cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Efficacy of whole cell vaccine Aeromonas hydrophila on catfish broodstock and it’s offspring resistance againt motile aeromonad septicemia (MAS) Sukenda, ,; Pratiwi, Kiki Amalia; Rahman, ,; Hidayatullah, Dendi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3146.796 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.92-100

Abstract

ABSTRACT  Transfer of maternal immunity by mean of passive immunization is a way to provide protection and durability of antibodies on the offspring. The purpose of this research was to analize effication of Aeromonas hydrophila vaccine on the catfish broodstock to maternal transfer of immunity, and offspring resistance. The average body weight of broodstock used in this study were 650±50 g were kept in pool tarps sized 2×1×0.5 m3. This study used a randomized complete design with two treatments and three replications. Female broodstock were vaccinated using intraperitonial injections at a dose 0.4 mL/kg and control fish were injected with phospate buffered saline (PBS). The observed parameters include hematology of broodstock, mortality, the relative survival rate, and antibody titers. Antibody titer measurements on broodstock, eggs, and offspring. Vaccination on broodstock catfish delivers a significant antibody level (P<0.05) on offspring compared to control catfish with relative survival rate of offspring at 5, 10, and 15 days after hatching were 67.76%, 82.66%, and 71.66% respectively. Keywords: catfish, Aeromonas hydrophila, vaccination, antibody transfer  ABSTRAK  Transfer kekebalan dari induk kepada benih melalui imunisasi pasif merupakan salah satu cara untuk memberikan proteksi pada benih. Tujuan penelitian ini untuk menguji efikasi vaksin sel utuh Aeromonas hydrophila pada induk ikan nila dalam mentransfer kekebalan spesifik ke benih dan menguji ketahanan benih hasil pemijahan induk yang divaksin. Induk lele yang digunakan pada penelitian ini memiliki bobot rata-rata 650±50 g dipelihara di kolam terpal berukuran 2×1×0,5 m3. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua perlakuan dan tiga ulangan. Induk betina lele divaksinasi secara intraperitonial dengan dosis 0,4 mL/kg ikan dan induk lele kontrol disuntik dengan phospate buffer saline (PBS). Parameter yang diamati meliputi hematologi induk, mortalitas, tingkat kelangsungan hidup relatif benih, dan titer antibodi. Vaksinasi induk lele memberikan hasil level antibodi yang signifikan (P<0,05) pada induk, telur, dan benih lele dibandingkan perlakuan kontrol dengan tingkat kelangsungan hidup relatif benih umur 5, 10, dan 15 hari pacatetas masing-masing sebesar 67,76; 82,66%; dan 71,66%. Kata kunci: ikan lele, Aeromonas hydrophila, vaksinasi, transfer antibodi
Aromatase gene expression and masculinization of Nile tilapia immersed in water 36 °C containing 17α-methyltestosterone Fauzan, Agung Luthfi; Soelistyowati, Dinar Tri; Junior, Muhammad Zairin; Hardiantho, Dian; Setiawati, Mia; Alimuddin, ,
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3315.516 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.116-123

