cover
Contact Name
Wahyu Andy Nugraha
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
+6282234502425
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Jurusan Kelautan dan Perikanan, Universitas Trunojoyo Madura, Jl. Raya Telang PO. BOX 2 Kamal, Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Juvenil: Jurnal Ilmiah Kelautan dan Perikanan
ISSN : -     EISSN : 27237583     DOI : -
Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal aim to become a medium of dissemination of high quality research and scientific note in the fiend of marine and fisheries. This journal can be accessed and downloaded freely for everyone. The article published in this journal have been pass the rigorious peer review by the expert reviewer. This journal accept every article that contain the following, but not limited to, scope: Juvenil: Journal of Marine and Fisheries Sciences, is a scientific journal in the field of marine and fisheries science published electronically and periodically four times a year by the Department of Marine Affairs and Fisheries, Trunojoyo University, Madura. This journal is expected to function as a medium for the dissemination of quality scientific research results as well as scientific rebuttal (notes) in the marine and fisheries sector which can be accessed online and free of charge by the Indonesian community and the international community. The articles (articles) published in this journal are articles that have passed peer-review (partner bebestari). This journal accepts every article which contains, but is not limited to, the scope: 1. Ecology and biology of marine and fisheries 2. Marine and Aquaculture 3. Marine and Aquatic Conservation 4. Marine Water Pollution 5. Management of marine and aquatic resources 6. Marine and fishery processing technology
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 3: Agustus (2025)" : 15 Documents clear
Hubungan Tekstur Sedimen Terhadap Vegetasi Mangrove Di Education Park Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan Herdi, Herdi; Afifa, Fitria Hersiana; Ainalyaqin, Muhammad Ilham; Latif, M
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.30439

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tekstur sedimen terhadap vegetasi mangrove Di Education Park Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Pengambilan  sampel dilakukan dari 3 stasiun yang terbagi dalam 3 wilayah yaitu daratan, dekat aliran sungai dan daerah garis pantai yang meliputi pengukuran vegetasi mangrove, sampel sedimen. Analisis tekstur sedimen dengan metode Buchanan dengan dua analisa yaitu analisa kering (sieve shaker) dan analisa basah (pemipetan). Tekstur sedimen yang diketahui pada stasiun 1 dan 2 terdapat sand (pasir), silt (lumpur) dan clay (liat), sedangkan stasiun 3 hanya terdapat Gravel (kerikil) dan sand (pasir). Metode yang digunakan dalam pengkuran tingkat hubungan antara tekstur sedimen terhadap kerapatan vegetasi mangrove menggunakan metode Uji Korelasi Pearson. Hasil kerapatan mangrove pada stasiun 1 sebesar 1800 dengan vegetasi mangrove Avicennia marina, Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba. Stasiun 2 memperoleh sebesar 4633 dengan vegetasi mangrove Rhizophora mucronata, sedangkan pada stasiun 3 memperoleh sebasar 767 dengan vegetasi mangrove Sonneratia alba. Hasil uji korelasi pearson menunjukkan bahwa hubungan tekstur sedimen sand (pasir), silt (lumpur) dan clay (liat) terhadap kerapatan mangrove stasiun 1 memperoleh koefisien korelasi sebesar 0,936 (sangat kuat), stasiun 2 hubungan antara tekstur sedimen sand (pasir), silt (lumpur) dan clay (liat) terhadap kerapatan mangrove memperoleh nilai koefisien korelasi pearson sebesar 0,903 (sangat kuat) dan stasiun 3 hubungan antara tekstur sedimen gravel (kerikil) dan sand (pasir) terhadap kerapatan mangrove memperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,942 (sangat kuat).Kata kunci: Tekstur sedimen, Mangrove, Kerapatan, Education Park LabuhanABSRACTThis study aims to determine the cerrelation of sediment texture to mangrove vegetation in Education Park Labuhan Village, Sepulu District, Bangkalan Regency. The method used in this research is quantitative method. Sampling was conducted from 3 stations which are divided into 3 areas, namely the mainland, near the river and the shoreline area which includes measurement of mangrove vegetation, sediment samples. Analysis of sediment texture with Buchanan method with two analyzes, namely dry analysis (sieve shaker) and wet analysis (pipetting). Sediment texture known at stations 1 and 2 there is sand (sand), silt (mud) and clay (clay), while station 3 there is only Gravel (gravel) and sand (sand). The method used in measuring the level of correlation between sediment texture to mangrove vegetation density using the Pearson Correlation Test method. The results of mangrove density at station 1 amounted to 1800 with mangrove vegetation Avicennia marina, Rhizophora mucronata and Sonneratia alba. Station 2 obtained 4633 with Rhizophora mucronata mangrove vegetation, while at station 3 obtained 767 with Sonneratia alba mangrove vegetation. Pearson correlation test results show that the correlation between sediment texture sand (sand), silt (mud) and clay (clay) to mangrove density station 1 obtained a correlation coefficient of 0.936 (very strong), station 2 correlation between sediment texture sand (sand), silt (mud) and clay (clay).Keywords: Sediment texture, Mangrove, Density, Education Park Labuhan
Penambahan Tepung Ikan Teri Terhadap Tingkat Kesukaan Nori-Like Berbahan Baku Ulva lactuca Dan Eucheuma cottonii Amelia, Santi; Liviawaty, Evi; Rostini, Iis; Pratama, Rusky Intan
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31453

