cover
Contact Name
Muhammad Lutfi Hakim
Contact Email
luthfyhakim@gmail.com
Phone
+6285740845666
Journal Mail Official
luthfyhakim@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjend Suprapto No. 19 Pontianak, Kalimantan Barat 78113, Indonesia
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Journal of Islamic Law
ISSN : 27215032     EISSN : 27215040     DOI : 10.24260
JIL: Journal of Islamic Law emphasizes specifications in the discourse of Islamic Law and Social Institutions, communicates actual and contemporary research and problems concerning Islamic studies. This journal openly accepts the contributions of experts from related disciplines. All published articles do not necessarily represent the views of journals, or other institutions that have links to journal publications. The journal focuses on Islamic law studies, such as Islamic family law, Islamic economic law, Islamic criminal law, Islamic political law, Islamic astronomy (falak studies), with various approaches of normative, philosophy, history, sociology, anthropology, theology, psychology, economics and is intended to communicate the original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes any contributions from scholars of the related disciplines.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 81 Documents
Alternative Legal Strategies and Ninik Mamak Authority: Dual Administration of Malay Marriage in Koto Kampar Hulu, Riau Mustafid, Mustafid; Gemilang, Kemas Muhammad; Putra, Firman Surya; Al Bajuri, Azzuhri; Mawardi, Mawardi
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i1.1972

Abstract

The regulation of marriage registration in several Muslim countries tends to emphasize administrative aspects rather than substantive ones. For the Malay customary community in Koto Kampar Hulu, Riau, Indonesia, their obligations are not only limited to fulfilling marriage administration under state law but also involve obtaining permission from ninik mamak (traditional leader). Therefore, this article aims to analyze marriage administration in the context of customary law and state law within the Malay customary community, as well as to reveal alternative legal strategies they employ to circumvent traditional marriage administration. Field research was conducted through interviews with 16 key informants and direct observation of the completeness of marriage administration. The results show that the Malay customary community must navigate dual marriage administrations—customary law and state law—to obtain the legality of marriage before the state. Permission from ninik mamak serves as the basis for acquiring documents from the village head, fulfilling the administrative requirements for marriage registration at the local religious affairs office. The authority of ninik mamak in granting marriage permission aims to resolve conflicts and customary obligations before marriage while preserving the identity and traditions of the customary community. For those who disregard customary administration, they adopt alternative legal strategies such as unregistered marriages (nikah sirri) or relocating to another village. The alignment between customary law and state law is reflected in this study, particularly in the context of marriage registration. [Regulasi pencatatan perkawinan di beberapa negara Muslim cenderung menekankan aspek administratif daripada substansial. Bagi komunitas Adat Melayu di Koto Kampar Hulu, Riau, Indonesia, kewajiban mereka tidak hanya terbatas pada pemenuhan administrasi perkawinan dalam hukum negara, tetapi juga melibatkan proses mendapatkan izin dari ninik mamak (tokoh adat). Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menganalisis administrasi perkawinan dalam konteks hukum adat dan hukum negara di kalangan komunitas Adat Melayu, serta mengungkap strategi hukum alternatif yang mereka terapkan untuk mengelabui administrasi perkawinan adat. Penelitian lapangan dilakukan melalui wawancara dengan 16 informan kunci dan observasi langsung terhadap kelengkapan administrasi perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Adat Melayu harus mengatasi administrasi perkawinan ganda, yaitu hukum adat dan hukum negara, guna mendapatkan legalitas perkawinan di hadapan negara. Izin dari ninik mamak menjadi dasar untuk memperoleh dokumen-dokumen dari kepala desa, persyaratan administratif untuk pencatatan perkawinan di kantor urusan agama setempat. Otoritas ninik mamak dalam pemberian izin perkawinan bertujuan untuk menyelesaikan konflik dan tanggungan adat sebelum perkawinan, sambil melestarikan identitas dan tradisi masyarakat adat. Bagi masyarakat yang mengabaikan administrasi adat, mereka mengadopsi strategi hukum alternatif seperti perkawinan siri atau pindah domisili ke desa lain. Keselarasan antara hukum adat dan hukum negara tercermin dalam studi ini, khususnya dalam konteks pencatatan perkawinan.]
Islamic Law of Inheritance among the Yoruba of Southwest Nigeria: A Case Study of Dar ul-Qadha (Arbitration Panel) Bello, Abdulmajeed Hassan
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i1.2058

