cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 401 Documents
POTENSI EKSTRAK ETIL ASETAT Coprinus comatus TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ PADA TIKUS PUTIH MODEL DIABETES Perdanawati, Anik Laeli; Ratnaningtyas, Nuniek Ina; Hernayanti, Hernayanti
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 3 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.3.4239

Abstract

Coprinus comatus atau jamur paha ayam berpotensi sebagai antioksidan dan antidiabetes. Kondisi hiperglikemia pada penderita diabetes mellitus menyebabkan peningkatan Reactive Oxygen Species (ROS). Sel β pankreas memiliki antioksidan hanya sedikit dibandingkan organ lain. Hal ini menyebabkan stress oksidatif yang memicu reaksi berantai peroksidasi lipid sehingga merusak organ ginjal dan laju filtrasi glomerulus terganggu. Laju filtrasi glomerulus yang terganggu ditandai dengan peningkatan kadar ureum dan kreatinin. Flavonoid yang terkandung dalam C. comatus mampu mendonorkan H+ dan menghentikan reaksi peroksidasi lipid pada ginjal sehingga kadar ureum dan kreatinin menurun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak etil asetat C. comatus terhadap kadar ureum dan kreatinin darah tikus model diabetes dan untuk mengetahui dosis efektif ekstrak etil asetat C. comatus terhadap kadar ureum dan kreatinin darah tikus model diabetes. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang disusun berdasarkan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dari hasil pengukuran kadar ureum dan kreatinin dianalisis menggunakan uji statistik one way Anova pada tingkat kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada tingkat kesalahan 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat C. comatus berpengaruh terhadap kadar ureum dan kreatinin darah tikus model diabetes. Ekstrak C. comatus dosis 500 mg/kgBB merupakan dosis efektif yang berpengaruh terhadap penurunan kadar ureum dan kreatinin darah pada tikus model diabetes yaitu sebesar 16,66 ± 0,00 mg/dL dan 0,40 ± 0,12 mg/dL. Key words: Coprinus comatus, diabetes mellitus, kreatinin, streptozotocin, ureum
KUALITAS BIJI DAN KARAKTER AGRONOMI PADI HITAM (Oryza sativa L.) LOKAL PEKALONGAN DENGAN PENAMBAHAN PAKLOBUTRAZOL DAN GIBERELIN Prihantari, Endang Triyani; Hardiyati, Triani; Samiyarsih, Siti
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 2 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.2.4240

Abstract

Padi hitam (Oryza sativa L.) adalah varietas padi yang memiliki banyak fungsi tambahan dan dijadikan pangan yang fungsional. Namun, padi hitam memiliki masa panen yang lebih lama dan memiliki batang yang lebih tinggi dibandingkan padi jenis lain sehingga tanaman padi hitam rentan mengalami rebah. Hal ini akan menurunkan kualitas tanaman padi. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini dengan memberi perlakuan paklobutrazol dan GA3. Perpaduan antara paklobutrazol dan GA3 diharapkan dapat memberikan pertumbuhan padi yang lebih baik dan meningkatkan kualitas biji padi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan paklobutazol dan GA3 terhadap kualitas biji, ukuran palealemma dan karakter agronomi padi hitam kultivar Pekalongan. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola perlakuan faktorial. Faktor pertama yaitu paklobutrazol dengan 4 taraf konsentrasi (0 ppm, 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm) diberikan 1 kali pada usia tanaman 4 minggu dan faktor kedua yaitu GA3 dengan 4 taraf konsentrasi (0 ppm, 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm) diberikan 1 kali pada usia tanaman 6 minggu, sehingga terdapat 48 kombinasi dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, lebar daun, umur berbunga, umur panen, ukuran palea-lemma, berat 100 biji, kandungan protein dan amilosa. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji ANOVA pada tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada tingkat kesalahan 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara paklobutrazol dan GA3 tidak nyata namun perlakuan paklobutrazol mandiri konsentrasi 300 ppm memberikan hasil terbaik untuk penghambatan tinggi tanaman, sedangkan pemberian paklobutrazol konsentrasi 200 ppm merupakan konsentrasi terbaik dalam memacu umur berbunga dan umur panen. Pemberian GA3 100 ppm adalah konsentrasi terbaik untuk menambah lebar daun sedangkan pada konsentrasi 300 ppm mampu memberikan hasil terbaik untuk ukuran palea-lemma, kandungan amilosa, kandungan protein dan berat 100 biji per tanaman. Kata kunci: GA3, padi hitam kultivar Pekalongan (Oryza sativa L.), paklobutrazol
Induksi Kalus Nepenthes mirabilis(Lour.) Druce Menggunakan NAA danTDZ Nurussakinah, Nina; Dwiati, Murni; Budisantoso, Iman
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 4 No 1 (2022): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2022.4.1.4242

