cover
Contact Name
Muhammad Lutfi Hakim
Contact Email
luthfyhakim@gmail.com
Phone
+6285740845666
Journal Mail Official
luthfyhakim@gmail.com
Editorial Address
Jl. Letjend Suprapto No. 19 Pontianak, Kalimantan Barat 78113, Indonesia
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Journal of Islamic Law
ISSN : 27215032     EISSN : 27215040     DOI : 10.24260
JIL: Journal of Islamic Law emphasizes specifications in the discourse of Islamic Law and Social Institutions, communicates actual and contemporary research and problems concerning Islamic studies. This journal openly accepts the contributions of experts from related disciplines. All published articles do not necessarily represent the views of journals, or other institutions that have links to journal publications. The journal focuses on Islamic law studies, such as Islamic family law, Islamic economic law, Islamic criminal law, Islamic political law, Islamic astronomy (falak studies), with various approaches of normative, philosophy, history, sociology, anthropology, theology, psychology, economics and is intended to communicate the original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes any contributions from scholars of the related disciplines.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 81 Documents
Ḥusn al-Jawāb ‘an Ithbāt al-Ahillah bi al-Ḥisāb: Basyūnī ‘Imrān’s Method for Standardising the Determination of the Qamariyah Month in the Sultanate of Sambas (1913-1976) Herlambang, Saifuddin; Rizqina, Aulia Laily; Ridwansyah, Ridwansyah; Muslih, Moh.; Naffati, Abdel Kadir
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 2 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i2.2775

Abstract

This article analyses the responses of Basyūnī ‘Imrān (1885-1976), a muftī (jurisconsult) and qādhī (judge) with the title Mahārāja Imām (highest religious official) in the Sambas Sultanate, to the debates surrounding the determination of the beginning of Ramaḍān and Eid al-Fitr at the turn of the twentieth century. The differences arose from conflicting claims of accuracy between two methods, ḥisāb (astronomical calculations) and ruʾyah (physical sighting of the moon), in determining the start of the lunar month among Muslims. Concerned about these issues, Basyūnī ‘Imrān addressed them in his manuscript written in Arabic-Malay (known as Aksara Jawī), titled Ḥusn al-Jawāb ‘an Ithbāt al-Ahillah bi al-Ḥisāb (1933). By employing a historical approach and content analysis of the manuscript, the authors find that Basyūnī ‘Imrān favoured the ḥisāb method for determining the start of the lunar month. In addition to referencing Sūrah al-Raḥmān verse 5, Sūrah Yūnus verse 5, and a hadith narrated by Imām Mālik, Basyūnī ‘Imrān also considered the geographical and social conditions of Muslims to standardise the observance of fasting and Islamic festivals in the Sultanate of Sambas and its surroundings. He argued that differences in determining the start of the lunar month should not lead to divisions among Muslims, as both methods are grounded in the same theological principles. This finding contributes to the history of Islamic legal thought in Indonesia by providing evidence of scholarly efforts to standardise the determination of the lunar month during his tenure as Mahārāja Imām in the Sultanate of Sambas from 1913 to 1976. [Artikel ini menganalisis respons Basyūnī ‘Imrān (1885-1976), muftī dan qādhī yang bergelar Mahārāja Imām di Kesultanan Sambas, terhadap polemik perbedaan dalam penentuan awal puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri pada awal abad kedua puluh. Perbedaan tersebut disebabkan saling klaim kebenaran metode, antara ḥisāb dan ruʾyah, dalam penentuan awal bulan Qomariyah di kalangan umat Islam. Prihatin terhadap peristiwa tersebut, Basyūnī ‘Imrān meresponsnya sebagaimana yang tertuang dalam manuskrip berbahasa Arab-Melayu (dikenal sebagai Aksara Jawī) yang berjudul, Ḥusn al-Jawāb ‘an Ithbāt al-Ahillah bi al-Ḥisāb (1933). Dengan menggunakan pendekatan sejarah dan analisis konten manuskrip, para penulis menemukan bahwa Basyūnī ‘Imrān cenderung menggunakan metode ḥisāb dalam penentuan awal bulan Qomariyah. Selain merujuk pada Sūrah al-Raḥmān ayat 5, Sūrah Yūnus ayat 5, dan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imām Mālik, Basyūnī ‘Imrān juga mempertimbangkan kondisi geografis dan sosial umat Islam untuk menyeragamkan pelaksanaan ibadah puasa dan hari raya Islam di Kesultanan Sambas dan sekitarnya. Menurutnya, perbedaan dalam penentuan awal bulan tersebut tidak boleh menimbulkan perpecahan di antara umat Islam, karena kedua metode tersebut berlandaskan pada dasar teologi yang sama. Temuan ini berkontribusi terhadap sejarah pemikiran hukum Islam di Indonesia dengan memberikan bukti adanya pemikiran ulama yang berupaya menyeragamkan penentuan awal bulan Qomariyah yang diterapkannya ketika menjabat sebagai Mahārāja Imām di Kesultanan Sambas pada tahun 1913 sampai 1976.]
ICRP Jakarta and Interfaith Marriage Assistance in Indonesia: Civil Rights, Legal Interpretation, and Advocacy for Interfaith Couples Aris Setiyanto, Danu; Ayu Aryani, Sekar; Wahyuni, Sri
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 2 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i2.2796