Abstract

ABSTRACT  Immersion of undifferentiated larval tilapia in high temperature and 17α-methyltestosterone (MT) cab increase the male ratio. However, the effectiveness of immersion in high temperature of water containing MT remains to be evaluated. The purposes of this study were: 1) evaluate the male ratio, growth, and survival of tilapia, and 2) analyze the aromatase brain-type gene expression level in tilapia after immersing in high temperature (36 °C) containing MT at 2 mg/L for four hour with single and double immersion. Aromatase gene expression was analyzed by semi-quantitative RT-PCR (sqRT-PCR) method. The result showed that higher monosex male ratio was obtained by single immersion of MT at 36 °C at room temperature. Gene expression level of aromatase brain-type was lower on single immersion and increased significantly at second immersion compared to control (immersion at room temperature without MT). Immersion using MT and high temperature had no significant effect on fish survival. However the specific growth rate and fish biomass were higher than control. Thus, monosex male tilapia can be produced by single immersion of undifferentiated larvae at 36 °C temperature containing MT. Keywords: male ratio, aromatase, Oreochromis niloticus, temperature, 17α-methyltestosterone  ABSTRAK  Perendaman larva ikan nila yang belum terdeferensiasi kelaminnya dengan suhu tinggi dan hormon 17α-metiltestosteron (MT) dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan. Tetapi, efektivitas perendaman menggunakan MT pada suhu tinggi belum diteliti. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mengevaluasi nisbah kelamin jantan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup ikan nila, dan 2) menganalisis ekspresi gen aromatase tipe-otak pada ikan direndam menggunakan MT dengan dosis 2 mg/L selama empat jam sebanyak satu dan dua kali perendaman pada suhu 36 °C. Ekspresi gen aromatase dianalisis menggunakan metode RT-PCR semi-kuantitatif (sqRT-PCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perendaman MT satu kali pada suhu 36 °C lebih tinggi menghasilkan ikan nila jantan monoseks dibandingkan perendaman MT satu kali pada suhu ruang. Tingkat ekspresi gen aromatase tipe otak pada perendaman satu kali lebih rendah, dan meningkat secara signifikan pada perendaman kedua dibandingkan dengan kontrol (perendaman pada suhu ruang tanpa MT). Perendaman larva menggunakan MT dan suhu 36 °C tidak berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup, tetapi laju pertumbuhan spesifik dan biomassa ikan perlakuan tersebut lebih tinggi daripada kontrol. Dengan demikian, ikan nila jantan monoseks dapat diproduksi dengan perendaman satu kali pada larva yang belum terdeferensiasi jenis kelaminnya menggunakan MT pada suhu 36 °C. Kata kunci: rasio jantan, aromatase, Oreochromis niloticus, suhu, 17α-metiltestosteron
The concentration of optimum dissolved oxygen levels for growth of mangrove crab Scylla serrata seed in recirculation system Faturrohman, Kurnia; Nirmala, Kukuh; Djokosetiyanto, Daniel; Hastuti, Yuni Puji
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3251.944 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.109-117

Abstract

ABSTRACT This study aimed to determine optimum dissolved oxygen (DO) through the addition of aeration and to evaluate the role of dissolved oxygen on production performance and stress responses of mangrove crab Scylla serrata. Experimental design used was complete randomized design with four treatments namely no aeration (A), one point aeration (B), two points aeration (C), and three points aeration (D). All treatments replicated three times. The crab with the average of body weight 45.6±2.1 g/individual cultured in a plastic box (40×30×30 cm3). The stocking densities was 10 crab/box. Crab was cultured within 42 days and were fed two times a day by restricted method (15% of the total biomass). The result showed that C treatment produced 5.51 mg/L dissolved oxygen and gave the best result of mangrove crabs production performance  with 60% survival, 0.83±0.03 g/day absolute growth rate and food conversion ratio 1.1. It also showed good response to the stress that indicated by the cortisol level (10.159 µg/dL). The best results of coefficient of diversity showed by D treatment that was 13.5%. The water quality during study period was fluctuative as affected by different dissolved oxygen value. Keyword: mangrove crabs, dissolved oxygen, production performance  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menentukan kadar oksigen terlarut (OT) atau dissolved oxygen (DO) yang optimum melalui penentuan titik aerasi serta mengevalusi peranan oksigen terlarut terhadap kinerja produksi dan respons stres kepiting bakau Scylla serrata. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat pelakuan (penambahan titik aerasi dengan rincian A, tidak menggunakan titik aerasi; B, satu titik aerasi; C, dua titik aerasi dan D, tiga titik aerasi) dan tiga ulangan. Kepiting bakau yang digunakan memiliki berat rata-rata 45,6±2,1 g/ekor dengan padat tebar 10 ekor/wadah. Wadah yang digunakan selama pemeliharaan adalah bak fiber plastik yang berukuran 40×30×30 cm3. Pemeliharaan kepiting bakau dilaksanakan selama 42 hari dan diberikan pakan dua kali sehari dengan metode restricted yakni sebesar 15% dari biomassa kepiting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan C yaitu penambahan dua titik aerasi menghasilkan nilai kelarutan oksigen rata-rata sebesar 5,51 mg/L dan memberikan hasil terbaik terhadap kinerja produksi kepiting bakau (tingkat kelangsungan hidup 60%; laju pertumbuhan mutlak 0,83±0,03 g/hari; dan rasio konversi pakan 1,1). Perlakuan C juga menunjukkan respons stres yang baik dengan memiliki nilai kortisol paling rendah dari perlakuan lain yaitu 10,159 µg/dL. Untuk parameter koefisien keragaman berat, hasil terbaik terjadi pada perlakuan D sebesar 23,3%. Kualitas air selama penelitian memiliki nilai yang fluktuatif di setiap perlakuan sebagai efek adanya perbedaan nilai kelarutan oksigen yang dihasilkan. Kata kunci: kepiting bakau, kelarutan oksigen, kinerja produksi
Incremental benefits from the increasing in the production of koi fish Cyprinus carpio var. koi culture Diatin, Iis; Nuristy, Dini F; Teduh, Ahmad; Mujahid, Muhammad
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3139.991 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.1.68-75

