cover
Contact Name
Zurrahmi
Contact Email
zurrahmi10@gmail.com
Phone
+6285265992150
Journal Mail Official
zurrahmi10@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Jurnal Ners
ISSN : -     EISSN : 25802194     DOI : 10.31004
Core Subject : Health,
Fokus Jurnal Ners meliputi bidang kajian riset keperawatan diantaranya Keperawatan Medikal Bedah, Keperawatan Maternitas, Keperawatan Gawat Darurat, Keperawatan Anak, Keperawatan Lansia, Keperawatan Jiwa, Keperawatan Keluarga, Keperawatan Masyarakat, Manajemen Keperawatan dan Terapi Komplementer yang dapat menunjang tindakan keperawatan Jurnal Ners dikelola dan diterbitkan oleh Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Jurnal Ners adalah pengembangan dari Jurnal Program Studi Keperawatan STIKes Tuanku Tambusai yang mulai melakukan publikasi cetak tahun 2012 seiring dengan perubahan bentuk Institusi menjadi Universitas Pahlawan
Articles 2,415 Documents
Efektivitas Metode Multisensori Terhadap Kemampuan Pragmatik Anak Autism Spectrum Disorder Usia 5-10 Tahun di Slb Yayasan Bina Asih dan Mutiara Al Islam Kota Surakarta Intan Permata Okta Apriandeni; Rizki Husadani; Dewi Tirtawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54557

Abstract

Abstrak Autism Spectrum Disorder (ASD) umumnya mengalami hambatan pada kemampuan pragmatik akibat keterbatasan dalam interaksi sosial dan integrasi sensorik. Kemampuan pragmatik merupakan komponen penting dalam komunikasi sosial yang mencakup penggunaan bahasa secara tepat sesuai konteks. Tujuan dari penelitian ini guna mengetahui efektivitas metode multisensori terhadap kemampuan pragmatik anak Autism Spectrum Disorder usia 5–10 tahun di SLB Yayasan Bina Asih dan Mutiara Al Islam Kota Surakarta. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini dengan jenis one-group pretest–posttest design, yang melibatkan sejumlah 10 anak ASD sebagai sampel penelitian melalui teknik purposive sampling. Kemampuan pragmatik diukur menggunakan instrumen Assessment of Pragmatic Skills diadaptasi dari Shipley dan McAfee (2021). Data penelitian dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menerapkan uji statistik Wilcoxon Matched Pairs. Temuan penelitian menunjukkan nilai rata-rata pre-test adalah 7 dengan kategori kurang. Hasil rata-rata post-test adalah 17 dengan kategori cukup. Hasil analisis Wilcoxon memperoleh nilai Sig. 0,005 yang artinya p<0,05 sehingga Ha diterima bahwa disimpulkan metode multisensori efektif untuk meningkatkan kemampuan pragmatik anak autism spectrum disorder. Kata Kunci: Autism spectrum disorder, kemampuan pragmatik, metode multisensori Abstract Autism Spectrum Disorder (ASD) generally experiences obstacles in pragmatic abilities due to limitations in social interaction and sensory integration. Pragmatic abilities are an important component in social communication, which includes the appropriate use of language according to context. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the multisensory method on the pragmatic abilities of children with Autism Spectrum Disorder aged 5–10 years at the Bina Asih and Mutiara Al Islam Special Schools in Surakarta. A quantitative approach was used in this study with a one-group pretest–posttest design, involving 10 children with ASD as research samples through purposive sampling. Pragmatic skills were measured using the Assessment of Pragmatic Skills instrument adapted from Shipley and McAfee (2021). The research data were analyzed univariately and bivariately by applying the Wilcoxon Matched Pairs statistical test. The research findings showed that the pre-test mean score was 7, which was categorized as poor. The post-test mean score was 17, which was categorized as adequate. The Wilcoxon analysis obtained a Sig. value of 0.005, which means p<0.05, so Ha was accepted, concluding that the multisensory method is effective in improving the pragmatic skills of children with autism spectrum disorder. Keywords: Autism spectrum disorder, pragmatic ability, multisensory method
Pengaruh Ketidakpatuhan Berobat terhadap Kejadian Multidrug-Resistant Tuberkulosis Paru di Poli Paru RSUD Gambiran Kediri Rickiy Akbaril Okta Firdaus; Agus Nurul Hidayah; Agus Muslim; Ucik Indrawati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54558

