Articles
446 Documents
HOTEL DAN PUSAT OLEH - OLEH DARI BAHAN DAUR ULANG SAMPAH TRANSPORTASI DI KOTA BATU TEMA: GREEN ARCHITECTURE
Nadhira Putri Eka Rahmania;
Lalu Mulyadi;
Hamka
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kota Batu adalah salah satu destinasi wisata terkemuka di Jawa Timur. Dikenal karena kekayaan alamnya, Kota Batu menyajikan pemandangan yang menakjubkan. Hal tersebut membuat Kota Batu sering sekali dijuluki Kota Wisata sehingga dibutuhkan fasilitas penunjang dengan contoh hotel dan pusat oleh – oleh sebagai fasilitas akomodasi, namun belum terdapat dijumpai hotel yang unik dan memanfaakan sampah. Pada Kota batu terdapat permasalahan sampah bekas transportasi yang akan menimbulkan potensi dan menjadi daya tarik keunikan wisatawan yang berkunjung . Metode yang diterapkan adalah pendekatan arsitektur hijau, Melalui pengumpulan data, observasi, dan pemanfaatan internet, konsep arsitektur hijau ini bertujuan untuk mengoptimalkan. Sistem yang ada yaitu 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) dan penggunaan metode force based. Dengan prinsip yang terkandung dalam Green Architecture, memaksimalkan daur ulang bahan limbah untuk transportasi dengan memanfaatkan keunikan bentuk bangunan.
STADION SEPAK BOLA KATEGORI SATU DENGAN PENCEGAHAN PERILAKU ANARKISME DI KABUPATEN MALANG TEMA: ARSITEKTUR MODERN
Miftah Haula Nu’marul Haq;
Adhi Widyarthara;
Sholeh, Moh Syahru Romadhon
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sepak bola adalah salah satu olahraga yang paling di gemari oleh semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Banyaknya peminat sepak bola juga tidak lepas dari kerusuhan yang dapat terjadi, terlebih di dalam bangunan yang berisi hingga puluhan ribu orang. Seperti yang terjadi pada Oktober 2022 lalu, yaitu terjadinya kerusuhan di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan hingga 135 orang. Hal ini dapat terjadi jika stadion tidak mampu mengakomodasi kebutuhan pengguna beserta perilakunya, maka dari itu sebuah stadion harus memiliki sistem pencegahan perilaku anarkisme. Kerusuhan dapat terjadi karena penonton dapat saling bertemu serta dapat turun ke area lapangan, sehingga sirkulasi dari penonton harus dibuat tidak mampu bertemu satu sama lain dari masuk stadion, menonton pertandingan, hingga keluar dari area stadion. Pemisahan tersebut menggunakan metode “force based-framework” yang mengutamakan fungsi dan mengakhirkan bentuk, sehingga dari metode tersebut dapat terealisasikan bahwa dengan pendekatan perilaku, maka stadion yang dirancang memiliki “landscape” dengan arah sirkulasi yang mampu memisahkan semua jenis pengguna stadion dan dapat mencegah perilaku anarkisme.
Museum Tragedi Lumpur Lapindo Tema: Multisensori
Muhammad Fikri Ardiansyah;
Gatot Adi Susilo;
Jarot Wahyono
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tragedi lumpur Lapindo, yang terjadi pada tahun 2006 di Sidoarjo, Jawa Timur, merupakan salah satu bencana lingkungan terbesar di Indonesia. Semburan lumpur panas yang tak terkontrol mengakibatkan tenggelamnya puluhan desa, memaksa ribuan orang kehilangan rumah dan mata pencaharian. Dampak sosial dari tragedi ini sangat mendalam, termasuk hilangnya komunitas, gangguan pada kehidupan sosial, dan ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan. Meskipun upaya kompensasi telah dilakukan, prosesnya yang lambat dan tidak transparan menimbulkan ketidakpuasan dan ketidakpercayaan di kalangan masyarakat terdampak. Bencana ini juga menimbulkan berbagai masalah lingkungan, seperti kerusakan lahan pertanian dan pencemaran air. Pendirian museum sebagai pengingat bencana ini menjadi penting untuk mengenang dan mempelajari dampak luas dari tragedi tersebut, serta sebagai alat edukasi untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Museum ini diharapkan dapat menjadi sarana refleksi dan pembelajaran, sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya tanggung jawab sosial dan lingkungan dalam kegiatan industri.
