cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran
ISSN : 27770583     EISSN : 27770575     DOI : https://doi.org/10.51878/learning.v1i2.376
Core Subject : Education,
LEARNING : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran diterbitkan 4 kali setahun (Februari, Mei, Agustus, dan November) oleh Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) yang berada dibawah naungan Yayasan Insan Cendekia Indonesia Raya dan berafiliasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Hamzanwadi, MKKS SMP Negeri Kab. Lombok Timur dan Ikatan Guru Indonesia Kab. Tulang Bawang. Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 844 Documents
OPTIMALISASI HASIL BELAJAR FIQIH MELALUI MODEL LEARNING CYCLE 5E PADA PENDIDIKAN MENENGAH Septi Hidayani; Waluyo Erry Wahyudi; A Fatoni
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14845

Abstract

Students’ low analytical ability in Fiqh learning and the dominance of lecture and question-and-answer methods indicate the need for a more active and constructivist learning model. Although the Learning Cycle 5E model has been widely implemented in various fields and shown to support learning outcomes, studies specifically examining its application in Fiqh learning at the Madrasah Tsanawiyah level remain limited. This study aimed to analyze the difference in Fiqh learning outcomes between students who received instruction using the Learning Cycle 5E model and those who received conventional instruction at MTs Ma’arif Fatahillah, East Lampung. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a Posttest-Only Control Group design. The sample consisted of 54 students, including 27 students from Class VII C as the experimental group and 27 students from Class VII A as the control group, selected through simple random sampling. The research instrument was a multiple-choice learning achievement test that had been evaluated for validity, reliability, item difficulty, and discrimination power. Data were analyzed using normality and homogeneity tests, an Independent Samples t-test, and Cohen’s d. The results showed a significant difference in learning outcomes between the two groups, with t = 2.938, df = 52, and p = 0.005 (<0.05). The mean difference was 1.704 points, while Cohen’s d = 0.80 indicated a large effect size. These findings indicate that the Learning Cycle 5E model resulted in significantly different learning outcomes compared with conventional instruction, with a substantial practical effect. This study extends empirical evidence on the application of the Learning Cycle 5E model in Fiqh learning at the Madrasah Tsanawiyah level and highlights the importance of reporting effect size to strengthen the interpretation of the practical significance of research findings. ABSTRAK Rendahnya kemampuan analisis peserta didik dalam pembelajaran Fiqih serta dominannya penggunaan metode ceramah dan tanya jawab menunjukkan perlunya model pembelajaran yang lebih aktif dan konstruktif. Meskipun Learning Cycle 5E telah banyak diterapkan pada berbagai bidang studi dan terbukti mendukung hasil belajar, penelitian yang secara khusus menguji penerapannya pada pembelajaran Fiqih di jenjang Madrasah Tsanawiyah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan hasil belajar Fiqih antara peserta didik yang memperoleh pembelajaran menggunakan model Learning Cycle 5E dan peserta didik yang memperoleh pembelajaran konvensional di MTs Ma’arif Fatahillah Lampung Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi-experimental dan desain Posttest-Only Control Group. Sampel terdiri atas 54 peserta didik, yaitu 27 peserta didik kelas VII C sebagai kelompok eksperimen dan 27 peserta didik kelas VII A sebagai kelompok kontrol yang dipilih melalui simple random sampling. Instrumen berupa tes hasil belajar pilihan ganda yang telah diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas, homogenitas, Independent Samples t-test, dan Cohen’s d. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kedua kelompok dengan nilai t = 2,938, df = 52, dan p = 0,005 (<0,05). Selisih rata-rata kedua kelompok sebesar 1,704 poin, sedangkan Cohen’s d = 0,80 termasuk kategori efek besar. Temuan ini menunjukkan bahwa Learning Cycle 5E menghasilkan capaian hasil belajar yang berbeda secara signifikan dibandingkan pembelajaran konvensional dengan besaran efek yang kuat. Penelitian ini memperluas bukti empiris penerapan Learning Cycle 5E pada pembelajaran Fiqih jenjang Madrasah Tsanawiyah sekaligus menunjukkan pentingnya pelaporan effect size untuk memperkuat interpretasi makna praktis hasil penelitian.
REORIENTASI MEDIA PEMBELAJARAN PAI DALAM KERANGKA DEEP LEARNING: KAJIAN KONSEPTUAL PEMBELAJARAN BERKESADARAN, BERMAKNA, DAN MENGGEMBIRAKAN Umar Umar
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14864

