cover
Contact Name
Erni Yusnita Lalusu
Contact Email
jurnalkesmas.untika@gmail.com
Phone
+6285298735414
Journal Mail Official
jurnalkesmas.untika@gmail.com
Editorial Address
Jl. Dewi Sartika, No. 67 Luwuk-Banggai, Sulawesi Tengah
Location
Kab. banggai,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
ISSN : 20863772     EISSN : 26208245     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal adalah media publikasi ilmiah yang menyajikan hasil penelitian (research paper) ataupun laporan kasus (case report) di bidang kesehatan masyarakat yang meliputi kajian Epidemiologi, Kesehatan Lingkungan, Administrasi Kebijakan Kesehatan, Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku, Gizi Kesmas, Kesehatan & Keselamatan Kerja, Biostatistik dan Kependudukan, serta kajian ilmiah lainnya.
Articles 94 Documents
Asupan Gizi Balita Stunting di Daerah Pesisir Kecamatan Bualemo Tahun 2022: Nutritional Intake uf Stunting Toddlers in The Coastal Area Bualemo District in 2022 Otoluwa, Anang Samudera; Azmi, Rahimatul
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 14 No. 1 (2023): Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v14i1.151

Abstract

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis pada anak balita yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama. Stunting pada anak disebabkan karena hasil jangka panjang pola konsumsi kronis diet yang memiliki kualitas yang buruk dan diiringi dengan morbiditas, penyakit infeksi, serta masalah lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui asupan gizi balita stunting di daerah pesisir Kecamatan Bualemo tahun 2022. Ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan subjek penelitian yaitu balita stunting usia 12-59 bulan pada daerah lokus stunting di pesisir Kecamatan Bualemo. Sebanyak 47 balita diukur asupan gizi menggunakan recall 24 jam selama tiga kali tidak berturut-turut. Kemudian dianalisis menggunakan program Nutrisurvey, excel 2007, dan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan asupan karbohidrat kurang sebesar 97,9 persen, asupan karbohidrat baik 2,1 persen, asupan protein kurang 42,6 persen, asupan protein baik 34,0 persen, asupan zat besi kurang 83,0 persen, asupan zat besi baik 2,1 persen, asupan zinc kurang 78,7 persen, asupan zinc baik 4,3 persen, asupan kalsium kurang 83,0 persen, asupan kalsium baik 2,1 persen, asupan vitamin D kurang 93,6 persen, dan asupan vitamin D baik 4,3 persen. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa asupan karbohidrat, zat besi, zinc, kalsium, dan vitamin D dalam kategori sangat kurang. Oleh karena itu disarankan perlu dilakukannya sosialisasi kepada orang tua balita tentang upaya pemenuhan gizi balita.  Stunting is a chronic malnutrition problem in children under five caused by lack of nutritional intake for a long time. Stunting in children caused by long-term results of chronic consumption patterns of diets that have poor quality and are accompanied by morbidity, infectious diseases, and environmental problems. The purpose of the study was to determine the nutritional intake of stunting toddlers in the coastal area of Bualemo District in 2022. This study is a descriptive observational study with the subject of the research is stunting toddlers aged 12-59 months in the stunting locus area on the coast of Bualemo District. A total of 47 toddlers were measured for their nutritional intake using 24-hour recall for three non-consecutive times. Then analyzed using Nutrisurvey program, excel 2007 , and SPSS. The results of the study obtained low carbohydrate intake (97.9 percents), good carbohydrate intake (2.1percents), less protein intake (42.6 percents), good protein intake (34.0 percents), less iron intake (83, 0 percents), good iron intake (2.1 percents), less zinc intake (78.7 percents), good zinc intake (4.3 percents), less calcium intake (83.0 percents), good calcium intake (2 ,1 percents), low vitamin D intake (93.6 percents), and good vitamin D intake (4.3 percents). From the results of the study, it can be concluded that the intake of carbohydrates, iron, zinc, calcium, and vitamin D is in the very low category. Therefore, it is recommended that there is a need to provide outreach to parents of toddlers about efforts to provide nutrition for toddlers.  
Wanita Hamil dengan COVID-19 dan Hasil Luaran Kehamilan: Tinjauan Literatur : Pregnant Women with COVID-19 and Pregnancy Outcomes: A Literature Review Talib, Suprohaita Rusdi; Eryando, Tris; Safanta, Nurzalia
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v14i2.210

Abstract

Selama masa pandemi COVID-19 ibu hamil menjadi kelompok yang rentan terinfeksi virus COVID-19 (SARS-CoV-2). frekuensi morbiditas ibu hamil dengan diagnosis COVID-19 lebih tinggi dibandingkan ibu hamil tanpa COVID-19. Infeksi COVID-19 diyakini dapat memperburuk kondisi ibu hamil dengan penyakit penyerta yang mengakibatkan morbiditas dan mortalitas lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Penelitian pada ibu hamil dengan penyakit penyerta seperti hipertensi kronis, diabetes, dan komplikasi spesifik kehamilan (pre-eklampsia, eklampsia, dan diabetes gestasional) menunjukkan bahwa komplikasi serius terjadi dan kemungkinan kematian meningkat ketika mereka terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Tinjauan naratif ini bertujuan untuk merangkum informasi terkait pengaruh infeksi COVID-19 pada wanita hamil. Dari 11 tinjauan literatur ditemukan hasil bahwa wanita hamil yang terinfeksi COVID-19 memperbesar risiko komplikasi kehamilan. Wanita hamil yang memiliki penyakit penyerta dan terinfeksi COVID-19 memperberat derajat infeksi. During the COVID-19 pandemic, pregnant women became a group that was vulnerable to infection with the COVID-19 virus (SARS-CoV-2). the frequency of morbidity for pregnant women diagnosed with COVID-19 is higher than for pregnant women without COVID-19. It is believed that COVID-19 infection can improve the condition of pregnant women with comorbidities that cause higher morbidity and mortality compared to the general population. Research on pregnant women with comorbidities such as chronic hypertension, diabetes, and pregnancy-specific complications (pre-eclampsia, eclampsia, and gestational diabetes) shows that serious complications occur and the possibility of death increases when they are infected with Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). This narrative review aims to summarize information regarding the influence of COVID-19 infection on pregnant women. From the literature reviews, it was found that pregnant women infected with COVID-19 increase the risk of pregnancy complications. Pregnant women who have comorbidities and are infected with COVID-19 have an increased degree of infection.
Analisis Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Pekarja Produksi Basah dan Produksi Kering: Analysis of Musculoskeletal Disorders Complaints in Wet Production and Dry Production Workers nopa, entianopa; Marisdayana, Rara; Listiawaty, Renny; Yuliana, Desi
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v14i2.213

Abstract

Keluhan terkait musculoskeletal disorders (MSDS) merupakan salah satu permasalahan yang umum muncul pada pekerja dan dapat mempengaruhi produktivitasnya. Salah satu industri berpotensi besar untuk pekerjanya mengalami penyakit akibat kerja adalah perusahaan karet. Pada aktivitas nya mulai dari pengangkatan dan penurunan karet dilakukan oleh pekerja dengan berat beban tertentu secara terus menerus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko pada pekerjaan yang bagian apa bisa terjadi keluhan musculoskeletal disorders (MSDS). Jenis penelitian ini adalah analitik dan observasional dengan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data primer. Sampel penelitian terdiri dari 55 pekerja yang dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan Kuesioner Nordic Body Mapping (NBM) yang diisi dengan tanya jawab atau wawancara secara langsung. Data dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian didapat variable yang berhubungan dengan keluhan MSDS, masa kerja (p-value 0.02) dan variable factor pekerjaan (p-value 0,001). Perlu dilaksanakan sosialisasi dan Pendidikan aktif bagi pekerja tentang cara bekerja dan sikap kerja yang tepat dengan prinsip ergonomis. Complaints related to musculoskeletal disorders (MSDS) are one of the problems that commonly arise among workers and can affect their productivity. One of the industries with great potential for workers to experience occupational diseases is rubber companies. Activities ranging from lifting and lowering rubber are carried out by workers with a certain weight continuously. The aim of this research is to find out risk factors in work where musculoskeletal disorders (MSDS) complaints can occur. This type of research is analytical and observational with a cross sectional research design using primary data. The research sample consisted of 55 workers selected using simple random sampling techniques. The research instrument used the Rapid Upper Limb Assessment (RULA) questionnaire and the Nordic Body Mapping (NBM) questionnaire which were filled in with questions and answers or direct interviews. Data were analyzed univariately and bivariately with the Chi-Square test. The research results obtained variables related to MSDS complaints, work mass (p-value 0.02) and work factor variables (p-value 0.001). It is necessary to carry out socialization and active education for workers about how to work and proper work attitudes with ergonomic principles.
Asupan Gizi Balita Stunting di Daerah Pesisir Kecamatan Bualemo Tahun 2022: Nutritional Intake of Stunting Toddlers in the Coastal Area, Bualemo District in 2022 Lalusu, Erni Yusnita; Rahimatul Azmi; Otoluwa, Anang Samudera
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v14i2.223

