cover
Contact Name
I KETUT MUDITE ADNYANE
Contact Email
adnyane@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
acta.vet.indones@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
ISSN : 23373207     EISSN : 23374373     DOI : -
Core Subject : Health,
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Arjuna Subject : -
Articles 332 Documents
Konsentrasi IL-6 Serum terhadap Penyembuhan Luka Pasca Pemasangan Implan Paduan Logam pada Babi (Sus scrofa) Nabila Latifa Hafizsha; Gunanti Gunanti; Deni Noviana; Sus Derthi Widhyari
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 9 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.9.1.21-29

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsentrasi IL-6 serum pada fase akut dan kronis selama proses penyembuhan luka pasca pemasangan implan paduan logam pada vesika urinaria babi. Penelitian ini menggunakan 6 ekor babi jantan dan betina, usia 2-3 bulan, dengan bobot badan berkisar 25-30 kg yang dibagi ke dalam dua kelompok implan dan tiga waktu pengamatan. Implan logam yang digunakan adalah Zn-0.5Al sebagai kelompok I dan ZnMg(4x) sebagai kelompok II, sedangkan waktu pengamatan dilakukan pada hari ke-0, 14, dan 28. Pemasangan implan dilakukan pada vesika urinaria (VU) menggunakan teknik cystotomi. Pengukuran konsentrasi IL-6 serum menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Data dianalasis menggunakan analysis of variance (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan pada hari ke-0, implan Zn-0.5Al dan ZnMg(4x) berturut-turut adalah 1.38±2.40 pg/mL dan 0.10±0.17 pg/mL. Konsentrasi IL-6 hari ke-14 pada setiap implan terlihat mengalami penurunan dibandingkan pada hari ke-0, yaitu 0.74±1.29 pg/mL dan 0 pg/mL. Selanjutnya hari ke-28 konsentrasi IL-6 kembali mengalami penurunan, yaitu 0.32±0.35 pg/mL dan 0 pg/mL. Penurunan konsentrasi IL-6 dari fase akut ke fase kronis proses penyembuhan luka pada setiap kelompok implan tidak berbeda signifikan (P>0,05). Pemeriksaan serum pada babi (Sus scrofa) terhadap konsentrasi IL-6 kelompok perlakuan implan Zn-0,5Al dan ZnMg(4x) tidak menunjukkan perbedaan nyata (P>0,05) pada hari ke-0, 14, dan 28.
Salbutamol Residue in Plasma and Urine of Balinese Calves after Single-Dose Administration Yessy Anastasia; Hadri Latif; Lina Noviyanti Sutardi; Raphaella widiastuti
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 9 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.9.1.30-35

Abstract

Salbutamol, a short-acting β2-adrenergic receptor agonist, due to illegal use in animal feed, is very dangerous for the safety of animal origin products. The purpose of this study is to determine the residue of salbutamol in plasma and urine of balinese calf after a single-dose administration. Three calves were given of feed fortification of salbutamol (10 mg/kg body weight). The salbutamol concentrations were measured in the plasma and urine. Samples were extracted with perchloric acid and purified by cation exchange solid phase extraction (SPE), then analyzed by High-Performance Liquid Chromatography (HPLC) with a photodiode array detector using an RP C18 column with a mixed mobile phase of purified water pH 3.0 (adjusted with phosphoric acid) and acetonitrile (90:10, v/v). The highest salbutamol concentration in the plasma sample was 0.28±0.15 μg/mL at 12 hours and decreased after 24 hours after feeding. The highest concentration of salbutamol in urine was 15.85±4.42 μg/mL at 18 hours and decreased gradually starting at 24 hours. This result concluded that salbutamol residues mostly excreted in the urine, and the highest salbutamol residues in plasma samples formed faster but also decreased more rapidly than residues formed in urine. The residue formed in plasma is lower than that in the urine.
Penilaian Fungsi dan Dinamika Kerja Jantung melalui Ekokardiografi terhadap Pengaruh Kombinasi Anestesia Umum pada Babi Domestik (Sus domesticus) Arni Fitri; Deni Noviana; Gunanti .; Agik Suprayogi
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 3 (2020): November 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.8.3.22-30