Abstract

ABSTRACT  Koi fish is one of the species included in the intensification program of ornamental fish production. Production of koi has only reached 82.04% of total national production target thus making it potential for development. The objective of the study was to assess additional financial benefit of production increment through stocking pattern modification. Present research was performed using case study method on Pokdakan PBC Fish Farm (PPFF), koi fish farmers in Sukabumi. Financial analysis consisted of business analysis, investment criteria, and sensitivity. Stocking pattern management could increase ornamental fish production and its benefit margin up to 1.5 times higher. That investment criteria has shown NPV at value of IDR3,824 million, net BCR 4.96, IRR 86.0%, and PP 1.7 years. Koi fish farming was sensitive to a decline in survival rate and insensitive to the rise of formulated feed price. Keywords: business analysis, koi, investment criteria, production pattern, sensitivity  ABSTRAK  Ikan koi merupakan salah satu ikan yang termasuk dalam program penguatan produksi ikan hias Indonesia. Capaian dari target produksi ikan koi yang ditetapkan pemerintah hanya mencapai 82,04 %, sehingga budidaya ikan koi potensial untuk dikembangkan dan ditingkatkan produksinya. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada kelompok pembudidaya ikan hias koi PPFF di Sukabumi. Analisis finansial yang digunakan meliputi analisis usaha, kriteria investasi dan sensitivitas. Pengaturan pola tebar dapat meningkatkan jumlah produksi ikan hias dan marjin keuntungan hingga 1,5 kali. Analisis kriteria investasi menghasilkan nilai NPV sebesar Rp3.824 juta, net B/C 4,94, IRR 86,0% dan PP 1,7 tahun. Budidaya ikan koi sensitif terhadap penurunan kelangsungan hidup dan tidak sensitif terhadap peningkatan harga pakan buatan. Kata kunci: analisis usaha, koi, kriteria investasi, pola tebar, produksi
Supplementation of astaxanthin and vitamin E in feed on the development of gonads white shrimp broodstock Litopenaeus vannamei Boone 1931 Maulana, Fajar; Arfah, Harton; Istifarini, Mita; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3478.477 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.124-135

Abstract

ABSTRACT The quality of white shrimp Litopenaeus vannamei broodstock can be improved through the addition of astaxanthin and vitamin E in the diet. This study aimed to determine the effect of administration of astaxanthin and vitamin E with different doses in the feed on the maturity gonad of prospective Pacific white shrimp broodstock. Supplementation of 0 mg/kg feed astaxanthin + 0 mg/kg feed vitamin E (control/A),  500 mg/kg feed astaxanthin (B),  350 mg/kg  feed vitamin E (C), 500 mg/kg feed astaxanthin and 350 mg/kg feed vitamin E (D), and  250 mg/kg feed astaxanthin and 175 mg/kg feed vitamin E (E) were applied in feed formulation. Shrimp was fed 2% of body weight three times daily at 06.00 am, 13.00 pm, and 20.00 pm. The result showed that the optimum dose for survival, specific growth rate and maturity level of Pacific white shrimp broodstock was obtained in the combination of 175 mg/kg vitamin E and 250 mg/kg astaxanthin. The  survival of shrimp by that treatment was 100.00±0.00%, specific growth rate 1.07±0.26%/day, the first level of gonad maturity growth was reached at day 14 (19.45±4.81%), the fourth level of gonad maturity was obtained at day 41, spawning rate 33.33±8.33%, fecundity 87,000±2,000 eggs, and hatching rate reached 49.00±1.53%. Keywords: astaxanthin, Litopenaeus vannamei, vitamin E  ABSTRAK Peningkatan kualitas induk udang vaname Litopenaeus vannamei dapat dilakukan dengan penambahan vitamin E dan astaxanthin pada pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh pemberian astaxanthin dan vitamin E dengan dosis berbeda dalam pakan terhadap tingkat kematangan gonad calon induk udang vaname. Dosis yang digunakan adalah 0 mg/kg pakan astaxanthin + 0 mg/kg pakan vitamin E (kontrol/A),  500 mg/kg pakan astaxanthin (B),  350 mg/kg  pakan vitamin E (C), 500 mg/kg pakan astaxanthin and 350 mg/kg pakan vitamin E (D), and  250 mg/kg pakan astaxanthin and 175 mg/kg pakan vitamin E (E). Pemberian pakan dengan penambahan vitamin E dan astaxanthin dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu jam 06.00, 13.00, dan 20.00 WIB sebanyak 2% dari bobot udang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimum untuk sintasan, laju pertumbuhan spesifik, dan tingkat kematangan induk udang vaname diperoleh dengan kombinasi 175 mg/kg vitamin E dan 250 mg/kg astaxanthin. Kelangsungan hidup udang dengan perlakuan tersebut adalah 100,00±0,00%, laju pertumbuhan spesifik 1,07±0,26%/hari, tingkat kematangan gonad pertama dicapai pada hari ke 14 (19,45±4,81%), tingkat kematangan gonad keempat diperoleh pada hari ke 41, tingkat pemijahan 33,33±8,33%, fekunditas 87.000±2.000 telur, dan tingkat penetasan mencapai 49,00±1,53%.  Kata kunci: astaxanthin, udang vaname Litopenaeus vannamei, vitamin E
Optimization of stocking density in intensification of mud crab Scylla serrata cultivation in the resirculation system Hastuti, Yuni Puji; Nirmala, Kukuh; Rusmana, Iman; Affandi, Ridwan; Kuntari, Wahyu Budi
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3535.327 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.253-260

