cover
Contact Name
Imam Setyobudi
Contact Email
jurnaletnika.isbibdg@gmail.com
Phone
+6222-7314982
Journal Mail Official
jurnal.budaya.etnika@isbi.ac.id
Editorial Address
Jalan Buah Batu no 212 Bandung.
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Budaya Etnika
ISSN : 2549032X     EISSN : 27981878     DOI : -
Jurnal Budaya Etnika merupakan publikasi hasil karya ilmiah yang berkaitan dengan budaya mencakup cipta, karsa, dan karya manusia. Jurnal Budaya Etnika menaruh perhatian pada artikel-artikel hasil kajian mengenai berbagai kebudayaan etnis yang berhubungan dengan seni, religi dan ritual, mitos, media, dan wacana kritis.
Articles 138 Documents
PENGGUNAAN AYAT SUCI ALQURAN SEBAGAI PENGOBATAN ANAK KETEGURAN DI DESA SUKA JAYA, BATU BARA Fhadila Syafutri Simamora; Rafiza Azhar; Nursukma Suri
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.3664

Abstract

Abstrak: Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan ayat suci Al-Qur'an sebagai media pengobatan anak di Desa Suka Jaya, Kabupaten Batu Bara. Praktik ini menggabungkan aspek keagamaan dan interaksi sosial yang menciptakan dinamika unik dalam komunitas. Masyarakat percaya bahwa bacaan ayat-ayat Al-Qur'an memiliki kekuatan spiritual untuk mengatasi gangguan supranatural. Penelitian ini bertujuan mendalami makna simbolik, sosial, dan linguistik dari praktik pengobatan ini dengan pendekatan antropolinguistik. Melalui observasi, wawancara, dan analisis isi, peneliti menemukan beberapa ayat yang sering digunakan dalam pengobatan anak yang mengalami keteguran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ayat Al-Qur'an bukan hanya ritual keagamaan, melainkan juga sarana memperkuat identitas dan solidaritas masyarakat. Penelitian ini diharapkan memberikan wawasan baru dalam antropolinguistik serta mendorong integrasi praktik pengobatan tradisional dengan pendekatan medis modern untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara holistik. Kata kunci: Antropolinguistik, Peyembuhan Al-Qur’an, Praktik Budaya, Keteguran Abstract: This research explores the use of holy verses of the Al-Qur'an as a medium for treating children in Suka Jaya Village, Batu Bara Regency. This practice combines religious aspects and social interactions, creating unique dynamics within the community. The local community believes that reciting verses from the Al-Qur'an holds spiritual power to overcome supernatural disturbances. This study aims to examine the symbolic, social, and linguistic meanings of this traditional healing practice using an anthropolinguistic approach. Through observation, interviews, and content analysis, the study identifies several verses frequently used to treat children suffering from keteguran (a local spirit-induced illness). The results indicate that utilizing Al-Qur'an verses is not merely a religious ritual, but also a mechanism to strengthen community identity and solidarity. This research is expected to provide new insights into anthropolinguistics and encourage the integration of traditional healing practices with modern medical approaches to improve public health holistically. Keywords: Anthropolinguistics, Qur'an Healing, Cultural Practices, Keteguran
ANTROPOLINGUISTIK PENAMAAN PESANTREN: NEGOSIASI IDENTITAS LOKAL DI PADANG LAWAS Jalauddin Pulungan; Imam Syakbani Nasution; Nursukma suri
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.3667

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis pola penamaan pesantren di Kabupaten Padang Lawas dalam perspektif antropolinguistik. Berdasarkan data Badan Silaturahmi Pesantren Padang Lawas, terdapat 40 pesantren berizin operasional dengan total lebih dari 18.000 santri. Pendekatan antropolinguistik dalam penelitian ini menghubungkan aspek kebahasaan dengan kebudayaan masyarakat setempat. Penelitian kualitatif ini mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling, melibatkan 10 pimpinan yayasan pesantren, tokoh masyarakat, dan budayawan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan pesantren di wilayah ini merefleksikan nilai religius, identitas lokal, dan tradisi sosialbudaya yang kuat. Nama-nama pesantren tersebut tidak hanya berfungsi sebagai identitas pembeda, tetapi juga menjadi media transmisi nilai keagamaan serta kearifan lokal. Kata Kunci: Antropolinguistik, Budaya Lokal, Identitas Lokal, Padang Lawas, Penamaan Pesantren. Abstract: This study aims to analyze the naming patterns of pesantren (Islamic boarding schools) in Padang Lawas Regency from an anthropolinguistic perspective. Data from the Padang Lawas Pesantren Coordinating Body shows that 40 operationally licensed pesantren serve more than 18,000 students. This anthropolinguistic approach connects linguistic elements with the local community's culture. This qualitative research gathered data through interviews, observations, and documentary studies. Informants were selected using a purposive sampling technique, comprising 10 pesantren foundation leaders, community leaders, and local cultural experts. The results demonstrate that pesantren naming in this region reflects strong religious values, local identity, and socio-cultural traditions. These names function not only as distinct markers of identity but also as a medium for transmitting religious values and local wisdom. Keywords: Anthropolinguistics, Local Culture, Local Identity, Padang Lawas, Pesantren Naming
TRADISI KELAHIRAN DALAM UPACARA ADAT SUNDA: STUDI ETNOGRAFI DI KAWALI, CIAMIS, JAWA BARAT Noni Mulyani; Ruhaliah
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.3687