Abstract

Protokol perawatan kardiovaskular yang baru diusulkan harus diuji pada hewan laboratorium, sebelum diterapkan oleh obat manusia. Untuk tujuan ini, hewan laboratorium yang banyak digunakan adalah babi. Menggunakan babi dalam penelitian ini seringkali memerlukan prosedur anestesi. Alat diagnostik yang paling banyak digunakan untuk kardiovaskular adalah ultrasonografi jantung atau ekokardiografi. Ekokardiografi dapat digunakan untuk mengevaluasi aliran volume darah dan kemampuan kontraksi jantung dengan perhitungan ekokardiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian kombinasi injeksi anestesi umum untuk fungsi dan dinamika jantung babi dengan menggunakan ekokardiografi. Pengamatan meliputi detak jantung (kali / menit), curah jantung (L / mnt), volume stroke (ml / mnt), fraksi ejeksi (%), dan pemendekan fraksional (%). Dalam penelitian ini, digunakan 9 babi jantan dan betina, usia 3-4 bulan dengan berat 25-30 kg, dibagi menjadi 3 kelompok kombinasi anestesi (ketamin dan acepromazine (KA); ketamin dan medetomidine (KM); tiletamine-zolazepam dan xylazine (ZX)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak satu pun dari tiga kelompok anestesi menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kinerja jantung. Kombinasi anestesi ZX paling baik diterapkan untuk operasi jantung babi karena kombinasi anestesi ini menghasilkan frekuensi denyut jantung yang stabil dan rendah dibandingkan dengan kelompok KA dan KM tetapi masih menunjukkan volume stroke yang tinggi, curah jantung, fraksi ejeksi dan nilai sortasi fraksional.
Performa dan Karakteristik Semen serta Freezability Spermatozoa Ayam IPB-D1 dengan Konsentrasi Immunoglobulin Yolk Berbeda Yusman Setiawan; Niken Ulupi; Cece Sumantri; R. Iis Arifiantini
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 9 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.9.1.36-43

Abstract

Ayam IPB-D1 merupakan jenis ayam lokal dari hasil persilangan antara jantan F1 PS (Pelung x Sentul) dengan betina F1 (Kampung x Ras pedaging paren stock Cobb). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa, kualitas semen, dan freezability spermatozoa ayam IPB-D1 pada konsentrasi Immunoglobulin Yolk (IgY) berbeda. Materi yang digunakan yaitu ayam IPB-D1 jantan sebanyak 20 ekor, terdiri atas 10 ekor ayam dengan konsentrasi IgY rendah dan 10 ekor IgY tinggi dengan ayam umur 8 bulan. Variabel yang diamati yaitu performa yakni konsumsi pakan, pertambahan berat badan, morbiditas dan mortalitas, kualitas semen segar dan kualitas semen beku (freezability). Data dianalis menggunakan uji-t menggunakan program SAS dengan membandingkan antara konsentrasi IgY tinggi dan IgY rendah. Hasil analisis performa ayam IPB-D1 tidak berbeda (P>0.05) terhadap IgY yang berbeda. Hasil kualitas semen menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap konsistensi semen dan motilitas, viabilitas, konsentrasi serta konsentrasi spermatozoa per ejakulat. Ayam IPB D-1 pada dua konsentrasi IgY tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap motilitas semen segar dan recovary rate, namun Ayam IPB D-1 dengan konsentrasi IgY tinggi memiliki motilitas spermatozoa pasca thawing lebih baik daripada (P<0.05) Ayam dengan konsentrasi IgY yang rendah.
Preparasi Strip Imunokromatografi Koloid Emas untuk Deteksi Cepat Aeromonas hydrophila Suherman .; Retno Damayanti; Agustin Indrawati
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 3 (2020): November 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.8.3.31-39