Abstract

ABSTRAKNori merupakan produk olahan rumput laut yang dikeringkan berbentuk lembaran tipis. Bahan alternatif pembuatan nori-like yaitu Ulva lactuca dan Eucheuma cottonii yang banyak ditemukan di Indonesia. Penambahan tepung ikan teri pada pembuatan nori-like diharapkan dapat memengaruhi karakteristik fisik, karakteristik sensori meliputi kenampakan, aroma, tekstur, dan rasa serta tingkat kesukaan produk nori-like. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan tingkat penambahan tepung ikan teri yang tepat pada pembuatan nori-like agar menghasilkan produk yang paling disukai. Metode yang digunakan adalah eksperimental terdiri dari empat perlakuan penambahan tepung ikan teri yaitu 0%, 1,5%, 3%, dan 4,5%. Parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu uji tingkat kesukaan (hedonik) dengan panelis sebanyak 20 orang dan uji karakter fisik (Texture Profile Analisis dan aktivitas air). Uji hedonik dianalisis menggunakan statistik non-parametrik dengan uji Friedman, selanjutnya dilakukan uji lanjutan perbandingan berganda (multiple comparison) dan uji Bayes untuk pengambilan keputusan. Hasil penelitian uji hedonik menunjukkan bahwa nori-like dengan penambahan tepung ikan teri perlakuan 3% merupakan perlakuan yang paling disukai oleh panelis dengan nilai kesukaan kenampakan 7,4; aroma 8,3; rasa 7,9 dan tekstur 7,9. Nilai karakteristik fisik perlakuan 3% adalah kekerasan 423,0 gf; daya patah 3,42 N; kerenyahan 1.450 gf; dan aw 0,45.Kata Kunci: karakteristik fisik, nori-like, rumput laut, tepung ikan teri, tingkat kesukaanABSTRACTNori is a processed seaweed product that is dried into thin sheets. Alternative raw materials for making nori-like products are Ulva lactuca and Eucheuma cottonii, which are widely found in Indonesia. The addition of anchovy fish flour in the production of nori-like products is expected to influence the physical characteristics, sensory characteristics including appearance, aroma, texture, and taste, as well as the preference level of the nori-like product. The objective of this study was to determine the appropriate level of anchovy fish flour addition in nori-like production to produce the most preferred product. The method used was experimental, consisting of four treatments with anchovy fish flour additions of 0%, 1.5%, 3%, and 4.5%. The parameters observed in this study were preference tests (hedonic) with 20 panelists and physical characteristic tests (Texture Profile Analysis and water activity). The hedonic test was analyzed using non-parametric statistics with the Friedman test, followed by multiple comparison test and Bayes test for decision making. The results of the hedonic test showed that the nori-like product with 3% anchovy fish flour addition was the most preferred by panelists, with liking scores for appearance 7,4; aroma 8,3; taste 7,9; and texture 7,9. The physical characteristic values for the 3% treatment were hardness 423.0 gf; fracturability 3,42 N; crispness 1,445.03 gf; and water activity 0,45.Keywords: anchovy fish flour, nori-like, physical characteristics, preference level, seaweed
Pengaruh Penambahan Dosis Probiotik EM4 Dalam Pakan Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Nila (Orechromis niloticus) Siegers, Willem Hendry; Prayitno, Yudi; Msen, Uncy Florensia
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.29645

