cover
Contact Name
Jurnal Prakarsa Paedagogia
Contact Email
prakarsa@umk.ac.id
Phone
+6285640338615
Journal Mail Official
prakarsa@umk.ac.id
Editorial Address
Gondangmanis Po Box 53 Bae Kudus
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Prakarsa Paedagogia
ISSN : 26215039     EISSN : 26209780     DOI : 10.24176
Core Subject : Education,
iterbitkan sebagai media publikasi dan desiminasi hasil penelitian dan karya ilmiah di bidang Pendidikan baik dari Mahasiswa dan Dosen untuk memperkaya khasanah keilmuan pendidikan menuju tercapainya generasi emas Indonesia,
Articles 547 Documents
The Role of Twitter in Developing Students Writing Proficiency Siti Qotijah; M. Lukman Leksono; Mira Erlinawati; Imaniar Purbasari; Moh. Aris Prasetiyanto
Journal Prakarsa Paedagogia Vol. 9 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jpp.v9i1.16535

Abstract

Disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang ditandai dengan kesulitan signifikan dalam mengenali huruf, bunyi, dan simbol bahasa. Pada masa kanak-kanak awal, kondisi ini membutuhkan stimulasi yang tepat dan sesuai untuk memastikan tidak berdampak negatif pada perkembangan akademik dan kognitif jangka panjang. Pendidik anak usia dini sering menghadapi tantangan dalam menemukan media pembelajaran yang menarik, sangat terstruktur, dan secara khusus disesuaikan dengan karakteristik neurodiversitas unik anak-anak dengan disleksia. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan program stimulus audio-visual khusus berupa video yang dirancang untuk anak-anak disleksia berusia 4-5 tahun, yang berfungsi sebagai media pendukung pembelajaran yang praktis dan efektif bagi guru di kelas. Penelitian ini dilakukan di BA Aisyiyah Kopen, melibatkan 15 anak sebagai subjek utama. Metodologi yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan (R&D), yang meliputi tahapan sistematis: analisis kebutuhan, desain produk, pengembangan, dan pengujian lapangan terbatas. Teknik pengumpulan data komprehensif, termasuk observasi terstruktur, wawancara mendalam, dan dokumentasi menyeluruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program stimulus visual-auditori yang dikembangkan sangat cocok untuk penggunaan pendidikan. Temuan kuantitatif dan kualitatif menunjukkan bahwa media ini secara signifikan meningkatkan rentang perhatian, respons visual, dan keterampilan pemrosesan pendengaran anak-anak dengan disleksia. Lebih lanjut, video ini membantu guru dalam menerapkan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan efektif, memungkinkan pengajaran yang secara khusus disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa. Media ini berfungsi sebagai jembatan penting dalam mengatasi kesenjangan literasi selama tahun-tahun dasar pendidikan.
Hubungan Antara Risiko Disleksia Dengan Regulasi Emosi Dan Kepercayaan Diri Pada Anak Usia Dini Anna Wahyu Ruhani; Lintang Kironoratri; Jude Cris A. T. Elle; Ahmad Khoirun Ni'am; Riyan Dwi Cahyaningsih
Journal Prakarsa Paedagogia Vol. 9 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jpp.v9i1.16536

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara risiko disleksia dan perkembangan sosial-emosional, khususnya regulasi emosi dan kepercayaan diri, pada masa kanak-kanak awal. Disleksia, yang sering dikaitkan dengan kesulitan dalam pemerolehan literasi, juga dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dan emosional anak selama tahap perkembangan kritis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang pengalaman anak-anak. Partisipan terdiri dari anak-anak berusia 5–6 tahun yang diidentifikasi berisiko mengalami disleksia di lembaga pendidikan anak usia dini. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam dengan guru dan orang tua, serta dokumentasi perkembangan anak. Temuan menunjukkan bahwa anak-anak yang berisiko mengalami disleksia cenderung mengalami tantangan signifikan dalam regulasi emosi, termasuk peningkatan frustrasi, kecemasan, dan penarikan diri dalam konteks pembelajaran. Selain itu, anak-anak ini sering menunjukkan tingkat kepercayaan diri yang rendah, terutama ketika terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan literasi. Hambatan emosional dan psikologis tersebut dapat lebih menghambat kesiapan akademis dan interaksi sosial mereka. Studi ini menyoroti pentingnya menerapkan lingkungan belajar yang holistik dan suportif yang mengintegrasikan perkembangan kognitif, emosional, dan sosial. Identifikasi dan intervensi dini sangat penting untuk menyediakan strategi dukungan yang tepat guna menumbuhkan ketahanan, kepercayaan diri, dan pengalaman belajar yang positif di antara anak-anak yang berisiko mengalami disleksia.
Analisis Strategi Intervensi Anak Disleksia pada Usia Dini dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Isna Naeli Saida; Wawan Shokib Rondli; Much Arsyad Fardhani; Ngatmini; Irwan Soulisa
Journal Prakarsa Paedagogia Vol. 9 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jpp.v9i1.16537

