cover
Contact Name
Heriyadi
Contact Email
psikoborneo@fisip.unmul.ac.id
Phone
+625414121765
Journal Mail Official
psikoborneo@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
Gedung Dekanat Fisipol Lantai 3, Jln. Tanah Grogot, Kampus Gn. Kelua Universitas Mulawarman - Samarinda 75119
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Psikoborneo : Jurnal Ilmiah Psikologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 24772666     EISSN : 24772674     DOI : 10.3872/psikoborneo
PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi is a peer-reviewed journal which is published by Mulawarman University, East Kalimantan publishes biannually in March, June, September and December. This Journal publishes current original research on psychology sciences using an interdisciplinary perspective, especially within Organitational and Industrial Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, and Experimental Psychology Studies. PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi published regularly quarterly in March, June, September, and December. The purpose of this journal is to disseminate ideas and results of research conducted by universities, particularly Psychology Studies, Faculty of Social and Political Sciences at Mulawarman University, which can be applied in society. PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi contains a variety of activities carried out both internally by the Social Sciences Mulawarman University or from externally in handling and overcoming various problems that occur in society by applying science and technology which can then be beneficial to improve the welfare of the society.
Articles 933 Documents
Self-Love Starts from the Body: The Effect of Body Image Satisfaction on Student Self-Acceptance Nur Fitriyah, Laily; Laily, Nadhirotul
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19362

Abstract

College students are in a developmental stage that is vulnerable to social pressures, including demands related to physical appearance, which may affect body image satisfaction and levels of self-acceptance. Body image satisfaction was one of the important aspects in shaping self-acceptance, which ultimately contributed to students' psychological well-being. This study aimed to examine the relationship between body image satisfaction and self-acceptance among university students. The method used was quantitative correlational with regression analysis using four model approaches: linear, quadratic, logarithmic, and exponential. The participants consisted of 75 students selected through Accidental sampling. The results showed a significant relationship between body image satisfaction and self-acceptance, with the quadratic regression model being the best model to explain this relationship. The findings indicated that increased body image satisfaction could lead to higher self-acceptance up to a certain point, after which the effect leveled off. These results provided an understanding that although body image satisfaction played an important role in shaping self-acceptance, other factors also needed to be considered. The implication of this research encouraged higher education institutions to develop psychological interventions that supported the development of positive body image in order to enhance students' self-acceptance and overall mental health. Mahasiswa berada dalam fase perkembangan yang rentan terhadap tekanan sosial, termasuk tuntutan terhadap penampilan fisik, yang dapat memengaruhi kepuasan citra tubuh dan tingkat penerimaan diri. Kepuasan citra tubuh menjadi salah satu aspek penting dalam membentuk penerimaan diri, yang pada akhirnya turut menentukan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan citra tubuh dan penerimaan diri pada mahasiswa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan analisis regresi menggunakan empat model pendekatan yaitu linear, kuadratik, logaritmik, dan eksponensial. Partisipan penelitian berjumlah 75 mahasiswa yang dipilih melalui Accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepuasan citra tubuh dan penerimaan diri, dengan model regresi kuadratik menjadi model terbaik dalam menjelaskan hubungan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kepuasan citra tubuh dapat mendorong peningkatan penerimaan diri hingga titik tertentu, sebelum akhirnya efeknya melandai. Hasil ini memberikan pemahaman bahwa meskipun kepuasan citra tubuh penting dalam membentuk penerimaan diri, terdapat faktor lain yang juga perlu diperhatikan. Implikasi dari penelitian ini mendorong institusi pendidikan tinggi untuk mengembangkan intervensi psikologis yang mendukung pembentukan citra tubuh positif guna meningkatkan penerimaan diri dan kesehatan mental mahasiswa secara menyeluruh.
Resilience Strategies Among Non-Working Wives In Dealing With Marital Problem (Phenomenon Of Couples Early Phase Under 3 Years Of Marriage) Sarasih, Pin Gunita; Harahap, Dewi Handayani; Rahma, Izzah Annisatur
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.18839