Abstract

ABSTRAKPenggunaan pakan difermentasi dengan probiotik menghasilkan pakan yang mudah dicerna dalam usus ikan nila. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan dosis probiotik EM4 dalam pakan pelet untuk meningkatkan laju pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus) didalam ember plastik. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental. Analisa data menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan sebanyak 4 kali, diulangi sebanyak 3 kali sehingga total satuan percobaan adalah 12 unit percobaan. Jenis perlakuan A (kontrol 0 ml probiotik EM4 + pakan pelet 9,54 gram), B (dosis probiotik EM4 11 ml + pakan pelet 11,16 gram), C (dosis probitik EM4 13 ml + pakan pelet 10,74 gram), D (dosis probiotik EM4 15 ml + pakan pelet 10,20 gram). Parameter yang diukur adalah laju pertumbuhan relatif, rasio konversi pakan, efisiensi pemanfaatan pakan dan tingkat kelangsungan hidup. Hasil penelitian menunjukkan penambahan dosis probiotik EM4 kedalam pakan pelet memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai rata-rata laju pertumbuhan relatif sebesar 7,06±0,5 %/minggu, nilai rata-rata rasio konversi pakan sebesar 0,9±0,2, nilai rata-rata efisiensi pemanfaatan pakan sebesar 80,63±10,3% dan tidak berpengaruh nyata pada nilai rata-rata tingkat kelangsungan hidup sebesar 66,67±13,8%. Kesimpulan yang didapat bahwa perlakuan terbaik pada perlakuan B dengan penambahan dosis probitik EM4 sebanyak 11 ml/gram.Kata Kunci: dosis probiotik EM4, pakan pellet ikan, pertumbuhan nila, ikan nilaABSTRACTThe use of fermented feed with probiotics produces feed that is easily digested in the intestines of tilapia. This study aims to describe the use of EM4 probiotic doses in pellet feed to increase the growth rate of tilapia (Oreochromis niloticus) in plastic buckets. The research method used is experimental. Data analysis using a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments, repeated 3 times so that the total experimental unit is 12 experimental units. Types of treatment A (control 0 ml EM4 probiotic + 9.54 grams of pellet feed), B (EM4 probiotic doses 11 ml + 11.16 grams of pellet feed), C (EM4 probiotic doses 13 ml + 10.74 grams of pellet feed), D (EM4 probiotic doses 15 ml + 10.20 gram of pellet feed). The parameters measured were relative growth rate, feed conversion ratio, feed utilization efficiency and survival rate. The results showed that the addition of EM4 probiotic doses into pellet feed had a significant effect on the average relative growth rate of 7.06 ± 0.5%/week, the average feed conversion ratio of 0.9 ± 0.2, the average feed utilization efficiency of 80.63 ± 10.3% and had no significant effect on the average survival rate of 66.67 ± 13.8%. The conclusion obtained was that the best treatment in treatment B with the addition of EM4 probiotic doses of 11 ml/gram.Keywords: EM4 probiotic dosage, Fish pelet feed, tilapia growth, tilapia fish
Efektivitas Ekstrak Biji Salvia hispanica L. Terhadap Kesehatan Ikan Pangasianodon hypophthalmus Yang Terinfeksi Bakteri Edwardsiella tarda Jayanti, Shara; Primasari, Kartika; Fikriyah, Amiqatul; Hamdani, Hamdani; Maretha, Zayafika; Syofriani, Syofriani; Fauzi, Muhammad Evan
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31149

Abstract

ABSTRAKPenelitian untuk mengetahui pengaruh ekstrak biji Salvia hispanica. L terhadap kesehatan ikan patin yang diinfeksi bakteri Edwardsiella. tarda. Biji Salvia hispanica.L diekstraksi dengan pelarut etanol 70%, dan memiliki nilai rendemen sebesar 1,6%. Kultur bakteri Edwardsiella. tarda pada media TSA. Ikan patin diinfeksi bakteri Edwardsiella. tarda 107cfu/ikan. Nilai (IC50) ekstrak Salvia hispanica.L adalah 11,1 mg/L. Pengamatan kesehatan ikan dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Parameter makroskopis adalah Average Body Weight, Average Daily Growth and Survival Rate, sedangakan mikroskopis adalah pengamatan histopat organ ginjal dan hepar Organ ginjal ikan yang diinfeksi bakteri Edwardsiella. tarda namun tanpa diberi ekstrak tampak degenerasi vakuola dan nekrosis pada sel tubulus ginjal, sedangkan organ ginjal ikan kontrol dan ikan yang diberikan ekstrak dengan dosis ¼ IC50, ½ IC50, IC50 dan 2IC50 tampak sehat dan normal. Pada organ hepar ikan yang diinfeksi bakteri Edwardsiella. tarda namun tanpa ekstrak tampak ada nekrosis pada sel hepatosit, melanomakrofag serta degenerasi vakuola, sedangkan organ ginjal ikan kontrol (A) dan ikan yang diberikan ekstrak tampak sehat dan normal. Nilai ABW, ADG dan SR tertinggi adalah ikan yang diberikan dosis ekstrak Salvia hispanica.L dengan dosis IC50 sebelum diinfeksi Edwardsiella. tarda (D) dengan nilai ABW (86,5 gram), ADG (0,36 gram/day) dan SR (100%).Kata Kunci: Salvia hispanica.L, Edwardsiella tarda, Pangasianodon hypophthalmusABSTRACTResearch to determine the effect of Salvia hispanica. L seed extract on catfish’health which infected with Edwardsiella. tarda. Salvia hispanica. L seeds were extracted with 70% ethanol, and had a yield value of 1.6%. Edwardsiella. tarda had been cultured on TSA, Catfish infected with Edwardsiella. tarda 107cfu/fish. The (IC50) of Salvia hispanica. L extract was 11.1 mg/L. Fish health observations were carried out macroscopically and microscopically. Macroscopically were Average Body Weight, Average Daily Growth and Survival Rate, while microscopically were studying histopath of kidney and liver. The kidney’s fish infected with Edwardsiella. tarda without being given extract showed vacuole degeneration and necrosis in the renal tubule cells, while the kidney’s control fish and fish given extract at doses of ¼ IC50, ½ IC50, IC50 and 2IC50 looked healthy and normal. The liver’s fish infected with Edwardsiella. tarda without extract, there was necrosis in hepatocyte cells, melanomacrophages and vacuole degeneration, while the kidney’s control fish (A) and fish given extract looked healthy and normal. The highest ABW, ADG and SR were found in fish that given a dose of Salvia hispanica.L extract with an IC50 dose before infecting Edwardsiella. tarda (D) with ABW (86.5 grams), ADG (0.36 grams/day) and SR (100%).Keywords: Salvia hispanica.L, Edwardsiella tarda, Pangasianodon hypophthalmus
Analisis Tutupan Padang Lamun Di Teluk Berhau Pulau Enggano Silalahi, Desy Yohana; Bakhtiar, Deddy; Ariasari, Ana
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.28153

Abstract

ABSTRAKPadang lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir yang berperan penting bagi keberlangsungan biota laut. Teluk Berhau yang berada di sebelah barat Pulau Enggano memiliki potensi padang lamun yang belum diketahui  informasi biofisiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tutupan padang lamun di pesisir Teluk Berhau Pulau Enggano. Metode penelitian ini menggunakan metode kuadrat transek berukuran 50 cm x 50 cm yang diambil setiap 10 m pada setiap transek Dengan demikian, dalam satu lokasi pengamatan (stasiun) terdapat 3 transek, sehingga total panjang transek per stasiun adalah 300 meter dengan jarak antar transek yaitu 100 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis lamun, yaitu Cymodoceae rotundata, Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii. Tutupan padang lamun di pesisir Teluk Berhau Pulau Enggano memiliki rerata tutupan yang sangat jarang sebesar 18,1% pada transek 1, 17,3% pada transek 2, dan 12,6% pada transek 3. Enhalus acoroides, dan Thalassia hemprichii memiliki tutupan sekitar 33,8%-48,1% dan 31,7%-32,5%. Namun, Cymodoceae rotundata hanya ditemukan pada transek 3, yaitu sebesar 21,8%.Kata Kunci: Enhalus acoroides, Padang Lamun, Pulau Enggano, Teluk BerhauABSTRACT Seagrass beds plays an important role in the sustainability of marine biota on marine ecosystem. Berhau Bay, which is to the west of Enggano Island, has the potential for seagrass beds which biophysical information is not yet known. This research aims to analyze the characteristics of seagrass beds on the coast of Berhau Bay, Enggano Island. This research method uses a square transect method measuring 50 cm x 50 cm taken every 10 m on each transect. The research results show that there are three types of seagrass, namely Cymodoceae rotundata, Enhalus acoroides, and Thalassia hemprichii. Seagrass cover on the coast of Berhau Bay, Enggano Island has a very sparse average cover of 18.1% on transect 1, 17.3% on transect 2, and 12.6% on transect 3. Enhalus acoroides and Thalassia hemprichii have a cover of around 33.8%-48.1% and 31.7%-32.5%. However, Cymodoceae rotundata was only found in transect 3, namely 21.8%.Keywords: Enhalus acoroides, Seagrass Fields, Enggano Island, Berhau Bay
Karakteristik Mangrove Di Desa Kahyapu Pulau Enggano Khairunnisa, Suci Novia; Ariasari, Ana; Anggoro, Ari
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.28154