Abstract

Nepenthes sp. has a characteristic in the form of a modified leaf tip into a pitcher. Nepenthes mirabilis (Lour.) Druce in its original habitat is widely hunted for sale. Propagation of N. mirabilis in nature has very little success rate, to overcome this it is necessary to propagate it by means of in vitro culture and use young leaf explants to form callus. Growth regulators such as Auxins (NAA) and Cytokinins (TDZ) can stimulate callus growth. Auxins can stimulate callus formation by stimulating cell expansion and cytokinins can stimulate the cell division process. The purpose of this study was to determine the effect of NAA and TDZ in inducing N. mirabilis callus and to determine the interaction between NAA and TDZ in inducing N. mirabilis callus. The experimental design used was a factorial CRD pattern, with two factors, namely NAA and TDZ. NAA consists of four levels, namely, 0 mg / L (N0); 0.5 mg / L (N1), 1 mg / L (N2) and 1.5 mg / L (N3). TDZ also consists of four levels, namely 0 mg / L (T0); 1 mg / L (T1); 2 mg / L (T2) and 3 mg / L (T3). Each treatment was repeated three times. The results showed that the addition of NAA and TDZ had an effect on callus induction of N. mirabilis. The TDZ concentration of 1 mg / L (T1) stimulated callus induction, especially the percentage of callus formation and callus diameter. Meanwhile, NAA 1 mg / L (N2) boosted the percentage of N. mirabilis callus formation.
Detection of Psychotropic Compound in Coprophilous Fungi in District of Baturraden Banyumas Regency Amanda, Safira; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 3 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2020.2.3.4245

Abstract

Coprophilous fungi or dung-loving fungi are fungal group which adapted to life on dung and fecal of herbivorous animals. Coprophilous fungi contain psychotropic compounds, substances or drugs, both natural and synthetic, but not narcotics. This compound comprises psychoactive properties that cause selective influence on the central nervous system and lead distinctive changes in mental activity and behavior. Chemical Spot Test still remain an important method for the preliminary identification of illicit drugs and other psychotropic compound in spite of developments in instrumental technology which enables to use in field. Banyumas Regency, especially Baturraden district is a very potential habitat for coprophilous fungi due to a lot of cattle farms were established there. In addition, the environmental condition also suitable for the fungal growth. This study aim to make an inventory and identify the coprophilous fungi that found in District of Baturraden Banyumas Regency and detect the presence of psychotropic compound in that fungi. The research will be conducted using purposive random sampling and Color Test or Chemical Spot Test analysis. The obtained data is analyzed descriptively by comparing with Atlas of The Munsell Color System. This research obtained seven genera of coprophilous fungi i.e: Coprinellus sp., Coprinopsis sp., Entoloma sp., Gymnopus sp., Lepiota sp., Parasola sp. and Stropharia sp. that discovered in two cattle farms in Baturraden District. Key Words: coprophilous, fungi, psychotropic
Struktur Komunitas Fitoplanton di Waduk Cacaban Kabupaten Tegal Setyowati, Dian; Rahayu, Diana Retna Utarini Suci; Piranti, Agatha Sih
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 3 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.3.4247

Abstract

Abstrak Fitoplankton berperan penting dalam suatu ekosistem perairan karena bersifat autotrof dan juga merupakan sumber pakan alami bagi ikan. Fitoplankton akan saling berinteraksi dengan faktor biotik lainnya untuk membentuk suatu struktur komunitas yang berguna bagi keseimbangan dan keberlanjutan ekosistem. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui struktur komunitas fitoplankton di Waduk Cacaban karena struktur komunitas dapat menunjukkan kondisi suatu perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi, kelimpahan, dan keanekaragaman fitoplankton pada tiap stasiun dan jenis fitoplankton yang paling mendominasi di Waduk Cacaban. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 18 spesies fitoplankton di Waduk Cacaban. Empat divisi fitoplankton yang ditemukan yaitu Chlorophyta sebanyak 8 spesies, Bacillariophyta sebanyak 5 spesies, Cyanophyta sebanyak 3 spesies, dan Charophyta sebanyak 2 spesies. Kelimpahannya masuk dalam kategori sedang, dengan kelimpahan Chlorella sp. tertinggi di stasiun I, III dan IV; dan Microcystis sp. di stasiun II dan V. Indeks keanekaragamannya berkisar antara 1,227-1,766 dan masuk kedalam kategori rendah yang menunjukkan kestabilan komunitas rendah. Indeks Dominansi berkisar antara 0,648-0,791 dan masuk dalam kategori tinggi. Jenis fitoplankton yang mendominasi di Waduk Cacaban adalah dari divisi Chlorophyta, yang juga merupakan jenis yang digemari ikan. Kata kunci: fitoplankton, ikan, struktur komunitas, waduk.
PENAMBAHAN IAA DAN BAP TERHADAP PERTUMBUHAN KALUS EKSPLAN DAUN ANGGREK Coelogyne pandurata Lindl. Bintan Cahyo Adi, Johanes De Britto; Kamsinah, Kamsinah; Prayoga, Lucky
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 2 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.2.4255

