cover
Contact Name
Program Studi PIPS UNJ
Contact Email
pipsfis@unj.ac.id
Phone
+6285266569092
Journal Mail Official
pipsfis@unj.ac.id
Editorial Address
Building K. 3nd Floor Campus A Jakarta State University, Jl. Rawamangun Muka Jakarta Timur, Postal Code 13220.
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Edukasi IPS
ISSN : -     EISSN : 26208768     DOI : 10.21009
Core Subject : Education, Social,
The Scientific Journal of Edukasi IPS is an Online Journal of social science education and social studies which has E-ISSN: 2620-8768 published by the Faculty of Social Science, State University of Jakarta (UNJ). Edukasi IPS published twice a year (March and August), containing 6 articles and received articles in areas: social science education, social studies, education and teaching studies, with research methodologies that meet the standards set for publication. The manuscript of the article may come from researchers, academics, practitioners, and other.
Articles 90 Documents
Representasi Nilai-nilai Edukasi dalam Netflix bagi Generasi Z Yusuf, Bagus Muhammad; Salenusa, Jeremy Putra Budi; Ifadah, Lilla Sesliya; Murpratiwi, Nerissa Mutiara; , Vera Wijayanti
Edukasi IPS Vol. 6 No. 1 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.01.05

Abstract

Various platform services for streaming have been developed in this day and age, including the very famous one today, namely, Netflix. Netflix is ​​a streaming service that provides various tv series, documentaries, and movies that have spread in 190 countries. In this case Netflix is ​​widely used as an entertainment medium. However, in this study, we will focus on the problem of how to represent the educational values ​​that can be obtained through Netflix in Generation Z. The research method used in this study is a qualitative research method. The results of the research that we got are that Netflix as a streaming service media can provide educational values ​​such as the morals of life, language, and technology from the country the film/series is produced in, the meanings contained in the films/series they watch, as well as what influence is exerted through it. films/series provided by Netflix to Generation Z.    Abstrak Berbagai layanan platform untuk menonton secara online telah banyak dikembangkan pada zaman sekarang, termasuk yang sangat terkenal saat ini yaitu, Netflix. Netflix merupakan layanan streaming yang menyediakan berbagai tv series, documenter, dan film yang telah tersebar di 190 negara. Dalam hal ini Netflix banyak digunakan sebagai media hiburan. Namun, pada penelitian kali ini kami akan memfokuskan permasalahan pada bagaimana representasi nilai-nilai edukasi yang bisa didapatkan melalui Netflix pada generasi Z. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Hasil penelitian yang kami dapatkan adalah Netflix sebagai media layanan streaming dapat memberikan nilai edukasi seperti bahasa dan budaya dari negara  film/series itu diproduksi, makna-makna yang terkandung dari film/series yang mereka tonton, serta pengaruh apa yang diberikan melalui fillm/series yang disediakan oleh Netflix kepada generasi Z.
Penerapan Literasi Digital dalam Pembelajaran IPS di Masa Pandemi Covid-19 Widiati, Tia; Ruhimat, Mamat
Edukasi IPS Vol. 6 No. 1 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.01.01

Abstract

This research is motivated by the Covid-19 pandemic which requires learning to be carried out online. Social studies learning, which is known to have a lot of memorization, requires social studies teachers to creatively prepare good lesson plans. One of the most effective ways to support social studies learning is by implementing digital literacy. Digital literacy is one of the skills that can support the achievement of the right education to support learning that applies 21st century skills. The method used is a one shot case study design pre-experimental method. This study involved social studies teachers and junior high school students. The implemented digital literacy includes Social Science learning materials for grade VII junior high school. In conclusion, the implementation of digital literacy in social studies learning during the Covid-19 pandemic is suitable to be applied to class VII students, because of students' difficulties in memorizing social studies material through the use of digital literacy.   Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pandemi ­Covid-19 yang mengharuskan pembelajaran dilaksanakan secara daring. Pembelajaran IPS yang dikenal banyak hafalan mengharuskan guru IPS dengan kreatif menyusun rencana pembelajaran yang baik. Salah satu cara paling efektif untuk menunjang pembelajaran IPS dengan menerapkan literasi digital. Literasi Digital merupakan salah satu keterampilan yang dapat mendukung tercapainya pendidikan yang tepat untuk menunjang pada pembelajaran yang menerapkan keterampilan abad-21. Metode yang digunakan adalah metode pre-eksperimen desain one shot case study. Penelitian ini melibatkan guru IPS dan siswa sekolah menengah pertama. Literasi digital yang dipenerapankan memuat materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kelas VII sekolah menengah pertama. Kesimpulannya, penerapan literasi digital dalam pembelajaran IPS pada masa pandemi Covid-19 ini cocok diterapkan pada siswa kelas VII, karena kesulitan siswa dalam mengahafal materi IPS melalui pemanfaatan literasi digital.
National Agency For Counter-Terrorism Strategy In Preventing The Threat Of Violent Extremism To Support The National's Defense Nugraha, Cahya Agung; Kurniadi, Anwar
Edukasi IPS Vol. 6 No. 1 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.01.03

Abstract

Violent extremism is an asymmetric threat that can have an impact on the country's defense in Indonesia. The Strategy of BNPT is one of the efforts to prevent the problem. The aim of the study is to analyze the strategy of BNPT in preventing the threat of violent extremism as well as its synergy with ministries and institutions to support the country's defense. The method used in this study is a qualitative method by deepening from various sources on the national action plan to prevent violent extremism by BNPT. The theories used are defense concept theory, strategy theory, synergy theory, threat theory, violent extremism theory. The results of this study show that the strategy of BNPT aims to improve the protection of the right to the security of citizens from violent extremism through the establishment of Sekretariat Bersama and the Pokja Pilar I, II, III and Tematik Teams as a means to carry out violence extremism prevention actions through cooperation with ministries, institutions, and local governments. Synergy with Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan through aligning the objectives of each ministry so as to obtain appropriate policies through the release of a guidebook on preventing radicalism and violent extremism in the environment of state-owned enterprises and private companies. On the other hand, synergy with Kementerian Agama Affairs through grounding religious moderation on social media, providing training to Islamic Religious Extension (PAI) and supporting deradicalization programs. Finally, with Kementerian Komunikasi dan Informatika through a creative campaign on social media with BNPT media, namely the Pusat Media Damai   Abstrak Ekstremisme kekerasan merupakan ancaman asimetris yang dapat memberikan dampak terhadap pertahanan negara di Indonesia. Strategi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menjadi salah satu upaya dalam mencegah permasalahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dalam mencegah ancaman ekstremisme kekerasan serta sinerginya dengan kementerian dan Lembaga guna mendukung pertahanan negara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan pendalaman dari berbagai sumber mengenai rencana aksi nasional pencegahan ekstremisme kekerasan yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Teori yang digunakan adalah teori konsep pertahanan, teori strategi, teori sinergi, teori ancaman, teori ekstremisme kekerasan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa strategi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme bertujuan untuk meningkatkan perlindungan hak atas rasa aman warga negara dari ekstremisme kekerasan melalui pembentukan Sekretariat Bersama serta Tim Pokja Pilar I,II,III dan Tematis sebagai sarana untuk melakukan aksi pencegahan ekstremisme kekerasan melalui kerjasama dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Sinergi dengan Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan melalui menyeleraskan tujuan masing-masing kementerian sehingga mendapatkan kebijakan yang sesuai melalui merilis buku panduan pencegahan radikalisme dan ekstremisme kekerasan di lingkungan badan usaha milik negara dan perusahaan swasta. Di sisi lain, sinergi dengan Kementerian Agama melalui membumikan moderasi beragama di media sosial, memberikan pelatihan kepada Penyuluh Agama Islam (PAI) serta mendukung program deradikalisasi. Terakhir, dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui kampanye kreatif di media sosial bersama media BNPT yaitu Pusat Media Damai.
Eksistensi Peran Organisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dalam Peningkatan Profesionalitas Pendidikan di Kota Bandar Lampung Zulkarnain, Zulkarnain; Mentari, Ana; Salsabilla, Annisa
Edukasi IPS Vol. 6 No. 2 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.02.01

Abstract

The study aims to describe and analyze the structure and function of the MGMP, the MGMP program planning that has been carried out so far, the implementation of MGMP programs during the past year, and the monitoring and evaluation of the implementation of the MGMP. The research method used is a phenomenological qualitative approach. The informants namely teachers who are actively involved in MGMP IPS as many as 8 people with purposive sampling technique. The data collection technique is a structured interview, observation, and documentation. The data analysis technique used is qualitative analysis including data reduction, data presentation, and concluding. The results of the study are as follows: 1) The organization of the MGMP Social Studies working group for Junior High School Teachers in Bandar Lampung City is structurally existing and running quite well; 2) Planning for IPS MGMP activities in Bandarlampung City is made jointly and carried out at the end of every month; 3) The implementation of the Social Studies MGMP program in Bandar Lampung City is scheduled once a month, namely at the end of the month. The material discussed in these activities is under the 2013 curriculum, especially the learning tools and attachments. Also, in the form of an activity program assigned from the Education Office or LPMP Lampung; 4) Monitoring and evaluation of the implementation of the Social Studies MGMP program are mainly carried out by the chairperson and the secretary himself, while from the education office or supervisor and the school principal it is only carried out once a semester; 5) Constraints faced by IPS MGMP activities are the absence of special allocation funds, difficulty in finding expert resource persons, and the low participation of teachers in MGMP activities due to the different timing and schedule of teaching and learning activities.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mendeskripsikan dan menganalisis struktur dan fungsi MGMP, perencanaan program MGMP yang selama ini dilakukan, pelaksanaan program-program MGMP selama satu tahun terakhir, serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan program MGMP yang selama ini dijalankan. Metode penelitian yang digunakan  yaitu  pendekatan kualitatif fenomenologis. Sumber data penelitian yaitu guru-guru yang terlibat aktif MGMP IPS sebanyak 8 orang dengan teknik sampling purposif. Teknik pengambilan datanya dengan  wawancara terstruktur observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis kualitatif dengan jalur meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian sebagai berikut: 1) Organisasi kelompok kerja MGMP IPS Guru Sekolah Menengah Pertama di Kota Bandar Lampung secara struktural sudah ada dan berjalan cukup baik; 2) Perencanaan kegiatan MGMP IPS di Kota Bandar Lampung dibuat secara bersama dan dilaksanakan setiap akhir bulan sekali;  3) Pelaksanaan program MGMP IPS di Kota Bandar Lampung dijadwalkan satu kali dalam setiap bulannya yaitu pada akhir bulan. Materi yang dibahas dalam kegiatan tersebut sudah sesuai dengan kurikulum 2013 terutama perangkat pembelajaran dan lampirannya, serta program kegiatan yang ditugaskan dari Dinas Pendidikan atau LPMP Lampung;  4) Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program MGMP IPS utamanya dilakukan oleh ketua dan sekretaris sendiri, sedangkan dari dinas atau pengawas pendidikan dan kepala sekolah hanya dilakukan satu kali tiap satu semester;  5) Kendala yang dihadapi kegiatan MGMP IPS adalah belum adanya dana alokasi khusus, sulit mencari narasumber ahli, dan rendahnya partisipasi guru dalam kegiatan MGMP karena waktu dan jadwal KBM yang berbeda.
Developing 21st Century Skills: Critical Thinking Skills in Case-Based Learning in Social Studies Sujarwo, Sujarwo; Safitri, Desy; Ibrahim, Nurzengky
Edukasi IPS Vol. 6 No. 2 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.02.02

Abstract

The industrial revolution 4.0 that occurred in the 21st century has brought about the needs and challenges of life that are different from the previous century. Changes that occur so quickly and are full of disruption due to the development of information technology require mastery of skills relevant to the needs of the 21st century. One of the skills needed is critical thinking skills. An alternative that can be used in developing critical thinking skills is through case-based blended learning. Through case-based blended learning in social science learning, students can improve their critical thinking skills by seeking and finding knowledge through reality and dynamics in real life, social interaction and collaboration.
Kemampuan Berpikir Spasial Mahasiswa Mata Kuliah Ilmu Perpetaan di Program Studi Pendidikan IPS Kurniawan, Nandi
Edukasi IPS Vol. 6 No. 2 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.02.04

Abstract

Spatial  thinking   is the  ability  to  understand the  context  of  space   and space.  While  the  map  is a  medium as  well as  a  representation of  the context of  space  on  the  earth's surface.  So  having  the  ability  to  think spatially  allows map readers to visualize and analyze  spatial relationships between objects on  the  earth's surface.  This study  aims  to  measure the ability to think spatially  in students who have  taken  a course  in mapping science.  The  research was  carried  out  in the  Social  Sciences  Education Study   Program  with  a  sample  of  25  students.  The  method  used   is descriptive  with  data   collection  in  the  form  of  spatial   thinking   ability tests.  The results  showed that  students who passed the  mapping science course  had  varied  understandings and  abilities.  The  overall  test  results showed 20%  of  students had  very  good scores,  24%  of  students had good grades, 32% of students had  poor  grades and  24% of students had very  poor grades. In conclusion,  the  mapping science   course   has  not maximally produced students' spatial  thinking skills.    Abstrak Berpikir spasial  merupakan kemampuan dalam  memahami konteks ruang dan keruangan. Sedangkan peta  adalah media  sekaligus  representasi dari konteks ruang  dipermukaan bumi.  Maka  dengan memiliki  kemampuan berpikir  spasial  memungkinkan pembaca peta  dapat memvisualisasikan dan   menganalisis  hubungan   spasial   antar    objek   permukaan  bumi. Penelitian  ini  bertujuan  untuk   mengukur  kemampuan  berpikir   spasial pada  mahasiswa yang   telah   mengikuti  mata   kuliah   ilmu  perpetaan. Penelitian dilaksanakan di Program studi  Pendidikan ilmu  pengetahuan sosial  dengan sampel  25  mahasiswa.  Metode  yang  digunakan adalah deskriptif   dengan pengumpulan  data   berupa tes  kemampuan berpikir spasial.  Hasil  penelitian menunjukan mahasiswa yang  lulus  pada mata kuliah ilmu perpetaan memiliki pemahaman dan  kemampuan yang bervariasi. Hasil tes secara  keseluruhan menunjukan 20% mahasiswa memiliki nilai sangat baik, 24% mahasiswa memiliki nilai baik, 32% mahasiswa  memiliki  nilai  kurang   dan   24%  mahasiswa  memiliki  nilai kurang  sekali. Kesimpulannya  mata  kuliah  ilmu perpetaan belum  secara maksimal  membentuk kemampuan berpikir spasial  pada mahasiswa.
Perbedaan Efektivitas Model Pembelajaran Social Action Berbasis Creative Pedagogy dan Project Based Learning untuk Meningkatkan Kompetensi Kewirausahaan: Studi di SMP N 1 Pakem Sleman DIY Widiastuti, Anik; Supriatna, Nana; Disman, Disman; Nurbayani, Siti
Edukasi IPS Vol. 6 No. 2 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.02.03

Abstract

Entrepreneurial competence is one of the important competencies to master as one of the keys to preparing a generation that is ready to face the challenges of the 21st century. The importance of entrepreneurial competence has not been fully realized to be integrated into learning and has not been matched by the use of learning models that lead to strengthening entrepreneurial competence in students. This study aims to determine the differences in the effectiveness of Social Action models based on Creative Pedagogy and Project Based Learning to increase entrepreneurial competence. This research is an experimental research pre test-post test control group design. The research respondents were SMP 1 Pakem Sleman DIY students with a total of 32 students in class A as the experimental class and 32 students in class D as the control class who were selected by purposive sampling technique. Data collection techniques using tests, questionnaires, and observation sheets. The results of the study show that the Social Action model based on Creative Pedagogy is more effective in increasing social-creativepreneurship competencies   Abstrak Kompetensi kewirausahaan merupakan salah satu kompetensi penting untuk dikuasai sebagai salah satu kunci menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan abad 21. Pentingnya kompetensi kewirausahaan belum sepenuhnya disadari untuk diintegrasikan dalam pembelajaran dan belum diimbangi dengan penggunaan model pembelajaran yang mengarahkan pada penguatan kompetensi kewirausahaan pada diri peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan keefektifan model Social Action berbasis Creative Pedagogy dan Project Based Learning untuk meningkatkan kompetensi kewirausahaan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen pre test-post test control group design. Responden penelitian adalah peserta didik SMP 1 Pakem Sleman DIY dengan jumlah 32 peserta didik kelas A sebagai kelas eksperimen dan 32 peserta didik kelas D sebagai kelas kontrol yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket, dan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Social Action berbasis Creative Pedagogy lebih efektif meningkatkan kompetensi social-creativepreneurship.
Trend Bebas Anak (Child Free) di Kalangan Pasangan Milenial di Kecamatan Pancoran Mas Depok Jawa Barat Fillaili, Natasya; Martini, Martini
Edukasi IPS Vol. 7 No. 1 (2023): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.007.01.05

Abstract

This study aims to determine the cause of the selection of Child Free decisions that occurred in the people of Pancoran Mas District, Depok, West Java. The research method used in this study is a qualitative method. Researchers conducted interviews with the perpetrators of Child Free totaling 4 couples as well as parents and relatives of the perpetrators. The results of this study indicate that the factors that cause the selection of Child Free decisions among post-married millennial couples consist of internal factors and external factors. Internal factors, such as factors of unpreparedness to have children, health factors, personal factors. While external factors are economic factors and parental factors. To maintain Child Free commitment, couples often do Quality Time, good communication and planning for the future so that life is more focused. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab pemilihan keputusan Child Free yang terjadi pada masyarakat Kecamatan Pancoran Mas Depok Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Peneliti melakukan wawancara dengan para pelaku Child Free berjumlah 4 pasangan serta orang tua dan kerabat pelaku. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor faktor yang menyebabkan terjadinya pemilihan keputusan Child Free dikalangan pasangan milenial pasca menikah terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu seperti, faktor ketidaksiapan untuk memiliki anak, Faktor kesehatan, Faktor Pribadi. Sedangkan faktor eksternal yaitu Faktor ekonomi dan faktor orang tua. Untuk tetap menjaga komitmen Child Free para pasangan sering melalukan Qiality Time, komunikasi yang baik hingga merencanakan masa depan agar kehidupan lebih terarah.
Penerapan Round Club untuk Meningkatkan Hasil Belajar Ekologi Sosial Safitri, Desy
Edukasi IPS Vol. 6 No. 2 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.02.05

Abstract

This study aims to determine the application of round clubs to improve social ecology learning outcomes.  The method used in this study is action research with several cycles / rounds. The design of this study consists of 4 stages: (1) planning (2) action (3) observation (4) reflection. The result of this study was that there was an increase in the average value of learning outcomes from 58.4 in the first cycle to 80.3 in the second cycle. As for creative thinking, students in the application of round clubs as a learning model in the Social Ecology Course increased from 74% in the first cycle to 89% in the second cycle. The implication is that the application of this round club can be used as an alternative in learning Social Ecology Courses and can improve students' creative thinking.    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan round club untuk meningkatkan hasil belajar ekologi sosial.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research) dengan beberapa siklus/putaran. Disain penelitian ini terdiri dari 4 tahap: (1) perencanaan (2) tindakan (3) pengamatan (4) refleksi. Hasil penelitian ini adalah terdapat peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dari 58,4 pada siklus pertama menjadi 80,3 pada siklus kedua. Sedangkan  untuk berpikir kreatif mahasiswa  pada penerapan round club sebagai model pembelajaran pada Mata Kuliah Ekologi Sosial mengalami peningkatan  dari  74% pada siklus pertama menjadi 89% pada siklus kedua. Implikasinya adalah bahwa penerapan round club ini dapat dijadikan alternatif dalam pembelajaran Mata Kuliah Ekologi Sosial dan dapat meningkatkan berpikir kreatif mahasiswa.
Sistem Ekonomi Liberal pada Masa Kolonial di Pedesaan Tri Sela Andani; Saputra, Muhammad Ridho; Ekwandari, Yustina Sri
Edukasi IPS Vol. 6 No. 2 (2022): EDUKASI IPS
Publisher : Program Studi Pendidikan IPS Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/EIPS.006.02.06

Abstract

In 1870 was a final stage of forced cultivation. An important law was passed that year, namely the agrarian lawa, wich was to regulate private entrepreneurs in acquiring land. And also issued sugar law that regulates the transfer of sugar companies into the hands of the private sevctor. With the end of this forced cultivation, then the implementation in Indonesia of a liberal colonial politics or liberal economy. The liberal economic system is an economic system wich in its implementation gives freedom to its people so that they can carry out economic activities or can run a business and will get as much profit as possible. This liberal economic system also highly upholds ownership rights to an individual and in market competition. With the liberation of economic life from all interventions to promote government and eliminate coercive elements of economic life the economic development of the Duts East Indies. This liberal era led to deeper economic penetration into the life of Indonesia society, especially in Java. The Javanese indigeneous people began to lease land to private Dutch parties.     Abstrak Pada tahun 1870 merupakan sebuah tahapan akhir dari adanya tanam paksa. Undang-undang penting disahkan pada tahun itu, yaitu undang-undang agrarian, yaitu untuk mengatur para pengusaha swasta untuk mendapatkan tanah. Dan juga dikeluarkannya hukum gula yang mengatur pengalihan perusahaan gula ketangan para swasta. dengan aberakhirnya tanam paksa ini, kemudian diterapkannya di Indonesia sebuah politik kolonial liberal atau ekonomi liberal. Sistem ekonomi liberal merupakan sebuah sistem ekonomi yang dimana dalam pelaksanaanya memberikan sebuah kebebasan terhadap masyarakatnya agar dapat melakukan aktivitas ekonomi atay dapat menjalankan usaha dan akan mendapatkan keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Sistem ekonomi liberal ini juga sangat menjunjung tinggi hak kepemilikan pada suatu individu dan dalam persainagn pasar. Dengan adanya pembebasan kehidupan ekonomi dari segala intervensi untuk mempromosikan pemerintah dan menghilangkan unsur-unsur koersif kehidupan ekonomi perkembangan ekonomi Hindia-Belanda. Pada era liberal ini menyebabkan penetrasi ekonomi yang lebih dalam kedalam kehidupan pada masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa. Para masyarakat penduduk pribumu Jawa mereka mulai menyewakan tanah kepada pihak swasta Belanda.