Abstract

ABSTRAKDesa Kahyapu merupakan salah satu desa yang terletak di Pulau Enggano yang memiliki potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan, terutama ekosistem mangrove sehingga perlu dilakukan monitoring mangrove untuk memahami karakteristik, distribusi, dan variasi jenis mangrove yang dilakukan secara berkala untuk menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di Pulau Enggano. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis mangrove, jumlah serta kerapatan mangrove di Desa Kahyapu. Metode penelitian menggunakan metode survei lapangan dengan pengambilan data lapangan (purposive sampling). Survei lapangan dilakukan pada tanggal 06 hingga 09 Januari 2024, menggunakan metode transek ukuran 10 x 10 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 8 jenis mangrove, yaitu Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Lumnitzera littorea, Ceriops tagal, Xylocarpus granatum dan Xylocarpus moluccensis. Jumlah kerapatan pada stasiun 1 (1.340 ind/ha), stasiun 2 (1.360 ind/ha), stasiun 3 (2.400 ind/ha), stasiun 4 (950 ind/ha), stasiun 5 (1.316,66 ind/ha) dan stasiun 6 (1.650 ind/ha). Kerapatan jenis mangrove yang ditemukan antara lain (6.436,67 ind/ha) Rhizopora apiculata, (803,33 ind/ha) Rhizophora mucronata, (883,33 ind/ha) Bruguiera gymnorrhiza, (510 ind/ha) Sonneratia alba, (100 ind/ha) Lumnitzera littorea, (50 ind/ha) Ceriops tagal, (100 ind/ha) Xylocarpus granatum dan (133,33 ind/ha) Xylocarpus moluccensis. Secara umum, kondisi ekosistem mangrove di Desa Kahyapu digolongkan dalam kondisi kerapatan tinggi dan variasi jenis yang cukup beragam.Kata kunci : Desa Kahyapu, Ekosistem Mangrove, Jenis Mangrove, Pulau EngganoABSTRACTKahyapu Village located on Enggano Island has the potential for utilized natural resources, especially the mangrove ecosystem. Mangroves monitoring is essential to understand the characteristics, distribution, and variations of mangrove types which are carried out periodically to maintain the sustainability of the mangrove ecosystem on Enggano Island. This study aims to determine the types of mangroves, the number and density of mangroves in Kahyapu Village. The research method used a field survey method with field data collection (purposive sampling). The field survey was conducted from January 6 to 9, 2024, using a 10 x 10 m transect method. The results of the study showed that 8 types of mangroves were found, namely Rhizopora apiculata, Rhizopora mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Sonneratia alba, Lumnitzera littorea, Ceriops tagal, Xylocarpus granatum and Xylocarpus moluccensis. The density at station 1 (1,340 ind/ha), station 2 (1,360 ind/ha), station 3 (2,400 ind/ha), station 4 (950 ind/ha), station 5 (1,316.66 ind/ha) and station 6 (1,650 ind/ha). The density of mangrove species found included (6,436.67 ind/ha) Rhizopora apiculata, (803.33 ind/ha) Rhizophora mucronata, (883.33 ind/ha) Bruguiera gymnorrhiza, (510 ind/ha) Sonneratia alba, (100 ind/ha) Lumnitzera littorea, (50 ind/ha) Ceriops tagal, (100 ind/ha) Xylocarpus granatum and (133.33 ind/ha) Xylocarpus moluccensis. In general, the condition of the mangrove ecosystem in Kahyapu Village is classified as having high density and quite diverse species variations.Keywords: Kahyapu Village, Mangrove Ecosystem, Mangrove Types, Enggano Island
Estimasi Potensi dan Alokasi Sumber Daya Perikanan Demersal di Perairan Cilacap, Indonesia Hartono, Sugeng; Adiyanto, Fajar; Yuliardi, Amir Yarkhasy; Abdulrahman, Idris
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31300

Abstract

ABSTRAKStudi ilmiah terkait potensi dan alokasi pemanfaatan sumber daya perikanan demersal di Perairan Cilacap belum pernah dilakukan. Oleh karenanya, penelitian bertujuan menentukan tangkapan lestari maksimum atau Maximum Sustainable Yield (MSY) untuk mengkaji potensinya. Adapun alokasi pemanfaatannya ditentukan berdasarkan analisis tangkapan yang dibolehkan atau Total Allowable Catch (TAC). Data sekunder dikumpulkan untuk kebutuhan analisis yang berupa data jumlah tangkapan dan jumlah usaha penangkapan yang bersumber dari PPS Cilacap dan Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap. Selanjutnya, kajian estimasi potensi dilakukan dengan menggunakan Rumus Surplus Produksi Gordon-Schaefer. Ada tujuh alat tangkap yang digunakan nelayan untuk memanfaatkan sumber daya ikan demersal di Perairan Cilacap. Hasil tangkapannya terdiri atas 64 jenis ikan demersal yang dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu Osteichthyes (35 jenis) dan Chondrichthyes (29 jenis). Perikanan demersal di Perairan Cilacap masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Namun, ada banyak jenis ikan demersal yang harus diberi kesempatan untuk pulih agar populasinya dapat lestari. Setidaknya 21 ikan demersal dari masing-masing Osteichthyes dan Chondrichthyes masuk kategori tereksploitasi secara penuh dan berlebihan. Jenis ikan dari Osteichthyes meliputi Black pomfret, Silver pomfret Three lined rockcod, White spotted triggerfish, Indian halibu, Banded grunter, Black jew, Sin croaker, Triple tail, Red snapper, Largescaled terapon, Chacunda gizzard shad, Largehead hairtail, Common ponyfish, Giant trevally, Goatfish, Bluespot mullet, Bombay duck, Yellow pike conger, Flathead, dan Giant catfish. Sementara jenis ikan dari Chondrichthyes meliputi Tiger shark, Sharpnose sevengill shark, Silky shark, Gummy shark, Bigeye thresher, Dog fish, Sandbar shark, Blue shark, Spot tail shark, Spinner shark, Smalltooth thresher shark, Longfin mako, Shortfin mako, Guitarfishes, Wing skate, Giant manta ray, White spotted whipray, Japanese devilray, Round ribbontail ray, Bowmouth guitarfish, dan Leopard whipray. Penangkapan sumber daya ikan demersal selanjutnya di Perairan Cilacap harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan dan biodiversitas, agar perikanannya berkelanjutan. Caranya meliputi pemeliharaan dan perbaikan ekosistem perairan serta pembatasan dan pemantauan jumlah tangkapan sumber daya ikan demersal yang dieksploitasi. Peningkatan kualitas kedua aspek dapat mempercepat resiliensi populasi masing-masing spesies.Kata Kunci: Perikanan demersal, status pemanfaatan, tangkapan lestari.   ABSTRACTScientific studies on the potential and allocation of demersal fishery resource utilization in Cilacap waters have not yet been conducted. Therefore, this study aims to determine the Maximum Sustainable Yield (MSY) to assess its potential. The allocation of utilization is determined based on the Total Allowable Catch (TAC) analysis. Secondary data were collected for the analysis, consisting of catch and fishing effort data obtained from Cilacap Fishing Port (PPS Cilacap) and the Cilacap District Fisheries Office. Subsequently, potential estimation was carried out using the Gordon–Schaefer Surplus Production Formula. There are seven fishing gears used by local fishers to exploit demersal fish resources in Cilacap Waters. The catches consist of 64 species of demersal fish, which can be divided into two groups, namely Osteichthyes (35 species) and Chondrichthyes (29 species). Demersal fisheries in Cilacap waters still have potential for further utilization. However, many demersal fish species need opportunities to recover in order to sustain their populations. At least 21 demersal fish species from both Osteichthyes and Chondrichthyes are classified as fully or overexploited. Species of Osteichthyes included black pomfret, silver pomfret three lined rockcod, white spotted triggerfish, Indian halibu, banded grunter, black jew, sin croaker, triple tail, red snapper, largescaled terapon, chacunda gizzard shad, largehead hairtail, common ponyfish, giant trevally, goatfish, bluespot mullet, bombay duck, yellow pike conger, flathead, and giant catfish. Meanwhile species of Chondrichthyes included tiger shark, sharpnose sevengill shark, silky shark, gummy shark, bigeye thresher, dog fish, sandbar shark, blue shark, spot tail shark, spinner shark, smalltooth thresher shark, longfin mako, shortfin mako, guitarfishes, wing skate, giant manta ray, white spotted whipray, Japanese devilray, round ribbontail ray, bowmouth guitarfish, and leopard whipray. Future fishing of demersal fish resources in Cilacap waters must be carried out with consideration for environmental and biodiversity aspects to ensure sustainable fisheries. Methods include maintaining and rehabilitating the aquatic ecosystem, as well as limiting and monitoring the catch size of exploited demersal fish resources. Improving the quality of these two aspects can accelerate the population resilience of each species.Keywords: Demersal fisheries, sustainable yield, utilisation status.
Efektivitas Pakan Ubi Jalar Sebagai Prebiotik Pada Lactobacillus sp. Terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Ardita, Ardita; Wahyu, Farhanah; Haris, Abdul
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.25258

Abstract

ABSTRAKUbi jalar (Ipomea batatas L) merupakan tanaman pangan dengan produktivitas cukup tinggi. Selain itu, ubi jalar juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai sumber prebiotik terutama karena kandungan oligosakaridanya. Oligosakakrida adalah komponen utama prebiotik karena dapat dicerna oleh mukosa usus, sehingga termanfaatkan oleh bakteri di usus seperti Lactobacillus. Lactobacillus sp., merupakan probiotik yang dimana berfungsi sebagai imun ostimulan, pemacu pertumbuhan, dan dapat dijadikan sebagai penyeimbang mikroorganisme dalam pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemenfaatan ubi jalar terfermentasi terhadap pertumbuhan dan sintasan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Rancangan percobaan yang digunakan yaitu metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung ubi jalar yang terfermentasi menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P0,05) setiap dosis yang berbeda terhadap pertumbuhan dan sintasan udang vaname. Pertumbuhan mutlak tertinggi yaitu pada perlakuan B (Ubi jalar 20%) sebesar 2,18 gram, perlakuan C (Ubi jalar 25%) sebesar 2,06 gram, kemudian perlakuan D (Ubi jalar 30%) sebesar 2,01 gram, dan perlakuan A (Kontrol) sebesar 1,96 gram. Sintasan tertinggi yaitu pada perlakuan B sebesar 97,78%, perlakuan C sebesar 95,56%, kemudian perlakuan D 93,33%, dan A sebesar 91,11%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan ubi jalar dengan dosis 20% dalam pakan mampu meningkatkan pertumbuhan dan sintasan udang vaname.Kata Kunci: fermentasi, pertumbuhan, sintasan, ubi jalar, udang vaname.ABSTRACTSweet potato (Ipomea batatas L) is a food crop with quite high productivity. In addition, sweet potato has the potential to be developed as a source of prebiotics, especially because of its oligosaccharide content. Oligosaccharides are the main component of prebiotics because the intestinal mucosa can digest them, so they are utilized by bacteria in the intestine, such as Lactobacillus. Lactobacillus sp is a probiotic that functions as an immune booster and growth booster and can be used as a counterweight to microorganisms in digestion. This study aims to determine the utilization of fermented sweet potato on the growth and survival rate of white shrimp (Litopenaeus vannamei). The experimental design used was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. The results showed that the addition of fermented sweet potato flour showed no significantly different results (P0,05) for each different dose on the growth and survival of Vannamei shrimp. The highest absolute growth was in treatment B (20% sweet potato) of 2,18 grams C treatment (25% sweet potato) of 2,06 grams, then D treatment (30% sweet potato) of 2,01 grams, and 2,01 grams in treatment A (Control) of 1,96 grams. The highest survival was in Treatment B at 97,78%, treatment C at 95,56%, then Treatment D at 93,33%, and A at 91,11%. Based on the results of the study it can be concluded that adding sweet potato at a dose of 20% in the feed can increase the growth and survival of Vannamei shrimp.Keywords: fermentation, growth, survival, sweet potato, vannamei shrimp
Distribusi Parameter Kualitas Air Di Teluk Kotania Untuk Evaluasi Kesesuaian Budidaya Rumput Laut Hatulesila, Greaty Ilona; Tuhumury, Semuel F.; Matakupan, Jolen
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.30388

Abstract

ABSTRAKTeluk Kotania di Kabupaten Seram Bagian Barat memiliki potensi besar untuk pengembangan budidaya rumput laut, namun keberlanjutannya sangat bergantung pada kualitas lingkungan perairan baik secara fisik, kimia, dan biologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis parameter kualitas air yang mendukung budidaya rumput laut di wilayah tersebut. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei 2025 di 12 stasiun penelitian, meliputi parameter fisik, kimia, dan biologi melalui pengukuran in-situ dan uji laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar parameter kualitas air seperti suhu (29,63–30,04 °C), salinitas (33,46–33,85 ppt), pH (7,06–7,65), kecerahan (6–18 m), oksigen terlarut (9,12–12,38 mg/l), COD (5,20–10,70 mg/l), dan BOD (3,40–8,70 mg/l) masih berada dalam kisaran optimal dan di bawah ambang batas baku mutu. Kecepatan arus tercatat antara 3,60–24,34 cm/detik, sementara kedalaman perairan berkisar antara 6–24 meter. Konsentrasi nitrat (0,015 mg/l) dan klorofil-a (0,18–3,73 µg/l) tergolong rendah, mengindikasikan kondisi perairan oligotrofik. Sebaliknya, ortofosfat tercatat cukup tinggi (0,0–0,18 mg/l) di beberapa lokasi, diduga akibat aktivitas antropogenik. Secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa Teluk Kotania masih layak untuk pengembangan budidaya rumput laut berdasarkan parameter kualitas air secara fisik, kimia, dan biologi.Kata Kunci: kualitas air, rumput laut, Teluk Kotania, budidaya lautABSTRACTKotania Bay in West Seram Regency has great potential for developing seaweed culture, but its sustainability is highly dependent on the quality of the aquatic environment, both physically, chemically, and biologically. This study aims to analyze water quality parameters that support seaweed culture in the area. Data was collected in May 2025 at 12 sampling stations, covering physical, chemical, and biological parameters through in-situ measurements and laboratory analysis. The results indicate that most water quality parameters such as temperature (29.63–30.04 °C), salinity (33.46–33.85 ppt), pH (7.06–7.65), transparency (6–18 m), dissolved oxygen (9.12–12.38 mg/l), COD (5.20–10.70 mg/l), and BOD (3.40–8.70 mg/l) are within optimal ranges and below the regulatory thresholds. Current velocity ranged from 3.60–24.34 cm/s, and water depth varied between 6–24 meters. Nitrate (0.015 mg/l) and chlorophyll-a (0.18–3.73 µg/l) levels were low, indicating oligotrophic conditions. Conversely, orthophosphate concentrations were relatively high (0.0–0.18 mg/l) at several locations, likely due to anthropogenic activities. Overall, the analysis suggests that Kotania Bay remains suitable for seaweed culture based on its physical, chemical, and biological water quality parameters.Keywords: water quality, seaweed, Kotania Bay, marine aquaculture
Efektivitas Pakan Alami dalam Meningkatkan Warna dan Tingkat Kelangsungan Hidup Udang Hias, Neocaridina sp. Kusuma, Baruna; Anjaini, Jefri; Devananda, Andiawan Hakim; Sinaga, Sorbakti; Soedibya, Petrus Hary Tjahya
Juvenil Vol 6, No 3: Agustus (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i3.31252

Abstract

ABSTRAKUdang hias Neocaridina sp. semakin diminati dalam industri akuakultur hias karena warna tubuhnya yang menarik dan kemudahan dalam pemeliharaan. Warna tubuh udang dan tingkat kelangsungan hidupnya dipengaruhi oleh nutrisi yang tersedia dalam pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pakan alami yang berbeda  (Tubifex sp., Larva Chironomus sp., Daphnia sp. dan pellet spirulina (kontrol) terhadap tingkat kelangsungan hidup, panjang, berat dan warna pada Neocaridina sp. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Udang dipelihara selama 40 hari dalam akuarium dengan kepadatan 1 ekor/liter, dan pakan diberikan secara adlibitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pakan alami yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup dan intensitas warna Neocaridina sp. (P0,05), tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan panjang dan berat (P0,05). Kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan Tubifex sp. (85,00 ± 7,07%), sedangkan warna tubuh terbaik dicapai pada perlakuan yang sama (3,50 ± 0,12). Tubifex sp. merupakan pakan alami yang paling efektif dalam meningkatkan kelangsungan hidup dan pigmentasi warna Neocaridina sp. Pentingnya penelitian lanjutan kombinasi pakan alami dan buatannterhadap efisiensi pertumbuhan dan pigmentasi pada Neocaridina sp.Kata Kunci: Karotenoid, Neocaridina sp., pakan alami, pigmentasi warna.ABSTRACTNeocaridina sp. ornamental shrimp are increasingly in demand in the ornamental aquaculture industry due to their attractive body color and ease of maintenance. Shrimp body color and survival rate are influenced by nutrients available in feed. This study aims to determine the effect of different types of natural feed (Tubifex sp., Chironomus sp. larvae, Daphnia sp., and spirulina pellets (control)) on survival rate, length, weight, and color in Neocaridina sp. The study was conducted using a completely randomized design (CRD) with four treatments and three replicates. Shrimp were reared for 40 days in an aquarium with a density of 1 ind/L, and feed was given adlibitum. The results showed that different types of natural food had a significant effect on the survival and color intensity of Neocaridina sp. (P0.05). However, they had no significant effect on the growth of length and weight (P0.05). The highest survival rate was obtained in the Tubifex sp. treatment (85.00 ± 7.07%), while the best body color was achieved in the same treatment (3.50 ± 0.12). Tubifex sp. is the most effective natural food in increasing the survival and color pigmentation of Neocaridina sp. The importance of further research on the combination of natural and artificial feed on the efficiency of growth and pigmentation in Neocaridina sp.Keywords: Carotenoids, color pigmentation, Neocaridina sp., natural food.

Page 1 of 2 | Total Record : 15