Abstract

Islamic Religious Education (IRE) learning media are still frequently oriented toward content delivery, visualization, attractiveness, and memorization practice. Such an orientation does not fully support the aims of IRE, which encompass understanding, internalization, disposition formation, and contextual action. This article aims to analyze the dominant orientation of IRE learning media, identify the media affordances required for mindful, meaningful, and joyful learning, and formulate the relationships among these components within a conceptual framework. The study employed a literature-based integrative conceptual review. National and international literature was examined through directed content analysis, constant comparison, and conceptual synthesis. The findings indicate that the use of IRE learning media remains predominantly oriented toward information transmission, technical interactivity, and product feasibility. A reorientation is therefore required by positioning media as a learning-experience environment that integrates representations, tasks, interactions, feedback, dialogue, reflection, and action. This study proposes the Reorientation Framework for IRE Media and Deep Learning (RM-PAI-PM), which connects the aims of IRE, learner characteristics, subject matter and values, and social contexts with the three principles of Deep Learning and five media affordances: epistemic, reflective-spiritual, contextual-practical, social-dialogical, and emotional-motivational. These affordances are systematically integrated into an iterative cycle of understanding, applying, and reflecting to promote changes in conceptual understanding, strengthened attitudes and dispositions, and responsible contextual action. The framework may serve as an analytical tool and a foundation for designing IRE learning media. However, empirical validation across different subject areas and educational levels is required to examine its applicability, limitations, and effects on student learning. ABSTRAK Media pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) masih sering diorientasikan sebagai alat penyampaian materi, visualisasi, peningkatan daya tarik, dan latihan hafalan. Orientasi tersebut belum sepenuhnya mendukung tujuan PAI yang mencakup pemahaman, penghayatan, pembentukan sikap, dan tindakan kontekstual. Artikel ini bertujuan menganalisis orientasi dominan media pembelajaran PAI, mengidentifikasi daya dukung media yang diperlukan bagi pembelajaran berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, serta merumuskan hubungan antarkomponen tersebut dalam suatu kerangka konseptual. Penelitian menggunakan studi pustaka dengan pendekatan kajian konseptual integratif. Literatur nasional dan internasional dianalisis melalui analisis isi terarah, perbandingan konstan, dan sintesis konseptual. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan media PAI masih dominan berorientasi pada transmisi informasi, interaktivitas teknis, dan kelayakan produk. Reorientasi diperlukan dengan memosisikan media sebagai lingkungan pengalaman belajar yang mengintegrasikan representasi, tugas, interaksi, umpan balik, dialog, refleksi, dan tindakan. Kajian ini menghasilkan Kerangka Reorientasi Media PAI–Pembelajaran Mendalam (RM-PAI-PM), yang menghubungkan tujuan PAI, karakteristik peserta didik, materi dan nilai, serta konteks sosial dengan tiga prinsip Pembelajaran Mendalam dan lima daya dukung media, yaitu epistemik, reflektif-spiritual, kontekstual-praktis, sosial-dialogis, dan emosional-motivasional. Kelima daya dukung tersebut diintegrasikan secara sistematis dalam siklus memahami, mengaplikasi, dan merefleksi untuk mendorong perubahan pemahaman, penguatan sikap dan disposisi, serta tindakan kontekstual yang bertanggung jawab. Kerangka ini dapat digunakan sebagai perangkat analitis dan dasar pengembangan media PAI, tetapi masih memerlukan validasi empiris pada berbagai materi dan jenjang pendidikan.
PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN MEDIA PEMBELAJARAN VISUAL PICTURE AND PICTURE TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS KELAS V DI SD NEGERI 074051 SISARAHILI Rohani Handayani Zebua; Famahato Lase; Ratna Natalia Mendrofa; Dernius Hura
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14870