Abstract

The Indonesian Constitution guarantees its citizens the freedom to express their fundamental rights. However, in practice, this guarantee faces numerous challenges and exceptions, particularly in the context of interfaith marriages. This article aims to explore the role of the Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) in Jakarta in addressing the phenomenon of interfaith marriages. This study utilises James C. Scott’s theory of resistance to examine how ICRP Jakarta combats stereotypes and negative stigmas associated with interfaith marriages. Data collection techniques include direct field observations and in-depth interviews with twelve key informants, including ICRP Jakarta officials, religious leaders (Islam, Catholicism, and Buddhism), and interfaith couples utilising ICRP Jakarta’s services. A socio-legal approach is employed to demonstrate ICRP Jakarta’s efforts to accommodate interfaith marriage practices. The study finds that ICRP Jakarta’s resistance involves mainstreaming civil rights discourse, interpreting contradictory legal frameworks, and advocating for interfaith couples through juridical, social, and direct advocacy. This article argues that ICRP Jakarta’s resistance to stereotypes and negative stigmas against interfaith marriages exemplifies how research and practical action can foster positive change in a multicultural society. These findings have implications for shaping a more inclusive and tolerant understanding and policy towards interfaith marriages. [Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan warga negara dalam mengekspresikan hak-hak dasar mereka. Namun, dalam praktiknya, jaminan ini menghadapi banyak tantangan dan pengecualian, terutama dalam konteks pernikahan beda agama. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Jakarta dalam menangani fenomena pernikahan beda agama. Dengan menggunakan teori resistensi James C. Scott, artikel ini mengkaji bagaimana ICRP Jakarta melawan stereotip dan stigma negatif terkait pernikahan beda agama. Teknik pengumpulan data mencakup observasi langsung di lapangan dan wawancara mendalam dengan dua belas informan kunci, termasuk pengurus ICRP Jakarta, tokoh agama (Islam, Katolik, dan Buddha), serta pasangan beda agama yang menggunakan layanan ICRP Jakarta. Pendekatan sosio-legal digunakan untuk mendemonstrasikan upaya ICRP Jakarta dalam mengakomodasi praktik pernikahan beda agama. Artikel ini menemukan bahwa resistensi yang dilakukan oleh ICRP Jakarta meliputi pengarusutamaan wacana hak-hak sipil, interpretasi kerangka hukum yang kontradiktif, serta advokasi bagi pasangan beda agama dalam bentuk advokasi yuridis, sosial, dan langsung. Artikel ini berargumen bahwa resistensi ICRP Jakarta terhadap stereotip dan stigma negatif terhadap pernikahan beda agama menunjukkan bagaimana penelitian dan aksi nyata dapat berjalan beriringan untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat yang multikultural. Temuan ini berimplikasi pada pembentukan pemahaman dan kebijakan yang lebih inklusif dan toleran terhadap fenomena pernikahan beda agama.]
Legal Non-Compliance and Kiai Hegemony: The Practice of Unregistered Marriages among the Madurese Muslim Community of Kubu Raya Baihaqi, Baihaqi; Tutik, Titik Triwulan; Musadad, Ahmad; Khazin, A. Mufti; Simun, Mahtumridho Ghufron bin
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 2 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i2.2819

