cover
Contact Name
Ivan Sunata
Contact Email
sunataivan@gmail.com
Phone
+6285274603444
Journal Mail Official
sunataivan@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci Jl. Kapten Muradi, Kec. Sungai Liuk, Kerinci, Jambi, Indonesia 37112
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah
ISSN : 27146510     EISSN : 27156273     DOI : https://doi.org/10.32939/ishlah
Core Subject : Religion,
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah is a journal that publishes current original researches on ushuluddin, adab and dakwah phenomenon and studies related to social and cultural context in Indonesia in multi concepts, theories, perspectives, paradigms and methodologies. The focus study of Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah are: Interpretation of the Quran and Hadis; Humanities and Philology; Islamic Historical and Cultural Studies; Islamic communication/public speaking (Tabligh); Islamic counseling (Irsyad); Da’wah management (Tadbir); Islamic community development (Tamkin); Religion Studies.
Articles 127 Documents
The Salafi Da'wah Movement and its Implications on Religious Rituals in Kota Sungai Penuh Faizin, Faizin; Afridawati, Afridawati
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i1.246

Abstract

The focus of this article is to analyze the Salafi da'wah movement and its influence on the religious rituals of the people in Sungai penuh City. Salafi da'wah is a movement that calls Muslims to the basis of religion, namely the Qur'an and Hadits, as well as trying to really religion by using reason so that it can answer the changing times. The method used is a field method, with data collection techniques that are direct observation to see the religious rituals that are applied in the community. The result of the analysis is that the salafi movement does not accept the interpretation of religion by reason of all issues based on the Quran and the Sunnah of the Prophet Muhammad SAW. Salafiyyah does not see the contradiction between reason and the Qur'an. However, the mind has no power to interpret, interpret, or decipher the Qur'an, except within the limits permitted by the words (language) and corroborated by the Hadits. Then the mind will be justified and submitted to the revelation, then it will be brought closer to the mind. There is a different perception in the people of Sungai Penuh city that there are those who accept and reject the salafi movement more, but are more likely to like to bid'ah some existing rituals such as the Prophet's Muhammad SAW birthday ceremony, Ta'ziyah, grave pilgrimage and other ceremonies. Fokus kajian artikel ini adalah menganalisis gerakan dakwah salafi dan pengaruhnya terhadap ritual keagamaan masyarakat di Kota Sungai penuh. Dakwah salafi merupakan gerakan yang menyeru kepada umat Islam kepada dasar agama yaitu Al-Qur’an dan hadits, serta berusaha sungguh-sungguh agama dengan menggunakan akal sehingga dapat menjawab perubahan zaman. Metode yang digunakan adalah metode lapangan, dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi secara langsung melihat ritual-ritual keagamaan yang diterapkan di tengah masyarakat. Hasil analisisnya adalah gerakan salafi tidak menerima interpretasi agama dengan akal semua masalah berdasarkan al-Quran dan Sunnah Nabi saw. Salafiyyah tidak melihat kontradiksi antara akal dan Al-Qur'an. Namun, akal pikiran tidak mempunyai kekuasaan untuk menakwilkan, menafsirkan, atau menguraikan Qur'an, kecuali dalam batas-batas yang diizinkan oleh kata-kata (bahasa) dan dikuatkan oleh Hadits. Kekuasaan akal pikiran sesudah itu tidak lain hanya membenarkan dan tunduk kepada wahyu, kemudian mendekatkannya kepada alam pikiran. Ada persepsi yang berbeda pada masyarakat Kota Sungai Penuh yaitu ada yang menerima dan yang menolak gerakan salafi lebih, namun lebih cenderung suka membid'ah beberapa ritual yang ada seperti upacara Maulid Nabi, Ta'ziyah, ziarah kubur dan upacara lainnya.
Uteh Bateh Traditional Kerinci Government in The Tambo Kerinci Manuscript Fiadi, Agus; Aliyas, Aliyas; Zahara, Mina
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.230