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the low learning outcomes in Natural and Social Sciences (IPAS), which were associated with limited student engagement and the use of innovative learning media. This study aimed to analyze the effects of Learning Motivation (X1) and Visual Learning Media Picture and Picture (X2) on Learning Outcomes (Y) among fifth-grade students at SD Negeri 074051 Sisarahili, both partially and simultaneously. The study employed a quantitative approach with an associative method and multiple linear regression analysis. The population and sample consisted of 20 students selected using total sampling. Data were collected through a Likert-scale questionnaire and multiple-choice tests, then analyzed using prerequisite tests, t-test, F-test, and coefficient of determination with the assistance of IBM SPSS Statistics version 25. The results showed that Learning Motivation and Visual Learning Media Picture and Picture had a significant simultaneous effect on Learning Outcomes (p < 0.001). Partially, Learning Motivation and Visual Learning Media Picture and Picture also had significant effects on Learning Outcomes (p < 0.05). The R Square value of 0.665 indicated that the two independent variables jointly explained 66.5% of the variation in Learning Outcomes, while the remaining 33.5% was explained by other factors outside the research model. These findings indicate that Learning Motivation and Visual Learning Media Picture and Picture make significant contributions to variations in students’ IPAS Learning Outcomes. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar IPAS yang berkaitan dengan keterbatasan keterlibatan peserta didik dan penggunaan media pembelajaran yang inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Motivasi Belajar (X1) dan Media Pembelajaran Visual Picture and Picture (X2) terhadap Hasil Belajar (Y) peserta didik kelas V SD Negeri 074051 Sisarahili, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif dan analisis regresi linier berganda. Populasi sekaligus sampel terdiri atas 20 peserta didik yang ditentukan melalui total sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert dan tes pilihan ganda, kemudian dianalisis melalui uji prasyarat, uji t, uji F, dan koefisien determinasi dengan bantuan IBM SPSS Statistics versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Motivasi Belajar dan Media Pembelajaran Visual Picture and Picture berpengaruh signifikan secara simultan terhadap Hasil Belajar (p < 0,001). Secara parsial, Motivasi Belajar dan Media Pembelajaran Visual Picture and Picture juga berpengaruh signifikan terhadap Hasil Belajar (p < 0,05). Nilai R Square sebesar 0,665 menunjukkan bahwa kedua variabel independen secara bersama-sama menjelaskan 66,5% variasi Hasil Belajar, sedangkan 33,5% dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa Motivasi Belajar dan Media Pembelajaran Visual Picture and Picture memiliki kontribusi yang signifikan terhadap variasi Hasil Belajar IPAS peserta didik.
IMPLEMENTASI GERAKAN 7 KEBIASAAN ANAK INDONESIA HEBAT DALAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR INKLUSI Endah Surya Ningtias
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.14879

Abstract

ABSTRACT At SDN Sawotratap 2, character development is embedded in the daily rhythm of students’ lives through the Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH). This study examines how the program is implemented in an inclusive elementary school, focusing on habituation strategies, the involvement of the school and parents, and the challenges encountered during its implementation. The study employed a descriptive qualitative approach and was conducted from February 4 to March 10, 2026, with informants selected through purposive sampling, consisting of the principal, a fifth-grade teacher, three parents, and ten fifth-grade students, including one student with mild autism. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and were analyzed through data condensation, data presentation, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that 7KAIH is integrated into school routines through modeling, reinforcement, guidance, and supervision. Its implementation contributes to the development of discipline, responsibility, independence, social awareness, healthy lifestyles, and more inclusive interactions. However, the continuity of habituation faces challenges because the intensity of family support at home varies, resulting in habits outside school not yet being reinforced consistently and sustainably. These findings suggest that 7KAIH can serve as an adaptive character education strategy when habituation is implemented consistently and the school establishes sustained collaboration with families. ABSTRAK Di SDN Sawotratap 2, pembentukan karakter ditempatkan dalam ritme kehidupan peserta didik melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH). Penelitian ini menelaah bagaimana program tersebut dijalankan di sekolah dasar inklusif, mencakup strategi pembiasaan, keterlibatan sekolah dan orang tua, serta hambatan yang menyertainya. Kajian dilaksanakan secara deskriptif kualitatif pada 4 Februari–10 Maret 2026 dengan informan yang dipilih secara purposive, yaitu kepala sekolah, guru kelas V, tiga orang tua, dan sepuluh peserta didik kelas V, termasuk seorang peserta didik dengan autisme ringan. Informasi dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Temuan memperlihatkan bahwa 7KAIH menyatu dengan rutinitas sekolah melalui keteladanan, penguatan, pendampingan, dan pengawasan. Pelaksanaannya berkontribusi terhadap pembentukan disiplin, tanggung jawab, kemandirian, kepedulian sosial, pola hidup sehat, dan interaksi yang lebih inklusif. Namun, kesinambungan pembiasaan menghadapi kendala karena intensitas pendampingan keluarga di rumah tidak selalu sama, sehingga penguatan kebiasaan di luar sekolah belum sepenuhnya berlangsung secara seragam dan berkelanjutan. Temuan ini mengarah pada pemahaman bahwa 7KAIH dapat menjadi strategi pendidikan karakter yang adaptif ketika pembiasaan berlangsung konsisten dan sekolah membangun kolaborasi berkelanjutan dengan keluarga.
BEYOND EFFECTIVENESS: INVESTIGATING STUDENT SATISFACTION WITH CHATBOT AI IN EFL ACADEMIC WRITING I Dewa Gede Dimas Satria Udayana; Ni Nyoman Padmadewi; I Putu Indra Kusuma
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14907