Abstract

The practice of unregistered marriages (nikah siri) in traditional Muslim communities is often seen as non-compliance with state regulations. However, this behaviour cannot be understood without considering the influence of kiai (local religious leader) in the public sphere. This article explores the dynamics of unregistered marriage practices within the Madurese Muslim community of Kubu Raya, West Kalimantan, Indonesia. Employing a socio-legal research framework, the study collects data through in-depth interviews with 25 key informants, including widowed couples engaged in unregistered marriages, kiai, village officials, and community leaders. Drawing on Peter L. Berger’s theory of the social construction of reality, this article analyses the relationship between those involved in unregistered marriages and the hegemony of kiai. The study finds that unregistered marriages in the Madurese Muslim community are influenced by the kiai’s view that a marriage contract meeting the conditions of Islamic jurisprudence (fiqh) is valid without registration at the local Religious Affairs Office. This practice represents a social reality legitimised by religious authority. For the Madurese Muslim community, the religious legitimacy conferred by the kiai serves as a basis of faith, prompting them to engage in unregistered marriages despite this practice conflicting with state law. The article highlights the dominant role of kiai in shaping social realities that may diverge from compliance with state law in traditional Muslim communities. [Praktik perkawinan yang tidak dicatatkan (nikah siri) pada komunitas muslim tradisional sering kali dinilai sebagai ketidakpatuhan mereka terhadap regulasi administratif yang diatur oleh negara. Namun, perilaku tersebut tidak dapat dipisahkan dari pengaruh hegemoni para kiai di ruang publik. Artikel ini mengkaji dinamika praktik nikah siri yang dilakukan oleh komunitas muslim Madura di Kubu Raya, Kalimantan Barat, Indonesia. Artikel ini merupakan penelitian sosio-legal dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap 25 informan kunci yang terdiri dari para pasangan nikah siri yang berstatus sebagai duda dan janda, kiai, perangkat desa, dan tokoh masyarakat. Dengan menggunakan teori konstruksi sosial atas kenyataan dari Peter L. Berger untuk mengeksplorasi hubungan dialektis antara pelaku nikah siri dan hegemoni kiai, artikel ini menemukan bahwa nikah siri yang dipraktikkan oleh komunitas muslim Madura dipengaruhi oleh pandangan kiai bahwa akad nikah yang telah memenuhi syarat dan rukun perkawinan dalam fikih adalah sah, tanpa perlu mencatatkannya di kantor urusan agama setempat. Praktik ini merupakan bentuk kenyataan sosial yang telah mendapatkan legitimasi keagamaan dari kiai. Bagi masyarakat muslim Madura, legitimasi keagamaan yang diberikan oleh kiai menjadi modal keyakinan bagi mereka untuk melakukan nikah siri, meskipun perilaku tersebut bertentangan dengan hukum administrasi negara. Temuan ini menunjukkan bahwa hegemoni kiai yang dominan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim tradisional dapat mengonstruksi kenyataan sosial yang tidak taat terhadap hukum negara.]
Islamic Law and Gender Equality: Challenges and Reforms in Sri Lanka’s Muslim Marriage and Divorce Act Dawood, Shamila
Journal of Islamic Law Vol. 5 No. 2 (2024): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v5i2.2833

Abstract

This article examines the ongoing debates and reform efforts surrounding the Muslim Marriage and Divorce Act of 1951 (MMDA) in Sri Lanka. The Act has faced substantial criticism for its inability to adapt to the evolving needs of modern society, often prioritizing men’s interests over women’s rights. Despite numerous reform attempts, reaching a consensus on crucial provisions has proven challenging, creating significant obstacles to amending the MMDA. Employing library research, this article analyzes reports from various committees to assess current practices, which reveal conflicting perspectives between committees and civil society organizations. This study re-evaluates the MMDA’s provisions to determine whether proposed reforms align with Sharia law while meeting international legal standards, particularly Sri Lanka’s obligations to eliminate all forms of discrimination against women, while considering religious and cultural sensitivities. The article underscores the need for collaborative dialogue among stakeholders to foster reforms that address the evolving Muslim community’s legal needs, focusing on justice and equality. [Artikel ini mengkaji perdebatan yang sedang berlangsung dan upaya reformasi seputar Undang-Undang Perkawinan dan Perceraian Muslim tahun 1951 di Sri Lanka. Undang-undang tersebut telah menghadapi kritik besar karena gagal beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern yang terus berkembang, yang sering kali memprioritaskan kepentingan laki-laki di atas hak-hak perempuan. Meskipun ada banyak upaya reformasi, mencapai konsensus tentang ketentuan-ketentuan utama telah terbukti menantang, menciptakan hambatan signifikan terhadap amandemennya. Dengan menggunakan penelitian kepustakaan, artikel ini menganalisis laporan dari berbagai komite untuk menilai praktik terkini, di mana terdapat pandangan yang saling bertentangan antara komite dan organisasi masyarakat sipil. Studi ini mengevaluasi kembali ketentuan-ketentuan tersebut untuk menilai apakah reformasi yang diusulkan selaras dengan hukum Syariah sekaligus memenuhi standar hukum internasional, khususnya kewajiban Sri Lanka untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, sambil mempertimbangkan kepekaan agama dan budaya. Artikel ini menggarisbawahi perlunya dialog kolaboratif di antara para pemangku kepentingan untuk mendorong reformasi yang memenuhi kebutuhan hukum komunitas Muslim yang terus berkembang dengan menekankan keadilan dan kesetaraan.]
Religion and Science: Analysing Medical Fatwas of the Majelis Ulama Indonesia (2010–2021) Sodiqin, Ali
Journal of Islamic Law Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v6i1.2683

