cover
Contact Name
Ivan Sunata
Contact Email
sunataivan@gmail.com
Phone
+6285274603444
Journal Mail Official
sunataivan@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci Jl. Kapten Muradi, Kec. Sungai Liuk, Kerinci, Jambi, Indonesia 37112
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
ISSN : 27146510     EISSN : 27156273     DOI : https://doi.org/10.32939/ishlah
Core Subject : Religion,
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah is a journal that publishes current original researches on ushuluddin, adab and dakwah phenomenon and studies related to social and cultural context in Indonesia in multi concepts, theories, perspectives, paradigms and methodologies. The focus study of Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah are: Interpretation of the Quran and Hadis; Humanities and Philology; Islamic Historical and Cultural Studies; Islamic communication/public speaking (Tabligh); Islamic counseling (Irsyad); Da’wah management (Tadbir); Islamic community development (Tamkin); Religion Studies.
Articles 146 Documents
A Critical Study of al-Baidhāwī’s Exegetical Sources: Surah al-Baqarah: 30–32 Khobir, Abdul; Nasution, Azhar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 8 No. 1 (2026): Juni (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tafsir al-Bayḍāwī is widely regarded by scholars as one of the most significant forms of ahammu al-tafsīr bi al-ra’y (the most prominent interpretation based on rational inquiry). This assertion appears to contrast with al-Bayḍāwī’s own acknowledgment in the preface of his work, where he mentions referencing various authoritative sources from the ṣaḥābah (Companions) and al-ṣāliḥūn (the righteous predecessors). Against this backdrop, this study aims to critically examine the interpretative sources employed by al-Bayḍāwī in his commentary on QS. al-Baqarah: 30–32. The focus of the study is directed toward several key questions: What types of interpretative sources does al-Bayḍāwī utilize? How stark is the compositional contrast between āthār (traditions) and ra’y (reason) in Tafsir al-Bayḍāwī? Furthermore, how accurate is the application of these interpretative sources? The methodology employed in this study is the critique of interpretative sources (naqd manābi‘ al-tafsīr), referencing the approach proposed by ‘Abd al-Salām bin Ṣāliḥ bin Sulaimān in his work, Naqd al-Ṣaḥābah wa al-Tābi‘īn li al-Tafsīr. The findings indicate that al-Bayḍāwī utilizes a diverse range of interpretative sources, with a predominance of linguistic approaches (tafsīr lughawī). More specifically, it was found that in the interpretation of QS. al-Baqarah: 30–32, al-Bayḍāwī employs nine expressions derived from āthār and nine others from ra’y. These findings confirm that the designation of Tafsir al-Bayḍāwī as ahammu al-tafsīr bi al-ra’y is not merely an assumption but is academically demonstrable. Although some references are considered less ṣaḥīḥ (authentic) or less relevant when evaluated against the riwāyah (tradition-based) approach practiced by the Prophet and the ṣaḥābah, al-Bayḍāwī generally demonstrates a proportional integration between āthār and ra’y in his exegetical construction. Tafsir al-Bayḍāwī secara luas dinilai oleh para ulama sebagai salah satu bentuk ahammu al-tafsīr bi al-ra’y (tafsir ra’yi yang paling penting). Pernyataan ini tampak kontras dengan pengakuan al-Bayḍāwī sendiri di awal karyanya, di mana ia menyebutkan telah merujuk pada berbagai sumber otoritatif dari kalangan para ṣaḥābah dan al-ṣāliḥūn. Berdasarkan latar inilah, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis sumber-sumber penafsiran yang digunakan al-Baidhāwī dalam menafsirkan QS. al-Baqarah: 30–32. Fokus kajian diarahkan pada Bagaimana jenis sumber Penafsiran yang digunakan Al-Baidhawi?, Seberapa kontras komposisi antara atsar dan raʾy dalam tafsir Al-baidhawy?, serta bagaimana ketepatan penggunaan sumber-sumber tafsir ini?. Metodologi yang digunakan dalam studi ini adalah kritik sumber tafsir (naqd manābi‘ al-tafsīr), dengan merujuk pada pendekatan yang ditawarkan oleh ‘Abd al-Salām bin Ṣāliḥ bin Sulaimān dalam karyanya Naqd al-Ṣaḥābah wa al-Tābi‘īn li al-Tafsīr. Hasil kajian menunjukkan bahwa al-Bayḍāwī memanfaatkan ragam sumber tafsir, dengan dominasi pendekatan kebahasaan (tafsīr lughawī). Secara lebih spesifik, ditemukan bahwa dalam penafsiran terhadap QS. al-Baqarah: 30–32, al-Bayḍāwī menggunakan sembilan ungkapan yang bersumber dari āṯār (riwayat) dan sembilan lainnya dari ra’y (nalar independen). Temuan ini mengonfirmasi bahwa penyematan gelar ahammu al-tafsīr bi al-ra’y pada Tafsir al-Bayḍāwī bukanlah asumsi belaka, melainkan dapat dibuktikan secara akademik. Meski terdapat sebagian rujukan yang dinilai kurang ṣaḥīḥ atau kurang relevan apabila dikembalikan pada pendekatan tafsir riwāyah sebagaimana praktik Nabi dan para ṣaḥābah, namun secara umum al-Bayḍāwī menunjukkan integrasi yang proporsional antara āṯār dan ra’y dalam konstruksi tafsirnya.