Abstract

This article examines the complex aspects of succession law, which deals with the transmission of rights and obligations of individuals who have deceased concerning their inheritance, based on the legal sources adopted by society. Although the Yoruba succession practices rely on three different legal sources (common law, customary law, and Islamic law), Dar ul-Qadha (arbitration panel) disregards the latter legal source. The study aims to analyse the application of Islamic inheritance law in three cases of private legal disputes resolved by Dar ul-Qadha from 2008 to 2013. Adopting a qualitative and interpretative research method, the research findings reveal that guidelines for property distribution in Islamic law are overlooked by Dar ul-Qadha. Mothers are excluded from inheritance, while uncles, cousins, half-brothers, and step-sisters can inherit alongside full brothers. Moreover, personal property is not considered in the distribution. Neglect of Islamic inheritance law is attributed to the dominance of Yoruba social and cultural life, influenced by colonialism, Christianity, and societal ignorance. Therefore, this article argues that the distribution of inheritance through a valid Islamic system will accommodate the extended cultural family of the Yoruba. Recommendations emphasise the importance of adhering to legal requirements under land law. [Artikel ini meneliti aspek kompleks hukum suksesi, yang menangani transmisi hak dan kewajiban individu yang telah meninggal terkait dengan harta waris mereka, berdasarkan sumber hukum yang diadopsi oleh masyarakat. Meskipun praktik suksesi masyarakat Yoruba bergantung pada tiga sumber hukum yang berbeda (common law, hukum adat dan hukum Islam), Dar ul-Qadha (Dewan Arbitrase), Logos, mengabaikan sumber hukum yang terakhir. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penerapan hukum waris Islam dalam tiga perselisihan hukum pribadi yang diselesaikan oleh Dar ul-Qadha dari tahun 2008 hingga 2013. Dengan mengadopsi metode penelitian kualitatif dan interpretatif, temuan penelitian mengungkapkan bahwa panduan distribusi properti dalam hukum Islam diabaikan oleh Dar ul-Qadha. Ibu dikecualikan dari warisan, sementara paman, sepupu, saudara laki-laki dan perempuan tiri dapat mewarisi bersama saudara laki-laki kandung. Selain itu, harta pribadi tidak dipertimbangkan dalam pembagian. Kelalaian terhadap hukum waris Islam ini disebabkan oleh dominasi kehidupan sosial dan budaya masyarakat Yoruba yang dipengaruhi oleh kolonialisme, kekristenan, dan ketidaktahuan masyarakat. Oleh karena itu, artikel ini berargumentasi bahwa pembagian harta peninggalan melalui sistem surat wasiat Islam yang sah dapat mengakomodasi keluarga besar budaya Yoruba. Rekomendasi menekankan pentingnya mematuhi persyaratan hukum dari hukum tanah.]
Examining the Synthesis of Islamic Commercial Principles and Local Customary Practices: A Case Study of Nyambut Sawah Traditions in Tejamari, Banten Jamaluddin, Jamaluddin; Hayat, Milatul; Masduki, Masduki; Mukarromah, Oom; Jamaludin, Jamaludin
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i1.2091