Abstract

Abstrak: Tradisi kelahiran masyarakat Sunda di Kawali, Ciamis, mencerminkan kearifan lokal dan spiritual yang menghadapi tantangan modernisasi, sehingga diperlukan upaya pelestarian untuk memastikan keberlangsungannya. Penelitian ini bertujuan mengkaji tradisi tersebut sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai filosofis, sosial, dan spiritual. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, penelitian ini dibedah melalui teori kebudayaan interpretatif Clifford Geertz untuk mengurai kedalaman makna simbol dan teori liminalitas Victor Turner untuk menganalisis fase transisi kehidupan. Temuan menunjukkan bahwa ritual seperti nujuh bulanan, puputan, nincak taneuh, dan sawér, merupakan sistem simbol yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia, alam, spiritualitas, dan komunitas. Melalui ruang liminal ritual tersebut, terjadi rekonstruksi status sosial anak dan orang tua dalam struktur masyarakat. Praktik ini tetap relevan sebagai strategi menegaskan identitas budaya Sunda di tengah arus globalisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memahami cara komunitas lokal menegosiasikan memori kolektif dan eksistensi budaya mereka di era modern. Kata kunci: Tradisi kelahiran, upacara adat Sunda, Clifford Geertz, Victor Turner, etnografi.   Abstract: The birth traditions of the Sundanese community in Kawali, Ciamis, reflect local and spiritual wisdom facing modernization challenges, necessitating preservation efforts to ensure their continuity. This study aims to examine these traditions as a cultural heritage rich in philosophical, social, and spiritual values. Utilizing a qualitative method with an ethnographic approach, this research is analyzed through Clifford Geertz’s interpretative theory of culture to unravel the depth of symbolic meanings and Victor Turner’s theory of liminality to examine the transitional phases of life. The findings indicate that rituals such as nujuh bulanan, puputan, nincak taneuh, and sawér serve as symbol systems reflecting a harmonious relationship between humans, nature, spirituality, and community. Within the liminal spaces of these rituals, the social status of both the child and parents is reconstructed within the societal structure. These practices remain relevant as a strategy to assert Sundanese cultural identity amidst globalization. This study offers a theoretical contribution to understanding how local communities negotiate their collective memory and cultural existence in the modern era. Keywords: Birth tradition, Sundanese traditional ceremony, Clifford Geertz, Victor Turner, ethnography.
ANALISIS ETNOSAINS PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT PESISIR BANTEN UNTUK KEBERLANJUTAN EKOSISTEM KARBON BIRU DAN PENGHIDUPAN Khoirun Nisa Aulia Sukmani; Winna Shafanissa Mukhlis; Fhazira Wulandari; Aditia Agung Purwadi
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.4634

Abstract

Abstrak: Kerentanan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir tidak hanya berkaitan dengan faktor ekonomi, namun juga berkaitan dengan ekologi dan faktor alam lainnya. Sehingga dibutuhkan pembaharuan praktik pengetahuan lokal sesuai dengan kondisi ekologi dan faktor alam lainnya. Tanpa adanya pengetahuan lokal kebutuhan manusia dan ekosistem laut tidak akan harmonis. Penelitian ini menggali bagaimana praktik pengetahuan lokal masyarakat di kawasan pesisir Banten yaitu Karangantu, Serang dan Citeureup, Pandeglang mengenai perawatan dan pengelolaan ekosistem karbon biru dari perspektif multispesies. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan etnosain untuk mengkreterikan pengetahuan masyarakat mengenai perawatan dan pengelolaan ekosisten karbon biru. Hasil penelitian ini yaitu perawatan dan pengelolaan yang disesuaikan dengan kondisi ekologi, alam, ekonomi, serta keberlanjutannya adalah dengan “tidak melakukan apapun” dan mengupayakan “restriksi” pada ekosistem karbon biru. Harapannya adalah pengetahuan lokal tersebut dapat diretensi menjadi cara untuk menjaga keberlanjutan ekosistem karbon biru dan penghidupan masyarakat pesisir. Kata kunci: Ekosistem Karbon Biru, Masyarakat Pesisir Banten, Etnosains, Antropologi Multispesies, Keberlanjutan Abstract: Coastal communities face multidimensional vulnerabilities that extend beyond economic pressures to include ecological and environmental factors. This necessitates the renewal of local knowledge practices in alignment with dynamic ecological and natural conditions. In the absence of such knowledge, the relationship between human needs and marine ecosystems risks becoming disharmonious. This study investigates local knowledge practices among coastal communities in Banten—specifically in Karangantu (Serang) and Citeureup (Pandeglang)—regarding the care and governance of blue carbon ecosystems through a multispecies lens. Employing an ethnoscience approach, the research characterizes community-based ecological knowledge related to the maintenance and regulation of blue carbon ecosystems. The findings indicate that adaptive management strategies—rooted in ecological, environmental, and economic contexts—are expressed through practices of intentional non-intervention and ecological restriction. These practices reflect a culturally embedded logic of sustainability, suggesting that local knowledge systems hold critical value for the long-term resilience of blue carbon ecosystems and coastal livelihoods. Keywords: Blue Carbon Ecosystems, Coastal Communities of Banten, Ethnoscience, Multispecies Anthropology, Sustainability
MEMBUMIKAN PANCASILA LEWAT LAKON: STUDI KASUS PEDALANGAN DI SANGGAR WAYANG AJEN KOTA BEKASI Wawan Gunawan; Cahya Hedy; Asep Wadi
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.5043

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai Pancasila melalui pendidikan seni pedalangan di Sanggar Wayang Ajen, Kota Bekasi. Landasan teoretis mengacu pada konsep pendidikan nilai dan karakter yang menekankan internalisasi norma melalui praktik budaya, serta pandangan Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan sebagai pembudayaan karakter. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk memahami secara mendalam proses sosialisasi nilai, internalisasi norma, dan pembentukan karakter dalam praktik seni pedalangan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, dokumentasi kegiatan pelatihan, serta analisis interaksi guru-murid, khususnya pada anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan seni pedalangan berfungsi sebagai media implementasi nilai Pancasila melalui proses simbolis, naratif, dan performatif. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial diinternalisasi melalui lakon wayang, disiplin latihan, pertunjukan kolektif, dan pembiasaan karakter. Temuan ini menegaskan kekuatan pendidikan seni berbasis budaya lokal dalam membangun karakter, memperkuat identitas budaya, menumbuhkan kesadaran sosial, sekaligus menjadi model pembelajaran nilai yang relevan bagi generasi muda. Kata kunci: pendidikan Pancasila, pendidikan karakter, seni pedalangan, Sanggar Seni Wayang Ajen, kearifan lokal   Abstract: This study aims to analyze the internalization of Pancasila values through puppetry arts education at Sanggar Wayang Ajen, Bekasi City. The theoretical framework draws on the concepts of value and character education, which emphasize the internalization of norms through cultural practices, as well as Ki Hadjar Dewantara’s view of education as character cultivation. This research employs a qualitative approach with a case study method to gain an in-depth understanding of value socialization, norm internalization, and character development within puppetry practices. Data were collected through participant observation, documentation of training activities, and analysis of teacherstudent interactions, particularly among elementary and junior high school-aged children. The findings indicate that puppetry arts training serves as a medium for implementing Pancasila values through symbolic, narrative, and performative processes. The values of divinity, humanity, unity, democracy, and social justice are internalized through wayang stories, disciplined practice, collective performances, and character habituation. These findings highlight the power of arts-based, culturally rooted education in shaping character, strengthening cultural identity, and fostering social awareness, while providing a relevant and contextual learning model for the younger generation. Keywords: Pancasila education, character education, puppetry arts, Sanggar Wayang Ajen, local wisdom
ADAPTASI SISTEM PERTANIAN SUBAK DI DAERAH TRANSMIGRASI I Putu Mahardika Putra; Al Marsaban; Hasdairta Laniampe; Zulzaman Zulzaman; Bainudin Bainudin
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.5044

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pertanian subak di daerah transmigrasi dengan latar sosial budaya yang heterogen. Kerangka analisis menggunakan teori rasionalitas aktor dari Samuel L. Popkin untuk memahami pilihan-pilihan adaptif petani dalam mempertahankan keberlanjutan sistem subak. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan tipe eksplanatif, dengan penentuan informan secara purposive berdasarkan tingkat keterlibatan dan pengetahuan terhadap praktik subak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi terjadi pada tiga subsistem, yaitu budaya, sosial, dan artefak. Pada subsistem budaya, adaptasi tercermin dalam penyederhanaan ritual tanpa menghilangkan makna esensial. Pada subsistem sosial, penyesuaian meliputi distribusi air, struktur organisasi, iuran, dan sanksi yang diselaraskan dengan kondisi multikultural. Pada subsistem artefak, bangunan suci tetap dipertahankan dengan penyesuaian bentuk dan jumlah. Temuan ini menegaskan bahwa subak memiliki fleksibilitas dan kapasitas adaptif dalam mendukung keberlanjutan sistem pertanian. Kata kunci: Adaptasi, Subak, Transmigrasi, Budaya, Irigasi Abstract: This study aims to analyze the subak agricultural system in a transmigration area with a heterogeneous socio-cultural background. The analytical framework uses Samuel L. Popkin’s actor rationality theory to understand farmers' adaptive choices in maintaining the sustainability of the subak system. This study uses an explanatory qualitative approach, with informants being selected purposively based on their level of involvement and knowledge of subak practices. The results show that adaptation occurs in three subsystems: cultural, social, and artifacts. In the cultural subsystem, adaptation is reflected in the simplification of rituals without losing their essential meaning. In the social subsystem, adjustments include water distribution, organizational structure, fees, and sanctions that align with diverse cultural conditions. In the artifact subsystem, sacred buildings are maintained with adjustments in their form and number. These findings confirm that subak has the flexibility and adaptive capacity to support the sustainability of the agricultural system. Keyword: adaptation, Subak, transmigration, culture, irrigation
MENYINGKAP SAKRALITAS PANTUN SUNDA: STUDI RELIGI DENGAN PENDEKATAN NETNOGRAFI Ahmad Rifai; Herman Dermawan
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.5045

Abstract

Abstrak: Seni pantun Sunda adalah seni pertunjukan yang pada awalnya disajikan sebagai persembahan untuk Dewi Sri, Dewi Pohaci, serta para leluhur masyarakat Sunda. Oleh karena itu, sakralitas seni pantun sangat terlihat dalam proses pertunjukannya. Perkembangan seni pantun pada saat ini dapat dijumpai di media sosial, sehingga menarik untuk dikaji sejauh mana dinamika sakral dan profan dalam seni pertunjukan tersebut. Metode penelitian yang digunakan yaitu netnografi, dengan mengamati pertunjukan seni pantun yang bersumber dari kanal YouTube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni pantun Sunda pada awalnya merupakan musik sakral sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Namun, nilai sakralitas tersebut bergeser seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam yang mewarnai kesenian ini. Proses ngarajah mengalami perubahan melalui akulturasi antara ajaran Islam dan tradisi lama seni pantun Sunda. Dengan demikian, sakralitas seni pantun Sunda mengalami transformasi yang sejalan dengan perubahan kondisi sosial masyarakat Sunda. Kata kunci: Sakral, Profan, Seni Pantun Sunda Abstract: The art of Sundanese pantun is a performing art originally presented as an offering to Goddess Sri, Goddess Pohaci, and the ancestors of the Sundanese community. Therefore, the sacredness of this art is highly visible throughout the performance. Today, the development of pantun art can be found on social media, making it intriguing to examine the extent of the sacred and profane dynamics within this performing art. The research method used is netnography, which involves observing pantun performances sourced from YouTube channels. The results show that the art of Sundanese pantun was initially a form of sacred music intended as an expression of gratitude for the harvest. However, the sacred value shifted as Islam entered and influenced the art form. The ngarajah process transformed through an acculturation process between Islamic teachings and the old traditions of Sundanese pantun. Consequently, the sacredness of Sundanese pantun art has experienced a transformation in line with the changing social conditions of the Sundanese society. Keyword: Sacred, Profane, Sundanese Pantun Art
MEMANGGIL ACI KE RAGA: BABAK ONTOLOGIS DALAM NGALA PANGACIAN DI SINDANG HURIP Yuyun Yuningsih; Imam Setyobudi; Rifka Rahma Dewi; Silvia Dewi
Jurnal Budaya Etnika Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v10i1.5052

Abstract

Abstrak: Masyarakat Sunda di Sindang Hurip, Sumedang, memahami manusia melalui "Paradoks Manusia", yaitu dualitas raga (badan) dan aci (roh). Saat warga sakit parah hingga rohnya dianggap tercerai-berai, keluarga menyelenggarakan ritual Ngala Pangacian melalui perantara dukun. Penelitian kualitatif berpendekatan Imam Setyobudi ini bertujuan menganalisis kosmologi Sunda tersebut menggunakan teori Peralihan Ontologis (Eduardo Viveiros de Castro), Embodiment (Thomas Csordas), dan Kosmopolitik (Isabelle Stengers & Bruno Latour). Data dikumpulkan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan ritual Ngala Pangacian mengonstruksi roh sebagai realitas ontologis yang valid, bukan sekadar simbol psikologis. Melalui berbagai medium, terjadi peralihan ontologis saat roh merasuki dukun untuk berdialog, dilanjutkan integrasi somatik ke tubuh pasien oleh cucu balita. Lebih jauh, ruang ritus menjadi arena kosmopolitik yang menunda vonis medis modern demi hukum kosmos lokal. Ritual ini menjamin kesempurnaan sirkulasi roh sekaligus membangun ketahanan mental keluarga menghadapi ambang kematian. Kata kunci: Aci, Kosmopolitik, Ngala Pangacian, Babak Ontologis, Sunda. Abstract: The Sundanese community in Sindang Hurip, Sumedang, perceives human existence through the "Human Paradox," a duality between the material physique and the soul (aci). When severe illness scatters the soul, the family conducts the Ngala Pangacian ritual through a shaman. This qualitative study utilizing Imam Setyobudi’s framework analyzes this cosmology by synthesizing three concepts: Ontological Turn (Eduardo Viveiros de Castro), Embodiment Theory (Thomas Csordas), and Cosmopolitics (Isabelle Stengers & Bruno Latour). Data were gathered via participant observation and in-depth interviews. Findings reveal that Ngala Pangacian constructs the soul as a valid ontological reality, not a mere psychological symbol. Through ritual mediums, an ontological turn occurs as the soul possesses the shaman, followed by somatic integration into the patient's body by a toddler grandson. Furthermore, the ritual space functions as a cosmopolitical arena slowing modern medical diagnosis for local cosmic laws, securing soul circulation and family resilience facing death. Keywords: Aci, Cosmopolitics, Ngala Pangacian, Ontological Turn, Sundanese.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 10 No. 1 (2026): NEGOSIASI BUDAYA DALAM KONTESTASI ZAMAN MODERN Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO Vol. 9 No. 1 (2025): NASIONALISME GLOBALISASI E-SPORT GAMERS: RESIPROSITAS JEJARING KESENIAN DAN KEP Vol. 8 No. 2 (2024): ETNOGRAFI BUDAYA DAN SUBBUDAYA DI KOTA-KOTA INDONESIA Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS Vol 8, No 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PASU Vol 7, No 2 (2023): ANTROPOLOGI STRUKTURAL DAN ANTROPOLOGI MUSIK: TRITANGTU DAN PARIWISATA BUDAYA Vol 7, No 1 (2023): Komodifikasi Budaya: Tradisi, Seni dan Gaya Hidup Vol 6, No 2 (2022): Peradaban dan Pengetahuan Lokal: Pada Masa Hindu hingga Masa Kini Vol 6, No 1 (2022): Minum Tuak Marga Perbase: Terebang Shalawat Numbal Terowongan Sasaksaat Vol 5, No 2 (2021): Pandemi Covid-19 & Pengetahuan Dukun: Ritual, Seni, Konsumerisme Vol 5, No 1 (2021): Hubungan Imajinasi, Kreativitas, Perubahan, dan Mitos Identitas: Mang Koko, Moti Vol 4, No 2 (2020): Tradisi Otentik, Modifikasi Tradisi, Komodifikasi (Agenda Setting Artefak Digita Vol 4, No 1 (2020): Fungsi, Gender, dan Pergeseran Nilai-nilai dalam Tradisi Vol. 3 No. 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital Vol 3, No 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital Vol 3, No 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi Vol. 3 No. 1 (2019): Etnografi Ritual Masyarakat Sunda: Fungsi Sosial, Liminalitas, Akulturasi Vol 2, No 2 (2018): Momen Kreatif, Ekspresi, dan Keberagaman Etnik Vol. 2 No. 2 (2018): Momen Kreatif, Ekspresi, dan Keberagaman Etnik Vol. 2 No. 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang Vol 2, No 1 (2018): Kreativitas Tradisi di Era Globalisasi: Transformasi & Peluang More Issue