Abstract

Disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang dapat diidentifikasi sejak dini melalui kesulitan dalam perkembangan bahasa dan literasi awal. Pendidikan anak usia dini memainkan peran strategis dalam deteksi dini dan intervensi bagi anak-anak yang berisiko mengalami disleksia. Sejalan dengan implementasi Kurikulum Mandiri, yang menekankan pembelajaran berpusat pada anak dan diferensiasi, guru PAUD dituntut untuk mampu merancang strategi intervensi yang adaptif dan kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi intervensi yang diterapkan pada anak usia 3-4 tahun yang menunjukkan indikasi disleksia dalam implementasi Kurikulum Mandiri di TK Sanggar Dolanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari 10 anak usia 4-5 tahun dan guru kelas sebagai informan utama. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi intervensi yang diterapkan meliputi pendekatan bermain berbasis literasi, stimulasi kesadaran fonologis, penggunaan media multisensori, dan pembelajaran diferensiasi sesuai dengan kebutuhan anak. Strategi-strategi ini selaras dengan prinsip-prinsip Kurikulum Independen dan memberikan respons positif terhadap perkembangan literasi awal anak-anak. Studi ini merekomendasikan penguatan kompetensi guru dalam intervensi dini untuk disleksia melalui pelatihan berkelanjutan.
Multisensory Approach to Enhance Early Literacy Skills in Children with Reading Disorders Ning Winantu; Ridho Indra Saputra; Evi Chamalah; Dinda Irdayani Soulisa; Mohammad Kanzunnudin
Journal Prakarsa Paedagogia Vol. 9 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jpp.v9i1.16539

Abstract

Keterampilan literasi awal memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan akademik anak; namun, anak-anak dengan disleksia sering menghadapi kesulitan yang terus-menerus dalam mengenali huruf, menguraikan kata, dan memahami makna, yang membutuhkan strategi pembelajaran yang tepat yang disesuaikan dengan karakteristik belajar mereka. Studi ini bertujuan untuk menguji efektivitas pendekatan multisensori VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic, dan Tactile) dalam meningkatkan keterampilan literasi awal pada anak dengan disleksia. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Subjek Tunggal (SSR) dengan desain A1–X–A2, yang terdiri dari fase dasar, intervensi, dan pasca-intervensi. Subjeknya adalah anak laki-laki berusia 5–8 tahun yang terdaftar di kelas satu sekolah dasar, dan intervensi dilakukan selama kurang lebih 45 sesi pembelajaran menggunakan aktivitas multisensori yang terstruktur dan berulang. Data dikumpulkan melalui lembar observasi yang berfokus pada empat indikator literasi awal, yaitu pengenalan huruf, penggabungan suku kata, pengenalan dan penulisan kata benda, dan pengucapan kata yang akurat. Temuan menunjukkan peningkatan yang signifikan di semua indikator literasi, dengan peningkatan tertinggi diamati pada penguasaan kosakata, mencapai 80%. Selain itu, subjek menunjukkan peningkatan motivasi, keterlibatan, dan respons positif selama kegiatan membaca, yang selanjutnya didukung oleh wawancara dengan orang tua. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan multisensori VAKT efektif dalam meningkatkan keterampilan literasi awal dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi anak-anak dengan disleksia, dan direkomendasikan sebagai strategi pengajaran alternatif dalam lingkungan pendidikan inklusif untuk mendukung anak-anak dengan kesulitan belajar.
Analisis Gangguan Menulis (Disgrafia) Anak Dengan Perspektif Psikolinguistik Lilik Nur Hasanatin; Eli Rustinar; Eka Setya Budi; Ahdi Riyono; Slamet Utomo
Journal Prakarsa Paedagogia Vol. 9 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jpp.v9i1.16540

