cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 401 Documents
INDUKSI KALUS DENGAN 2,4D DAN BAP PADA EKSPLAN DAUN VEGETATIF DAN GENERATIF TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.) Rahayu, Shilfiana -; Suharyanto, Suharyanto
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 2 No 3 (2020): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3677

Abstract

Tempuyung (Sonchus arvensis L.) is a plant that has many benefits and medicinal potencial. This plant is contain high flavonoids and terpenoids. The propagation of this plant is very important to do to provide medicinal ingridients on a prefab scale and to produce materials that have a high compound content. The tissue culture is one of the fastest ways in plant propagation and can increase the content of secondary metabolites in plants. The method to produce high compounds and produce somatic embryos in large quantities can be through callus culture. The research aim was to find the effect of 2,4D and BAP hormones and leaf explant variations on the growth tempuyung callus. In this research, a combination of 2,4D (0; 0.5; 1 ppm) and BAP (0; 0.5; 1 ppm) hormone was used in inducing callus, and explants used in this research were vegetative leaves and generative leaves of tempuyung. The results of this study stated that callus was produced within 10-14 days, with the friable callus texture and yellow in color. Vegetative leaf explants initiate callus faster than generative leaves. Other results showed that the best combination in callus production was BAP 0.5 ppm and 2.4D 1 ppm, and the most optimal leaf explants in producing callus were found in vegetative leaf explants
Isolasi dan Karakterisasi Cendawan Pathogen Daun Jagung Manis (Zea mays) Varietas Talenta menggunakan Metode Direct Plating Dan Moist Chamber di BBPP Ketindan, Jawa Timur fadilah, nurul; Rahayu, Yuni Sri; Andriani, Lutfi Tri
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 1 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3777

Abstract

Permintaan pasar akan jagung meningkat dengan seiring berjalannya tahun. Permintaan terbesar dari semua jenis jagung adalah jagung manis (Zea mays) varietas talenta. Namun, produksi dalam negeri tidak mencukupi permintaan jagung tersebut. Hal ini dikarenakan adanya masalah seperti, penyakit jagung yang menggagalkan hasil panen secara drastis. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi cendawan patogen pada daun jagung manis (Zea mays) varietas Talenta yang diambil dari Lahan Pertanian, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Jawa Timur. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak lengkap (RAL). Metode isolasi cendawan yang digunakan adalah direct plating dan moist chamber. Karakterisasi dan Identifikasi berdasarkan karakter makroskopis meliputi: bentuk koloni tua, warna koloni tua, tekstur koloni tua, bentuk koloni muda, warna koloni muda, dan tekstur koloni muda. Karakter mikroskopis meliputi dinding hifa, tipe percabangan hifa, ada tidaknya septa, ada tidaknya sambungan apit (clamp connection), bentuk sporangium, warna sporangium, bentuk spora, warna spora). Hasil isolasi cendawan dari metode direct plating didapatkan 5 spesies cendawan patogen antara lain: Helminthosporium sp., Rhizoctonia sp., Peronosclerospora spp., Puccinia sp., dan Trichometaspheria sp., sedangkan metode moist chamber didapatkan 2 spesies cendawan patogen yaitu: Helminthosporium sp. dan Rhizoctonia sp.
Keragaman dan Intensitas Kutu Parasit (Ordo: Phthiraptera) pada Ayam Kampung (Gallus gallus domesticus) widhiono, imam; Salsabila, Viola Firstrianti; riwidiharso, edy riwidiharso
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 1 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3868

