cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Peningkatan kualitas karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii dengan metode budidaya keranjang jaring Failu, Ismail; Supriyono, Eddy; Suseno, Sugeng Hari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3286.786 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.124-131

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the quality of Kappaphycus alvarezii seaweed carrageenan cultured using methods basket nets in waters of Baruta, Sangia, Wambulu, District of Buton, Southeast Sulawesi. The study consisted of three treatments in triplicates. Seaweed culture used different cultivation net-basket forms i.e. net-basket box, net-basket lantern, and longline without net-basket (control). Quality of K. alvarezii seaweed obtained in this study varied from each treatments. Daily growth rate in each treatment were not significantly different. Production of seaweed with a net-basket box (201.61 g/m2) was higher than the net-basket lanterns (183.22 g/m2), but not significantly different from control (196.98 g/m2). Carageenan yield value of control (46.74%) was the highest of all treatments. The water content of carrageenan in each treatment was not significantly different and it ranged from 17.20–17.39%. The viscosity of carrageenan in net-basket lantern (179.40 cPs) was the highest of all treatments. Carrageenan gel strength was the best treatment (702.53 g/cm²). As conclusion, using the net-basket lantern  as cultivation method provided quality improvement of carrageenan in K. alvarezii seaweed. Keywords: Kappaphycus alvarezii, cultivation methods, carrageenan quality  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas karagenan rumput laut Kappaphycus alvarezii yang dibudidaya menggunakan metode keranjang jaring di perairan Baruta, Kecamatan Sangia, Wambulu, Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. Penelitian terdiri atas tiga pelakuan dan tiga ulangan. Pemeliharaan rumput laut dilakukan dengan metode keranjang jaring berbeda yaitu metode keranjang jaring kotak, keranjang jaring lampion, dan longline tanpa menggunakan keranjang jaring (kontrol). Hasil pengamatan kualitas rumput laut K. alvarezii dalam penelitian ini bervariasi dari setiap perlakuan yang diberikan. Laju pertumbuhan harian pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata. Produksi rumput laut dengan metode keranjang jaring kotak (201,61 g/m2) lebih tinggi dibandingkan jaring lampion (183,22 g/m2), namun tidak berbeda nyata dengan kontrol (196,98 g/m2). Nilai rendemen karagenan kontrol (46,74%) lebih tinggi dari perlakuan lainnya. Kadar air karagenan pada setiap perlakuan tidak berbeda nyata yaitu berkisar 17,20–17,39%. Viskositas karagenan perlakuan metode keranjang jaring lampion (179,40 cPs) lebih tinggi dibandigkan perlakuan lainnya. Kekuatan gel karagenan perlakuan metode keranjang jaring lampion (702,53 g/cm²) lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa metode keranjang jaring lampion memberikan peningkatkan kualitas karagenan rumput laut K. alvarezii yang dibudidayakan. Kata kunci: Kappaphycus alvarezii, metode budidaya,  kualitas karagenan
Evaluasi pemberian ekstrak daun kayu manis Cinnamomum burmannii pada pakan terhadap kandungan lemak daging ikan patin Pangasianodon hypopthalmus Setiawati, Mia; Jusadi, Dedi; Rolin, Febrina; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3150.053 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.132-138