Abstract

The influence stemming from the intersection of local traditions and religious percept manifests itself in the practice of nyambut sawah (paddy cultivation) among the Tejamari community. This practise resembles the utilisation of agricultural land (muzāra’ah) in Islamic commercial law (fiqh mu’āmalah), wherein landowners provide agricultural land to cultivators for cultivation with a profit-sharing system. This article aims to analyse the extent to which the practice of nyambut sawah adopts the principles of Islamic commercial law. This study employs a normative-empirical approach, conducting observations and interviews with eighteen informants. The research finds that the nyambut sawah tradition practiced by the Tejamari community reflects the muzāra’ah contract in fiqh mu’āmalah. The muzāra’ah contract is reflected in five models of profit-sharing systems, wherein the division of tasks, responsibilities, profits, and risks has been mutually agreed upon. Despite differences in opinion regarding the responsibility for the cost of rice milling (ngeprik padi), this practice still maintains values of mutual assistance between landowners and cultivators in overcoming economic difficulties. This article argues that local traditions and religious values can together provide solutions for the sustainability of agricultural activities. [Pengaruh interaksi tradisi lokal dengan agama tampak dalam praktik nyambut sawah di kalangan masyarakat Tejamari. Praktik ini menyerupai pemanfaatan lahan pertanian (muzāra’ah) dalam fikih muamalah, di mana pemilik tanah menyediakan lahan pertanian kepada penggarap untuk ditanami dengan sistem bagi hasil. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana praktik nyambut sawah mengadopsi prinsip-prinsip hukum bisnis Islam. Studi ini menggunakan pendekatan normatif-empiris, melakukan observasi dan wawancara dengan delapan belas informan. Penelitian menunjukkan bahwa tradisi nyambut sawah yang dipraktikkan oleh masyarakat Tejamari mencerminkan kontrak muzāra’ah dalam fikih muamalah. Kontrak muzāra’ah tercermin dalam lima model sistem bagi hasil, di mana pembagian tugas, tanggung jawab, keuntungan, dan risiko telah disepakati secara bersama. Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai tanggung jawab atas biaya ngeprik padi (penggilingan padi), praktik ini tetap mempertahankan nilai-nilai saling tolong-menolong antara pemilik lahan dan penggarap dalam mengatasi kesulitan ekonomi. Artikel ini berargumen bahwa tradisi lokal dan nilai-nilai agama dapat bersama-sama memberikan solusi untuk keberlanjutan kegiatan pertanian.]
The ‘Double-Faced’ Legal Expression: Dynamics and Legal Loopholes in Interfaith Marriages in Indonesia Rajafi, Ahmad; Sugitanata, Arif; Lusiana, Vinna
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i1.2153

Abstract

Interfaith marriages remain a controversial subject among scholars in Indonesia. Despite the legal prohibition, the practice of interfaith marriage continues to persist. This article analyses various legal norms, decisions of the state courts and the Indonesian Constitutional Court related to interfaith marriages, revealing disparities between legal norms and practical implementation. Employing a normative approach through a literature review, this research finds that the state legislation strictly prohibits interfaith marriage. Paradoxically, couples navigate a legal workaround, exploiting a loophole in Population Administration Law No. 23 of 2006 to formalise their marriages. They submit applications to the district court, and the court’s decisions serve as the basis for recording their union. Some couples also employ an alternative strategy by marrying abroad and subsequently registering their unions upon returning to Indonesia. The article argues that the state’s legal expression in regulating the practice of interfaith marriages in Indonesia manifests ‘double face’. This study holds significant implications, particularly in enhancing policy comprehension, providing profound insights into the legal dynamics of interfaith marriages in Indonesia, and assessing its impact on citizens’ religious freedom. [Perkawinan beda agama di Indonesia masih menjadi isu kontroversial di kalangan para sarjana. Meskipun hukum negara telah melarangnya, praktik perkawinan beda agama masih terus berjalan hingga saat ini. Artikel ini menganalisis sejumlah hukum negara, putusan Pengadilan Negeri, dan putusan Mahkamah Konstitusi terkait perkawinan beda agama di Indonesia, mengungkap disparitas antara aturan hukum dan praktik. Menggunakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan normatif, penelitian ini menemukan bahwa hukum negara telah mengatur secara ketat perkawinan beda agama dengan melarangnya. Namun, para pasangan beda agama memanfaatkan celah hukum dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan untuk mencatatkan perkawinan mereka. Mereka mengajukan permohonan ke pengadilan negeri dan ketetapannya digunakan sebagai dasar untuk mencatatkan perkawinan mereka. Sebagian dari mereka juga memanfaat “pintu belakang” dengan menikah di luar Indonesia dan kembali untuk mencatatkan administrasi perkawinan mereka. Dengan demikian, tulisan ini berpendapat bahwa ekspresi hukum negara dalam mengatur praktik perkawinan beda agama di Indonesia mencerminkan “dua wajah”. Kajian ini memiliki implikasi penting terutama dalam pemahaman kebijakan, memberikan wawasan mendalam tentang dinamika hukum perkawinan beda agama di Indonesia dan dampaknya terhadap kebebasan beragama bagi warga negara.]
Religious Tradition and Technology: Debate among Penghulus about Online Marriage Law in Banjarmasin Hayati, Siti Muna; Khitam, Husnul; Erfan, Zainul; Amini, Afifah
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i1.2187

Abstract

This article explores the perspectives of penghulus (marriage functionaries) in Banjarmasin regarding online marriage contracts, navigating the interplay between religious tradition and technological. Drawing upon differences in interpretation among Islamic jurists, the article elucidates varying views on the validation of marriage contracts, focusing on the concept of ittiḥād al-majlis (unity of session). This concept significantly shapes penghulus’ opinions on the legitimacy of online marriage contracts. Against this backdrop, the article analyses the factors driving discourse among penghulus regarding online marriage contracts and their implications within Banjarese community. Conducting interviews with 12 penghulus in Banjarmasin over a three-month period from September to November 2023, the study underscores the importance of religious tradition in Banjarmasin society and its adaptation to technological progress in interpreting Islamic law. The study finds that while the majority of penghulus oppose online marriage contracts, a minority endorse them under specific conditions. Those against them argue that ittiḥād al-majlis necessitates the physical presence of all parties in one location during the marriage contract process, whereas proponents contend that the virtual realm fulfills this criterion. These findings reflect the ongoing societal dialogue regarding the interpretation of religious doctrines and technological innovations, offering valuable insights into the intersection of religious tradition and technology in contemporary Islamic jurisprudence. [Studi ini menginvestigasi perspektif para penghulu di Kota Banjarmasin terkait hukum akad nikah secara online, yang mencerminkan pergumulan antara tradisi keagamaan dan kemajuan teknologi. Dengan mengacu pada perbedaan pendapat para ulama fikih tradisional, artikel ini mengidentifikasi perbedaan dalam penafsiran terhadap ittiḥād al-majlis sebagai salah satu syarat ijab dan kabul dalam perkawinan, yang mempengaruhi pendapat para penghulu tentang sah tidaknya akad nikah secara online. Di tengah kompleksitas ini, artikel bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang membentuk perdebatan para penghulu terkait hukum akad nikah secara online serta implikasinya dalam konteks masyarakat Banjar. Dengan mewawancarai 12 penghulu di Kota Banjarmasin selama tiga bulan, dari September sampai November 2023, studi ini menyoroti pentingnya tradisi keagamaan dalam masyarakat Banjar dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dalam penafsiran terhadap hukum Islam. Kajian ini menunjukkan bahwa mayoritas penghulu menolak akad nikah secara online, sementara sebagian kecil memperbolehkannya dengan syarat tertentu. Mayoritas penghulu yang menolak menginterpretasikan ittiḥād al-majlis dengan keharusan kehadiran para pihak secara fisik dalam satu tempat dalam prosesi akad nikah, sedangkan sebagian kecil yang membolehkan memandang bahwa ruang virtual telah memenuhi kriteria ittiḥād al-majlis tersebut. Temuan ini mencerminkan perdebatan yang sedang berlangsung dalam masyarakat terkait penafsiran terhadap ajaran agama dan perkembangan teknologi, memberikan wawasan yang berharga tentang dinamika tradisi keagamaan dan teknologi dalam pemikiran hukum Islam kontemporer.]
Challenging Traditional Islamic Authority: Indonesian Female Ulama and the Fatwa Against Forced Marriages Agustina, Arifah Millati; Ismah, Nor
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i1.2319

