cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS
ISSN : 27979431     EISSN : 27978842     DOI : https://doi.org/10.51878/social.v1i2.447
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan IPS.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 600 Documents
HUBUNGAN SELF-EFFICACY AKADEMIK DENGAN STRATEGI COPING MURID DALAM MENGHADAPI SOAL SULIT IPS BERBASIS PEMECAHAN MASALAH Wahyu Sulistiyowati; Toto Nusantara
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14235

Abstract

ABSTRACT Differences in students’ responses when dealing with social studies tasks involving problem-solving indicate that success in meeting academic demands is influenced not only by subject-matter mastery but also by confidence in one’s abilities and ways of coping with difficulties. This study aimed to analyze the relationship between academic self-efficacy and students’ coping strategies in completing problem-solving-based social studies tasks. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 28 seventh-grade students of SMP Negeri 25 Malang as participants. Data were collected using a four-point Likert-scale questionnaire that had undergone validity and reliability testing. The analysis was conducted through descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, linearity testing, and the Pearson Product-Moment correlation test using SPSS. The findings showed that the data for both variables were normally distributed and demonstrated a linear relationship. The correlation analysis produced a coefficient of 0.744 with a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a positive and significant relationship between academic self-efficacy and coping strategies. These findings suggest that students with stronger confidence in their academic abilities tend to demonstrate more adaptive ways of dealing with learning difficulties. Therefore, strengthening students’ academic self-efficacy should be considered an important aspect of learning to support their ability to cope with tasks requiring problem-solving. ABSTRAK Perbedaan respons siswa ketika menghadapi tugas IPS berbasis pemecahan masalah menunjukkan bahwa keberhasilan menyelesaikan tuntutan akademik tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi, tetapi juga dengan keyakinan terhadap kemampuan diri dan cara menghadapi kesulitan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara self-efficacy akademik dan strategi coping siswa dalam menyelesaikan tugas IPS berbasis pemecahan masalah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan korelasional yang melibatkan 28 siswa kelas VII-C SMP Negeri 25 Malang sebagai partisipan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert empat poin yang telah melalui pengujian validitas dan reliabilitas. Analisis dilakukan secara bertahap melalui statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, uji linearitas, dan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data kedua variabel berdistribusi normal dan memiliki hubungan linear. Uji korelasi menghasilkan koefisien sebesar 0,744 dengan nilai signifikansi 0,000 (<0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara self-efficacy akademik dan strategi coping. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa dengan keyakinan akademik yang lebih baik cenderung memiliki cara yang lebih adaptif dalam menghadapi kesulitan pembelajaran. Oleh karena itu, penguatan self-efficacy akademik perlu menjadi perhatian dalam pembelajaran untuk mendukung kemampuan siswa menghadapi tugas yang menuntut pemecahan masalah.
ANALISIS SEMIOTIKA BALE PADA ADAT PERNIKAHAN MELAYU PESISIR Naia Rencani Suci; Tanti Kurnia Sari
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14238