Abstract

The integration of artificial intelligence into higher education has made chatbot AI such as ChatGPT, Gemini, and Perplexity common tools used by students in academic writing, yet research on student satisfaction toward their use in the Indonesian EFL context remains limited, as most previous studies emphasized effectiveness rather than affective and pedagogical factors. Therefore, this study focused on the satisfaction of English Language Education students at Ganesha University of Education (Undiksha) toward the use of chatbot AI as an assistive tool in academic writing, and on how specific aspects of chatbot based writing support, namely grammar assistance, idea development, feedback quality, and ease of use, influenced that satisfaction. This study employed a basic qualitative approach involving 10 students from the English Language Education Study Program at Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Participants were selected using purposive sampling with criterion-based selection based on their experience in using chatbot AI for academic writing. Data were collected through semi structured, in depth interviews with ten students selected using criterion-based selection. The interview recordings were transcribed verbatim and then analyzed using thematic analysis, resulting in three main themes, namely positive but conditional satisfaction, chatbot based writing support as the main source of satisfaction, and critical user control as the boundary of satisfaction. The findings showed that students were generally satisfied because chatbot AI helped them generate ideas, organize writing, correct grammar, obtain feedback, revise sentences, and find references quickly and practically. However, this satisfaction was conditional because students still needed to verify, revise, and control AI output that could be inaccurate or too general. This study concludes that chatbot AI facilitates academic writing and increases student satisfaction when it is used critically and responsibly as a supporting tool, rather than as a replacement for students’ own thinking and writing ability. ABSTRAK Integrasi kecerdasan buatan dalam pendidikan tinggi telah menjadikan chatbot AI seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity sebagai alat bantu yang umum digunakan mahasiswa dalam penulisan akademik. Namun penelitian mengenai kepuasan mahasiswa terhadap penggunaannya dalam konteks EFL di Indonesia masih terbatas karena sebagian besar kajian sebelumnya lebih menekankan efektivitas daripada faktor afektif dan pedagogis. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada kepuasan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) terhadap penggunaan chatbot AI sebagai alat bantu dalam penulisan akademik, serta bagaimana aspek spesifik dari dukungan penulisan berbasis chatbot, yaitu bantuan tata bahasa, pengembangan ide, kualitas umpan balik, dan kemudahan penggunaan, memengaruhi kepuasan tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dasar dengan melibatkan 10 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Partisipan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan criterion-based selection berdasarkan pengalaman mereka dalam menggunakan chatbot AI untuk penulisan akademik. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan mendalam terhadap sepuluh mahasiswa yang dipilih menggunakan purposive sampling berbasis kriteria. Rekaman wawancara ditranskripsi secara verbatim, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik hingga menghasilkan tiga tema utama, yaitu kepuasan positif namun bersyarat, dukungan penulisan berbasis chatbot sebagai sumber utama kepuasan, dan kontrol kritis pengguna sebagai batas kepuasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa secara umum merasa puas karena chatbot AI membantu mereka menghasilkan ide, menyusun tulisan, memperbaiki tata bahasa, memperoleh umpan balik, merevisi kalimat, dan mencari referensi secara cepat dan praktis. Namun, kepuasan tersebut bersifat bersyarat karena mahasiswa tetap perlu memverifikasi, merevisi, dan mengontrol keluaran AI yang dapat tidak akurat atau terlalu umum. Penelitian ini menyimpulkan bahwa chatbot AI memfasilitasi penulisan akademik dan meningkatkan kepuasan mahasiswa ketika digunakan secara kritis dan bertanggung jawab sebagai alat pendukung, bukan sebagai pengganti pemikiran dan kemampuan menulis mahasiswa.
OPTIMALISASI STRATEGI PENGEMBANGAN KOLEKSI BERBASIS DATA-DRIVEN DECISION MAKING (DDDM) DI PERPUSTAKAAN UINSU Indra Wardana; Franindya Purwaningtyas
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.14929

Abstract

Collection development at the Library of Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) currently faces a critical challenge marked by a significant disparity between library material procurement and the actual needs of the academic community. Conventional approaches that rely on intuitive assumptions lead to budget allocation inefficiencies, resulting in a high prevalence of dead-stock collections alongside unfulfilled high-demand subject categories. Although prior literature has explored Data-Driven Decision Making (DDDM) and Decision Tree modeling in library contexts, most studies remain limited to descriptive transaction analysis without comprehensively integrating Online Public Access Catalog (OPAC) circulation and repository data to formulate an automated prescriptive decision model. This quantitative study bridges this empirical gap by implementing a five-stage DDDM framework consisting of data collection, data integration and cleaning, multi-level analytics (descriptive, diagnostic, predictive, and prescriptive), Decision Tree-based decision modeling, and strategy implementation. The novelty of this research lies in the formulation of a policy recommendation model for collection development directly derived from real user borrowing patterns and trends. The Decision Tree modeling yields a high-accuracy collection classification that underpins four optimization strategies: (1) collection procurement driven by predictive algorithms aligned with course and study program trends, (2) print collection rotation and weeding based on circulation ratios, (3) digitization prioritization for high-interaction learning materials, and (4) budget allocation efficiency based on user preference weights. This study proves that a circulation transaction-based DDDM approach transforms UIN SU Library collection management into an adaptive, responsive, and precise system in the Society 5.0 era. ABSTRAK Pengembangan koleksi di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU) saat ini masih menghadapi tantangan utama, yaitu tingginya ketimpangan antara pengadaan bahan pustaka dengan kebutuhan nyata akademisi. Pendekatan konvensional yang mengandalkan asumsi intuitif menyebabkan inefisiensi alokasi anggaran serta ditemukannya fenomena koleksi dead-stock (koleksi yang tidak pernah dipinjam) yang tinggi bersandingan dengan tingginya peminjaman (high-demand) pada kategori subjek tertentu. Meskipun penelitian terdahulu telah membahas penerapan Data-Driven Decision Making (DDDM) dan pemodelan Decision Tree dalam konteks perpustakaan secara umum, mayoritas studi terbatas pada analisis deskriptif transaksi tanpa mengintegrasikan data sirkulasi OPAC dan repositori secara komprehensif untuk merumuskan model keputusan preskriptif yang otomatis. Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menjembatani gap tersebut melalui implementasi kerangka kerja DDDM 5 tahap yaitu pengumpulan data, integrasi dan pembersihan data, analisis multi-tingkat (deskriptif, diagnostik, prediktif, dan preskriptif), pemodelan keputusan berbasis algoritma Decision Tree, serta implementasi inovasi. Novelty dari penelitian ini terletak pada formulasi model rekomendasi kebijakan pengembangan koleksi yang secara presisi diturunkan langsung dari pola dan tren transaksi peminjaman nyata pemustaka. Hasil pemodelan Decision Tree menghasilkan klasifikasi koleksi berakurasi tinggi yang mendasari empat rekomendasi strategi optimalisasi (1) pengadaan koleksi berbasis algoritma prediksi tren mata kuliah/program studi, (2) rotasi dan eliminasi (weeding) berbasis rasio sirkulasi koleksi cetak, (3) prioritas digitalisasi untuk bahan pustaka berfrekuensi pinjam tinggi (high-interaction), serta (4) efisiensi alokasi anggaran pengadaan berbasis bobot preferensi pemustaka. Penelitian ini membuktikan bahwa pendekatan DDDM berbasis transaksi sirkulasi mampu mentransformasi manajemen koleksi Perpustakaan UIN SU menjadi adaptif, responsif, dan akurat di era Society 5.0.
HUBUNGAN POLA ASUH PERMISIF ORANG TUA DENGAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 4-6 TAHUN DI TK PGRI 07 AIKMEL Rahma Suraya; Sarilah Sarilah; Ni Made Sulastri; Khairul Huda
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i3.15221