Abstract

Forced marriage practices have garnered significant attention from various international communities, including the community of female ulama in Indonesia. Despite being a relatively new presence, the community of female ulama affiliated with the Congress of Indonesian Female Ulama (KUPI) has taken a decisive stance against this practice, issuing a firm fatwa (Islamic legal opinion) that underscores its detrimental impact on women. This article addresses the primary question of why female ulama associated with KUPI redefine the concept of wilāyāt al-ijbār (compulsory guardianship) in marriage, departing from the prevailing opinion among traditional Islamic scholars. Through a combination of literature review and field research conducted over eight months, spanning from April to November 2022, this study reveals that KUPI interprets ijbār not as the paternal right to force a daughter into marriage, but rather as a form of guardianship that entails responsibility and nurturance towards their daughter. This fatwa framework is rooted in what is termed the ‘KUPI Trilogy’: ma‘rūf (good), mubādalah (reciprocity), and keadilan hakiki (substantive justice), which promote principles of equality and egalitarianism. By employing theological, sociological, and juridical arguments and emphasizing the experiences of female victims, KUPI contends that the concept of wilāyāt al-ijbār in fiqh (Islamic jurisprudence) is not absolute, thereby prohibiting guardians from coercing or intimidating their daughters into marriage. This article argues that female ulama have boldly contested the authority of traditional ulama by reinterpreting the essence of ijbār in fiqh, while incorporating the lived experiences of female victims of forced marriage practices. [Praktik perkawinan paksa telah menarik perhatian serius dari berbagai komunitas internasional, termasuk komunitas ulama perempuan di Indonesia. Meskipun relatif baru, komunitas ulama perempuan yang tergabung dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) ini mengeluarkan fatwa tegas yang menentang praktik ini, menyoroti dampak buruknya terhadap perempuan. Artikel ini menjawab pertanyaan utama mengapa ulama perempuan yang tergabung dalam KUPI merekonstruksi konsep ijbār wali dalam perkawinan secara berbeda dengan mayoritas pendapat ulama fikih tradisional. Melalui kombinasi penelitian pustaka dan lapangan selama delapan bulan, mulai dari April hingga November 2022, penelitian ini mengungkap bahwa KUPI menginterpretasikan makna ijbār bukan sebagai hak paksa wali untuk menikahkan anak perempuannya, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab dan kasih sayang wali terhadap putrinya. Pendekatan fatwa ini didasarkan pada konsep Trilogi KUPI, yaitu ma‘rūf, mubādalah, dan keadilan hakiki, yang menawarkan semangat kesetaraan dan egaliter. Dengan mengadopsi argumen teologis, sosiologis, dan yuridis dengan menekankan pengalaman korban perempuan, KUPI berpendapat bahwa konsep ijbār wali dalam fikih tidak bersifat mutlak, sehingga wali dilarang memaksa atau mengintimidasi anak perempuannya untuk menikah. Artikel ini berargumen bahwa ulama perempuan telah berani menantang otoritas ulama tradisional dengan merekonstruksi makna ijbār dalam fikih, dengan melibatkan pengalaman korban perempuan terkait praktik perkawinan paksa.]
Child Filiation and Its Implications on Maintenance and Inheritance Rights: A Comparative Study of Regulations and Judicial Practices in Indonesia, Malaysia, and Turkey Azwar, Zainal; Armi, Mhd. Ilham; Zulfan, Zulfan; Jelani, Ahmad Bakhtiar bin; Nasri, Ahmad Luthfy
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i1.2326