Abstract

Marriage is one of the stages in adult life that bring major change, both emotionally and socially. Marriage under three years is considered an early phase, where couples are still adapting and getting to know each other's characters. This phase is often considered a period of adaptation and adjustment of communication, economy, and adaptation to the extended family for married couples. This study aims to understand the resilience strategies applied to non-working wives in dealing with marital problems in the early phase of marriage less than three years. The study used a descriptive qualitative approach that allows researchers to understand the picture of the dynamics of the subject. The results of the most widely used resilience research by non-working wives are that emotional regulation and positive self-acceptance play a very important role in maintaining the harmony of a marriage relationship. The presence of factors that emerge such as cultural dynamics, the presence of children and communication are interconnected and make a major contribution to creating relationship that is mutually supportive and full of understanding. The implications of this study indicate that the development of resilience strategies is very important for non-working wives in managing conflict and maintaining marital harmony, especially in the early phase of marriage. Pernikahan merupakan salah satu tahapan dalam kehidupan dewasa yang membawa perubahan besar, baik secara emosional maupun sosial. Pernikahan di bawah tiga tahun dianggap sebagai fase awal, di mana pasangan masih beradaptasi dan saling mengenal karakter masing-masing. Fase ini sering dianggap sebagai masa adaptasi dan penyesuaian komunikasi, pengendalian emosi, dan adaptasi dengan keluarga besar bagi pasangan suami-istri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi resiliensi yang diterapkan oleh istri yang tidak bekerja dalam menghadapi problematika pernikahan pada fase awal pernikahan kurang dari tiga tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang memungkinkan peneliti memahami gambaran dinamika subjek. Hasil dari penelitian resiliensi yang paling bayak digunakan oleh istri yang tidak bekerja adalah regulasi emosi dan penerimaan diri yang positif menjadi peranan yang sangat penting dalam menjaga keharmonisan sebuah hubungan pernikahan. Adanya faktor yang muncul seperti dinamika budaya, kehadiran anak dan komunikasi ini saling berhubungan dan memberikan kontribusi besar dalam menciptakan hubungan yang saling mendukung dan penuh pengertian. Implikasi penelitian ini menunjukkan pengembangan strategi resiliensi sangat penting bagi istri yang tidak bekerja dalam mengelola konflik dan menjaga keharmonisan pernikahan, terutama pada fase awal pernikahan.
Tracing Spiritual Well-Being Through the Journey of Life Without Both Parents: A Study in Orphaned Adolescents Kabelen, Yosepha Putri; Huwae, Arthur
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19233

Abstract

Adolescence is a crucial period because it is a transition to adulthood. Adolescents in general are different from orphaned adolescents because they receive guidance from their parents. Meanwhile, orphaned adolescents experience many heavier things because they grow up without parents, which makes them lose their direction in life and have difficulty achieving spiritual well-being. If traced further, the achievement of spiritual well-being is the desire of everyone, including orphaned adolescents. However, the dynamics that they go through are not easy and are full of various obstacles and risks. For this reason, the purpose of this study is to determine the portrait of the spiritual well-being of orphaned adolescents. The method used in the research is qualitative with an interpretative phenomenology design. The participants were 3 orphaned teenagers using a purposive sampling technique with the criteria of 18 years old to 22 years old and having been orphaned since childhood. The findings of this study are the existence of self-awareness in orphaned adolescents that allows them to connect with themselves, the emergence of forgiveness, the ability to regulate emotions, and self-acceptance. This research can be an illustration for orphaned adolescents so that in the future they can continue to develop spiritual well-being in their daily lives to have a more prosperous life. Apart from that, support from the surrounding environment is also expected to be one of the important parts that can facilitate orphaned adolescents to be able to help them assess themselves to be meaningful and can continue to live a better life than before. Masa remaja merupakan masa yang krusial karena merupakan peralihan menuju dewasa. Remaja pada umumnya berbeda dengan remaja yatim piatu karena mendapat bimbingan dari orang tua. Sedangkan, remaja yatim piatu mengalami banyak hal yang lebih berat karena tumbuh tanpa orang tua yang membuat mereka kehilangan arah hidup, dan kesulitan mencapai kesejahteraan secara spiritual. Padahal jika ditelusuri lebih jauh bahwa pencapaian spiritual well-being menjadi keinginan dari semua orang, termasuk juga remaja yatim piatu. Akan tetapi, dinamika yang dilalui oleh mereka tidaklah mudah dan penuh dengan berbagai rintangan dan risiko. Untuk itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui potret spiritual well-being remaja yatim piatu. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan desain fenomenologi interpretatif. Partisipan merupakan 3 orang remaja yatim piatu dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria berusia 18 tahun hingga 22 tahun dan telah menjadi yatim piatu sejak kecil. Temuan penelitian ini adalah adanya self-awareness pada remaja yatim piatu yang membuat mereka bisa terhubung dengan dirinya sendiri, munculnya sikap forgiveness, memiliki kemampuan meregulasi emosi dan sikap penerimaan diri. Penelitian ini dapat menjadi gambaran bagi remaja yatim piatu agar kedepannya mereka bisa terus mengembangkan spiritual well-being dalam kesehariannya guna memiliki kehidupan yang lebih sejahtera. Terlepas dari itu, dukungan dari lingkungan sekitar juga diharapkan menjadi salah satu bagian penting yang dapat memfasilitasi remaja yatim piatu untuk bisa membantu mereka menilai diri menjadi berarti, dan bisa terus menjalani kehidupan lebih baik dari sebelumnya.
'Go Crowded' Advertising Strategy: Increase Travel Agency Intent, Recommendations, and Engagement Osijo, Immanuel Ustradi; Osiyo, Abraham Krishna Martadinata
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19161

Abstract

Advertisements play an essential role in shaping consumer intentions and engagement, including in the travel agency industry. The "Pergi Rame-Rame" campaign was designed to attract potential customers in Malang by emphasizing the value of togetherness in traveling. This study analyzed the influence of the advertisement on consumer intentions, recommendations, and engagement. A quantitative approach with an experimental survey method was used to measure the impact of the advertisement intervention on dependent variables. Respondents consisted of 320 potential customers who were exposed to the advertisement, and changes in their intentions and engagement with the travel agency were then analyzed. The research findings indicate that culturally relevant and creative ads enhance customer intention, encourage recommendations, and strengthen their engagement with the travel agency. Before the intervention, there was no significant difference between the two groups; however, after the intervention, the group exposed to Digital Content Marketing showed a significant increase in intention, recommendation, and engagement compared to the control group. These findings highlight the need for travel agencies to develop culturally relevant marketing strategies that are more informative and visually appealing to attract more customers. Including customer testimonials and interactive promotions can enhance advertisement appeal. This study contributes to understanding the effectiveness of hyper-local advertisements in influencing consumer behavior and provides insights for developing more strategic and socially driven marketing campaigns. Iklan berperan penting dalam membentuk niat dan keterlibatan konsumen, termasuk dalam industri biro perjalanan. Kampanye "Pergi Rame-Rame" dirancang untuk menarik minat calon pelanggan di Malang dengan menekankan nilai kebersamaan dalam bepergian. Penelitian ini menganalisis pengaruh iklan terhadap niat, rekomendasi, dan keterlibatan calon konsumen. Pendekatan kuantitatif dengan metode survei eksperimental digunakan untuk mengukur dampak intervensi iklan terhadap variabel dependen. Responden terdiri dari 320 calon pelanggan yang diberikan paparan iklan, kemudian dianalisis perubahan dalam niat dan keterlibatan mereka terhadap biro perjalanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan kreatif dan relevan secara budaya meningkatkan niat pelanggan, mendorong rekomendasi, dan memperkuat keterlibatan mereka dengan biro perjalanan. sebelum intervensi tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok, namun setelah intervensi, kelompok yang diberi Digital Content Marketing menunjukkan peningkatan signifikan dalam intention, recommendation, dan engagement dibandingkan dengan kelompok kontrol. Implikasi temuan ini menegaskan bahwa biro perjalanan perlu menyusun strategi pemasaran berbasis budaya yang lebih informatif dan menarik secara visual untuk menarik lebih banyak pelanggan. Menyertakan testimoni pelanggan dan promosi interaktif dapat memperkuat daya tarik iklan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman efektivitas iklan hiper-lokal dalam memengaruhi perilaku konsumen serta memberikan wawasan bagi pengembangan kampanye pemasaran yang lebih strategis dan berbasis nilai sosial.
Factors Affecting Academic Burnout in College Students: Scoping Review Wardhana, Lauren David Rangga; Yoenanto, Nono Hery; Fardhana, Nur Ainy
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.18351

Abstract

Academic burnout is a condition where individuals feel fatigue caused by academic demands, have pessimistic feelings about themselves and lack of interest in their studies and feel themselves as incompetent students. The purpose of this scoping review is to determine the factors that can affect academic burnout. The method used is scoping review. The articles reviewed were research articles ranging from 2019-2024, international journals with a sample of students, and research articles with correlation and regression methods traced through the Scopus, ProQuest, and Clarivate Web of Science databases using the PRISMA method. Based on the 15 research articles reviewed, it is known that academic burnout is influenced by several internal factors and external factors. Internal factors include: academic self-efficacy, academic motivation, and personality. External factors include: social support, campus climate, physical activity, academic stress, health status, living habits, demographic factors, emotional exhaustion, stress, and academic achievement. The implications of this study can be a reference for further research in determining the independent variables that influence academic burnout. Academic burnout adalah adalah ketika seseorang merasa lelah karena tuntutan akademik, memiliki perasaan pesimis terhadap diri sendiri serta kurangnya ketertarikan pada studi yang dijalani dan merasa dirinya sebagai mahasiswa yang tidak berkompeten. Scoping review bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebosanan akademik. Artikel penelitian yang dievaluasi berkisar dari 2019 hingga 2024, jurnal internasional dengan sampel yaitu mahasiswa, dan artikel penelitian dengan metode kolerasi serta regresi yang ditelusuri melalui database Scopus, ProQuest, dan Clarivate Web of Science dengan menggunakan metode PRISMA. Berdasarkan 15 artikel penelitian yang ditinjau diketahui bahwa academic burnout dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, meliputi: academic self efficacy, motivasi akademik, dan kepribadian. Faktor eksternal, meliputi: dukungan sosial, iklim kampus, aktivitas fisik, stres akademik, status kesehatan, kebiasaan hidup, faktor demografis, kelelahan emosional, stress, dan prestasi akademik. Implikasi temuan penelitian ini akan digunakan sebagai referensi untuk studi lanjutan yang akan menentukan variabel independen yang mempengaruhi academic burnout.
Adult Romantic Attachment in Early Adults with Divorced Parents (Phenomenological Study of Members of the Young Professional Cell Community at Kemah Daud Church, Yogyakarta) Prastiwi, Ira; Harahap, Dewi Handayani; Rahma, Izzah Annisatur
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.18964

Abstract

Parental divorce can disrupt children's psychosocial development, especially in forming a strong sense of confidence, emotional stability and identity. The impact of unresolved conflict at this stage will be seen in the Intimacy vs. Isolation stage, namely in early adulthood. This study aims to understand the description of adult romantic attachment in early adult individuals from divorced parents. This study uses a phenomenological approach that allows researchers to understand the dynamics of the subject. The results of this study indicate that there is a picture of adult romantic attachment in early adults with divorced parents. Subjects who have strong trust in themselves and their partners tend to have better openness, emotional involvement, and relationship satisfaction. In contrast, individuals who have low self-confidence or distrust of partners tend to face challenges in building healthy and satisfying relationships. The implications of this study show the importance of knowing their attachment picture and being able to build healthier relationships in the future. Perceraian orang tua dapat mengganggu perkembangan psikososial anak, khususnya dalam membentuk rasa percaya diri, stabilitas emosi, dan identitas yang kuat. Dampak dari konflik yang tidak terselesaikan pada tahap ini akan terlihat di tahap Intimacy vs. Isolation yaitu pada usia dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran adult romantic attachment pada individu dewasa awal dari orang tua yang bercerai. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi yang memungkinkan peneliti memahami dinamika subjek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat gambaran dari adult romantic attachment pada dewasa awal dengan orang tua bercerai. Subjek yang memiliki kepercayaan yang kuat terhadap diri sendiri maupun pasangan cenderung memiliki keterbukaan, keterlibatan emosional, dan kepuasan hubungan yang lebih baik. Sebaliknya, individu yang memiliki kepercayaan diri rendah atau ketidakpercayaan terhadap pasangan cenderung menghadapi tantangan dalam membangun hubungan yang sehat dan memuaskan. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya mengetahui gambaran kelekatan mereka dan mampu membangun hubungan yang lebih sehat di masa depan.
Unhealthy Relationships and Their Impact: Toxic Relationships as a Trigger for Academic Procrastination Salzabillah, Asma Ayu Radika Sabrina; Wicaksono, Awang Setiawan
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.20206

Abstract

Adolescents undergo dynamic developmental changes, especially in the realm of interpersonal relationships. Not all these connections are positive; some adolescents experience unhealthy relationships, commonly referred to as toxic relationships, which may compromise their psychological well-being and academic functioning. Academic procrastination often emerges as a response to emotional and relational stress. This study involved 188 high school students and employed a quantitative survey approach to explore the extent to which toxic relationships contribute to academic procrastination. Instruments were developed based on validated theoretical dimensions, and data were analyzed using linear regression and partial correlation. The results indicated that toxic relationships significantly influence academic procrastination, though their contribution remains modest. The physical symptoms of such relationships demonstrated a stronger negative association with task delay compared to emotional and manipulative aspects. These findings highlight the need for intervention strategies focused on promoting healthy interpersonal dynamics and emotional regulation to mitigate procrastination behaviors among students.Remaja berada pada fase perkembangan yang penuh dinamika, termasuk dalam membangun hubungan interpersonal. Namun, tidak semua hubungan bersifat positif; sebagian remaja mengalami hubungan yang tidak sehat atau dikenal sebagai toxic relationship, yang dapat memengaruhi kondisi psikologis serta berdampak pada performa akademik individu. Dalam konteks ini, prokrastinasi akademik kerap muncul sebagai bentuk respons terhadap tekanan emosional dan relasional. Penelitian ini melibatkan 188 siswa SMA dan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei untuk mengeksplorasi sejauh mana hubungan toksik berkontribusi terhadap perilaku prokrastinasi akademik. Instrumen disusun berdasarkan dimensi teoritis yang telah tervalidasi, dan analisis dilakukan melalui regresi linier dan korelasi parsial. Hasil menunjukkan bahwa toxic relationship memiliki pengaruh signifikan terhadap prokrastinasi akademik, meskipun kontribusinya relatif kecil. Aspek fisik dari hubungan toksik menunjukkan kecenderungan hubungan negatif yang lebih kuat terhadap penundaan tugas dibandingkan aspek emosional dan manipulatif. Temuan ini menekankan pentingnya strategi intervensi yang menargetkan penguatan relasi sehat dan pengelolaan emosi dalam upaya menekan perilaku prokrastinasi akademik di kalangan pelajar.
The Role of Fathers in the Formation of Emotion Regulation in Adolescent Girls: A Parenting Review Mirza, Rina; Martha Sipayung, Eunike; Salli Salsabila, Aghnia; Berliana br Silalahi, Rut; Marpaung, Winida
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19493

Abstract

Father involvement in parenting plays a crucial role in influencing adolescent emotion regulation, which is a key factor in children's psychological development. The aim of this study is to examine the relationship between paternal involvement and emotional regulation in female adolescents at SMKN 6 Medan. The research used a quantitative approach with a correlational design. The sample consisted of 231 female students from grades X, XI, and XII, selected randomly. Data were collected using questionnaires on emotional regulation and paternal involvement, and analyzed using Pearson correlation techniques. The results showed a significant positive correlation between paternal involvement and emotional regulation in female adolescents (r = 0.440, p < 0.05). The higher the paternal involvement, the better the students' ability to manage their emotions. The implications of this research suggest that paternal involvement plays a crucial role in adolescents' emotional development, and programs that encourage paternal involvement in parenting and education are expected to enhance adolescents' emotional regulation, preparing them to better face life's challenges.Keterlibatan ayah dalam pengasuhan memiliki peran penting dalam mempengaruhi regulasi emosi remaja, yang menjadi faktor krusial dalam perkembangan psikologis anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dan regulasi emosi pada remaja perempuan di SMKN 6 Medan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian ini terdiri dari 231 siswi kelas X, XI, dan XII yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tentang regulasi emosi dan keterlibatan ayah, serta dianalisis dengan teknik korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keterlibatan ayah dan regulasi emosi pada remaja perempuan (r = 0.440, p < 0.05). Semakin tinggi keterlibatan ayah, semakin tinggi kemampuan siswi dalam mengelola emosi mereka. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berperan penting dalam perkembangan emosional remaja, dan program yang mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak diharapkan dapat meningkatkan regulasi emosi remaja, mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik.
Bridging Innovation and Adoption: The Mediating Role of Trust in The Influence of Personal Innovativeness and Perceived Usefulness on Intention to Use Wijayadne, Devi Rahnjen
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.20786

Abstract

Technological innovation has become an essential part of daily life, where personal innovativeness and perceived usefulness significantly influence individuals' intention to adopt new technologies. This study aims to examine the role of trust as a mediator in the relationship between personal innovativeness and perceived usefulness toward intention to use. Using a quantitative approach, data were collected from 190 users of the PLN Mobile application in East Java through a Likert-scale survey. Mediation analysis using SEM-PLS was applied to evaluate relationships. The results show that both personal innovativeness and perceived usefulness have a significant direct effect on intention to use. Trust was found to mediate these relationships, but with a low mediating effect. This indicates that in the context of well-established technologies, trust may no longer be a dominant factor, while personal innovativeness and benefit perception play a more direct and influential role in shaping usage intentions. The implications of these findings suggest that technology adoption strategies should focus more on enhancing personal innovativeness and clearly communicating the tangible benefits of technology rather than building trust. Future research is recommended to explore the mediating role of trust in the context of newer or higher-risk technologies.Inovasi teknologi telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari, di mana inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan secara signifikan memengaruhi niat individu untuk mengadopsi teknologi baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran kepercayaan sebagai mediator dalam hubungan antara inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan terhadap niat untuk digunakan. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 190 pengguna aplikasi PLN Mobile di Jawa Timur melalui survei skala Likert. Analisis mediasi menggunakan SEM-PLS diterapkan untuk mengevaluasi hubungan. Hasilnya menunjukkan bahwa inovasi pribadi dan kegunaan yang dirasakan memiliki efek langsung yang signifikan pada niat untuk digunakan. Kepercayaan ditemukan untuk menengahi hubungan ini, tetapi dengan efek mediasi yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks teknologi yang sudah mapan, kepercayaan mungkin tidak lagi menjadi faktor dominan, sementara inovasi pribadi dan persepsi manfaat memainkan peran yang lebih langsung dan berpengaruh dalam membentuk niat penggunaan. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa strategi adopsi teknologi harus lebih fokus pada peningkatan inovasi pribadi dan mengkomunikasikan dengan jelas manfaat nyata dari teknologi daripada membangun kepercayaan. Penelitian di masa depan direkomendasikan untuk mengeksplorasi peran mediasi kepercayaan dalam konteks teknologi yang lebih baru atau berisiko lebih tinggi.
Teachers' Work Stress in the Implementation of the Independent Curriculum: an Analysis of the Role of Self-Efficacy Airin, Evelyn; Hartini, Sri; Collin, Justine; Theransq, Kathaleeya; Indayani, Endang; Putrie Dimala, Cempaka
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i2.19273

Abstract

Work stress was one of the factors that could affect the effectiveness of educators in carrying out their duties. Self-efficacy, as an individual's belief in their own abilities, was often considered to reduce the negative impact of work stress. However, the results of this study indicated that the relationship between self-efficacy and work stress was complex and not always protective. This study aimed to analyze the relationship between self-efficacy and work stress among educators at Global Prima. The method used in this study was a quantitative approach with partial correlation techniques to determine the relationship between variables after controlling for other influencing factors. The research instrument used a Likert scale consisting of a work stress scale and a self-efficacy scale. The results showed a positive relationship between self-efficacy and work stress. These findings indicated that educators with high self-efficacy levels actually experienced higher levels of work stress. Partial correlation analysis showed that aspects of work stress and self-efficacy had varying relationships. The implications of this study suggested that increasing self-efficacy should be accompanied by effective stress management strategies to avoid increasing the psychological burden on educators. Stres kerja merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi efektivitas tenaga pendidik dalam menjalankan tugasnya. Self-efficacy sebagai keyakinan individu terhadap kemampuannya sendiri sering dianggap dapat mengurangi dampak negatif dari stres kerja. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara self-efficacy dan stres kerja bersifat kompleks dan tidak selalu bersifat protektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-efficacy dan stres kerja pada tenaga pendidik di Global Prima. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik korelasi parsial untuk mengetahui hubungan antar variabel setelah mengontrol faktor lain yang berpengaruh. Instrumen penelitian menggunakan skala Likert yang terdiri dari skala stres kerja dan skala self-efficacy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara self-efficacy dan stres kerja. Temuan ini mengindikasikan bahwa tenaga pendidik dengan tingkat self-efficacy yang tinggi justru mengalami tingkat stres kerja yang lebih tinggi. Analisis korelasi parsial menunjukkan bahwa aspek stres kerja dan self-efficacy memiliki hubungan yang bervariasi. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan self-efficacy harus disertai dengan strategi manajemen stres yang efektif agar tidak meningkatkan beban psikologis tenaga pendidik.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2025): Volume 13, Issue 4, Desember 2025 Vol 13, No 3 (2025): Volume 13, Issue 3, September 2025 Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025 Vol 13, No 1 (2025): Volume 13, Issue 1, Maret 2025 Vol 12, No 4 (2024): Volume 12, Issue 4, Desember 2024 Vol 12, No 3 (2024): Volume 12, Issue 3, September 2024 Vol 12, No 2 (2024): Volume 12, Issue 2, Juni 2024 Vol 12, No 1 (2024): Volume 12, Issue 1, Maret 2024 Vol 11, No 4 (2023): Volume 11, Issue 4, Desember 2023 Vol 11, No 3 (2023): Volume 11, Issue 3, September 2023 Vol 11, No 2 (2023): Volume 11, Issue 2, Juni 2023 Vol 11, No 1 (2023): Volume 11, Issue 1, Maret 2023 Vol 10, No 4 (2022): Volume 10, Issue 4, Desember 2022 Vol 10, No 3 (2022): Volume 10, Issue 3, September 2022 Vol 10, No 2 (2022): Volume 10, Issue 2, Juni 2022 Vol 10, No 1 (2022): Volume 10, Issue 1, Maret 2022 Vol 9, No 4 (2021): Volume 9, Issue 4, Desember 2021 Vol 9, No 3 (2021): Volume 9, Issue 3, September 2021 Vol 9, No 2 (2021): Volume 9, Issue 2, Juni 2021 Vol 9, No 1 (2021): Volume 9, Issue 1, Maret 2021 Vol 8, No 4 (2020): Volume 8, Issue 4, December 2020 Vol 8, No 3 (2020): Volume 8, Issue 3, September 2020 Vol 8, No 2 (2020): Volume 8, Issue 2, June 2020 Vol 8, No 1 (2020): Volume 8, Issue 1, March 2020 Vol 7, No 4 (2019): Volume 7, Issue 4, December 2019 Vol 7, No 3 (2019): Volume 7, Issue 3, September 2019 Vol 7, No 2 (2019): Volume 7, Issue 2, June 2019 Vol 7, No 1 (2019): Volume 7, Issue 1, March 2019 Vol 6, No 4 (2018): Volume 6, Issue 4, December 2018 Vol 6, No 3 (2018): Volume 6, Issue 3, September 2018 Vol 6, No 2 (2018): Volume 6, Issue 2, June 2018 Vol 6, No 1 (2018): Volume 6, Issue 1, March 2018 Vol 5, No 4 (2017): Volume 5, Issue 4, Desember 2017 Vol 5, No 3 (2017): Volume 5, Issue 3, September 2017 Vol 5, No 2 (2017): Volume 5, Issue 2, June 2017 Vol 5, No 1 (2017): Volume 5, Issue 1, Maret 2017 Vol 4, No 4 (2016): Volume 4, Issue 4, Desember 2016 Vol 4, No 3 (2016): Volume 4, Issue 3, September 2016 Vol 4, No 2 (2016): Volume 4, Issue 2, Juni 2016 Vol 4, No 1 (2016): Volume 4, Issue 1, Maret 2016 Vol 3, No 4 (2015): Volume 3, Issue 4, Oktober 2015 Vol 3, No 3 (2015): Volume 3, Issue 3, Juli 2015 Vol 3, No 2 (2015): Volume 3, Issue 2, April 2015 Vol 3, No 1 (2015): Volume 3, Issue 1, Januari 2015 Vol 2, No 4 (2014): Volume 2, Issue 4, Oktober 2014 Vol 2, No 3 (2014): Volume 2, Issue 3, Juli 2014 Vol 2, No 2 (2014): Volume 2, Issue 2, April 2014 Vol 2, No 1 (2014): Volume 2, Issue 1, Januari 2014 Vol 1, No 4 (2013): Volume 1, Issue 4, October 2013 Vol 1, No 3 (2013): Volume 1, Issue 3, Juli 2013 Vol 1, No 2 (2013): Volume 1, Issue 2, April 2013 Vol 1, No 1 (2013): Volume 1, Issue 1, Januari 2013 More Issue