Abstract

Ektoparasit yang menyerang ayam kampung biasanya terdiri atas kutu ordo Phthiraptera. Serangan kutu parasit tidak mematikan tetapi sangat mengganggu pertumbuhan ayam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman spesies kutu yang menginfeksi ayam kampung pada lima desa di Purwokerto dan sekitarnya dan mengetahui intensitas infestasi tiap spesies kutu yang menginfeksi bagian tubuh ayam kampung pada lima desa tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei, teknik pengambilan sampel secara acak pada lima desa di Purwokerto dan sekitarnya yaitu Desa Kedungwuluh, Desa Kedungwringin, Desa Kutasari, Desa Karangsalam, dan Desa Karanggintung. Setiap desa diambil lima ayam kampung betina dan lima ayam kampung jantan. Pengambilan sampel kutu dilakukan pada bagian kepala, sayap, paha, dada, dan kaki. Sampel kutu selanjutnya diamati dan diidentifikasi di bawah mikroskop di laboratorium Entomologi dan Parasitologi Fakultas Biologi Unsoed. Data sampel kutu yang ditemukan pada ayam dari tiap lokasi dan bagian tubuh dianalisis varian menggunakan software SPSS 16 dan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener. Hasil identifikasi menunjukkan adanya tiga spesies kutu (ordo Phthiraptera) yang ditemukan menginfestasi ayam kampung (Gallus gallus domesticus) pada lima desa di Purwokerto dan sekitarnya, yaitu Menopon gallinae, Lipeurus caponis, dan Menacanthus cornutus. Ketiga spesies kutu tersebut termasuk ke dalam dua familia (Menoponidae dan Philopteridae). Keragaman spesies berdasarkan indeks diversitas Shannon-Wiener menunjukkan lokasi I (H´: 0,914), lokasi II (H´: 0,693), lokasi III (H´: 1,066), lokasi IV (H´: 1,081), dan lokasi V (H´: 0,878). Interpretasi dari semua lokasi menunjukkan bahwa lokasi I, III, dan V memiliki keragaman spesies rendah, sedangkan lokasi II dan IV memiliki keragaman spesies sedang. Intensitas serangan kutu pada ayam kampung (Gallus gallus domesticus) adalah 16,82%. Intensitas dari masing-masing jenis kutu pada ayam kampung (Gallus gallus domesticus) adalah M. cornutus (32%), M. gallinae (30,9%), dan L. caponis (21,2%).
Detection Moleculer Of Putative 18S rRNA Gen Protozoa Trichodina sp. Infected Larvae Gurami (Osphronemus gouramy L) in Balai Benih Ikan Kutasari Purbalingga Central Java Rokhmani, Rokhmani; Wahyono, Daniel Joko; Mulyani, Lilis
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 1 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3924

Abstract

Trichodina spp. are ectoparasitic pathogens of ciliata group that commonly infect both freshwater and marine fish, including gouramy fish. As a result of infection of Trichodina spp. this will lead to inhibition of fish growth and decreased fish production, resulting in low fish selling value. The rate of occurrence of Trichodina spp. that infects gurami can reach 100%. Research has been conducted to determine which one Trichodina spp. Protozoa that infects the gouramy seeds of BBI (Fish Seed Center) Kutasari Purbalingga following detection of 18S RNA gene. Gene detection method used in this research is Polymerase Chain Reaction (PCR) is a technique of DNA synthesis and amplification in vitro. This research is done following these methodes: (1) sampling of Gurami fish with purposive sampling which obtained from BBI Kutasari Purbalingga, (2) isolation of Trichodina spp., (3). Preparation of Trichodina spp. sample and its identification, and (4). Molecular character obervation following detection of 18S rRNA gene. This study obtained 10% percentage of detection of 18S rRNA genes of the species of Trichodina paraheterodentata that infect on the gouramy fish of Purbalingga. The percentage rate of detection of these genes is low when compared with the results of the detection of 18S rRNA Trichodina paraheterodentata gene that infects gouramy fish in Banjarnegara.
Kelimpahan Tungau Predator pada Tanaman Melati Gambir (Jasminum officinale) di Desa Cipawon, Bukateja, Purbalingga, Jawa Tengah Rakhmayani, Ika; Budianto, Bambang Heru; Ambarningrum, Trisnowati Budi
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 1 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.3927

Abstract

Tanaman melati gambir (Jasminum officinale) yang terdapat di Kecamatan Bukateja, Desa Cipawon, Purbalingga, Jawa Tengah merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi, kegunaannya tidak hanya sebagai tanaman hias, tetapi sebgai bahan pengharum the, kosmetik, parfum, dan lain-lain. Salah satu penyebab penurunan produktivitas Melati Gambir di disebabkan oleh adanya serangan hama yaitu tungau. Populasi tungau hama dikendalikan oleh tungau predator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis tungau predator dan menentukan kelimpahan tungau predator pada tanaman Melati Gambir di Desa Cipawon, Purbalingga, Jawa Tengah. Metode penelitian ini menggunakan metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Terdapat sembilan titik sampling, delapan titik di tepi luar dan satu titik di tengah perkebunan. Setiap sampling diwakili oleh tiga pohon. Sampel berupa daun melati gambir berasal dari 10 tangkai daun terbawah diperoleh sebanyak 270 sampel daun. Masing-masing titik sampling diambil sebanyak tiga kali ulangan dengan interval waktu satu minggu. Variabel yang diamati meliputi jumlah individu dan jumlah spesies tungau predator pada tanaman melati gambir dan parameter yang dihitung yaitu luas daun, sudut duduk daun, panjang dan kerapatan trikoma, temperature, kelembapan serta curah hujan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi (ANOVA) dengan tingkat kesalahan 20%. Hasil identifikasi tungau predator pada tanaman melati gambir didapatkan dua spesies yaitu Amblyseius largoensis dan Phytoseius amba. A. largoensis sebanyak 76 individu dengan presentase kelimpahan 61,8% dan P. amba sebanyak 47 individu dengan presentase kelimpahan 38,2%. Kelimpahan tungau predator tergolong sedang karena predator mudah dijumpai, setiap tiga daun dijumpai satu predator.
Variasi Marga Plumeria berdasarkan Karakter Morfologi Pollen di Wilayah Purwokerto Banyumas Jawa Tengah Sukarsa, Sukarsa; herawati, wiwik
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 1 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.4010

Abstract

Marga Plumeria merupakan anggota dari Famili Apocynaceae dan mempunyai variasi pada setiap jenisnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui variasi karakter morfologi polen marga Plumeria di Wilayah Purwokerto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfologi polen dari 6 sampel yaitu P. rubra, P. rubra f angutifolia, P. rubra f frangifani , P. obtusu, P. alba dan P. pudica mempunyai kesamaan dalam tipe aperture yaitu tipe tricolpate dan ornamentasi tipe psilate.Sedangkan Indeks P/E perbandingan rerata ukuran panjang aksis polar (P) dan diameter bidang ekuatorial (E) P. rubra, P. rubra F frangifani dan P obtusus memiliki bentuk serbuk sari tipe Oblate Spheroidal dengan indeks P/E 0.92 – 0.94 sedangkan P. alba dan P. pudica bentuk serbuk sarinya Suboblate dengan indeks P/E 0.82 – 0,85.
Keanekaragaman Kupu-Kupu Di Kawasan Air Terjun Dlundung Trawas, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur Indonesia Zulaikha, Siti; Aliyah, Lu'luil Fajriyatil
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 1 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.4065

Abstract

Kurangnya informasi terakait keanekaragaman kupu-kupu di area Air Terjun Dlundung Trwasa Mojokerto, maka perlu dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui kenekaragaman kupu-kupu di kawasan Air Terjun Dlundung Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. Metode pengamatan menggunakan Visual Day Flaying dengan mengikuti jalan setapak pada kawasan, data yang diperoleh dari pengamatan dianalisis menggunakan analisis indeks keanekaragaman dan Kelimpahan Relatif. Didapatkan sebanyak 22 spesies dengan nilai H’= 2.61 dan FR paling tinggi yaitu Libythea myrrha, Letopsia nina, Taencia palguna, dan Papilio memnon. Berdasarkan hasil tersebut diketahuia bahwa keanekaragaman kupu-kupu di kawasan dalam kategori sedang karena adanya dukungan faktor biotik dan abiotik.
Prevalensi Infestasi Cacing Gastrointestinal Pada Kambing (Capra sp.) Yang Dipelihara Secara Intensif Dan Semi Intensif Khirqah, Aulia; Rokhmani, Rokhmani; Riwidiharso, Edy
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 3 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.3.4224

Abstract

Bahaya akibat infestasi cacing gastrointestinal sangat merugikan pertumbuhan dan perkembangbiakan budidaya kambing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis cacing, prevalensi dan intensitas telur cacing gastrointestinal pada kambing yang dipelihara secara intensif dan semi intensif, serta mengetahui perbandingan prevalensi dan intensitas cacing gastrointestinal berdasarkan jenis kelamin dan usia kambing. Penelitian ini dilakukan pada peternakan kambing intensif dan semi intensif di Desa Klareyan, kecamatan Petarukan, Pemalang dengan metode survey purposive random sampling pada bulan November 2020. Jenis cacing gastrointestinal yang ditemukan pada kambing yang dipelihara secara intensif yaitu Strongyloides sp., Haemonchus sp., Oesophagostomum sp., Trichostrongylus sp., dan Ascaris sp., sedangkan jenis cacing yang ditemukan pada kambing yang dipelihara secara semi intensif yaitu Strongyloides sp., Haemonchus sp., Oesophagostomum sp., Trichostrongylus sp., Ascaris sp., Moniezia expansa, Moniezia benedeni, Fasciola sp., dan Schistosoma sp. Intensitas telur cacing gastrointestinal pada kambing yang dipelihara secara intensif yaitu 1184,44±1743,283 lebih tinggi dibandingkan dengan intensitas telur cacing pada kambing yang dipelihara secara semi intensif yaitu 1109,50±1573,737 (P>0,05). Prevalensi infestasi cacing gastrointestinal pada kambing yang dipelihara intensif yaitu 90%, lebih rendah dibandingkan dengan prevalesi telur cacing pada kambing yang dipelihara secara semi intensif dengan prevalensi 100% (Sign. 0,147). Prevalensi dan intensitas cacing gastrointestinal pada kambing jantan lebih kecil dibandingkan pada kambing betina (Sign. 0,189; P>0,05). Selain itu prevalensi dan intensitas telur cacing gastrointestinal pada kambing anakan lebih besar dibandingkan pada kambing medium dan dewasa (Sign. 0,241; F<0,05). Kata kunci: Helminthiasis, Intensif, Kambing, Semi intensif.
Keanekaragaman KEANEKARAGAMAN SPESIES BURUNG DIURNAL DI CAGAR ALAM NUSAKAMBANGAN TIMUR Ahmadi, Iftah Sadjad; Suryaningsih, Suhestri; Nasution, Erie Kolya
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 3 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.3.4233

Abstract

Burung adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang yang tergolong kedalam classis aves. Burung berperan penting dalam komponen ekosistem untuk mendukung berlangsungnya suatu siklus kehidupan organisme. Keanekaragaman spesies burung yang tinggi didukung oleh tingginya keanekaragaman habitat yang berfungsi sebagai tempat mencari pakan, minum, istirahat, dan berkembang biak. Nusakambangan adalah sebuah pulau dengan luas 240 km2 dengan tipe hutan alam dataran rendah, hutan pantai dan hutan bakau. Penelitian pada tahun 2003 dan 2004. Nusakambangan bagian barat memiliki 93 spesies burung dan pada tahun 2006, spesies burung pada tipe habitat hutan pantai berpasir, hutan pamah, hutan bukit kapur, padang ilalang, belukar muda, dan belukar tua terdapat 121 spesies burung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman spesies burung di Cagar Alam Nusakambangan Timur. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan teknik point count. Analisis data dilakukan deskriptif sederhana kemudian ditampilkan dalam bentuk tabel. Terdapat 46 spesies burung dari 25 famili dengan indeks keanekaragaman 2,5456 dan indeks dominansi 0,1027. Kata kunci : burung, cagar alam Nusakambangan, keanekaragaman, spesies.
POTENSI EKSTRAK ETIL ASETAT Coprinus comatus TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT PADA TIKUS PUTIH MODEL DIABETES Feryawan, Feryawan; Ratnaningtyas, Nuniek Ina; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 2 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.2.4238

Abstract

Coprinus comatus atau jamur paha ayam mengandung senyawa bioaktif antara lain flavonoid, terpenoid, comatin, tokoferol, dan ergotionin yang berfungsi sebagai antioksidan dan antidiabetes. Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang berkaitan dengan gangguan sekresi insulin atau menurunnya sensitivitas insulin yang menyebabkan kadar glukosa dalam darah meningkat melebihi normal (hiperglikemia). Hiperglikemia dapat menyebabkan stres oksidatif dan meningkatkan Reactive Oxygen Species (ROS) sehingga memacu terjadinya peroksidasi lipid yang merusak pankreas, ginjal, dan hati. Salah satu cara untuk mengetahui kerusakan hati dengan mengukur kadar enzim hati Serum Glutamat Oksaloasetat Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamat Piruvat Transaminase (SGPT) yang meningkat dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dan menentukan berapakah dosis yang efektif ekstrak etil asetat C. comatus dengan dosis yang berbeda terhadap kadar SGOT dan SGPT dalam darah tikus putih model diabetes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etil asetat C. comatus dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT serta kadar glukosa darah tikus putih yang diinduksi streptozotocin. Ekstrak etil asetat C. comatus dosis 500 mg/kg BB merupakan dosis yang paling efektif dalam menurunkan kadar SGOT dan SGPT dalam darah tikus yang diinduksi streptozotocin dengan rerata kadar SGOT sebesar 57,96 ± 1,58 U/L dan SGPT sebesar 29,67 ± 3,56 U/L, serta presentase penurunan kadar SGOT dan SGPT yang dibandingkan kontrol negatif masing-masing sebesar 43,15% dan 68,70%, serta glukosa darah sebesar 19,62%. Kata kunci : Coprinus comatus, diabetes mellitus, SGOT, SGPT