Abstract

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis pada anak balita yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama. Stunting pada anak disebabkan karena hasil jangka panjang pola konsumsi kronis diet yang memiliki kualitas yang buruk dan diiringi dengan morbiditas, penyakit infeksi, serta masalah lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui asupan gizi balita stunting di daerah pesisir Kecamatan Bualemo tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan subjek penelitian yaitu 47 balita stunting usia 12-59 bulan di daerah lokus stunting di pesisir Kecamatan Bualemo. Pengukuran asupan gizi menggunakan metode recall 24 jam. Analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian diperoleh asupan karbohidrat kurang (97,9%), asupan karbohidrat baik (2,1%), asupan protein kurang (42,6%), asupan protein baik (34,0%), asupan zat besi kurang (83,0%), asupan zat besi baik (2,1%), asupan zinc kurang (78,7%), asupan zinc baik (4,3%), asupan kalsium kurang (83,0%), asupan kalsium baik (2,1%), asupan vitamin D kurang (93,6%), dan asupan vitamin D baik (4,3%). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa asupan karbohidrat, zat besi, zinc, kalsium, dan vitamin D dalam kategori sangat kurang. Oleh karena itu disarankan perlu dilakukannya sosialisasi kepada orang tua balita tentang upaya pemenuhan gizi balita yang mengandung karbohidrat, zat besi, zinc, kalsium, dan vitamin D dengan memanfaatkan sumber pangan lokal. Stunting is a problem of chronic malnutrition in children under five which is caused by a lack of nutritional intake for a long time. Stunting in children is caused by the long-term results of chronic consumption patterns of poor quality diets and is accompanied by morbidity, infectious diseases and environmental problems. The aim of the research is to determine the nutritional intake of stunted toddlers in the coastal areas of Bualemo District in 2022. This research is a descriptive observational study with research subjects namely 47 stunted toddlers aged 12-59 months in the stunting locus area in the coastal Bualemo District. Measuring nutritional intake uses the 24 hour recall method. Descriptive data analysis. The results of the study showed that carbohydrate intake was low (97.9%), good carbohydrate intake (2.1%), low protein intake (42.6%), good protein intake (34.0%), low iron intake (83. 0%), good iron intake (2.1%), low zinc intake (78.7%), good zinc intake (4.3%), low calcium intake (83.0%), good calcium intake (2 .1%), vitamin D intake was poor (93.6%), and vitamin D intake was good (4.3%). From the research results it can be concluded that the intake of carbohydrates, iron, zinc, calcium and vitamin D is in the very deficient category. Therefore, it is recommended that there be outreach to parents of toddlers about efforts to fulfill toddler nutrition which contains carbohydrates, iron, zinc, calcium and vitamin D by utilizing local food sources.
Analisis Tarif Pelayanan Kesehatan Di FKTP: Analysis Of Health Services Rates At FLHSF Ispandiyah, Woro; Sri Sularsih Endartiwi; Hendi irawan; Muhammad Danang Fahrur Nur Fuad
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 14 No. 2 (2023): Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v14i2.228