Abstract

Ketidakpatuhan terhadap pengobatan tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah utama dan berkontribusi signifikan terhadap munculnya tuberkulosis resisten multidrug (MDR-TB). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ketidakpatuhan pengobatan pada pasien TB paru terhadap terjadinya resistensi multidrug (MDR) di Klinik Paru RSUD Gambiran Kediri. Penelitian ini menggunakan desain korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dan sampel terdiri dari 37 pasien TB paru yang dipilih menggunakan total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner untuk menilai kepatuhan pengobatan dan checklist untuk mengidentifikasi kasus MDR yang dicurigai. Variabel independen adalah ketidakpatuhan pengobatan, sedangkan variabel dependen adalah terjadinya MDR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak patuh terhadap pengobatan TB (31 responden; 84%), dan hampir semua responden diklasifikasikan sebagai kasus MDR yang dicurigai (36 responden; 97%). Analisis regresi logistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara ketidakpatuhan pengobatan dan terjadinya MDR (p = 0,000; α < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa ketidakpatuhan terhadap pengobatan TB secara signifikan meningkatkan risiko resistensi multidrug. Oleh karena itu, meningkatkan kepatuhan pasien melalui edukasi berkelanjutan, supervisi, dan dukungan dari penyedia layanan kesehatan sangat penting untuk mencegah TB MDR dan meningkatkan hasil pengobatan.
Pengetahuan Self-Monitoring Gizi Remaja dan Asupan Makronutrien: Implikasi Untuk Penguatan Edukasi Program Uks Zuly Daima Ulfa; Jeff Agung Perdana; Arief Nur Wahyudi
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.54559

Abstract

Adolescents are vulnerable to imbalanced intake and poor diet quality, therefore, education is needed in the school context through nutrition self‑monitoring skills within the School Health Unit (UKS). This study examined the association between adolescents’ self-monitoring nutrition knowledge and energy–macronutrient intake derived from multi-day food records collected using the FatSecret app, and its implications for UKS strengthening. A cross-sectional analytic study was conducted at MA Darul Ulum Palangka Raya (river-basin/DAS area) in December 2025. Knowledge was assessed using a 15-item Likert questionnaire (physical activity, food logging/nutrition, and sleep–energy domains). Energy and macronutrients were calculated as each participant’s mean daily intake from multi-day diaries; the main analysis included ≥3 recording days (n=24) and sensitivity analysis included ≥2 days (n=27). Recorded fruit–vegetable intake was low (vegetables 12.2±19.0 g/day; fruit 33.1±47.2 g/day), and 33.3–37.0% recorded none during monitoring. The total scale showed good internal consistency (α=0.831–0.828). Total knowledge was associated with energy intake (Main ρ=0.461; p=0.023; Sens ρ=0.487; p=0.010). In adjusted linear regression, food logging/nutrition knowledge was associated with percent energy from fat (B=5.33; p=0.049), while the number of recording days was inversely associated (B=-1.34; p=0.042). Findings support UKS education emphasizing consistent logging and macronutrient composition literacy.
Pengaruh Pemberian Edukasi Menggunakan Media Pop Up Flipbook Terhadap Pengetahuan dan Gaya Hidup Masyarakat Tentang Penyakit Sindrom Koroner Akut di Wilayah Puskesmas Talise Nurul Putri Salsabilla; Afrina Januarista; Sugyarso Sanan
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54566