Abstract

This article analyses the national laws governing child filiation and their implications on the maintenance and inheritance rights of children in Indonesia, Malaysia, and Turkey. This is prompted by the fact that the determination of child filiation in these three countries not only adopts singular fiqh (Islamic jurisprudence) provisions, as some Middle Eastern Muslim countries do but also takes into account cultural values and human rights. Therefore, this article employs a normative-juridical approach by conducting a comparative analysis of the laws in these three countries. The research reveals that the laws in these three countries differentiate child filiation based on the marital status of the parents: maternity, biological paternity, and nasab (lineage) paternity. These three typologies of child filiation have implications for their maintenance and inheritance rights. The laws in these three countries stipulate that children born from valid marriages have both maintenance and inheritance rights from both parents, while children born from unregistered or non-marital unions only acquire these rights from their mothers. Although the laws in these three countries grant maintenance and inheritance rights to children born out of wedlock from the maternal lineage, some judicial decisions in Indonesia and Turkey grant these rights from both parents. The differences in judicial practices among these three countries are attributed to variations in legal systems and the Islamic legal schools adopted. Among the three studied nations, this article finds that the legal frameworks and judicial practices in Indonesia and Turkey are more accommodating to children’s rights compared to those in Malaysia. [Artikel ini menganalisis hukum negara yang mengatur ketentuan filiasi anak dan implikasinya terhadap hak pemeliharaan dan waris anak di Indonesia, Malaysia, dan Turki. Hal ini dipicu oleh fakta bahwa penetapan filiasi anak di ketiga negara tersebut tidak hanya mengadopsi ketentuan fikih secara tunggal, seperti beberapa negara Muslim di Timur Tengah, tetapi juga memperhitungkan nilai-nilai budaya dan hak asasi manusia. Oleh karena itu, artikel ini menggunakan pendekatan normatif-yuridis dengan melakukan analisis perbandingan terhadap hukum di ketiga negara tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa hukum di ketiga negara tersebut membedakan filiasi anak berdasarkan status perkawinan orang tua: maternitas, paternitas biologis, dan paternitas nasab. Ketiga tipologi filiasi anak ini memiliki implikasi terhadap hak pemeliharaan dan waris anak. Hukum di ketiga negara menetapkan bahwa anak yang lahir dari perkawinan yang sah memiliki hak pemeliharaan dan waris dari kedua orang tua, sedangkan anak yang lahir dari perkawinan yang tidak tercatat atau tanpa ikatan perkawinan hanya memperoleh hak tersebut dari ibunya. Meskipun hukum di ketiga negara memberikan hak pemeliharaan dan waris anak tanpa ikatan perkawinan dari jalur ibu, beberapa keputusan yudisial di Indonesia dan Turki memberikan hak-hak tersebut dari kedua orang tua. Perbedaan dalam praktik peradilan di ketiga negara ini disebabkan oleh perbedaan sistem hukum dan mazhab fikih yang dianut. Dari ketiga negara yang diteliti, artikel ini menemukan bahwa hukum dan praktik peradilan di Indonesia dan Turki lebih akomodatif terhadap hak anak dibandingkan dengan di Malaysia.]
Violence Against Women in Pre-Marital Relationships: The Ngemblok Tradition among the Muslim Community in Rembang Sofiani, Trianah; Kamalludin, Iqbal; Abdullah, Raihanah
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 2 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i2.2680