Abstract

Menulis adalah keterampilan bahasa fundamental yang memainkan peran penting dalam perkembangan kognitif dan akademik anak. Namun, beberapa anak mengalami kesulitan menulis, yang dikenal sebagai disgrafia, yang terkait erat dengan proses psikolinguistik, khususnya dalam produksi bahasa dan koordinasi motorik. Studi ini bertujuan untuk (1) meneliti gangguan menulis dari perspektif psikolinguistik dan (2) mendeskripsikan tantangan menulis yang dialami oleh anak dengan disgrafia. Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memberikan pemahaman mendalam tentang fenomena tersebut dalam konteks alami. Subjek penelitian adalah seorang anak berusia 6 tahun yang diidentifikasi sebagai DAS, yang menunjukkan karakteristik disgrafia, seperti tulisan tangan yang tidak terbaca, pembentukan huruf yang tidak konsisten, dan perkembangan menulis yang tidak tepat. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen, observasi, dan wawancara dengan orang tua untuk mendapatkan informasi yang komprehensif dan valid. Temuan menunjukkan bahwa disgrafia pada DAS dikaitkan dengan kesulitan dalam pemrosesan psikolinguistik, khususnya dalam mengorganisir masukan linguistik menjadi keluaran tertulis. Setelah menerima latihan menulis yang konsisten dan terbimbing yang didukung oleh guru dan orang tua, anak tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kejelasan tulisan, pembentukan huruf, dan kinerja menulis secara keseluruhan. Studi ini menyoroti pentingnya identifikasi dan intervensi dini dalam mengatasi gangguan menulis. Dapat disimpulkan bahwa intervensi yang terstruktur, berkelanjutan, dan suportif memainkan peran penting dalam meningkatkan keterampilan menulis pada anak-anak dengan disgrafia. Oleh karena itu, kolaborasi antara guru dan orang tua sangat penting untuk mendukung perkembangan menulis anak dan memastikan kemajuan belajar mereka yang optimal.
Exploration of the Profile of Dysgraphia in Early Childhood: A Neurolinguistic Study, Environmental Factors, and Implications for Learning Interventions Dewi Fatimah; Hetilaniar; Tri Indrayanti; Saharudin; Luthfa Nugraheni
Journal Prakarsa Paedagogia Vol. 9 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jpp.v9i1.16543

Abstract

Kesulitan menulis (disgrafia) pada masa kanak-kanak awal merupakan masalah perkembangan yang berkaitan erat dengan integrasi neurolinguistik, keterampilan motorik halus, dan lingkungan belajar. Gangguan menulis yang tidak teridentifikasi sejak dini dapat menyebabkan tantangan akademis jangka panjang. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi profil kesulitan menulis (disgrafia) pada masa kanak-kanak awal dan menganalisis implikasi intervensi pembelajaran inklusif melalui media, metode, dan model pembelajaran yang tepat. Studi ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari pretest dan tiga siklus intervensi. Partisipan penelitian adalah anak-anak di Kelompok B pendidikan anak usia dini yang diidentifikasi mengalami kesulitan menulis. Data dikumpulkan melalui observasi, tes kinerja menulis, dan dokumentasi karya anak-anak. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif deskriptif. Hasil menunjukkan peningkatan bertahap dalam kemampuan menulis anak-anak di setiap siklus intervensi, khususnya dalam koordinasi motorik halus, kerapian tulisan tangan, akurasi pembentukan huruf, dan daya tahan menulis. Implementasi media multisensori, metode berbasis permainan terstruktur, dan model pembelajaran inklusif yang didukung oleh kolaborasi guru-orang tua terbukti efektif dalam mengurangi dampak disgrafia pada masa kanak-kanak awal. Studi ini menyimpulkan bahwa intervensi pembelajaran yang terencana dengan baik, inklusif, dan kolaboratif memainkan peran penting dalam mendukung pengembangan keterampilan menulis pada anak-anak dengan disgrafia. Temuan ini diharapkan dapat memberikan referensi praktis bagi pendidik anak usia dini, sekolah, dan pembuat kebijakan dalam memperkuat layanan pendidikan inklusif.
Pengembangan Metode Pembelajaran ‘Sensory Writing Play’ untuk Menstimulasi Kemampuan Pra-Menulis Anak Usia 4-5 Tahun yang Mengalami Disgrafia. Annisa Rahma Afriani; Rynaldi Setya Rachim; Irfai Fathurohman; Iffah Syafaatul Arabia; Siti Faridah
Journal Prakarsa Paedagogia Vol. 9 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/jpp.v9i1.16551

Abstract

Disgrafia pada masa kanak-kanak awal ditandai dengan kesulitan dalam keterampilan pra-menulis, termasuk koordinasi motorik halus, kontrol tangan, dan integrasi visual-motorik. Tantangan ini dapat menghambat kesiapan anak untuk kegiatan menulis formal dan membutuhkan intervensi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan metode pembelajaran menulis sensorik untuk merangsang keterampilan pra-menulis pada anak usia 4-5 tahun dengan disgrafia. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian tindakan yang melibatkan 10 anak di Taman Kanak-kanak Punakawan. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur, dokumentasi, dan lembar penilaian pra-menulis yang diberikan melalui siklus pembelajaran berulang. Temuan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan pra-menulis anak setelah penerapan metode menulis sensorik. Peningkatan diamati terutama pada kekuatan jari, koordinasi mata-tangan, dan keterlibatan anak dalam kegiatan menulis awal. Siklus berulang perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi memungkinkan penyempurnaan berkelanjutan dari strategi pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu anak. Lebih lanjut, integrasi elemen multisensori seperti aktivitas taktil, visual, dan kinestetik terbukti efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan mendukung. Studi ini menyimpulkan bahwa metode menulis sensori merupakan pendekatan yang efektif dan sesuai dengan perkembangan untuk mendukung pengembangan keterampilan pra-menulis pada anak-anak usia dini dengan disgrafia, sekaligus menumbuhkan motivasi, partisipasi, dan pengalaman belajar yang positif.