Abstract

The advancement of knowledge, particularly in the medical field, often surpasses established religious norms, giving rise to new legal challenges. This presents a significant issue for Islamic scholars and modern institutions such as Majelis Ulama Indonesia (the Indonesian Ulema Council, MUI). This article examines the dialectical relationship between revelation (naṣṣ) and science in the medical fatwas issued by the MUI, focusing on how Islamic scholars construct legal arguments by integrating the Qur’an and Hadith with scientific findings to advance scientific ijtihād (Islamic legal reasoning). Adopting a qualitative, library-based methodology, the study meticulously analyses 20 medical fatwas issued by the MUI between 2010 and 2021. Using a functional interpretive paradigm that incorporates revelation, reason, and reality as foundational elements of fatwa formulation, the article finds that the MUI engages in a dialogical process between revelation and science in its medical fatwas. The dialectic between naṣṣ and scientific discoveries reveals two models of integration: deductive-falsification and inductive-verification. The deductive-falsification model appears in fatwas offering guidance for specific actions, while the inductive-verification model is applied in determining the legal status of scientific products. These integration models demonstrate that the MUI positions naṣṣ as the independent variable and scientific findings as the dependent variable in the development of scientific ijtihād. This approach emphasises the decisive role of revelation in determining the acceptability of scientific advancements as the foundation for legal rulings. [Kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang medis, sering kali melampaui norma-norma agama yang mapan, sehingga menimbulkan berbagai persoalan hukum baru. Hal ini menjadi tantangan bagi para ulama dan lembaga Islam modern seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI). Artikel ini mengeksplorasi hubungan dialektika antara wahyu (naṣṣ) dan sains dalam fatwa-fatwa medis yang dikeluarkan MUI, serta bagaimana para ulama membangun dalil-dalil hukum dengan mengintegrasikan Alquran dan hadis dengan temuan-temuan ilmiah dalam pengembangan ijtihad ilmiah. Dengan mengadopsi metode kualitatif berbasis kepustakaan, penelitian ini menganalisis secara cermat isi dari 20 fatwa medis yang dikeluarkan MUI sejak tahun 2010 hingga 2021. Dengan menggunakan paradigma interpretatif fungsional yang mempertimbangkan wahyu, akal, dan realitas sebagai dasar pertimbangan fatwa, artikel ini menemukan bahwa MUI telah melakukan dialog antara wahyu dan sains dalam memproduksi fatwa-fatwa medisnya. Dialektika antara naṣṣ dan temuan-temuan ilmiah dalam fatwa-fatwa tersebut menunjukkan adanya dua model integrasi: deduktif-falsifikasi dan induktif-verifikatif. Model deduktif-falsifikasi ditemukan dalam fatwa-fatwa yang memberikan pedoman bagi umat Islam untuk mengamalkan tindakan-tindakan tertentu, sedangkan model induktif-verifikatif muncul dalam fatwa-fatwa yang menetapkan status hukum (halal atau haram) bagi produk-produk sains. Kedua model integrasi ini menunjukkan bahwa MUI telah memosisikan naṣṣ sebagai variabel independen dan temuan-temuan ilmiah sebagai variabel dependen dalam pengembangan ijtihad ilmiah. Temuan-temuan ini menempatkan wahyu sebagai faktor penentu diterima atau tidaknya suatu produk ilmiah sebagai dasar putusan hukum.]
Bridging Fiqh and Religious Practice: Actualizing the Function of Ḥāshiyah as a Form of Worship in the Scribal Traditions of Madurese Pesantren Literature Cholily, Naufal; Ghozali, Mahbub; Kholid, Abd.; Wan Mokhtar, Wan Khairul Aiman; Mahmut, Rami İbrahim
Journal of Islamic Law Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v6i1.3749