Abstract

Bale is an important component of Coastal Malay traditional weddings that contains various symbolic meanings and cultural values. Social changes and modernization have caused some members of the community, particularly younger generations, to recognize Bale merely as part of the wedding ceremony without fully understanding the meanings embedded in its components. Research on Bale using Roland Barthes’s semiotic approach among the Coastal Malay community in Langkat Regency remains limited. This study aims to analyze the denotative, connotative, and mythical meanings embedded in Bale used in Coastal Malay traditional weddings. The study employed a descriptive qualitative method with Roland Barthes’s semiotic analysis. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature review. The participants consisted of 12 informants selected through purposive sampling, including five parents, two married individuals who had conducted their weddings according to Malay customs, three adolescents, one traditional wedding facilitator (telangkai), and one Bale maker. The findings indicate that eight Bale components contain symbolic meanings: the structure and tiers of Bale, yellow glutinous rice, kemuncak flowers, eggs and egg flowers, inti, chicken, golden-yellow color, and flags. These meanings are associated with marital harmony, unity, happiness, prosperity, offspring, responsibility, honor, and cultural identity. This study demonstrates that Bale functions not merely as a traditional wedding accessory but also as a cultural sign system integrating Malay customary values, family life, and Islamic teachings through Roland Barthes’s three levels of meaning. These findings emphasize the importance of understanding the symbolic meanings of Bale as part of efforts to preserve Coastal Malay cultural heritage. ABSTRAK Bale merupakan salah satu perlengkapan penting dalam adat pernikahan Melayu Pesisir yang mengandung berbagai makna simbolik dan nilai budaya. Perubahan sosial dan perkembangan zaman menyebabkan sebagian masyarakat, terutama generasi muda, masih mengenal Bale sebagai bagian dari upacara tanpa memahami makna yang terkandung dalam setiap komponennya. Penelitian mengenai Bale dengan pendekatan semiotika Roland Barthes pada masyarakat Melayu Pesisir Kabupaten Langkat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam Bale pada pernikahan adat Melayu Pesisir. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Informan penelitian berjumlah 12 orang yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas lima orang tua, dua orang yang telah menikah dan menggunakan adat Melayu, tiga orang remaja, satu orang telangkai, dan satu orang pembuat Bale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan komponen Bale yang memiliki makna simbolik, yaitu struktur dan tingkatan Bale, pulut kuning, bunga kemuncak, telur dan bunga telur, inti, ayam, warna kuning keemasan, dan bendera. Makna tersebut berkaitan dengan keharmonisan rumah tangga, persatuan, kebahagiaan, kesejahteraan, keturunan, tanggung jawab, kehormatan, dan identitas budaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa Bale tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan adat, tetapi juga membentuk sistem tanda budaya yang mengintegrasikan nilai adat Melayu, kehidupan kekeluargaan, dan ajaran Islam melalui tiga tingkat pemaknaan Roland Barthes. Temuan ini menegaskan pentingnya pemahaman makna simbolik Bale sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Melayu Pesisir.
ANALISIS SEMIOTIKA TRADISI MAKAN BERADAB PADA PERNIKAHAN ADAT MELAYU DI KABUPATEN LANGKAT Miftahul Jannah; Tanti Kurnia Sari
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14240

Abstract

The makan beradab tradition is an integral part of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency and serves as a medium for transmitting cultural values through a series of symbolic practices. However, social and cultural changes brought about by modernization have increasingly led this tradition to be perceived merely as a ceremonial procession, while the symbolic meanings embedded in each stage have gradually diminished, particularly among younger generations. This phenomenon highlights the need for an in-depth study to uncover the symbolic meanings preserved within the makan beradab tradition as an effort to preserve Malay cultural heritage. This study aims to describe the denotative, connotative, and mythical meanings represented in the makan beradab tradition of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency based on Roland Barthes' semiotic theory. This research employed a qualitative approach using a cultural semiotic study design. Data were collected through observations, interviews with Malay traditional leaders and other informants knowledgeable about the makan beradab tradition, documentation, and a literature review. The data were analyzed using the qualitative data analysis model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, combined with Roland Barthes' concepts of denotation, connotation, and myth. The findings reveal that every stage of the makan beradab tradition embodies symbolic meanings associated with responsibility, cooperation, affection, respect, mutual care, gratitude, and family harmony. Furthermore, these meanings have evolved into cultural myths that are transmitted across generations as moral guidelines for building harmonious family life in accordance with Malay cultural values. Therefore, the makan beradab tradition should not merely be regarded as a component of the wedding ceremony but also as a medium for transmitting cultural values and strengthening the cultural identity of the Malay community in Langkat Regency. ABSTRAK Tradisi makan beradab merupakan salah satu rangkaian penting dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat yang sarat dengan makna simbolik dan berfungsi sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya. Namun, perkembangan modernisasi dan perubahan pola pikir masyarakat menyebabkan tradisi ini semakin sering dipahami hanya sebagai bagian dari prosesi seremonial, sementara makna simbolik yang terkandung dalam setiap tahapannya mulai mengalami pendangkalan, terutama di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kajian yang mampu mengungkap kembali makna simbolik yang terkandung dalam tradisi makan beradab sebagai upaya pelestarian budaya Melayu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos pada tradisi makan beradab dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat berdasarkan teori semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi semiotika budaya. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan informan yang memahami tradisi makan beradab, dokumentasi, serta studi pustaka. Data dianalisis menggunakan model analisis Miles, Huberman, dan Saldaña yang dipadukan dengan konsep denotasi, konotasi, dan mitos Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan dalam tradisi makan beradab mengandung makna simbolik yang merepresentasikan nilai tanggung jawab, kerja sama, kasih sayang, penghormatan, kepedulian, rasa syukur, dan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga. Makna-makna tersebut selanjutnya membentuk mitos budaya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai pedoman moral masyarakat Melayu dalam membangun keluarga. Dengan demikian, tradisi makan beradab tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian upacara pernikahan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan penguatan identitas masyarakat Melayu di Kabupaten Langkat.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS KAHOOT TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA Irma Erliana Putri; M. Khusni Mubarok; J. Priyanto Widodo
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14426