Abstract

ABSTRACT This study aimed to evaluate the effects of cinnamon Cinnamomum burmannii leaves extract addition with different doses in diet for the lipid muscle content of catfish Pangsianodon hypophthalmus. The cinnamon leaves extract was mixed in to the diet with five doses i.e: 0 (control); 0.5; 1; 2; and 4 g/kg diet. Catfish (7.43±0.01 g) were reared in 15 aquariums (160 L volume) with density of 30 fishes in each aquarium for 60 days. Fish were fed until apparent satiation three times daily at 08.00, 12.00, 16.00 WIB. The addition of cinnamon leaves extract at 1 g/kg of diet showed the optimal dose because it could lower flesh fat content, cholesterol, and triglycerides of catfish. Keywords: Pangasianodon hypopthalmus, Cinnamomum burmannii, fat, flesh  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan ekstrak daun kayu manis Cinnamomum burmannii dengan dosis berbeda pada pakan terhadap kandungan lemak daging ikan patin Pangsianodon hypopthalmus. Ekstrak daun kayu manis dicampurkan ke dalam pakan dengan lima dosis yaitu: 0 (kontrol); 0,5; 1; 2; dan 4 g/kg pakan. Ikan patin (7,43±0,01 g) dipelihara dalam 15 akuarium (volume 160 L) dengan kepadatan 30 ekor/akurium selama 60 hari. Ikan diberi pakan secara at satiation sebanyak tiga kali sehari pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ekstrak daun kayu manis sebanyak 1 g/kg pakan memberikan hasil yang optimal karena dapat menurunkan kandungan lemak daging, kolesterol, dan trigliserida ikan patin. Kata kunci: Pangasianodon hypopthalmus, Cinnamomum burmannii, lemak, daging 
Perbandingan aspek ekologi dan karakteristik bulubabi Tripneustes gratilla pada lokasi berbeda Tasruddin, ,; Aonurafiq, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3694.103 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.139-146

Abstract

ABSTRACT Increasing of population growth leads to the settlement enlargement and constriction spatial of city residence, therefore a coastal reclamation becomes a choice. The reclamation affecting the population and the habitat of sea urchin Tripneustes gratilla by disturbing mutual relationship among organisms. The change of ecological haracteristics could be decreasing sea urchin resources. The T. gratilla culture in Indonesia has not been conducted commercially. Research about T. gratilla is limited because lacking of seed, eventhough an artificial spawning technique has been mastered. This research aimed to compare the characteristics of ecological aspect, food source, diameter, body weight, gonad weight, gonad index, specific growth rate (SGR), and survival rate of T. gratilla at the different sampling locations in Pelabuhan Tanjung, Tanjung Tuis, Kilongan permai, Biak, and Bolii. The advantage of the research expected to be an effective and efficient solutions in the advance of aquaculture by prioritizing a continuing environment conservation aspect. Experiment and survei method with randomized sampling location applied in five different locations. The results showed that the best sea urchin was in Tanjung Pelabuhan in June with diameter (55,60±1,96 mm), total weight (83,56±7,84 g), gonad weight (8,39±2,99 g) and gonad index (10,07±3,60%). In contrary, the lower quality of sea urchin was in May in Bolii with diameter (62,20± 2,78 mm), total weight (67,96±8,94 g), gonad weight (1,22±0,58 g), and gonad index (1,83±0,86%). The diameter, total weight, and gonad weight of sea urchin did not equivalent with gonad index. The second phase of this research showed that gonad weight of cultured sea urchin in treatment A was 31.99±0.38a g, while B was 31.74±0.61ab g, and C was 32.42±0.56b g. The SGR parameter in present study showed no difference among treatments. Keywords: ecological characteristics, gonad index, Tripneustes gratilla  ABSTRAK Pertambahan penduduk yang semakin meningkat, menyebabkan permukiman dan penataan kota menjadi sempit, reklamasi menjadi salah satu pilihan. Reklamasi pantai berpengaruh pada populasi dan ekosistem bulubabi Tripneustes gratilla sehingga simbiosis mutualisme terganggu. Karakteristik ekologi dapat berdampak pada menurunnya sumberdaya bulubabi. Di Indonesia kegiatan budidaya bulubabi secara komersial belum dilakukan. Penelitian tentang bulubabi untuk budidaya masih minim dilakukan karena ketersediaan benih. Penelitian bertujuan membandingkan karakteristik aspek ekologis, sumber pakan, diameter, berat tubuh, berat gonad, indeks gonad, survival growth rate dan tingkat kelangsungan hidup bulubabi diperairan Pelabuhan Tanjung, Tanjung Tuis, Kilongan permai, Biak, dan Bolii.  Kegunaan penelitian ini diharapkan menjadi solusi dalam pengembangan akuakultur dengan mengedepankan aspek kelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan yaitu survei dan experimen dilakukan secara acak. Hasil survei menunjukkan bahwa pada lokasi Tanjung pelabuhan, diameter bulubabi terbaik di bulan Juni (55,60±1,96 mm), berat utuh (83,56±7,84 g), berat gonad (8,39±2,99 g) dan  indeks gonad (10,07±3,60 %). Terendah bulan Mei di lokasi Bolii, diameter (62,20± 2,78 mm), berat tutuh (67,96±8,94 g), berat gonad (1,22±0,58 g), dan indeks gonad (1,83±0,86%). Diameter bulubabi, berat utuh, dan berat gonad tidak berbanding lurus dengan indeks gonad. Eksperimen kedua menunjukkan bahwa berat gonad pada budidaya perlakuan A (31,99±0,38a g), B (31.74±0.61ab g), dan C (32,42±0,56b g). Sementara parameter SGR yang didapatkan pada penelitian ini tidak berbeda nyata antarperlakuan. Kata kunci: karakteristik ekologi, indeks gonad, Tripneustes gratilla
Kloning gen virulen Streptococcus agalactiae sebagai bahan dasar vaksin rekombinan Sutanti, ,; Soejoedono, Retno Damayanti; Faizal, Irvan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3901.326 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.147-155

Abstract

ABSTRACT Streptococcus agalactiae has emerged as an important pathogen that affects Nile tilapia in Indonesia aquaculture. Vaccination is one of the most effective tools for enhancing host defense and protecting fish from pathogens. DNA vaccine is a third generation of vaccines based on the gene encoding a vaccine antigen rather than the antigen itself. Mga is DNA-binding protein that activates expression of several important virulence gene, including those encoding M protein (emm), C5a peptidase (SCPA) and mga. The goals of this study were to isolate and molecular characterize the mga gene of local isolate of S. agalactiae to support the development of DNA vaccine. Local bacterial strain was isolated from Nile tilapia  farming in West Java, Indonesia. Bacterial identification was accomplished by PCR, using 16S rRNA primers, which revealed the 1,500 bp PCR product. Mga gene isolation was accomplished by PCR using mga gene S. agalactiae SAF and SAR- specific primers, which revealed the 1,494 bp PCR product. Mga gene was cloned into pGEM T-easy and sequenced using M13 primers. SalI and NotI restriction enzymes were used to digest the pGEM T-easy vector containing mga gene. Mga gene was cloned into pMBA containing beta actin promoter of Japanese medaka. The 16S rRNA sequence analyses confirmed that the local bacteria was 97% similarity with S. agalactiae strain 15-92MPnew. The nucleotide sequence analyses confirmed that the clones were contained 98% similarity with M protein mga  S. agalactiae. The mga gene  controlled by MBA promoter has constructed successfully as a candidate of DNA vaccine to against S. agalactiae infection in Nile tilapia. Keywords: DNA Vaccine, Streptococcus agalactiae, mga gene, Oreochromis niloticus, recombinant DNA  ABSTRAK Streptococcus agalactiae merupakan patogen penting yang mempengaruhi budidaya ikan nila di Indonesia. Vaksinasi merupakan salah satu metode yang paling efektif untuk meningkatkan pertahanan dan melindungi ikan dari patogen. Vaksin DNA adalah vaksin generasi ketiga yang mengandung gen penyandi antigen vaksin. Mga adalah protein DNA-binding yang mengaktifkan ekspresi beberapa gen virulensi, termasuk M protein (emm), C5a peptidase (SCPA) dan mga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan karakterisasi secara molekuler gen mga dari isolat lokal S. agalactiae untuk mendukung pengembangan vaksin DNA. Identifikasi bakteri dilakukan dengan PCR, menggunakan primer 16S rRNA dengan produk PCR 1.500 bp. Isolasi gen mga dilakukan dengan metode PCR menggunakan primer SAF dan SAR dengan ukuran target 1.494 bp. Gen mga dikloning ke vektor pGEMT–easy dan disekuensing menggunakan primer M13.  Enzim Sal I dan Not I digunakan untuk memotong gen mga dari vektor pGEMT- easy, selanjutnya gen mga dikloning ke vektor pMBA yang mengandung promoter beta-aktin ikan medaka Jepang. Berdasarkan analisis menggunakan gen 16S rRNA diperoleh bahwa sampel memiliki kesamaan 97% sebagai S. agalactiae. Analisis sekuen nukleotida menunjukkan bahwa klon mengandung gen mga dengan 98% kesamaan dengan M protein mga S. agalactiae. Konstruksi mga gene yang dikendalikan oleh promoter MBA telah berhasil dibuat dan ini merupakan kandidat vaksin DNA untuk mengendalikan infeksi S. agalactiae pada ikan nila. Kata kunci: Vaksin DNA, Streptococcus agalactiae, gen mga, Oreochromis niloticus, DNA rekombinan 
Tingkat keragaman ukuran benih ikan lele Clarias sp. yang diberi Artemia dengan periode yang berbeda Jusadi, Dedi; Fitriani, Farida; Ekasari, Julie; Vinasyiam, Apriana
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3162.987 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.156-161