Abstract

Fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP) merupakan pelayanan yang pertama bagi peserta program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pada tahun 2023 pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yaitu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 tentang Standar tarif pelayanan kesehatan dalam penyelenggaraan program jaminan kesehatan. Perubahan peraturan memberikan dampak bagi pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama dalam kegiatan operasionalnya dan penggunaan dana kapitasi pada FKTP. Tujuan adalah menganalisis perubahan peraturan tentang tarif pelayanan yang diimplementasikan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama meliputi Puskesmas, Klinik pratama dan Dokter Praktek perorangan. Metode Studi Kebijakan dengan melakukan analisis terhadap kebijakan standar tarif yang digunakan di FKTP sejak diberlakukannya program jaminan kesehatan yang menghasilkan output terhadap data yang ada, penjabaran dari penemuan hasil kajian. Penelitian dengan pencarian data atau bahan literatur dari peraturan kebijakan tentang tarif pelayanan kesehatan, artikel yang dijadikan suatu landasan dalam isi maupun pembahasan. Hasil penelitianya adanya perubahan Permenkes no 3 tahun 2023 tentang ketentuan tarif pelayanan kesehatan terdapat kenaikan biaya pelayanan dan aturan yang lebih spesifik. Nilai kapitasi yang baru dapat digunakan untuk biaya pembelian obat dan pengadaan bahan habis pakai. Penentuan besaran tarif pelayanan FKTP perlu dilakukan pengkajian selanjutnya dengan memperhatikan rasio kepesertaan, pembiayaan obat-obatan dan wilayah FKTP.First level health service facilities (LFHSF) are the first services for National Health Insurance (NHI) program participants. In 2023, the government issued a new policy, namely Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia Number 3 of 2023 concerning Health Service Tariff Standards in the implementation of health insurance programs. Changes in regulations have an impact on first-level health service providers in their operational activities and the use of capitation funds in FLHSF. The aim is to analyze changes in regulations regarding service rates implemented in first-level health facilities including Community Health Centers, Pratama Clinics and individual practicing doctors. Policy Study Method by analyzing the standard tariff policies used at FLHSF since the implementation of the health insurance program which produces output based on existing data, elaborating on the findings of the study results. Research by searching for data or literature material from policy regulations regarding health service rates, articles that serve as a basis for the content and discussion. The results of the research are changes to Minister of Health Regulation No. 3 of 2023 concerning health service tariff provisions, there are increases in service costs and more specific regulations. The new capitation value can be used for the costs of purchasing medicines and procuring consumables. Determining the tariff for FLHSF services needs to be further studied by taking into account membership ratios, funding for medicines and the FLHSF area. It is hoped that changes to health service tariff regulations at the FLHSF will be able to improve health services.
Hubungan Pengetahuan, Kompetensi Pekerja dan Hazard Communication dengan Manajemen Pengendalian Bahaya Kimia pada Pt. X Balikpapan : Relationship of Knowledge, Worker Competency and Hazard Communication with Chemical Hazard Control Management at Pt. X Balikpapan Maya, Maya Arisanti; Sultan, Muhammad; Baharuddin P, Irfansyah; Lestari, Ida Ayu Indira Dwika
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v15i1.169