Abstract

ABSTRACT The low level of History learning achievement at SMA Persatuan Tulangan provided the starting point for this study, particularly because some students had not yet reached the Learning Objective Achievement Criteria (KKTP) of 75. The study examined whether the integration of Problem Based Learning (PBL) and Kahoot could produce different learning outcomes compared with instruction in the control group. A total of 60 eleventh-grade students participated, with XI MIPA 1 serving as the control group and XI IPS 1 as the experimental group, each consisting of 30 students. Measurement was conducted through a pretest and posttest using a quasi-experimental pretest-posttest control group design. The instrument consisted of 20 multiple-choice questions that met the validity and reliability requirements, with a Cronbach's Alpha value of 0.861 and r values ranging from 0.374 to 0.652. The data were analyzed using normality, homogeneity, independent sample t-test, and N-Gain tests. The comparison of posttest scores yielded a t value of 7.536 with a significance value of 0.000 < 0.05. The experimental group achieved an N-Gain of 0.5093, categorized as moderate, while the control group obtained 0.2088, categorized as low. These findings indicate that PBL assisted by Kahoot was associated with higher learning outcomes and greater improvement. This integration may serve as an alternative for History instruction that combines problem solving with interactive digital assessment. ABSTRAK Rendahnya capaian belajar Sejarah di SMA Persatuan Tulangan menjadi titik awal penelitian ini, terutama karena sebagian siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP) sebesar 75. Penelitian diarahkan untuk melihat apakah integrasi Problem Based Learning (PBL) dan Kahoot dapat menghasilkan capaian yang berbeda dibandingkan pembelajaran pada kelompok kontrol. Sebanyak 60 siswa kelas XI terlibat, dengan XI MIPA 1 sebagai kontrol dan XI IPS 1 sebagai eksperimen, masing-masing 30 siswa. Pengukuran dilakukan melalui pretest dan posttest dalam rancangan quasi-experimental pretest-posttest control group. Instrumen berupa 20 soal pilihan ganda telah memenuhi pengujian validitas dan reliabilitas, dengan Cronbach's Alpha 0,861 dan r hitung 0,374–0,652. Data dianalisis melalui uji normalitas, homogenitas, independent sample t-test, dan N-Gain. Perbandingan posttest menghasilkan t hitung 7,536 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Peningkatan pada kelompok eksperimen mencapai N-Gain 0,5093 berkategori sedang, sedangkan kelompok kontrol memperoleh 0,2088 berkategori rendah. Temuan ini memperlihatkan bahwa PBL berbantuan Kahoot berkaitan dengan capaian dan peningkatan hasil belajar yang lebih tinggi. Integrasi tersebut dapat dipertimbangkan sebagai alternatif pembelajaran Sejarah yang memadukan pemecahan masalah dengan evaluasi digital interaktif.
PENGARUH KURIKULUM BERBASIS CINTA TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS VIII PADA MATA PELAJARAN IPS Ramdan Ramdan; Hully Hully; Ihsan Ihsan; Abd Muhyi Abidin
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14428