Abstract

ABSTRACT This research was conducted to evaluate the effect of different Artemia feeding period on the size variation of catfish Clarias sp. larvae. One thousand two days post hatched larvae with an average body length of 0.7±0.03 cm were randomly distributed into 25 L round plastic tanks. The treatment conducted for 13 days with four treatment; without Artemia, given Artemia 1, 2, or 3 days in the first culture period. The results showed that 15 days old fish has the same survival rate in all treatments; and has two size distribution i.e. the small size (S) and medium size (M). Increasingly the period of administration of Artemia, the percentage of the amount of M-size fish increases, thereby giving Artemia were able to increase growth of larvae. Feeding catfish with Artemia for two days has shown producing better growth. Keywords: catfish, Artemia, size variation, growth performance  ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan periode pemberian pakan Artemia terhadap kinerja pertumbuhan larva ikan lele Clarias sp. Seribu ekor larva lele yang berumur dua hari dengan panjang rata-rata 0,7±0,03 cm ditebar dalam wadah dengan volume air 25 L. Budidaya ikan dilakukan selama 13 hari dengan empat perlakuan, yaitu perlakuan tanpa pemberian Artemia, pemberian Artemia selama satu, dua, atau tiga hari di awal masa budidaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan umur 15 hari memiliki sintasan yang sama di semua perlakuan, serta memiliki dua sebaran ukuran, yakni ukuran kecil (S) dan ukuran sedang (M). Semakin lama periode pemberian Artemia, persentase jumlah ikan ukuran M meningkat, sehingga pemberian Artemia pada larva ikan lele mampu meningkatkan pertumbuhan. Pemberian Artemia selama dua hari memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Kata kunci: ikan lele, Artemia, keragaman ukuran, kinerja pertumbuhan
Kinerja probiotik Bacillus sp. pada pendederan benih ikan lele Clarias sp. yang diinfeksi Aeromonas hydrophila Sukenda, ,; Rafsyanzani, Muhammad Mufthi; Rahman, ,; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3230.037 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.162-170

Abstract

ABSTRACT This experiment was conducted to assess performance of Bacillus sp. probiotic on catfish juvenile Clarias sp. infected by Aeromonas hydrophila. The probiotic content in the diets were 0% (K+ and K-), 1%, and 2% in duplicates. This experiment used randomized design with four treatments and two replications. Juveniles with average body weight of 3.22±0.15 g/fish were reared in the 1.5×2.8×0.5 m3 pond with density of 800 fish/pond. Fish were reared for 30 days and fed three times a day at rate 8% of  total body weight. At day 31, catfish were challenged by A. hydrophila 0.1 mL (106 cfu/mL). Post infection observation was carried out ten days with density 10 fish/aquaria. The result showed that fish fed diet containing 2% probiotic gave the best probiotic performance with survival rate of catfish 83.33% after challenged, spesific growth rate 5.40%, and 0,75 of feed conversion ratio. The results of the blood profile showed significantly better results in the treatment of probiotics compared to the positive control after challenge test A. hydrophila. Probiotic Bacillus sp. has given as much as 2% on feed provides better performance on catfish juvenile. Keywords: probiotic, Bacillus sp., A. hydrophila, catfish juvenille, growth  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja probiotik Bacillus sp. dalam pakan pada pendederan benih ikan lele Clarias sp. yang diinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan yaitu kandungan probiotik dalam pakan perlakuan yaitu 0% (K+ dan K-), 1%,  dan 2%, masing-masing dengan dua ulangan. Ikan lele yang digunakan memiliki bobot rata-rata 3,22±0,15 g/ekor, dipelihara dalam kolam terpal berukuran 1,5×2,8×0,5 m3 dengan kepadatan 800 ekor/kolam. Ikan dipelihara selama 30 hari dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari sebanyak 8% dari bobot tubuh ikan. Hari ke-31 benih lele diinjeksi bakteri A. hydrophila dosis 0,1 mL/ekor dengan kepadatan bakteri 106 cfu/mL. Pemeliharaan setelah diinfeksi dilakukan selama sepuluh hari dengan kepadatan 10 ekor/akuarium. Hasil penelitian menunjukkan ikan yang diberi probiotik 2% memperlihatkan kinerja probiotik terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup ikan lele sebesar 83,33% setelah diinfeksi dengan A. hydrophila; laju pertumbuhan harian sebesar 5,40%; dan konversi pakan 0,75. Hasil gambaran darah menunjukkan hasil yang signifikan lebih baik pada perlakuan pemberian probiotik dibandingkan kontrol positif pascauji tantang A. hydrophila. Probiotik Bacillus sp. yang diberikan sebanyak 2% pada pakan memberikan kinerja lebih baik pada pendederan benih ikan lele. Kata kunci: probiotik, Bacillus sp., A. hydrophila, benih lele, pertumbuhan 
Penentuan bobot kayu apu Pistia stratiotes L. sebagai fitoremediator dalam pendederan ikan gurami Lac. ukuran 3 cm Nirmala, Kukuh; Wardani, Sulistia; Hastuti, Yuni Puji; Nurusallam, Wildan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3326.098 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.180-188

Abstract

ABSTRACT The use of high stocking density in nursery causes a decrease of  water quality. Technology that can be used to solvethe low water quality in nursery of giant goramy was phytoremediation using Pistia stratiotes L. Purpose of this research was to determine the best weight ratio between P. stratiotes L. and 33 L water in nursery giant goramy size 3 cm. Giant goramy size 3 cm was maintained in an aquarium and was treated with different weight of P. stratiotes L. consisted of 45 g, 90 g, 135 g, and controls P. stratiotes L. 0 g. Cleaning and water change was done once a week. This research showed that the treatment of P. startiotes L. 45g/33 L water gave the best result in survival rate, absolute length of the growth, specific growth rate, feed efficiency and economically profitable. Keywords: phytoremediation, water lettuce, Osphronemus goramy L., nursery  ABSTRAK Penggunaan padat tebar tinggi pada pendederan ikan gurami mengakibatkan kualitas air menjadi buruk. Salah satu teknologi yang bisa digunakan untuk mengatasi kualitas air yang buruk pada pendederan ikan gurami adalah fitoremediasi menggunakan tanaman kayu apu. Tujuan penelitian ini adalah menentukan bobot kayu apu dengan volume air 33 L pada pendederan ikan gurami ukuran 3 cm. Ikan gurami ukuran 3 cm dipelihara di dalam akuarium dan diberi perlakuan bobot tanaman kayu apu berbeda yaitu 45 g, 90 g, dan 135 g, serta kontrol  (kayu apu 0 g). Penyiponan dan pergantian air dilakukan setiap satu minggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kayu apu 45 g/33 L air menunjukkan hasil tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan panjang mutlak, laju pertumbuhan bobot harian, efisiensi pakan yang paling baik, serta lebih menguntungkan dibandingkan dengan perlakuan kontrol (kayu apu 0 g). Kata kunci: fitoremediasi, kayu apu, Oshpronemus goramy L., pendederan 
Penentuan pH optimum untuk pertumbuhan kepiting bakau Scylla serrata dalam wadah terkontrol Hastuti, Yuni Puji; Nadeak, Horas; Affandi, Ridwan; Faturrohman, Kurnia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3175.873 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.171-179