Abstract

Sindrom Koroner Akut merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko, tanda dan gejala, serta upaya pencegahan Sindrom Koroner Akut berdampak pada keterlambatan penanganan dan penerapan gaya hidup yang tidak sehat. Upaya promosi kesehatan melalui media edukasi yang inovatif dan menarik diperlukan untuk meningkatkan pemahaman dan perubahan perilaku masyarakat. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan one group pretest-posttes. Sebanyak 41 responden di wilayah kerja Puskesmas Talise diberikan intervensi berupa edukasi kesehatan menggunakan media Pop Up Flipbook selama 40 menit. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon dan uji paired sample t-test. Hasil Penelitian hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan masyarakat yang signifikan setelah diberikannya edukasi, dari kategori kurang sebesar 97,6% menjadi kategori baik sebesar 82,9% (p<0,001). Selain itu, terdapat perbaikan gaya hidup yang ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata skor dari 54,0 sebelum intervensi menjadi 58,7 setelah intervensi (p<0,001). Kesimpulan edukasi kesehatan menggunakan media Pop Up Flipbook berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan perbaikan gaya hidup terkait pencegahan Sindrom Koroner Akut. Saran: tenaga kesehatan disarankan memanfaatkan media visual interaktif untuk memperkuat pesan edukatif dan meningkatkan partisipasi masyarakat.
The Relationship Between Health Literacy With Confidence and Self-Efficacy in Arv Treatment in People With Hiv/Aids in Hospital Asroful Hulam Zamroni; Nursalam Nursalam
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54621

Abstract

Adherence to antiretroviral (ARV) treatment in people with HIV/AIDS (ODHA) is shaped by the confidence and self-efficacy of ODHA in undergoing ARV therapy, which ultimately affects treatment success. This study aimed to analyse the relationship between health literacy, health beliefs, and self-efficacy in ARV treatment in ODHA in hospitals. This quantitative study with a cross-sectional design involved a sample of 160 ODHA patients undergoing ARV therapy at Hospital X, selected using a purposive sampling technique. Data were collected using a structured questionnaire that was tested for validity and reliability. Bivariate analysis was conducted using the chi-square test to assess the relationship between health literacy, health confidence, and self-efficacy. The results showed a significant relationship between health literacy and health confidence (p = 0.001) and self-efficacy (p = 0.002). Respondents with high health literacy mostly had health confidence and self-efficacy in the medium to high categories, while respondents with low health literacy tended to be in the low confidence and self-efficacy categories. Health literacy was significantly related to the confidence and self-efficacy of ODHA undergoing ARV treatment. Increasing health literacy, which is integrated with strengthening confidence and self-efficacy, is needed to support treatment adherence and improve the quality of life of ODHA.
Factors Associated with Loss to Follow-Up (LtFU) Among People Living with HIV/AIDS: A Scoping Review Dian Widyahandayani; Ayun Sriatmi; Antono Suryoputro
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54636

Abstract

HIV/AIDS remains a global health problem with an increasing number of cases, including in Indonesia. One major challenge in HIV management is Loss to Follow-Up (LtFU), defined as patients missing clinical visits for more than 90 days, which threatens antiretroviral (ARV) treatment success by increasing the risk of drug resistance, treatment failure, morbidity, and mortality. This scoping review aimed to identify determinants associated with LtFU among people living with HIV/AIDS. Literature searches were conducted in national and international databases for studies published between 2021-2025, yielding 38 eligible studies. Result of thematic analysis finding indicate that LTFU is influenced by multidimensional factors, including demographic (young age, male, unmarried/divorced), socio-economic and geographic (rural residence, long distance to healthcare facilities, low education, loss of income), clinical and biomedical (low CD4 count, high viral load, advanced HIV stage, malnutrition, TB coinfection), treatment and adherence (low ART adherence, no regimen change, early ART initiation, absence of prophylactic therapy), and psychosocial and health system factors (stigma, non-disclosure, perceived wellness, side effects, limited provider support, weak tracing systems). In conclusion, addressing LTFU requires multidimensional interventions integrating clinical, educational, social, and system-level strategies to enhance patient retention in HIV care.
Hubungan Peran Suami dengan Self-efficacy Ibu Hamil dalam Mengatasi Mual dan Muntah Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Pariaman, Kota Pariaman Mekar Zenni Radhia; Tita Oktya; Leza Fidyah Restiana; Endang Sari; Hanifa Zaini S
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54657

Abstract

Mual dan muntah merupakan keluhan yang umum dialami ibu hamil pada trimester pertama dan dapat mempengaruhi kondisi fisik maupun psikologis ibu. Salah satu faktor psikologis yang berperan penting dalam mengatasi keluhan tersebut adalah self-efficacy, yaitu keyakinan ibu terhadap kemampuannya dalam mengelola kondisi kehamilan. Peran suami sebagai sumber dukungan sosial dapat berkontribusi dalam meningkatkan self-efficacy ibu hamil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan peran suami dengan self-efficacy ibu hamil dalam mengatasi mual dan muntah dalam kehamilan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah sampel 46 orang ibu hamil trimester kedua yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pariaman. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Agustus 2025 dengan teknik pengambilan sampel total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner peran suami dan self-efficacy ibu, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61% suami memiliki peran yang baik, sementara 39% memiliki peran kurang. Selanjutnya 59% ibu hamil memiliki tingkat self-efficacy tinggi dan 41% berada pada kategori rendah. Uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara peran suami dengan self-efficacy ibu hamil dalam mengatasi mual dan muntah kehamilan (p value = 0,008). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa peran suami berhubugan dengan self-efficacy ibu hamil dalam mengatasi mual dan muntah kehamilan.
Aromaterapi Sebagai Terapi Nonfarmakologis Terhadap Mual dan Muntah pada Kehamilan: Literatur Review Nurul Wahidah; Ulfa Nadia Nurul Firdaus; Siti Fatimah; Aryl Alfath Muhamad Iqbal; Dhiny Isma
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54658

Abstract

Nausea and vomiting are common complaints during pregnancy that can disrupt the comfort and quality of life of pregnant women, so safe and effective non-pharmacological therapies such as aromatherapy are needed. Aromatherapy is a non-pharmacological complementary therapy that has been proven to provide a relaxing effect, reduce stress levels, and stimulate the limbic system that plays a role in regulating emotions and physiological responses of the body. This study aims to identify aromatherapy in reducing nausea and vomiting during pregnancy. The method used in this literature review uses the PICO Technique including: Population: pregnant women; Intervention: aromatherapy; Comparison: standard therapy or no aromatherapy given; Outcome: reduction in nausea and vomiting. The database used is Evidence Based Practice (EBP) from the Google Scholar, Science Direct and PubMed databases. The results of the study show that there are 8 articles published between 2021–2025 that mention several types of aromatherapy that can be used as a basis for applying complementary therapy for nausea and vomiting in pregnant women. It was concluded that aromatherapy with Lemon, Citrus Aurantium, Lavender, Peppermint, Ginger and Lemongrass has been proven to be significantly able to reduce nausea and vomiting during pregnancy, is safe, easy to apply, and can be used as an alternative non-pharmacological complementary therapy in midwifery care for pregnant women.
Perilaku Perawatan Diri Pasien Hipertensi di Puskesmas Kabupaten Bandung Lidya Natalia; Stephanie Melia; Wina Garlina
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54661

