cover
Contact Name
Nasib Tua Lumban Gaol
Contact Email
nasib.t.lumbangaol@gmail.com
Phone
+6285362996917
Journal Mail Official
junssihotang@iakntarutung.ac.id
Editorial Address
Kampus I : Jalan Pemuda Ujung No. 17 Tarutung Kampus II : Jalan Raya Tarutung-Siborongborong KM 11 Silangkitang Kec.Sipoholon Kab. Tapanuli Utara
Location
Kab. tapanuli utara,
Sumatera utara
INDONESIA
Jurnal Christian Humaniora
ISSN : 25986317     EISSN : 25991965     DOI : 10.46965
Jurnal Christian Humaniora Jurnal Christian Humaniora (JCH) merupakan salah satu media publikasi yang menghimpun karya ilmiah berkaitan dengan ilmu sosial humaniora yang berbasiskan kekristenan. JCH diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Kristen Negeri Tarutung. Dalam satu tahun, JCH menerbitkan 10 artikel pada masing-masing terbitan di bulan Mei dan November. Scope Pendidikan Agama Kristen, Sosiologi Kristen, Manajemen Pendidikan Kristen, Musik Gerejawi, Filsafat Kristen, Psikologi Kristen, Pastoral Konseling, dan Kepemimpinan Kristen.
Articles 179 Documents
Kepemimpinan Hamba Berdasarkan Markus 10:42-45 dan Implementasinya Bagi Guru Pendidikan Agama Kristen Vernando Purba; Andrianus Nababan
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i1.2153

Abstract

A Christian Religious Education Teacher, does not only teach or force people to do God's word. But do it first. A teacher. Christian Religious Education must view that its leadership is the leadership of a servant, and not as a master or boss who only commands. The leadership of Jesus is an example in implementing servant leadership and being a leader who is an example in ministry. Being a Christian Religious Education Teacher who serves, means lowering yourself, taking a place that other people think is inappropriate. For a Christian Religious Education teacher, he should have the principle that his leadership is a leader who serves and not to be served. Just like Jesus who came into the world taking the form of a servant to serve. A Christian Religious Education Teacher has the initiative that is born from within to serve, has a self-sacrificing attitude. Willing to sacrifice means setting aside personal interests for the common good. These things become benchmarks that can be applied by servant leaders.
Dinamika Apologetika: Suatu Upaya Pertanggungjawaban Iman Kristen Warseto Freddy Sihombing; Nursalina Sihombing; Sri Agustina Manalu; Irfan Manik
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i1.2194

Abstract

Apologetika Kristen adalah suatu cabang ilmu sistematis yang mempertahankan dan menjelaskan iman dan kepercayaan Kristen. Orang yang ahli dalam bidang ilmu ini disebut sebagai apologis Kristen, tetapi sebenarnya setiap orang Kristen adalah apologet kristen. Apologetika adalah suatu ilmu terapan dalam kaitannya dengan pembelaan iman Kristen yang dalam agama Kristen, pembelaan intelektual terhadap kebenaran agama Kristen biasanya dianggap sebagai cabang teologi. Dalam kalangan Protestan, apologetika dapat dibedakan dari polemik, di mana keyakinan gereja Kristen tertentu dipertahankan. Akan tetapi, umat Katolik Roma menggunakan istilah tersebut untuk mengartikan pembelaan terhadap ajaran Katolik secara keseluruhan dan menyamakan apologetika dengan teologi fundamental. Apologetika dimengerti sebagai ilmu mengenai pembelaan iman Kristen yang berusaha untuk menjawab pernyataan sikap dari para skeptisisme yang meragukan keberadaan Allah atau menyerang kepercayaan kepada Allah yang terdapat dalam Alkitab. Dengan metode kualitatif, penulis meneliti bagaimana tindakan pembelaan iman ini dapat ditunjukkan juga kepada pemeluk agama yang lain, aliran kristen liberal yang lain, orang kristen sendiri yang ragu-ragu terhadap kebenaran Alkitab. Praktik apologetika diperlukan dalam kaitan mempertanggungjawabkan iman dan menghindari bahaya murtad.
Pelajar Pancasila Sebagai Motor Toleransi di Sekolah Hernita Purba; Bina Idola Siahaan; Tiur Imeldawati; Goklas J. Manalu
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i1.2143

Abstract

It is necessary for the younger generation to know that around us, namely in the country of Indonesia, echoes of religious moderation have been voiced in various places. Even in the practice of daily life, moderate life needs to be demonstrated by society. One clear example is the existence of a church that is side by side with a mosque, we are also friends with people of different religions from ours, and there are many other things about tolerance. However, it is not uncommon for us to meet in a formal school environment where students' character is formed for the first time, there are still students who are intolerant of other religions. Like what happened at SMAN 6 Depok, where the chairperson who was elected came from a non-Muslim student, but because the person did not accept it, a vote was held again, this happened last November 2020. But, even though many do not maintain tolerance between religious communities, there are still many groups who accept these differences, such as for example the St. Francis Xavier Catholic High School on the NTT route. Where the student council president of the school is a student from the Muslim religion. This is an alarm that needs to be watched out for, and shows that awareness is needed to have a more moderate religious life, and students in this country can become the driving force for tolerance in their respective schools. Every human being has the basic right to determine the choice of belief he wants to hold. For this reason, as educators it is necessary to build a strong sense of tolerance within students to prevent radicalism among students. This research aims to provide understanding and invite Pancasila students to be able to implement attitudes and a high sense of tolerance for anyone. Perlu untuk generasi muda ketahui bahwa di sekitar kita tinggal yaitu di negara Indonesia ini gaung moderasi beragama sudah disuarakan di berbagai tempat. Dalam praktik kehidupan sehari-hari pun kehidupan moderat perlu ditunjukkan oleh masyarakat. Salah satu contoh nyata adanya gereja yang berdampingan dengan masjid, kita juga berteman dengan orang yang berbeda agama dengan agama kita, dan ada banyak hal tentang toleransi lainnya. Namun, tidak jarang pula kita jumpai di lingkungan sekolah formal di mana karakter siswa dibentuk untuk kali pertama, masih saja ada pelajar yang bersikap intoleran terhadap agama lain. Seperti halnya yang telah terjadi di SMAN 6 Depok, di mana ketua yang terpilih berasal dari siswa non-muslim, tetapi karena oknum yang tidak terima maka diadakan voting (pengambilan suara) kembali, ini terjadi pada  November 2020 lalu. Tapi, meskipun banyak yang tidak memelihara toleransi antar umat beragama, masih banyak juga kaum-kaum yang menerima perbedaan itu, seperti contohnya SMA Katolik Santo-Fransiskus Xaverius di Rute NTT. Di mana Ketua OSIS dari sekolah tersebut adalah seorang siswi dari agama Muslim. Hal ini menjadi alarm yang perlu diwaspadai, dan menunjukkan bahwa diperlukannya kesadaran untuk memiliki kehidupan beragama yang lebih moderat, dan pelajar di negeri ini bisa menjadi motor penggerak toleransi di sekolah masing-masing. Setiap manusia memiliki hak asasi untuk menentukan pilihan keyakinan yang ingin dipegang. Untuk itu, sebagai pendidik perlu untuk membangun rasa toleransi yang teguh dalam diri pelajar untuk mencegah radikalisme di kalangan pelajar. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman serta mengajak para pelajar pancasila agar dapat mengimplementasikan sikap dan rasa toleransi yang tinggi bagi siapa pun.
Studi Komparasi Matius 7:24-27 dan Filosofi Batak “Ijuk di Para-para, Hotang di Parlabian, Na Bisuk Nampuna Hata, Naoto tu Panggadisan” Andar Gunawan Pasaribu
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i1.2123

Abstract

Abstract:Implications of Matthew 7:24-27 and the Batak Ijuk Philosophy in para, hotang in parlabian na bisuk nampuna hata, naoto tu Pangadisan, a Batak philosophy in an educational approach to building a golden generation. The method used is a qualitative method of implicative analysis. The results obtained are that with the implications of Matthew 7:24-27 and the Batak Ijuk philosophy in para, hotang di parlabian na bisuk nampuna hata, na oto tu pangirlan builds a generation ema is with an educational approach: fear of God, in a humanist approach, nurturing, forgiving, protecting and supporting approach.Keywords: implications of Matthew 7:24-27, philosophy of Batak, golden generation Abstrak:Implikasi Matius 7:24-27 dan Filosofi Batak Ijuk di para para, hotang di parlabian na bisuk nampuna hata, naoto tu Pangadisan, suatu filosofi Batak dalam Pendekatan Penddikan Membangun suatu generasi emas. Metode yang dipakai ialah metode kualitatif analisis implikatif. Hasil yang didapat bahwa dengan implikasi Matius 7:24-27 dan filosfi Batak Ijuk di para para, hotang di parlabian na bisuk nampuna hata, na oto tu pangadisan  membangun suatu generasi emas ialah dengan pendekatan Pendidikan: Takut akan Tuhan, di dalam pendekatan humanis, pendekatan mengayomi, mengampuni, melindungi dan menyokong.Kata Kunci: implikasi matius 7:24-27, filosofi batak, generasi emas
Restorasi Pendidikan Dalam Bingkai Moderasi Beragama Ditinjau Dari Perspektif Pendidikan Agama Kristen Jublina Mageritha Haning; Nelson Neno; Stenly Reinal Paparang
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i1.2248

Abstract

Berbagai penyimpangan yang terjadi pada masa sekarang telah mempengaruhi kehidupan umat manusia secara luas, seperti perilaku-perilaku intoleransi yang masih dianut oleh sebagian kelompok tertentu. Sehingga tujuan dalam pembuatan artikel ini adalah memberikan edukasi yang baik kepada setiap orang tentang bagaimana menjalani kehidupan yang semestinya dalam konteks moderasi beragama. Hasil dari penelitian ini adalah menyatakan bahwa pendidikan agama Kristen dapat dijadikan sebagai sebuah perspektif yang efektif dalam kehidupan meoderasi beragama. Pendidikan Kristen memberikan penekanan dalam pengajarannya bahwa orang harus mampu menunjukkan kualitas hidupnya ditengah lingungan yang pluralitas. Orang mampu menjadi contoh dan teladan yang baik bagi sesamanya. Tentu saja penting untuk diketahui juga yaitu pendidikan agama Kristen secara esensi berpusat pada kebenaran Alkitab. Alkitab sendiri secara holistik membicarakan tentang penyataan-penyataan Allah yang la nyatakan bagi kehidupan umat-Nya. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen harus menyadari akan eksistensi Allah yang kekal.
Penerapan Field Trip Pada Mata Kuliah Peminatan Usaha Perhotelan: Studi Persepsi Mahasiswa Prodi Pariwisata Budaya dan Keagamaan Yulia K.S Sitepu
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i1.2203

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi mahasiswa tentang penerapan field trip pada mata kuliah Peminatan Usaha Perhotelan di Semester VI TA. 2022/2023 yang berjumlah 44 mahasiswa pada Prodi Pariwisata Budaya dan Keagamaan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Kristen IAKN Tarutung. Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa penerapan fieldtrip cukup bermanfaat untuk diterapkan pada mata kuliah Peminatan Usaha Perhotelan. Selanjutnya dapat dipertimbangkan kembali tentang penerapannya.
Berita Keselamatan dan Pengenapannya Dalam Diri Yesus Kristus Telaumbanua, Eli Adil
Jurnal Christian Humaniora Vol 6, No 2 (2022): November 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v6i2.2270

Abstract

Memahami doktrin keselamatan menentukan pandangan dan kehidupan setiap orang. Doktrin keselamatan perlu dipahami karena merupakan doktrin penting dalam pengajaran Kristen. Untuk memahami keselamatan membutuhkan interprestasi yang benar akan nilai-nilai pengajaran Firman Tuhan. Seluruh berita Injil tidak lain adalah berita keselamatan orang berdosa melalui penebusan darah Kristus. Penelitian ini berjudul keselamatan dan pengenapannya dalam diri Yesus  Kristus, mencoba membahas  bagaimana usaha manusia dan inisiatif Allah supaya manusia selamat dari ikatan, belenggu kehidupan, yang membuat manusia cemas, frustasi dan menderita berbagai-bagai tekanan jiwa dan mental, terlebih  yang diakibatkan oleh dosa, pelanggaran dan pemberontakan terhadap kewibawaan Allah. Keselamatan itu apa, apakah keselamatan adalah hasil dari upaya manusia dan bagaimana orang mencapai keselamatannya? Untuk mengkaji penelitian ini, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan fokus kajian pustaka. Mengkaji pandangan keselamatan secara umum dan tidak menggunakan statis namun dengan menonjolkan kualitas atau kedalaman dari data yang diperoleh dari sumber yang berhubungan dengan penelitian. Dengan hasil; segala usaha manusia untuk memperoleh keselamatan sia-sia karena mereka berasal dari dalam dunia dan sama-sama orang berdosa. Keselamatan adalah inisiatif Allah yang digenapi dengan kedatangan Yesus Kristus Anak Allah sebagai “perantara” atau “mediator” antara Allah dan manusia.
Kekristenan dan Sistem Sekolah sebagai Ruang Antara dan Titik Tolak Intelektual Awal Batak Purba, Dian; Siagian, Albiner
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 2 (2023): November 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i2.2347

Abstract

Menggunakan pendekatan sejarah, penelitian ini menelisik hubungan kekristenan dan kemunculan intelektualisme dan intelektual orang Batak pertama di Tarutung. Penelitian ini menggunakan arsip sejarah, koran, majalah sezaman dan juga biografi untuk  menggambarkan dinamika perkembangan sekolah zending dan juga sekolah di luar zending di Tarutung. Penelitian ini juga memaparkan peran sentral pembukaan perkebunan di Sumatra Timur dan juga ketidakpuasan orang-orang Tarutung dengan sistem sekolah yang dikembangkan zending sebagai alasan mereka pergi merantau. Semua dinamika itu diuraikan dengan menggunakan dua tokoh terkenal yang pernah bersekolah di Tarutung, yakni TB Simatupang dan Sitor Situmorang. Penelitian ini berkesimpulan pendidikan memainkan peran sangat penting memperkenalkan orang Batak dengan hamajuon (modernitas) dan intelektualisme.
Teologi Praktis Dalam Gereja Untuk Mewujudkan Moderasi Agama Berdasarkan Matius 5:13-16 Ndruru, Beriaman; Bilo, Dyulius Thomas; Hia, Yeremia
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 2 (2023): November 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i2.2366

Abstract

Konflik umat beragama di Indonesia menjadi tantangan yang pelik dalam membangun keutuhan dan kesatuan wawasan bangsa. Dewasa ini, tidak jarang terjadihnya praktik keagamaan yang bersifat eksklusif yang melahirkan radikalisme dan fanatisme. Bahkan rawan terjadi diskriminatif dari kebanyakan kelompok terhadap minoritas. Artikel ini untuk menanggapi tantangan yang ada dengan menawarkan gagasan yang bersifat deradikalisasi. Salah satu cara yang ditempuh adalah mewujudkan moderasi beragama yang baik ditinjau dari prepektif pembelajaran agama kristen. Metode ini mengejawatahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan serta membangun kebaikan universal yang berlandaskan prinsip adil, berimbang serta menaati konstitusi konvesi berbangsa. Moderasi beragama harus dipahami sebagai tanggungjawab bersama dalam menjaga keseimbangan yang paripurna. Dengan harapan bahwa semua suku, etnis, budaya, agama dan pihak politik hendaknya saling mendengarkan satu dengan yang lain serta belajar mengendalikan dan meluluh lantakkan perbedaan di antara mereka. Riset ini ditulis menggunakan pendekatan studi kepustakaan. Bersumber pada hasil kajian, peran hamba Tuhan dalam mewujudkan moderasi beragama dengan meningkatkan perilaku saling mengasihi, meningkatkan perilaku saling tolong membantu, serta meningkatkan perilaku saling menghargai perbedaan. Kesimpulan akhir dari artikel ini adalah bahwa esensi peran Hamba Tuhan sangat penting. Peran ini mempunyanyi nilai simbiosis mutualisme terhadap bangsa dalam mewujudkan moderasi beragama yang baik di Indonesia.
Reintegrasi Harmonisasi Sosial Melalui Upacara Adat Merbayo di Tengah Keberagaman Bagi Suku Pakpak Boang Manik, Sonia Shindy A.; Silalahi, Mery; Simbolon, Rusmauli; Lase, Sudirman; Simbolon, Jupalman Welly
Jurnal Christian Humaniora Vol 7, No 2 (2023): November 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Tarutung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46965/jch.v7i2.1524

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan reintegrasi harmonisasi sosial melalui upacara adat merbayo di tengah keberagaman masyarakat Pakpak Boang yang ada di kecamatan Gunung Meriah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori solidaritas, teori konflik dan teori reintegrasi. Penelitian ini dilakukan di beberapa desa yang terdapat di kecamatan Gunung Meriah, di antaranya desa Sukamakmur, desa Sanggaberu Silulusan, desa Blok 15 dan desa Blok 18. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upacara adat merbayo merupakan salah satu cara untuk dapat merajut kembali harmonisasi sosial masyarakat Pakpak Boang yang ada di kecamatan Gunung Meriah. Melalui banyaknya tahapan-tahapan di dalam upacara adat merbayo mendukung dalam proses mengembalikan atau menyatukan kembali harmonisasi sosial masyarakat, setelah adanya perseteruan-perseteruan akibat pembongkaran dan pembakaran gereja yang terjadi di kecamatan Gunung Meriah pada tahun 2015 silam.