Abstract

This article explains the history of the Kerinci Traditional Government which is called Kemandapoan, where is the government system Kemendapoan This was created based on the Ordinance Law of 1918(StandsLeaf-No.677) be equipped withInlandche OrdinanceOuter regions (IGOB) September 3, 1938 (State plate No: 490) Jo Stb 1938 No 681) issued by the Dutch Colonial Government. Kemandapoan This has territorial boundaries which in the local language of the Kerinci people are known as Uteh Bateh which is very important to explain because it concerns the sovereignty of a Territory. The aim of this research is to find out the boundaries of traditional territories which have experienced shifts along with the continued development of a region with expansion, especially from the expansion of districts into regencies and municipalities as well as the many expansions of villages which will make it difficult to remember the boundaries of traditional government areas or Traditional Government. The method used in this research is a philological research method which includes determining the text; manuscript inventory; manuscript description; comparison of manuscript and text; text transliteration; as well as text translation. The results of this research are that the traditional government in Kerinci used to be 10 Kemendapoan. Kemendapoan this is at the same level as a sub-district, but now the administrative boundaries of the traditional territory include a sub-district, because there have been many changes, starting from the expansion of Kerinci Regency and Sungai Full City to the expansion of several villages. Mendapo emerged because of the will of the Kerinci Community and also the Dutch Colonial initiative which invited traditional leaders, both Depati, Ninik Mamak, Tengganai, Scholars of Ulama, Smart Clerks and youth (Hulubalang) to hold deliberations on the formation of a new government system. The aim of the formation of the Kemendapoan was for the Dutch to reduce leadership dominance Depati in their traditional territory which the Dutch feared would backfire on the Dutch position in the Kerinci region. Tulisan ini menjelaskan tentang sejarah Pemerintahan Tradisional Kerinci yang disebut dengan Kemandapoan, dimana sistem pemerintahan Kemendapoan ini dibuat berdasarkan undang undang ordonansi tahun 1918 (Staat Blaad-No.677) di lengkapi dengan Inlandche Ordonansi Buitenggewesten ( IGOB ) tanggal 3 September 1938 ( Staatblaad No:490) Jo Stb 1938 No 681) yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda. Kemandapoan ini mempunyai batas Wilayah yang dalam bahasa lokal masyarakat Kerinci dikenal dengan istilah Uteh Bateh yang sangat penting dijelaskan karena menyangkut kedaulatan suatu Wilayah. . Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui batas wilayah adat yang telah mengalami pergeseran seiring dengan terusnya berkembang suatu wilayah dengan adanya pemekaran, mulia dari pemekaran Kabupaten menjadi Kabpaten dan Kota Madya juga banyaknya terjadi pemekaran Desa yang nantinya akan menyulitkan untuk mengingat batas wilayah pemerintahan Tradisonal/Pemerintahan Adat. Metode yang digunakan daam penelitian ini adalah metode penelitian filologi yang meliputi penentuan teks; inventarisasi naskah; deskripsi naskah; perbandingan naskah dan teks; transliterasi teks; serta terjemahan teks. Adapaun hasil dari penelitian ini adalah bahwa pemerintahan tradisional yang ada di Kerinci dahulunya adalah 10 Kemendapoan. Kemendapoan ini setingkat dengan kelurahan tapi sekarang batas administratif wilayah adat mencakup sebuah Kecamatan, karena telah banyak terjadi perubahan mulai dari Pemekaran Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh sampai dengan pemekaran beberapa Desa. Mendapo muncul karena kehendak Masyarakat Kerinci dan juga inisiatif Kolonial Belanda yang mengajak Pemuka adat, baik Depati, Ninik Mamak, Tengganai, Alim Ulama, Cerdik Pandai dan pemuda (Hulubalang) untuk mengadakan musyawarah pembentukan suatu sistem pemerintahan baru. Pembentukan Kemendapoan ini bertujuan bagi Belanda untuk mengurangi dominasi kepemimpinan Depati di wilayah adatnya yang di takutkan Belanda akan menjadi bumerang bagi kedudukan Belanda dalam wilayah Kerinci.
Preventing Hoax Issues on Social Media Using the Empowering Eight (E8) Digital Literacy Model Mastanora, Refika; Yuliati, Yuliati
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.247