Abstract

Violence against women occurs not only within households but also in pre-marital relationships, as exemplified by the ngemblok tradition practiced by the Muslim community in Rembang, Central Java. This tradition involves a marriage proposal process where the woman’s family presents goods (seserahan) to the prospective groom to symbolise the binding of their pre-marital relationship. This article aims to analyse the ngemblok tradition, examining the reasons and experiences of those involved, particularly women, and assessing the tradition from the perspectives of state law and human rights. Through in-depth interviews with 16 key informants, including participants in the tradition, the study found that ngemblok facilitates acquaintance between the bride and groom and their families through a matchmaker appointed by the woman’s family. The patriarchal culture grants the woman’s parents, especially the father, unilateral authority in selecting a partner for their daughter, often leading to sexual and psychological violence. Women frequently feel compelled to comply with their parents’ wishes to avoid social stigma and sanctions and to uphold ancestral traditions. This article argues that patriarchal cultural mechanisms render women powerless in ending pre-marital relationships, undermining gender equality and human rights, and perpetuating violence against women. [Kekerasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam rumah tangga, tetapi juga dalam hubungan pranikah. Fenomena tersebut terdapat dalam tradisi ngemblok yang dipraktikkan oleh komunitas muslim di Rembang, Jawa Tengah. Tradisi ini merupakan prosesi peminangan perkawinan yang diinisiasi oleh keluarga perempuan dengan memberikan sejumlah barang (seserahan) kepada calon pengantin laki-laki sebagai simbol pengikatan hubungan pranikah antara kedua calon pengantin. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis tradisi ngemblok, alasan dan pengalaman para aktor, terutama perempuan, dalam mempraktikkannya serta bagaimana perspektif hukum negara dan Hak Asasi Manusia terhadap tradisi tersebut. Melalui wawancara secara mendalam dengan 16 informan kunci yang terdiri dari sejumlah aktor yang terlibat dalam tradisi ini, penelitian ini menemukan bahwa tradisi ngemblok bertujuan untuk memfasilitasi kedua calon pengantin dan keluarga untuk saling mengenal dengan perantara mak comblang yang ditunjuk oleh keluarga perempuan. Budaya patriarki mengakibatkan orang tua dari perempuan, terutama ayah, memiliki otoritas sepihak dalam mencarikan pasangan bagi putrinya. Bahkan berkontribusi terhadap kekerasan seksual dan psikologis yang dialami perempuan mereka dalam hubungan pranikah tersebut. Para perempuan sering kali terpaksa mengikuti keinginan sepihak orang tuanya untuk menghindari stigma dan sanksi sosial dari masyarakat serta menjaga tradisi yang telah diwarisi oleh nenek moyang. Artikel ini berargumentasi bahwa mekanisme budaya berbasis patriarki menyebabkan ketidakberdaayaan perempuan sebagai korban dalam mengakhiri hubungan pranikah yang tidak hanya mencederai prinsip-prinsip kesetaraan gender dan Hak Asasi Manusia, tetapi juga pembiaran terhadap perlakuan kekerasan terhadap perempuan.]
Between Adherence to Madhhab and Adaptation to Context: Fatwās on Female Leadership in Nahdlatul Ulama-Affiliated Islamic Higher Education Institutions Hannan, Nur; Huda, M. Syamsul; Firdaus, Mohamad Anang; Afabih, Abdillah; Musthofa, Yayan
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 2 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i2.2725

Abstract

The issue of women in leadership has been a longstanding topic of debate among classical Islamic jurists, eliciting diverse responses from mainstream Islamic organizations in Indonesia. This article presents a comparative analysis of fatwās (Islamic legal opinions) issued by the Forum of Bahtsul Masail (FBM) at two Nahdlatul Ulama (NU)-affiliated Islamic higher education institutions: Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, which prohibits female leadership, and Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, which permits it. Through a combination of literature-based and empirical approaches, the article highlights a significant contrast in the istinbāṭ al-aḥkām (derivation of legal rulings) employed by these two FBMs. FBM Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng adopts the qawlī (literal) method, adhering to the majority views of classical Islamic jurists. In contrast, FBM Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo employs a manhājī (methodological) approach, incorporating minority opinions and reinterpreting texts within the context of modern societal changes. These contrasting fatwās reflect a broader tension between taqlīd (adherence to precedent) and adaptation to evolving social contexts. Furthermore, this article argues that the educational backgrounds of the FBM actors, as well as the curricula taught in their respective pesantren (Islamic boarding schools), contribute to the differences in fatwās. These differences reflect the internal dynamics within the fatwā production process in NU. [Isu kepemimpinan perempuan telah lama menjadi topik perdebatan di kalangan ahli hukum Islam klasik yang telah memicu beragam respons di kalangan organisasi masyarakat Islam arus utama di Indonesia. Artikel ini menganalisis secara komparatif fatwa dari Forum Bahtsul Masail (FBM) di dua ma’had aly yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU): Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, yang melarang perempuan menjadi pemimpin, dan Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, yang memperbolehkannya. Artikel ini, dengan mengombinasikan pendekatan kepustakaan dan empiris, menemukan bahwa kedua FBM menggunakan metode penggalian hukum (istinbāṭ al-aḥkām) yang berbeda. FBM Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng menerapkan metode qawlī, merujuk pada pendapat mayoritas ulama fikih, sementara FBM Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo menggunakan metode manhājī, mengadopsi pendapat ulama minoritas dan melakukan interpretasi (ulang) terhadap teks. Perbedaan fatwa tersebut dipengaruhi oleh pendekatan yang berbeda antara taklid dalam bermazhab dan adaptasi terhadap perubahan sosial. Lebih jauh, artikel ini berargumentasi bahwa latar belakang pendidikan para aktor FBM, serta kurikulum yang diajarkan di masing-masing pesantren, berkontribusi pada perbedaan fatwa yang dihasilkan. Perbedaan-perbedaan ini mencerminkan dinamika internal dalam proses produksi fatwa di kalangan NU.]
Knitting Reciprocity and Communality: Countering the Privatization of Family in Bimanese Muslim Local Marriage of Eastern Indonesia Wardatun, Atun
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 2 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i2.2771

Abstract

This article aims to introduce two distinctive forms of marriage recognized by Bimanese Muslims in West Nusa Tenggara, nika taho (good marriage) and nika iha (bad marriage), to outline how traditional marriages demonstrate the value of reciprocity and collectiveness. Arranging marriage (parental choice) and love marriage (self-choice), two types of marriage generally known in the existing literature, are both practiced by the Bimanese with additional essential requirements: getting permission from parents and relatives and giving consent by the couple to be. Based on ethnographic research conducted in 2017, a series of visits in 2021-2022, and the theory of marriage as “a sequence, place-based, practical actions” by Catherine Allerton, this article argues that marriage for the Bimanese is a meeting point of private intimacy and public activity (rawi rasa), which necessitates public interest in fostering the well-being of the family. This article underlines the interdependence of privacy and the social values of family and marriage lives, which is significant in countering a current state of affairs called the privatization of family, which is simultaneously practiced by the Bimanese along with the communality of marriage tradition. This opposite trend, unfortunately, is often used as a reason to reject the transformation and reform of family laws that emphasize public interests, such as the maturation of the age of marriage and the elimination of domestic violence against women. This article suggests that the value of communality and interconnectedness should go both ways, with public affairs influencing the institution of marriage and supporting families to fulfill their functions, while families accept and perform their social responsibilities in realizing the public good. [Artikel ini memperkenalkan dua bentuk pernikahan yang dipraktikkan oleh masyarakat Muslim Bima di Nusa Tenggara Barat: nika taho (pernikahan yang baik) dan nika iha (pernikahan yang buruk), untuk menunjukkan nilai-nilai kesalingan dan kolektivitas dalam tradisi pernikahan mereka. Baik perjodohan (pilihan orang tua) maupun pernikahan atas dasar cinta (pilihan sendiri), seperti yang biasa dibahas dalam literatur, dipraktikkan oleh Muslim Bima dengan menambah dua persyaratan yang esensial: mendapatkan izin dari orang tua dan kerabat dan menerima persetujuan dari pasangan yang akan menikah. Berdasarkan penelitian etnografi yang dilakukan pada tahun 2017, serangkaian kunjungan pada tahun 2021-2022, dan merujuk teori Catherine Allerton tentang pernikahan sebagai “rangkaian tindakan praktis berbasis tempat”, artikel ini berargumen bahwa pernikahan bagi Muslim Bima berfungsi sebagai titik temu antara keintiman privat dan aktivitas publik (rawi rasa), di mana kepentingan publik diperlukan untuk mendukung kebaikan bagi keluarga. Artikel ini menggarisbawahi saling ketergantungan antara nilai privasi dan sosial dalam konteks keluarga dan pernikahan, yang berfungsi signifikan dalam melawan tren privatisasi keluarga dewasa ini. Tren privatisasi, walaupun masih dipraktikkan bersamaan dengan komunalitas pada sisi tertentu dari tradisi pernikahan, sering dijadikan sebagai alasan untuk menolak transformasi dan reformasi hukum keluarga yang menekankan kepentingan publik, seperti menaikkan usia legal pernikahan dan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan. Artikel ini menyarankan agar nilai-nilai komunalitas dan kesalingan harus berjalan dua arah: urusan publik selayaknya mempengaruhi institusi pernikahan dan mendukung keluarga dalam memenuhi fungsinya, sementara keluarga sepatutnya menerima dan menjalankan tanggung jawab sosial mereka dalam mewujudkan kebaikan publik.]