Abstract

Abstrak Hipertensi merupakan penyakit kronis ditandai dengan peningkatan tekanan darah dari batas normal, yang membutuhkan perubahan perilaku perawatan diri jangka panjang. Perilaku perawatan diri hipertensi mencakup kepatuhan obat, modifikasi gaya hidup, manajemen stress dan pemantauan tekanan darah. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi perilaku perawatan diri pasien hipertensi di Puskesmas. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dengan sampel penelitian sebanyak 72 orang yang diambil menggunakan purposive sampling. Perilaku perawatan diri diukur menggunakan instrumen High Blood Pressure- Self Care Profile (HBP-SCP). Hasil penelitian menunjukan sebagian besar responden berusia 41 – 59 tahun, perempuan (52.8%), tingkat pendidikan SMA (36.1%), riwayat hipertensi lebih dari 1 tahun (62.5%) dan 52.8% menyatakan belum pernah mendapatkan informasi terkait perawatan hipertensi. Perilaku perawatan diri meliputi aktivitas fisik olah raga secara teratur (52.8%), pengecekan kandungan label gizi (59.7% dan 56.9%), konsumsi diet rendah lemak (62.5%) dan manajemen stress (62.%) masih jarang dilakukan. Perilaku pemantauan tekanan darah, konsumsi obat anti hipertensi dan kunjungan ke pelayanan kesehatan sudah mulai sering dilakukan (33.3% - 44.4%). Hasil penelitian diharapkan dapat dimanfaatkan oleh profesi keperawatan dan tenaga kesehatan untuk merancang strategi intervensi yang dapat meningkatkan pengetahuan, motivasi dan kemampuan pasien hipertensi untuk rutin dalam manajemen diet, aktivitas fisik dan pengelolaan stress. Kata Kunci: hipertensi, perilaku perawatan diri
Analisis Hubungan Tingkat Stres Dan Kelelahan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa Aprianto Guntur Irawan; Endriawan Saputra
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54662

Abstract

Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisa secara rutin menghadapi berbagai perubahan fisiologis dan psikologis. Proses hemodialisa yang dilakukan seumur hidup seringkali menimbulkan stres dan kelelahan. Tingginya tingkat stres dapat memperburuk kondisi kelelahan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan tingkat stres dan kelelahan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Desain penelitian ini menggunakan deskripitf korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 32 responden yang diambil dengan menggunakan tekhnik purposive sampling. Pengukuran stres menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10) dan kelelahan menggunakan Functional Assessment of Chronic Illness Therapy-Fatigue (FACIT-F 40. Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square test. Hasil penelitian menunjukan pasien mengalami tingkat stres ringan sebanyak 18 responden (56%) dan stres berat sebanyak 14 responden (44%), sedangkan tingkat kelelahan ringan sebanyak 14 responden (44%) dan kelelahan berat sebanyak 18 responden (44%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat stres dengan kelelahan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa (p value = 0,009). Kedua variabel ini menunjukan mempunyai hubungan yang bermakna dengan pasien mengalami stres yang dapat menyebabkan kelelahan yang dirasakan pasien selama perawatan menjalani hemodialisa. Intervensi yang menargetkan pengurangan stres diharapkan dapat membantu menurunkan tingkat kelelahan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK) yang menjalani terapi hemodialisa secara rutin menghadapi berbagai perubahan fisiologis dan psikologis. Proses hemodialisa yang dilakukan seumur hidup seringkali menimbulkan stres dan kelelahan. Tingginya tingkat stres dapat memperburuk kondisi kelelahan dan menurunkan kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan tingkat stres dan kelelahan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Desain penelitian ini menggunakan deskripitf korelasi dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 32 responden yang diambil dengan menggunakan tekhnik purposive sampling. Pengukuran stres menggunakan Perceived Stress Scale (PSS-10) dan kelelahan menggunakan Functional Assessment of Chronic Illness Therapy-Fatigue (FACIT-F 40. Penelitian ini menggunakan analisa univariat dan bivariat. Analisis data menggunakan uji Chi-Square test. Hasil penelitian menunjukan pasien mengalami tingkat stres ringan sebanyak 18 responden (56%) dan stres berat sebanyak 14 responden (44%), sedangkan tingkat kelelahan ringan sebanyak 14 responden (44%) dan kelelahan berat sebanyak 18 responden (44%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat stres dengan kelelahan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa (p value = 0,009). Kedua variabel ini menunjukan mempunyai hubungan yang bermakna dengan pasien mengalami stres yang dapat menyebabkan kelelahan yang dirasakan pasien selama perawatan menjalani hemodialisa. Intervensi yang menargetkan pengurangan stres diharapkan dapat membantu menurunkan tingkat kelelahan dan meningkatkan kualitas hidup pasien.