Abstract

The function of the ḥāshiyah (gloss), traditionally serving as an explanatory tool for words requiring further exploration, underwent a transformation in its application by kiai (local religious leader) in the pesantren (Islamic boarding school) of Madura. This shift arose from the need to actualize meanings and reinforce worship practices rooted in the Shāfi‘ī school of jurisprudence (madhhab). The emphasis on the Shāfi‘ī school was driven by the religious dynamics of 19th-century Madurese society, which leaned heavily toward mystical practices and tarekat (spiritual path) traditions. This study aims to identify the scribal process and glosses in the fiqh (Islamic jurisprudence) literature of Madurese pesantren and their connection to efforts to shape a new religious practice among Madurese people. A qualitative method, informed by social construction theory, was employed to guide the analysis of the data. This study found that the preferences and choices of specific Shāfi‘ī jurisprudence literature closely align with the literature commonly used in pesantren throughout Indonesia. This shared selection reflects the recognition of Madurese kiai and become an objective reality widely accepted as standard educational material in pesantren. In response to this objective reality, Madurese kiai incorporated additional explanations that not only elucidate meanings but also address questions about the religious practices of the Madurese people, which often gravitated towards tarekat connections and mystical traditions. These commentaries extend beyond simple linguistic clarification, challenging Islamic behaviors that deviate from fiqh logic. They serve as a transformative force within the Islamic tradition, facilitating the emergence of new religious practices and reinforcing the evolving function of commentary as a means of shaping and influencing religious behavior. [Peralihan fungsi ḥāshiyah, sebagai komponen penjelas kata-kata yang membutuhkan eksplanasi, mengalami pergeseran dalam proses produksinya oleh para kiai pesantren di Madura. Peralihan ini didasarkan pada kebutuhan aktualisasi makna untuk menguatkan praktik ibadah yang berdasarkan fikih mazhab Shāfi‘ī. Kebutuhan penekanan atas mazhab Shāfi‘ī didasarkan pada dinamika keagamaan masyarakat Madura abad ke-19 Masehi yang cenderung bertendensi pada praktik mistis dan pengamalan tarekat. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan proses dialektis antara kiai yang berdialektika dengan literatur fikih yang menjadi teks sumber dengan realitas sosial-keagamaan dalam proses pembentukan struktur dan tindakan hukum masyarakat Madura. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan alat analisis teori konstruksi sosial untuk menangkap proses penyalinan dan komentar yang berlangsung di dua pesantren tua di Madura. Penelitian ini menemukan bahwa teks-teks sumber yang disalin memiliki keidentikan dengan teks-teks yang dipelajari oleh pesantren-pesantren di wilayah Indonesia pada umumnya dengan tendensi kecenderungan penuh terhadap mazhab Shāfi‘ī. Struktur identik dalam pemilihan literatur menunjukkan literatur mazhab Shāfi‘ī sebagai realitas objektif yang diterima oleh seluruh pesantren sebagai bahan pengajaran. Meskipun literatur tersebut merupakan kesepakatan umum, para kiai memberikan respons makna yang bersifat subjektif dengan membawa seperangkat pengetahuan kognitif melalui penjelasan atas kosa-kata tertentu dengan mengambil teks-teks lain yang tidak ditemukan salinan materialnya. Penjelasan atas konsep kata tidak hanya berorientasi pada pemahaman makna, akan tetapi memuat refleksi kegelisahan terhadap realitas keagamaan masyarakat Madura yang cenderung berafiliasi dengan tarekat dan praktik-praktik mistik lainnya. Kritik atas tindakan keagamaan yang tidak sesuai dengan nalar fikih menunjukkan perluasan fungsi dari komentar dalam tradisi Islam sebagai komponen pembentukan tindakan keagamaan baru.]
The Language of Exclusion: Ideology and Power in the Fatwa of the Majelis Ulama Indonesia on Ahmadiyah Alnizar, Fariz
Journal of Islamic Law Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v6i1.3338

Abstract

This article analyses the fatwa issued by the Majelis Ulama Indonesia (MUI, the Indonesian Council of Ulama) on the Ahmadiyah sect through the frameworks of Teun A. van Dijk’s critical discourse analysis. Addressing a research gap on language as an instrument of power in religious discourse, this study examines the graphic structure, syntax, semantics, lexical choices, and rhetorical strategies to reveal how the fatwa not only serves as a legal guideline within Islamic jurisprudence but also functions as an ideological tool reinforcing MUI’s authority within Indonesia’s religious hierarchy. Findings indicate that passive constructions, abstraction, generalisation, hyperbole, and repetition are employed to obscure agency, amplify societal demands, and frame the Ahmadis as a threat to social stability and Islamic orthodoxy. Lexical choices, such as “deviant”, “apostate”, and “misleading”, legitimise the marginalisation of Ahmadiyah followers and reinforce the binary opposition between mainstream Muslims and the outgroup. Additionally, rhetorical strategies within the fatwa shape public perception, strengthen MUI’s authority, and potentially foster institutional discrimination. This study demonstrates that religious discourse extends beyond doctrinal guidance, functioning as a mechanism of social control that sustains exclusionary practices within the religious sphere, thereby contributing to the broader discourse on language, ideology, and power in Islamic studies in Indonesia. [Artikel ini menganalisis Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang Aliran Ahmadiyah dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis yang dikembangkan oleh Teun A. van Dijk. Studi ini menyoroti kesenjangan penelitian terkait peran bahasa sebagai instrumen kekuasaan dalam wacana keagamaan, khususnya dalam membentuk kognisi sosial, konstruksi ideologis, dan dominasi institusional. Dengan menelaah struktur grafis, sintaksis, semantik, leksikal, dan retoris, penelitian ini mengungkap bahwa fatwa tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pedoman hukum Islam, tetapi juga sebagai alat ideologis yang memperkuat posisi MUI dalam hierarki keagamaan Indonesia. Temuan menunjukkan bahwa strategi linguistik, seperti kalimat pasif, abstraksi, generalisasi, hiperbola, dan repetisi, digunakan untuk menyamarkan aktor, memperbesar tuntutan masyarakat, serta membingkai Ahmadiyah sebagai ancaman terhadap stabilitas sosial dan kemurnian Islam. Pilihan leksikal, termasuk istilah “sesat”, “murtad”, dan “menyesatkan”, berperan dalam melegitimasi marginalisasi terhadap pengikut Ahmadiyah serta memperkuat oposisi biner antara Muslim arus utama dan kelompok luar. Selain itu, strategi retoris dalam fatwa ini membentuk persepsi publik, meningkatkan otoritas MUI, serta berpotensi mendorong diskriminasi institusional. Studi ini menunjukkan bahwa wacana keagamaan tidak hanya merefleksikan norma Islam, tetapi juga berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang mempertahankan praktik eksklusi dalam ranah keagamaan. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada kajian bahasa, ideologi, dan kekuasaan dalam wacana Islam di Indonesia.]
Integrating Islamic Law and Customary Law: Codification and Religious Identity in the Malay Buyan Community of Kapuas Hulu Nordin, Zaimuariffudin Shukri; Ruslan, Ismail; Yusriadi, Yusriadi; Hamzah, Nur; Darmadi, Didi
Journal of Islamic Law Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v6i1.3410

Abstract

This article analyzes the integration of Islamic law and customary law in shaping the religious identity of the Malay Buyan community in Kapuas Hulu, West Kalimantan, Indonesia. While Islamic law plays a central role in regulating social and religious life, local customary law remains deeply embedded in the community’s legal consciousness and socio-cultural framework. Previous studies have often treated these two legal systems as separate or even contradictory. However, this study challenges such a dichotomous perspective by demonstrating that Islamic law and customary law engage in an ongoing process of negotiation, resulting in an adaptive and contextually dynamic legal framework. Using a socio-legal approach, this research collects data through in-depth interviews with ten key informants, participant observation, and document analysis. The findings reveal that Islamic law does not replace customary law but is instead integrated into the local legal system, influencing various aspects of social order, family structures, and the sustainable management of natural resources. This integration is evident in the use of Islamic legal terminology, the substance of legal norms, the mechanisms for customary fines, and the role of Islamic religious leaders in the codification of customary law. These findings challenge the prevailing bipolar view that positions Islamic law and customary law as inherently opposing systems. Instead, this study highlights a dynamic and integrative interaction between the two legal traditions, ensuring both social harmony and legal continuity. Ultimately, the article argues that the coexistence of Islamic and customary law is not a source of conflict but a mutually reinforcing and evolving process that contributes to strengthening both religious and cultural identity in a predominantly Muslim society. [Artikel ini menganalisis integrasi hukum Islam dan hukum adat dalam pembentukan identitas keagamaan masyarakat Melayu Buyan di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Indonesia. Meskipun hukum Islam memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan sosial dan keagamaan, hukum adat setempat tetap tertanam kuat dalam kesadaran hukum masyarakat. Penelitian sebelumnya sering kali memperlakukan kedua sistem hukum ini sebagai entitas yang terpisah atau bahkan bertentangan. Namun, studi ini menantang dikotomi tersebut dengan menunjukkan bahwa hukum Islam dan hukum adat terlibat dalam proses negosiasi yang berkelanjutan, sehingga membentuk kerangka hukum yang adaptif dan dinamis sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan sosio-legal, penelitian ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan sepuluh informan kunci, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hukum Islam tidak menggantikan hukum adat, tetapi diintegrasikan ke dalam sistem hukum setempat, memengaruhi berbagai aspek tatanan sosial dan budaya, struktur keluarga, serta pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Integrasi ini tampak dalam penggunaan terminologi fikih, substansi norma, mekanisme pembayaran denda adat, serta peran tokoh agama Islam dalam proses kodifikasi hukum adat. Temuan ini menantang pandangan bipolar yang menganggap hukum Islam dan hukum adat sebagai dua entitas yang bertentangan. Sebaliknya, penelitian ini menegaskan bahwa kedua sistem hukum tersebut berinteraksi secara dinamis dan integratif dalam menjaga harmoni sosial dan kontinuitas hukum. Pada akhirnya, artikel ini berargumentasi bahwa koeksistensi hukum Islam dan hukum adat bukanlah sumber konflik, tetapi merupakan proses yang dinamis dan saling memperkuat, yang berkontribusi pada penguatan identitas agama dan budaya dalam masyarakat yang mayoritas beragama Islam.]
‘Ulamā’, Authority, and Political Relations: How the PCNU Jember Fatwā Influenced Public Policy on Gold Mining in Silo? Mun'im, Zainul; Rahmad Harahap, Wahfiuddin; Putra, Rona; Santoso, Budhi; Viegri, Muhammad
Journal of Islamic Law Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v6i1.3605

Abstract

Fatwās (Islamic legal opinions) are often perceived as having limited influence on public policy, particularly in environmental and mining-related issues. Existing research suggests that despite opposition from ‘ulamā’ (Islamic scholars) and local communities, mining operations often persist due to strong political and economic backing. However, the fatwā issued by the Jember Branch Board of Nahdlatul Ulama (PCNU Jember)—which declared gold mining in Blok Silo impermissible (ḥarām)—produced a notably different outcome. This fatwā not only successfully halted mining activities but also played a decisive role in the revocation of government-issued mining permits. This study aims to analyze the mechanisms through which the PCNU Jember fatwā influenced public policy in the gold mining conflict in Blok Silo. Employing a socio-legal approach and qualitative methods, the research incorporates in-depth interviews with five key informants, including PCNU Jember officials and local community leaders, alongside document and media analysis from relevant sources. Drawing on Pierre Bourdieu’s theories of field and capital, this study argues that the effectiveness of the PCNU Jember fatwā was not solely rooted in its fiqh-based (Islamic jurisprudence) arguments but was reinforced by the symbolic and social capital held by NU scholars. The strong religious authority of ‘ulamā’ within Silo’s social structure, combined with PCNU Jember’s political connections with the local government, played a crucial role in ensuring the fatwā’s policy impact. This article argues that religious fatwās can function as potent instruments of environmental advocacy, particularly in societies where ‘ulamā’ continue to exert significant influence over political and social spheres. [Fatwa keagamaan sering kali dianggap tidak memiliki pengaruh signifikan dalam kebijakan publik, terutama dalam isu lingkungan dan pertambangan. Studi-studi terdahulu menunjukkan bahwa meskipun terdapat perlawanan dari ulama dan masyarakat, aktivitas pertambangan tetap berlangsung karena kuatnya dukungan politik dan ekonomi. Namun, fatwa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember tentang keharaman pertambangan emas di Blok Silo menunjukkan hasil yang berbeda. Fatwa ini tidak hanya berhasil menghentikan aktivitas pertambangan, tetapi juga mendorong pencabutan izin usaha pertambangan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana fatwa PCNU Jember dapat memengaruhi kebijakan publik dalam konflik pertambangan emas di Blok Silo. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosio-legal dengan metode kualitatif, yang melibatkan wawancara mendalam dengan lima informan, termasuk pengurus PCNU Jember dan tokoh masyarakat setempat, serta analisis dokumen dan berita dari sumber-sumber yang relevan. Dengan menggunakan teori field and capital dari Pierre Bourdieu, artikel ini menemukan bahwa keberhasilan fatwa PCNU Jember tidak hanya bertumpu pada argumentasi fikih dalam teks fatwa, tetapi juga pada modal simbolik dan sosial yang dimiliki oleh ulama NU. Otoritas keagamaan ulama yang tinggi dalam struktur sosial masyarakat Silo, serta hubungan politik PCNU Jember dengan pemerintah daerah, menjadi faktor utama yang memungkinkan fatwa tersebut berpengaruh terhadap kebijakan publik. Artikel ini berargumentasi bahwa fatwa keagamaan dapat berfungsi sebagai instrumen advokasi lingkungan yang efektif, terutama dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi otoritas ulama.]
Interpreting Corporate Zakat as Trade Zakat: The Construction of Islamic Legal Knowledge and Zakat Collection Practices at Baitulmaal Munzalan Indonesia Khamim, Khamim; Adithya, Rizky; Waldan, Raziki; Adzkiya’, Ubbadul; M. Nur, Uray
Journal of Islamic Law Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Islamic Law
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jil.v6i1.3679