PUSAT KEBUDAYAAN DI KABUPATEN TULUNGAGUNG TEMA: ARSITEKTIUR DEKONSTRUKSI
Mochammad Choirur Rozikin;
Gaguk Sukowiyono;
Bayu Teguh Ujianto
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kebudayaan merupakan warisan genetik yang harus dilestarikan terutama oleh generasi muda bangsa. Budaya adalah suatu hal yang kompleks yang mencakup kesenian, perilaku sosial dan lain-lainnya. Dengan banyaknya budaya di Indonesia di era globalisasi saat ini jtidak menutup kemungkinan budaya kurang di lestarikan oleh masyarakat khususnya anak-anak muda. Untuk membangun pusat kebudayaan di Kabupaten Tulungagung diperlukan penerapan arsitektur dengan ciri khas daerah. Proses perancangan ini melibatkan tema arsitektur dekonstruksi teori Peter Eisenman melalui prinsip displacement dengan metode perancangan berbasis konsep menurut plowright digunakan untuk menciptakan desain yang unik yang menggabungkan berbagai konteks meliputi lokasi dan budaya setempat. Hasil dari perancangan pusat Kebudayaan di Kabupaten Tulungagung diharapkan dapat menghasilkan bangunan arsitektural yang mencerminkan karakter seluruh wilayah dan memberikan identitas serta manfaat yang signifikan bagi masyarakat setempat sehingga kebudayaan Kabupaten Tulungagung dapat terus dilestarikan dan dinikmati oleh semua kalangan tanpa adanya perbedaan usia.
Tempat Pelatihan dan Kreasi Tunarungu Tema: Deaf Space
Trisnaldi;
Debby Budi Susanti;
Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penduduk di Desa Bengkala, Bali, terdiri dari 1,4 persen yang mengalami gangguan pendengaran dimana mereka menghadapi tantangan unik dalam kehidupan sosial dan finansial. Perancangan tempat pelatihan dan Kreasi Tunarungu ini bertujuan menciptakan ruang yang responsive terhadap penyandang tunarungu melalui pendekatan DeafSpace yang berfokus pada ruang. Pada proses perancangan sangat penting untuk merencanakan persiapan yang mendukung perilaku serta implementasi dari pendekatan DeafSpace untuk memenuhi kebutuhan khusus mereka. Penelusuran dimulai dengan menggali perilaku secara umum pengguna tuna rungu hingga spesifik pada tuna rungu yang berada di Desa Bengkala. Metode perancangan yang digunakan adala force based framework dimana mengeksplorasi context, cultere dan needs dari perilaku tunarungu yang berkaitan dengan arsitektur serta budaya dari desa setempat. Hasil pada perancangan ini berupa kriteria desain yang merespon perilaku pengguna kolok serta memberikan wadah untuk beraktivitas sehingga warga kolok Desa Bengkala dapat lebih produktif dan berkreasi. Kriteria desain menghasilkan konsep desain pada penataan masa bangunan, kualitas ruang yang merespon visual pengguna serta bentuk dan fasad bangunan yang masih memiliki harmonisasi budaya setempat.
NATURAL ABUNDANCE CO -WORKING SPACE TEMA: ARSITEKTUR BIOFILIK
Alfy Oktavia Aliza;
Gaguk Sukowiyono;
Jarot Wahyono
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Stres adalah keadaan psikologis yang yang berbentuk suatu tekanan fisik pada kondisi mental seseorang dan berupakan hal yang sering dialami oleh Masyarakat bahkan hal yang sulit untuk dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Stres adalah sebuah respon terhadap sebuah tuntutan atau tekanan baik bentuk respon negati f dan juga positif. Dalam kehidupan sehari-hari, stres adalah suatu hal yang perlu dikelolah oleh setiap individu agar pribadi setiap orang dapat melakukan aktivitas dengan maksimal tanpa terganggu. Faktor lingkungan juga turut andil dalam kehidupan seseorang untuk dapat mengelolah kadar st res dengan maksimal sehingga menghindarkan seseorang dari segala sesuatu yang dapat dipicu oleh stres. Faktor lingkungan sendiri dapat berwujud lingkungan bersosialisasi dan juga tempat sehingga diperlukan adanya suatu tempat yang dapat menunjang atau memfasilitasi seseorang untuk mengelolah tingkat stres tiap individu namun tidak mengganggu kewajiban seseo rang dalam menjalankan tanggung jawabnya untuk bekerja dan belajar.
SMART APARTEMENT DI MALANG TEMA ARSITEKTUR KEBERLANJUTAN
Reza Farezi Hermawan;
Adhi Widyarthara;
Redi Sigit Febrianto
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dengan keterbatasan lahan di kawasan perkotaan yang semakin meningkat dan tingginya potensi radiasi matahari di Malang perkotaan, integrasi teknologi canggih dalam desain bangunan menjadi krusial untuk mencapai efisiensi energi dan keberlanjutan. Perancangan ini mengevaluasi penerapan metodologi force-based dan teknologi pintar pada bangunan mid-rise di Kecamatan Lowokwaru, yang dirancang sebagai hunian vertikal dengan tema arsitektur berkelanjutan. Perancangan ini menganalisis tiga bangunan yang telah menerapkan teknologi manajemen otomatis dan perangkat IoT. Pendekatan force-based digunakan untuk menganalisis distribusi gaya eksternal pada struktur, seperti beban mati, beban hidup, angin, dan gempa, guna memastikan stabilitas dan keamanan bangunan. Hasil Perancangan menunjukkan bahwa penerapan teknologi pintar dan pendekatan force-based dapat meningkatkan efisiensi energi, mengurangi dampak lingkungan, serta meningkatkan respons bangunan terhadap gaya eksternal dan kebutuhan penghuni. Implementasi hunian vertikal ini sangat relevan di Malang perkotaan, di mana keterbatasan lahan menjadi tantangan utama, berbeda dengan Malang Kabupaten yang masih memiliki lahan lebih luas. Perancangan ini memberikan wawasan penting tentang peran teknologi dan metodologi force-based dalam mendukung arsitektur berkelanjutan dan menghadapi tantangan urbanisasi di kawasan perkotaan seperti Malang.
EX-CONVICT TRAINING CENTER TEMA: SUSTAINABLE ARCHITECTURE
Melly Rosita Dewi;
Bayu Teguh Ujianto;
Redi Sigit Febrianto
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Masalah mantan napi yang suka keluar masuk penjara merupakan hal yang sudah lama ada dan masih belum ada solusi untuk menangani masalah tersebut. Dengan dirancanganya sebuah training center khusus untuk para mantan napi di Malang ini yang berfokus untuk mengembangkan hardskill dan soft skill ini diharapkan dapat membantu para mantan napi agar lebih bisa meningkatkan kualitas sehingga bisa menjadi individu yang lebih baik untuk masyarakat. Perancangan ini menggunakan metode force-based framework karena perancangan memiliki banyak faktor yang perlu dipertimbangkan. Perancangan training center ini akan menggunakan pendekatan sustainable architecture yang berfokus pada bentuk bangunan dan penataan dalam ruang karena selain memperhatikan efek pada lingkungan juga memperhatikan kebutuhan pengguna bangunan. Rancangan training center ini akan diwujudkan dengan fasilitas berupa kelas dan tiga macam workshop pelatihan yang mempertimbangkan penataan perabot yang memperhatikan aktivitas dan sirkulasi pengguna, selain itu juga bentuk bangunan didesain sedemikian rupa untuk bisa memberikan kenyamanan termal yang tidak berlebih, memberikan akses penghawaan yang cukup dengan memanfaatkan cross- ventilasi, penggunaan skylight, dan menggunakan fasad yang mudah dikenali.
TAMAN BURUNG DI KOTA MALANG TEMA: ARSITEKTUR BIOFILIK
Moch Rizqa Al Chasani;
Gatot Adi Susilo;
Redi Sigit Febrianto
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tingginya ancaman perburuan burung liar semakin melengkapi status rentannnya kelangsungan hidup burung-burung di indonesia. Untuk mennghadapi ancaman ini maka, harus menyediakan habitat atau tempat khusus bagi jenis-jenis burung yang terancam punah. Kota malang, yang memiliki banyak tempat wisata dan edukasi tetapi, belum banyak memiliki tempat wisata hewan khususnya burung yang berfungsi untuk tempat konservasi dan edukasi. Perancangan Taman Burung di Kota Malang diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif objek wisata di kota malang serta memiliki peran kontribusi dalam melestarikan dan membudayakan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kekayaan alam nusantara. Inovasi dan pembaruan pada perancangan taman burung ini yaitu merancang taman burung pertama yang ada di kota malang yang dimana taman burung ini menyediakan berbagai macam burung dan pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan burung-burung yangada di taman burung ini.
ECO GREEN MALL di KOTA MALANG TEMA: ARSITEKUR HIJAU
Angelina Larosa Az-Zahra Prayitno;
Adhi Widyarthara;
Hamka
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Permasalahan penggunaan energy listrik secara berlebih di Indonesia semakin meningkat. Hal ini diikuti dengan bertambanhnya jumlah pusat perbelanjaan yang menggunakan Air Conditioner (AC) dan pencahayaan buatan, serta menjadikan kota tersebut menjadi kota yang lebih maju. Untuk itu, perlu rancangan Eco Green Mall yang menerapkan arsitekur hijau dengan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan desain yang ramah lingkungan. Metode perancangan yang digunakan adalah metode force-based, bentuk yang mengikuti fungsi (form follow function) dengan pendekatan tema arsitektur hijau yang memiliki prinsip Conversing Energy, Working with Climate Respect for Site, Respect for user, Reuse and Reduce Material, Appropriate Technology, sehingga menghasilkan sebuah rancangan yang terbuka pada kedua sisi gedung tanpa menggunakan dinding di area retail, dan berhasil menyelesaikan permasalahan pencahayaan dan penghawaan alami terutama di bagian sirkulasi pengguna dengan rancangan yang terbuka.