cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS
ISSN : 27979431     EISSN : 27978842     DOI : https://doi.org/10.51878/social.v1i2.447
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 630 Documents
KOMPARASI HASIL PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING DAN PROBLEM SOLVING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA IPS Acep Acep; Abdurahman Abdurahman
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.11886

Abstract

ABSTRACT Critical thinking and learning independence are essential competencies in Social Studies (IPS) learning, requiring the selection of appropriate instructional models. This study aimed to analyze differences in students’ critical thinking skills and learning independence through the implementation of Discovery Learning, Problem Solving, and conventional instruction at SMP Pelita 1 Depok. The study employed a quasi-experimental method with a Pretest–Posttest Nonequivalent Control Group Design. The sample consisted of 111 seventh-grade students selected through cluster random sampling, with 37 students in each group. Data were collected using essay tests and a four-point Likert-scale questionnaire, then analyzed using ANOVA and the LSD post hoc test with SPSS 26. The results indicated significant differences among groups in critical thinking and learning independence (p < 0.05). Regarding critical thinking, Discovery Learning and Problem Solving differed significantly from conventional instruction but did not differ significantly from each other. Regarding learning independence, Discovery Learning differed significantly from both Problem Solving and conventional instruction, whereas Problem Solving did not differ significantly from conventional instruction. These findings indicate that the two models produce different patterns of achievement, suggesting that their selection should be aligned with the learning objectives of Social Studies instruction. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang memerlukan pemilihan model pembelajaran sesuai. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar siswa melalui penerapan Discovery Learning, Problem Solving, dan pembelajaran konvensional di SMP Pelita 1 Depok. Penelitian menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain Pretest–Posttest Nonequivalent Control Group Design. Sampel terdiri atas 111 siswa kelas VII yang dipilih melalui cluster random sampling, dengan masing-masing kelompok berjumlah 37 siswa. Data dikumpulkan menggunakan tes uraian dan angket Likert empat poin, kemudian dianalisis melalui ANOVA dan uji lanjut LSD menggunakan SPSS 26. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antarkelompok pada kemampuan berpikir kritis dan kemandirian belajar (p < 0,05). Pada kemampuan berpikir kritis, Discovery Learning dan Problem Solving berbeda signifikan dari pembelajaran konvensional, tetapi tidak berbeda signifikan satu sama lain. Pada kemandirian belajar, Discovery Learning berbeda signifikan dari Problem Solving dan pembelajaran konvensional, sedangkan Problem Solving tidak berbeda signifikan dari pembelajaran konvensional. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua model memiliki pola capaian berbeda, sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran IPS.
KOPERASI DESA MERAH PUTIH DAN KEMANDIRIAN DESA DI INDONESIA: TINJAUAN GOVERNANCE DALAM PENGUATAN EKONOMI LOKAL Rosaria Oktaviani
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i4.13200

Abstract

Post-enactment of the Village Law in Indonesia, rural development has undergone transformation through strengthened village authority, fiscal decentralization, and local resource utilization; however, genuine village self-reliance continues to face critical structural challenges, including chronic dependence on intergovernmental fiscal transfers, restricted capital access, low added value of agrarian commodities, and fragile economic governance. This article aims to critically analyze the strategic role of the Merah Putih Village Cooperative (KDMP) as an instrument for local economic reinforcement and village self-reliance through a governance perspective. Employing a qualitative approach with a library research method, this study reviewed 38 peer-reviewed academic publications and credible policy documents published within the last five years, identified through structured search protocols. The secondary data were analyzed through systematic thematic condensation, governance-dimension coding, and comparative inter-literature synthesis to derive robust conceptual propositions. The findings indicate that KDMP plays a strategic role in consolidating fragmented local supply chains, expanding inclusive micro-financing, and elevating community collective bargaining power against rent-seeking intermediaries. Furthermore, the rigorous institutionalization of good governance principles—specifically transparency, downward accountability, democratic member participation, operational efficiency, and multi-actor collaborative governance—is a fundamental prerequisite for preventing institutional failure and sustaining enterprise viability. Consequently, KDMP functions not merely as an ordinary community-based economic enterprise, but as a vital local governance institution integrating social ownership and market efficiency to achieve resilient, long-term rural self-reliance. ABSTRAK Transformasi pembangunan desa pasca-Undang-Undang Desa mendorong penguatan kewenangan, kapasitas fiskal, dan pendayagunaan potensi lokal, tetapi kemandirian desa masih dihadapkan pada ketergantungan transfer pemerintah, keterbatasan akses modal, rendahnya nilai tambah komoditas, dan lemahnya tata kelola kelembagaan ekonomi. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis urgensi pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai instrumen penguatan ekonomi lokal dan kemandirian desa dalam tinjauan governance. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) terhadap 38 literatur bereputasi terbitan lima tahun terakhir yang diseleksi melalui protokol penelusuran sistematis. Data sekunder dianalisis melalui tahapan kondensasi data, kategorisasi tematik relasi governance, dan sintesis komparatif antarliteratur guna merumuskan proposisi teoretis yang kredibel. Hasil kajian menunjukkan bahwa KDMP berfungsi strategis dalam mengonsolidasi rantai pasok komoditas desa, memperluas akses pembiayaan mikro inklusif, dan meningkatkan daya tawar kolektif masyarakat terhadap perantara pasar. Penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipasi aktif anggota, efisiensi operasional, dan kolaborasi multipihak (collaborative governance) terbukti menjadi determinan mutlak dalam memitigasi risiko kegagalan kelembagaan dan menjaga keberlanjutan usaha desa. Dengan demikian, KDMP tidak hanya berperan sebagai entitas bisnis kerakyatan, melainkan bertindak sebagai institusi tata kelola yang memadukan kepemilikan sosial dan efisiensi pasar demi mewujudkan kemandirian ekonomi desa yang berdaya tahan.  
STRATEGI PENGEMBANGAN BADAN USAHA MILIK DESA (STUDI KASUS BIDANG PAM (LAYANAN AIR BERSIH) PADA BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDES) SUKOMUKTI DESA SUKOREJOKULON KECAMATAN KALIDAWIR KABUPATEN TULUNGAGUNG Agilia Putri Andoko; Muhammad Anasrulloh; Ekbal Santoso
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i4.13510

Abstract

Clean water supply in rural areas frequently encounters technical distribution problems and seasonal discharge fluctuations, requiring adaptive institutional governance. This study aims to analyze the development strategy of the Suko Mukti Village-Owned Enterprise (BUMDes) within the "Sumber Mukti" village clean water service unit in Sukorejokulon Village, Kalidawir District, Tulungagung Regency, along with its driving and constraining factors. A descriptive qualitative method with a case study design was employed. Data were gathered through field observation, documentation, and in-depth interviews with eight key informants selected purposively. The results indicate that enterprise development is pursued through local spring optimization, distribution network rehabilitation, volumetric tariff formulation, and institutional maintenance coordination. This initiative is supported by continuous water discharge, village government capital equity, and active community participation. Nonetheless, the enterprise still faces operational challenges, notably seasonal discharge drops during prolonged dry seasons and billing payment delays among several consumers. ABSTRAK Penyediaan air bersih di perdesaan sering kali menghadapi kendala teknis jaringan dan fluktuasi debit musiman, sehingga memerlukan tata kelola kelembagaan yang adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sukomukti pada unit usaha PAM Desa layanan air bersih (Sumber Mukti) di Desa Sukorejokulon, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, beserta faktor pendukung dan penghambatnya. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap delapan informan kunci yang dipilih secara purposif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan unit usaha dilakukan melalui optimalisasi sumber mata air lokal, rehabilitasi jaringan transmisi dan distribusi, penataan sistem tarif berbasis volume, serta peningkatan koordinasi pemeliharaan. Keberhasilan program ini didukung oleh ketersediaan debit mata air alami, komitmen penyertaan modal pemerintah desa, serta partisipasi aktif warga. Meskipun demikian, unit usaha masih dihadapkan pada tantangan penurunan debit saat kemarau panjang dan tunggakan iuran bulanan dari sebagian kecil konsumen.    
PENGARUH MODEL GUIDED INQUIRY BERBASIS LOCAL NEWS PICTORIAL RIDDLE TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS Ratih Pramesthi; Listyo Yudha Irawan; Emilia Nanda Sartika
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13706