Abstract

This research aims to identify strategies in realizing an intelligent community in Nagari Batu Basa in responding to hoax issues on Facebook social media. The study aims to describe the attitudes of the Nagari Batu Basa community toward hoax issues on Facebook social media and to identify the strategies employed in providing media literacy to the Nagari Batu Basa community exposed to hoax issues on Facebook social media. This research uses a qualitative descriptive approach. Informant data were obtained using purposive sampling, selecting informants based on specific considerations, resulting in 7 informants. Data collection techniques included media observation, direct interviews to obtain clear and concrete data regarding the attitudes of the Nagari Batu Basa community in responding to hoax issues on Facebook social media. Documentation was directly taken from the issues present on Facebook. The results of the research found an intelligent media-savvy community as they were able to apply most of the E 8 model, which involves identifying issues visible on social media, seeking relevant information from various sites, selecting reliable sources, discussing with those knowledgeable about the circulating issues, and then sharing back to the public if the issue is deemed beneficial to many people. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi Mewujudkan Masyarakat Nagari Batu Basa Cerdas Dalam Menyikapi Isu Hoax di Media Sosial Facebook. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap masyarakat Nagari Batu Basa terhadap Isu hoax di media sosial Facebook dan untuk mengidentifikasi strategi yang dilakukan dalam memberikan literasi terhadap masyarakat Nagari Batu Basa yang terpapar Isu hoax di media sosial Facebook Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Data informan didapatkan dengan metode purposive sampling, yaitu memilih informan berdasarkan pertimbangan tertentu sehingga didapatkan 7 informan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi media, wawancara (interview) secara langsung guna memperoleh dan menggali data secara jelas dan konkret mengenai sikap masyarakat Nagari Batu Basa dalam menyikapi Isu hoax di media sosial Facebook. Dokumentasi yang dilakukan diambil langsung dari Isu yang ada di Facebook. Hasil dari penelitian yang dilakukan ditemukan masyarakat yang cerdas bermedia karena telah mampu mengaplikasikan sebagian besar dari model E 8, yakni mengidentifikasi terlebih dahulu isu yang tampak di media social, mencari informasi yang relevan dari beberapa situs, memilih sumber terpercaya, mendiskusikan kepada orang yang paham tentang isu yang beredar, kemudian men share kembali ke public jika isu tersebut dianggap bermanfaat bagi banyak orang.
Personality Moderation in the Perspective of Islamic Psychology: A Study of the Works and Teachings of Ibn Miskawaih Novalia, Rifyal; Kusayang, Titin; Vitaloka, Wulansari
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.250

Abstract

This study aims to look at the various virtues of the soul that become the midpoint in behavior, these virtues are the virtues between the two vices of extreme excess and neglect. Because moderation is the midpoint between these two attitudes. Departing from the above statement, the attitude that contradicts the moderate attitude certainly cannot be used as a reference to create a conducive atmosphere, both in terms ofsociety and individual life. Moreover, doctrines that suggest a liberal way of thinking and individualism cannot be used as a reference and view to create harmony and balance in life. Ibn Miskawaih in the book Tahdhib Alakhlaq wa Tathir al-A'raq excessive and defi ciency is a bad thing while moderation is a virtue and even a virtue in the psychological system. Excessive extremes are characterized by behavioral recklessness, arbitrary and free to do according to their own wishes regardless of the prevailing norms. This is not a gentle attitude from religious teachings that always echo the values of al-rahmat al-alamin which should be the attitude of a Muslim. This research is a literature review, exploring relevant sources such as articles, journals, books, and other documents that describe theories and information both past and present organizing the literature into the topics and documents needed. By sourcing the works and teachings of Ibn Miskawaih, namely Tahdib al-Akhlaq wa Tathir al-A'raq The approach used in this research is a psychological approach. The findings of this study produce a statement that the attitude of moderation when implemented specifically for individuals will make a moderate person towardssociety, mental and spiritual values. Penelitian ini bertujuan untuk melihat berbagai macam kebajikan jiwa yang menjadi titik tengah dalam bersikap, kebajikan tersebut merupakan keutamaan antara dua keburukan yakni ekstrem berlebihan dan terlalu mengabaikan. Oleh sebab moderasi merupakan titik tengah diantara dua sikap tersebut. Berangkat dari pernyataan diatas, maka sikap yang bertolak belakang dengan sikap moderat tentunya tidak dapat dijadikan sebuah acuan untuk menciptakan suasana kondusif, baik ditilik dari segi kehidupan sosial maupun individual. Terlebih lagi doktrin yang mengemukakan cara berfikir yang liberal dan individualisme tidak dapat dijadikan sebuah acuan dan pandangan untuk menciptakan keselarasan dan keseimbangan dalam kehidupan. Ibn Miskawaih dalam kitab Tahdhib Alakhlaq wa Tathir al-A’raq berlebihan dan kekurangan merupakan suatu keburukan sedangkan sifat moderat (moderasi) adalah suatu kebajikan bahkan merupakan suatu keutamaan dalam sistem kejiwaan. Sikap ekstrem berlebihan ditandai dengan kegarangan perilaku, semena-mena, dan bebas berbuat sesuai dengan keinginan sendiri tanpa memandang norma yang berlaku. Hal tersebut bukanlah sikap lembut dari ajaran agama yang selalu menggabungkan nilai-nilai ke al-rahmat al-alamin yang seharusnya menjadi sikap sebagai seorang muslim. Penelitian ini bersifat kajian literatur, menggali sumber yang relevan seperti artikel, jurnal, buku, dan dokumen lain yang mendeskripsikan teori serta informasi baik masa lalu maupun saat ini mengorganisasikan pustaka ke dalam topik dan dokumen yang dibutuhkan. Dengan bersumber pada karya dan ajaran Ibnu Miskawaih yakni Tahdib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan psikologis. Adapun temuan dari penelitian ini menghasilkan pernyataan, bahwa sikap moderasi apabila diimplementasikan secara khusus bagi individu akan menjadikan pribadi yang moderat terhadap nilai-nilai sosial, mental dan spiritual.
Prophetic Communication: Implementation of Da'i Da'wah Strategies in The Millennial Era Irawan, Gusli Bambang; Radiamoda, Anwar
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.260

Abstract

As technology advances, the da'wah model used by preachers is becoming more dynamic. The increasingly rapid development of the times requires da’i to change their preaching strategies to make them more relevant to the millennial generation who are familiar with advances in information technology. The new media phenomenon can be applied to spread Islam in the millennial era. One of the da'wah strategies that is relevant in this millennial era is the concept of prophetic communication. This research aims to find out how prophetic communication is used as a concept and strategy for da'wah and how prophetic communication is applied to preachers in the millennial era. This research uses bibliographic methods in several journals and books related to this discussion. The conclusion of this research is that prophetic da'wah in the millennial era emphasizes humanization, social justice and dimensions of spirituality. Adapting messages to the social context and use of mass media is important. Information technology is used to reach a wider audience while enriching religious knowledge with other knowledge. Data supports social change, while social media is used as an effective means of preaching. Da'i need to continue learning, following developments with the times, while maintaining Islamic values ​​in prophetic communication. Adapting da'wah to changing times and technology is very important. Seiring kemajuan teknologi, model dakwah yang digunakan para da'i semakin dinamis. Pesatnya perkembangan zaman menuntut para da’i mengubah strategi dakwahnya agar lebih relevan dengan generasi milenial yang akrab dengan kemajuan teknologi informasi. Fenomena media baru dapat diterapkan untuk menyebarkan Islam di era milenial. Salah satu strategi dakwah yang relevan di era milenial ini adalah konsep komunikasi profetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan komunikasi profetik sebagai konsep dan strategi dakwah serta bagaimana penerapan komunikasi profetik pada para da’i di era milenial. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan pada beberapa jurnal dan buku yang berkaitan dengan pembahasan ini. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Dakwah profetik di era milenial menekankan humanisasi, keadilan sosial, dan dimensi spiritualitas. Adaptasi pesan dengan konteks sosial dan penggunaan media massa menjadi penting. Teknologi informasi digunakan untuk menjangkau khalayak lebih luas sambil memperkaya ilmu agama dengan ilmu lain. Data mendukung perubahan sosial, sementara media sosial dijadikan sarana dakwah yang efektif. Para da'i perlu terus belajar, mengikuti perkembangan zaman, sambil menjaga nilai-nilai Islam dalam komunikasi profetik. Adaptasi dakwah dengan perubahan zaman dan teknologi sangat penting.
The Existence and Dynamics of Muslim Minorities in Southeast Asia Rahman, Bobbi Aidi
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.268

Abstract

Southeast Asia has the largest Muslim population in the world, although in this region the majority of the population is Muslim, but in some areas, there are also Muslim minority populations who are under non-Muslim rule, causing conflicts and disputes between groups that lead to intimidation, attacks, and mass killings. The purpose of this paper is to find out and analyze the conditions and development of Muslim minorities in Southeast Asia and the government's efforts to reduce conflicts that occur with a focus on three countries, namely Thailand, the Philippines and Myanmar. The condition of Muslim minorities under non-Muslim governments is certainly different from the condition of the Muslim-majority population under the rule of Muslim governments. This research is qualitative research, which collects various data and sources related to the study, both sourced from literature in the form of journal articles, books, and from the mass media using historical methods, namely heuristics, verification, interpretation and historiography. As for the findings of this study, the condition of Muslim minorities in Thailand and the Philippines despite pressure from the authorities, slowly began to be a concern of the government. However, in contrast to the condition of Muslim minorities in Myanmar, especially in Rohingya, they have not yet received recognition of their identity as citizens from the government and the Muslim side has always been concerned. Asia Tenggara merupakan penduduk Muslim yang terbesar di dunia, meskipun di wilayah ini penduduknya mayoritas Muslim, akan tetapi di sebagian wilayah terdapat juga penduduk minoritas Muslim yang berada dibawah pemerintahan non-Muslim, sehingga menimbulkan konflik dan pertikaian antar kelompok yang berujung pada intimidasi, serangan, dan pembunuhan massal. Adapun tujuan dari tulisan ini untuk mengetahui dan menganalisis kondisi dan perkembangan minoritas Muslim di Asia Tenggara serta upaya pemerintah dalam meredam konflik yang terjadi dengan fokus terhadap tiga negara, yakni Thailand, Filipina dan Myanmar. Kondisi minoritas Muslim dibawah pemerintahan non-Muslim tentunya berbeda dengan kondisi penduduk yang mayoritas Muslim di bawah kekuasan pemerintahan Muslim. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yakni mengumpulkan berbagai data dan sumber yang terkait dengan kajian, baik yang bersumber dari literatur-literatur berupa artikel jurnal, buku, maupun dari media massa dengan menggunakan metode sejarah, yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi dan historiografi. Adapun hasil temuan kajian ini, bahwa kondisi minoritas Muslim di Thailand dan Filipina meskipun mendapat tekanan dari penguasa, namun dengan perlahan mereka mulai menjadi perhatian dari pemerintah. Akan tetapi, berbeda dengan kondisi minoritas Muslim di Myanmar, khususnya di Rohingya, mereka sama sekali belum mendapatkan pengakuan identitas sebagai warganegara dari pemerintah dan pihak Muslim selalu mengalami konflik yang tak kunjung selesai, meskipun beberapa organisasi internasional menjadi pihak penengah, namun konflik dan pertikaian tetap saja dialami oleh minoritas Muslim
Social Dynamics and Intellectual Traditions During the Umayyad Dynasty Fatmawati, Fatmawati
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.275