Abstract

Corporate zakat, or zakat levied on legal entities, is a contemporary phenomenon in the Muslim world. Although Indonesia is not an Islamic state, it has legalized corporate zakat for nearly three decades. Baitulmaal Munzalan Indonesia (BMI), a prominent zakat management institution in West Kalimantan, actively collects corporate zakat despite the absence of this concept in classical fiqh (Islamic jurisprudence). This study examines the Islamic legal understanding of the ‘āmils (zakat administrators) at BMI and their practices in collecting corporate zakat through the Zakat BMI application. Employing a qualitative approach, this research is based on in-depth interviews with five key informants, as well as observations of the Zakat BMI application, official website, and social media platforms. The findings reveal that the ‘āmils at BMI conceptualize corporate zakat through qiyās (analogical reasoning), equating it with trade zakat (zakāh al-tijārah), a subcategory of wealth zakat (zakāt al-māl). Although corporate zakat is not explicitly mentioned in classical fiqh literature, BMI legitimizes its implementation by referencing Qur’anic verses, hadith, contemporary Islamic scholarly opinions, fatwas, and national legal regulations. Furthermore, BMI adopts the concept of a legal entity (shakhṣiyyah i‘tibāriyyah) as a zakat-liable subject, as developed by contemporary Islamic scholars, and applies this concept through various zakat collection programs, including the Zakat BMI application. This study highlights the necessity of contextual interpretation of zakat norms within classical fiqh to expand the scope of Islamic legal implementation in addressing modern socio-economic challenges while underscoring the evolving perception of Islamic law among Muslim societies, particularly concerning zakat regulations. [Zakat korporasi, atau zakat yang dikenakan pada entitas hukum, merupakan fenomena kontemporer dalam dunia Muslim. Meskipun Indonesia bukan negara Islam, negara ini telah melegalkan zakat korporasi selama hampir tiga dekade. Baitulmaal Munzalan Indonesia (BMI), sebagai salah satu lembaga pengelola zakat terkemuka di Kalimantan Barat, secara aktif menghimpun zakat korporasi meskipun konsep ini tidak ditemukan dalam literatur fikih klasik. Studi ini menganalisis pemahaman hukum Islam yang dimiliki oleh para amil zakat di BMI serta praktik penghimpunan zakat korporasi yang dilakukan melalui aplikasi Zakat BMI. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengandalkan wawancara mendalam dengan lima informan kunci serta observasi terhadap aplikasi kalkulator zakat, situs web resmi, dan media sosial BMI. Temuan penelitian menunjukkan bahwa para amil zakat di BMI mengonseptualisasikan zakat korporasi melalui qiyās (analogi) dengan menyamakannya dengan zakat perdagangan, yang merupakan bagian dari zakat mal. Meskipun zakat korporasi tidak disebutkan secara eksplisit dalam literatur fikih klasik, BMI membangun legitimasi atas penerapannya dengan merujuk pada ayat-ayat Alquran, hadis, pendapat ulama kontemporer, fatwa, serta regulasi hukum nasional. Selain itu, BMI mengadopsi konsep badan hukum (shakhṣiyyah i‘tibāriyyah) sebagai subjek hukum dalam zakat, sebagaimana dikembangkan oleh para ulama kontemporer, dan menerapkannya dalam berbagai program penghimpunan zakat, termasuk aplikasi Zakat BMI. Studi ini menegaskan pentingnya interpretasi kontekstual terhadap norma zakat dalam fikih klasik guna memperluas cakupan penerapan hukum Islam dalam menjawab tantangan sosial-ekonomi modern, sekaligus menyoroti perubahan pemahaman masyarakat Muslim terhadap hukum Islam, khususnya dalam aspek zakat.]