Abstract

Aeromonas hydrophila merupakan agen penyebab Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang menyebabkan kerugian ekonomi pada industri akuakultur air tawar. Saat ini, metode diagnostik yang tersedia untuk determinasi A. hydrophila membutuhkan waktu lama dan tidak sesuai diaplikasikan di lapangan. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya metode lain yang dapat digunakan sebagai diagnostik yang cepat dan aplikatif di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat alat diagnostik yang mampu digunakan sebagai pendeteksi agen penyebab MAS. Secara singkat, partikel koloid emas berukuran 31,88 nm dibuat melalui reduksi kimia asam kloroaurat dengan natrium sitrat. Koloid emas sebagai detektor dikonjugasikan dengan antibodi poliklonal anti-A. hydrophila 50 μg/ml pada pH 7. Membran nitroselulosa sebagai membran reaksi, ditetesi dengan antibodi poliklonal anti-A. hydrophila 2 mg/ml di garis T dan antibodi goat anti-rabbit IgG 1 mg/ml di garis C. Hasil dari penelitian ini, strip imunokromatografi yang dikembangkan mampu mendeteksi A. hydrophila dengan deteksi minimum 1,2x105 CFU/ml. Strip bersifat spesifik terhadap A. hydrophila, tidak ada reaksi silang yang ditemukan ketika direaksikan dengan bakteri lain. Analisis sampel menggunakan strip hanya membutuhkan waktu 10 menit. Strip imunokromatografi yang dikembangkan dapat mendeteksi A. hydrophila dengan cepat dan memiliki potensi untuk digunakan di lapangan.
Karakteristik Sitologi Vagina Selama Siklus Estrus dan Gejala Klinis Estrus pada Banteng (Bos javanicus d’Alton 1823) Dedi Rahmat Setiadi; Muhammad Agil; R Iis Arifiantini; Dondin Sajuthi; Jansen Manansang; Yohana Tri Hastuti; Setyaningsih Rambu Liwa
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 3 (2020): November 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.8.3.40-47

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari karakteristik gambaran sel-sel ephitelial vagina dan gejala klinis estrus pada banteng. Sebanyak 2 ekor banteng betina yang sehat, sudah dewasa kelamin dan pernah beranak diobservasi secara klinis selama siklus estrus normal dan dilakukan pengambilan sampel ulas vagina. Observasi gejala klinis estrus dan ulas vagina dilakukan tiga kali dalam seminggu dan 5 hari berturut-turut menjelang sampai sesudah estrus. Pemeriksaan fisik ini terdiri atas pemeriksaan simptomatis dengan melihat gejala-gejala yang timbul dari luar seperti gelisah, adanya kebengkakkan, kemerahan, kebasahan pada vulva, naik menaiki, melenguh (meskipun pakan cukup tersedia), keluar lendir jernih transparan. Tingkah laku ketika banteng sedang estrus memperlihatkan perilaku saling naik menaiki sesama banteng dan diam ketika dinaiki, sedangkan tanda klinis lainnya seperti kemerahan, kebengkakan, dan lendir serviks tidak terlihat dengan jelas. Sel-sel ephitel yang diperoleh adalah parabasal, intermediet, superfisial dan kornifikasi. Sel superfisial mendominasi (50,20%) pada saat estrus diikuti sel kornifikasi (38,51%), sel intermediet (26,82%) dan sel parabasal 13,44% selama 3 siklus estrus. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa naik-menaiki sesama banteng pada saat estrus merupakan tanda klinis yang paling jelas terlihat dan teknik sitologi vagina dapat digunakan dalam penentuan siklus estrus banteng.
Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Peternak dalam Penggunaan Antibiotik pada Ayam Broiler di Kabupaten Subang Trioso Purnawarman; Rusman Efendi
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 3 (2020): November 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.8.3.48-55

Abstract

Masalah global yang dihadapi saat ini adalah tingginya penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada manusia dan hewan mendorong pada kejadian resistansi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan, sikap, serta hubungannya dengan praktik penggunaan antibiotik pada peternak broiler. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 74 peternak dari 126 peternak di Kabupaten Subang. Kriteria sampel peternak yang diambil memiliki broiler 5000-10000 ekor. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara stratified random sampling berdasarkan pola manajemen peternakan, rincian besar sampel peternakan ayam broiler adalah 71 peternak dengan pola manajemen inti kemitraan dan pola menajemen mandiri sebanyak 3 peternak. Pengambilan dari dua kelompok tersebut dilakukan secara acak. Data diambil menggunakan kuesioner dengan cara wawancara, kemudian dianalisis dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan α ≤ 0.05. Hasil penelitian menemukan sebagian besar peternak memiliki pengetahuan yang sedang tentang penggunaan antibiotik pada broiler. Peternak yang memiliki sikap baik dalam penggunaan antibiotik berjumlah berjumlah 7%, paling sedikit bila dibandingkan dengan yang sikapnya sedang sebanyak 76% dan kurang sebanyak 17%. Praktik peternak dalam menggunakan antibiotik pada broiler sebagian besar termasuk dalam kategori sedang. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan sikap peternak dalam penggunaan antibiotik pada broiler. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan praktik peternak dalam menggunakan antibiotik pada broiler dengan nilai p=0.028 ≤ 0.05. Sikap tidak dengan praktik penggunaan antibiotik pada broiler. Kesimpulannya adalah pengetahuan berhubungan dengan praktik peternak dalam penggunaan antibiotik pada broiler.
Postmortem Changes in pH, Color, Drip Loss, and Non-Protein Nitrogen in Beef Liver and Lungs During Storage in Refrigerator Denny Lukman; Herwin Pisestyani; Hadri Latif; Etih Sudarnika; Mirnawati Bachrum
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 3 (2020): November 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.8.3.56-63