Abstract

ABSTRACT Independence is an important aspect of early childhood development; however, some children still tend to depend on adults in carrying out daily activities. This condition is assumed to be related to parenting practices, particularly permissive parenting, which provides children with considerable freedom without adequate boundaries and supervision. This study aimed to determine the level of permissive parenting, the level of independence among children aged 4–6 years, and the relationship between parental permissive parenting and children’s independence at TK PGRI 07 Aikmel in the 2025/2026 academic year. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The population consisted of 46 children from Classes A and B, with a sample of 20 children selected using purposive sampling. Data were collected through two Likert-scale questionnaires, each consisting of 20 items, to measure parental permissive parenting and children’s independence. The data were analyzed using SPSS version 26.0 through a normality test followed by the Spearman Rank Order correlation test because the data were not normally distributed. The results showed that parental permissive parenting was categorized as moderate at 70%, while children’s independence was also categorized as moderate at 60%. The correlation test yielded a coefficient of -0.821 with a significance value of 0.000 (p<0.05). Therefore, H0 was rejected and Ha was accepted, indicating a significant and very strong negative relationship between parental permissive parenting and children’s independence. This finding means that the higher the tendency toward permissive parenting, the lower the level of children’s independence. ABSTRAK Kemandirian merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan anak usia dini, namun dalam aktivitas sehari-hari masih ditemukan anak yang cenderung bergantung pada bantuan orang dewasa. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan pola asuh orang tua, khususnya pola asuh permisif yang memberikan kebebasan kepada anak tanpa batasan dan pengawasan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pola asuh permisif orang tua, tingkat kemandirian anak usia 4–6 tahun, serta hubungan antara pola asuh permisif orang tua dengan kemandirian anak di TK PGRI 07 Aikmel Tahun Pelajaran 2025/2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi penelitian berjumlah 46 anak dari Kelas A dan B, dengan sampel sebanyak 20 anak yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui angket skala Likert yang masing-masing terdiri atas 20 butir untuk mengukur pola asuh permisif orang tua dan kemandirian anak. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 26.0 melalui uji normalitas dan dilanjutkan dengan uji korelasi Spearman Rank Order karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh permisif orang tua berada pada kategori sedang sebesar 70%, sedangkan kemandirian anak berada pada kategori sedang sebesar 60%. Hasil uji korelasi menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,821 dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Dengan demikian, H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga terdapat hubungan negatif yang signifikan dan sangat kuat antara pola asuh permisif orang tua dengan kemandirian anak. Artinya, semakin tinggi kecenderungan pola asuh permisif orang tua, semakin rendah tingkat kemandirian anak.
PENINGKATAN DISIPLIN ANAK KELOMPOK B MELALUI KEGIATAN RUTIN CUCI TANGAN SEBELUM MAKAN DI TK DHARMA PRAJA DENPASAR Kadek Mardewi Widia Sari; Marsono Marsono; Nyoman Wiraadi Tria Ariani
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.12875

Abstract

Discipline is an important aspect of character development in early childhood that can be fostered through habituation activities in daily life. However, some children still experience difficulties in complying with rules and participating in school activities in an orderly manner. This study aimed to describe the implementation of a routine handwashing activity before meals and to analyze its impact on improving the discipline of Group B children at TK Dharma Praja Denpasar. The study employed a collaborative Classroom Action Research (CAR) design based on the Kemmis and Taggart model, conducted in two cycles consisting of planning, action, observation, and reflection stages. The participants were 18 Group B children, comprising 8 boys and 10 girls. Data were collected through observations, interviews, documentation, and field notes, and were analyzed using descriptive quantitative and qualitative techniques. The results showed that the routine handwashing activity before meals could be implemented consistently as a habituation practice that trained children to follow rules, queue orderly, wait for their turn, and comply with teachers’ instructions. The percentage of children achieving the categories of Developing as Expected and Developing Very Well increased from 27.8% in the pre-cycle to 50.0% in Cycle I and reached 77.8% in Cycle II. Therefore, the implementation of routine handwashing before meals was effective in improving the discipline of Group B children at TK Dharma Praja Denpasar. These findings indicate that handwashing before meals not only promotes clean and healthy living habits but also contributes to the development of discipline in early childhood. ABSTRAK Disiplin merupakan salah satu aspek penting dalam pembentukan karakter anak usia dini yang perlu dikembangkan melalui kegiatan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, masih terdapat anak yang belum mampu mematuhi aturan dan mengikuti kegiatan secara tertib di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan rutin cuci tangan sebelum makan serta menganalisis dampaknya terhadap peningkatan disiplin anak kelompok B di TK Dharma Praja Denpasar. Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) kolaboratif model Kemmis dan Taggart yang dilaksanakan dalam dua siklus melalui tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 18 anak kelompok B yang terdiri atas 8 anak laki-laki dan 10 anak perempuan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan, kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan rutin cuci tangan sebelum makan dapat dilaksanakan secara konsisten sebagai bentuk pembiasaan yang melatih anak mematuhi aturan, mengantre dengan tertib, menunggu giliran, serta mengikuti instruksi guru. Persentase anak yang mencapai kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dan Berkembang Sangat Baik (BSB) meningkat dari 27,8% pada pra-siklus menjadi 50,0% pada siklus I dan mencapai 77,8% pada siklus II. Dengan demikian, penerapan kegiatan rutin cuci tangan sebelum makan efektif dalam meningkatkan disiplin anak kelompok B di TK Dharma Praja Denpasar. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan cuci tangan sebelum makan tidak hanya mendukung pembiasaan hidup bersih dan sehat, tetapi juga berkontribusi terhadap pembentukan karakter disiplin anak usia dini.  
PENGARUH MICROTEACHING DAN LITERASI DIGITAL TERHADAP PELAKSANAAN PLP II MELALUI KEMAMPUAN TPACK PADA MAHASISWA PENDIDIKAN AKUNTANSI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN Jesika Trimanda Br Ginting; Andri Zainal; Jufri Darma; La Hanu; Haryani Pratiwi Sitompul
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.13037

Abstract

The implementation of School Field Introduction (PLP) II is a crucial stage for pre-service teachers to apply their teaching competencies directly in schools; however, accounting education students at Universitas Negeri Medan still exhibit gaps, including lesson modules that are not fully aligned with students' characteristics, suboptimal content mastery, and difficulties in managing heterogeneous classrooms. This study aims to analyze the influence of Microteaching and Digital Literacy on the Implementation of PLP II, both directly and through Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) as a mediating variable. The study employed a quantitative ex-post facto approach with a causal research design, involving 60 accounting education students from the 2022 cohort selected through total sampling technique. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using Structural Equation Modeling based on Partial Least Squares (SEM-PLS) with the assistance of SmartPLS. The results show that Microteaching has a positive and significant effect on both the Implementation of PLP II and TPACK competence, whereas Digital Literacy has no significant direct effect on the Implementation of PLP II but significantly influences TPACK competence. TPACK competence was found to have a positive and significant effect on the Implementation of PLP II and acts as a partial mediator in the Microteaching pathway and a full mediator in the Digital Literacy pathway. These findings conclude that digital technology mastery alone is insufficient to support optimal teaching practice; it must be converted into the ability to integrate technology, pedagogy, and content through strengthened TPACK, particularly through microteaching training oriented toward the integration of instructional technology prior to students undertaking PLP II. ABSTRAK Pelaksanaan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) II merupakan tahap krusial bagi mahasiswa kependidikan untuk mengaplikasikan kompetensi mengajar secara nyata di sekolah, namun pada mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Medan masih ditemukan kesenjangan berupa modul ajar yang belum sesuai karakteristik siswa, penguasaan materi yang belum maksimal, serta kesulitan mengelola kelas yang heterogen. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Microteaching dan Literasi Digital terhadap Pelaksanaan PLP II, baik secara langsung maupun melalui Kemampuan Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) sebagai variabel mediasi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif jenis ex-post facto dengan desain kausalitas, melibatkan 60 mahasiswa Pendidikan Akuntansi Stambuk 2022 yang ditentukan melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Square (SEM-PLS) dengan bantuan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Microteaching berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pelaksanaan PLP II maupun Kemampuan TPACK, sedangkan Literasi Digital tidak berpengaruh signifikan secara langsung terhadap Pelaksanaan PLP II, namun berpengaruh signifikan terhadap Kemampuan TPACK. Kemampuan TPACK terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pelaksanaan PLP II serta berperan sebagai mediator parsial pada jalur Microteaching dan mediator penuh pada jalur Literasi Digital. Temuan ini menyimpulkan bahwa penguasaan teknologi digital semata belum cukup untuk mendukung praktik mengajar yang optimal, melainkan perlu dikonversi menjadi kemampuan integrasi teknologi, pedagogi, dan konten melalui penguatan TPACK, khususnya melalui pembekalan microteaching yang berorientasi pada integrasi teknologi pembelajaran sebelum mahasiswa melaksanakan PLP II.    
ANALISIS ASESMEN DIAGNOSTIK PADA KEMAMPUAN MEMBACA SISWA KELAS II SD NEGERI 230 PALEMBANG Khalifah Khalifah; Yasir Arafat; Susanti Faipri Selegi
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i4.13086

Abstract

Non-cognitive diagnostic assessment plays a crucial role in mapping students' psychological readiness and learning environment during the early literacy stage. A holistic understanding of these affective factors provides the foundation for teachers to design differentiated and adaptive reading instruction. This study aims to determine the results of a non-cognitive diagnostic assessment of the reading ability of second-grade students at SD Negeri 230 Palembang. This study employed a qualitative descriptive method involving 25 students as research subjects. Data collection techniques were conducted through structured observation, in-depth interviews, questionnaires, and documentation. Data were analyzed inductively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results showed that students' reading abilities varied across fluent, moderately fluent, and struggling categories. Students' reading proficiency is significantly influenced by non-cognitive factors, including reading interest, learning motivation, self-confidence, emotional stability, parental support, and preschool educational background. Based on the questionnaire analysis, the overall non-cognitive condition of the students achieved an average percentage of 61.33%, categorized as moderate to high. Thus, conducting non-cognitive diagnostic assessments is essential for detecting students' internal and external strengths and barriers to guide pedagogical interventions in elementary school reading instruction. ABSTRAK Asesmen diagnostik non-kognitif memegang peranan krusial dalam memetakan kesiapan psikologis dan lingkungan belajar siswa pada fase literasi awal membaca permulaan. Pemahaman holistik terhadap faktor afektif ini menjadi dasar utama bagi guru dalam merancang pembelajaran membaca yang terdiferensiasi dan adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil asesmen diagnostik non-kognitif terhadap kemampuan membaca siswa kelas II SD Negeri 230 Palembang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian sebanyak 25 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terstruktur, wawancara mendalam, angket kuesioner, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa masih bervariasi antara kategori lancar, cukup lancar, dan terbata-bata. Kemampuan membaca siswa sangat dipengaruhi oleh faktor non-kognitif, meliputi minat membaca, motivasi belajar, kepercayaan diri, kematangan emosional, dukungan orang tua, serta latar belakang pendidikan prasekolah. Berdasarkan analisis angket, kondisi non-kognitif siswa secara keseluruhan memperoleh persentase rata-rata sebesar 61,33% (kategori cukup/tinggi). Dengan demikian, pelaksanaan asesmen diagnostik non-kognitif sangat esensial untuk mendeteksi potensi dan hambatan internal-eksternal siswa sebagai landasan intervensi pembelajaran membaca di sekolah dasar.