Abstract

ABSTRACT This study aimed to determine optimum stocking density of mud crab Scylla serrata through the applied of different stocking density in every treatment in recirculation system. Experimental design used was complete randomized design (CRD) with three density treatments which were 5 (P1), 10 (P2), and 15 ind/container (P3). All treatments replicated three times. The crab with the average of body weight 150 g/ind cultured in a plastic box (40×30×30 cm). Crab was cultured within 60 days and were fed two times a day by at satiation method. The result showed that P2 treatment gave the best result of mangrove crabs production performance among all treatments with 73.33±5.77% survival rate, 0.68±0.01 g/ind/day absolute growth rate and food conversion ratio 10.11±0.01. Treatment P1 gave the good response of stress, it indicated by the lowest glucose of all tretamnets at the level of 31.91 mg/dL in the end of treatment periods. The water quality during study period was fluctuative as affected by different stocking density in the treatments. Keywords: mud crab, stocking density, production performance  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan padat tebar optimal kepiting bakau Scylla serrata melalui penerapan kepadatan tebar yang berbeda pada setiap perlakuan dalam sistem resirkulasi. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan yaitu 5 (P1), 10 (P2), dan 15 ekor/wadah pemeliharaan (P3) dengan tiga ulangan. Kepiting bakau yang digunakan memiliki berat rata-rata 150 g/ekor. Wadah pemeliharaan yang digunakan selama pemeliharaan adalah kontainer plastik yang berukuran 40×30×30 cm. Pemeliharaan kepiting bakau dilaksanakan selama 60 hari dan diberikan pakan berupa ikan rucah dua kali sehari secara at satiation. Penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P2 memberikan hasil kinerja produksi terbaik dibandingkan perlakuan lainnya dengan nilai kelangsungan hidup 73,33±5,77%, laju pertumbuhan mutlak 0,68±0,01 g/ekor/hari, dan rasio konversi pakan 10,11±0,01. Perlakuan P1 menunjukkan respons stres yang baik dengan memiliki nilai kadar glukosa paling rendah dari perlakuan lain yaitu 31,91 mg/dL pada akhir masa pemeliharaan. Kualitas air selama penelitian memiliki nilai yang fluktuatif di setiap perlakuan sebagai efek adanya perbedaan jumlah padat tebar setiap wadahnya Kata kunci: kepiting bakau, padat tebar, kinerja produksi
Optimization of salinity range for rearing glass eel Anguilla bicolor bicolor Hesti Lukas, Ade Yulita; Djokosetiyanto, Daniel; Budiardi, Tatag; Sudrajat, Agus Oman; Affandi, Ridwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3383.063 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.215-222

Abstract

ABSTRACT Fasting is one of a method that used for measured growth of fish in a shorter period of time. This study was aimed to determine the optimum range of salinity for improve the survival and growth of glass eel Anguilla bicolor bicolor. It used a completely randomized design (CRD) with four salinity treatments and three replications, namely (A) 0 g/L, (B) 10 g/L, (C) 20 g/L, and (D) 30 g/L. The fish used were of glass eel A. bicolor bicolor with 0.15–0.23 g of weight. The experiment was conducted in an aquarium of 60×30×30 cm with a volume of 30 Liters and at a stocking density of 2 g/L for 14 days. During the maintenance, glass eels were fasted for have a significantly of biomass decline. Data collection was done at the start and the end of maintenance. Parameters measured included survival (%) and the rate of decline in absolute biomass (g). Physical and chemical parameters included temperature, dissolved oxygen, and pH which were measured daily, while ammonia and alkalinity were measured every seven days. Result showed that survival was not significantly different between treatments (P>0.05), while the rate of decline in absolute biomass was significantly different between treatments (P<0.05). Treatments of 0 g/L salinity was the lowest survival than the others. While treatment of 10 g/L salinity was the lowest rate of decline in absolute biomass. According to research, the optimum salinity was 10 g/L, and after analysis with quadratic regression analysis, the optimum range of salinity were 5.00–13.40 g/L. Keywords: optimum salinity, survival, growth, glass eel, Anguilla bicolor bicolor  ABSTRAK Pemuasaan merupakan salah satu metode pengukuran perubahan bobot ikan yang dipelihara dalam waktu singkat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kisaran salinitas optimum untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan glass eel Anguilla bicolor bicolor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL), dengan empat perlakuan salinitas dan tiga ulangan, yaitu (A) 0 g/L, (B) 10 g/L, (C) 20 g/L, dan (D) 30 g/L. Penelitian dilakukan selama 14 hari.  Ikan yang digunakan adalah glass eel A. bicolor bicolor dengan bobot 0,15–0,23 g dengan padat tebar 2 g/L. Pemeliharaan dilakukan di akuarium berukuran  60×30×30 cm dengan volume air 30 Liter/akuarium. Selama pemeliharaan glass eel dipuasakan sehingga diperoleh penurunan biomassa yang signifikan. Pengambilan sampel data dilakukan setiap tujuh hari berupa kelangsungan hidup (%) dan laju penurunan biomassa mutlak (g). Parameter fisika kimia air berupa ammonia dan alkalinitas dilakukan setiap tujuh hari, sedangkan suhu, oksigen terlarut (DO), dan pH dilakukan setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan hidup tidak berbeda nyata antar perlakuan (P>0,05) sedangkan laju penurunan biomassa mutlak berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian, salinitas 10 g/L, 20 g/L, dan 30 g/L  menunjukkan kelangsungan hidup 100%, sedangkan salinitas 0 g/L memberikan kelangsungan hidup terendah. Salinitas 10 g/L menunjukkan pemakaian energi terendah untuk metabolisme tubuh sehingga memberikan penurunan bobot biomassa terendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya.  Hasil penelitian menunjukkan salinitas optimum adalah 10 g/L, dan setelah dihitung menggunakan analisis regresi kuadratik, maka kisaran salinitas optimum adalah 5,00–13,40 g/L.   Kata kunci: salinitas optimum, kelangsungan hidup, pertumbuhan, glass eel, Anguilla bicolor bicolor
The evaluation of different levels diets protein for growth performance of Clarias sp. fry cultured in biofloc-based system Khasanah, Noviati Rohmatul; Priyo Utomo, Nur Bambang; Setiawati, Mia; Yuhana, Munti
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3314.234 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.136-143

Abstract

ABSTRACT The study was conducted to evaluate the performance of catfish fry grown using different dietary protein levels in the biofloc-base aquaculture system. Experiments using a completely randomized design, consisted of four treatments and three replications. The treatment consisted of:  protein 38% (A), 34% protein (B), 30% protein (C), and protein 26% (D). Catfish with initial weight of 0.83±0.01 g and length of 4.64±0.04 cm were cultured in 60 L tank with density of 90 fish each tank for 35 days. Inoculation of heterotrophic bacterial Staphylococcus lentus L1k were performed of 104 CFU/mL ratio of 15 was administrated once a day after two hours feeding in the morning. Feeding was conducted twice a day at 5% of the biomass weight. At the end of trial treatment (D) showed the highest survival rate (88.15±5.25%), the body lenght variance coefficient (9.58±0.51%) and protein retention (39.87±2.77%). Treatment (B) showed the highest growth rate (4.11±0.05%), total length (2.39±0.08 cm), and feed intake (318.76±4.63). Treatment (A) showed the highest feed efficiency (93.65±4.43%) while lowest lipid retention compared to others (22.20±1.20%.). Based on the results, it can be concluded that 34% protein feed (C) can replace 38% protein feed (B) catfish fry size 4−5 cm through biofloc-based system. Keywords: biofloc, fry, growth, protein, Staphylococcus lentus L1k ABSTRAK Penelitian bertujuan mengevaluasi kinerja pertumbuhan benih lele dengan menggunakan kadar protein pakan yang berbeda pada sistem bioflok. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas protein 38% (A), protein 34% (B), protein 30% (C), dan protein 26% (D), terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan. Benih lele dengan berat rata-rata 0,83±0,01 g dan panjang rata-rata 4,64±0,04 cm dipelihara di akuarium berukuran 90×50×40 cm3 dengan padat tebar 90 ekor/akuarium selama 35 hari. Inokulasi bakteri heterotrof berupa Staphylococcus lentus L1k dilakukan pada setiap perlakuan kepadatan 104 CFU/mL. Penambahan sumber karbon berupa molase dengan C/N (Carbon/Nitrogen) rasio 15 diberikan satu kali sehari setelah dua jam pemberian pakan di pagi hari. Pakan diberikan dua kali sehari sebanyak 5% dari berat biomasa. Hasil penelitian menunjukkan pemberian kadar protein pakan berbeda memberikan hasil yang positif. Perlakuan (D) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup (88,15±5,25%), koefisien keragaman panjang (9,58±0,51%) dan retensi protein (39,87±2,77%) terbaik. Perlakuan (B) menunjukkan laju pertumbuhan harian (4,11±0,05%), panjang total (2,39±0,08 cm), dan jumlah konsumsi pakan (318,76±4,63) tertinggi. Perlakuan (A) menunjukkan efisiensi pakan (93,65±4,43%) tertinggi namun menunjukkan retensi lemak (22,20±1,20%) terendah. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian pakan dengan kadar protein 34% mempunyai performa pertumbuhan yang sama dibandingkan protein 38% pada benih ikan lele berukuran 4−5 yang dipelihara menggunakan sistem budidaya bioflok. Kata kunci: benih lele, protein, pertumbuhan, bioflok, Staphylococcus lentus L1k 
The frequency of calcium and magnesium differences in recirculation systems for increasing production of mudcrab Scylla serrata seed Nurussalam, Wildan; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy; Hastuti, Yuni Puji
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3436.105 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.144-153

Abstract

ABSTRACTMolting phase is one of many factors that can inhibit mudcrab growth. Recirculation system in culturing mudcrab has a weakness which is the decreasing of ions. Calcium and magnesium in the water can affect the molting phase. The aim of this study was to evaluate the best additional frequency of calcium and magnesium in recirculation system. This research used mudcrab seeds that have weight of 54.856±2.195 gram. This research used completely randomized design with four treatments and three replicates. The treatments were additional frequency of Ca and Mg, comprised of four levels, without additional Ca and Mg (A), additional 30 mg/L Ca and 30 mg/L Mg in every five days (B), additional 30 mg/L Ca, and 30 mg/L Mg in every 10 days (C), and additional 30 mg/L Ca and 30 mg/L Mg in every 15 days (D). The result showed that total of biomass in every treatments were A (379.99±86.16 gram), B (517.65±103.94 gram), C (808.68±59.29 gram), and D (1,054.41±73.54 gram). The highest final biomass was the D treatment (1,054,41±73.54), which was significantly different to others (P<0.05).Keywords: mudcrab, resirculation, calcium, magnesium, molting, production  ABSTRAKSalah satu faktor penghambat pertumbuhan kepiting bakau adalah fase molting. Sistem resirkulasi budidaya kepiting bakau memiliki kelemahan yaitu berkurangnya ion-ion. Fase moting pada kepiting bakau sangat dipengaruhi oleh keberadaan ion kalsium dan magnesium dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan frekuensi waktu penambahan kalsium dan magnesium terbaik dalam sistem resirkulasi. Penelitian ini menggunakan benih kepiting bakau dengan berat rata-rata 54,856±2,195 gram. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan penambahan Ca dan Mg sebanyak 30 mg/L terdiri atas empat macam frekuensi, yaitu tanpa penambahan Ca dan Mg (A), frekuensi lima hari sekali (B), frekuensi 10 hari sekali (C), dan frekuensi 15 hari sekali (D). Hasil penelitian menunjukkan jumlah biomassa masing-masing perlakuan adalah A (379,99±86,16 gram), B (517,65±103,94 gram), C (808,68±59,29 gram), dan D (1.054,41±73,54 gram). Perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan D dengan jumlah biomassa sebesar (1.054,41±73,54 gram) ini berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan lainnya. Kata kunci: kepiting bakau, resirkulasi, kalsium, magnesium, molting, produksi
Effectiveness of ambon banana stem juice as immunostimulatory against Aeromonas hydrophila infections in catfish Clarias gariepinus Astria, Qorie; Nuryati, Sri; Nirmala, Kukuh; Alimuddin, Alimuddin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3453.412 KB) | DOI: 10.19027/jai.16.2.154-163

Abstract

ABSTRACT Outbreaks of infectious diseases due to Aeromonas hydrophila in catfish can cause high death rates (80–100%). Fish disease control can be done using phytopharmaceutical to prevent or treat diseases of fish. One of the phytopharmaceutical that known to prevent the fish diseases is ambon banana stem Musa cavendishii var. dwarf Paxton. This study was conducted to test the effectiveness of catfish immersion using banana stem juice as an immunostimulant against bacterial infections A. hydrophila. The observed parameters were a total performance of production, hematological test, and water quality. Immersion of catfish seeds with stem juice was performed at a concentration of 5 mL/L, 13 mL/L, and 21 mL/L for 30 minutes. Each treatment consisted of three replications. A  total of 15 fishes were immersed in 1.5 L water. At day-9 after immersion, fish was infected by A. hydrophila bacteria at a dose of 104 cfu/mL. The results showed that fish treated with banana stem juice at a concentration of 13 mL/L had the survival rate of 53.33±6.67% which is higher than positive control (33.33±6.67%). Based on hematology observations on the 3rd day post-challenge test (H12) with A. hydrophila, total erythrocytes, hemoglobin, total leukocytes, phagocytic activity, differential leukocyte, and lysozyme activity was highest in treatment13 mL/L. Lower feed conversion ratio (1.08±0.04) were also obtained in treatment 13 mL/L. Thus Immersion of seeds in stem juice can boost the immune system against infections A. hydrophila. Keywords: Aeromonas hydrophila, ambon banana stem juice, soaking, catfish, immune system  ABSTRAK Wabah penyakit akibat infeksi Aeromonas hydrophila pada ikan lele dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi (80–100%). Penanggulangan penyakit ikan dapat dilakukan menggunakan fitofarmaka untuk mencegah ataupun mengobati penyakit ikan. Salah satu fitofarmaka yang dapat digunakan dalam upaya pencegahan penyakit ikan adalah batang pisang ambon lumut Musa cavendishii var. dwarf Paxton. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas perendaman benih ikan lele dengan menggunakan air perasan batang pisang ambon sebagai imunostimulan terhadap infeksi bakteri A. hydrophila. Parameter yang diamati selama penelitian adalah kinerja produksi, uji hematologi dan pengukuran kualitas air. Perendaman benih ikan lele dengan air perasan  dilakukan pada konsentrasi 5 mL/L, 13 mL/L, dan 21 mL/L selama 30 menit. Pada hari ke-9 setelah perendaman, ikan diinfeksi bakteri A. hydrophila pada kepadatan 104 cfu/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman ikan dengan air perasan pada konsentrasi 13 mL/L memiliki kelangsungan hidup yakni sebesar 53,33±6,67%, lebih tinggi bila dibandingkan dengan kontrol positif  (33,33±6,67%). Berdasarkan pengamatan pada uji hematologi hari ke-3 pascauji tantang (H12) dengan bakteri A. hydrophila, total eritrosit, hemoglobin, total leukosit, aktivitas fagositik, dan aktivitas lisozim tertinggi terdapat pada perlakuan konsentrasi 13 mL/L. Rasio konversi pakan yang rendah (1,08±0,04) juga terdapat pada perlakuan 13 mL/L. Hal ini menunjukkan bahwa perendaman benih ikan lele pada air perasan dapat meningkatkan sistem imun terhadap infeksi bakteri A. hydrophila. Kata kunci: Aeromonas hydrophila, air perasan batang pisang ambon, perendaman, ikan lele, sistem imun

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue