في كتابة هذا البحث المنهج الوصفي التحليلي حيث استخدم المراجع والوثائق المكتبية في تكييف هذه المسألة وتخريجه تخريجا فقهيا. ومن أهم النتائج بعد البحث والمطالعة: التائب من المال الحرام لا بد عليه أن يميز مصدر كسبه قبل التخلص منه؛ فإن كان ماله حراما لذاته، مثل الخمر، فعيله إتلافه، وإن كان لكسبه، فلا بد من النظر إليه، إن كان عن طريق الظلم، كالمال المسروق مثلا، فعيله رده إلى صاحبه إن أمكنه الرد إليه وكان معلوما، وإن لم يمكن فإلى وارثه، وإن لم يمكن فيتصدق به عن صاحبه تخلصا لا تقربا إلى الفقراء والمساكين أو يصرفه في مصالح المسلمين بنية الضمان، ورد قيمته إلى صاحبه إن وجده فيما بعد. لا تصح توبته إلا به، ولا يجوز له الانتفاع به. وإن كان مكتسبا عن طريق التراضي، كالقمار مثلا، فطريقة تحلله منه بصرفه إلى الفقراء والمساكين أو إلى مصالح المسلمين. ويجوز له الانتفاع به حال كونه فقيرا أو مسكينا باتفاق العلماء قدر حاجته، وأما مع الغنى فيجوز أيضا في أرجح قولي العلماء ما دام صادقا في توبته. والربح الناشئ من المال الحرام المستثمر في عمل مباح يجب على التائب رد رأس ماله مع تقسيم النصف من ربحه إلى صاحبه، ولو كان الأولى له أن يتخلص من جميعه The development of all kinds of transactions in the field of business and commerce, with the increasing human needs in the current era, makes many people compete in collecting the largest possible amount of money and property. It is unfortunate that the motive for collecting this money is not accompanied by fear and caution, which causes many people to fall into the abuse of forbidden money in their economic activities. Although the Muslim’s postulates are that he will be responsible for them before God on the Day of Resurrection: “From where did he acquire his money and on what he spent it?!”. But when a sermon came to him from his Lord and then he was guided, the question comes after that; How does he get rid of his money earned through haram? And what is the position of legitimacy on his money, which originated from haram? Is it permissible for him to benefit from it after his repentance? For these questions, the researcher sees the importance of this topic in order to obtain a solution for Muslims towards their financial problems that they face after repentance. In writing this research, the researcher followed the analytical descriptive approach, as he used office references and documents in adapting this issue and graduating it jurisprudentially. Among the most important results after research and reading: the one who repents of unlawful money must distinguish the source of his earning before disposing of it; If his money is haraam in and of itself, such as alcohol, then his dependent is to destroy it, and if it is to earn it, then it must be looked at. It was not possible for him to give it in charity on behalf of its owner to get closer to the poor and the needy, or to spend it in the interests of Muslims with the intention of guaranteeing, and returning its value to its owner if he finds it later. His repentance is not valid without it, and it is not permissible for him to benefit from it. And if it was acquired through mutual consent, such as gambling, for example, then the way to get rid of it is by spending it on the poor and the needy, or on the interests of Muslims. And it is permissible for him to benefit from it if he is poor or needy, according to the agreement of scholars, as much as he needs, but with wealth, it is also permissible in the most correct of the two scholarly sayings, as long as he is sincere in his repentance. And the profit arising from unlawful money invested in a permissible work, the repentant must return his capital with dividing half of his profit to its owner, even if it is better for him to get rid of it all. Perkembangan segala macam transaksi di bidang bisnis dan perdagangan, dengan kebutuhan manusia yang semakin meningkat di era saat ini, membuat banyak orang berlomba-lomba mengumpulkan uang dan harta sebanyak-banyaknya. Sayangnya, motif pengumpulan uang ini tidak dibarengi dengan rasa takut dan hati-hati, sehingga banyak orang yang terjerumus dalam penyalahgunaan uang haram dalam kegiatan ekonominya. Meskipun dalil Muslim adalah bahwa dia akan bertanggung jawab atas mereka di hadapan Tuhan pada Hari Kebangkitan: "Dari mana dia mendapatkan uangnya dan untuk apa dia membelanjakannya?!". Tetapi ketika datang kepadanya khotbah dari Tuhannya dan kemudian dia dibimbing, pertanyaannya muncul setelah itu; Bagaimana dia menyingkirkan uangnya yang diperoleh melalui haram? Dan bagaimana kedudukan legitimasi atas uangnya yang asalnya haram? Apakah diperbolehkan mengambil manfaat darinya setelah bertaubat? Untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, peneliti melihat pentingnya topik ini untuk mendapatkan solusi bagi umat Islam terhadap masalah keuangan yang mereka hadapi setelah taubat. Dalam penulisan penelitian ini, peneliti mengikuti pendekatan deskriptif analitis, karena ia menggunakan referensi dan dokumen kantor dalam mengadaptasi masalah ini dan menyelesaikannya secara yurisprudensi. Di antara hasil yang paling penting setelah penelitian dan membaca: orang yang bertaubat dari uang haram harus membedakan sumber penghasilannya sebelum membuangnya; Jika uangnya diharamkan dengan sendirinya, seperti miras, maka tanggungannya adalah menghancurkannya, dan jika untuk mendapatkannya, maka harus diperhatikan. Tidak mungkin dia bersedekah atas nama pemiliknya untuk mendekatkan diri kepada fakir dan miskin, atau membelanjakannya untuk kepentingan umat Islam dengan maksud menjamin, dan mengembalikan nilainya kepada pemiliknya jika dia menemukannya nanti. Tobatnya tidak sah tanpanya, dan tidak diperbolehkan baginya untuk mengambil manfaat darinya. Dan jika diperoleh dengan kesepakatan bersama, seperti judi misalnya, maka cara menghilangkannya adalah dengan membelanjakannya untuk fakir dan miskin, atau untuk kepentingan umat Islam. Dan dibolehkan baginya untuk mengambil manfaat darinya jika dia miskin atau membutuhkan, menurut kesepakatan para ulama, sebanyak yang dia butuhkan, tetapi dengan harta, dibolehkan juga dalam hadis yang paling benar dari dua ulama, selama karena dia tulus dalam pertobatannya. Dan keuntungan yang timbul dari uang haram yang diinvestasikan dalam pekerjaan yang halal, orang yang bertobat harus mengembalikan modalnya dengan membagi setengah dari keuntungannya kepada pemiliknya, bahkan jika lebih baik baginya untuk melepaskan semuanya.
Psikologi dalam Pembelajaran Bahasa Arab (Analisis Berpikir Kreatif dan Reflektif) Iis Susiawati; Dadan Mardani; Muhammad Faiz Alhaq; Fadhila Syahda Nissa
Rayah Al-Islam Vol 7 No 1 (2023): Rayah Al Islam April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i1.708

Abstract

Berpikir merupakan bagian penting dari proses pendidikan dan pembelajaran dengan tujuan membangun dan membentuk kebiasaan peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat secara baik, benar, efektif, dan efisien. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkap dan mendeskripsikan kreativitas dan refleksivitas pada pembelajaran bahasa Arab ditinjau dari aspek psikologi. Penelitian kepustakaan ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menelaah, mendokumentasi, dan menganalisis semua data dengan tanpa adanya penelitian lapangan, yang kemudian dianalisis dengan teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berpikir kreatif dan reflektif dalam tinjauan psikologi pembelajaran, khususnya bahasa Arab, dapat berbentuk language performance dan language competency yang diterapkan untuk beragam kebutuhan, dari kebutuhan berkomunikasi, mendalami ilmu keagamaan, maupun dalam rangka menjaga eksistensi bahasa Arab itu sendiri. Untuk dua hal tersebut dibutuhkan latihan dan pembiasaan sebagaimana layaknya manusia belajar bahasa. Simpulannya bahwa sebagai makhluk berakal manusia dapat belajar dan berlatih berpikir kreatif dan reflektif dalam berbahasa asing, termasuk bahasa Arab. Thinking is an important part of the education and learning process with the aim of building and forming students' habits in solving problems in real life in society in a good, correct, effective and efficient manner. The aim of the research is to uncover and describe creativity and reflexivity in learning Arabic from a psychological perspective. This library research is a descriptive qualitative research by reviewing, documenting, and analyzing all data without any field research, which is then analyzed using inductive analysis techniques. The results of the study show that creative and reflective thinking in terms of learning psychology, especially Arabic, can be in the form of language performance and language competency which are applied to various needs, from the need to communicate, to study religion, as well as in order to maintain the existence of the Arabic language itself. For these two things it takes practice and habituation as humans learn language. The conclusion is that as intelligent human beings can learn and practice creative and reflective thinking in foreign languages, including Arabic.
Realisasi Sarana dan Media PAI (Studi Kasus pada kelas XI PK 1 Semester Ganjil di SMK Negeri 1 Bandung) Elsy Iskana
Rayah Al-Islam Vol 7 No 1 (2023): Rayah Al Islam April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i1.710

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui realisasi sarana atau fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak, maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan dapat tercapai dengan lancar, teratur, efesien, dan efektif dan untuk mengetahui realisasi media atau alat bantu penyampai isi berupa informasi pengetahuan visual dan verbal untuk keperluan pembelajaran sehingga pembelajaran yang abstrak menjadi lebih konkret; yang dengan memanfaatkan media tersebut guru PAI dapat membangkitkan motivasi dan dapat memberikan stimulus kepada siswa supaya pembelajaran itu dapat meningkatkan kreativitas dan efisiensi dalam belajar.Untuk mencapai tujuan, metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Tempat penelitian adalah SMK Negeri 1 Bandung program keahlian Perkantoran. Sumber datanya adalah guru PAI dan siswa. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data kualitatif menggunakan model Miles dan Huberman. Uji keabsahan data melalui uji kredibelitas, depenabilitas dan konfirmabilitas. Uji kredibilitas dilakukan melalui trianggulasi dan member check.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) sarana yang subtantif menunjang proses dan membantu tercapainya tujuan pendidikan Agama Islam, sarana sebagai alat yang dibutuhkan dalam proses pendidikan Agama Islam, semua peralatan dan perlengkapan yang langsung digunakan dalam proses pembelajaran disekolah yang meliputi : alat pelajaran, seperti bahan-bahan perangkat pelajaran, kamus-kamus, kitab suci al-quran, alat-alat peraga, alat-alat praktik, dan alat-alat tulis. 2) media pembelajaran berupa media cetak, audio visual, dan multimedia. Sementara sarana yang real terdapat di SMK Negeri 1 Bandung yaitu : a) bahan-bahan perangkat pembelajaran seperti RPP yang menjadi acuan guru dalam mengajar; b) berupa kitab suci al-Qur’an yang ada di lemari setiap kelas, tidak hanya digunakan ketika pembelajaran PAI saja tetapi setiap pagi untuk mengawali pembelajaran biasanya dimulai dengan membaca al-Qur’an kurang lebih 15 menit sebelum proses belajar mengajar dimulai; c) untuk alat praktik, ada boneka peraga shalat jenazah (Torso Jenazah atau Manikins) sehingga dalam materi pembelajaran tentang penyelenggaraan jenazah dapat lebih efektif dan efisien dan siswa juga bisa langsung mempraktikannya dari memandikan, mengkafani, menshalatkan, terakhir menguburkan; hal ini dilakukan berkelompok yang kelompoknya siswa diberi kebebasan untuk memilih temannya sendiri; d) dan untuk alat-alat tulis disediakan white board dan spidol, yang bisa digunakan dalam menulis hal-hal penting jika guru PAI membutuhkan dalam menjelaskan materi pelajarannya. Begitu juga hal nya dengan media real yang ada di SMK Negeri 1 Bandung adalah media berbasis teknologi dan informasi sebagai alat bantu untuk mempermudah guru PAI dalam menyampaikan materi seperti komputer dengan jaringan internet, komputer, dan LCD proyektor. Dengan pemanfaatan media, proses pembelajaran PAI lebih menyenangkan dan bervariasi serta meningkatkan ketertarikan siswa untuk memahami materi pelajaran yang disampaikan guru. This study aims to determine the realization of the facilities or facilities needed in the teaching and learning process, both movable and immovable so that the achievement of goals can be achieved smoothly, regularly, efficiently and effectively and to find out the realization of media or content delivery aids in the form of information visual and verbal knowledge for learning purposes so that abstract learning becomes more concrete; By utilizing this media, PAI teachers can generate motivation and can provide stimulus to students so that learning can increase creativity and efficiency in learning.To achieve the goal, the research method used is a qualitative method. The place of research is SMK Negeri 1 Bandung Office expertise program. The data sources are PAI teachers and students. Data collection techniques through observation, interviews and documentation. The research instrument is the researcher himself. Qualitative data analysis techniques using the Miles and Huberman models. Test the validity of the data through tests of credibility, depenability and confirmability. The credibility test is carried out through triangulation and member checks.The results of the study show that 1) substantive facilities support the process and help achieve the goals of Islamic Religious education, facilities as tools needed in the Islamic Religious education process, all tools and equipment that are directly used in the learning process at school which include: learning tools, such as materials learning materials, dictionaries, the holy book of the Koran, visual aids, practice tools, and writing tools. 2) learning media in the form of print media, audio-visual, and multimedia. While the real facilities are in SMK Negeri 1 Bandung, namely: a) learning materials such as lesson plans which are the teacher's reference in teaching; b) in the form of the holy book of the Koran which is in the cupboard of each class, not only used when studying PAI but every morning to start learning usually begins by reading the Koran approximately 15 minutes before the teaching and learning process begins; c) for practical tools, there are dolls to display the funeral prayer (Torso Jenazah or Manikins) so that in learning material about organizing the funeral can be more effective and efficient and students can also directly practice it from bathing, shrouding, praying, and finally burying; this is done in groups where students are given the freedom to choose their own friends; d) and for writing tools, white boards and markers are provided, which can be used in writing important things if the PAI teacher needs to explain the subject matter. Likewise, the real media at SMK Negeri 1 Bandung is media based on technology and information as a tool to make it easier for PAI teachers to convey material such as computers with internet networks, computers, and LCD projectors. By using media, the PAI learning process is more fun and varied and increases students' interest in understanding the subject matter conveyed by the teacher
Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di MI Cimenteng Kecamatan Cisaat Sukabumi Ade Nurpriatna; Makhfudz; U Badrusalam
Rayah Al-Islam Vol 6 No 01 (2022): Rayah Al-Islam April 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v6i01.711

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah: (1 ) Untuk mengetahui peran kepala sekolah sebagai pengelola dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI Cimenteng Cisaat; dan (2) mendeskripsikan peran kepala sekolah sebagai pengawas dalam meningkatkan mutu pendidikan di MI Cimenteng Cisaat. Penelitian ini pada dasarnya merupakan penelitian kualitatif dengan desain penelitian etnografi. Untuk informan melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dan untuk validitas data menggunakan kredibilitas, konfirmabilitas, dan dependabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kepala sekolah MI Cimenteng Cisaat memiliki tiga strategi dalam menjalankan perannya sebagai manajer untuk meningkatkan mutu pendidikan di MI Cimenteng. Strategi tersebut meliputi penerapan kualitas total, pelibatan pihak eksternal, dan evaluasi berkelanjutan. Dengan strategi tersebut, MI Cimenteng Sukabumi menjadi pendidikan berbasis mutu dengan persentase kelulusan mencapai 100%. (2) Peran kepala sekolah di MI Cimenteng Sukabumi sebagai pengawas ditunjukkan dengan melakukan supervisi. Kepala sekolah menyiapkan waktu, guru, materi, kelas, dan instrumen supervisi. Proses supervisi dilakukan oleh kepala sekolah dengan observasi kelas dimana kepala sekolah menilai kinerja guru dalam kegiatan belajar mengajar. Hasil supervisi dibahas dalam rapat umpan balik antara kepala sekolah dan guru yang dibimbing. Dan diskusi umum diikuti oleh seluruh warga sekolah termasuk komite sekolah. The purposes of this research are: (1 ) to know about the role of the principal as the manager to improve the quality of education at MI Cimenteng Cisaat; and (2) to describe the role of the principal as the supervisor to improve the quality of education at MI Cimenteng Cisaat.This research is basically a qualitative research with ethnography research design. For the informant, it involves the principal, teacher, and students. Data collection method uses interview, observation, and documentation. The data analyses uses data collection, data reducation, data display, and drawing conclusion. And for the data validity, it uses credibility, confirmability, and dependability.The results of the research show that: (1 ) the principal of MI Cimenteng Cisaat had three strategies to perform his role as a manager to improve the quality of education at MI Cimenteng. Those strategies included the implementation of total quality, involving external parties, and doing continuous evaluation. With those strategies, MI Cimenteng Sukabumi became the qualitybased education with the percentage of graduation achieved 100%. (2) The role of the principal at MI Cimenteng Sukabumi as the supervisor was indicated by conducting supervision. The principal prepared the time, teacher, material, class, and instrument of supervision. The process of supervision was done by the principal with classroom observation in which the principal assessed teacher’s performance in teaching and learning activity. The result of supervision was discussed in feedback meeting between the principal and supervised teacher. And the general discussion was followed by all school community included school committee.
Penerapan Berpikir Kritis Siswa Melalui Pendekatan Kontruktivisme Dalam Pemebelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (Penelitian di Madrasah Aliyah Muslimin Jaya Cimenteng Sukabumi) Ade Nurpriatna; Nandi Rustandi; Wawan Ridwan
Rayah Al-Islam Vol 5 No 01 (2021): Rayah Al-Islam April 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v5i01.712

Abstract

Abstrak Pengajaran Sejarah Kebudayaan Islam di sekolah mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan pemahaman siswa tentang sejarah Islam dan kebudayaan Islam kepada peserta didik, agar ia memberikan konsep yang objektif dan sistematis dalam perspektif sejarah sehingga dapat mengambil i’tibar nilai dan makna yang terkandung dalam sejarah. Di samping itu pendidikan sejarah di sekolah bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa untuk berpikir kronologis dan kritis analitis serta dapat memahami sejarah dengan baik dan benar. Selama ini pembelajaran SKI cenderung sebagai pelajaran yang membosankan, juga dianggap tidak inovatif dalam memberikan kecakapan hidup bagi peserta didik, kurang menarik dan kurang diminati. Salah satu pendekatan yang diduga dapat menjembatani permasalahan tersebut adalah pendekatan konstruktivisme.Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kondisi pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah Aliyah Muslimin Jaya, aktivitas berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, pelaksanaan tindakan, dan proses evaluasi dan tingkat keberhasilan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MA Muslimin Jaya. Teaching Islamic Cultural History in schools has a strategic value in developing students' understanding of Islamic history and Islamic culture to students, so that they provide objective and systematic concepts from a historical perspective so that they can take the values ​​and meanings contained in history. In addition, history education in schools aims to develop students' potential to think chronologically and critically analytically and to understand history properly and correctly. So far, SKI learning tends to be a boring lesson, also considered not innovative in providing life skills for students, less interesting and less desirable. One approach that is thought to be able to bridge these problems is the constructivism approach.The problem in this research is how the conditions of learning Islamic Cultural History at Madrasah Aliyah Muslimin Jaya, students' critical thinking activities in Islamic Cultural History learning, implementation of actions, and the evaluation process and the success rate of learning Islamic Cultural History at MA Muslimin Jaya.
Fenomena Penggunaan Cadar di Kalangan Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta di Sukabumi (Studi Living Hadis) Ai Siti Nurmiati; Nandi Rustandi; Wawan Ridwan
Rayah Al-Islam Vol 4 No 02 (2020): Rayah Al-Islam Oktober 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v4i02.713

Abstract

Fenomena mahasiswi bercadar di lingkungan Sekolah Tinggi Agama Islam Swasta di Sukabumi, terdapat peningkatan jumlah mahasiswi yang memakai cadar. Beberapa di antaranya adalah mahasiswi yang sebelumnya tidak memakai cadar. Fenomena ini dapat dipahami bahwa kecenderungan menutup aurat pada bagian kepala lebih dari sekedar jilbab semakin meningkat. Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode living hadis dan menggunakan pendekatan fenomenologi. Responden dalam penelitian ini yaitu 26 orang mahasiswi bercadar yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi mahasiswi dalam memakai cadar di STAI di Sukabumi menghasilkan tujuh motivasi yaitu: 1) perlindungan diri dalam menjaga pandangan dan membatasi diri dari non mahram; 2) mendekatkan diri kepada Allah; 3) menutup aurat; 4) tiba-tiba ingin memakai cadar; 5) bergaul dengan yang memakai cadar; 6) menutupi kekurangan; dan 7) ingin menjadi anak yang shalihah yang bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Dari ketujuh motivasi tersebut, yang lebih dominan adalah sebagai perlindungan diri sebanyak 42%. Adapun tantangan yang dihadapi mereka bersifat internal (diri sendiri) dan eksternal (keluarga dan lingkungan). Sedangkan dalil yang menguatkan mereka untuk memakai cadar adalah pendapat madzhab Syafi’i tentang aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh, sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i. The phenomenon of veiled female students in the Private Islamic High School in Sukabumi, there is an increase in the number of female students who wear the veil. Some of them are female students who previously did not wear a veil. This phenomenon can be understood that the tendency to cover the genitals on the head more than just a headscarf is increasing. The research used in this study is a qualitative research using the living hadith method and using a phenomenological approach. The respondents in this study were 26 veiled female students who were selected using the purposive sampling method. The method of data collection was done by interview technique. The results showed that the motivation of female students in wearing the veil at STAI in Sukabumi resulted in seven motivations, namely: 1) self-protection in maintaining views and limiting themselves from non-mahrams; 2) draw closer to Allah; 3) cover the genitals; 4) suddenly want to wear a veil; 5) associate with those who wear the veil; 6) cover deficiencies; and 7) want to be a pious child who can make his parents happy. Of the seven motivations, the more dominant is as self-protection as much as 42%. The challenges they face are internal (self) and external (family and environment). Meanwhile, the argument that strengthens them to wear the veil is the opinion of the Shafi'i school of thought about a woman's genitalia in front of an ajnabi man (not a mahram) is the whole body, so they oblige women to wear a veil in front of an ajnabi man. This is the opinion of the mu'tamad of the Shafi'i madhhab.
Integrasi Teknologi Dalam Pembelajaran Ilmu Tajwid Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Al Qur`an Makhfudz; Ade Nurpriatna; Palah
Rayah Al-Islam Vol 5 No 02 (2021): Rayah Al-Islam Oktober 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v5i02.714

Abstract

Mempelajari al-Qur’an adalah kewajiban. Salah satu bagian mempelajari alQur’an yaitu membaca al-Qur’an tersebut. Membaca al-Qur’an sesuai dengan bacaan yang diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, sebagaimana alQur’an diturunkan. Oleh karena itu membaca al-Qur’an sesuai dengan tajwid merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Tajwid merupakan ilmu ilmu tentang cara baca al-Qur’an secara tepat, yaitu dengan mengeluarkan bunyi huruf dari asal tempatnya (makhraj), sesuai dengan karakter bunyi (sifat) dan konsekuensi dari sifat yang dimiliki huruf tersebut, mengetahui dimana harus berhenti (waqaf) dan dimana harus memulai bacaannya kembali (ibtida’). Revolusi Industri 4.0 menyediakan pengajar dan pendidik serta mahasiswa berbagai jenis aplikasi yang dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kehadiran teknologi juga memberikan kesempatan mahasiswa untuk belajar secara mandiri. Artikel ini bertujuan untuk menemukan penggunaan aplikasi BMA sebagai media bantu untuk mempelajari ilmu tajwid sehingga kemampuan membaca Alqur’an mahasiswa dapat ditingkatkan. Studying the Qur'an is an obligation. One part of studying the Koran is reading the Koran. Read the Qur'an in accordance with the readings taught by Rasulullah SAW and his companions, as the Qur'an was revealed. Therefore reading the Qur'an in accordance with tajwid is an obligation for every Muslim. Tajweed is the science of how to read the Qur'an correctly, namely by removing the sound of the letter from its place of origin (makhraj), according to the character of the sound (properties) and the consequences of the properties of the letter, knowing where to stop (waqaf). and where to start reading again (ibtida'). The Industrial Revolution 4.0 provides teachers and educators as well as students with various types of applications that can create a fun learning environment to achieve learning goals. The presence of technology also provides opportunities for students to study independently. This article aims to find the use of the BMA application as an auxiliary medium for studying recitation so that students' Alqur'an reading skills can be improved.
Hubungan Persepsi Siswa Tentang Kompetensi Guru Sebagai Evaluator Dengan Motivasi Belajar Mereka Dalam Mengikuti Pelajaran Pendidikan Agama Islam (Penelitian di SMP PGRI 2 Cikidang Sukabumi) Ridwan Fauzi; Ai Siti Nurmiati; Nandi Rustandi
Rayah Al-Islam Vol 4 No 01 (2020): Rayah Al-Islam April 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v4i01.715

Abstract

Membatasi kajian pada fenomena yang terjadi yang melibatkan siswa kelas VIII SMP PGRI 2 Cikidang, fokus permasalahan yang diteliti adalah terletak bagaimana persepsi siswa tentang kompetensi guru sebagai evaluator, di lain pihak bagaimana motivasi belajar mereka dalam bidang studi PAI, serta bagaimana hubungan antara keduanya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui realitas persepsi siswa tentang kornpetensi guru agama sebagai evaluator dan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran PAI, serta hubungan antara keduanya.Penelitian ini bertolak dari pemikiran bahwa motivasi belajar siswa dalam bidang studi PAI sebagian dipengaruhi oleh baik tidaknya persepsi mereka terhadap kompetensi guru sebagai evaluator. Karena tinggi rendahnya keberhasilan belajar siswa ditentukan oleh tinggi rendahnya persepsi siswa terhadap guru, positif/negatif. Dari asumsi tersebut dapat ditarik hipotesis, yaitu semakin tinggi tingkat kompetensi guru agama sebagai evaluator, maka akan semakin tinggi motivasi belajar mereka pada mata pelajaran PAI dan sebaliknya semakin rendah tingkat persepsi siswa tentang kompetensi guru agama sebagai evaluator, maka akan semakin rendah pula motivasi belajar mereka dalam Bidang Studi PAI.Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara dan penyebaran kuesioner terhadap 50 siswa SMP PGRI 2 Cikidang Sukabumi, serta dianalisis dengan pendekatan statistik korelasioner.Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa realitas persepsi siswa tentang kompetensi guru sebagai evaluator berkualifikasi sedang dengan rata-rata 3,18. Angka tersebut berada pada interval 2,5-3,5. Motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran PAI berkualifikasi sedang dengan nilai rata-rata 3,27. Angka tersebut berada pada interval 7,5-3,5. Hubungan diantara keduanya diperoleh angka koefisien korelasi sebesar 0,48 dengan kategori sedang. Begitu pula hasil analisis signifikansi korelasi menunjukkan t hitung lebih besar dari t iabel (T,67 > 3,83). Adapun derajat pengaruh yang ada sebesar i3% hal ini berarti masih terdapat faktor lain yang dapat mempengaruiri motivasi belajar siswa dalam pelajaran PAI, baik yang berasal dari dalam diri siswa maupun dari luar dirinya, yaitu sekitar 87%. Limiting the study to phenomena that occur involving class VIII students of SMP PGRI 2 Cikidang, the focus of the problem under study lies in how students perceive teacher competence as evaluators, on the other hand how their learning motivation is in the field of PAI studies, and what is the relationship between the two. This research is to find out the reality of students' perceptions about the competence of religious teachers as evaluators and students' learning motivation in attending Islamic education lessons, as well as the relationship between the two. teacher as evaluator. Because the high and low success of student learning is determined by the high and low perceptions of students towards teachers, positive/negative. From these assumptions a hypothesis can be drawn, namely the higher the level of competence of religious teachers as evaluators, the higher their learning motivation in PAI subjects and conversely the lower the level of students' perceptions of the competence of religious teachers as evaluators, the lower their learning motivation will be. in the PAI Study Field. The method used is descriptive method. While the data collection technique was through observation, interviews and distributing questionnaires to 50 students of SMP PGRI 2 Cikidang Sukabumi, and analyzed using a correlational statistical approach. Based on the results of the analysis, it showed that the reality of students' perceptions of teacher competency as evaluators with moderate qualifications was 3.18. The figure is in the interval 2.5-3.5. Students' motivation in taking PAI lessons is moderately qualified with an average value of 3.27. The figure is in the interval 7.5-3.5. The relationship between the two obtained a correlation coefficient of 0.48 in the moderate category. Likewise, the results of the correlation significance analysis showed that the t count was greater than the t table (T.67 > 3.83). The degree of influence that exists is i3%, this means that there are still other factors that can influence student learning motivation in PAI lessons, both from within the student and from outside himself, which is around 87%.