Abstract

ABSTRACT Student learning motivation is one of the important issues in the learning process because it plays a role in encouraging engagement, persistence, and the achievement of learning objectives. A safe, comfortable, and respectful learning environment is needed to support such motivation. One relevant approach is the Love-Based Curriculum, which emphasizes affection, empathy, appreciation, care, and harmonious relationships between teachers and students. This study aimed to determine the effect of the Love-Based Curriculum on the learning motivation of eighth-grade students in Social Studies at MTs. AR Rasyidi NW Penimbung, West Lombok Regency. The study employed a quantitative approach with an ex post facto design. The population consisted of 191 students, with a sample of 82 students selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using descriptive statistics, normality and linearity tests, simple linear regression, the t-test, and the coefficient of determination. The results showed a positive and significant effect, with a regression coefficient of 0.484, t = 5.104, and a significance value of 0.000 < 0.05. The R² value of 0.246 indicated a 24.6% contribution to the variation in learning motivation. These findings confirm the importance of a humanistic approach in supporting students’ learning motivation. Based on the results, it can be concluded that the Love-Based Curriculum has a positive and significant effect on the learning motivation of eighth-grade students in Social Studies at MTs. AR Rasyidi NW Penimbung, West Lombok Regency. ABSTRAK Motivasi belajar siswa merupakan salah satu persoalan penting dalam pembelajaran karena berperan dalam mendorong keterlibatan, ketekunan, dan pencapaian tujuan belajar. Lingkungan pembelajaran yang aman, nyaman, dan menghargai peserta didik diperlukan untuk mendukung motivasi tersebut. Salah satu pendekatan yang relevan adalah Kurikulum Berbasis Cinta yang menekankan kasih sayang, empati, penghargaan, kepedulian, dan hubungan harmonis antara guru dan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Kurikulum Berbasis Cinta terhadap motivasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs. AR Rasyidi NW Penimbung Kabupaten Lombok Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto. Populasi penelitian berjumlah 191 siswa, dengan sampel 82 siswa yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert dan dianalisis melalui statistik deskriptif, uji normalitas, linearitas, regresi linier sederhana, uji t, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh positif dan signifikan, dengan koefisien regresi 0,484, thitung 5,104, dan signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai R² sebesar 0,246 menunjukkan kontribusi 24,6% terhadap variasi motivasi belajar. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan humanis dalam mendukung motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi belajar siswa kelas VIII pada mata pelajaran IPS di MTs. AR Rasyidi NW Penimbung Kabupaten Lombok Barat.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI BELAJAR MURID PADA PEMBELAJARAN IPS Moh. Shafly Faishal Abdi; Abdul Kodir; Maria Ulfa
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14435

Abstract

ABSTRACT Uneven opportunities for participation in Social Studies learning can become a problem when some students are more frequently involved, while others tend to remain passive in asking questions, answering, engaging in discussions, or showing enthusiasm. This condition was examined through the implementation of the Talking Stick learning model involving 30 eighth-grade students of Class VIII B at SMP Laboratorium UM, selected using a total sampling technique. The study employed a quantitative descriptive approach with a one group pretest-posttest design. Changes in participation were observed through four indicators, while learning achievement was assessed using a 20-item multiple-choice test administered before and after the learning process. Following the implementation of the model, the distribution of participation shifted: the proportion of students in the passive category decreased from 46.67% to 6.67%, whereas the active category increased from 23.33% to 56.67%. At the same time, the mean learning achievement increased from 55.50 on the pretest to 87.50 on the posttest. The N-Gain score of 0.71 was classified as high. The difference between the two learning achievement scores was also statistically significant based on the Paired Samples T-Test, with a p-value < 0.001. These findings indicate that the turn-taking mechanism in Talking Stick has the potential to create more equitable student participation while supporting learning achievement in Social Studies. ABSTRAK Ruang partisipasi yang tidak merata dalam pembelajaran IPS menjadi persoalan ketika sebagian siswa lebih sering terlibat, sementara siswa lainnya cenderung pasif dalam bertanya, menjawab, berdiskusi, maupun menunjukkan antusiasme. Kondisi tersebut dikaji melalui penerapan model Talking Stick pada 30 siswa kelas VIII B SMP Laboratorium UM yang dipilih dengan teknik total sampling. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Perubahan partisipasi diamati melalui empat indikator, sedangkan capaian belajar ditelusuri menggunakan 20 soal pilihan ganda sebelum dan sesudah pembelajaran. Setelah penerapan model, komposisi partisipasi menunjukkan pergeseran: siswa pada kategori pasif berkurang dari 46,67% menjadi 6,67%, sedangkan kategori aktif bertambah dari 23,33% menjadi 56,67%. Pada saat yang sama, rata-rata hasil belajar bergerak dari 55,50 pada pretest menjadi 87,50 pada posttest. Nilai N-Gain sebesar 0,71 berada pada kategori tinggi. Perbedaan kedua skor hasil belajar juga teruji secara statistik melalui Paired Samples T-Test dengan nilai p < 0,001. Temuan ini memperlihatkan bahwa struktur giliran berbicara dalam Talking Stick berpotensi menciptakan keterlibatan siswa yang lebih merata sekaligus mendukung capaian belajar dalam pembelajaran IPS.
PENERAPAN MEDIA PUZZLE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA PESERTA DIDIK KELAS III SD Erlis Ventri Nosaria Gulo; Envilwan Berkat Harefa; Indah Wijaya Lase; Justin Foera-era Lase
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14487

