cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
ISSN : 2775717X     EISSN : 27757188     DOI : 10.51878
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan keguruan dan ilmu pendidikan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 263 Documents
PENINGKATAN ANALISIS RANAH BELAJAR DAN ASESMEN PEMBELAJARAN Mudrikah, Mudrikah; Pujianto, Pujianto; Purwoko, Purwoko
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i2.6577

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the domains of learning and assessment practices within the context of Indonesia's education curriculum, with a particular focus on the implementation of the 2013 Curriculum (Kurikulum 2013). The research employs a library research approach by reviewing various sources such as legal regulations, academic journals, and relevant educational books. The findings reveal that the 2013 Curriculum is designed to develop three key domains of learning: cognitive (knowledge), affective (attitude), and psychomotor (skills). Assessment in the 2013 Curriculum is comprehensive and includes both formative and summative assessments as integral parts of the learning process. Formative assessment is used to monitor students' learning progress continuously, while summative assessment evaluates their achievement at the end of a specific learning period. The study also identifies several challenges in the implementation of assessments, including limited teacher understanding of authentic assessment principles, lack of supporting resources, and resistance from parents and the wider community toward new evaluation systems. The implications of these findings highlight the need for ongoing teacher training, adequate provision of supporting resources, and extensive outreach to all stakeholders to foster a shared understanding of the importance of meaningful and holistic learning assessment. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ranah belajar dan asesmen pembelajaran dalam konteks kurikulum pendidikan di Indonesia, dengan fokus utama pada implementasi Kurikulum 2013. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research), melalui penelaahan berbagai sumber literatur seperti peraturan perundang-undangan, jurnal ilmiah, dan buku-buku pendidikan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kurikulum 2013 dirancang untuk mengembangkan tiga ranah utama dalam proses pembelajaran, yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Asesmen dalam Kurikulum 2013 bersifat komprehensif dan mencakup asesmen formatif serta sumatif sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Asesmen formatif digunakan untuk memantau perkembangan belajar siswa secara berkelanjutan, sementara asesmen sumatif digunakan untuk mengevaluasi pencapaian hasil belajar di akhir periode tertentu. Penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan dalam pelaksanaan asesmen, seperti keterbatasan pemahaman guru terhadap prinsip asesmen autentik, minimnya sumber daya pendukung, serta resistensi dari orang tua dan masyarakat terhadap sistem evaluasi yang baru. Implikasi dari temuan ini menunjukkan pentingnya peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan, penyediaan fasilitas pendukung yang memadai, serta perlunya sosialisasi yang intensif kepada seluruh pemangku kepentingan agar tercipta pemahaman yang selaras mengenai pentingnya asesmen pembelajaran yang menyeluruh dan bermakna.
STUDI LITERATUR: PERAN KOMPONEN EKOSISTEM SEKOLAH DALAM MENDUKUNG KESEJAHTERAAN Siregar, Julinda; Akhiroh, Muhibatur Rohmatul; A’liyah, Umi Habibatul; Putri, Desti Nurdiana Eka; Sulistyorini, Kurniasari
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i2.6694

Abstract

One of the key indicators to measure the success of the quality and process of education in schools is school well-being. The school environment plays an important role in influencing the well-being of its entire community, including students, teachers, staff, and other elements involved in the school ecosystem. This research is a literature study that aims to analyse the role of school ecosystem components in supporting the well-being of all elements in the school. The method used in this research is a systematic literature review of national and international journals in the last ten years that are relevant to the topic of school ecosystem and school well-being. The steps in this research are: 1) literature search process; 2) determining selection criteria; 3) literature analysis; 4) synthesising. The results showed that the school ecosystem components collectively and individually play an important role in shaping school well-being. These components include: 1) positive school climate; 2) curriculum and teaching that support well-being; 3) physical health and physical environment of the school that support well-being; 4) parental and community engagement; 5) teacher and staff well-being. In general, it can be concluded that creating a prosperous ecosystem requires a holistic and integrated approach. Where each component can interact harmoniously to support the optimal growth and development of all school members. ABSTRAKSalah satu indikator kunci untuk mengukur keberhasilan kualitas dan proses pendidikan di sekolah adalah kesejahteraan sekolah. Lingkungan sekolah memegang peranan penting dalam mempengaruhi kesejahteraan seluruh komunitasnya mulai dari siswa, guru, staf, dan unsur lain yang terlibat dalam ekosistem sekolah. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk menganalisis peran komponen ekosistem sekolah dalam mendukung kesejahteraan semua elemen di sekolah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian literatur sistematis terhadap jurnal nasional dan internasional dalam sepuluh tahun terakhir yang relevan dengan topik ekosistem sekolah dan kesejahteraan sekolah. Langkah-langkah dalam penelitian ini yaitu: 1) proses pencarian literatur; 2) menentuan kriteria seleksi; 3) analisis literatur; 4) melakukan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan komponen ekosistem sekolah secara kolektif dan individual memiliki peran penting dalam membentuk kesejahteraan sekolah. Komponen-konponen tersebut meliputi: 1) iklim sekolah yang positif; 2) kurikulum dan pengajaran yang mendukung kesejahteraan; 3) kesehatan fisik dan lingkungan fisik sekolah yang mendukung kesejahteraan; 4) keterlibatan orang tua dan komunitas; 5) kesejahteraan guru dan staf. Secara umum dapat disimpulkan bahwa menciptakan ekosistem yang Sejahtera memerlukan pendekatan yang holistic dan terintegrasi. Dimana setiap komponen dapat berinteraksi secara harmonis untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan secara optimal seluruh warga sekolah.
STRATEGI EFEKTIF DALAM PEMBELAJARAN GRAMMAR BAHASA INGGRIS YANG TIDAK MEMBOSANKAN DI KELAS SEMBILAN DI MTS ITTIHADUL BAYAN TELAGA LEBUR SEKOTONG TENGAH Hilmi, Muhammad
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i2.6845

Abstract

This study aims to identify effective and engaging English grammar learning strategies in ninth-grade students at MTs Ittihadul Bayan Telaga Lebur Sekotong Tengah. Grammar is an important aspect of English language acquisition, but students often find it difficult and tedious. Therefore, an engaging, enjoyable, and tailored learning approach is needed. This study employed a qualitative descriptive method with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the implementation of interactive learning strategies such as educational games, audio-visual media, grammar quizzes, group discussions, and project-based learning can increase student enthusiasm, learning motivation, and understanding of grammar structures. Teachers who are active, creative, and innovative in designing learning play a significant role in creating a fun and engaging classroom atmosphere. Furthermore, students' active involvement in the learning process encourages a more meaningful learning experience. With appropriate and varied strategies, grammar learning is no longer perceived as a boring activity, but rather as an engaging and challenging process. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi pembelajaran grammar Bahasa Inggris yang efektif dan tidak membosankan di kelas sembilan MTs Ittihadul Bayan Telaga Lebur Sekotong Tengah. Grammar merupakan salah satu aspek penting dalam penguasaan Bahasa Inggris, namun sering kali dianggap sulit dan membosankan oleh siswa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran interaktif seperti permainan edukatif, media audio-visual, kuis grammar, diskusi kelompok, dan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan semangat siswa, motivasi belajar, serta pemahaman terhadap struktur grammar. Guru yang aktive, kreatif dan inovatif dalam merancang pembelajaran turut berperan besar dalam menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dan tidak monoton. Selain itu, keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar mendorong terciptanya pengalaman belajar yang lebih bermakna. Dengan strategi yang tepat dan bervariasi, pembelajaran grammar tidak lagi dianggap sebagai kegiatan yang membosankan, melainkan sebagai proses yang menarik dan menantang.
HUBUNGAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DENGAN PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP FENOMENA LGBT DI KAMPUS Rohmiyati, Atiek; Hakim, Zainul; Putra, Rafa Hartono
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i2.6846