Abstract

Anggrek Coelogyne pandurata Lindl atau anggrek hitam merupakan anggrek endemik dari Kalimantan. Anggrek tersebut mempunyai keunikan yakni sepal berwarna hijau dan labelum yang berwarna hitam. Perbanyakan secara alami tingkat keberhasilannya sangat kecil maka perlu di lakukan kultur in vitro. Kultur in vitro merupakan kultur yang menggunakan eksplan daun untuk memacu pertumbuhan kalus. Pertumbuhan kalus dapat dipacu dengan auksin (IAA) dan sitokinin (BAP). Perpaduan antara konsentrasi auksin dan sitokinin yang seimbang diharapkan bisa memacu pertumbuhan kalus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan IAA dan BAP terhadap pertumbuhan kalus anggrek C. pandurata Lindl dan mengetahui interaksi IAA dan BAP yang terbaik terhadap pertumbuhan kalus anggrek C. pandurata Lindl. Metode penelitian dilakukan yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan acak lengkap menggunakan pola faktorial, faktor pertama adalah kosentrasi IAA dengan 4 taraf: 0, 1, 2, 3 mg/L. Dan faktor kedua adalah konsentrasi BAP dengan 4 taraf perlakuan: 0, 1, 2, 3 mg/L, sehingga ada 16 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga ada 48 unit percobaan. Parameter yang diamati adalah: waktu munculnya kalus, tebal kalus, jenis kalus, berat kalus dan presentasi terbentuknya kalus. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan dilakukan uji lanjut DMRT dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan pemberian IAA dan BAP dapat mempengaruhi pertumbuhan kalus eksplan daun anggrek C. pandurata Lindl. Pengaruh secara interaksi terdapat pada wantu munculnya kalus, tebal kalus dan Prosentase hidup kalus. Serta mampu memacu perkembangan kalus ke arah proliferatif. Sedangkan pemberian IAA secara mandiri dapat memacu penebalan kalus. Interaksi yang terbaik dalam pertumbuhan kalus eksplan daun anggrek Coelogyne pandurata Lindl. adalah A2B2 (IAA 2 mg/L dan BAP 2 mg/L) dan A2B3 (IAA 2 mg/L dan BAP 3 mg/L). Kata kunci: Anggrek Coelogyne pandurata, BAP, IAA, Pertumbuhan kalus
Keanekaragaman Serangga pada Tanaman Cabai Merah Di Desa Kubangwungu Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes Yuliani, Dwi; Susilowati, Devi Ayu; Ibrahim, Anton Maulana
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 2 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.2.4278

Abstract

Meningkatnya jumlah penduduk dan makin berkembangnya industry makanan yang membutuhkan bahan baku cabai merah menyebabkan kenaikan kebutuhan cabai merah. Penelitian dilakukan menggunakan metode survai yang dilakukan dari Bulan Februari 2021 sampai April 2021. Pengambilan sampel keanekaragaman serangga dilakukan pada lahan tanaman cabai merah seluas 1.000 m2. Lahan tanaman cabai merah tersebut ditentukan 10 titik secara acak. Setiap titik pengambilan sampel terdiri dari 2 pitfall trap, 1 light trap, dan 1 jaring serangga dengan 4 kali ulangan. Pengambilan sample serangga dilakukan pada saat tanaman cabai mulai memasuki masa generatif (waktu pembentukan dan perkembangan kuncup kuncup bunga 44-50 hari setelah tanam) selama 6 hari berturut-turut, pada fase ini hama serangga mulai terlihat banyak pada tanaman cabai. Analisis data keanekaragaman serangga dilakukan dengan menghitung indeks keanekaragaman (diversitas) menggunakan Indeks Shanon-Winner dan Indeks Shanon-Evenness. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 28 spesies yang terdiri dari ordo hemiptera, coleopteran, prthoptera, diptera, hymenoptera, odonata, mantodea, dan Lepidoptera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman serangga penyerbuk pada lahan pertanian cabai merah dengan metode pit fall (H´=2,874) lebih rendah daripada metode light (H’=3,029) dan jarring (H’=3,0159), sedangkan indeks kemerataan pada lahan pertanian cabai merah metode pit fall (E=0,8627) lebih rendah daripada metode light (E=0,909) dan jarring (E=0,9481). Kata kunci: keanekaragaman, serangga, cabai merah.
KAJIAN ETNOBOTANI TANAMAN Curcuma longa L. DAN Curcuma zanthorrhiza ROXB. OLEH MASYARAKAT BOGOR JAWA Ulfah, Malia; Wardah, Wardah; Rusmadi, Rusmadi; A'tourrohman, Muhammad
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 2 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.2.4287