Abstract

ABSTRACT Critical thinking skills are essential 21st-century competencies that need to be developed in learning in accordance with the demands of the Merdeka Curriculum. However, classroom conditions indicate that students’ critical thinking skills remain relatively low. This study aimed to analyze the effect of the guided inquiry learning model based on local news pictorial riddles on the critical thinking skills of eighth-grade students in the topic of Social Conflict and Integration. This study employed a quantitative approach using a pre-experimental method with a one-group pretest-posttest design. The participants were 29 students from class VIII-F of SMP Negeri 26 Malang in the 2025/2026 academic year, selected through purposive sampling. Data were collected using a five-item essay test developed based on five critical thinking indicators proposed by Robert H. Ennis. Data analysis included the Shapiro-Wilk normality test, paired sample t-test, and N-Gain Score analysis. The results showed a significant difference in students’ critical thinking skills before and after the implementation of the learning model, with a Sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05. Descriptively, 86.2% of students were categorized as Poor in the pretest, while in the posttest, 51.7% reached the Good category and 13.8% reached the Very Good category. The mean N-Gain Score was 0.613, which was categorized as Moderate. Therefore, the guided inquiry learning model based on local news pictorial riddles had a significant effect and moderate effectiveness in improving students’ critical thinking skills in the topic of Social Conflict and Integration. ABSTRAK Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi penting abad ke-21 yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka. Namun, kondisi pembelajaran di lapangan menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran guided inquiry berbasis local news pictorial riddle terhadap keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas VIII pada materi Konflik dan Integrasi Sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pra-eksperimen dan desain one group pretest-posttest. Subjek penelitian terdiri atas 29 peserta didik kelas VIII-F SMP Negeri 26 Malang tahun ajaran 2025/2026 yang ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan tes uraian sebanyak lima butir yang disusun berdasarkan lima indikator keterampilan berpikir kritis Robert H. Ennis. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas Shapiro-Wilk, uji paired sample t-test, dan uji N-Gain Score. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir kritis sebelum dan sesudah pembelajaran, dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05. Secara deskriptif, pada pretest sebanyak 86,2% peserta didik berada pada kategori Kurang, sedangkan pada posttest sebanyak 51,7% mencapai kategori Baik dan 13,8% mencapai kategori Sangat Baik. Nilai rata-rata N-Gain Score sebesar 0,613 berada pada kategori Sedang. Dengan demikian, model pembelajaran guided inquiry berbasis local news pictorial riddle berpengaruh signifikan dan cukup efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik pada materi Konflik dan Integrasi Sosial.
OPTIMALISASI PENGELOLAAN WAKAF PRODUKTIF DALAM MENDUKUNG PENCAPAIAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs): STUDI KASUS MASJID AL-FALAH JAMBU AIA BUKITTINGGI Nurvina Hidayati; Aidil Alfin
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.13818

Abstract

Productive waqf is an Islamic economic instrument with substantial potential to support the Sustainable Development Goals (SDGs), yet its management at the mosque level is generally still run conventionally by part-time administrators without a professional manager, leaving asset potential underutilized. This condition is evident at Al-Falah Mosque, Jambu Aia, Bukittinggi, which has managed seven commercial units and two rental houses for more than three years without a permanent nazhir or digitalized administrative system, making it a relevant case for examining the challenges faced by small-to-medium mosque-based nazhir in Indonesia. This study aims to analyze the management of productive waqf, identify the obstacles encountered, and formulate an optimization model. The study employs a qualitative approach with a case study design; data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The findings show that productive waqf assets contribute to SDG 1, SDG 4, SDG 8, SDG 11, SDG 16, and SDG 17, although optimization remains constrained by limited nazhir capacity, minimal business diversification, and weak administrative digitalization. This study formulates the VINA Model (Value Creation, Integrated Governance, Nazhir Professionalism, Asset Productivity) as an SDG-based optimization framework for mosque-based productive waqf. ABSTRAK Wakaf produktif merupakan instrumen ekonomi syariah yang berpotensi besar mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), namun pengelolaannya di tingkat masjid umumnya masih dijalankan secara konvensional oleh pengurus paruh waktu tanpa manajer profesional, sehingga potensi aset belum optimal termanfaatkan. Kondisi ini tercermin pada Masjid Al-Falah Jambu Aia Bukittinggi, yang telah mengelola tujuh unit ruko dan dua rumah sewa selama lebih dari tiga tahun namun belum memiliki nazhir tetap maupun sistem administrasi yang terdigitalisasi, sehingga menarik untuk dikaji sebagai representasi tantangan nazhir masjid berskala kecil-menengah di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengelolaan wakaf produktif, mengidentifikasi kendala, serta merumuskan model optimalisasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus; data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan aset wakaf produktif berkontribusi terhadap SDG 1, SDG 4, SDG 8, SDG 11, SDG 16, dan SDG 17, namun optimalisasinya masih terkendala keterbatasan kapasitas nazhir, minimnya diversifikasi usaha, dan lemahnya digitalisasi administrasi. Penelitian ini merumuskan Model VINA (Value Creation, Integrated Governance, Nazhir Professionalism, Asset Productivity) sebagai kerangka optimalisasi wakaf produktif berbasis SDGs bagi nazhir masjid.
CAMPUR KODE BAHASA UMA DALAM TUTURAN BAHASA RAMPI Melti Tasya; Idrus Idrus; Al’afandi Al’afandi
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14199

Abstract

This research is motivated by the phenomenon of the use of two local languages, namely the Rampi and Uma languages, in the daily interactions of the people of Mamu Village, Pipikoro District, Sigi Regency. The use of these two languages indicates language contact that allows code-mixing to occur in community communication. This research aims to describe the forms of code-mixing from Uma into Rampi and to identify the factors that cause code-mixing in the interactions of the people of Mamu Village. This research employs a descriptive qualitative approach. The data sources consist of utterances produced by the people of Mamu Village, collected through observation, interviews, participant observation, non-participant observation, recording, and note-taking techniques. The data were analyzed through the stages of transcription, identification, classification, and interpretation based on sociolinguistic studies and code-mixing theory. The results show that the forms of code-mixing found include the insertion of words, phrases, and clauses, with word insertion from Uma into Rampi being the most dominant form. The factors causing code-mixing include speaker-related factors, language habits, social closeness between speakers, the bilingual environment, and the desire to clarify the intended meaning of an utterance. This phenomenon demonstrates the close social relationship between Uma and Rampi speakers and reflects the dynamics of language contact in the daily life of the people of Mamu Village. Thus, code-mixing functions not only as a means of communication but also reflects the social and cultural identity of the local community. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena penggunaan dua bahasa daerah, yaitu bahasa Rampi dan bahasa Uma, dalam interaksi sehari-hari masyarakat Desa Mamu, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi. Penggunaan kedua bahasa tersebut menunjukkan adanya kontak bahasa yang memungkinkan terjadinya campur kode dalam komunikasi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk campur kode bahasa Uma terhadap bahasa Rampi serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode dalam interaksi masyarakat Desa Mamu. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian berupa tuturan masyarakat Desa Mamu yang diperoleh melalui observasi, wawancara, teknik simak libat cakap, simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Data dianalisis melalui tahap transkripsi, identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi berdasarkan kajian sosiolinguistik dan teori campur kode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk campur kode yang ditemukan meliputi penyisipan kata, frasa, dan klausa, dengan bentuk yang paling dominan berupa penyisipan kata bahasa Uma ke dalam tuturan bahasa Rampi. Faktor penyebab campur kode meliputi faktor penutur, kebiasaan berbahasa, kedekatan sosial antarpembicara, lingkungan bilingual, dan keinginan memperjelas maksud tuturan. Fenomena tersebut menunjukkan adanya hubungan sosial yang erat antara penutur bahasa Uma dan bahasa Rampi serta mencerminkan dinamika kontak bahasa dalam kehidupan masyarakat Desa Mamu. Dengan demikian, campur kode tidak hanya berperan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga mencerminkan identitas sosial dan budaya masyarakat setempat.
ANALISIS SEMIOTIKA TRADISI MAKAN BERADAB PADA PERNIKAHAN ADAT MELAYU DI KABUPATEN LANGKAT Miftahul Jannah; Tanti Kurnia Sari
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14240

Abstract

The makan beradab tradition is an integral part of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency and serves as a medium for transmitting cultural values through a series of symbolic practices. However, social and cultural changes brought about by modernization have increasingly led this tradition to be perceived merely as a ceremonial procession, while the symbolic meanings embedded in each stage have gradually diminished, particularly among younger generations. This phenomenon highlights the need for an in-depth study to uncover the symbolic meanings preserved within the makan beradab tradition as an effort to preserve Malay cultural heritage. This study aims to describe the denotative, connotative, and mythical meanings represented in the makan beradab tradition of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency based on Roland Barthes' semiotic theory. This research employed a qualitative approach using a cultural semiotic study design. Data were collected through observations, interviews with Malay traditional leaders and other informants knowledgeable about the makan beradab tradition, documentation, and a literature review. The data were analyzed using the qualitative data analysis model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, combined with Roland Barthes' concepts of denotation, connotation, and myth. The findings reveal that every stage of the makan beradab tradition embodies symbolic meanings associated with responsibility, cooperation, affection, respect, mutual care, gratitude, and family harmony. Furthermore, these meanings have evolved into cultural myths that are transmitted across generations as moral guidelines for building harmonious family life in accordance with Malay cultural values. Therefore, the makan beradab tradition should not merely be regarded as a component of the wedding ceremony but also as a medium for transmitting cultural values and strengthening the cultural identity of the Malay community in Langkat Regency. ABSTRAK Tradisi makan beradab merupakan salah satu rangkaian penting dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat yang sarat dengan makna simbolik dan berfungsi sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya. Namun, perkembangan modernisasi dan perubahan pola pikir masyarakat menyebabkan tradisi ini semakin sering dipahami hanya sebagai bagian dari prosesi seremonial, sementara makna simbolik yang terkandung dalam setiap tahapannya mulai mengalami pendangkalan, terutama di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kajian yang mampu mengungkap kembali makna simbolik yang terkandung dalam tradisi makan beradab sebagai upaya pelestarian budaya Melayu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos pada tradisi makan beradab dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat berdasarkan teori semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi semiotika budaya. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan informan yang memahami tradisi makan beradab, dokumentasi, serta studi pustaka. Data dianalisis menggunakan model analisis Miles, Huberman, dan Saldaña yang dipadukan dengan konsep denotasi, konotasi, dan mitos Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan dalam tradisi makan beradab mengandung makna simbolik yang merepresentasikan nilai tanggung jawab, kerja sama, kasih sayang, penghormatan, kepedulian, rasa syukur, dan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga. Makna-makna tersebut selanjutnya membentuk mitos budaya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai pedoman moral masyarakat Melayu dalam membangun keluarga. Dengan demikian, tradisi makan beradab tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian upacara pernikahan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan penguatan identitas masyarakat Melayu di Kabupaten Langkat.
STRATEGI GURU IPS MENGGUNAKAN PENDEKATAN DEEP LEARNING DALAM PEMBELAJARAN IPS KELAS VII SMP NEGERI 1 LUHAK NAN DUO Annisa Nur Rasyida; Sri Rahayu; Harisnawati Harisnawati
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i4.14753

Abstract

The implementation of the Independent Curriculum requires educators to design conscious, meaningful, and joyful learning through a deep learning approach. However, students in class VII.D1 at SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo still struggle with critical thinking, constructing in-depth arguments, and relating social studies concepts to everyday phenomena. Based on these problems, this study aims to analyze the social studies teacher's strategies in applying the deep learning approach during the planning, execution, and assessment stages in class VII.D1 at SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo, West Pasaman Regency. This study employed a descriptive qualitative approach. Informants were selected using purposive sampling, consisting of the school principal, vice principal for curriculum, one social studies teacher, and 30 students from class VII.D1. Data were collected through non-participant observation, in-depth interviews, and document review, then analyzed through data condensation, data display, and conclusion drawing. The results demonstrate that the teacher's strategies encompass three integrated stages. In the planning stage, the teacher designed teaching modules, student worksheets, landscape domino games, and authentic assessments. In the execution stage, the teacher stimulated mindful learning, meaningful learning, and joyful learning. In the assessment stage, the teacher carried out process assessments, dialogic feedback, and structured reflections. ABSTRAK Implementasi Kurikulum Merdeka menuntut guru menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui pendekatan deep learning. Namun, pada kenyataannya peserta didik kelas VII.D1 SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo masih mengalami hambatan dalam berpikir kritis, berargumentasi secara mendalam, serta mengaitkan materi IPS dengan realitas lingkungan sekitar. Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi guru IPS dalam menerapkan pendekatan deep learning pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran di kelas VII.D1 SMP Negeri 1 Luhak Nan Duo Kabupaten Pasaman Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Informan penelitian ditetapkan melalui teknik purposive sampling yang mencakup kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, satu orang guru IPS, dan 30 orang peserta didik kelas VII.D1. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi, yang kemudian dianalisis melalui tahap kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi guru diwujudkan melalui tiga tahapan terstruktur. Pada tahap perencanaan, guru menyusun modul ajar, lembar kerja peserta didik (LKPD), media kartu domino bentang alam, serta instrumen asesmen autentik. Pada tahap pelaksanaan, guru menstimulasi kesadaran (mindful learning), kebermaknaan konsep (meaningful learning), dan suasana menyenangkan (joyful learning). Pada tahap evaluasi, guru menerapkan penilaian performa, pemberian balikan instruksional secara dialogis, serta kegiatan refleksi terpadu.  
PENGARUH KEWIRAUSAHAAN DIGITAL DAN CUSTOMER RELATIONSHIP MANAGEMENT (CRM) TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Hidayatul Husna; Waspodo Tjipto Subroto
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14983

Abstract

ABSTRACT Digital business transformation has changed how businesses create value, interact with customers, and maintain long-term relationships. However, findings concerning the relationship between digital entrepreneurship and Customer Relationship Management (CRM) and customer loyalty remain scattered across diverse research contexts, necessitating a more focused synthesis. This study aims to identify and synthesize empirical evidence on the relationship between digital entrepreneurship and CRM and customer loyalty, including mediating or moderating mechanisms and contextual factors influencing these relationships. The study employed a Systematic Literature Review (SLR) approach using the PRISMA protocol through searches of Google Scholar, Scopus, and ScienceDirect. The literature selection process yielded 70 articles that met the established criteria and were analyzed using thematic synthesis. The synthesis indicates that digital entrepreneurship and CRM tend to have positive relationships with customer loyalty, particularly through strengthened digital interactions, responsiveness, personalization, and customer experience. These relationships are influenced by business sector, geographical context, research characteristics, and psychological mechanisms such as trust, satisfaction, and repurchase intention. The findings affirm that customer loyalty is not formed through technology adoption alone, but through the integration of digital capabilities with sustainable customer relationship management. The study provides a strategic foundation for MSMEs to integrate digital innovation and CRM to strengthen customer loyalty. ABSTRAK Transformasi bisnis digital mengubah cara pelaku usaha menciptakan nilai, berinteraksi dengan pelanggan, dan mempertahankan hubungan jangka panjang. Namun, temuan mengenai keterkaitan kewirausahaan digital dan Customer Relationship Management (CRM) dengan loyalitas pelanggan masih tersebar dalam beragam konteks penelitian sehingga diperlukan sintesis yang lebih terarah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mensintesis bukti empiris mengenai hubungan kewirausahaan digital dan CRM dengan loyalitas pelanggan, termasuk mekanisme mediasi atau moderasi serta faktor kontekstual yang memengaruhi hubungan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol PRISMA melalui penelusuran pada Google Scholar, Scopus, dan ScienceDirect. Dari proses seleksi literatur diperoleh 70 artikel yang memenuhi kriteria dan dianalisis menggunakan thematic synthesis. Hasil sintesis menunjukkan bahwa kewirausahaan digital dan CRM cenderung memiliki hubungan positif dengan loyalitas pelanggan, terutama melalui penguatan interaksi digital, responsivitas, personalisasi, dan pengalaman pelanggan. Hubungan tersebut dipengaruhi oleh sektor usaha, konteks geografis, karakteristik penelitian, serta mekanisme psikologis berupa kepercayaan, kepuasan, dan niat pembelian ulang. Temuan ini menegaskan bahwa loyalitas pelanggan tidak terbentuk dari penggunaan teknologi semata, melainkan dari integrasi kapabilitas digital dengan pengelolaan hubungan pelanggan secara berkelanjutan. Hasil penelitian memberikan dasar strategis bagi UMKM untuk mengintegrasikan inovasi digital dan CRM dalam memperkuat loyalitas pelanggan.
PENERAPAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPAS MATERI JUAL BELI PADA PESERTA DIDIK KELAS IV UPTD SD NEGERI 070979 SIFALAETE Delvin Yanti Saputri Gulo; Otilina Gulo; Eka Periaman Zai; Arianto Lahagu
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.15032

Abstract

This research is motivated by the low learning outcomes of students in the subject of science due to learning that is still teacher-centered and not contextual. This study aims to describe the application of the Contextual Teaching and Learning model and analyze the improvement in student learning outcomes after its implementation. This research was conducted at the UPTD of SD Negeri 070979 Sifalaete with subjects of 24 students of grade IV semester II of the 2025/2026 academic year. The method used is Classroom Action Research (CAR) in two cycles. The research instruments include observation sheets, learning outcome tests, and documentation, with data collection techniques through observation, learning outcome tests and documentation. The results of this study indicate that the application of the Contextual Teaching and Learning model in the subject of science in grade IV of UPTD SD Negeri 070979 Sifalaete is able to improve the learning process and outcomes in each cycle. The average teacher activity increased from 64.29% in cycle I to 86.62% in cycle II and student activity increased from 60.93% in cycle I to 85.42% in cycle II and the average student learning outcomes increased from 65,42 with classical completion of 62,5% in cycle I to 82.75 with classical completion of 91.67% in cycle II. Thus, learning that links material to real-life contexts has been proven to increase student engagement and learning outcomes. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPAS akibat pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan belum kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model Contextual Teaching and Learning serta menganalisis peningkatan hasil belajar peserta didik setelah penerapannya. Penelitian ini dilaksanakan di UPTD SD Negeri 070979 Sifalaete dengan subjek 24 peserta didik kelas IV semester II tahun ajaran 2025/2026. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam dua siklus. Instrumen penelitian meliputi lembar observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, tes hasil belajar dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model Contextual Teaching and Learning pada mata pelajaran IPAS dikelas IV UPTD SD Negeri 070979 Sifalaete mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran pada setiap siklus. Rata-rata aktivitas guru dari 64,29% pada siklus I menjadi 86,62% pada siklus II dan aktivitas peserta didik dari 60,93% pada siklus I menjadi 85,42% pada siklus II serta rata-rata hasil belajar peserta didik dari 65,42 dengan ketuntasan klasikal 62,5% pada siklus I menjadi 82,75 dengan ketuntasan klasikal 91,67% pada siklus II. Dengan demikian, pembelajaran yang mengaitkan materi dengan konteks kehidupan nyata terbukti meningkatkan keterlibatan dan hasil belajar peserta didik.