Abstract

This research is motivated by the increasing phenomenon of lesbian, gay, bisexual, and transgender (LGBT) among university students, which has created friction with the legal and socio-religious order in Indonesia. The gap between the normative values ??adopted by the nation and the reality of developing lifestyles encourages the need to evaluate the role of education in shaping character. Therefore, this study focuses on analyzing the relationship between Civics Education (PKn) and students' perceptions and behaviors towards the LGBT phenomenon on campus. This study uses a quantitative approach by distributing a Likert-scale questionnaire to 353 students at the Jakarta State Polytechnic of Creative Media. The collected data were analyzed statistically using the chi-square test to test the hypothesis of the relationship between variables. The main findings indicate a statistically significant relationship (p = 0.038 < 0.05) between PKn and students' perceptions. The majority of respondents (83.7%) who have positive sexual behavior (in accordance with norms) also show positive perceptions, which in this context means rejecting LGBT practices based on legal and religious grounds, while still being able to interact humanely. It is concluded that Civic Education is effective in equipping students with an understanding of national values ??to protect themselves from deviant behavior, while also fostering a tolerant attitude in social interactions. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di kalangan mahasiswa, yang menimbulkan gesekan dengan tatanan hukum dan sosial-religius di Indonesia. Adanya kesenjangan antara nilai-nilai normatif yang dianut bangsa dengan realitas gaya hidup yang berkembang mendorong perlunya evaluasi peran pendidikan dalam membentuk karakter. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk menganalisis hubungan antara Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan persepsi dan perilaku mahasiswa terhadap fenomena LGBT di lingkungan kampus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner berskala Likert kepada 353 mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta. Data yang terkumpul dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square untuk menguji hipotesis hubungan antar variabel. Temuan utama menunjukkan adanya hubungan yang signifikan secara statistik (p = 0.038 < 0.05) antara PKn dengan persepsi mahasiswa. Mayoritas responden (83,7%) yang memiliki perilaku seksual positif (sesuai norma) juga menunjukkan persepsi positif, yang dalam konteks ini berarti menolak praktik LGBT berdasarkan landasan hukum dan agama, namun tetap mampu berinteraksi secara humanis. Disimpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan efektif dalam membekali mahasiswa dengan pemahaman nilai-nilai kebangsaan untuk membentengi diri dari perilaku menyimpang, sekaligus menumbuhkan sikap toleran dalam interaksi sosial
ANALISIS KEMAMPUAN PENALARAN ADAFTIF SISWA SMP NEGERI 6 SENGAH TEMILA MENYELESAIKAN MATEMATIKA SOAL PISA Metriten, Jhon; Annur, Muhammad Firman
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i2.6847

Abstract

This research is motivated by the low scores of Indonesian students in the PISA mathematics assessment, which consistently indicate weaknesses in adaptive reasoning and contextual problem-solving skills. The main focus of this study is to analyze in depth the adaptive reasoning skills of eighth-grade students at SMP Negeri 6 Sengah Temila when faced with non-routine PISA-based problems, which require the ability to formulate hypotheses, provide logical justification, and validate arguments. Using a descriptive qualitative approach, this study collected data through written tests, semi-structured interviews, and documentation. The subjects were selected purposively and classified into three ability categories—high, medium, and low—to allow for comprehensive analysis. The results show that the majority of students (64.52%) fall in the medium category, while only a small proportion (16.13%) reach the high category. High-ability students are able to systematically connect mathematical concepts to real-world contexts, while medium-ability students tend to only be able to solve procedural problems but are weak in justification. Based on these findings, it is concluded that there is an urgent need to strengthen the implementation of problem-based and contextual learning methods to improve students' adaptive reasoning skills so that they are better prepared to face the challenges of international assessment. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya skor siswa Indonesia dalam asesmen matematika PISA, yang secara konsisten mengindikasikan kelemahan dalam kemampuan penalaran adaptif dan pemecahan masalah kontekstual. Fokus utama studi ini adalah untuk menganalisis secara mendalam kemampuan penalaran adaptif siswa kelas VIII di SMP Negeri 6 Sengah Temila saat dihadapkan pada soal-soal non-rutin berbasis PISA, yang menuntut kemampuan merumuskan hipotesis, memberikan justifikasi logis, dan memvalidasi argumen. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui tes tertulis, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Subjek penelitian dipilih secara purposif dan diklasifikasikan ke dalam tiga kategori kemampuan—tinggi, sedang, dan rendah—untuk memungkinkan analisis yang komprehensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa (64,52%) berada pada kategori sedang, sementara hanya sebagian kecil (16,13%) yang mencapai kategori tinggi. Siswa berkemampuan tinggi mampu menghubungkan konsep matematika dengan konteks nyata secara sistematis, sedangkan siswa kategori sedang cenderung hanya mampu menyelesaikan soal prosedural namun lemah dalam justifikasi. Berdasarkan temuan ini, disimpulkan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk memperkuat implementasi metode pembelajaran berbasis masalah dan kontekstual guna meningkatkan kemampuan penalaran adaptif siswa agar mereka lebih siap menghadapi tantangan asesmen internasional.
ANALISIS KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF SISWA SMP NEGERI 6 SENGAH TEMILA DALAM MENYELESAIKAN SOAL PISA Tiko, Brian Febrianto Atrensius; Annur, Muhammad Firman
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i2.6848