Abstract

Masyarakat Bogor, Jawa Barat adalah sekelompok masyarakat yang masih menerapkan pola kehidupan tradisional. Penggunaan tanaman kunyit (Curcuma longa L.) dan temu lawak (Curcuma zanthorrhiza Roxb.) oleh masyarakat setempat masih berlangsung sampai saat ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai ekonomi kunyit dan temulawak bagi masyarakat Bogor, pemanfaatan dan cara penggunaan tanaman kunyit dan temu lawak, serta peran etnobotani bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan teknik pengumpulan data berupa studi literatur, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan kunyit dan temu lawak memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat Bogor, Jawa Barat. Pemanfaatannya antara lain sebagai tanaman obat, bahan tambahan pangan dan sebagai lalapan. Cara penggunaannya yaitu dengan dihaluskan, dipotong dan dikonsumsi secara langsung. Revitalisasi pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan tanaman yang ada di sekitar sangat penting dilakukan untuk pengembangan ilmu pengetahuan.
FITOREMEDIASI MENGGUNAKAN KAYU APU (Pistia stratiotes) UNTUK MENURUNKAN KADAR COD LIMBAH CAIR TEKSTIL Dewi, Utami Sari; Santoso, Slamet; Proklamasiningsih, Elly
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 2 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.2.4375

Abstract

Pengolahan limbah cair diperlukan untuk menghindari dampak pencemaran lingkungan perairan. Teknik pengolahan limbah cair, antara lain melalui fitoremediasi menggunakan bantuan tanaman kayu apu (Pistia stratiotes).Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh persen luas penutupan, lama waktu pemaparan, dan interaksi keduanya dalam menurunkan kadar COD, serta untuk menentukan persen luas penutupan, lama waktu pemaparan, dan interaksi keduanya yang paling efisien dalam menurunkan kadar COD. Hasil penelitian diketahui bahwa persen luas penutupan dan waktu pemaparan mampu menurunkan secara signifikan kadar COD. Persen luas penutupan yang paling efisien dalam menurunkan COD yaitu pada taraf 75%. Lama waktu pemaparan yang paling efisien dalam menurunkan COD yaitu pada taraf 9 hari. Interaksi keduanya yang paling efisien dalam menurunkan kadar COD yaitu pada persen luas penutupan 100% dengan lama waktu pemaparan 9 hari.
Efek Pemberian Ekstrak Umbi Kembang Sungsang (Gloriosa superba L.) Pada Pembentukan Planlet Pisang (Musa paradisiaca L.) Kultivar Kepok Kunig Secara In Vitro Wahyu, Julaiha; Ernawiati, Eti; Handayani, Tundjung Tripeni; Wahyuningsih, Sri
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 3 No 4 (2021): BioEksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2021.3.4.4377

Abstract

The world community, including Indonesia much like bananas because it has a relatively low price and good nutritional content. Banana kepok is a type of banana favored by the public because it tastes good and sweet. However, the obstacle that is often faced in kepok bananas is the difficulty in providing quality banana seeds quickly. Therefore, alternative technology is needed through tissue culture techniques. The purpose of this study was to determine the effect of adding breech flower tuber extract in culture media on the formation of banana plantlets of yellow kepok cultivar and to obtain scientific information about the growth profile of yellow kepok plantlets due to the addition of breech flower tuber extract to culture media. This research was conducted at the MTC Laboratory, PT. Great Giant Pineapple PG 4 Labuhan Ratu, East Lampung from December 2019 - April 2020 using a Completely Randomized Design (CRD) with ten replications consisting of the addition of 10% breech flower tuber extract as the primary treatment, 0.1% pure colchicine as a positive control, and without addition as a negative control. The results showed that the addition of 10% breech flower tuber extract in the culture media caused the growth of yellow kepok banana plantlets to be slower than the addition of 0.1% colchicine. Then in the media, with the addition of 10% breech flower tuber extract, the number of shoots, shoot height, number of better root and leaf area than the media without expansion, but 0.1% colchicine still showed the best results.