Abstract

Students' learning outcomes in Pancasila Education in Grade III remained low, as indicated by a class average of 50.00 and classical mastery of only 10.53% in the pre-cycle stage. This condition indicates the need for learning media that provide more concrete learning experiences and actively involve students in the learning process. This study aims to describe the improvement of students' learning outcomes in Pancasila Education through the implementation of Puzzle media in Grade III elementary school. This study employed Classroom Action Research (CAR) based on the Kurt Lewin model, conducted in two cycles, with each cycle consisting of two meetings through the stages of planning, action, observation, and reflection. The research subjects were 19 Grade III students. Data were collected through learning achievement tests as the main instrument, supported by observations, field notes, and documentation, with the Grade III teacher serving as a collaborator and observer. The results showed an improvement in students' learning outcomes across the research stages. The class average increased from 50.00 in the pre-cycle to 64.53 in Cycle I and 81.53 in Cycle II. Classical mastery increased from 10.53% in the pre-cycle to 52.63% in Cycle I and reached 100% in Cycle II. The improvement occurred following the development of the Puzzle media from introducing the symbols and wording of the Pancasila principles to contextual understanding of the application of Pancasila values in everyday life. Thus, the implementation of Garuda Pancasila Puzzle media can support improved learning outcomes and encourage Pancasila Education to become more active and student-centered. ABSTRAK Hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di kelas III masih rendah, yang ditunjukkan oleh rata-rata hasil belajar sebesar 50,00 dan ketuntasan klasikal sebesar 10,53% pada tahap pra-siklus. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penggunaan media pembelajaran yang lebih konkret dan melibatkan peserta didik secara aktif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila melalui penerapan media Puzzle di kelas III sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kurt Lewin yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas dua pertemuan melalui tahapan perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 19 peserta didik kelas III. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar sebagai instrumen utama, serta observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi sebagai data pendukung, dengan guru kelas III sebagai kolaborator sekaligus observer. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik dari setiap tahapan tindakan. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 50,00 pada pra-siklus menjadi 64,53 pada Siklus I dan 81,53 pada Siklus II. Ketuntasan klasikal meningkat dari 10,53% pada pra-siklus menjadi 52,63% pada Siklus I dan mencapai 100% pada Siklus II. Peningkatan tersebut berlangsung setelah penggunaan media Puzzle dikembangkan dari pengenalan simbol dan bunyi sila-sila Pancasila menuju pemahaman kontekstual mengenai penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, penerapan media Puzzle Garuda Pancasila dapat mendukung peningkatan hasil belajar dan mendorong pembelajaran Pendidikan Pancasila menjadi lebih aktif dan berpusat pada peserta didik.
ANALISIS LAGU TANAH AIRKU SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KESADARAN SEJARAH DALAM MATA PELAJARAN SEJARAH SMA PERSATUAN TULANGAN Syaharani Aura Rahmadianti; M. Faris Abdil Aziz; Satrio Wibowo
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14573

Abstract

ABSTRACT The use of national songs in history learning can acquire broader meaning when singing is not limited to a routine activity but provides students with opportunities to connect the experience with their understanding of national identity. This study examines students’ interpretation of Tanah Airku and its use as a reflective medium in history learning at SMA Persatuan Tulangan. A qualitative approach with a descriptive design was employed to explore these experiences through observation, interviews, and documentation. The participants consisted of one history teacher and six students from Grades X, XI, and XII, selected purposively based on their involvement in history learning and their experience with national songs at school. Data were analyzed through selection, categorization, presentation, and conclusion drawing, while data credibility was strengthened through source and technique triangulation. The findings indicate that Tanah Airku was interpreted in relation to love for the homeland, appreciation of the nation, unity, and respect for others. Students also connected their experiences with behaviors such as respecting teachers, appreciating peers, participating in ceremonies, complying with school regulations, and taking part in school activities. The song was incorporated at the end of the lesson as a space for reflection that connected historical content with students’ experiences of national identity. These findings suggest that Tanah Airku can serve as a supporting medium for contextualizing the meaning of nationalism rather than merely functioning as a song used in ceremonial activities. ABSTRAK Penggunaan lagu nasional dalam pembelajaran sejarah dapat memperoleh makna yang lebih luas ketika pengalaman menyanyikan lagu tidak berhenti pada kegiatan rutin, tetapi memberi kesempatan kepada siswa untuk menghubungkannya dengan kehidupan kebangsaan. Penelitian ini menelaah pemaknaan siswa terhadap lagu Tanah Airku serta penggunaannya sebagai media reflektif dalam pembelajaran sejarah di SMA Persatuan Tulangan. Pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif digunakan untuk memahami pengalaman tersebut melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan terdiri atas seorang guru sejarah dan enam siswa kelas X, XI, dan XII yang dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan mereka dalam pembelajaran sejarah dan pengalaman terhadap lagu nasional di sekolah. Data dianalisis melalui seleksi, pengelompokan, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan keabsahan diperkuat melalui triangulasi sumber dan teknik. Temuan memperlihatkan bahwa Tanah Airku dimaknai melalui cinta tanah air, penghargaan terhadap bangsa, persatuan, dan penghormatan terhadap sesama. Siswa juga menghubungkan pengalaman tersebut dengan perilaku seperti menghormati guru, menghargai teman, mengikuti upacara, menaati tata tertib, dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Lagu ditempatkan pada akhir pembelajaran sebagai ruang refleksi yang mempertemukan materi sejarah dengan pengalaman kebangsaan siswa. Temuan ini menegaskan bahwa Tanah Airku dapat berfungsi sebagai media pendukung untuk memaknai nasionalisme secara kontekstual, bukan sekadar sebagai lagu dalam kegiatan seremonial.
MAKNA SOSIAL WISATA RELIGI PADA MAKAM TGKH. M. ZAINUDDIN ABDUL MADJID DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT BERMI Rizki Hidayatul Ihsan; Muh. Ridwan Markarma; Hanapi Hanapi
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14652

