cover
Contact Name
Hisan Mursalin
Contact Email
hisanmursalin@arraayah.ac.id
Phone
+6285884149993
Journal Mail Official
jurnalinfo@arraayah.ac.id
Editorial Address
Jl. Printis Kemerdekaan km.6, 01/05 Sukamulya, Cimenteng, Cikembar 43157
Location
Kab. sukabumi,
Jawa barat
INDONESIA
Rayah Al Islam : Jurnal Ilmu Islam
ISSN : 25033816     EISSN : 26862018     DOI : https://doi.org/10.37274/rais
Rayah Al-Islam (p-ISSN: 2503-3816, e-ISSN: 2686-2018) is a Journal of Islamic studies published twice a year, this scientific publication is managed by the Institute for Research and Community Service (LP2M) Ar-Raayah Arabic Language College (STIBA) Sukabumi. This journal focuses on the study of Islam, in the form of Research Results, Ideas, Theories, Methods and other Actual Problems Related to Islamic studies.This journal openly accepts contributions from experts to publish the results of his research.
Articles 539 Documents
Konsep Makna Mau’izah dalam Al-Quran: Implementasi Teori Semiotika Roland Barthes Terhadap Qs. An-Nahl Ayat 125 Abdurrohman, Roni; Al Farisi, Mohamad Zaka
Rayah Al-Islam Vol 7 No 2 (2023): Rayah Al Islam Oktober 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i2.755

Abstract

Ayat-ayat Al-Qur'an adalah sumber utama dakwah Rasulullah. Di antara metode dakwah yang ditawarkan Al-Qur'an adalah al-hikmah, Mau’izah, al-jidal, dan al-qudwah. Metode ini digunakan untuk menghadapi statifikasi keilmuan dalam masyarakat luas, yang pada dasarnya memiliki tingkat pengetahuan dan pemahaman yang berbeda. Diantara metode-metode dakwah yang tersaji dalam Al-Quran, metode Mau’izah adalah metode dakwah yang berbeda dengan metode yang lain. Dikatakan oleh Quraisy Shihab, bahwa Mau’izah adalah untaian yang tulus yang membawa kebaikan. Untuk memahami konsep Mau’izah dalam Al-Quran tentu tidak cukup dengan hanya membaca terjemah, perlu adanya pengkajian mendalam agar mendapatkan makna yang setidaknya tidak terlalu jauh dari makna yang diinginkan oleh Al-Quran. Dengan teori Roland Barthes, konsep Mau’izah akan dikaji dengan pendekatan semiotic, dengan dua tahapan pencarian makna yaitu tahapan linguistic dan mitologi. Agar pembahasan tidak melebar dan tidak terlalu membahas ruang lingkup yang luas, maka penelitian ini dibatasi dengan Konsep Makna Mau’izah dalamsAl-Quran: ImplementasisTeori SemiotikasRoland BarthessTerhadap Qs. An-Nahl ayat 125. Hasil penelitian berupa ditemukannya konsep Mau’izah dengan dua makna yaitu denotasi dan konotasi The versessof the Qur'an are the main source of the Prophet's da'wah. Among the methods of da'wah offered by the Qur'an are al-hikmah, Mau'izah, al-jidal, and al-qudwah. This method is used to deal with scientific statification in the wider community, which basically has different levels of knowledge and understanding. Among the methods of da'wah presented in the Qur'an, the Mau'izah method is a method of da'wah that is different from other methods. It is said by Quraysh Shihab, that Mau'izah is a sincere strand that brings goodness. To understand the concept of Mau'izah in the Quran is certainly not enough to just read the translation, there needs to be an in-depth study in order to get a meaning that is at least not too far from the meaning desired by the Quran. With Roland Barthes' theory, the concept of Mau'izah will be studied with a semiotic approach, with two stages of searching for meaning, namely the linguistic and mythological stages. So that the discussion does not widen and does not discuss too much broad scope, this research is limited to the Concept of the Meaning of Mau'izah in the Quran: Implementation of Roland Barthes' Semiotic Theory to Qs. An-Nahl verse 125. The results of the study were in the form of the discovery of the concept of Mau'izah with two meanings, namely denotation and connotation
Perceraian Disebabkan Istri Seorang Pelacur (Studi Analisi Putusan Pengadilan Agama Salatiga No 0743/Pdt.G/2015/PA.Sal Dalam Perspektif Maqashid Syari’ah) Fauzan Ashraf, Qoid; Muhtadin, Sabilul
Rayah Al-Islam Vol 7 No 2 (2023): Rayah Al Islam Oktober 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i2.756

Abstract

Pernikahan adalah suatu yang sangat mulia, karena pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa. Namun, kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan dengan lancar. Perselisihan dalam pernikahan adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Perceraian merupakan sebuah keputusan serius yang berdampak signifikan pada kehidupan keluarga dan individu yang terlibat. Alasan perceraian dapat bervariasi, termasuk masalah komunikasi yang buruk, ketidakcocokan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga, atau perbedaan-nilai yang tak teratasi dan perselingkuhan. Salah satu alasan yang terjadi dan kontroversial adalah perceraian yang disebabkan oleh profesi istri sebagai seorang pelacur sebagaimana yang terjadi dalam Putusan Pengadilan Agama Salatiga No 0743/Pdt.G/2015/PA.Sal ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kasus perceraian yang disebabkan oleh istri yang bekerja sebagai seorang pelacur, dengan menggunakan pendekatan Maqashid Syari'ah. Maqashid Syari'ah adalah konsep yang berkaitan dengan tujuan-tujuan dan nilai-nilai yang diperjuangkan dalam syari'ah Islam. Penelitian ini melibatkan studi analisis terhadap Putusan Pengadilan Agama Salatiga No 0743/Pdt.G/2015/PA.Sal dalam memutuskan perkara tersebut dan bagaimana jika ditinjau dalam perspektif Maqashid Syari'ah. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis dokumen dan literatur terkait, di mana peneliti mempelajari putusan pengadilan dan menganalisisnya dengan memperhatikan aspek-aspek yang relevan dengan Maqashid Syari'ah. Hasil analisis menunjukkan bahwa: (1) Pengadilan Agama Salatiga mengabulkan permohonan cerai talak yang diajukan oleh pemohon berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum dan bukti-bukti yang ada, termasuk adanya bukti bahwa termohon berprofesi sebagai seorang pelacur. (2) Berdasarkan analisis Maqashid Syari'ah dan pandangan fikih Islam bahwa ada 3 tinjauan dalam putusan pengadilan salatiga No 0743/Pdt.G/2015/PA.Sal. tersebut yaitu: (a) berprofesi sebagai pelacur merupakan dosa besar dan tentunya bertentangan secara Maqashid syari’ah pernikahan diantaranya hifzhu nasl (b) Jika seorang istri yang sebelumnya bekerja sebagai pelacur siap bertaubat secara tulus, mencari kehidupan yang lebih baik, dan mematuhi aturan-aturan Islam, maka peluang mempertahankan pernikahan tersebut dapat dipertimbangkan karna di antara maqashid pernikahan adalah kasih sayang (c) Setiap kasus perceraian memiliki faktor-faktor yang unik dan mempengaruhi penilaian hukum secara individual. Konsultasi dengan seorang ulama atau pakar hukum Islam yang berpengalaman dianjurkan untuk mendapatkan nasihat yang sesuai dengan situasi spesifik Marriage is a very noble institution because it represents a spiritual and physical bond between a man and a woman as husband and wife, with the goal of establishing a happy and everlasting family (household) based on the belief in the Almighty God. However, married life does not always run smoothly. Disputes in marriage are inevitable. Divorce is a serious decision that significantly impacts the lives of the family and individuals involved. The reasons for divorce can vary, including poor communication, incompatibility, domestic violence, unresolved differences in values, and infidelity. One reason that occurs and is controversial is divorce caused by the wife's profession as a prostitute, as seen in the Decision of the Salatiga Religious Court No. 0743/Pdt.G/2015/PA.Sal. This research aims to analyze cases of divorce caused by a wife working as a prostitute using the Maqasid Sharia approach. Maqasid Sharia is a concept related to the goals and values advocated in Islamic law. This research involvesthe analytical study of the Decision of the Salatiga Religious Court No.0743/Pdt.G/2015/PA.Sal. in deciding the case and how it can be viewed from the perspective of Maqasid Sharia. The research method used is document and literature analysis, where the researcher studies the court decision and analyzes it by considering aspects relevant to Maqasid Sharia. The analysis results show that: (1) The Salatiga Religious Court granted the petitioner's request for divorce based on legal considerations and the existing evidence, including evidence that the respondent works as a prostitute. (2) Based on the analysis of Maqasid Sharia and the Islamic fiqh perspective, there are three perspectives in the Salatiga Religious Court's decision No. 0743/Pdt.G/2015/PA.Sal.: (a) Working as a prostitute is a major sin and certainly contradicts the Maqasid Sharia objectives of marriage, including preserving lineage. (b) If a wife who previously worked as a prostitute sincerely repents, seeks a better life, and adheres to Islamic rules, the possibility of preserving the marriage can be considered, as compassion is among the objectives of marriage. (c) Every divorce case has unique factors that influence individual legal judgments. Consulting with a knowledgeable scholar or Islamic legal expert is recommended to obtain advice appropriate to the specific situation
Talak Disebabkan Temperamen (Studi Analisis Putusan Pengadilan Agama Jember No. 5946/Pdt.G/2022/PA.Jr Perspektif Maqashid Al-Syari’ah) Prasasti, Anugrah; Irawan, Deni
Rayah Al-Islam Vol 7 No 2 (2023): Rayah Al Islam Oktober 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i2.757

Abstract

Talak adalah melepasakan ikatan perkawinan antara seuami istri dengan lafaz-lafaz tertentu. Ada beberapa sebab yang membuat seseorang melakukan talak, adapun penyebabnya pada kasus ini adalah marah atau suami yang temperamen sehingga tak jarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Padahal tujuan pernikahan adalah mencapai kehidupan yang sakinah, mawaddah dan rahmah dan sebisa mungkin menjahui perpecahan, salah satunya adalah bersabar dan tidak mudah temperamen yang membuat hilangnya kontrol pada sikap dan pikiran yang dapat menghantarkan pada tidak harmonisnya rumah tangga seperti pertikaian, kekerasan dalam rumah tangga atau bahkan perpisahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengalisa putusan Pengadilan Agama Jember tentang putusan yang dikeluarkan oleh majlis hakim tentang Talak Disebabkan Temperamen dan meninjau putusan tersebut dari perspektif Maqasid Al-Sayri’ah. Adapun hasil dan kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa putusan yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Jember telah sesuai dan selaras dengan Maqasid Al-Sayri’ah. Divorce is the dissolution of the marital bond between a husband and wife through specific pronouncements. There are several reasons why someone may seek a divorce, and in this case, the cause is anger or a hot-tempered husband who often engages in domestic violence. However, the purpose of marriage is to achieve a life of tranquility, love, and mercy, and to avoid division as much as possible. One way to achieve this is through patience and avoiding easy temper, which can lead to a loss of control over one's behavior and thoughts, resulting in disharmony within the household, such as conflicts, domestic violence, or even separation. The purpose of this research is to analyze the decisions of the Jember Religious Court regarding divorce caused by a hot temper and to review these decisions from the perspective of Maqasid Al-Syariah (the Objectives of Islamic Law). The results and conclusions of this research indicate that the decisions issued by the Jember Religious Court are in accordance with and aligned with Maqasid Al-Syariah.
Tasawuf Falsafi Menurut Said Aqil Siroj dan Kontribusinya Terhadap Pemikiran Islam Eko Nani Fitriono; Gunatang; Ana; Suryani; Hardin
Rayah Al-Islam Vol 7 No 1 (2023): Rayah Al Islam April 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i1.817

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tasawuf falsafi menurut Said Aqil Siraj dan kontribusinya terhadap pemikiran Islam. Penelitian ini merupakan studi literatur (library research) dengan pendekatan kualitatif yang mendeskripsikan dan menganalisis sumber pustaka berupa buku, jurnal, majalah, dan tulisan yang terkait dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Pertama, tasawuf falsafi merupakan pengalaman batin yang langsung dirasakan di mana menyatunya seorang sufi dengan Allah Swt. Kedua, bahwa menurut Said Aqil Siraj tasawuf falsasi memiliki relevansi yang tinggi terhadap pemikiran Islam dalam mengatasi tantangan dan perubahan zaman. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai sarana memperluas pemikiran agar masyarakat berpikir cerdas dan tidak kaku dalam menghadapi perbedaan yang dalam masyarakat Muslim. This study aims to determine the meaning of falsafi Sufism according to Said Aqil Siroj and its contribution to Islamic thought. The type of research is literature study with a qualitative approach which describes and analyzes library data in the form of books, journals, magazines and news that are relevant to the research theme. The results of the research show that, first, philosophical tasawuf is a direct inner experience in the relationship between the servant and his god and the union of a Sufi with Allah Swt. Second, it shows that Sufism thought Said Aqil Siroj has high relevance to the development of Islamic thought in overcoming challenges and changing times. This research can be used as a means of expanding views so that people think smarter and are not rigid about differences in Muslim society.
Konsep Metode Pembelajaran Tauhid Perspektif Bakar Bin Abdullah Abu Zaid Bagi Pelajar SMP (Telaah Kitab Hilyatu Thālib al-‘Ilmi) Sholeh Abdul Qudus; Ulil Amri Syafri
Rayah Al-Islam Vol 5 No 01 (2021): Rayah Al-Islam April 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v5i01.821

Abstract

Metode merupakan cara yang fungsinya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Semakin tepat metodenya maka diharapkan semakin efektif pula dalam pencapaian tujuan tersebut. Pada kenyataannya metode pembelajaran diniyyah (Pendidikan Agama Islam) termasuk mata pelajaran tauhid terkadang terlihat kurang menarik, kolot dan membosankan sehingga hal tersebut berdampak pada animo peserta didik saat pembelajaran tauhid disampaikan terlihat sering mengantuk, terkesan malas-malasan, suasananya gaduh dan bahkan kurang peduli. Maka penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang konsep berbagai metode pembelajaran tauhid yang relative komprehensif dan cukup aplikatif menurut Syaikh Dr. Bakar bin Abdullah Abu Zaid dalam kitab Hilyatu Thālib al-‘Ilmi yang bisa diterapkan pada siswa SMP/MTs. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kualitatif, jenis pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pemikiran tokoh, dan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep metode pembelajaran tauhid menurut Bakar bin Abdullah Abu Zaid bagi pelajar SMP dalam kitab Hilyatu Thālib al-‘Ilmi diklasifikasikan ke dalam 7 (tujuh) macam metode pembelajaran, meliputi: Menghapal mukhtashar, mempelajarinya dihadapan guru yang pandai ahli dan amānah, tidak menyibukkan diri dengan kitab besar dan berbagai macam kitab sebelum mempelajari dan mantap dalam ilmu dasarnya, jangan berpindah dari satu kitab mukhtashar kepada kitab lain tanpa alasan yang kuat, mencatat faedah-faedah ilmiah dan kaidah-kaidah ilmiahnya, menyatukan jiwa dan bersungguh-sungguh untuk menuntut ilmu, talaqqi ilmu langsung bertatap muka dengan Para Ulama. The method is a method that functions as a means to reach the goal. The more precise the method, it is hoped that the more effective it will be in achieving these goals. In fact, the diniyyah learning method (Islamic Religious Education), including the subject of tauhid, sometimes looks less attractive, old-fashioned, and boring so that it has an impact on the interest of students when learning tauhid is delivered, they are often sleepy, seem lazy, the atmosphere is noisy and even less concerned. So this research aims to discuss the concept of various tauhid learning methods that are relatively comprehensive and quite applicable according to Dr. Bakar bin Abdullah Abu Zaid in the book Hilyatu Thālib al-'Ilmi which can be applied to SMP / MTs students. This research is a qualitative descriptive research type, the type of research approach used in this research is the study of a character thinking, and the data collection technique used in this research is to use the documentation method. The results showed that the concept of tauhid learning method according to Bakar bin Abdullah Abu Zaid for junior high school students in the book Hilyatu Thālib al-'Ilmi is classified into 7 (seven) kinds of learning methods: memorizing the summary, learning it in front of teachers who are clever experts and amānah, not preoccupying yourself with large books and various kinds of books before studying and being steady in basic science, do not move from one summary book to another without good reason, taking notes scientific benefits and scientific principles, uniting the soul and being serious to study, the Talaqqi of knowledge came face to face with the Ulama.
Isbat Nikah Pasangan Suami Istri Yang Telah Meninggal Dunia Dalam Pandangan Maqashid Al-Syariah (Studi Analisis Putusan Pengadilan Agama Pekanbaru no. 0067/Pdt.P/2013/PA.Pbr) Ridwan, Masrur; Winning Son Ashari
Rayah Al-Islam Vol 7 No 3 (2023): Rayah Al Islam Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i3.748

Abstract

The determination of marriage certificates for married couples who have not been registered with the Office of Religious Affairs (KUA) is one of the government's efforts to be able to provide guarantees of legal protection for married couples and children who will be born out of marriage, both regarding their rights and obligations as well as regarding other matters. matters relating to inheritance which can be proven by authentic evidence in the form of a marriage certificate. However, on several occasions, some circumstances were not ideal for a husband and wife, one of which was the loss of a marriage certificate and the data at the Office of Religious Affairs (KUA) were also not registered, while the husband and wife had died and the government provided a way out, namely by submitting a marriage certificate. to a religious court. With library research using a qualitative descriptive method, namely by outlining the judge's considerations in granting a request for isbat marriage, research on literature using a qualitative descriptive method, namely by describing the judge's considerations in granting a request for isbat marriage, and looking at this from the perspective of Maqashid Al-Syariah. The purpose of this research is to analyze the decision of the Pekanbaru Religious Court which discusses the marriage certificate of a husband and wife who have died by looking at the decision in Maqashid Al-Syariah. The results of this study indicate that in general the decisions issued by the Pekanbaru Religious Court are in line with Maqashid Al-Syariah namely preserving offspring (Hifzu Al-Nasl) and preserving property (Hifzu Al-Mal). Specifically, based on the considerations of the panel of judges it is also in line to legalize marriage which is the original law of isbat marriage.
Studi Analisis Pendapat Imam Syafi’i Tentang Mahar Yang Belum di Bayar Karena Suami Telah Meninggal Dunia Suwardi; Syamsuddin; Nashir, Muhammad Ja’far
Rayah Al-Islam Vol 7 No 3 (2023): Rayah Al Islam Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i3.758

Abstract

Dalam masalah mahar ternyata masih terjadi perbedaan pandangan dari beberapa Imam Madzab khususnya dalam hal pemberian mahar utang yang belum dibayar karena suami meninggal dunia. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pendapat imam syafi’I tentang mahar utang yang belum dibayar karena suami meninggal dunia, dan bagaimana perbandingan mahar hutang yang belum dibayar karna suami meninggal dunia menurut imam syafi’I. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kualitatif studi kepustakaan (Library Research) Dengan pendekatan deskriptif analisis melalui karya imam syafii berupa kitab al-Umm dan karya imam malik berupa kitab yang berhubungan dengan judul di atas ya’ni dengan menggambarkan pendapat Imam Syafi’I tentang mahar utang yang belum dibayar karena suami meninggal dunia, dan data sekunder yaitu literatur-literatur yang relevan dengan pembahasan judul di atas. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif dan komparatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa menurut Imam Syafi’i, mahar utang yang belum dibayar tetap menjadi kewajiban suami kepada seorang istri meskipun suami meninggal dunia baik belum maupun sudah terjadi hubungan suami istri serta belum ditentukan maharnya. Pihak yang mewakili untuk membayar mahar kepada istri dalam hal ini adalah ahli waris dari suami itu sendiri. Regarding the dowry issue, it turns out that there are still differing views from some of the Imams of Madzab, especially regarding the provision of unpaid dowry due to the husband's death. This study aims to find out what Imam Syafi'I thinks about unpaid debt dowry because the husband dies, and what is the ratio of unpaid debt dowry because the husband dies according to Imam Syafi'i. The method used in this research is the qualitative method of library research with a descriptive analysis approach through the work of Imam Syafii in the form of the book al-Umm and the work of Imam Malik in the form of a book related to the title above, namely by describing the opinion of Imam Syafi'i about the dowry of unpaid debts because the husband died, and secondary data, namely the literature that is relevant to the discussion of the title above. While data collection techniques using documentation techniques and data analysis techniques using descriptive and comparative analysis. The results of this study indicate that according to Imam Syafi'i, the unpaid debt dowry remains the husband's obligation to a wife even though the husband dies, whether he has not had or has had a husband-wife relationship and the dowry has not been determined. The party representing to pay the dowry to the wife in this case is the heir of the husband himself.
Irtibâti At- Tamassuk Biddîn Biraghbati At-Ta'adudi Az- Zaujât Bi Jamâti Pringsewu Mengaji Bi Madînati Pringsewu Teddy Pratama, Asril Ilyas; Husnul Khuluq, Arif
Rayah Al-Islam Vol 7 No 3 (2023): Rayah Al Islam Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i3.759

Abstract

التمسك بالشيء هو التزامه والعمل بمقتضاه، اقتناعًا به وتصديقًا بمدلوله فالتمسك بالدين القيام بالواجبات واجتناب المحرمات.واجتناب البدع العملية والاعتقادية, الحرص على تطبيق السنن والمستحبات بحسب قدرته واستطاعته, دعوة الناس إلى الخير ومحاولة إصلاح ما أمكن . و تعدد الزوجات شيء شرعه الله لعباده مع القدرة, و حمكمة التعدد قضاء الوطر، وطيب النفس، والبعد عن الفواحش، فإن هذا يعينه على غض بصره، وبعده عما حرم الله. منهج هذا البحث هو منهج بحث الكمي, و تقنية تحليل البيانات المستخدمة هي تحليل الانحدار الخطي البسيط لتحديد تأثير متغير واحد (مستقل) على متغير آخر (تابع). مجتمع هذه الدراسة هو 30 شخصا من عدد الجماعة برينجسيو منجاجي بمدينة فرنجسوو. طريقة تقنية أخذ العينات العشوائية البسيطة. و نتيجة هذا البحث أن التمسك بالدين لا يؤثر كبيرا في رغبة التعدد الزوجات, و تأثيره على رغبة التعدد الزوجات 0,1%, و الباقيات من عنصر الدينية, المجال, عنصر الاقتصادية و سعة المالية, الشقاق بين الزوجين, عدم الولد, عنصر العملية Adhering to something is its commitment and acting accordingly, convinced of it and believing in its meaning, adhering to religion, performing duties and avoiding taboos. Avoid practical and belief innovations, be careful to apply the Sunnahs and mustahabbat according to his ability and ability, call people to goodness and try to reform as much as possible. Polygamy is something that God prescribed for His servants with power, And from the multiplicity of spending time, kindness of soul, and avoiding immorality, this helps him to turn a blind eye, and distance him from what God has forbidden. The methodology of this research is quantitative research, and the data analysis technique used is simple linear regression analysis to determine the effect of one variable (independent) on another variable (dependent). The population of this study is 30 people from the community number of Pringsewu Mengaji in the city of Pringsewu. The result of this research is that adherence to religion does not significantly affect the desire for polygamy, and its impact on the desire for polygamy 0.1%, and the rest of the religious element, the field, the economic element and financial capacity, discord between spouses, childlessness, the element of the process. Berpegang teguh adalah berkomitmen dan melakukan tindakan atas keyakinannya akan suatu hal dan menyetujui maknanya. Berpegang pada agama adalah menjalankan kewajiban dan menjauhi yang dilarang. Menghindari kesesatan bid'ah dalam amalan maupun akidah, giat menerapkan sunnah dan mustahabb sesuai kemampuan dan kesanggupannya, mengajak manusia berbuat kebaikan dan berusaha melakukan pembenahan semaksimal mungkin. Poligami adalah sesuatu yang disyariatkan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang mampu dan dari hikmah poligami adalah memenuhi hajat, berbuat baik, dan menjauhi kekejian, karena hal ini membantunya untuk menundukkan pandangan dan menjauhkannya dari apa yang Allah kehendaki. terlarang. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dan teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier sederhana untuk mengetahui pengaruh suatu variabel (independen) terhadap variabel (dependen) lainnya. Populasi penelitian ini adalah 30 orang masyarakat PRINGSEWU MENGAJI di kota Frangsoo. Metode dengan teknik simple random sampling.Hasil penelitian ini bahwa kepatuhan terhadap agama tidak berpengaruh signifikan terhadap keinginan poligami, dan pengaruhnya terhadap keinginan poligami adalah 0,1%, dan sisanya dari komponen agama, lapangan. , komponen ekonomi dan kemampuan finansial , perselisihan antar pasangan, tidak memiliki anak, elemen proses.
Peran Mediator Dalam Menekan Angka Perceraian (Studi kasus di Pengadilan Agama Banyuwangi) Abidin, Jainal; Ahsan, Khoirul
Rayah Al-Islam Vol 7 No 3 (2023): Rayah Al Islam Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i3.774

Abstract

Kabupaten Banyuwangi menempati angka perceraian yang tinggi setelah Malang dan Jember, Sehingga perlu adanya penangan yang tepat untuk mengurangi angka tersebut dengan perantara mediasi yang akan ditengahi oleh mediator. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sumber data primer melalui wawancara dan sumber data skunder dari kajian pustaka, dan akan dikaji secara naratif. Penulis meneliti di Pengadilan Agama Banyuwangi tentang kebenaran fenomena perceraian yang terjadi, prosedur mediasi yang telah berjalan dan peran-peran mediator dalam menjalankan mediasi di Pengadilan Agama Banyuwangi dalam menekan angka perceraian. Setelah dilakukan penelitian terlihat fenomena perceraian yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi sangat banyak, yaitu mencapai 5.684 kasus perceraian di tahun 2020, 5.974 kasus pada tahun 2021 dan 6005 kasus perceraian di tahun 2022. Prosedur mediasi yang telah terlaksana di Pengadilan Agama Banyuwangi telah sesuai dengan PERMA no. 1 tahun 2016. Mediator memiliki peran yang amat penting dalam mencapai kesepakatan para pihak. Mediator haruslah memiliki sertifikat mediator. Ada beberapa hal yang menghambat jalanya mediasi seperti emosi dan para pihak yang sejak awal tidak ingin dimediasi. Keberhasilan mediasi tidak selamanya diukur dengan pencabutan perkara, namun satu kesepakatan saja sudah bisa menjadi ukuran mediasi berhasil dan sebaliknya apabila tidak ada kesepakatan yang terjadi maka mediasi bisa dikatakan gagal. Banyuwangi Regency has a high divorce rate after Malang and Jember, so there needs to be an appropriate handling to reduce this rate with mediation that will be mediated by a mediator. This research uses a qualitative method with primary data sources through interviews and secondary data sources from literature review, and will be reviewed narratively. The author examines the Banyuwangi Religious Court about the truth of the phenomenon of divorce that occurs, the mediation procedures that have been running and the roles of mediators in carrying out mediation at the Banyuwangi Religious Court in reducing the divorce rate. After the research was conducted, it was seen that the phenomenon of divorce that occurred in Banyuwangi Regency was very large, reaching 5,684 divorce cases in 2020, 5,974 cases in 2021 and 6005 divorce cases in 2022. The mediation procedure that has been carried out at the Banyuwangi Religious Court is in accordance with PERMA no. 1 of 2016. The mediator has a very important role in reaching an agreement between the parties. The mediator must be a certified mediator. There are several things that hinder mediation, such as emotions and parties who do not want to be mediated in the first place. The success of mediation is not always measured by the withdrawal of the case, but one agreement can be a measure of successful mediation and vice versa if no agreement occurs then the mediation can be said to have failed.
Hak Waris Orang yang Berkelamin Ganda (Khuntsa Musykil) Studi Perbandingan Madzhab Maliki dan Hukum Positif Indonesia Zaki, Muhamad; Musyaffa
Rayah Al-Islam Vol 7 No 3 (2023): Rayah Al Islam Desember 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab Ar Raayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37274/rais.v7i3.777

Abstract

Tujuan penelitian ini menganalisis perbandingan antara pandangan Madzhab Maliki dan hukum positif Indonesia mengenai hak waris orang yang berkelamin ganda (Khuntsa Musykil) dengan tujuan memahami perbedaan dan persamaannya. Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan metode pengumpulan data studi pustaka. Ilmu waris merupakan ilmu yang kurang populer di kalangan umat Islam saat ini. Pembelajaran ilmu ini hanya dipelajari di sebagian pondok pesantren dan sekolah agama seperti madrasah aliyah negeri (MAN). Dalam ilmu waris banyak macam permasalahan, di antaranya masalah ketika seseorang lahir dengan kondisi kelamin ganda. Dalam pandangan agama Islam, masalah hak waris bagi orang yang berkelamin ganda ini menjadi perdebatan di antara para ulama. Di sisi lain, hukum positif Indonesia juga memiliki ketentuan-ketentuan yang mengatur hak waris. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Waris adalah hak yang dapat dibagi, ditetapkan untuk ahli waris setelah kematian pewaris karena adanya hubungan kekerabatan antara mereka, seperti hubungan pernikahan. (2) Dalam Madzhab Maliki, Khuntsa Musykil mendapat separuh dari dua perkiraan laki-laki dan perempuan apabila mewarisi dari bagian laki-laki dan perempuan. (3) Sistem hukum waris di Indonesia berlaku pluralisme hukum waris, ada hukum waris Islam, hukum waris perdata dan hukum waris adat. Mengenai pembagian harta warisan terhadap ahli waris Khuntsa Musykil menurut KHI porsi pembagian harta warisnya akan diselesaikan dengan keputusan hakim di pengadilan, Adapun pembagian warisannya dalam KUH Perdata (Burgelijk Wetboek) perihal pembagian warisan tidak membedakan bagian laki-laki dan perempuan. Dalam hukum adat dipengaruhi oleh sistem kekerabatan dan juga karena pengaruh agama, sehingga antara daerah yang satu dengan yang lainnya terdapat perbedaan untuk pembagian warisannya. The purpose of this study is to analyze the comparison between the views of the Maliki school of thought and Indonesian positive law regarding the inheritance rights of persons of multiple sexes (Khuntsa Musykil) with the aim of understanding the differences and similarities. The research approach used in this research is qualitative by using literature study data collection methods. The science of inheritance is a science that is less popular among Muslims today. Learning this knowledge is only studied in a number of Islamic boarding schools and religious schools such as the state Islamic high school (MAN). In the science of inheritance, there are many kinds of problems, including the problem when a person is born with multiple sex conditions. In the view of Islam, the issue of inheritance rights for people with multiple genders is a debate among scholars. On the other hand, Indonesian positive law also has provisions governing inheritance rights. The results of this study indicate that: (1) Inheritance is a right that can be divided. Determined for the heirs after the death of the heir because of a kinship relationship between them, such as a marriage relationship. (2) In the Maliki school of thought, Khuntsa Musykil gets half of the two estimates of men and women if they inherit from the male and female shares. (3) The inheritance law system in Indonesia applies inheritance law pluralism, there is Islamic inheritance law, civil inheritance law and customary inheritance law. Regarding the distribution of inheritance to the Khuntsa Musykil heirs, according to KHI, the portion of the distribution of inheritance will be settled by a judge's decision in court. As for the distribution of inheritance in the Civil Code (Burgelijk Wetboek), regarding the division of inheritance, it does not distinguish between male and female parts. In customary law, it is influenced by the kinship system and also because of the influence of religion, so that between one region and another there are differences in the distribution of inheritance.