Digital Da’wah in the Social Media Era: Content Management Strategy of the Ministry of Religion of Pati Regency Maulidiyah, Nunuk Nor; Rochanah, Rochanah
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 8 No. 1 (2026): Juni (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the management and implementation of the use of social media as a digital da'wah instrument at the Office of the Ministry of Religion of Pati Regency. The development of digital communication technology encourages religious institutions to use social media not only as a means of conveying public information, but also as a medium for spreading religious messages that are wider, faster, and easily accessible to people from various walks of life. This study uses a qualitative approach with data collection techniques through observation of social media activities, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was carried out descriptively using a da'wah management perspective which includes the functions of planning, organizing, actuating, and controlling to understand the process of institutional social media management. The results of the study show that social media management has been actively running as a medium for publication of activities, dissemination of information, and delivery of religious messages to the public. However, the management still tends to be administrative and situational so that it is not fully supported by strategic planning, structured division of tasks, and systematic evaluation. The use of social media has a positive impact in the form of increasing access to religious information, expanding the reach of da'wah, facilitating information services, increasing connectivity between institutions and society in the digital era, and helping to create a more effective, efficient, and responsive dissemination of religious information to the needs of modern society. In addition, social media also plays a role in increasing information disclosure and strengthening institutional communication with the community in a sustainable manner. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen dan implementasi pemanfaatan media sosial sebagai instrumen dakwah digital di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati. Perkembangan teknologi komunikasi digital mendorong lembaga keagamaan memanfaatkan media sosial tidak hanya sebagai sarana penyampaian informasi publik, tetapi juga sebagai media penyebaran pesan keagamaan yang lebih luas, cepat, dan mudah diakses oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi terhadap aktivitas media sosial, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan perspektif manajemen dakwah yang meliputi fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan evaluasi (controlling) untuk memahami proses pengelolaan media sosial kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan media sosial telah berjalan aktif sebagai media publikasi kegiatan, penyebaran informasi, serta penyampaian pesan keagamaan kepada masyarakat. Namun, pengelolaan tersebut masih cenderung bersifat administratif dan situasional sehingga belum sepenuhnya didukung perencanaan strategis, pembagian tugas yang terstruktur, serta evaluasi yang sistematis. Pemanfaatan media sosial memberikan dampak positif berupa meningkatnya akses informasi keagamaan, perluasan jangkauan dakwah, kemudahan layanan informasi, meningkatnya keterhubungan antara lembaga dengan masyarakat di era digital, serta membantu menciptakan penyebaran informasi keagamaan yang lebih efektif, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat modern. Selain itu, media sosial juga berperan dalam meningkatkan keterbukaan informasi dan memperkuat komunikasi kelembagaan dengan masyarakat secara berkelanjutan.
Hedonism and Spirituality from the Perspective of the Hadith on Istidraj: A Netnographic Analysis Youtube Content of @Raymondchin Amin, Alfiandi Putra Nur; Ilmiyah, Dakhirotul
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 8 No. 1 (2026): Juni (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study analyzes how the hadith on the dangers of worldly abundance (istidraj) in Ṣaḥīḥ al-Bukhārī No. 2940 is recontextualized within the digital da‘wah ecosystem through the YouTube content “Hamba Cuan vs Hamba Allah – Escape Eps 18” published by the @RaymondChin account. Employing Kozinets’ netnographic approach comprising investigation, interaction, immersion, and integration this study examines how prophetic values are transformed into motivational narratives and platform-driven spiritual experiences. This study analyzes how the hadith on the dangers of worldly abundance (istidraj) in Ṣaḥīḥ al-Bukhārī No. 2940 is recontextualized within the digital da‘wah ecosystem through the YouTube content “Hamba Cuan vs Hamba Allah – Escape Eps 18” published by the @RaymondChin account. Employing Kozinets’ netnographic approach comprising investigation, interaction, immersion, and integration this study examines how prophetic values are transformed into motivational narratives and platform-driven spiritual experiences. An analysis of more than 3,500 comments indicates that the majority of users express positive responses, emotionally internalizing the hadith message as a critique of modern hedonism and as a means of self-reflection. In contrast, counter-comments reveal epistemic concerns regarding digital da‘wah practices and the potential oversimplification of hadith meanings, while neutral comments reflect flexible and non-binding forms of everyday spiritual consumption. Penelitian ini menganalisis bagaimana hadis tentang bahaya kelapangan dunia (istidraj) dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī No. 2940 di rekontekstualisasi dalam ekosistem dakwah digital melalui konten YouTube “Hamba Cuan vs Hamba Allah – Escape Eps 18” Akun @RaymondChin. Dengan menggunakan pendekatan netnografi Kozinets meliputi tahap investigasi, interaksi, imersi, dan integrasi studi ini menelusuri bagaimana nilai-nilai profetik bertransformasi menjadi narasi motivasional dan pengalaman spiritual yang terikat logika platform. Analisis terhadap lebih dari 3.500 komentar menunjukkan bahwa mayoritas pengguna menampilkan respons positif yang secara emosional menginternalisasi pesan hadis sebagai kritik terhadap hedonisme modern sekaligus bahan refleksi diri. Sementara itu, komentar kontra menegaskan kegelisahan epistemik terhadap metode dakwah digital dan potensi penyederhanaan makna hadis, sedangkan kelompok netral memanfaatkan konten sebagai bagian dari konsumsi spiritual sehari-hari yang fleksibel dan tidak mengikat. Integrasi seluruh temuan memperlihatkan terbentuknya spiritualitas digital yang bersifat emosional, pop, dan algoritmik, selaras dengan konsep networked religion dari Heidi Campbell tentang bergesernya otoritas keagamaan dari struktur tradisional menuju pola algorithmic affective authority otoritas yang lahir dari resonansi emosional, konektivitas platform, dan performativitas pesan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa ruang komentar YouTube menjadi arena negosiasi makna, tempat hadis tidak sekadar dikutip, tetapi diproduksi ulang sesuai pengalaman hidup, kecemasan finansial, dan pencarian spiritual generasi digital.
Humanistic Da’wah Literacy Among Z Generation: An Analysis of the Communication of Islamic Humanist Values on TikTok and Instagram via the @kadamsidik00 Account Sari, Rahmita; Islami, Nafa Aqla; Jariah, Ainun; Yuliantina, Devi; Asmianur, Refa
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 8 No. 1 (2026): Juni (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of digital media has transformed Islamic da’wah practices, making them more interactive and aligned with the characteristics of the Z Generation that has grown up in a digital ecosystem. This study focuses on the patterns of humanistic da’wah developed by Z Generation da’wah creators through social media. The research problem lies in the limited existing studies on how Z Generation creators construct, communicate, and internalize the values of Islamic humanism through digital platforms such as TikTok and Instagram. This study employs a qualitative method with a netnographic approach to observe the activities, content, and digital interactions on the Kadam Sidik (@kadamsidik00) da’wah account on TikTok and Instagram. Data was collected through observations of content posts, communication patterns, and audience responses, which were then analyzed thematically. The results indicate that the applied da’wah patterns reflect a humanistic approach through the use of language that is communicative, empathetic, non-judgmental, and relevant to the emotional experiences of the Z Generation. The dominant values of Islamic humanism include empathy, tolerance, equality, and respect for human dignity. The communication strategies employed are dialogic, creative, and participatory, thereby fostering an emotional connection between the preacher and the audience. These findings indicate that the success of digital da’wah among Z Generation is determined not only by religious content but also by the ability to integrate a humanistic approach with digital communication strategies that align with the characteristics of the young audience. Perkembangan media digital telah mengubah praktik dakwah Islam menjadi lebih interaktif dan dekat dengan karakteristik Generasi Z sebagai kelompok yang tumbuh dalam ekosistem digital. Penelitian ini berfokus pada pola dakwah humanis yang dikembangkan oleh kreator dakwah Generasi Z melalui media sosial. Permasalahan penelitian terletak pada masih terbatasnya kajian mengenai bagaimana kreator Generasi Z membangun, mengomunikasikan, dan menginternalisasikan nilai-nilai humanisme Islam melalui platform digital seperti TikTok dan Instagram. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan netnografi untuk mengamati aktivitas, konten, dan interaksi digital pada akun dakwah Kadam Sidik (@kadamsidik00) di TikTok dan Instagram. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap unggahan konten, pola komunikasi, serta respons audiens yang kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola dakwah yang diterapkan mencerminkan karakter dakwah humanis melalui penggunaan bahasa yang komunikatif, empatik, tidak menghakimi, dan relevan dengan pengalaman emosional Generasi Z. Nilai-nilai humanisme Islam yang dominan meliputi empati, toleransi, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Strategi komunikasi yang digunakan bersifat dialogis, kreatif, dan partisipatif sehingga mampu membangun kedekatan emosional antara dai dan audiens. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah digital pada Generasi Z tidak hanya ditentukan oleh substansi keagamaan, tetapi juga oleh kemampuan mengintegrasikan pendekatan humanis dan strategi komunikasi digital yang sesuai dengan karakteristik audiens muda.
Peace Theology in the Hudaibiyah Agreement: Actualization of the Values of the Faith from the Perspective of Qashash Al-Qur'an Nuraini, Nuraini; Yani, Sri Rahma; Aslati, Aslati; Agustin, Hanna Jenifer; S, Mochammad Novendri
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 8 No. 1 (2026): Juni (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the theology of peace embodied in the Treaty of Hudaybiyyah through the perspective of Qashash al-Qur'an (Qur'anic narratives), with a particular focus on the actualization of creedal values (aqidah) relevant to the lives of Muslims. The Treaty of Hudaybiyyah represents one of the most monumental events in Islamic history, not only reflecting the diplomatic strategy of Prophet Muhammad (peace be upon him) but also demonstrating theological principles grounded in faith, patience, obedience, and commitment to peace. From the Qur'anic perspective, this event is portrayed as a victory containing profound wisdom for strengthening faith and shaping the moral character of the Muslim community. This research aims to identify the creedal values embedded in the narrative of the Treaty of Hudaybiyyah based on the interpretations of Qur'anic exegetes, while also analyzing their relevance in constructing a theology of peace amid the dynamics of contemporary Muslim society. This study employs a library research method using a thematic interpretation (mawdhu'i) approach within the framework of Qashash al-Qur'an studies. Primary data were obtained from various Qur'anic commentaries discussing the verses related to the Treaty of Hudaybiyyah, particularly those contained in Surah al-Fath. Secondary data were drawn from Islamic historical literature, scholarly articles, and other relevant academic studies. All data were analyzed using content analysis techniques to uncover the meanings, values, and theological messages embedded in this event. The findings reveal that the Treaty of Hudaybiyyah embodies several creedal values that serve as the foundation of the theology of peace in Islam. These include belief in Allah's wisdom behind every divine decree, patience in facing trials and pressures, obedience to the decisions of the Prophet Muhammad (peace be upon him), commitment to agreements and covenants, and the spirit of consultation (shura) in resolving conflicts. These values possess strong relevance in modern life, particularly in fostering a culture of tolerance, strengthening moderate attitudes, promoting peaceful conflict resolution, and cultivating optimism and trust in the wisdom underlying every circumstance faced by Muslims. Penelitian ini mengkaji teologi perdamaian yang terkandung dalam Perjanjian Hudaibiyah melalui perspektif qashash al-Qur’an dengan menitikberatkan pada aktualisasi nilai-nilai akidah yang relevan bagi kehidupan umat Islam. Perjanjian Hudaibiyah merupakan salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang tidak hanya merepresentasikan strategi diplomasi Nabi Muhammad saw., tetapi juga mencerminkan prinsip-prinsip teologis yang berlandaskan keimanan, kesabaran, ketaatan, dan komitmen terhadap perdamaian. Dalam perspektif al-Qur’an, peristiwa ini diposisikan sebagai kemenangan yang mengandung hikmah besar bagi penguatan akidah dan pembentukan karakter umat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai akidah yang terkandung dalam kisah Perjanjian Hudaibiyah berdasarkan penafsiran para mufasir, sekaligus menganalisis relevansinya dalam membangun teologi perdamaian di tengah dinamika kehidupan masyarakat Muslim kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan tafsir tematik (maudhu‘i) dalam kerangka kajian qashash al-Qur’an. Data primer diperoleh dari berbagai kitab tafsir yang membahas ayat-ayat terkait Perjanjian Hudaibiyah, khususnya yang termuat dalam Surah al-Fath, sedangkan data sekunder bersumber dari literatur sejarah Islam, artikel ilmiah, dan kajian akademik yang relevan. Seluruh data dianalisis menggunakan teknik content analysis untuk mengungkap makna, nilai, dan pesan teologis yang terkandung dalam peristiwa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perjanjian Hudaibiyah mengandung sejumlah nilai akidah yang menjadi fondasi teologi perdamaian dalam Islam, yaitu keyakinan terhadap kebijaksanaan Allah dalam setiap ketetapan-Nya, kesabaran dalam menghadapi ujian dan tekanan, kepatuhan terhadap keputusan Rasulullah saw., komitmen terhadap perjanjian, serta semangat musyawarah dalam menyelesaikan konflik. Nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat dalam konteks kehidupan modern, terutama dalam membangun budaya toleransi, memperkuat sikap moderat, mengedepankan penyelesaian konflik secara damai, serta menumbuhkan optimisme dan kepercayaan terhadap hikmah di balik setiap peristiwa yang dihadapi umat Islam.
Negotiating Religious Authority and Authenticity on TikTok: A Digital Ethnography of Competing Da'wah Styles Among Indonesian Muslim Youth Andika, Muhammad Rifkia; Ismail, Muhammad Syukri
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 8 No. 1 (2026): Juni (In Press)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of TikTok as a short video platform has changed the digital da'wah landscape in Indonesia, especially among Muslim youth who are increasingly making social media the main space to access, assess, and disseminate religious knowledge. In this context, religious authority no longer rests entirely on formal institutional or scientific legitimacy, but is also negotiated through the communication style, visual aesthetics, digital interactions, and the impression of authenticity that creators construct. This study aims to analyze how religious authority and authenticity are negotiated on TikTok through a competing style of da'wah among Indonesian Muslim youth. The study used a qualitative approach with a digital ethnographic design through non-interventional participatory observation of da'wah content, captions, hashtags, audio-visual features, and user interaction on purposifully selected TikTok accounts. The results show that the most competitive style of da'wah is one that combines the substance of Islamic teachings with popular language, personal narratives, symbols of visual piety, and intensive interaction with the audience. The findings also show that authenticity serves as a key mechanism in the formation of legitimacy, as younger audiences are more likely to trust creators who appear consistent, relevant, and close to their everyday experiences. This study concludes that TikTok is a symbolic contestation arena where religious authority is produced in a relational, performative, and participatory manner in the ecology of digital media. Perkembangan TikTok sebagai platform video pendek telah mengubah lanskap dakwah digital di Indonesia, khususnya di kalangan pemuda Muslim yang semakin menjadikan media sosial sebagai ruang utama untuk mengakses, menilai, dan menyebarkan pengetahuan keagamaan. Dalam konteks ini, otoritas agama tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada legitimasi kelembagaan atau keilmuan formal, tetapi juga dinegosiasikan melalui gaya komunikasi, estetika visual, interaksi digital, dan kesan keaslian yang dibangun kreator. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana otoritas agama dan keaslian dinegosiasikan di TikTok melalui gaya dakwah yang saling bersaing di kalangan pemuda Muslim Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi digital melalui observasi partisipatif non intervensi terhadap konten dakwah, caption, hashtag, fitur audio-visual, dan interaksi pengguna pada akun-akun TikTok yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya dakwah yang paling kompetitif adalah gaya yang memadukan substansi ajaran Islam dengan bahasa populer, narasi personal, simbol kesalehan visual, serta interaksi yang intensif dengan audiens. Temuan juga memperlihatkan bahwa keaslian berfungsi sebagai mekanisme utama dalam pembentukan legitimasi, karena audiens muda lebih cenderung mempercayai kreator yang tampil konsisten, relevan, dan dekat dengan pengalaman keseharian mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa TikTok merupakan arena kontestasi simbolik tempat otoritas agama diproduksi secara relasional, performatif, dan partisipatif dalam ekologi media digital.