Abstract

This article aims to analyze the social and intellectual aspects of the reign of the Umayyad Dynasty which was based in Damascus. The Umayyad dynasty was famous for its achievements in conquering territories and spreading the Islamic religion from Asia, North Africa to Europe. These brilliant achievements had an impact on changes in social structures and the strengthening of intellectual traditions. There are two focuses of study in this article, namely changes in the social structure of society and progress in the field of science. The research method used is a library research approach history, namely analysis of texts and information related to the study of the Umayyad Dynasty from various sources, then data analysis including data reduction (data reduction), display data and a picture of the conclusion or verification (conclusion drawing/verification) which is then concluded. The findings of this research are that there were changes in the social structure of society during the Umayyad Dynasty, especially with regard to non-Arab Muslims or conquered communities. Non-Arab people did not have the right to hold office during the Umayyad Dynasty, but they were more involved in intellectual traditions and created the initial foundations of knowledge in Islamic history. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis sosial kemasyarakatan dan intelektual pada masa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dinasti Bani Umayyah terkenal dengan prestasinya dalam penaklukan wilayah dan menyebarkan agama Islam dari Asia, Afrika Utara sampai ke Eropa, prestasi yang gemilang tersebut berdampak kepada perubahan struktur sosial dan penguatan dalam tradisi intelektual. Ada dua fokus kajian dari artikel ini yaitu perubahan struktur sosial masyarakat dan kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan sejarah yaitu analisis teks dan informasi yang terkait dengan kajian tentang Dinasti Bani Umayyah dari berbagai sumber, kemudian dilakukan analisis data meliputi reduksi data (data reduction), display data dan gambaran konklusi atau verifikasi (conclusion drawing/verification) yang kemudian disimpulkan. Temuan dari penelitian ini adalah terdapat perubahan struktur sosial kemasyarakatan pada masa Dinansti Bani Umayyah terutama berkaitan dengan orang-orang Islam nonArab atau masyarakat yang ditaklukkan. Orang-orang nonArab tidak memperoleh hak untuk bisa menjabat pada masa Dinasti Bani Umayyah, namun mereka lebih banyak berkecipung dalam tradisi intelektual dan menciptakan pondasi awal dalam ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam.
Counter-Narrative of Radical Religious Beliefs of Jihadist Groups: A Study of the Kutb Sittah Hadith Books on Tolerance Auzan, Ahmad Isyraq Jamarul; Ash, Abil; Muzakki, Muhammad Asgar; Sahid, Mualimin Mochammad
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.276

Abstract

Understanding of tolerance in Islam often varies and becomes a subject of different interpretations. This can create the potential for misunderstanding or misuse of tolerance in everyday practice. The purpose of this article is to analyze the understanding of jihadist groups regarding the relevant hadiths in Kutb Sittah that pertain to the concept of tolerance. This article is qualitative, utilizing content analysis to collect, analyze, and interpret textual data related to the research topic, in this case, the concept of tolerance in hadiths. This article asserts that jihadist groups that adopt radical religious beliefs do not reflect the values of tolerance. In contrast, the hadiths in Kutb Sittah emphasize the principles of tolerance in Islam, including ease, non-compulsion in religious beliefs, and the importance of maintaining good relations with fellow human beings. Therefore, these counter-narratives are relevant in combating radical interpretations that do not align with the values of tolerance, as well as social theories of tolerance that strengthen the importance of understanding and applying the concept of tolerance in an increasingly complex and multicultural society. With a deeper understanding of the true meaning of tolerance in Islam, it is hoped that there will be a stronger foundation for promoting harmony among religious communities, respecting diversity, and avoiding religious conflicts. Pemahaman tentang toleransi dalam Islam seringkali dapat bervariasi dan menjadi subjek interpretasi yang berbeda. Hal ini dapat menciptakan potensi untuk pemahaman yang salah atau penyalahgunaan konsep toleransi dalam praktik sehari-hari. Tujuan artikel ini untuk menganalisis pemahaman kelompok jihadis terhadap hadis-hadis dalam Kutb Sittah yang relevan dengan konsep toleransi. Artikel ini bersifat kualitatif dengan menggunakan content analysis, yang bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data teks yang berkaitan dengan topik artikel, dalam hal ini, konsep toleransi dalam hadis. Artikel ini menegaskan bahwa kelompok jihadis yang mengadopsi paham keagamaan radikal tidak mencerminkan nilai-nilai toleransi, sementara hadis-hadis dalam Kutb Sittah menekankan prinsip-prinsip toleransi dalam Islam, yang mencakup kemudahan, ketidakpaksaaan keyakinan agama, dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, sehingga kontra-narasi ini relevan dalam memerangi pemahaman radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai toleransi, serta teori toleransi dalam ilmu sosial yang memperkuat pentingnya memahami dan menerapkan konsep toleransi dalam konteks masyarakat yang semakin kompleks dan multikultural. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang makna sebenarnya dari toleransi dalam Islam, diharapkan dapat menjadi landasan yang lebih kuat untuk mempromosikan kerukunan antarumat beragama, menghormati keberagaman, dan menghindari konflik agama.
Model Al-Qur'an and Tafsir Models: Internalization of the Development of Digital Media Awadin, Adi Pratama; Rusmana, Dadan
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.283

Abstract

This study aims to examine the form of internalization of the Qur'an and Tafsir in digital media. Digital Media is always undergoing changes that must be used properly so that the availability of media can be used as a tool to maintain the Qur'an and tafsir so that it can be accessed by various parties. This open access allows anyone to find videos, images, documents that have been uploaded and can be opened at any time by relying on internet packages. Technology in digital form brings great influence to every line of life, especially the implementation of the search for knowledge that can be accessed quickly and easily through various media platforms. The learning of the Qur'an and tafsir that is commonly carried out in the real world is changing to digital form. This change explains that the scholars understand the changing conditions of the times, where the ultimate goal is to make the preservation and practice of the Qur'an and Tafseer well preserved. This study uses a qualitative research approach by making the study of literature as the main source. The results show that the era of digitization has a lot of impact on the existence of the Qur'an and tafsir. Digital Media is becoming caraa new way to disseminate understanding of the Qur'an and tafsir. This new way has changed carathe old way of face-to-face changing digitally. It can be seen that the usefulness of various features available such as YouTube, Instagram, and applications that are used as tools for digitization processes, both in the context of preservation through online and learning processes. The use of digital media shows how much attention users use the media to see positive content, so that the time used in surfing digital media is not wasted. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk internalisasi al-Qur’an dan Tafsir pada media digital. Media digital yang selalu mengalami perubahan yang harus dimanfaatkan secara baik agar ketersediaan media dapat dijadikan sebagai alat untuk mempertahankan al-Qur’an dan tafsir sehingga dapat diakses oleh berbagai pihak. Akses terbuka ini membuat siapa saja bisa menemukan video, gambar, dokumen yang sudah terupload dan mampu dibuka setiap saat dengan mengandalkan paket internet. Teknologi dalam bentuk digital membawa pengaruh besar bagi setiap lini kehidupan, terutama pelaksanaan pencariaan pengetahuan yang dapat diakses dengan cepat dan mudah melalui berbagai platform media. Pembelajaran al-Qur’an dan tafsir yang sudah umum dijalankan dalam dunia nyata berubah ke bentuk digital. Perubahan ini menjelaskan bahwa para pengkaji memahami kondisi zaman yang senantiasa berubah, di mana tujuan akhirnya menjadikan pelestarian dan pengamalan al-Qur’an dan tafsir terjaga dengan baik. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan menjadikan studi hasil kepustakaan sebagai sumber utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa era digitalisasi berdampak banyak bagi eksistensi al-Qur’an dan tafsir. Media digital menjadi cara baru untuk menyebarluaskan pemahaman terhadap al-Qur’an dan tafsir. Cara baru ini telah mengubah cara lama secara tatap muka berubah secara digital. Hal ini terlihat bahwa adanya kebermanfaatan berbagai fitur yang tersedia seperti YouTube, Instagram, dan Aplikasi yang dimanfaatkan sebagai alat proses digitalisasi, baik itu dalam rangka pelestarian melalui online maupun proses pembelajaran. Pemanfaatan media digital ini memperlihatkan betapa besar perhatian supaya pengguna memanfaatkan media untuk melihat konten-konten yang positif, sehingga waktu yang digunakan dalam berselancar di media digital tidak terbuang percuma.
Analysis of the Concept of Al-Hubb in the Thought of Zainal Arifin Abbas (1911-1977) Habibi, M. Yusuf; Andy, Safria; Rambe, Uqbatul Khoir
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 2 (2023): Desember
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i2.284

Abstract

This article seeks to explore Zainal Arifin Abbas' conceptualization of al-Hubb (Love). It poses two central questions: firstly, what is Zainal Arifin Abbas' interpretation of the concept of al-Hubb, and secondly, how does he construct the foundational framework for interpreting al-Hubb? This qualitative research relies on both primary and secondary data sources. The primary data comprises Zainal Arifin Abbas' writings in Tafsir Al-Qur'an al-Karim and Ilmu Tasawuf. Concurrently, secondary data, including articles, dissertations, and supporting information, is incorporated. The data is subjected to content analysis. The findings reveal that al-Hubb serves as a fundamental determinant of behavior, guiding individuals towards peace, security, and a devout faith in brotherhood. Zainal Arifin Abbas imparts a message of love in his works, emphasizing that love originates from knowledge, familiarity, and the reception of goodness. Artikel ini bertujuan untuk melacak konsepsi pemikiran Zainal Arifin Abbas mengenai Al-Hubb (Cinta). Dalam artikel ini mengajukan pertanyaan, pertama bagaimana konsep penafsiran al-Hubb menurut Zainal Arifin Abbas?, kedua, bagaimana konstruksi dasar penafsiran al-Hub menurut Zainal Arifin Abbas?. Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif dengan menggunakan dua sumber data yaitu primer dan sekunder. Data primer yang digunakan dalam artikel ini adalah tulisan Zainal Arifin Abbas dalam Tafsir Al-Qur’an al-Karim dan Ilmu Tasawuf. Sedangkan untuk data sekunder yang digunakan adalah artikel, disertasi, atau data-data yang mendukung dalam penelitian ini. Dari data yang ada akan dianalisis dengan menggunakan content analysis. Dari penelitian ini menunjukkan beberapa al-Hubb (Cinta) sebagai landasan bersikap, yang bisa membawakan manusia kepada kedamaian, keamanan, serta keimanan dan persaudaraan yang suci. Zainal Arifin Abbas juga menawarkan pesan cinta (al-Hubb ) dalam beberapa karyanya. Pesan cinta itu memuat asal lahirnya cinta dari pengetahuan dan perkenalan. Dan cinta itu lahir dari kebaikan yang diterima.

Page 8 of 13 | Total Record : 127