Abstract

Education in the 21st century requires students not only to master academic knowledge but also creative thinking skills, particularly in mathematics learning. This study aims to analyze the creative thinking abilities of junior high school students at SMP Negeri 6 Sengah Temila in solving PISA problems. The method used is a descriptive qualitative approach, with data collection techniques including written tests, interviews, and documentation. Key steps in this research involve data collection, analysis of test results, and interviews with students and teachers to explore their perceptions and experiences. The findings indicate that students' creative thinking abilities remain relatively low, with the primary challenge stemming from learning methods that inadequately support the exploration of new ideas. The main conclusion of this study is the necessity for innovative learning approaches to enhance students' creative thinking skills, enabling them to better confront real-world challenges and improve global competitiveness. This research is expected to provide recommendations for curriculum development and more effective teaching methods to foster student creativity. ABSTRAKPendidikan di abad ke-21 menuntut siswa untuk tidak hanya menguasai pengetahuan akademis, tetapi juga keterampilan berpikir kreatif, terutama dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan berpikir kreatif siswa SMP Negeri 6 Sengah Temila dalam menyelesaikan soal PISA. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui tes tertulis, wawancara, dan dokumentasi. Langkah-langkah penting dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, analisis hasil tes, dan wawancara dengan siswa dan guru untuk menggali persepsi dan pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa masih tergolong rendah, dengan tantangan utama berasal dari metode pembelajaran yang kurang mendukung eksplorasi ide-ide baru. Simpulan utama dari penelitian ini adalah perlunya inovasi dalam pendekatan pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa, sehingga mereka dapat lebih siap menghadapi tantangan di dunia nyata dan meningkatkan daya saing di tingkat global. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran yang lebih efektif dalam mendukung kreativitas siswa.
EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA RITUAL BAREMAH SUKU DAYAK BALANGIT KECAMATAN JELIMPO KABUPATEN LANDAK Lidia, Antonia; Liliana, Sepiani
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i3.7178

Abstract

This study aims to find out the mathematical activities contained in the baremah ritual of the Balangit Dayak Tribe in Landak Regency. Ethnomathematics is the science that studies the ways in which certain societies or cultural groups use and understand mathematics in everyday life. The type of research used is qualitative research with an ethnographic approach. The data collection techniques used in this study are observation, interviews with traditional leaders or cultural actors, as well as documentation of baremah activities, then data analysis techniques used, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study show that Baremah is one of the Dayak cultures that reflects fundamental mathematical activities: locating, counting, designing, and explaining. Each activity demonstrates the linkage between cultural values and mathematical concepts relevant to contextual learning. This analysis includes the history and stages of the ritual, as well as the preparation and execution of the ritual, all of which contain mathematical elements such as calculating, locating locations, designing, and explaining. By being aware of the cultural context and connecting it with mathematical activities, we can find out that our daily activities and the cultural diversity that we have have have activities, elements and even mathematical concepts in it. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas matematika yang terdapat dalam ritual baremah Suku Dayak Balangit di Kabupaten Landak. Etnomatematika adalah ilmu yang mempelajari cara-cara masyarakat atau kelompok budaya tertentu menggunakan dan memahami matematika dalam kehidupan sehari-hari. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dengan tokoh adat atau pelaku budaya, serta dokumentasi kegiatan baremah, kemudian teknik analisis data yang digunakan yaitu Reduksi data, penyajian data,  penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Baremah adalah salah satu budaya Suku Dayak yang mencerminkan aktivitas fundamental matematis: locating, counting, designing, dan explaining. Setiap aktivitas menunjukkan keterkaitan antara nilai budaya dan konsep matematis yang relevan untuk pembelajaran kontekstual. Analisis ini meliputi sejarah dan tahapan ritual, serta persiapan dan pelaksanaan ritual, yang semuanya mengandung unsur matematika seperti menghitung, mencari lokasi, mendesain, dan menjelaskan. Dengan menyadari konteks budaya dan menghubungkannya dengan aktivitas matematika, kita dapat mengetahui bahwa kegiatan kita sehari-hari dan keberagaman budaya yang kita miliki itu terdapat aktivitas, unsur bahkan konsep matematika didalamnya.
EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA DALAM PERMAINAN TRADISIONAL ENGKLEK KHAS KECAMATAN MENYUKE Framica, Esterina; Annur, Muhammad Firman
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i3.7179

Abstract

This study aims to delve deeper into the ethnomathematical concepts embedded in the traditional game of Engklek, originating from the Menyuke District. Engklek is regarded as an embodiment of ethnomathematics, specifically the application of mathematical concepts within the local cultural context. Consequently, Engklek is not merely a traditional recreational activity but also holds potential as an effective instrument in the process of mathematics education. This research adopts a descriptive qualitative approach, employing data collection techniques such as observation, interviews, and documentation. Data sources are gathered from various stakeholders, including community leaders, local residents, children, and parents who still actively engage in playing Engklek. The research findings reveal that the game of Engklek integrates a diverse array of mathematical concepts, such as number sequences, geometric shapes (squares, rectangles, semicircles), symmetry, and simple geometric transformations. Furthermore, Engklek plays a role in enhancing numeracy skills, logical thinking abilities, spatial aptitude, and motor coordination among children. The cultural values encompassed within include a spirit of collaboration, sportsmanship, and adherence to established rules. Thus, Engklek can be optimally utilized as a contextual and enjoyable medium for mathematics learning, while simultaneously preserving local cultural heritage. ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk menggali lebih dalam konsep etnomatematika yang terdapat dalam permainan tradisional engklek yang berasal dari Kecamatan Menyuke. Engklek dianggap sebagai perwujudan etnomatematika, yaitu penerapan konsep matematika dalam konteks budaya setempat. Oleh karena itu, engklek bukan hanya sekadar aktivitas rekreasi tradisional, melainkan juga berpotensi menjadi instrumen yang efektif dalam proses pembelajaran matematika. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data diperoleh dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat, penduduk setempat, anak-anak, serta orang tua yang masih aktif memainkan engklek. Hasil penelitian mengungkap bahwa permainan engklek mengintegrasikan beragam konsep matematika, seperti urutan bilangan, bentuk-bentuk geometri (persegi, persegi panjang, setengah lingkaran), simetri, dan transformasi geometri yang sederhana. Selain itu, engklek juga berperan dalam meningkatkan keterampilan berhitung, kemampuan berpikir logis, kecakapan spasial, dan koordinasi motorik pada anak-anak. Nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya meliputi semangat kerja sama, sportivitas, serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Dengan demikian, engklek dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana pembelajaran matematika yang kontekstual dan menyenangkan, sekaligus melestarikan warisan budaya lokal.
EFEKTIVITAS PHOTOMATH BERBASIS ANDROID TERHADAP PRESTASI BELAJAR PADA MATERI KOMPOSISI FUNGSI SISWA KELAS XI DI SMA NEGERI 1 JELIMPO Martines, Jonathan; Annur, Muhammad Firman
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i3.7180

Abstract

Penelitian ini bertujuan membuktikan efektivitas aplikasi Photomath terhadap prestasi belajar materi komposisi fungsi dibandingkan pembelajaran konvensional. Desain penelitian menggunakan two group pretest-posttest pada dua kelas XI di SMA Negeri 1 Jelimpo, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen yang dipilih melalui Cluster Random Sampling. Hasil pretest menunjukkan kemampuan awal kedua kelompok setara. Setelah perlakuan, analisis posttest menggunakan uji Mann-Whitney U menunjukkan bahwa meskipun nilai rata-rata kelas eksperimen (21,21) lebih tinggi dari kelas kontrol (18,79), perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Artinya, tidak ditemukan perbedaan prestasi belajar yang berarti antara siswa yang menggunakan Photomath dengan yang tidak. Penelitian juga mencatat bahwa prestasi belajar pada tahun sebelumnya justru lebih tinggi, menandakan adanya faktor lain yang lebih berpengaruh. Kesimpulannya, Photomath lebih tepat diposisikan sebagai media bantu pembelajaran, bukan faktor utama peningkat prestasi. Disarankan sampel penelitian selanjutnya melibatkan lebih luas dan mengintegrasikan Photomath dengan model pembelajaran inovatif serta meneliti variabel lain seperti motivasi belajar. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan menguji efektivitas aplikasi Photomath terhadap prestasi belajar materi komposisi fungsi dibandingkan pembelajaran konvensional. Desain penelitian menggunakan two group pretest-posttest pada dua kelas XI di SMA Negeri 1 Jelimpo, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen yang dipilih melalui Cluster Random Sampling. Hasil pretest menunjukkan kemampuan awal kedua kelompok setara. Setelah perlakuan, analisis posttest menggunakan uji Mann-Whitney U menunjukkan bahwa meskipun rata-rata nilai kelas eksperimen (21,21) lebih tinggi dari kelas kontrol (18,79), perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Artinya, tidak ditemukan perbedaan prestasi belajar yang berarti antara siswa yang menggunakan Photomath dengan yang tidak. Penelitian juga mencatat bahwa prestasi belajar pada tahun sebelumnya justru lebih tinggi, menandakan adanya faktor lain yang lebih berpengaruh. Kesimpulannya, Photomath lebih tepat diposisikan sebagai media bantu pembelajaran, bukan faktor utama peningkat prestasi. Disarankan penelitian selanjutnya melibatkan sampel lebih luas dan mengintegrasikan Photomath dengan model pembelajaran inovatif serta meneliti variabel lain seperti motivasi belajar.
ANALISIS MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA Lusiati, Lusiati; Liliana, Sepriani
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v5i3.7181

Abstract

This study aims to determine and analyze student learning motivation in mathematics learning in class VIII C of SMP Negeri 2 Ngabang. This study uses descriptive quantitative research. Data collection techniques use questionnaires and documentation. This research was conducted at SMP Negeri 2 Ngabang. The sample in this study consisted of students in class VIII C using a questionnaire distributed to 30 respondents. Based on the results of research on student learning motivation in mathematics, it can be concluded that this study found that overall student learning motivation was categorized as moderate, with 3% of students having very high learning motivation, with a total of 1 respondent. 40% of students had high learning motivation with 12 respondents, 50% of students had moderate learning motivation with 15 respondents, and 7% of students had low motivation with 2 respondents. Regarding each learning motivation indicator, the average learning motivation was categorized as moderate with a percentage of 53.83% for the indicator of desire and willingness to succeed, 58.44% for the indicator of drive and need to learn, which was categorized as moderate, 38.66% for the indicator of goals and expectations for the future, which was categorized as low, 71.33% for the indicator of appreciation in learning, which was categorized as high, 82% for the indicator of interesting and engaging learning activities, which was categorized as very high, and 54.66% for the indicator of a conducive learning environment, which was categorized as moderate. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis motivasi belajar siswa pada pembelajaran matematika di kelas VIII C SMP Negeri 2 Ngabang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Ngabang. Sampel pada penelitian ini yaitu siswa di kelas VIII C menggunakan cara menyebarkan angket dengan jumlah siswa 30 responden. Berdasarkan hasil penelitian tentang motivasi belajar siswa pada pembelajaran matematika dapat disimpulkan bahwa rata-rata keseluruhan motivasi belajar siswa berkategorikan sedang dengan presentase 3% siswa yang memiliki motivasi belajar sangat tinggi dengan jumlah responden yaitu 1 orang, 40% siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dengan jumlah responden yaitu 12 orang, 50% siswa yang memiliki motivasi belajar sedang dengan jumlah responden yaitu 15 orang dan 7% siswa yang memiliki motivasi rendah dengan jumlah responden yaitu 2 orang. Mengenai masing-masing indikator motivasi belajar didapatkan rata-rata motivasi belajar yang berkategorikan sedang dengan presentase 53,83% pada indikator adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil, 58,44% pada indikator adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar yang berkategorikan sedang, 38,66% pada indikator adanya cita-cita dan harapan di masa depan yang berkategorikan rendah, 71,33% pada indikator adanya penghargaan di dalam belajar yang berkategorikan tinggi, 82% pada indikator adanya kegiatan yang menarik dan perhatian dalam belajar yang berkategorikan sangat tinggi dan 54,66% pada indikator adanya lingkungan belajar yang kondusif yang berkategorikan sedang.