Abstract

Bahan Berbahaya dan Beracun menurut OSHA (Occupational Safety and Health Administration) adalah bahan yang karena sifat kimia maupun kondisi fisiknya berpotensi menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia, kerusakan properti dan atau lingkungan dalam pemakaian dan penggunaannya. Maka dari itu dalam penyimpanan, pengelolaan dan penanganannya perlu memperhatikan faktor keamanan dan keselamatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, kompetensi pekerja dan hazard communication dengan manejemen pengendalian bahaya kimia pada PT. Cipta Krida Bahari Balikpapan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional menggunakan sampel responden sebanyak 43 orang. Uji statistik yang digunakan chi-square.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen pengendalian bahaya kimia pada pekerja PT. Cipta Krida Bahari Balikpapan menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 35 orang atau sebesar (81,4%) menyatakan baik dan sebanyak 8 orang atau sebasar (18,6%) menyatakan cukup. Berdasarkan hasil uji analisis menunjukan adanya hubungan antara pengetahuan (p-value = 0.023) > 0.05, kompetensi pekerja (p-value = 0.025) > 0.05, dan hazard communication (p-value = 0.001) > 0.05 dengan manajemen pengendalian bahaya kimia. Kesimpulan penelitian ini adalah adanya hubungan antara pengetahuan, kompetensi pekerja dan hazard communication dengan manajemen pengendalian bahaya kimia pada PT. Cipta Krida Bahari Balikpapan. Perusahaan perlu melakukan peningkatan dari faktor pengetahuan, kompetensi dan hazard communication terkait bahaya kimia di lingkungan kerja untuk meningkatkan kinerja karyawan sehingga manajemen pengendalian bahaya kimia dapat terlaksana dengan maksimal.  Hazardous and Toxic Materials according to OSHA (Occupational Safety and Health Administration) are materials which, because of their chemical properties or physical conditions, can potentially cause disturbances to human health, property damage and or the environment in their use and use. Therefore in storage, management and handling it is necessary to pay attention to security and safety factors. This study aims to determine the relationship of knowledge, worker competence and hazard communication with chemical hazard control management at PT. Cipta Krida Bahari Balikpapan. This study used a quantitative approach with a cross-sectional research design using a sample of 43 respondents. The statistical test used was chi-square. This study's results indicate the management of chemical hazard control in PT. Cipta Krida Bahari Balikpapan showed that there were 35 people or (81.4%) who said it was good and as many as 8 people or (18.6%) said it was enough. Based on the results of the analysis test, it shows that there is a relationship between knowledge (p-value = 0.023) > 0.05, worker competency (p-value = 0.025) > 0.05, and hazard communication (p-value = 0.001) > 0.05 with chemical hazard control management. This study concludes that there is a relationship between knowledge, worker competence and hazard communication with chemical hazard control management at PT. Cipta Krida Bahari Balikpapan. Companies need to increase the knowledge, competency and hazard communication factors related to chemical hazards in the work environment to improve employee performance so that chemical hazard control management can be carried out optimally.
Hubungan Faktor Pemungkin dengan Minat Kunjungan Ulang Pasien Pemeriksaan Radiologi Konvensional di Instalasi Radiologi : Relationship of Possible Factors with Interest in Revisit of Conventional Radiological Examination Patients in Radiology Installations Hidayati, Alpha Olivia; Panu, Fadhillah S.; Zubad, Muhammad
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v15i1.225

Abstract

Standar pelayanan minimal (SPM) digunakan sebagai tolak ukur standar mutu pelayanan di rumah sakit. Hal ini akan mempengaruhi pasien untuk melakukan kunjungan ulang. Salah satu faktor yang mempengaruhi minat kunjungan ulang adalah faktor pemungkin yang terdiri dari pelayanan, fasilitas dan lokasi. Berdasarkan capaian indikator mutu radiologi dengan kategori angka ketidaklengkapan klinis pada permintaan pemeriksaan radiologi konvensional tanpa kontras sebesar 16,57%, hal tersebut belum mencapai skor standar yang ditetapkan yaitu 0% selain itu jumlah kunjungan pasien pemeriksaan radiologi konvensional di Instalasi  Radiologi RSUD Pandan Arang Boyolali pada bulan April 2023 mengalami penurunan sebesar 31,8%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara faktor pemungkin dengan minat kunjungan ulang pasien pemeriksaan radiologi konvensional di instalasi radiologi RSUD Pandan Arang Boyolali. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif observasional analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Juni 2023 dengan subjek penelitian 70 pasien rawat jalan yang melakukan pemeriksaan radiologi konvensional dan telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang diolah menggunakan uji fisher’s exact. Hasil penelitian menunjukan 67 (95,7%) responden dengan persepsi pelayanan baik, 63 orang (90%) berminat melakukan kunjungan ulang dan 4 responden (5,7%) kurang berminat melakukan kunjungan ulang. Sedangkan 3 (4,3%) responden dengan persepsi pelayanan kurang baik, 2 (4,3%) responden kurang berminat melakukan kunjungan ulang dan 1 (1,4%) responden berminat melakukan kunjungan ulang. Berdasarkan uji statistik, faktor  yang berhubungan dengan minat kunjungan ulang adalah pelayanan (p 0,018 < 0,05) dan fasilitas (p 0,018 < 0,05), sedangkan lokasi tidak terdapat hubungan dengan minat kunjungan ulang pasien (p 0,239 > 0,05). Kesimpulannya adalah terdapat hubungan antara pelayanan dan fasilitas dengan minat kunjungan ulang. Sehingga perlu dilakukan peningkatan pelayanan dan fasilitas di Instalasi Radiologi guna menjamin mutu pelayanan di rumah sakit.   Minimum service standards (SPM) are used as a benchmark for service quality standards in hospitals. This will influence the patient to make repeat visits. One of the factors that influence the interest in repeat visits is the enabling factor consisting of services, facilities and location. Based on the achievement of radiology quality indicators with the category of clinical incompleteness in the request for conventional radiology examination without contrast of 16.57%, this has not reached the established standard score of 0%, in addition, the number of visits of conventional radiology examination patients at the Radiology Installation of Pandan Arang Boyolali Hospital in April 2023 has decreased by 31.8%. The purpose of this study was to determine whether there is a relationship between possible factors and interest in revisiting conventional radiology examination patients at the radiology installation of Pandan Arang Boyolali Hospital. This type of study is quantitative observational correlational analytics  with a cross sectional  approach conducted in June 2023 with research subjects of 70 outpatients who underwent conventional radiological examinations and have met the inclusion and exclusion criteria. This study used a questionnaire processed using the fisher's exact test. The results showed 67 (95.7%) respondents with a perception of good service, 63 people (90%) were interested in making repeat visits and 4 respondents (5.7%) were less interested in making repeat visits. While 3 (4.3%) respondents with poor service perception, 2 (4.3%) respondents are less interested in making repeat visits and 1 (1.4%) respondents are interested in making repeat visits. Based on statistical tests, the factors associated with interest in repeat visits were service (p 0.018 < 0.05) and facilities (p 0.018 < 0.05), while location was not associated with interest in repeat visits of patients (p  0.239 > 0.05). The conclusion is that there is a relationship between services and facilities and interest in repeat visits. So it is necessary to improve services and facilities at the Radiology Installation to ensure the quality of service in the hospital. 
Hubungan Masa Kerja, Pengetahuan, dan Sikap dengan Kepatuhan Penggunaan APD di PT. Asta Rekayasa Unggul Kabupaten Kutai Kartanegara: Relationship between Work Period, Knowledge and Attitudes with Compliance with the Use of Personal Protective Equipment at PT. Asta Superior Engineering, Kutai Kartanegara Regency Wahyudi, Ayu Huwaidah; Sultan, Muhammad; Lestari, Ida Ayu Indira Dwika; Ramdan, Iwan Muhamad; Hardianti, Dewi Novita
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v15i1.242

Abstract

Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidak dikehendaki dan sering kali tidak terduga yang dapat menimbulkan kerugian baik waktu, harta benda atau properti maupun korban jiwa. Proyek kontruksi merupakan salah satu industri yang memiliki tingkat risiko tinggi terjadinya kecelakaan kerja. menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) mencatat, bahwa sektor kontruksi menyumbang kecelakaan sebesar 63,6% di indonesia. APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja. PT. Asta Rekayasa Unggul merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa kontruksi, khususnya pada sektor minyak dan gas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara masa kerja, pengetahuan dan sikap terhadap kepatuhan pengguanaan APD di PT. Asta Rekayasa Unggul.  Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dan dilakukan pada bulan November-Desember 2023 subjek penelitian ini adalah pekerja bagian Scaffolder dan Riger dengan jumlah sampel sebanyak 40 responden (total sampling). Alat ukur menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji korelasi chi square dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara sikap (p = 0,000) dan pengetahuan (p = 0,003) terhadap kepatuhan penggunaan APD. Hal ini berarti jika pengetahuan dan sikap pekerja kurang baik maka akan berpengaruh terhadap kepatuhan penggunaan APD pada pekerja dan tidak ada hubungan antara masa kerja terhadap kepatuhan penggunaan APD (p = 0,744). Disarankan kepada pihak manajemen perusahaan untuk meningkatkan dan mempertahankan skil pengetahuan pekerja dan lebih tergas lagi dalam mengambil keputusan terkait peraturan-peraturan yang ada. A work accident is an event that is clearly undesirable and often unexpected which can cause loss of time, property or property as well as loss of life. Construction projects are an industry that has a high risk of work accidents. According to the Social Security Administering Agency (BPJS), the construction sector contributes to 63.6% of accidents in Indonesia. PPE is a tool that has the ability to protect a person whose function is to isolate part or all of the body from potential dangers in the workplace. PT. Asta Rekayasa Unggul is a company operating in the construction services sector, especially in the oil and gas sector. The aim of this research is to determine the relationship between length of service, knowledge and attitudes towards compliance with the use of PPE at PT. Asta Superior Engineering. This research used a cross sectional approach and was conducted in November-December 2023. The subjects of this research were Scaffolder and Riger workers with a sample size of 40 respondents (total sampling). The measuring tool uses a questionnaire. Data analysis used the chi square test with a confidence level of 95% (α = 0.05). The results showed that there was a significant relationship between attitudes (p = 0.000) and knowledge (p = 0.003) on compliance with the use of PPE. This means that if workers' knowledge and attitudes are not good, it will affect workers' compliance with PPE use and there is no relationship between length of service and compliance with PPE use (p = 0.744). It is recommended that company management improve and maintain workers' knowledge skills and be more assertive in making decisions regarding existing regulations.
Kejadian Gizi Kurang Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sinorang: Incidents of Undernutrition among Children in the Working Area of the Sinorang Health Center Amanah, Siti; Herawati, Herawati; Lanyumba, Fitriyanti Sutadi; Kanan, Maria
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 15 No. 1 (2024): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v15i1.254

Abstract

Gizi kurang pada balita ditandai dengan kondisi kurus, berat badan menurut panjang atau tinggi badan <-2 hingga -3 SD, serta lingkar lengan 11,5 – 12,5 cm pada anak usia 6-59 bulan. Data Puskesmas Sinorang tahun 2022 menunjukkan terdapat 40 balita dengan gizi kurang di wilayah kerjanya, dengan prevalensi 3,13% dari sepuluh desa di Kecamatan Batui Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penentu status gizi kurang pada balita di wilayah tersebut, menggunakan survei deskriptif dengan populasi 40 balita gizi kurang. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi dalam kategori baik sebesar 47,5%, pendapatan keluarga kategori baik sebesar 2,5%, riwayat berat badan lahir (BBL) baik sebesar 62,5%, frekuensi makan baik sebesar 95,5%, kebiasaan porsi makan baik sebesar 27,5%, komposisi makanan baik sebesar 30%, status imunisasi dasar lengkap sebesar 37,5%, dan pemberian vitamin A lengkap sebesar 65%. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa faktor utama gizi kurang pada balita adalah rendahnya pendapatan keluarga. Oleh karena itu, masyarakat, terutama orang tua balita, perlu berupaya memenuhi kebutuhan pangan keluarga dengan memaksimalkan potensi yang ada, seperti memanfaatkan pekarangan untuk tanaman pangan harian keluarga.  Malnutrition in toddlers is characterized by a thin condition, weight according to length or height <-2 to -3 SD, and arm circumference of 11.5 – 12.5 cm in children aged 6-59 months. Data from the Sinorang Health Center in 2022 shows that there are 40 undernourished children under five in their work area, with a prevalence of 3.13% out of ten villages in South Batui District. This study aims to determine the determinants of malnutrition status in toddlers in the region, using a descriptive survey with a population of 40 undernourished toddlers. Data analysis was carried out by univariate analysis. The results showed that maternal knowledge about nutrition was in the good category of 47.5%, family income in the good category was 2.5%, birth weight history (BBL) was good at 62.5%, eating frequency was good at 95.5%, eating habits were good at 27.5%, food composition was good at 30%, complete basic immunization status was at 37.5%, and complete vitamin A was given at 65%. The conclusion of this study shows that the main factor of malnutrition in toddlers is low family income. Therefore, the community, especially parents of toddlers, need to strive to meet the family's food needs by maximizing the existing potential, such as utilizing the yard for the family's daily food crops.
Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kekurangan Energi Kronik (Kek) Ibu Hamil Di Puskesmas Mampang, Depok : Factors That Inluence Chronic Energy Deficiency (CED) of Pregnant Women at Puskesmas Mampang, Depok Juliyanti, Mira Fony; Tunggal Mutika, Winnie; Triwulandari, Winarni Naweng
Jurnal Kesmas Untika Luwuk : Public Health Journal Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Kesmas Untika Luwuk: Public Health Journal
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/phj.v15i2.240

Abstract

Prevalensi Kekurangan Energi Kronis (KEK) ibu hamil di Indonesia adalah 16,9%. Sebanyak 567 ibu hamil yang memeriksa kehamilan di Puskesmas Mampang dan 18 ibu hamil atau sekitar 3,17% mengalami KEK pada kehamilannya. Tujuan penelitian adalah menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi KEK terhadap ibu hamil di Puskesmas Mampang. Jenis studi yang dipergunakan yaitu observasional analitik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu 46 ibu hamil di Puskesmas Mampang. Data yang dipergunakan  yaitu data sekunder dari faktor risiko KEK. Analisa yang dipergunakan yakni analisa univariat dan distribusi frekuensi serta bivariar dengan uji chi-square. Hasil : Analisis univariat menunjukkan ibu hamil yang sedang ada dalam keadaan KEK dengan umur ibu <20 tahun sejumlah 4 individu (22.2%) sementara usia ibu > 20 tahun sebanyak 14 orang (77,7%) sedangkan sejumlah 1 (5,5%) ibu hamil mengalami KEK pada kehamilan trimester I, umur kehamilan pada trimester II sejumlah 9 individu (50%), dan usia kehamilan dalam trimester III sejumlah 8 individu (44,4%). Tidak ada hubungan pada usia dengan fenomena KEK terhadap ibu hamil yang memiliki nilai p-value = 0,829. Tidak terdapat hubungan pada umur kehamilan terhadap fenomena KEK pada ibu hamil dengan nilai p-value = 0,589. Kesimpulannya, tidak terdapat hubungan pada LILA terhadap fenomena KEK terhadap ibu hamil di Puskesmas Mampang. Skrining faktor risiko dan edukasi masih menjadi hal yang penting untuk dilakukan di level komunitas. The prevalence of Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women in Indonesia is 16.9%. There were 567 pregnant women who underwent pregnancy checks at the Mampang Community Health Center and 18 pregnant women or around 3.17%. Analyze the factors that influence CED among pregnant women at the Mampang Community Health Center. The type of research used is analytical observational. The sampling technique used purposive sampling, namely 46 pregnant women. The data used is secondary data from CED risk factors. The analysis used is univariate analysis with frequency distribution and bivariate analysis using the chi-square statistical test. Results: Univariate analysis showed that 4 pregnant women experienced CED with maternal age <20 years (22.2%) while maternal age >20 years were 14 (77.7%). There were 1 pregnant women who experienced CED with gestational age in the 1st trimester (5.5%), 9 people with gestational age in the 2nd trimester (50%), and 8 people with gestational age in the 3rd trimester (44.4%). There is no relationship between age and the incidence of CED in pregnant women with a value (p-value = 0.829). There is no relationship between gestational age and the incidence of CED in pregnant women with a value (p-value = 0.589). Conclusion, There is a relationship between LILA and the incidence of CED in pregnant women at the Mampang Community Health Center. Risk factor screening and education are still important things to do at the community level.

Page 7 of 10 | Total Record : 94