Abstract

Beef offal are consumed by people in some countries specifically in Asia. Beef liver and lungs are favorite food which are used as meat in traditional food. The objective of this study was to determine the postmortem changes in pH, color, drip loss, and non-protein nitrogen (NPN) content in beef liver and lungs during storage in refrigerator (3-4 ºC) until 5 d (120 h) after slaughter. The beef liver and lungs were collected from the abattoir and transported in cool box (<7 ºC) to the laboratory within 3 hours. The samples size of beef liver and lungs were 20 for each observation time. In the laboratory the beef liver and lungs were measured directly for pH value, color (L*, a*, and b*), drip loss, and NPN content at 4 h postmortem (pm) and afterwards every beef liver sample was sliced into 5 pieces of 100-120 g and stored in chiller of 3-4 ºC. The measurement of pH, color (L*, a*, and b* values), drip loss, and NPN content were conducted at 4 h, 24 h, 48 h, 72 h, 96 h, and 120 h postmortem. Data were analyzed descriptively and by comparing the 95% confidence interval of mean of each observation. The results showed that pH, color, drip loss, and NPN content in beef lungs were higher than the values in beef liver. The pH of beef liver and lungs declines until 96 h pm and 48 h pm, respectively. The L*, a*, and b* values of beef liver and lungs increased in general during storage. Drip loss and NPN in beef liver and lungs tended to increase significantly during storage. From this study the pH value and NPN can be used to determine the freshness of beef liver and lungs.
Morfometri Ovarium setelah Pemberian Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera LAM) Musthamin Balumbi; Fachruddin Fachruddin; Muhammad Risman
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 9 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.9.1.44-52

Abstract

Ovarium merupakan organ reproduksi utama dalam sistem reproduksi betina yang berperan dalam menghasilkan sel ovum. Kualitas folikel yang dihasilkan ovarium dipengaruhi oleh nutrisi yang dikonsumsi suatu individu. Kelor (Moringa oleifera LAM) telah lama dikenal sebagai tanaman dengan kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Nutrisi yang terdapat di dalam kelor adalah vitamin, mineral, antioksidan, asam amino esensial dan senyawa fitosterol. Kandungan nutrisi pada kelor paling banyak ditemukan di daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas ovarium setelah pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera LAM). Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimental. Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 60 ekor mencit betina (Mus musculus) umur 14-15 minggu dengan rerata bobot badan 30-35 g. Ekstrak daun kelor yang diberikan dengan dosis 0 mg kg-1 BB, 300 mg kg-1 BB, 400 mg kg-1 BB, 500 mg kg-1 BB. Pengamatan dilakukan setelah pemberian 5, 10, 15, 24, dan 34 hari. Parameter penelitian meliputi siklus estrus dan morfometri ovarium. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa tingkat konsentrasi dan lamanya pemberian ekstrak daun kelor memberi pengaruh terhadap panjang, lebar, dan bobot ovarium mencit. Konfirmasi siklus estrus bertujuan untuk mengetahui bahwa siklus reproduksi dalam ovarium mencit berlangsung normal. Siklus estrus pada mencit penelitian rata-rata berlangsung normal, yakni terjadi selama 4-5 hari.
Sampul luar, sampul dalam, dan daftar isi Vol. 8 No. 3 (November 2020): Pengantar Redaksi Acta Vet Indones
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 8 No. 3 (2020): November 2020
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.8.3.i-viii

Abstract

Pengantar Redaksi