Abstract

ABSTRACT One of the abiotic factors that affects the growth and the survival of crabs is pH. The optimum pH media will give maximum impact on mangrove crabs because it is related with the osmoregulation process. This study aimed to examine the effect of pH on the survival rate (SR) and specific growth rate (SGR) of mangrove crab Scylla serrata through the reaction of physiological condition. This study consisted of the treatments with the pH medium 5 (A), pH medium 6 (B), pH medium 7 (C), and pH medium 8 (D).  The crab’s maintenance in different pH gave a significant effect (P<0.05) on the survival rate of the crabs. The pH treatments also gave a significant effect (P<0.05) on the SGR of the crabs. The low level of crab stress at pH 7 was described by  the total value of high hemocyte and the high osmotic load so that the pH 7 was the optimum condition for the crabs. Keywords: pH, survival, specific growth rate, mangrove crabs  ABSTRAK Salah satu faktor abiotik yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting adalah pH. Media pH optimum akan memberikan dampak maksimum pada kepiting bakau karena terkait dengan proses osmoregulasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pH pada tingkat kelangsungan hidup (SR) dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) kepiting mangrove Scylla serrata melalui reaksi kondisi fisiologis. Penelitian ini terdiri atas perlakuan dengan media pH 5 (A), sedang pH 6 (B), sedang pH 7 (C), dan menengah pH 8 (D). Pemeliharaan kepiting di pH yang berbeda memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,05) pada tingkat kelangsungan hidup kepiting. Perlakuan pH juga memberikan efek yang signifikan (P<0,05) pada SGR dari kepiting. Rendahnya tingkat stres kepiting pada pH 7 digambarkan oleh nilai total hemosit tinggi dan beban osmotik tinggi sehingga pH 7 adalah kondisi optimum untuk kepiting. Kata kunci: pH, kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, kepiting mangrove
Aspek biologi reproduksi ikan pari blentik Neotrygon kuhlii di perairan Selat Sunda Abubakar, Salma; Boer, Mennofatria; Sulistiono, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3317.403 KB) | DOI: 10.19027/jai.15.2.189-197

Abstract

ABSTRACT Bluespotted stingray fish Neotrygon kuhlii is the important fish economically captured from Sunda Strait. Intensive fishing could decrease bluespotted stingray stock. This study was aimed to know the length-weight, and reproduction characteristic. The reproduction characteristic covered the size of first gonad maturity, the level and also index of gonad maturity of bluespotted stingray fish in Labuan Fishing Dock, Banten. The result showed the equilibrium of length-weight of female fish was about W=0.0007L2,1496. Meanwhile, the male fish was about W=0.0000L2.251. Male fish was better than female fish according their relatively condition factor. Decreasing of the factor condition was caused by feeding habit to grow the reproduction cells. The size of first gonad maturity for the female and male respectively were about 550–799 dan 550–760 mm. The highest level maturity even female or male was on IV achieved in June and Juli 2013. Increasing the index (IKG) was followed by the level of gonad maturity. Kata kunci: bluespotted stingray, reproductive characteristic, condition factor, Sunda Strait  ABSTRAK Ikan pari blentik Neotrygon kuhlii merupakan salah satu sumberdaya ikan ekonomis penting dan sebagai hasil penangkapan di Selat Sunda. Penangkapan yang intensif dapat mengakibatkan penurunan stok ikan pari blentik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui panjang bobot, dan  karakteristik reproduksi. Karaktersitik reproduksi itu sendiri meliputi ukaran pertama kali matang gonad, tingkat kematangan gonad dan indeks kematangan gonad ikan pari blentik di perairan Selat Sunda yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Labuan, Banten. Berdasarkan hubungan panjang bobot ikan pari betina diperoleh persamaan hubungan panjang dan bobot untuk ikan pari blentik betina W=0,0007L2,1496. Sementara itu pada ikan jantan, persamaan hubungan panjang bobot W=0,0000L2,251. Ikan pari blentik jantan mempunyai faktor kondisi yang relatif lebih besar daripada ikan pari betina. Penurunan nilai faktor kondisi disebabkan bagian terbesar dari makanan yang dikonsumsi digunakan untuk perkembangan sel-sel reproduksinya. Kisaran ukuran pertama kali matang gonad ikan pari blentik betina 550–799, sedangkan untuk ikan pari jantan adalah dengan kisaran panjang total tubuh 550–760 mm. Tingkat kematangan gonad tertinggi ikan betina dan jantan (TKG IV) ditemukan pada bulan Juni dan Juli 2013. Indeks kematangan gonad (IKG) ikan pari semakin meningkat seiring dengan meningkatnya TKG. Keywords: ikan pari blentik, karakteristik reproduksi, faktor kondisi, Selat Sunda
Effectiveness of Kaempferia galanga extract for the prevention of saprolegniasis on catfish Clarias gariepinus eggs Humsari, Arvilia; Rosidah, ,; Junianto, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3294.442 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.1-7

Abstract

ABSTRACTSaprolegniasis is a disease caused by the infection of Saprolegnia sp. Saprolegniasis can attack catfish eggs causing a decrease in hatching rate. There are some plants which have an antifungal potential, e.g. cutcherry Kaempferia galanga L. This study aimed to obtain the effective concentration of cutcherry rhizome extract for the prevention of saprolegniasis, resulting in a high hatching rate. This study applied five treatments: the extract at concentrations of 0 mg/L; 20 mg/L; 40 mg/L; 60 mg/L; and 80 mg/L applied to catfish eggs. The method applied was the immersion of eggs in cutcherry extract for one hour. The results showed that the immersion method applied in the application of cutcherry rhizome extract could reduce saprolegniasis. This was indicated by the decrease of saprolegniasis compared to control. The use of cutcherry rhizome extract (the treatment at concentrations of 20 mg/L; 40 mg/L; 60 mg/L; and 80 mg/L) could prevent saprolegniasis with saprolegniasis levels of 43.5%; 27.5%; 19.5%; and 18.5%, respectively. Keywords :  catfish eggs, cutcherry rhizome extract, saprolegniasis  ABSTRAKSaprolegniasis merupakan suatu penyakit yang timbul karena infeksi Saprolegnia sp.  Saprolegniasis dapat menyerang telur ikan lele yang menyebabkan turunnya daya tetas telur. Terdapat beberapa tanaman yang memiliki daya antifungi seperti tanaman kencur Kaempferia galanga L. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak rimpang kencur yang efektif untuk pencegahan penyakit saprolegniasis sehingga menghasilkan daya tetas telur yang tinggi. Penelitian menggunakan lima perlakuan yaitu dosis ekstrak 0 mg/L (kontrol); 20 mg/L; 40 mg/L; 60 mg/L; dan 80 mg/L dengan menggunakan telur ikan lele sangkuriang. Metode yang digunakan yaitu perendaman telur dalam ekstrak kencur selama satu jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode perendaman ekstrak rimpang kencur dapat mengurangi saprolegniasis. Hal ini ditunjukkan dengan semakin menurunnya saprolegniasis jika dibandingkan kontrol. Penggunaan ekstrak rimpang kencur (perlakuan 20 mg/L; 40 mg/L; 60 mg/L; dan 80 mg/L) dapat mencegah saprolegniasis berturut-turut 43,5%; 27,5%; 19,5%; dan 18,5%. Kata kunci : telur ikan lele, ekstrak rimpang kencur, saprolegniasis

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue