cover
Contact Name
Ali Usman
Contact Email
ali.usman@uin-suka.ac.id
Phone
+628122957493
Journal Mail Official
afi@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Jalan Marsda Adisucipto, Papringan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Refleksi: Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
ISSN : 14119951     EISSN : 25484745     DOI : https://doi.org/10.14421/uin-suka.refleksi
Refleksi adalah jurnal filsafat dan pemikiran Islam. Fokus dan ruang lingkup dari jurnal ini adalah Filsafat Islam, Kalam (Teologi Islam), dan Tasawwuf (Sufisme).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 151 Documents
Epistimologi Burhani Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd : Studi Komparasi Niki Sutoyib; Achmad Khudori Soleh
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23. No. 2 (2023): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v23i2.5118

Abstract

Dalam penelitian ini nantinya akan menganalisis pemikiran Al-Ghazali berasal dari golongan Timur dan Ibnu Rusyd berasal dari golongan Barat tentang logika (Burhani), yang mana memiliki perbedaan antara kedua tokoh tersebut menyangkutkan tentang epistimologi burhaninya, menurut pandangan Al-Ghazali wahyu itu memiliki kredibilitas yang pasti dibandingkan dengan akal, karena wahyu bersumber dari tuhan, nah disini Ibnu Rusyd berpandanganbahwa wahyu dan rasional itu saling melengkapi satu sama lain, karena tanpa rasional akal wahyu tidak akan dapat di pahami. Tujuan penelitian ini memberikan jawaban secara ilmiah tentang pemikiran kedua tokoh tersebut dalam hal filsafat Islam, serta memberikan bacaan refleksi untuk khalayak masyarakat secara umum. Metode yang digunaka dalam penelitian ini adalah (Library Research). Hasil dari penelitian ini menghasilkan empat model paradigma, 1) mengenai penjabaran epistimologi burhani baik mengenai sumber, metode dan verifikasinya, 2) pemikiran burhani menurut pendangan al-ghazali baik mengenai sumber, metode, verifikasi dan kedudukan wahyu, 3) pemikiran burhani menurut Ibnu Rusyd baik mengenai sumber, metode, verifikasi dan kedudukan wahyu, lalu akan di sajikan mengenai epistimologi kedua tokoh tersebut baik persaman dan perbedaan yang menyangkut dalam ranah epistimologi burhani, serta kedudukan akal tersediri dalam perspektif kedua tokoh tersebut.
Konsep Pemimpin Ideal dalam Pemikiran Al-Farabi dan Al-Mawardi Pangesti, Hestyana Widya; Muthiullah; Rahmat Hidayat
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23. No. 2 (2023): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v23i2.5203

Abstract

Problematika tentang pemimpin ideal sudah ada sejak dahulu yang berlangsung dari zaman ke zaman. Berbagai kriteria dimunculkan untuk mewujudkan pemimpin yang ideal dalam suatu negara. Al-Farabi dan Al-Mawardi adalah dua konseptor yang telah merusmuskan konsep pemimpin ideal. Keduanya memiliki kesamaan dan perbedaan dalam mencantumkan kriteria pemimpin Ideal, meskipun keduanya hidup di bawah Dinasti yang sama. Penelitian ini adalah kualitif dengan pendekatan studi pustaka (Library Research). Data dikumpulkan dengan membaca buku primer Al-Madinah Al-Fadilah milik Al-Farabi dan Al-ahkam Al-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi. Fokus penelitian adalah mengkaji konsep kepemimpinan Al-Farabi dan Al-Mawardi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan pemikiran Al-Farabi dan Al-Mawardi dalam mencatumkan kriteria pemimpin yaitu memilik tubuh dan pancaindera yang sehat dan lengkap, akal dan ilmu pengetahuan, akhlak dan budi pekerti, keberanian dalam membela negara. Perbedaannya ada pada kerincian syarat Al-Farabi yaitu tuturan yang baik dan jujur dan menjauhi kenikamatan dunia sedangkan Al-Mawardi yaitu bersuku Quraisy dan memiliki keseimbangan seluruh kriteria. Hasil lainnya Al-Farabi cenderung menyeimbangan hubungan vertikal dan horizontal pada konsep pemimpin idealnhya sedangkan Al-Mawardi lebih mengutamkan hubungan vertikal dari pada hubungan horizontal dalam prinsip pemimpin idealnya. Kata Kunci: Pemimpin Ideal, Al-Farabi, Al-Mawardi
Reconception of Environmental Ethics in Islam: A Review of the Philosophy and Applications of Husein Nasr's Thought Syihabuddin, Muhammad; Kirwan
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23. No. 2 (2023): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v23i2.5228

Abstract

Wacana mengenai krisis dan etika lingkungan sangat penting untuk dikaji lebih mendalam. Hal ini karena kajian tersebut tidak pernah berhenti hanya sekedar konsep belaka dan selalu diperdebatkan. Tujuan tulisan ini ingin memahami gagasan Husein Nasr mengenai konsep etika lingkungan dalam bingkai ajaran tasawuf Islam (ekosufisme), aplikasi penerapan pemikiran Nasr, hingga gagasan filsafat etika lingkungan yang inklusif dan berkelanjutan. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan literatur berbasis deskriptif kualitatif berlandaskan teori atas pemikiran Husein Nasr mengenai Manusia, Tuhan, dan Alam. Adapun pengumpulan data dengan cara mengumpulkan beberapa teks-teks yang sesuai dengan topik yang dibahas berupa artikel dan buku dan dianalisis dengan teknik analisis keyword, abstrak, dan hasil atau kesimpulan pada sumber yang serupa. Hasil yang ditemukan 3 hal: Pertama, Husein Nasr menawarkan ajaran hubungan antara manusia dengan alam hablun min alam berupa ekosufime sebagai penghantar hubungan harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam. Kedua, secara aplikatif, berupa integrasi antara rekonsepsi dan kesadaran manusia sebagai khalifah fil ardhi untuk menjaga bumi. Terakhir yaitu merekonsepsikan filsafat etika lingkungan yang bersifat inklusif dan berkelanjutan dengan melibatkan para stakeholder berpartisipasi untuk kedaulatan alam. Kata Kunci: Husein Nasr, Ekologi, Ekosufisme, Inklusif
Perdebatan Realisme-Antirealisme dalam Filsafat Agama Kontemporer Khasri, Muhammad Rodinal Khair; Fuad Abdullah Harahap
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23. No. 2 (2023): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v23i2.5396

Abstract

This article starts from the ontological problem in the discourse on the philosophy of religion, namely between the realist and anti-realist poles. The two are differentiated from the way of understanding the world, where realists believe that there is a world that is independent of mind and consciousness (mind-independent world) while anti-realists believe that the world, including perspectives on it, is completely dependent on the intentionality of the subject, so it is only a construction of mind and consciousness. Regarding religion, for realists, religion and its substance truly refer to objective reality, while anti-realists believe that religion is fictitious because it is only a construction of the mind and consciousness, not referring to objective reality. This debate also implies a disagreement between theism and atheism, especially in the context of the ontological status of religion and the epistemic status of religion. This article wants to explain that a believer is definitely a realist. This realist attitude is confirmed through an ontological commitment to the existence of God. However, the semantic construction of divinity is in the domain of mind and consciousness. The object of representation exists in a world independent of the mind, while the content of the representation exists within the influence and determination of the mind. This has consequences for the subject's plurality of meanings of the world. Regarding the theism-atheism dialogue pattern, this article offers a more analytical dialogue pattern, namely dialogue that is not theologically centric. This means that the debate is more directed at how to talk about God, not just about God's existence.
Implikasi Postmodernisme Dalam Masyarakat Kontemporer (Analisis Paradigma Pemikiran Tokoh Jean Francois Lyotard) Erlina, Erlina; Helmi Syaifuddin
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 23 No. 2 (2023): Vol. 23. No. 2 (2023): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v23i2.5270

Abstract

This article aims to investigate the implications of postmodernism in contemporary society by analyzing the paradigm of thought of the figure Jean-François Lyotard. Lyotard is known as one of the leading thinkers in postmodern thought, and this research aims to understand how his idea of skepticism towards grand narratives influences and permeates the structures of power, knowledge, and language in the context of contemporary society. This study uses a qualitative approach with a focus on the analysis of key texts by Jean-François Lyotard, especially "The Postmodern Condition: A Report on Knowledge." Analysis is performed to identify key concepts such as grand narratives, language games, and changes in knowledge structure. In addition, literature studies on the application of these concepts in the context of contemporary society are also involved to support research findings. The research findings suggest that Lyotard's postmodern views have significant implications in contemporary society. Skepticism of grand narratives creates space for narrative plurality, uncertainty of knowledge, and diverse language games. These implications affect power structures by challenging central authority and paving the way for a diversity of values and views. In addition, Lyotard's concepts also had an impact on changes in the way society understood and conveyed knowledge.
Pemetaan Jejak Pengetahuan: Sebuah Catatan Kronologis Epistemologi Islam perspektif al-Jabiri Fazlin, Hani; Hasan, Hamka; N, Abd. Muid
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 24 No. 1 (2024): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v24i1.5357

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk melakukan pemetaan yang cermat terhadap perjalanan dan perkembangan jejak pengetahuan yang telah menjadi bagian integral dari budaya penalaran dalam masyarakat Arab, yang pada gilirannya menjadi pondasi yang kuat dalam pembentukan penalaran dalam Islam secara menyeluruh. Seorang pemikir Islam yang terkenal dari wilayah Maghrib, yaitu al-Jabiri, telah mengembangkan sebuah kerangka pemikiran yang terdiri dari tiga tipologi sistem penalaran yang memengaruhi dan membentuk pengetahuan di kalangan masyarakat Arab tersebut; yakni bayan, ‘irfān, dan burḥān. Penelitian yang disajikan dalam artikel ini merupakan sebuah penelitian kualitatif yang berlandaskan pada sumber data dari penelitian kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menguraikan bahwa keberadaan ketiga sistem penalaran ini adalah hasil dari dinamika pergulatan ideologis-politis yang saling berkompetisi untuk mendominasi, daripada sekadar menjadi sesuatu yang bersifat transformatif. Epistemologi bayan dan ‘irfān hadir dalam keberagaman unsur pra-Islam yang telah meresap dan semakin berakar kuat pada masa kodifikasi dan gerakan penerjemahan. Sementara itu, epistemologi burḥān muncul pada masa kekuasaan Daulah Abbasiyah di bawah kepemimpinan al-Ma’mun, yang diinisiasi dengan tujuan untuk menekan kelompok-kelompok yang menentang negara, khususnya mereka yang berpegang teguh pada pemikiran 'irfān. Historisitas dari ketiga epistemologi ini saling bersilangan dan membentuk pola penalaran yang khas bagi bangsa Arab.
Penafsiran Konsep Kehadiran Tubuh dalam “Fenomenologi Persepsi” karya Merleau-Ponty : Sebuah Studi Literer tentang Signifikansinya dalam Pemahaman Pengalaman Manusia Ayu Noer Afifah
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 24 No. 1 (2024): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v24i1.5364

Abstract

Artikel ini membahas penafsiran konsep kehadiran tubuh dalam salah satu karya utama fenomenologi, yaitu "Phenomenology of Perception" oleh Merleau-Ponty, serta mengulas signifikansi pentingnya dalam memahami pengalaman manusia. Dengan menggunakan pendekatan studi literatur, artikel ini mengeksplorasi latar belakang dan konteks historis konsep kehadiran tubuh dalam pemikiran filosofis. Kerangka pemikiran Merleau-Ponty tentang peran sentral konsep kehadiran tubuh, yang memberikan wawasan mendalam tentang pengalaman manusia, termasuk hubungan antara tubuh, pikiran, dan lingkungan, menjadi sorotan utama. Dengan menganalisis teks utama dan pemikiran sekunder yang relevan, penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam "Phenomenology of Perception," Merleau-Ponty menyoroti konsep kehadiran tubuh yang memengaruhi pandangan kita terhadap pengalaman manusia. Tubuh dianggap sebagai medium yang memfasilitasi pengalaman langsung terhadap dunia, berperan sebagai jembatan antara subjek dan objek. Penafsiran Merleau-Ponty menunjukkan bahwa tubuh tidak hanya menerima stimulus, tetapi juga bertindak sebagai subjek aktif dalam interaksi dengan lingkungan. Kompleksitas hubungan tubuh dengan ruang, waktu, dan kesadaran ditekankan, dan kehadiran tubuh tak terpisahkan dari norma-norma sosial dan budaya yang membentuk identitas dan persepsi manusia. Konsep kehadiran tubuh memiliki signifikansi filosofis yang mendalam dan dampak pada pemahaman manusia secara menyeluruh. Fokus pada peran penting tubuh dalam pengalaman manusia membantu memperluas wawasan kita terhadap manusia sebagai entitas holistik yang melibatkan dimensi fisik, mental, emosional, dan sosial. Penelitian ini tidak hanya menyoroti kompleksitas manusia sebagai makhluk yang merasakan dunia melalui berbagai dimensi terkait, tetapi juga menekankan pentingnya memahami bagaimana tubuh menjadi pusat dalam membentuk persepsi, emosi, dan identitas.
Mengulas Peran Imajinasi dalam Pencarian Kebenaran dan Keyakinan Perspektif Immanuel Kant dan Cornelius Castoriadis Dinar Indah Guniarti; Komarudin Sassi
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 24 No. 1 (2024): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v24i1.5832

Abstract

This research aims to examine the extent to which imagination plays a role in the search for truth and the formation of human beliefs, with a focus on the perspective of Immanuel Kant and Cornelius Castoriadis. Kant, within the framework of his critical philosophy, underscores the central role of imagination in shaping our aesthetic, moral and knowledge experiences. Imagination, for him, is the power of synthesis that connects empirical data with pure concepts of reason. Meanwhile, Castoriadis sees imagination as a creative force that underlies the formation of society and individual identity. Imagination, in Castoriadis's perspective, is the source of all social institutions, values and norms. This study will carry out an in-depth comparison between Kant's and Castoriadis' views regarding the role of imagination. It is hoped that this comparative analysis will reveal the points of contact and differences between the two philosophers, as well as provide a more nuanced understanding of the dynamics of imagination in human life. This research uses a conceptual analysis approach to analyze and compare the ideas of the two philosophers. In this way, it is hoped that it can contribute to philosophical studies regarding epistemology, especially regarding the formation of knowledge and reality. Apart from that, this study is also relevant to the study of social philosophy, because imagination has a central role in the formation of society and collective identity.
Religious Tolerance In Tunisia: Divergent Perspectives Of Thâalbi And Ibn Achour Elmuna, Labib; Khafidin, Amine; Fathurrahman, Luthfi
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 24 No. 2 (2024): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v25i2.6028

Abstract

Studi ini mengeksplorasi pandangan Muhammad Tahir ibn Achour dan Abdelaziz Thâalbi tentang toleransi agama dalam Islam, menganalisis bagaimana pandangan mereka dibentuk oleh konteks sosial-politik dan kerangka intelektual masing-masing. Ibn Achour, sebagai seorang sarjana dan tradisionalis, menekankan toleransi agama sebagai nilai inti Islam, dengan fokus pada penafsiran teks dan pembaruan intelektual untuk mendorong harmoni antaragama. Pendekatannya sejalan dengan tafsir Islam klasik dan konsep Mawashid Syariah, yang mengusung pemahaman yang lebih mendalam terhadap teks-teks agama dalam menghadapi tantangan modern. Sebaliknya, Thâalbi memandang toleransi melalui lensa agenda nasionalisnya, menjadikannya alat untuk memperkuat solidaritas melawan kolonialisme Prancis. Ia menekankan prinsip etika Islam terhadap non-Muslim, namun dalam kerangka politik yang bertujuan untuk kesatuan nasional dan perlawanan terhadap penindasan kolonial. Studi ini menggunakan metode kualitatif komparatif, menganalisis sumber-sumber primer dan sekunder, termasuk karya-karya kedua pemikir dan konteks sejarah mereka. Temuan studi menunjukkan bahwa pendekatan Ibn Achour memberikan kedalaman teologis dan filosofis dalam diskursus toleransi, sementara penerapan toleransi oleh Thâalbi memiliki tujuan politis. Analisis komparatif ini tidak hanya memperdalam pemahaman kita tentang bagaimana kedua pemikir ini menangani tantangan koeksistensi dan keberagaman budaya pada masa mereka, tetapi juga memberikan kontribusi pada perdebatan filosofis yang lebih luas tentang toleransi baik dalam konteks Islam maupun konteks modern.
Telaah Hermeneutika Kritis terhadap Femisida dalam Perspektif Al-Qur'an serta Relevansinya terhadapa Pendidikan Agama Islam abror, indal; Al-Faiz Muhammad Rabbany Tarman; Tri Wulandari
Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam Vol. 24 No. 1 (2024): Refleksi Jurnal Filsafat dan Pemikiran Islam
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ref.v24i1.6029

Abstract

Gender injustice that seems to be legitimized by normative texts is seriously challenged by problems of interpretation. This research is a library research and qualitative. The author focuses on Femicide in the Perspective of the Qur'an: A Critical Hermeneutic Analysis and its Relevance to Islamic Religious Education. Femicide is a criminal act of sadistic murder based on hatred of women committed by men. In the Qur'anic perspective, it is substantially described in four verses, namely QS. al-An'am 6: 137, QS. At-Takwir 81: 8, QS. An-Nahl 16: 59 and QS. This is a historical fact as documented in several Prophetic traditions. Femicide behavior in pre-Islamic times should be reinterpreted according to the times. The word can be understood to mean sadistic behavior such as being mutilated, abused, burned, crushed, and so on. Femicide is relevant to discuss because PAI plays an important role in shaping human values and attitudes. PAI has the potential to be an effective tool in instilling aspects of humanity, justice, and respect for human rights, including women's rights.