Abstract

Religious tourism at the tombs of religious figures is not only related to spiritual activities but also contributes to shaping the social life of surrounding communities. This study aims to examine the social meaning of religious tourism at the Tomb of TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid from the perspective of the Bermi community. This study employed a descriptive qualitative approach involving 10 informants consisting of a tomb administrator, religious leaders, members of the Bermi community, pilgrims, and a neighborhood head selected through purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation and analyzed interactively through data condensation, data presentation, and conclusion drawing. Data validity was ensured through source and technique triangulation. The findings show that religious tourism is interpreted by the Bermi community as part of their collective identity and pride in TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, as well as a space for social interaction and strengthening social solidarity. Religious tourism also contributes to preserving religious values and the figure's exemplary teachings while creating economic opportunities for the local community. However, increasing visitor numbers also create challenges, including limited facilities, traffic congestion, waste, and competition among traders. Thus, religious tourism represents a social reality with identity, solidarity, religious, and economic dimensions in the social life of the Bermi community. ABSTRAK Wisata religi pada makam tokoh agama tidak hanya berkaitan dengan aktivitas spiritual, tetapi juga membentuk kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna sosial wisata religi pada Makam TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam perspektif masyarakat Bermi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian melibatkan 10 informan yang terdiri atas pengurus makam, tokoh agama, masyarakat Bermi, peziarah, dan kepala lingkungan yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara interaktif melalui kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wisata religi dimaknai masyarakat Bermi sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan kolektif terhadap TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, sekaligus sebagai ruang interaksi sosial dan penguatan solidaritas masyarakat. Wisata religi juga berperan dalam mempertahankan nilai-nilai religius dan keteladanan tokoh serta membuka peluang aktivitas ekonomi bagi masyarakat. Di sisi lain, peningkatan kunjungan menimbulkan tantangan berupa keterbatasan fasilitas, kemacetan, sampah, dan persaingan usaha. Dengan demikian, wisata religi merupakan realitas sosial yang memiliki dimensi identitas, solidaritas, religius, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Bermi.
PENGARUH PENDEKATAN PEMBELAJARAN MENDALAM BERBASIS MEDIA TEKA-TEKI SILANG INTERAKTIF TERHADAP HASIL BELAJAR PENDIDIKAN PANCASILA SISWA KELAS V SD Annabillah Vanoni; Fakhrur Rozy; Arif Nur Hidayat
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14771

Abstract

Students’ learning outcomes in Pancasila Education at the elementary school level are still not optimal because learning tends to be teacher-centered and does not actively involve students in understanding the learning material. This condition causes students to tend to memorize the material without understanding and connecting it with everyday life. Therefore, learning is needed to improve learning outcomes through an active, meaningful, and enjoyable learning process. This study aimed to determine the effect of a deep learning approach based on interactive crossword puzzle media on the learning outcomes of Pancasila Education among fifth-grade elementary school students. This study employed a quantitative approach with a pre-experimental method using a one-group pretest-posttest design, involving all 29 fifth-grade students at SDN Karang Tanjung Candi Sidoarjo as a saturated sample. Data were collected through a multiple-choice learning outcome test administered before (pretest) and after (posttest) the implementation of the deep learning approach assisted by interactive crossword puzzle media, then analyzed using validity, reliability, normality, and hypothesis tests. The results showed an increase in students' average scores from 61 on the pretest to 71 on the posttest. The hypothesis test results confirmed a significant difference in learning outcomes before and after treatment, so the research hypothesis was accepted. It can be concluded that the deep learning approach based on interactive crossword puzzle media is effective in improving learning outcomes as well as students' engagement, motivation, and critical thinking skills in fifth-grade Pancasila Education learning. ABSTRAK Hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa sekolah dasar masih belum optimal karena pembelajaran cenderung berpusat pada guru dan kurang melibatkan siswa secara aktif dalam memahami materi. Kondisi tersebut menyebabkan siswa cenderung menghafal materi tanpa memahami dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar melalui proses yang aktif, bermakna, dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan pembelajaran mendalam berbasis media teka-teki silang interaktif terhadap hasil belajar Pendidikan Pancasila siswa kelas V SD. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-eksperimen desain one-group pretest-posttest, melibatkan seluruh siswa kelas V SDN Karang Tanjung Candi Sidoarjo yang berjumlah 29 siswa sebagai sampel jenuh. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar berbentuk soal pilihan ganda yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) penerapan pendekatan pembelajaran mendalam berbantuan media teka-teki silang interaktif, kemudian dianalisis melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan nilai rata-rata siswa dari 61 pada pretest menjadi 71 pada posttest. Hasil uji hipotesis membuktikan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa sebelum dan sesudah perlakuan, sehingga hipotesis penelitian dinyatakan diterima. Dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam berbasis media teka-teki silang interaktif efektif meningkatkan hasil belajar sekaligus keterlibatan, motivasi, dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila.